• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN

B. Hasil Analisis Univariat

Analisis univariat pada penelitian ini adalah karakteristik siswa akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan yang meliputi jenis kelamin dan usia.

1. Karakteristik Siswa Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan a. Jenis Kelamin

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel di bawah ini

Tabel 5.1

Distribusi Frekuensi Siswa-Siswi Akselerasi Berdasarkan Jenis Kelamin di SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35)

Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)

Laki-laki 18 51,4 %

Perempuan 17 48,6 %

Total 35 100 %

Tabel 5.1 di atas menunjukkan bahwa dari 35 responden, sebanyak 18 orang (51,4 %) responden berjenis kelamin laki-laki dan 17 orang (48,6 %) berjenis kelamin perempuan.

b. Usia

Tabel di bawah ini merupakan karakteristik responden berdasarkan usia.

Tabel 5.2

Distribusi Frekuensi Siswa-Siswi Akselerasi Berdasarkan Usia di SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35)

Usia Frekuensi (n) Persentase (%)

13 1 2,9 %

14 1 2,9 %

15 16 45,7 %

16 17 48,5 %

Total 35 100 %

Usia terendah berdasarkan tabel di atas adalah 13 tahun dan 14 tahun, sementara itu usia tertinggi 16 tahun. Jumlah siswa yang berusia 13 dan 14 tahun sebanyak 1 orang (2,9 %), usia 15 tahun

berjumlah 16 orang (45,7 %) dan yang berusia 16 tahun berjumlah 17 orang (48,5 %). Jadi usia siswa terbanyak adalah 16 tahun dan terendah 13 dan 14 tahun.

c. Tingkat Stres

Berdasarkan tabel 5.3 di atas, dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa mengalami stres yang tinggi, yakni sebesar 51,4 % dari 35 siswa. Sedangkan sisanya hanya 48,6 % mempunyai tingkat stres yang rendah.

d. Strategi Koping

Tabel 5.4 di atas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa menggunakan koping yang adaptif, yaitu sebesar 57,1 % dari 35 siswa. Sedangkan sisanya menggunakan koping maladaptif sebesar 42,9 %.

Tabel 5.3

Distribusi Frekuensi Tingkat Stres Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35) Tingkat Stres Frekuensi (n) Persentase (%)

Rendah 17 48,6 %

Tinggi 18 51,4 %

Total 35 100 %

Tabel 5.4

Distribusi Frekuensi Strategi Koping Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35)

Koping Frekuensi (n) Persentase (%)

Adaptif 20 57,1 %

Maladaptif 15 42,9 %

e. Gambaran Jenis Kelamin dengan Tingkat Stres Tabel 5.5

Gambaran Jenis Kelamin dengan Tingkat Stres

Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35) Jenis Kelamin Tingkat Stres Total Rendah Tinggi n % n % N % Laki-laki 8 44,4% 10 55,6 % 18 100 % Perempuan 9 52,9% 8 47,1 % 17 100 % Total 17 48,6% 18 51,4 % 35 100 %

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang berjenis kelamin laki-laki memiliki tingkat stres tinggi, yakni sebesar 55,6% dan siswa yang berjenis kelamin perempuan sebagian besar mengalami tingkat stres yang rendah, yaitu 52,9%.

f. Gambaran Usia dengan Tingkat Stres Tabel 5.6

Gambaran Usia dengan Tingkat Stres

Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35) Usia Tingkat Stres Total Rendah Tinggi n % n % N % 13 1 100% 0 0% 1 100% 14 1 100% 0 0% 1 100% 15 9 56,3% 7 43,8% 16 100% 16 6 35,3% 11 64,7% 17 100% Total 17 48,6% 18 51,4% 35 100%

Tabel 5.6 di atas menggambarkan bahwa siswa yang berusia 13 dan 14 tahun mengalami tingkat stres yang rendah, sementara itu sebagian besar siswa yang berusia 15 tahun mengalami tingkat stres rendah 56,3 % dan siswa yang berusia 16 tahun sebagian besar mengalami tingkat stres tinggi sebesar 64,7 %.

