• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Univariat .1 KarakteristikResponden

HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Analisis Univariat .1 KarakteristikResponden

Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata umur responden 34,18 tahun dengan umur terendah 22 tahun dan umur tertinggi adalah 49 tahun dengan standar deviasi sebesar 8,07. Hal ini menunjukkan bahwa responden memiliki usia yang matang dalam berfikir dan bekerja atau usia produktif. Sejalan dengan pendapat Nursalam (2007) bahwa semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Karena dengan bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin baik sehingga akan termotivasi setiap melakukan pekerjaan dalam melayani pasien secara profesional.

Penelitian didapatkan hasil bahwa sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan Diploma 3 (90,8%). Tingkat pendidikan perawat dengan rasio akademik lebih banyak akan memudahkan dalam menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Hasil ini diperkuat oleh Purwadi dan Sofiana (2006) yang membuktikan bahwa

perawat dengan pendidikan Diploma 3 dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi mempunyai efisiensi kerja dan penampilan kerja yang lebih baik dari pada perawat dengan pendidikan SPK. Oleh karena itu, pendidikan seseorang merupakan faktor yang penting sehingga kinerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat memiliki masa kerja kurang dari 10 tahun yaitusebanyak 43,1% dansebagiankecil lama bekerjalebihdari 20tahunyaitusebesar 18,5%. Pada awal bekerja, perawat memiliki kepuasan kerja yang lebih, dan semakin menurun seiring bertambahnya waktu secara bertahap lima atau delapan tahun dan meningkat kembali setelah masa lebih dari delapan tahun,dengan semakin lama seseorang dalam bekerja, akan semakin terampil dalam melaksanakan pekerjaan (Hariandja, 2008). Seseorang yang sudah lama mengabdi kepada organisasi memiliki tingkat kepuasan yang tinggi. Hal ini juga dinyatakan oleh Sastrohadiworjo (2005), bahwa semakin lama seseorang bekerja semakin banyak kasus yang ditanganinya sehingga semakin meningkat pengalamannya, sebaliknya semakin singkat orang bekerja maka semakin sedikit kasus yang ditanganinya. Pengalaman bekerja banyak memberikan kesadaran pada seseorang perawat untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan, hal ini ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Arfianti (2010) yang menyatakan pengalaman merupakan salah satu faktor dari kepatuhan.

5.1.2 Pengetahuan perawat

Hasil penelitian tentang pengetahuan perawat diketahui bahwa sebagian besar mempunyai pengetahuan cukup sebanyak 45 orang (69,2%), sedangkan paling sedikit perawat mempunyai pengetahuan kurang baik yaitu sebanyak 7 orang (10,8%). Pengetahuan responden tergolong cukup baik dan baik disebabkan oleh tingkat pendidikan yang dimiliki responden. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan perawat. Dalam penelitian ini responden sebagian besar perawat berpendidikan D3-keperawatan. Kesehariannya, pendidikan seseorang berhubungan dengan kehidupan social dan perilakunya. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka perilaku seseorang itu akan semakin baik, oleh sebab itu perawat yang memiliki tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki pengetahuan yang baik. Lama bekerja merupakan salah satu factor juga yang mempengaruhi pengetahuan perawat. Dalam penelitian ini responden sebagian besar perawat lama bekerja 5 tahun keatas atau kurang dari 10 tahun dan ada sebagian yang lama bekerja lebih dari 20 tahun. Masa kerja adalah (lama kerja) adalah merupakan pengalaman individu yang akan menentukan pertumbuhan dalam pekerjaan dan jabatan. Masa kerja yang lama akan cenderung membuat seseorang betah dalam sebuah organisasi hal ini disebabkan karena telah beradaptasi dengan lingkungan yang cukup lama sehingga akan merasa nyaman dalam pekerjaannya (Saragih, 2009).

