• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian teori

2.1.1. Belajar dan Pembelajaran

2.1.1.5. Hasil Belajar

Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.

Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi

hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Hasil belajar, untuk sebagian adalah berkat tindakan guru, suatu pencapaian tujuan pengajaran.Dan pada bagian lainnya merupakan peningkatan kemampuan mental siswa. Hasil belajar dapat dibedakan menjadi dampak pengajaran, dan dampak pengiring. Dampak pengajaran adalah hasilyang dapat diukur, seperti yang tertuang dalam angka rapor, dan dampak pengiring adalah terapan pengetahuan dan kemampuan dibidang lain (Dimyati, 2013: 3).

Menurut Haryati (2007: 22), pada umumnya hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga ranah yaitu ranah kogntif, afektif dan psikomotor. Secara eksplisit ketiga ranah ini tidak dapat dipisahkan. Setiap mata ajar mengandung ketiga ranah tersebut, namun penekanannya selalu berbeda, mata ajar praktek lebih menekankan pada ranah kognitif dan psikomotor, namun kedua ranah tersebut mengandung ranah afektif.

Bloom dalam Dimyati dan Mudjiono (2013: 26), membagi ketiga ranah tersebut sebagai berikut.

1. Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu pengetahuan/ingatan, pemahaman, aplikasi/penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Keenam jenis perilaku ini bersifat hierarkis, artinya perilaku pengetahuan merupakan yang terendah, dan evaluasi merupakan yang tertinggi. Perilaku terendah merupakan perilaku yang harus dimiliki sebelum mempelajari perilaku yang lebih tinggi.

2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap, terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, partisipasi, penilaian dan penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup.

3. Ranah Psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak, terdiri dari tujuh perilaku yaitu persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola gerakan, dan kreativitas.

Menurut Sardiman (2011: 26- 28), untuk mendapatkan hasil belajar ranah kognitif cara yang digunakan adalah model kuliah dan pemberian tugas-tugas bacaan. Dengan cara demikian, pesereta didik akan diberikan pengetahuan sehingga menambah pengetahuannya sekaligus siswa akan mencarinya sendiri untuk menambah pengetahuannya.

Berdasarkan Permendikbud no 59 tahun 2014 pengetahuan adalah hasil dari proses mengingat, deduksi dan induksi. Pengetahuan digunakan juga untuk mengembangkan kemampuan pada tingkat memahami, mengaplikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan suatu yang baru. Pengetahuan

terdiri atas pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedur, dan pengetahuan metakognitif. Penilaian pengetahuan dapat dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan.

Menurut Syah (2008: 135) sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Untuk mengantisipasi munculnya sikap negatif siswa, guru harus menunjukkan sikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata pelajarannya.

Menurut Robbins (2007: 93), sikap memiliki tiga komponen yaitu kognitif, afektif, dan perilaku. Komponen kognitif berisi tentang informasi yang dimiliki seseorang tentang objek sikap. Informasi ini bersifat deskriptif dan tidak termasuk suka atau tidak suka terhadap objek sikap. Komponen afektif berisi perasaan- perasaan seseorang terhadap objeknya, suka atau tidak suka terhadap objek sikap. Komponen perilaku berisikan cara yang direncanakan seseorang untuk bertindak terhadap objek sikap.

Menurut Sardiman (2011: 28) dalam menumbuhkan sikap mental dan perilaku siswa, tidak akan terlepas dari penanaman nilai-nilai, transfer of value. Dalam hal ini guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi betul-betul sebagai pendidik yang akan memindahkan nilai-nilai itu kepada anak didiknya. Untuk mendapatkan keterampilan diperlukan banyak latihan karena keterampilan bukan soal pengulangan tetapi mencari jawab yang cepat dan tepat.

