BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN, ANALISIS DATA
B. Penyajian Data
2. Hasil Belajar Fisika Aspek Proses
fisika aspek proses. Tes belajar fisika aspek proses meliputi proses sains siswa dalam mengidentifikasi variabel, mengidentifikasi alat dan bahan percobaan, menentukan langkah percobaan, menganalisis data dan menarik kesimpulan.
3. Minat yang dimaksud dalam penelitian adalah minat siswa terhadap pembelajaran setelah dilakukan pembelajaran dengan metode inkuiri terbimbing yang dideskripsikan melalui model ARCS menurut Keller yang dibuat pada tahun 1987. Model ARCS yang dimaksudkan adalah
Attention (perhatian), Relevance (relevansi), Confidence (keyakinan), dan Satisfaction (kepuasan). Dalam penelitian ini, minat siswa terhadap
pembelajaran diukur dengan menggunakan instrumen yang berupa angket minat siswa terhadap pembelajaran dari John Keller.
4. Pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pembelajaran dimana guru lebih banyak membimbing dan memberikan petunjuk baik melalui prosedur yang lengkap ataupun pertanyaan-pertanyaan pengarahan selama proses inkuiri. Guru memberikan persoalan dan siswa diminta untuk memecahkan persoalan tersebut dengan prosedur yang telah ditentukan guru sehingga kesimpulan lebih cepat dan mudah diambil siswa serta akan selalu benar dan sesuai dengan kehendak guru.
5. Gaya apung adalah suatu materi yang dipelajari siswa-siswi kelas VIII semester gasal SMP Pius Pekalongan Tahun pelajaran 2013/2014.
E. Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Siswa
Bagi siswa sendiri, siswa mempunyai pengalaman belajar dengan menggunakan pembelajaran metode inkuiri terbimbing sehingga mereka dapat membangun sendiri pengetahuan yang didapatkan melalui pengalaman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa dapat mengalami pembelajaran dengan berbagai metode yang bervariasi sehingga menambah minat siswa dalam mempelajari fisika.
2. Bagi Peneliti
Bagi peneliti sendiri, peneliti berkesempatan untuk mencoba menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing secara nyata, dan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan siswa yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal dalam menghadapi dunia pendidikan selanjutnya.
3. Bagi Guru Mata Pelajaran
Bagi guru mata pelajaran fisika, penelitian ini digunakan sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan dapat menerapkan cara mengajar yang lebih bervariasi dan membuat siswa tertarik dalam mengikuti pembelajaran.
BAB II LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran
1. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang terprogram yang menciptakan proses interaksi antara sesama peserta didik, guru dengan peserta didik, dan dengan sumber belajar (Abdurrahman, 2010: 37-38). Menurut Brooks (dalam Budi, 2001: 46), pembelajaran menekankan pada kegiatan atau keaktifan siswa dan peran guru yang pokok adalah menciptakan situasi, menyediakan kemudahan, merancang kegiatan, dan membimbing siswa agar mereka terlibat dalam proses pembelajaran.
2. Pembelajaran Fisika
Pembelajaran fisika tidak akan lepas dari hakekat fisika. Fisika merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Oleh karena itu, hakekat fisika dapat ditinjau dan dipahami melalui hakekat sains (Budi, 1998: 161). Definisi sains dijelaskan oleh beberapa saintis sebagai berikut:
Menurut Conant, sains adalah sekumpulan konsep yang saling berhubungan dan dikembangkan sebagai hasil dari eksperimen dan
observasi dan bermanfaat untuk eksperimen dan observasi selanjutnya.
Menurut Kemany, sains adalah semua pengetahuan yang dibangun (diperoleh) melalui metode ilmiah (proses sains).
Menurut Carin dan Sund, sains sebagai suatu sistem pengetahuan tentang alam berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi dan eksperimen.
