• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

B. Analisis Data

1. Hasil Belajar Kognitif

Hasil belajar kognitif siswa pada pembelajaran materi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan menggunakan model problem based learning dengan permainan puzzle efektif terhadap pembelajaran diperoleh dari nilai pretest dan nilai posttest. Rata-rata hasil pretest siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol hampir sama yaitu pada kelas eksperimen nilai rata-rata hasil pretest sebesar 36,88, sedangkan pada kelas kontrol seesar 37,50 hanya selisisih 0,62 setelah dilakukan uji t hasilnya 0,28 yang artinya tidak ada perbedaan. Tidak adanya perbedaan hasil pretest dikarenakan kedua kelas tersebut belum mendapatkan materi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan.

Rata-rata hasil posttest kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol pada kelas eksperimen 70,25 sedangkan pada kelas kontrol 58,89. Rata-rata hasil posttest kelas eksperimen dengan kelas kontrol memiliki selisih 11,36. Perbedaan hasil belajar kedua kelas tersebut disebabkan oleh kegiatan pembelajaran yang telah dirancang guru. Pada kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran problem based

learning dengan permainan puzzle, sedangkan kelas kontrol

menggunakan pembelajaran diskusi dan tanya jawab. Selama pembelajaran siswa kelas eksperimen diarahkan untuk

memecahkan masalah yang ada di dalam LDS yang memudahkan siswa dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada.

Kelebihan model problem based learning adalah siswa memiliki kebebasan dalam melakukan proses pembelajaran. Siswa dibebaskan untuk mempelajari dan memecahkan masalah dengan cara mereka sendiri. Hal ini akan menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar. Terlebih masalah yang dipelajari siswa adalah masalah yang sering dialami siswa dalam kehidupan. Peningkatan motivasi siswa akan memicu meningkatnya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Menurut Raimi dan Adeoye (2012) problem based learning dapat meningkatkan secara drastis kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan mengembangkan perilaku-perilaku baik siswa jika dilakukan secara berkesinambungan. Kebebasan yang didapat siswa dalam proses pembelajaran akan meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap materi maupun apa yang diperbuat di kelas. Dengan rasa tanggung jawab siswa yang tinggi tentunya akan mempengaruhi aktivitas siswa di kelas menjadi lebih baik.

Tahap akhir dari proses pembelajaran yaitu evaluasi pembelajaran dengan diadakannya posttest. Setelah data pretest dan posttest didapat kemudian dapat diketahui peningkatan siswa sebelum dan sesudah diberi perlakuan. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol.

Tingginya peningkatan hasil belajar siswa kelas eksperimen dikarenakan model pembelajaran yang dirancang guru yaitu model problem based learning dengan permainan puzzle efektif diterapkan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran problem

based learning dipermudah dengan adanya Lembar Diskusi Siswa

yang menyajikan permasalahan yang dekat dengan siswa, siswa juga diajak untuk menyelesaikan permasalahan dari pemahaman konsep yang sederhana sampai kekonsep yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Proses problem based learning ditandai dengan adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa maupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang diketahui dan bagaimana untuk memecahkan masalah secara berkelompok agar saling membantu sehingga mampu berkolaborasi dalam memecahkan masalah. Melalui problem

based learning dengan anggota kelompok yang heterogen

memungkinkan siswa untuk saling bertukar pikiran, bekerjasama untuk memecahkan masalah yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Beberapa penelitian lainnya juga menyatakan bahwa rata-rata nilai dan pemahaman konsep siswa meningkat secara signifikan setelah melaui proses

problem based learning (Yuan 2008; Yadegarinia et al. 2002;

Yadav et al. 2011).

Hasil belajar pada kelas eksperimen yang lebih tinggi dari pada kelas kontrol tersebut dipicu oleh beberapa faktor, salah

satunya dari suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan menggunakan Lembar Diskusi Siswa yang dilengkapi dengan permainan puzzle, sehingga siswa sangat antusias, aktif, kritis, dan termotivasi dalam kegiatan pembelajaran dan diskusi. Hal ini terlihat dari antusias siswa dalam memecahkan permasalahan, menemukan dan memahami konsep dengan mencari sumber dari berbagai literatur. Siswa saling berbagi informasi satu sama lain sehingga saling melengkapi informasi dalam membangun konsep. Pembelajaran yang dibantu menggunakan perangkat pembelajaran memberi respon positif terhadap ketuntasan hasil belajar (Hamid & Pramukantoro 2013).

