Perbandingan tingkat kesukaran soal-soal linking, soal-soal-soal-soal nonlinking, dan paket tes
Soal-soal linking sebanyak lima soal berada pada nomor-nomor soal yang sama di setiap zona. Karena kelima soal linking ini sama persis di semua zona, seharusnya siswa-siswa yang memiliki kemampuan sama di semua zona akan mendapatkan skor yang sama. Akan tetapi, pada kenyataannya setelah dilakukan analisis terhadap tingkat kesukaran soal-soal linking di setiap zona diperoleh hasil bahwa tingkat kesukaran soal-soal linking di setiap zona tidak sama. Banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, misalnya kemampuan siswa yang berbeda dan pengadministrasian tes yang mungkin tidak standar.
Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata tingkat kesukaran soal-soal linking Biologi yang terendah adalah di zona Timur. Siswa-siswa di zona Timur memiliki kemampuan Biologi yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa-siswa di zona
Barat dan Tengah bila diukur dengan soal linking. Tingkat kesukaran rata-rata soal-soal linking Biologi yang tertinggi adalah di zona Barat. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan yang dimiliki oleh siswa-siswa di zona Barat lebih rendah dibandingkan dengan kemampuan Biologi siswa-siswa di zona Tengah dan Timur.
Tabel 2. Tingkat Kesukaran Soal-soal Biologi
Biologi Barat Tengah Timur
link Mean -.1140 -.1480 -.1880 Std. Dev .67263 .43026 .40776 non-link Mean .0163 .0214 .0271 Std. Dev .87731 .99067 .95859
Soal-soal nonlinking Biologi memiliki tingkat kesukaran rata-rata yang terendah di zona Barat dan yang tertinggi di zona Timur, namun perbedaannya tidak terlalu nyata. Soal-soal Biologi linking dan nonlinking memiliki tingkat kesukaran rata-rata sedang pada semua zona.
Gambar 3. Kurva Karakteristik Tes Biologi
Pada kurva karakteristik tes Biologi dapat dilihat bahwa kurva karakteristik tes pada masing-masing zona hampir berimpit yang berarti dengan kemampuan yang relatif sama akan diperoleh skor yang hampir sama di semua zona. Dikatakan hampir sama karena selisihnya hanya kecil.
Antara zona Barat dan Tengah, dari kemampuan -4.0 hingga -0.5 dan dari kemampuan -0.1 hingga 3.3 siswa-siswa di zona Barat memperoleh skor yang lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Tengah. Antara kemampuan -0.4 hingga -0.2, siswa-siswa di zona Barat dan Tengah memperoleh skor yang sama. Pada kemampuan di atas -3.4 siswa-siswa di zona Tengah memperoleh skor
Kemampuan siswa
Sko
yang sedikit lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Barat.
Pada kemampuan -4.0 hingga 2.0 siswa-siswa di zona Tengah memperoleh skor yang relatif lebih tinggi daripada skor yang diperoleh oleh siswa-siswa di zona Timur dengan kemampuan yang sama. Di atas kemampuan 2.0, siswa-siswa di zona Timur mendapatkan skor yang sedikit lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Tengah. Karena selisih skornya sangat kecil, dapat dikatakan bahwa pada kemampuan di atas 2.0, siswa-siswa di zona Tengah dan Timur memperoleh skor yang relatif sama, pada gambar terlihat kurva keduanya berimpit.
Antara zona Barat dan Timur, siswa-siswa di zona Barat memperoleh skor yang lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Timur pada kemampuan yang sama antara -4.0 hingga 3.4. Di atas kemampuan 3.4, siswa-siswa di zona Timur memperoleh skor yang sedikit lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Barat.
Identifikasi karakteristik soal-soal linking Posisi soal-soal linking antarzona (Barat - Tengah dan Barat - Timur) digambarkan melalui scatter plot tingkat kesukaran pada masing-masing nomor soal linking.
Gambar 4. Scatter Plot Butir Soal Biologi SMA
Pada gambar scatter plot soal-soal linking Biologi tampak penyebaran soal-soal linking berada paling dekat dengan garis regresi pada zona antara Barat dan Tengah. Antara Barat-Timur dan Timur-Tengah, posisi soal-soal linking menyebar jauh dari garis regresi.