g. Gambaran Jenis Kelamin dengan Strategi Koping Tabel 5.7

Proporsi Jenis Kelamin dengan Strategi Koping

Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35) Jenis Kelamin Strategi Koping Total Adaptif Maladaptif n % n % N % Laki-laki 6 33,3% 12 66,7% 17 100% Perempuan 14 82,4% 3 17,6% 18 100% Total 20 57,1% 15 42,9% 35 100%

Berdasarkan tabel 5.7 di atas jenis kelamin laki-laki cenderung menggunakan strategi koping yang maladaptif 66,7% dibandingkan dengan perempuan yang cenderung menggunakan strategi koping adaptif 82,4%.

h. Gambaran Usia dengan Strategi Koping Tabel 5.8

Gambaran Usia dengan Strategi Koping

Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan (n=35) Usia Strategi Koping Total Adaptif Maladaptif n % n % N % 13 0 100% 1 0% 1 100% 14 0 100% 1 0% 1 100% 15 9 56,3% 7 43,8% 16 100% 16 11 64,7% 6 35,3% 17 100% Total 20 57,1% 15 42,9% 35 100%

Tabel di atas menunjukkan usia 13 dan 14 tahun menggunakan strategi koping yang maladaptif, dan usia 15 dan 16 tahun cenderung menggunakan strategi koping yang adaptif, masing-masing sebesar 56,3% dan 64,7%.

C. Hasil Analisis Bivariat

Tabel 5.9

Hubungan Tingkat Stres Dengan Strategi Koping

Hasil analisis bivariat pada tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 17 orang (48,6%) yang mengalami tingkat stres rendah, 9 orang menggunakan strategi koping maladaptif (25,7%) dan 8 orang (22,9%) menggunakan strategi koping adaptif. Diantara 18 orang (51,4%) yang mengalami tingkat stres tinggi, 12 orang (34,3%) menggunakan strategi koping adaptif dan 6 orang (17,1%) menggunakan strategi koping maladaptif. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan p value = 0,241, artinya p value > 0,05. Dengan demikian tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping atau Ho diterima. Tingkat Stres Strategi Koping Total p value (X2) Adaptif Maladaptif n % N % N % 0,241 Rendah 8 47,1% 9 52,9% 17 100% Tinggi 12 66,7% 6 33,3% 18 100% Total 20 57,1% 15 42,9% 35 100%

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Analisis Univariat

1. Gambaran Karakteristik Siswa Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

a. Jenis Kelamin

Menurut Tennant (2013) perbedaan jenis kelamin remaja berpengaruh pada tingkat stres, perempuan cenderung lebih rentan terkena stres daripada laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh Higgins (2009) mengemukakan bahwa terdapat perbedaan penggunaan strategi koping antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu gambaran mengenai jenis kelamin siswa akselerasi perlu dilihat. Hasil perhitungan statistik mengenai gambaran jenis kelamin dari 35 orang siswa adalah 18 siswa (51,4 %) yang berjenis kelamin laki-laki dan 17 siswa (48,6%) yang berjenis kelamin perempuan. Mayoritas siswa kelas akselerasi berjenis kelamin laki-laki, yaitu 18 siswa (51,4%) dari 35 siswa yang menjadi responden.

b. Usia

Karakteristik responden berdasarkan usia dari 35 orang siswa yaitu 1 orang yang berusia 13 tahun (2,9%) dan 14 tahun (2,9%). Sebanyak 16 orang (45,7%) berusia 15 tahun dan mayoritas siswa akselerasi berusia 16 tahun, yakni sebanyak 17 orang siswa (48,6%).