Pengetahuan merupakan factor penting dalam seseorang mengambil keputusan namun tidak selamanya pengetahuan seseorang bisa menghindarkan dirinya dari kejadian yang tidak diinginkannya, misalnya perawat yang tingkat pengetahuannya baik tidak selamanya melaksanakan

keselamatan pasien dengan baik karena segala tindakan yang akan dilakukan berisiko untuk terjadi kesalahan (Notoatmodjo, 2010).

Hasil pengisian kuesioner oleh perawat, menunjukkan bahwa sebagian besar perawat dapat menjawab pertanyaan terkait factor risiko jatuh, mereka telah mengetahui tujuan dibuat Standar Prosedur Operasional pencegahan risiko jatuh yaitu untuk menilai kembali secara berkala setiapp asien yang berisiko jatuh, mereka juga mengetahui tentang manajemen pencegahan jatuh dan penatalaksanaan pasien jatuh dengan baik dan hasil penilaian risiko jatuh menggunakan Morse Fall Scale, telah didokumentasikan tidak hanya pada saat pasien masuk ruangan.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Cintya, dkk (2003) yang menghasilkan penelitian bahwa tingkat pengetahuan perawat tentang pelaksanaan keselamatan pasien (patient

safety) sebagian kecil tergolong kurang baik, sedangkan lainnya tergolong

baik dan cukup baik.

5.1.2KepatuhanPerawat

Hasil penelitian diketahui bahwa kepatuhan perawat dalam pelaksanaan Standar Prosedur Operasional pencegahan risiko jatuh pasien di Rumah Sakit Panti Waluyo Surakarta mayoritas mempunyai kepatuhan cukup patuh yaitu sebanyak 36 orang (55,4%), sedangkan paling sedikit perawat mempunyai kepatuhan kurang patuh yaitu sebanyak 7 orang (10,8%). Hal ini disebabkan sebagian besar perawat melakukan pengkajian risiko jatuh pada pasien hanya berdasarkan usia, keterbatasan mobilisasi dan terpasangnya infus/iv ataupun kateter. Kepatuhan merupakan ketaatan

seseorang pada tujuan yang telah ditetapkan. Kepatuhan merupakan masalah utama kedisiplinan dalam pelayanan perawatan di rumah sakit.

Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan suatu aturan dalam dan perilaku yang disarankan. Pengertian dari kepatuhan adalah menuruti suatu perintah ataus uatu aturan. Kepatuhan adalah tingkat seseorang dalam melaksanakan perawatan, pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh perawat, dokter atau tenaga kesehatan lainnya (Bart, 2004).

Pada penelitian ini perawat di RS Panti Waluyo Surakarta dapat dikategorikan sebagian besar sudah cukup patuh terhadap Standar Prosedur Operasional pengkajian risiko jatuh menggunakan skala Morse. Hal ini dibuktikan dengan sebagian besar perawat yang telah melakukan Standar Prosedur Operasional yang terdapat pada skala Morse. Hal ini disebabkan karena tingkat pendidikan, umur dan lamanya mereka bekerja. Menurut Setyarini, dkk (2013), bahwa perawat yang sudah mendapatkan sosialisasi atau memahami terkait dengan pengkajian risiko jatuh berdasarkan skala

Morse cenderung lebih baik dalam melakukan pengkajian risiko jatuh

dibandingkan dengan perawat yang belummemahami dan mendapat sosialisasi Standar Prosedur Operasional risiko jatuh, selain itu umur juga mempengaruhi kepatuhan perawat dalam menerapkan skala Morse. Seseorang yang dikatakan senior lebih cenderung memilikis ikap yang kurang dalam pengkajian risiko jatuh menggunakan skala Morse. Mereka lebih sering menggunakan penilaian berdasarkan ketergantungan pasien.

Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Setyarini, dkk (2013) yang meneliti tentang kepatuhan perawat melaksanakan Standar

Prosedur Operasional pencegahan pasien risiko jatuh, hasil penelitian menyebutkan bahwa kepatuhan perawat melaksanakan pencegahan pasien jatuh dengan hasil rata-rata 75% patuh melaksanakan, 25% tidak patuh melaksanakan.

Dokumen terkait