Berdasarkan definisi diatas, fisika sebagai bagian dari sains dapat diartikan sebagai pengetahuan yang diperoleh dari proses sains yang dikenal dengan metode ilmiah, sehingga fisika memiliki tiga aspek penting, yakni (Budi, 1998: 161-162):
1. Aspek Produk Sains
Aspek produk sains berupa bangunan sistematis pengetahuan “body of knowledge” (Dawson, Cari dan Sund dalam Budi, 1998: 161) sebagai hasil dari proses yang dilakukan para saintis. Aspek produk terdiri atas berbagai fakta, konsep, prinsip, hukum dan teori. Fakta adalah sesuatu yang telah atau sedang terjadi yang dapat berupa keadaan, sifat, atau peristiwa. Konsep adalah suatu ide yang merupakan generalisasi dari berbagai peristiwa atau pengalaman khusus (Carin dan Sund dalam Budi, 1998: 162) yang dinyatakan dengan istilah atau simbol tertentu yang dapat diterima sesuai budaya setempat dan mengacu pada obyek (benda-benda), peristiwa, keadaan, sifat, kondisi, ciri, dan atribut yang lekat dengan suatu
obyek (Berged dalam Budi, 1998: 162) yang pada umumnya menjadi proses kajian dalam pembelajaran sains (fisika) contoh konsep seperti cahaya, getaran, elektron, ketetapan planck, waktu paruh, dan sebagainya. Prinsip dan hukum adalah hubungan sebab akibat antara dua konsep atau lebih yang merupakan generalisasi dari beberapa kejadian khusus. Yang membedakan hukum dan prinsip adalah hukum memiliki ciri khas, antara lain ditemukan secra khusus, berguna untuk pengembangan ilmu selanjutnya dan untuk memecahakan masalah sains, dan sering diberi nama khusus sebagai apresiasi pada penemunya, yang pertama kali mensosialisasikan, atau nama orang yang berjasa dalam bidangnya. Contoh prinsip seperti bila suhu naik, logam akan memuai. Contoh prinsip lainnya, bila benda yang bermassa m mengalami gaya F, maka benda mengalami percepatan sebesar a = F/m juga merupakan prinsip yang dikenal sebagai hukum II Newton. Sedangkan teori adalah kumpulan yang terdiri atas fakta, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum yang saling terkait.
2. Aspek Proses Sains
Aspek proses yaitu aspek yang ditinjau dari metode untuk memperoleh pengetahuan (sains). Metode ini disebut sebagai metode ilmiah. Yang merupakan proses sains meliputi penemuan masalah, perumusan hipotesis, merancang percobaan (mengidentifikasi variabel, mengidentifikasi peralatan dan menentukan langkah-
langkah percobaan), melakukan pengukuran, menganalisis data, dan menarik kesimpulan (Sund dalam Budi, 1998: 61).
3. Aspek Sikap Sains
Aspek sikap sains yang dimaksud adalah sikap yang diperlukan agar dapat melakukan proses keilmuan antara lain tidak mudah putus asa, rasa ingin tahu, jujur, kritis, kreatif, terbuka, tidak mudah puas, menghargai pendapat orang lain dan bersedia menerima kritik dari orang lain.
Secara umum pembelajaran fisika bertujuan untuk menguasai konsep-konsep fisika dan saling keterkaitannya, serta mampu menggunakan metode (proses) sains yang dilandasi sikap keilmuan untuk memecahkan masalah-masalah fisika yang dihadapinya (Kurikulum 1994 dalam Budi, 1998: 165).
B. Hakekat Inkuiri
1. Pengertian Metode Inkuiri
Inkuiri yang dalam bahasa Inggris adalah inquiry mempunyai arti penyelidikan. Pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang konstruktivistik dimana siswa dilibatkan untuk aktif berfikir dan menemukan konsep atau prinsip yang ingin diketahuinya sendiri (Suparno, 2007: 65). Yang pantas dicatat dari metode ini adalah isi dan proses penyelidikan diajarkan bersama dalam waktu yang bersamaan.
Kindsvatter, Wilen, dan Ishler (1996) dalam Suparno (2007: 65) menjelaskan inkuiri sebagai model pembelajaran dimana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik. Pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang berpusat pada keaktifan siswa dan menggunakan prinsip metode ilmiah atau saintifik dalam menemukan suatu hukum, ataupun teori. Secara umum metode ilmiah memiliki langkah-langkah seperti merumuskan persoalan, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan mengambil kesimpulan.
Amin (1987: 126-127) menjelaskan inkuiri sebagai perluasan dari proses discovery dimana dalam proses discovery meliputi mengamati, menggolongkan, memprediksi, mengukur, dan menyimpulkan tanpa harus lengkap prosesnya. Sedangkan inkuiri lebih pada penyelidikan masalah yang secara ketat melalui metode ilmiah sehingga inkuiri memiliki proses mental yang lebih tinggi tingkatannya karena prosesnya lebih kompleks melalui metode ilmiah serta menumbuhkan sikap ilmiah (objektif, jujur, rasa ingin tahu, dan berpikiran terbuka). Proses discovery biasanya berupa penemuan biasa dan digunakan pada sekolah dasar sedangkan inkuiri terbimbing dapat digunakan pada tingkat sekolah menengah.