Distribusi frekuensi usia siswa akselerasi berkisar antara 13-16 tahun, artinya mereka berada pada masa remaja awal (early adolescence) dan mayoritas berada pada masa remaja pertengahan (middle adolescence) (Wong, 2009). Masa remaja awal ditemukan sebagai periode sangat stres dibandingkan masa remaja pertengahan dan masa remaja akhir (Krenke, 2009). Temuan penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa strategi koping yang digunakan bervariasi tergantung pada usia (Gemmbeck, 2007 dalam Krenke 2009).

e. Gambaran Tingkat Stres Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Distribusi frekuensi tingkat stres siswa-siswi akselerasi mayoritas tinggi (51,4 %) dibandingkan persentase tingkat stres rendah (48,6%). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prihatina dkk (2012) yang mengemukakan bahwa tingkat stres kelas akselerasi mayoritas berada pada kategori tinggi. Namun perbedaan antara tingkat stres tinggi dan rendah pada penelitian ini tidak terlalu signifikan. Hal ini mungkin terjadi karena perbedaan jumlah antara laki-laki dan perempuan juga tidak terlalu jauh, maka perbedaan tingkat stres pun tidak signifikan. Sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Tennant (2013) bahwa perempuan cenderung terkena stres dibandingkan laki-laki, karena jumlah perempuan hanya berbeda satu orang dengan laki-laki, maka perbedaan tingkat stres tidak terlalu jauh pula.

f. Gambaran Strategi Koping yang Digunakan Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Gambaran strategi koping yang digunakan siswa-siswi akselerasi mayoritas menggunakan strategi koping adaptif (57,1%). Hal ini sesuai dengan penelitian Frydenberg (2000) dalam Krenke (2009) yang menemukan bahwa anak-anak berbakat cenderung lebih menggunakan strategi koping yang adaptif. Siswa akselerasi merupakan anak yang berbakat (Somantri, 2007), oleh karena itu sebagian besar dari mereka lebih cenderung menggunakan strategi koping adaptif.

Menurut penelitian Rifayanti (2006) menyebutkan bahwa jenis strategi koping yang digunakan siswa akselerasi sesuai dengan jenis stres yang dialami, dalam penelitiannya strategi koping adaptif digunakan ketika stresor yang dialami adalah masalah belajar.

Kemungkinan lain siswa-siswi akselerasi memiliki rasa percaya diri tinggi sehingga mereka melihat suatu masalah sebagai sebuah tantangan yang bisa diselesaikan, kalimat ini didukung oleh penelitian hubungan antara optimisme dengan koping yang digunakan, hasilnya terdapat hubungan positif tinggi dan signifikan antara optimisme dan strategi koping yang digunakan. Artinya, semakin tinggi optimisme yang dimilki seseorang maka koping yang digunakan semakin baik atau adaptif (Ningrum, 2011).

Siswa-siswi akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan sudah dibekali penguasaan IPTEK yang oleh karenanya dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka. Hal ini terlihat dari visi misi yang dicapai,

sehingga walaupun dihadapkan dengan stresor akademik, para siswa dapat mengatasi stresor tersebut dengan baik.

g. Gambaran Jenis Kelamin dengan Tingkat Stres pada Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Hasil perhitungan statistik menunjukkan bahwa siswa dengan jenis kelamin laki-laki lebih cenderung mengalami tingkat stres tinggi dibandingkan siswa perempuan, yaitu sebesar 55,6%. Hasil tersebut tidak sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Tennant (2013) bahwa perempuan lebih mudah terkena stres dibandingkan laki-laki.

Tetapi, temuan penelitian oleh Benenson (1990) dalam Krenke (2009) menyebutkan bahwa remaja perempuan cenderung mengalami stres tingkat tinggi ketika dihadapkan pada permasalahan hubungan interpersonal mereka dengan teman sebaya. Hasil penelitian ini menjadi berbeda dengan teori karena jenis stresor pada penelitian ini adalah akademik.

