KAJIAN PUSTAKA
2.1 KAJIAN TEORI .1 Model Quantum Teaching
2.1.10 Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja. Widoyoko (2013: 25-28) menjelaskan bahwa proses pembelajaran melibatkan dua subjek yaitu guru dan siswa akan menghasilkan suatu perubahan pada diri siswa sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada diri siswa sebagai akibat kegiatan pembelajaran bersifat non-fisik seperi perubahan sikap, pengetahuan maupun kecakapan. Berbagai perubahan yang terjadi pada siswa sebagai hasil proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu output dan outcome. Output merupakan kecakapan yang dikuasai siswa yang segera dapat diketahui setelah mengikuti proses pembelajaran sedangkan outcome adalah prestasi sosial siswa dalam masyarakat yang merupakan hasil pembelajaran yang bersifat jangka panjang.
Selanjutnya menurut Rifa’i dan Anni (2010: 85) menyatakan bahwa hasil
belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Perubahan perilaku tersebut dapat berupa ranah kognitif (berpikir), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).
Gagne (dalam Suprijono, 2011: 5-6) mengemukakan bahwa hasil belajar sebagai berikut:
a. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengemukakan bahasa, baik secara lisan maupun tertulis.
b. Keterampilan intelektual yaitu keterampilan mempresentasikan konsep dan lambang.
c. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitif.
d. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani.
e. Sikap yaitu kemampuan menerima dan menolak suatu objek berdasarkan hasil penilaian terhadap objek tersebut.
Bloom (dalam Rifa’i dan Anni, 2010: 86) menyampaikan tiga ranah belajar yang merupakan hasil belajar, yaitu: (1) ranah kognitif mencakup pengetahuan, kemampuan, dan kemahiran intelektual; (2) ranah afektif mencakup perasaan, sikap, minat, dan nilai; (3) ranah psikomotor mencakup kemampuan fisik seperti kemampuan motorik dan syaraf, manipulasi objek, dan koordinasi syaraf.
a. Hasil Belajar Ranah kognitif
Ranah kognitif adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir, seperti mengingat dan kemampuan memecahkan masalah (Sanjaya, 2012: 125).
Menurut Airisian (2010: 99-102) hasil belajar ranah kognitif mencakup: pengetahuan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), analisis (C4), evaluasi (C5), dan mencipta (C6).
Indikator hasil belajar ranah kognitif dalam penelitian ini sebagai berikut: 1) menjelaskan sejarah berdirinya BPUPKI (C1); 2) menjelaskan peranan BPUPKI (C1); 3) menjelaskan alasan perlunya perumusan dasar negara (C2); 4) menjelaskan proses perumusan dasar negara Indonesia (C2); 5) menjelaskan sejarah berdirinya PPKI (C2); 6) menjelaskan peranan PPKI (C2); 8) menjelaskan peristiwa menjelang kemerdekaan Indonesia (C3); 9) menyebutkan tokoh-tokoh yang berperan dalam mempersiapkan kemerdekaan (C1); 10) menyimpulkan peranan tokoh dalam persiapan kemerdekaan (C5); 11) memberi contoh sikap menghormati jasa pejuang kemerdekaan (C3).
b. Hasil Belajar Ranah Afektif
Ranah ini berhubungan dengan sikap, minat dan nilai merupakan hasil belajar yang paling sukar diukur. Bagaimana siswa bersikap baik terhadap guru maupun terhadap siswa yang lain. Kategori peserta didikan afektif adalah penerimaan (receiving), penanggapan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), pembentukan pola hidup (organization by a value complex). Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran, disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman, kebiasaan belajar, dan hubungan sosial.