2. Jenis-jenis Pembelajaran Inkuiri
Kindsvatter dalam Suparno (2007: 68) membedakan antara dua jenis pembelajaran inkuiri, yaitu guided inquiry dan open inquiry, yakni sebagai berikut:
a. Guided Inquiry
Guided inquiry adalah pembelajaran inkuiri dengan guru masih
membimbing dan mengarahkan siswa serta memberikan petunjuk baik lewat prosedur yang lengkap dan pertanyaan-pertanyaan pengarahan selama proses inkuiri. Bahkan guru sudah punya jawaban sebelumnya, sehingga siswa tidak begitu bebas mengembangkan gagasan dan idenya. Guru memberikan persoalan dan siswa diminta memecahkan persoalan tersebut dengan prosedur tertentu yang diarahkan oleh guru. Siswa dalam menyelesaikan prosedur menyesuaikan dengan prosedur yang telah ditetapkan guru. Pada penyelidikan ini, guru ikut campur tangan dalam penyelidikan yang dilakukan oleh siswa. Campur tangan guru ini misalnya dalam pengumpulan data, guru sudah memberikan beberapa data dan siswa tinggal melengkapi. Guru banyak memberikan pertanyaan di sela- sela proses, sehingga kesimpulan lebih cepat dan mudah diambil. Dengan model inkuiri ini, maka kesimpulan akan selalu benar dan sesuai dengan kehendak guru. Model inkuiri ini lebih cocok untuk siswa yang belum biasa melakukan inkuiri. Dengan model tersebut,
siswa tidak mudah bingung dan tidak akan gagal karena guru terlibat penuh.
b. Open Inquiry
Pada open inquiry, siswa diberi kebebasan dan inisiatif untuk memikirkan bagaimana akan memecahkan persoalan yang dihadapi. Siswa sendiri berpikir, menentukan hipotesis, lalu menentukan peralatan yang akan digunakan, merangkainya, dan mengumpulkan data sendiri. Pada inkuiri terbuka, siswa lebih bertanggung jawab, lebih mandiri, dan guru tidak banyak ikut campur tangan. Siswa sendiri yang menentukan hipotesis, memilih peralatan, merangkai peralatan, dan mengumpulkan data. Guru hanya sebagai fasilitator dan membantu sejauh diminta oleh siswa. Guru tidak banyak memberikan pengarahan dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menemukan sendiri.
Amin (1987: 136) juga menjelaskan beberapa jenis pembelajaran inkuiri diantaranya sebagai berikut:
a. Guided Inquiry (Inkuiri Terbimbing)
Pembelajaran dimana guru menyediakan kesempatan bimbingan atau petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Pada guided
inquiry, sebagian besar perencanaan disiapkan oleh guru seperti:
guru memberikan permasalahan, menyediakan alat dan bahan yang diperlukan hingga memberikan langkah-langkah dalam memecahkan
persoalan. Secara umum, inkuiri terbimbing dilaksanakan dengan cara berikut:
1) Problema untuk masing-masing kegiatan dapat dinyatakan sebagai pertanyaan atau pernyataan biasa.
2) Konsep-konsep atau prinsip-prinsip yang harus ditemukan siswa melalui kegiatan belajar harus dituliskan dengan jelas dan tepat. 3) Alat atau bahan harus disediakan sesuai dengan kebutuhan siswa
untuk melakukan kegiatan inkuiri terbimbing.
4) Diskusi pengarahan berupa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada siswa (kelas) untuk didiskusikan sebelum pada siswa melakukan kegiatan.
5) Kegiatan inkuiri terbimbing oleh siswa berupa kegiatan percobaan atau penyelidikan yang dilakukan oleh siswa untuk menemukan konsep-konsep dan atau prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh guru.
6) Pertanyaan yang bersifat open-ended harus berupa pertanyaan yang mengarah kepada pengembangan tambahan kegiatan penyelidikan yang dapat dilakukan oleh siswa.