Berdasarkan tingkat kesukaran soal-soal linking, urutan nomor soal-soal-soal-soal linking
dari yang termudah hingga yang tersulit di zona Barat adalah 10 0.73), 17 0.7), 28 (-0.34), 39 (0.51), dan 23 (0.69). Di zona Tengah, urutan soal-soal linking berdasarkan tingkat kesukarannya dari yang termudah hingga yang tersulit adalah 10 0.59), 17 (-0.51),
28 (-0.19), 39 (0.11), dan 23 (0.44). Di zona Timur, urutan soal-soal linking berdasarkan tingkat kesukarannya dari yang termudah hingga yang tersulit adalah 17 (-0.8), 23 (-0.39), 28 (-0.04), 10 (0.09), dan 39 (0.2). Di zona Barat dan tengah, urutan nomor soal berdasarkan tingkat kesukarannya adalah sama.
Antara zona Barat dan Tengah, soal-soal linking nomor 10, 17, dan 28 memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah di zona Barat daripada di zona Tengah, sedangkan soal-soal linking nomor 23 dan 39 memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah di zona Tengah daripada di zona Barat. Perbedaan tingkat kesukaran soal-soal linking antara zona Barat dan zona Tengah yang tertinggi adalah 0.4 pada soal nomor 39 dan
perbedaan yang terendah sebesar 0.14 pada soal nomor 10.
Antara zona Tengah dan Timur, siswa-siswa di zona Tengah memiliki kemampuan Biologi yang lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Timur ketika menjawab soal-soal nomor 10, 28, dan 39, tetapi siswa-siswa di zona Tengah memiliki kemampuan yang lebih rendah daripada siswa-siswa di zona Timur ketika menjawab soal-soal linking nomor 17 dan 23. Perbedaan tingkat kesukaran soal-soal linking antara zona Tengah dan Timur yang tertinggi adalah 0.83 pada soal nomor 23 dan perbedaan tingkat kesukaran yang terendah adalah 0.15 pada soal nomor 28.
Antara zona Barat dan Timur, soal-soal linking nomor 10 dan 28 memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah pada zona Barat daripada zona Timur, sebaliknya soal-soal linking nomor 17, 23, dan 39 memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah di zona Timur daripada di zona Barat. Perbnedaan tingkat kesukaran soal-soal linking antara zona Barat dan Timur yang tertinggi adalah sebesar 1.08 pada soal nomor 23 dan yang terendah adalah sebesar 0.1 pada soal nomor 17.
Tabel Konversi
Berdasarkan hasil analisis terhadap soal-soal linking, skor siswa pada masing-masing zona diletakkan pada skala yang sama dengan referensi zona Barat dengan alasan jumlah provinsi yang terdapat di zona Barat paling banyak dibandingkan dengan jumlah provinsi di zona Tengah dan Timur. Apabila soal-soal linking lebih mudah di suatu zona, nilai siswa di zona tersebut akan lebih kecil daripada skor awal (skor mentah), tetapi bila soal-soal linking termasuk lebih sulit pada suatu zona nilai siswa akan lebih tinggi setelah dikonversikan. Pada uraian berikut akan digunakan istilah skor dan nilai. Skor adalah skor mentah yang diperoleh siswa dari jumlah jawaban benar. Secara umum, skor merupakan bilangan bulat, seperti 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Nilai adalah angka yang diperoleh siswa setelah skor dikonversikan atau diubah ke dalam skala yang digunakan. Pada penilaian ujian nasional digunakan skala 0 – 10 sehingga seorang siswa yang mempunyai skor 10 dari 40 soal secara konvensional akan memperoleh nilai 10/40 x 10 = 2.5.