Berdasarkan Permendikbud no 59 Tahun 2014, sesuai dengan karakteristik sikap, maka alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima,

menjalankan, menghargai, menghayati hingga mengamalkan. Penilaian sikap berbentuk kebiasaan yang didasarkan pada nilai yang dimiliki peserta didik. Kebiasaan tersebut terlihat dalam perilaku, cara berpikir, cara bersikap, dan cara bertindak. Penilaian sikap dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu (a) observasi, (b) penilaian diri, (c) penilaiaan antarteman, (c) jurnal /catatan guru. Menurut Sardiman (2011: 27), penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan keterampilan. Keterampilan bersifat jasmani dan rohani. Keterampilan jasmaniah adalah keterampilan-keterampilan yang dapat dilihat, diamati, sehungga kan menitik beratkan pada keterampilan gerak dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar. Sedangkan keterampilan rohani lebih rumit, karena tidak selalu berurusan dengan masalah-masalah keterampilan yang dapat dilihat, tetapi lebih abstrak yaitu menyangkut penghayatan, keterampilan berpikir serta kreativitas untuk menyelesaikan dan merumuskan suatu masalah atau konsep. Ketrampilan dapat dididik yaitu dengan banyak melatih kemampuan. Menurut (Harrow)) dalam Arikunto (2011: 123) ranah ini terdiri dari enam aspek yaitu (1) gerakan reflex, (2) dasar-dasar gerakan yaitu gerakan yang menuntun kepada keterampilan yang sifatnya kompleks, (3) perceptual abilities yaitu kombinasi dari kemampuan kognitif dan gerakan, (4) Physical abilities yaitu kemampuan yang diperlukan untuk mengembangkan keterampilan tingkat tinggi, (5) skilled movements yaitu gerakan-gerakan yang memerlukan belajar, misalnya keterampilan dalam menari, (6) Nondiscoursive communication yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dengan menggunakan gerakan.

Menurut Simpson dalam Permendikbud no 59 th 2014 jenjang kemampuan keterampilan meliputi (1) mengamati, (2) meniru, (3) mengembangkan ketepatan

gerak, (4) naturalisasi, (5) originalitas/menciptakan. Penilaian keterampilan ditandai oleh gerakan fisik ketika berkenaan dengan suatu tindakan atau pekerjaan tertentu. Dari tindakan tersebut akan diketahui apakah sesorang telah/belum memiliki hasil belajar yang memenuhi krteria atau standar yang ditentukan. Berdasarkan permendikbud no 59 tahun 2014 penilaian keterampilan dapat dilakukan melalui (a) praktik, (b) penilaian proyek, (c) penilaian portofolio. Untuk dapat memperoleh hasil belajar siswa maka diperlukan evaluasi yang di dalamnya mencakup pengukuran, tes, penilaian dan pengambilan keputusan. Gagné dan Briggs (1974: 283), mengatakan:...evaluation in education is to assess the worth of a variety of states or events, from small to large, from the specific to the very general ) evaluasi dalam pendidikan adalah menilai harga dari suatu keberagaman keadaan atau kegiatan, dari yang kecil sampai yang besar, dari khusus sampai ke sangat umum). Menurut Davies dalam Dimyati (2013: 190), evaluasi merupakan proses memberikan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek dan lain-lain.

Untuk dapat melakukan evaluasi, perlu dilakukan pengukuran terlebih dahulu. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif (Arikunto,2011: 3). Artinya pengukuran adalah kegiatan memberi angka terhadap sesuatu yang menjadi objek ukur. Hasil belajar siswa diukur dengan menggunakan suatu alat ukur yang dapat berupa tes dan non tes. Dengan demikian hasil belajar siswa pun diukur dengan menggunakan tes, seperti yang dikemukakan oleh Djaali dan Muljono (2008: 4) seperti berikut: ”Prestasi atau hasil belajar diukur dengan menggunakan tes.”

Salah satu jenis tes adalah tes hasil belajar siswa, yaitu suatu tes yang berguna untuk membantu siswa untuk melihat kemajuan dirinya dan memudahkan guru dalam mengambil keputusan tentang rencana pembelajaran dan membantu sekolah menilai berbagai aspek kurikulum, yang menggambarkan kemajuan belajar siswa (Hamalik, 1989: 14). Tes juga merupakan alat ukur yang sering digunakan untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai kompetensi (Sanjaya, 2012: 235). Dari uraian di atas maka hasil belajar siswa adalah hasil belajar atau keadaan siswa setelah mengikuti proses pembelajaran tertentu dalam jangka waktu tertentu yang berupa perubahan prilaku baik kognitif, afektif maupun psikomotor.

Dokumen terkait