7) Catatan guru berupa catatan yang meliputi:
penjelasan tentang hal-hal atau bagian-bagian yang sulit dari kegiatan-kegiatan atau pelajaran.
faktor-faktor variabel yang terutama dapat mempengaruhi hasil-hasilnya menjadi penting apabila percobaan atau penyelidikan tidak berjalan (gagal).
b. Modified Inquiry (Inkuiri yang Dimodifikasi)
Dalam inkuiri yang dimodifikasi ini guru memberikan permasalahan dan menyediakan alat dan bahan yang diperlukan kemudian siswa diminta untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi, dan melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Langkah-langkah pemecahan masalah dilakukan atas inisiatif sendiri atau kelompok. Peran guru disini sebagai pendorong, narasumber, dan bertugas memberikan bantuan yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses belajar siswa.
c. Free Inquiry
Kegiatan free inquiry dilakukan setelah siswa mempelajari dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema. Dalam metode ini siswa sendiri yang harus mengidentifikasi, dan merumuskan masalah serta mencari penyelesaian dari masalah tersebut.
3. Pengertian Inkuiri Terbimbing
Dari beberapa penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pembelajaran inkuiri dimana guru masih membimbing dan memberikan petunjuk baik melalui prosedur yang lengkap ataupun pertanyaan-pertanyaan pengarahan
selama proses inkuiri. Guru memberikan persoalan dan siswa diminta untuk memecahkan persoalan tersebut dengan prosedur yang telah ditentukan guru. Bimbingan guru misalnya, guru telah memberikan langkah percobaan sehingga siswa tinggal menjalankan percobaan dan melengkapi data tersebut. Guru banyak memberikan pertanyaan- pertanyaan disela-sela proses, sehingga kesimpulan lebih cepat dan mudah diambil siswa. Dengan inkuiri terbimbing, maka kesimpulan akan selalu benar dan sesuai dengan kehendak guru.
4. Langkah-langkah Pembelajaran Inkuiri
Menurut Kindsvatter, Wilen dan Ishler (1996) dalam Suparno (2007: 66) langkah-langkah pembelajaran metode inkuiri agar menjadi jelas dan mudah dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Identifikasi dan klarifikasi persoalan
Mengidenfikasi merupakan langkah awal untuk menentukan persoalan yang ingin dipecahkan dengan metode inkuiri. Persoalan dapat disiapkan oleh guru. Persoalan yang ingin dipecahkan sebaiknya disiapkan sebelum memulai pelajaran. Persoalan yang ingin dipecahkan oleh siswa harus jelas, dan mudah dipahami oleh siswa. Dari persoalan yang diajukan akan tampak jelas tujuan dari seluruh proses pembelajaran atau penyelidikan.
b. Membuat hipotesis
Setelah mengidentifikasi dan mengklarifikasi persoalan, siswa kemudian diminta untuk mengajukan jawaban sementara mengenai persoalan yang telah di identifikasi. Mengajukan jawaban sementara ini disebut hipotesis. Apabila siswa belum mengetahui apa itu hipotesis, guru mencoba membantu memperjelas maksud dari hipotesis. Peran guru dalam membantu siswa menjelaskan maksud hipotesis adalah guru tidak memperbaiki hipotesis siswa yang salah, tetapi cukup memperjelas maksud hipotesis saja. Hipotesis yang salah yang nantinya akan terlihat setelah pengambilan data dan analisis yang diperoleh.
c. Mengumpulkan data
Setelah membuat hipotesis, kemudian siswa mencari dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya untuk membuktikan apakah hipotesis mereka benar atau tidak. Dalam bidang fisika, biasanya untuk dapat mengumpulkan data, siswa harus menyiapkan suatu peralatan yang dapat digunakan untuk pengumpulan data. Maka guru perlu membantu siswa untuk mencari peralatan, merangkai peralatan, dan mengoperasikan peralatan sehingga dapat berjalan dengan baik. Langkah ini disebut sebagai langkah percobaan atau eksperimen yang dapat dilakukan di laboratorium dan dapat pula dilakukan di luar sekolah. Setelah peralatan
dijalankan, siswa diminta untuk mengumpulkan data dan mencatatnya dalam buku catatan.
d. Menganalisis data
Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis untuk dapat membuktikan kebenaran hipotesis. Untuk memudahkan menganalisis data, data sebaiknya diorganisasikan, dikelompokkan, diatur sehingga dapat dibaca dan dianalisis dengan mudah. Data biasanya disusun dalam suatu tabel sehingga dapat mudah dibaca dan dianalis. Dalam menganalisis data, guru juga dapat membantu agar siswa tidak bingung untuk menentukan langkah selanjutnya. Dalam menganalisis data seringkali diperlukan alat hitung seperti rumus-rumus yang memudahkan siswa untuk mengambil suatu keputusan.