Perbedaan pada hasil belajar juga terlihat pada saat proses pembelajaran. pada kelas kontrol tidak semua siswa memperhatikan ketika kegiatan presentasi hasil diskusi dan penjelasan materi yang disampaikan oleh temannya. Berdasarkan hasil pengamatan, siswa kelas kontrol terlihat kurang antusias terhadap kegiatan diskusi yang berlangsung. Siswa pada kelas kontrol cenderung pasif dalam mencari informasi, hanya mendengarkan materi yang disampaikan guru, dan presentasi seadanya. Hal ini mungkin disebabkan siswa yang belum ada persiapan materi atau mungkin siswa kurang memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapat. Timbal balik yang kurang baik ini yang menyebabkan hasil belajar (posttest) siswa rendah. Hal tersebut didukung oleh Rifa’i & Anni (2012:97) yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu

kondisi internal dan kondisi eksternal siswa. Kondisi internal mencakup kemampuan intelektual dan emosional. Kondisi eksternal siswa mencakup adanya tingkat kesulitan materi belajar yang dipelajari, suasana tempat belajar dan budaya belajar siswa akan mempengaruhi kesiapan, proses dan hasil belajar.

2. Hasil Belajar Afektif

Hasil belajar afektif dalam penelitian ini yaitu sikap siswa selama mengikuti pembelajaran. Penilaian terhadap sikap siswa bertujuan untuk mengetahui sikap siswa selama proses pembelajaran pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penilaian sikap siswa diperoleh dari pengamatan terhadap sikap siswa menggunakan lembar observasi sikap siswa. Sikap siswa yang diamati meliputi empat aspek yaitu: 1) kereligiusan, 2) tanggung jawab, 3) disiplin, dan 4) percaya diri. Hasil analisis observasi nilai sikap menunjukkan bahwa sikap siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol (Lampiran). Hal ini membuktikan bahwa model problem based learning dengan permainan puzzle memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan afektif siswa. Berdasarkan data pada Tabel 4.9. menunjukkan bahwa sikap siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Hal ini ditunjukkan dengan pencapaian dari masing-masing indikator. Pada aspek kereligiusan kelas eksperimen sebesar 85,6% dengan kriteria sangat aktif sedangkan pada kelas kontrol sebesar 74,3% dengan kriteria cukup aktif. Dapat disimpulkan

dari aspek kereligiusan kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.

Pada aspek tanggung jawab kelas eksperimen sebesar 83,1% dengan kriteria aktif sedangkan pada kelas kontrol sebesar 66,7% dengan kriteria cukup aktif sehingga disimpulkan kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol untuk aspek tanggung jawab. Pada aspek kejujuran kelas eksperimen sebesar 83,1% dengan kriteria aktif sedangkan pada kelas kontrol sebesar 75,7% dengan kriteria aktif. Dapat disimpulkan dari aspek kejujuran kelas eksperimen juga lebih baik daripada kelas kontrol.

Pada aspek disimplin kelas eksperimen sebesar 83,7% dengan kriteria aktif sedangkan pada kelas kontrol sebesar 64,6% dengan kriteria kurang aktif sehingga disimpulkan kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Pada aspek percaya diri kelas eksperimen sebesar 83,1% dengan kriteria aktif sedangkan pada kelas kontrol sebesar 73,6% dengan kriteria cukup aktif sehingga disimpulkan kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol untuk aspek tanggung jawab. Rata-rata hasil penilaian afektif pada kelas eksperimen sebesar 83,7% dengan kriteria aktif sedangkan pada kelas kontrol sebesar 70,9% sehingga dapat disimpulkan penilaian afektif pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.

Rata-rata hasil belajar afektif siswa pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol, kemungkinan hal ini

disebabkan karena siswa pada kelas eksperimen dari awal pembelajaran sudah mencari informasi dan mencari sumber sendiri sehingga ketika kegiatan pembelajaran. Dilihat dari karakteristiknya, model model problem based learning dengan permainan puzzle yang harus diselesaikan melalui diskusi juga memberikan kontribusi positif dalam pembentukan sikap seperti disiplin, jujur, tanggung jawab, mendorong siswa untuk bersikap kritis dalam menyelesaikan permasalahan, santun, dan melatih kerjasama. Berdasarkan hasil analisis observasi nilai sikap siswa,dapat disimpulkan bahwa kelas eksperimen memperoleh persentase yang lebih tinggi daripada kelas kontrol, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan model model problem based learning dengan permainan puzzle efektif terhadap pembelajaran materi pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan, dibuktikan dengan meningkatnya hasil belajar afektif siswa.