Pada tabel konversi yang akan disajikan pada bagian berikut, skor merupakan skor dari seorang siswa di mana tabel konversi tersebut digunakan, misalnya tabel konversi untuk zona Tengah, berarti skor adalah jumlah jawaban benar seorang siswa di zona Tengah. Pada kolom kedua terdapat nilai dari seorang siswa dengan skor tersebut dan pada kolom ketiga tertulis skor Barat yang menunjukkan skor dari zona Barat yang setara dengan nilai pada zona yang dikonversi. Pada umumnya skor Barat tidak berupa bilangan bulat.
Jumlah soal yang terdapat pada paket tes Biologi adalah 40. Skor terendah adalah 0 dan skor tertinggi 40. Skala nilai yang digunakan adalah 0 – 10, yang berarti nilai terendah 0 dan nilai maksimal 10.
Pada tabel konversi Biologi zona Tengah terdapat skor untuk zona Tengah yang bergerak dari 0 hingga 40 (sesuai dengan jumlah soalnya). Siswa yang memperoleh skor 1 di zona Tengah akan memperoleh nilai 0.38. Nilai 0.38 ini setara atau sama dengan nilai yang akan diperoleh oleh seorang siswa di zona Barat dengan skor
1.50. Siswa yang memperoleh skor 2 di zona Tengah akan mendapat nilai 0.60 yang setara dengan skor 2.41 di zona Barat, dan seterusnya.
Untuk tabel konversi Biologi zona Tengah, skor Barat lebih tinggi daripada skor Tengah untuk memperoleh nilai yang sama dari 0 hingga 3.89 dan di atas 4.49. Pada nilai
zona Tengah 3.89 – 4.49, skor Tengah lebih tinggi daripada skor Barat.
Untuk tabel konversi Biologi zona Timur, pada semua nilai yang sama antara zona Barat dan zona Timur, skor Barat lebih tinggi daripada skor Timur.
Tabel 3. Tabel Konversi Biologi Zona Tengah dan Timur
Skor Nilai_Tengah Skor_Barat Skor Nilai_Timur Skor_Barat
0 0.00 0.00 0 0.00 0.00 1 0.38 1.50 1 0.38 1.50 2 0.60 2.41 2 0.68 2.71 3 0.86 3.45 3 0.97 3.88 4 1.09 4.36 4 1.22 4.89 5 1.37 5.47 5 1.37 5.47 6 1.53 6.11 6 1.70 6.81 7 1.89 7.56 7 1.89 7.56 8 2.10 8.38 8 2.10 8.38 9 2.31 9.25 9 2.31 9.25 10 2.55 10.18 10 2.55 10.18 11 2.79 11.16 11 2.79 11.16 12 3.05 12.20 12 3.05 12.20 13 3.32 13.28 13 3.32 13.28 14 3.60 14.40 14 3.60 14.40 15 3.89 15.56 15 3.89 15.56 16 3.89 15.56 16 4.19 16.74
Skor Nilai_Tengah Skor_Barat Skor Nilai_Timur Skor_Barat 17 4.19 16.74 17 4.49 17.95 18 4.49 17.95 18 4.49 17.95 19 4.79 19.17 19 4.79 19.17 20 5.10 20.38 20 5.10 20.38 21 5.40 21.60 21 5.40 21.60 22 5.40 21.60 22 5.70 22.80 23 5.70 22.80 23 6.00 23.98 24 6.00 23.98 24 6.28 25.13 25 6.28 25.13 25 6.28 25.13 26 6.56 26.24 26 6.56 26.24 27 6.83 27.31 27 6.83 27.31 28 7.09 28.34 28 7.09 28.34 29 7.33 29.32 29 7.33 29.32 30 7.56 30.25 30 7.78 31.13 31 7.78 31.13 31 7.99 31.95 32 8.18 32.72 32 8.18 32.72 33 8.36 33.43 33 8.53 34.10 34 8.68 34.71 34 8.68 34.71 35 8.95 35.78 35 8.95 35.78 36 9.17 36.67 36 9.17 36.67 37 9.43 37.71 37 9.43 37.71 38 9.61 38.43 38 9.61 38.43 39 9.79 39.16 39 9.79 39.16 40 9.92 39.66 40 9.92 39.66
Perbandingan nilai Ujian Nasional murni dengan nilai ujian nasional setelah equating
Nilai siswa setelah disetarakan (diequating) dapat dibandingkan karena nilai tersebut berada pada skala yang sama. Misalnya, nilai 5.0 di zona Barat sama dengan nilai 5.0 di zona Tengah maupun Timur yang berarti siswa-siswa yang memperoleh nilai 5.0 di semua zona diasumsikan memiliki kemampuan yang sama. Pada bagian berikut akan dibandingkan nilai rata-rata Bilogi SMA yang dicapai oleh siswa-siswa di 15 provinsi, yaitu provinsi yang berada di zona Tengah dan zona Timur. Provinsi-provinsi yang berada di zona Barat tidak dimasukkan dalam perbandingan ini karena zona Barat merupakan zona referensi (acuan) sehingga nilai di zona tersebut tidak mengalami perubahan (tidak dilakukan equating).