Kemungkinan lainnya bahwa jenis kelamin perempuan dalam penelitian ini mengalami stres lebih rendah daripada laki-laki karena perempuan memilki kecerdasan emosional lebih baik. Individu yang memiliki kecerdasan emosional yang baik cenderung bersikap tegas, memandang positif setiap peremasalahan dan dapat mengelola stres dengan baik (Respati dkk, 2007).

h. Gambaran Usia dengan Tingkat Stres pada Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Remaja awal (11-14 tahun) dikatakan sebagai periode yang paling penuh stres dibandingkan dengan masa remaja pertengahan dan akhir (Krenke, 2009). Hasil penelitian tersebut berbeda dengan penelitian ini yang menyatakan rata-rata usia remaja menengah (15-17 tahun) cenderung memiliki tingkat stres yang tinggi. Walaupun demikian, dilaporkan pada penelitian lain bahwa tingkat stres yang relatif tinggi akan terus dialami pada masa remaja sampai usia 16 tahun, baru setelah melewati usia 16 tahun, stres mulai berkurang sedikit demi sedikit (Li dkk, 2006).

i. Gambaran Jenis Kelamin dengan Strategi Koping yang Digunakan Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Banyak teori yang mengatakan bahwa perempuan cenderung menggunakan strategi koping maladaptif dalam menghadapi stresor dan laki-laki sebaliknya, lebih menggunakan strategi koping yang adaptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata siswa perempuan cenderung menggunakan strategi koping yang adaptif, sebesar 82,4 %.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Li dkk (2006) bahwa perempuan lebih menggunakan strategi koping yang adaptif. Penelitian Krenke (2009) juga mendukung hasil penelitian ini bahwa remaja laki-laki cenderung menggunakan strategi koping maladaptif jika dihadapkan pada stresor akademik atau di sekolah.

j. Gambaran Usia dengan Strategi Koping yang Digunakan Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa masa remaja awal lebih menggunakan koping maladaptif dibandingkan masa remaja pertengahan. Sesuai dengan penelitian Gembeck & Locke dalam Krenke (2009), bahwa jika dihadapkan dengan stresor akademik, tahap perkembangan remaja pertengahan cenderung menggunakan strategi koping yang adaptif.

B. Analisis Bivariat

1. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Strategi Koping yang Digunakan Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat stres tinggi dengan strategi koping adaptif lebih banyak, yakni 66,7 %. Uji statistik menunjukkan nilai p < 0,05 (p = 0,241) yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping. Artinya tingkat stres yang dialami tidak memiliki hubungan dengan jenis strategi koping yang dipakai. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prihatina dkk (2012) bahwa memang tidak terdapat hubungan antarvariabel tersebut.

Tidak adanya hubungan antara kedua variabel tersebut dikarenakan ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi penggunaan jenis strategi koping antara lain karakteristik personal, sumber daya yang tersedia, dan pola koping yang dipakai sebelumnya (Christensen & Kenney, 2009). Berbeda dengan hasil penelitian Martha (2012) yang meneliti hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping pada mahasiswa kepaniteraan

klinik kedokteran bahwa ada hubungan antara stres yang dirasakan dengan strategi koping yang digunakan. Kemungkinan perbedaan hasil ini dikarenakan jumlah sampel penelitian ini kurang besar, jadi kurang menggambarkan hasil yang sesungguhnya dari penelitian dan karakteristik sampel juga berbeda dari segi usia.

C. Keterbatasan Penelitian

Peneliti menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian, antara lain pada saat pengisian kuesioner ini dilakukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung, sehingga siswa-siswi mengisi kuesioner dengan terburu-buru dan peneliti tidak mengawasi langsung pengisian kuesioner di salah satu kelas akselerasi.

BAB VII

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut :

1. Gambaran karakteristik siswa-siswi kelas akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan yang menjadi responden dalam penelitian ini berdasarkan jenis kelamin adalah persentase laki-laki lebih banyak yaitu 51,4% dibandingkan persentase jumlah perempuan 48,6%.