e. Mengambil kesimpulan
Dari data yang telah dikelompokkan dan dianalisis, kemudian diambil kesimpulan. Setelah diambil kesimpulan, kemudian dicocokan dengan hipotesis asal, apakah hipotesis diterima atau tidak. Setelah itu guru masih dapat memberikan catatan untuk menyatukan seluruh penelitian ini. Apabila dalam mengambil kesimpulan, sangat baik jika siswa dilibatkan sehingga mereka menjadi semakin yakin bahwa mereka mengetahui secara benar. Apabila hipotesis mereka tidak dapat diterima, mereka diminta untuk
mencari penjelasan, mengapa demikian. Peneliti dapat membantu dengan berbagai pertanyaan penolong.
Menurut Trowbridge dan Bybee dalam Suparno (2007: 71), beberapa unsur yang perlu diperhatikan agar pembelajaran inkuiri dapat berjalan lancar dan mendukung pembelajaran siswa adalah sebagai berikut:
1) Persoalan harus nyata sehingga memiliki arti bagi siswa dan dapat diteliti oleh siswa.
2) Informasi pengetahuan pada sumber bacaan yang diperlukan.
3) Alat-alat yang diperlukan perlu disediakan terlebih dahulu sehingga siswa tidak bingung untuk mencari.
4) Guru perlu mempersiapkan pertanyaan pengarah agar siswa lebih terfokus.
5) Hipotesis siswa perlu dilihat oleh guru dan dapat dipahami oleh siswa lainnya.
6) Data perlu dikumpulkan dengan baik oleh siswa.
7) Membimbing siswa dalam mengambil kesimpulan agar kesimpulan yang diperoleh dapat logis dan tepat.
8) Lembar Kerja Siswa atau LKS dapat disiapkan untuk membantu siswa dalam proses inkuiri, sehingga proses berjalan dengan efektif dan efisien. LKS ini dapat disediakan oleh guru.
5. Kelebihan Pembelajaran Inkuiri
Amin (1987: 133) menjelaskan pembelajaran metode inkuiri memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
a. Jerome Bruner dalam Amin (1987: 133) juga menyatakan beberapa kelebihan menggunakan pembelajaran metode inkuiri, sebagai berikut:
1) Dapat meningkatkan potensi intelektual siswa
2) Siswa akan memahami konsep-konsep dasar dan ide-ide lebih baik
3) Meningkatkan daya ingat siswa.
4) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja sama atas inisiatifnya sendiri
5) Mendorong siswa untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.
6) Situasi proses belajar menjadi lebih merangsang
b. Pengajaran berubah dari teacher centered menjadi student centered. Guru tidak lagi mendominasi sepenuhnya tetapi lebih banyak bersifat membimbing dan memberikan kebebasan belajar kepada siswa. Dalam inkuiri, siswa tidak hanya belajar tentang konsep dan pinsip tetapi juga mengalami proses belajar tentang pengarahan diri sendiri seperti tanggung jawab, komunikasi sosial, dan lain sebagainya.
c. Proses belajar melalui kegiatan inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri. Maslow menjelaskan dalam Amin (1987: 45), konsep diri diperoleh dari pengalaman. Apabila konsep diri seseorang itu baik, maka secara psikologi, ia akan merasa aman, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, berkeinginan untuk selalu mengambil dan mengeksplorasi kesempatan-kesempatan yang ada, lebih kreatif, dan memiliki mental yang sehat.
d. Menambah tingkat penghargaan siswa. Dengan pembelajaran inkuiri, siswa dapat menyelesaikan soal-soal yang menjadi tugasnya dan hasil belajar siswa dapat meningkat. Sering pula siswa dapat mengerjakan tugas-tugas dengan caranya sendiri. Ini berarti ada hal- hal tertentu yang ditemukan oleh siswa untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas tersebut.
e. Pembelajaran inkuiri memungkinkan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar yang tidak hanya menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber belajar.
f. Pembelajaran inkuiri dapat mengembangkan bakat kemampuan individu. Apabila siswa bekerja sama memecahkan atau menyelidiki beberapa masalah, maka siswa dapat terlibat dalam pengembangan bakat-bakat lainnya seperti merencanakan, mengorganisasi, komunikasi sosial, kreativitas, dan akademik.
g. Pembelajaran inkuiri dapat menghindarkan siswa dari cara-cara belajar yang tradisional (menghafal) dan memberikan kesempatan pada siswa untuk mengumpulkan dan mengolah informasi.
h. Pembelajaran metode inkuiri ini dapat memperkaya dan memperdalam materi yang dipelajari oleh siswa sehingga pengetahuan di dalam ingatan siswa “tahan lama” menjadi lebih baik.