Nilai hasil equating memiliki beberapa kemungkinan, yaitu naik, turun, atau tetap.
Hal ini dapat dilihat dari kurva karakteristik tes di masing-masing zona. Karena zona Barat sebagai referensi, kurva karakteristik tes dari setiap zona dibandingkan dengan zona Barat. Bila kurva karakteristik tes suatu zona berada di atas kurva zona Barat, berarti siswa-siswa di zona tersebut memperoleh skor lebih rendah daripada siswa-siswa di zona Barat dengan kemampuan yang sama. Dalam hal ini, skor siswa di zona tersebut akan naik mengikuti skor zona Barat apabila dilakukan konversi skor. Demikian juga sebaliknya, bila dibandingkan dengan zona Barat, kurva karakteristik tes dari zona tertentu berada di atas kurva karakteristik tes zona Barat yang berarti dengan kemampuan yang sama siswa-siswa pada zona tersebut memperoleh skor yang lebih tinggi daripada siswa-siswa di zona Barat. Dalam hal ini, setelah dilakukan proses konversi, skor siswa pada zona tersebut akan lebih rendah mengikuti skor siswa pada zona Barat.
Gambar 5. Perbandingan Nilai UN Murni dan Setelah Equating Biologi
Di semua provinsi, nilai rata-rata ujian nasional Biologi murni mengalami kenaikan setelah dikonversikan, walaupun kenaikannya relatif kecil antara 0.07 hingga 0.17. Kenaikan 0.07 terjadi di provinsi Nusa Tenggara Timur
dan kenaikan 0.17 terjadi di provinsi Papua Barat dan Papua. Provinsi yang mencapai nilai rata-rata ujian nasional setelah equating di atas 8 hanyalah Bali, yaitu 8.90 dan ini merupakan nilai tertinggi. Tidak ada provinsi
yang memperoleh nilai rata-rata di bawah 6. Nilai rata-rata setelah equating yang terendah dicapai oleh Nusa Tenggara Timur, yaitu 6.39.
Perbandingan nilai rata-rata ujian nasional di semua provinsi
Pada tabel 2 tercantum nilai rata-rata ujian nasional Biologi SMA sebelum dan
sesudah konversi (equating). Karena zona yang merupakan referensi adalah zona Barat, nilai rata-rata ujian nasional di provinsi-provinsi yang termasuk zona Barat tidak mengalami perubahan, nilai rata-rata sebelum dan setelah equating adalah sama. Bila nilai rata-rata di zona Barat mengalami perubahan, perubahan ini terjadi karena adanya pembulatan dan sangat kecil sehingga bisa diabaikan.