2. Gambaran karakteristik siswa-siswi akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan yang menjadi responden dalam penelitian ini berdasarkan usia yaitu siswa yang berusia 13 dan 14 tahun persentasenya paling kecil, yakni masing masing 2,9% dan untuk persentase terbesar adalah siswa yang berusia 16 tahun sebesar 48,6%.

3. Gambaran distribusi frekuensi tingkat stres pada siswa-siswi akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan, yaitu siswa yang tingkat stresnya berada pada kategori tinggi lebih banyak, yakni 51,4% dibandingkan dengan persentase kategori rendah 48,6%.

4. Gambaran distribusi frekuensi strategi koping siswa-siswi akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan untuk strategi koping adaptif lebih banyak sebesar 57,1% dibandingkan strategi maladaptif yaitu 42,9%.

5. Gambaran jenis kelamin dengan tingkat stres menunjukkan bahwa sebagian besar siswa yang berjenis kelamin laki-laki memiliki tingkat stres tinggi.

6. Siswa yang berusia pada masa remaja pertengahan sebagian besar mengalami tingkat stres tinggi yaitu 18 siswa dari 35 siswa yang ada. 7. Terdapat perbedaan proporsi antara siswa berjenis kelamin laki-laki dan

perempuan dalam penggunaan strategi koping, dimana laki-laki memiliki persentase terbesar 66,7 % dibandingkan perempuan dalam penggunaan strategi koping maladaptif dan perempuan sebesar 82,4 % dalam penggunaan strategi koping adaptif.

8. Usia 15 dan 16 tahun (remaja pertengahan) menggunaka strategi koping yang lebih adaptif dibandingkan dengan usia 13 dan 14 tahun (remaja akhir)

9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara variabel tingkat stres dengan strategi koping yang digunakan siswa-siswi akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p < 0.05 (p = 0,241).

B. Saran

1. Bagi Sekolah

Sekolah perlu mengadakan program untuk mengkaji stres siswa-siswi akselerasi dan mengarahkan mereka agar menggunakan strategi koping yang tepat dalam menghadapi situasi stres khususnya dalam proses belajar.

2. Bagi siswa

Siswa perlu mempertahankan koping yang sudah tepat dan mengubah koping yang belum tepat ke koping yang tepat.

3. Bagi institusi keperawatan

Perawat perlu meningkatkan peran sebagai counselor dan turut serta dalam bimbingan konseling yang ada di sekolah untuk mengkaji stres dan koping yang digunakan siswa-siswi akselerasi serta mengarahkan mereka jika koping yang digunakan belum tepat.

4. Bagi penelitian selanjutnya

Penelitian selanjutnya diharapkan dapat memperbanyak jumlah responden, memakai kuesioner baku yang terstruktur dan menggunakan jenis penelitian kualitatif agar hasil penelitian lebih akurat dan mendalam.

DAFTAR PUSTAKA

Andika. 2010. Ibu, dari Mana Aku Lahir?: Cara Cerdas Mendidik Anak tentang Seks. Jakarta: Pustaka Grhtama.

Anonim. 2005. Helping Teenagers with Stress.

http://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/Fact s_for_Families_Pages/Helping_Teenagers_With_Stress_66.aspx diunduh pada 29 November 2013

Anonim. 2013. Stress. http://www.medicinenet.com/stress/article.htm diunduh pada 19 Maret 2013

Araya dkk, 2007. Gender differences in traumatic life events, coping strategies, perceived social support and sociodemographics among post conflict displaced persons in Ethiopia. Soc Psychiatry Psychiatr Epidemiol 43:307-315.

Ardiansyah. 2011. Pengertian dan Tujuan Program Akselerasi.

http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/pengertian-dan-tujuan-program.html diunduh pada 29 November 2013

Azwar, S. 2012. Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Christensen, P. J. & Kenney, J. W. 2009. Proses Keperawatan: Aplikasi Model Konseptual. Jakarta: EGC.