Amin (1987: 163) juga menjelaskan siswa yang diberikan pembelajaran dengan inkuiri akan memperoleh hasil belajar kognitif yang lebih baik dibandingkan pada siswa dengan pembelajaran tradisional (ceramah).
Selain itu Gulo (2002) dalam Trianto (2011: 168) menambahkan dalam inkuiri tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan pengembangan proses yang bermula dari merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, dan membuat kesimpulan.
C. Metode Ceramah
Menurut Sudirman (1987: 113), metode ceramah ialah cara penyampaian pelajaran yang dilakukan guru dengan penjelasan lisan secara langsung tehadap siswa.
Metode ceramah sangat efektif untuk menyampaikan fakta-fakta (Bligh, 1972, dalam Budi, 2001: 47), tetapi sulit untuk melibatkan siswa dalam proses mengkonstruksi pengetahuan. Dengan demikian metode ceramah tidak cocok untuk pembelajaran yang konstruktivistik (Budi, 2001: 47).
D. Hasil Belajar
Menurut Purwanto (2011: 46) hasil belajar adalah perubahan perilaku siswa akibat belajar. Perubahan perilaku ini disebabkan karena siswa mencapai penguasaan atas sejumlah materi yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Proses belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mempunyai indikasi terhadap hasil belajar. Menurut Daryanto (2009: 51-78) faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam belajar antara lain:
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal yang mempengaruhi siswa dalam belajar, antara lain:
a. Faktor jasmaniah, seperti kesehatan dan cacat tubuh dapat berupa buta, tuli, patah kaki, patah tangan, dan lain-lain.
b. Faktor psikologi, seperti intelegensi, perhatian siswa terhadap bahan yang dipelajari, minat, bakat, dan motivasi.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu. Fakor eksternal yang mempengaruhi siswa dalam belajar, antara lain:
a. Faktor keluarga, seperti cara orang tua mendidik siswa, suasana rumah, dan keadaan ekonomi keluarga.
b. Faktor sekolah seperti metode mengajar, kurikulum, alat pelajaran c. Faktor masyarakat, seperti kegiatan siswa dalam masyarakatnya, dan
mass media. Agar siswa dapat menggunakan media dengan baik maka perlu bantuan dari orang tua untuk mengawasi anak dalam menggunakan media yang ada.
Menurut Bloom dalam Winkel (1996: 245-247) ada tiga ranah hasil belajar yakni ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif meliputi pengetahuan atau ingatan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), sintesis (C5), dan evaluasi (C1) dan dijabarkan sebagai berikut:
1. Pengetahuan atau Ingatan (C1)
Pengetahuan ditunjukkan dengan kemampuan siswa mengingat semua materi yang pernah dipelajari oleh siswa, meliputi fakta, kaidah dan prinsip, yang telah dipelajari siswa. Contoh kemampuan mengingat adalah siswa akan mampu menyebutkan semua nama provinsi di Indonesia.
2. Pemahaman (C2)
Pemahaman ditunjukkan dengan kemampuan siswa untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan mengingat. Contoh kemampuan ini adalah siswa akan mampu
memperkirakan kecelakaan lalu lintas selama lima tahun yang akan datang berdasarkan data dalam grafik kecelakaan lima tahun yang lalu jika situasi lalu lintas tetap sama.
3. Penerapan (C3)
Penerapan ditunjukkan dengan kemampuan siswa dalam menerapkan konsep atau hukum dalam mengerjakan soal dan dalam memecahkan suatu permasalahan. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari kemampuan (2), karena memahami suatu materi belum tentu dapat menerapkannya terhadap suatu kasus atau problem. Contoh dari penerapan adalah siswa akan mampu menghitung luas lingkaran berjari- jari 7 cm.
4. Analisis (C4)
Analisis ditunjukkan dengan kemampuan siswa untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhannya dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini dinyatakan