Tabel 4. Perbandingan nilai rata-rata ujian nasional Biologi SMA
NO PROPINSI PESERTA SEBELUM
EQUATING SETELAH EQUATING 1 Dki jakarta 22,556 7.38 7.41 2 Jawa barat 87,740 8.24 8.25 3 Jawa tengah 62,246 7.70 7.72 4 Di yogyakarta 8,441 6.84 6.86 5 Jawa timur 86,377 8.03 8.04 6 Aceh 32,577 7.29 7.32 7 Sumatera utara 62,331 8.21 8.23 8 Sumatera barat 17,694 6.68 6.71 9 Riau 17,770 8.31 8.32 10 Jambi 9,101 8.35 8.36 11 Sumatera selatan 24,905 7.81 7.83 12 Lampung 18,444 8.04 8.05
NO PROPINSI PESERTA SEBELUM EQUATING SETELAH EQUATING 13 Kalimantan barat 6,935 6.84 6.87 14 Kalimantan tengah 5,337 6.60 6.63 15 Kalimantan selatan 7,434 7.62 7.73 16 Kalimantan timur 8,921 7.03 7.11 17 Sulawesi utara 6,486 7.86 7.97 18 Sulawesi tengah 8,102 7.06 7.15 19 Sulawesi selatan 32,088 7.68 7.79 20 Sulawesi tenggara 10,647 7.46 7.56 21 Maluku 7,185 7.74 7.90 22 Bali 11,853 8.77 8.90
23 Nusa tenggara barat 14,661 7.40 7.50
24 Nusa tenggara timur 8,102 6.32 6.39
25 Papua 5,073 7.21 7.38 26 Bengkulu 5,708 8.30 8.31 27 Maluku utara 5,713 7.01 7.17 28 Bangka belitung 2,155 6.74 6.76 29 Gorontalo 2,556 7.77 7.89 30 Banten 21,958 7.19 7.21 31 Kepulauan riau 2,898 6.83 6.86 32 Sulawesi barat 2,805 7.57 7.68 33 Papua barat 2,142 7.49 7.66
Pada pelajaran Biologi, nilai rata-rata sebelum equating yang terendah diperoleh oleh NTT (6.32), Kalimantan Tengah (6.60), dan Sumatera Barat (6.68), sedangkan nilai rata-rata Biologi tertinggi dicapai oleh Riau (8.31), Jambi (8.35), dan Bali (8.77). Posisi provinsi berdasarkan nilai rata-rata setelah equating tidaklah berubah, namun nilai rata-rata Biologi NTT mengalami sedikit kenaikan menjadi 6.39 dan Bali pun mengalami kenaikan menjadi 8.90.
SIMPULAN DAN SARAN
SimpulanRata-rata tingkat kesukaran soal-soal linking Biologi terendah di zona Timur dan tertinggi di zona Barat. Soal-soal nonlinking Biologi memiliki tingkat kesukaran rata-rata terendah di zona Barat dan tertinggi di zona Timur. Soal-soal linking nomor 10, 17, dan 28 lebih mudah di zona Barat daripada di zona Tengah, nomor 23 dan 39 lebih mudah di zona Tengah daripada di zona Barat. Soal-soal linking nomor 10, 28, dan 39 lebih mudah di zona Tengah daripada di zona Timur, nomor
17 dan 23 lebih mudah di zona Timur daripada di zona Tengah. Soal-soal linking nomor 10 dan 28 lebih mudah di zona Barat daripada zona Timur, sebaliknya soal-soal linking nomor 17, 23, dan 39 lebih mudah di zona Timur daripada di zona Barat.
Untuk tabel konversi Biologi, skor Barat lebih tinggi daripada skor Tengah untuk memperoleh nilai yang sama dari 0 hingga 3.89 dan di atas 4.49. Pada nilai Tengah 3.89 – 4.49, skor Tengah lebih tinggi daripada skor Barat. Pada semua nilai, skor Barat lebih tinggi daripada skor Timur.
Di semua provinsi, nilai rata-rata ujian nasional Biologi murni mengalami kenaikan setelah dikonversikan. Nilai rata-rata setelah equating yang terendah dicapai oleh Nusa Tenggara Timur (6.39) dan yang tertinggi Bali (8.90).
Saran
1. Proses equating sebaiknya dilakukan pada ujian nasional sehingga diperoleh nilai yang setara di semua provinsi.
2. Melalui equating akan diperoleh tabel konversi. Sosialisasi penerapan tabel konversi perlu dilakukan oleh dinas pendidikan di seluruh provinsi sebelum pelaksanaan ujian nasional agar masyarakat mengerti perlunya penyetaraan skor dan mau menerimanya.