Dani, Martha S dkk. 2012. Hubungan antara Tingkat Stres dengan Strategi Koping pada Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Riau. FK Riau.

Doron et al., 2009. Coping with Examinations: Exploring Relationship between Students, Coping Strategies, Implicit Theories of Ability, and Perceived Control. The British Psychological Society. 79, 515-528.

Gunarsa. 2004. Dari Anak sampai Usia Lanjut: Bunga Rampai Psikologi Perkembangan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

_______. 2008. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Hastono, S. P. 2007. Analisis Data Statistik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Hawadi, R. A. 2004. Akselerasi: A-Z Informasi Program Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual. Jakarta: PT Grasindo Widiasarana Indonesia. Hidayat, Aziz A. 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis

Data. Jakarta: Salemba Medika.

Higgins, Nikki. 2009. Frequency and Effectiveness of Coping Strategies in Managing Developmental Stress Among Female Adolescents. Bachelor of Science in Psychology (Honours). Thesis: University of Canberra.

Kelly et al., 2008. Sex Differences in the Use of Coping Strategies: Predictors of Anxiety and Depressive Symptoms. Depression and Anxiety 25:839-846. Kempf, Jennifer. 2011. Recognizing and Managing Stress: Coping Strategies for

Adolescents. University of Wisconsin Stout.

Krenke, Seiffge I. 2009. Changes in Stress Perception and Coping During Adolescence: The Role of Situational and Personal Factors. Child development : Vol. 80 no 1 pages 259-279.

Kumar. 2011. Stress and Coping Strategies among Nursing Students. Nursing and Midwifery Research Journal, Vol.7, No.4.

Larue & Herrman. 2008. Adolescent Stress through the Eyes of High-Risk Teens.Continuing Nursing Education Series:Vol : 34 No. 5.

Li, Ellen C dkk.2006.The Roles of Sex, Gender, and Coping in Adolescent Depression. Vol 41, no.43.

Munandar. 2002. Kreativitas dan Keterbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Mutoharoh, Itoh. 2010. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Terapi Hemodialisis di RSUP Fatmawati Tahun 2009. Skripsi S1 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Nadiva, Aini. 2013. Subjective Well-Being pada Peserta Akselerasi. Skripsi S1. Nasir & Muhith. 2011. Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba

Naviska, Nadia. 2012. Gambaran Mekanisme Koping Siswa Kelas 3 SMA di SMAN 1 Purwakarta Tahun Ajaran 2011/2012 Menjelang Ujian Nasional. Skripsi S1 Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.

Ningrum, Widya. 2011. Hubungan antara Optimisme dan Koping Stres pada Mahasiswa UEU yang sedang Menyusun Skripsi. Jurnal Psikologi Vol.9 No.1.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Papalia, D.E. 2008. Perkembangan Manusia (8th ed). Boston: McGraw-Hill. Prihatina dkk. 2012. Konsep Diri, Kecerdasan Emosional, Tingkat Stres dan

Strategi Koping Remaja pada Berbagai Model Pembelajaran. Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB, Bogor.

Ramadhani. 2010. Stres dan Sumber-Sumber Stres Pada Siswa Cerdas Istimewa di Kelas Akselerasi di SMA Labschool Jakarta. http://www.elabschool.net/labslib/index.php?p=show_detail&id=3424

diunduh pada 29 November 2013.

Rena, Naheed. 2009. Effects of Acceleration (Grade Skipping) on the Gifted Students. AIE JRIE Vol.2.

Respati dkk. 2007. Gambaran Kecerdasan Emosional Siswa Berbakat di Kelas Akselerasi SMA di Jakarta. Jurnal Psikologi vol.5 No.1. Universitas INDONUSA Esa Unggul, Jakarta.