Penilaian ranah afektif dan penanaman karakter, keduanya memiliki keterkaitan erat. Menurut Sardiman (2011: 23-24) kategori ranah afektif meliputi:
(1) sikap menerima; (2) memberi respon; (3) nilai; (4) organisasi; dan (5) karakterisasi. Dengan demikian, tingkat tertinggi dari ranah afektif adalah
karakterisasi, sementara karakterisasi diimplementasikan pada proses pembelajaran dalam bentuk kegiatan rutin, pengkondisian atau teladan. Pedoman penilaian karakter siswa dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel`2.3 Penilaian Karakter Peserta Didik
Indikator Deskriptor
Keaktifan mengajukan dan menjawab pertanyaan (Rasa ingin tahu)
a.Memiliki usaha untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru
b.Berani menyatakan pendapat c.Berani bertanya
d.Mengutamakan usaha sendiri daripada bantuan teman
e.Berbicara dengan lancar dan jelas dalam menyampaikan pendapat
Menghargai pendapat teman (Saling menghargai prestasi)
a.Menerima perbedaan pendapat b.Mengakui kekurangan diri sendiri c.Mengakui kelebihan teman
d.Bersedia bekerjasama dalam menyelesaikan tugas kelompok
e.Membantu teman dalam memahami materi pelajaran
Mencerminkan inovasi dalam memecahkan masalah (Kreatif)
a.Berusaha menciptakan tugas dengan menarik
b.Berusaha menemukan cara baru dalam mengerjakan tugas
c.Tidak takut dalam berkreasi
d.Berani menyampaikan tanggapan terhadap hasil karya orang lain
e.Menghargai setiap karya yang berbeda Tanggung jawab terhadap
tugas yang diberikan (Mandiri)
a.Mendengarkan penjelasan dari guru dengan sungguh-sungguh
b.Bertanggungjawab terhadap tugas kelompok c.Tidak bertanya kepada teman saat
mengerjakan soal tes
d.Masuk kelas dengan tepat waktu
e.Tidak melemparkan tugas kepada orang lain (Suyadi, 2013: 8-9)
c. Hasil Belajar Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor berkaitan dengan kemampuan fisik seperti keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek dan koordinasi syaraf. Menurut Sanjaya (2012: 132) aspek psikomotorik sering berhubungan dengan bidang studi yang lebih banyak menekankan pada gerakan-gerakan atau keterampilan. Instrumen penilaian yang dikembangkan biasanya menggunakan lembar observasi unjuk kerja. Ada enam tingkatan keterampilan dalam hasil belajar psikomotorik, yaitu: (1) persception (persepsi); (2) set (kesiapan); (3) guided response (gerakan terbimbing); (4) mechanism (gerakan terbiasa); (5) adaptation (gerakan kompleks); dan (6) origination (kreativitas).
Leighbody (1968) berpendapat bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup: (1) kemampuan menggunakan alat dan sikap kerja; (2) kemampuan
menganalisis suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan; (3) kecepatan mengerjakan tugas; (4) kemampuan membaca gambar dan atau
simbol; (5) keserasian bentuk dengan yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan (Sudrajat, 2008).
Dyers, J.H. et al (2011), Innovators DNA, Harvard Business Review mengatakan bahwa 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, 1/3 sisanya berasal dari genetik.Kebalikannya berlaku untuk kemampuan kecerdasan yaitu: 1/3 dari pendidikan, 2/3 sisanya dari
genetik.Kemampuan kreativitas diperoleh melalui: (1) observing (mengamat); (2) questioning (menanya); (3) experimenting (mencoba); (4) associating
kecerdasan tidak akan memberikan hasil siginifikan (hanya peningkatan 50%) dibandingkan yang berbasis kreativitas (sampai 200%).
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengolah data yang berupa nilai dari evaluasipre test dan post test, sehingga hasil tes tersebut yang akan menentukan tingkat keefektifan metode pembelajaran yang diterapkan di masing-masing kelas baik kelas eksperimen I maupun kelas eksperimen II. Apabila dalam tes yang diberikan siswa memperoleh hasil belajar yang optimal dan diatas KKM yang sudah ditentukan sekolah yaitu 63, serta kelas yang menunjukkan rata-rata hasil tes evaluasi dan post test yang lebih tinggi maka dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan pada kelas eksperimen tersebut lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran yang diterapkan di kelas eksperimen lain. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan bentuk tes objektif dengan tipe pilihan ganda (multiple choice).
Menurut Widoyoko (2013: 49) tes objektif adalah bentuk tes yang mengandung kemungkinan jawaban atau respons yang harus dipilih oleh peserta tes. Tes pilihan ganda adalah tes dimana setiap butir soal memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari satu. Tipe tes ini banyak digunakan karena banyak sekali materi yang dapat dicakup.
Kelebihan tes pilihan ganda antara lain: (a) dapat mengukur segala level tujuan pembelajaran; (b) setiap perangkat tes dapat mencakup hampir seluruh cakupan mata pelajaran; (c) penskoran secara objektif; (d) peserta tes dapat membedakan berbagai tingkatan kebenaran sekaligus; (e) mengurangi keinginan peserta tes untuk menebak; (f) memungkinkan dilakukan analisis butir soal secara
baik; (g) tingkat kesukaran dapat diatur; dan (h) informasi yang diberikan lebih kaya (Widoyoko, 2013: 70).
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang diperoleh siswa setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok bahasan. Penilaian harus dilakukan secara holistik tidak dapat dipisahkan satu sama lain antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru harus dapat mengembangkan ketiga ranah tersebut sehingga nantinya siswa dapat memperoleh hasil belajar yang optimal.