Rifayanti, Rina. 2006. Permasalahan dan Strategi Koping Siswa Akselerasi (Studi di SMU Negeri 1 Samarinda). Fakultas Psikologi.

Safaria, Triantoro. 2006. Menjadi Pribadi Berprestasi. Salemba Medika : Jakarta. Santrock, J. W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Erlangga : Jakarta. ____________. 2007. Perkembangan Anak Edisi Kesebelas Jilid 1. Erlangga:

Jakarta.

Sarafino, EP. 2006. Health Psychology: Biopsychosocial Interaction (5th ed). New York: John Wiley & Sons, Inc.

Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Kanisius (anggota IKAPI) : Yogyakarta.

______________. 2006. Kesehatan Mental 2. Kanisius (anggota IKAPI) : Yogyakarta.

Somantri, T. Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. Refika Aditama: Bandung. Suliswati. 2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC : Jakarta.

Sumantri, Arif. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Kencana Prenada Media : Jakarta.

Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. EGC : Jakarta.

Tennant, Victoria. 2013. Stress.

http://umm.edu/health/medical/reports/articles/stress diunduh pada 29 November 2013.

WHO. (2004). Adolescent Health and Development in Nursing and Midwifery Education. Geneva: WHO.

Wiguna, Tjhin. 2013. Masalah Kesehatan Mental Remaja di Era Globalisasi.

http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/masalah-kesehatan-mental-remaja-di-era-globalisasi.htmldiunduh pada 29 November 2013. Wong dkk, 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Edisi 6 vol 1. EGC : Jakarta. Xiao, Juan. 2013. Academic Stress, Test Anxiety, and Performance in a Chinese

High School Sample: The Moderating Effects of Coping Strategies and Perceived Social Support. Counseling and Psychological Services Dissertations. Paper 88.

FORMULIR PERSETUJUAN

MENJADI PESERTA PENELITIAN

“Hubungan Tingkat Stres dengan Strategi Koping

yang Digunakan Siswa-Siswi Akselerasi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan”

Nama : Fitriyani Rahayu NIM : 1110104000049

Saya adalah mahasiswi semester VIII (delapan) Program Studi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir di Program Studi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat stres dengan strategi koping yang digunakan siswa-siswi SMAN 2 Kota Tangerang Selatan.

Saya berharap jawaban yang Anda berikan adalah berdasarkan pengalaman Anda sendiri tanpa dipengaruhi orang lain. Saya menjamin kerahasiaan jawaban dan identitas Anda. Informasi yang Anda berikan hanya akan digunakan untuk pengembangan ilmu keperawatan dan tidak akan digunakan untuk maksud lainnya.

Partisipasi Anda dalam penelitian ini bersifat bebas, Anda dipersilahkan memilih untuk bersedia menjadi peserta penelitian atau menolak tanpa ada sanksi apapun. Jika Anda bersedia menjadi peserta penelitian ini, silahkan Anda menandatangani formulir persetujuan di bawah ini.

Tangerang Selatan, 2014

Peserta

iv

LEMBAR KUESIONER

Nama lengkap : Usia : Jenis Kelamin : Kelas : Petunjuk Pengisian

1. Bacalah masing-masing pernyataan dengan seksama, tersedia 5 pilihan jawaban pada tiap pernyataan.

2. Isi pilihan jawaban dengan memberi tanda silang (X) pada salah satu kolom. 3. Tidak ada jawaban benar atau salah, karena itu isilah sesuai dengan keadaan Anda

yang sesungguhnya, yaitu berdasarkan jawaban yang pertama terlintas di pikiran Anda. NO PERNYATAAN PILIHAN JAWABAN Tidak Pernah Jarang

Kadang-kadang Sering Selalu 1 Saya berkeringat dingin ketika

tampil di depan kelas

2 Saya bingung dengan materi yang dijelaskan guru

3 Saya khawatir tentang hasil ujian 4 Saya menjadi mudah lelah ketika

Dokumen terkait