• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori

2.1.3 Kualitas Pembelajaran

2.1.3.4. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hasil atau kecakapan yang telah dicapai siswa dalam kurun waktu tertentu setelah melakukan belajar. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tergantung apa yang dipelajari oleh siswa. Menurut Bloom (dalam Rifa’i, 2009:85) terdapat tiga ranah yang merupakan hasil belajar :

2.1.3.4.1. Ranah kognitif

Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemamapuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup enam kategori, yaitu:

1) Pengetahuan (knowledge)

Pengetahuan didefinisikan sebagai perilaku mengingat atau mengenali informasi (materi peserta didik) yang telah tercapai sebelumnya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah. Tingkah laku operasional khusus, yang berisikan tipe hasil belajar ini: menyebutkan, menjelaskan kembali,menunjukkan, menuliskan, memilih, mengidentifikasi, mendefinisikan.

2) Pemahaman (comprehention)

Pemahaman merupakan kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. Tingkah laku operasional khusus, yang berisikan tipe hasil belajar ini: membedakan, menjelaskan, meramalkan, menafsirkan, memperkirakan, memberi contoh, mengubah, membuat rangkuman, menuliskan kembali, melukiskan dengan kata-kata sendiri.

3) Penerapan (aplikasi)

Aplikasi mengacu pada kemampuan menggunakan materi peserta didikan yang telah dipelajari di dalam situasi baru dan konkrit. Dengan kata lain, diartikan kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi daripada pemahaman. Tingkah laku operasional khusus, yang berisikan tipe hasil belajar ini: menghitung, memecahkan, mendemonstrasikan, mengungkapkan, menjalankan, menggunakan, menghubungkan, mengerjakan, mengubah, menunjukkan proses, memodifikasi, mengurutkan.

4) Analisis

Analisis mengacu pada kemampuan memecahkan material ke dalam. bagian-bagian, sehingga dapat dipahami struktur organisasinya. Merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan lainnya. Jenjang analisis setingkat lebih tinggi daripada jenjang aplikasi. Tingkah laku operasional khusus berisikan tipe hasil belajar ini: menguraikan, memecahkan, membuat diagram, memisahkan, membuat garis besar, merinci, membedakan, menghubungkan, memilih alternatif.

5) Sintesis

Kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang

berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Tingkah laku operasional khusus, yang berisikan tipe hasil belajar ini: mengkategorikan, menggabungkan, menghimpun, menyusun, mencipta, merancang, mengkonstruksi, mengorganisasi kembali, merevisi, menyimpulkan, menghubungkan, mensistematis.

6) Penilaian (evaluasi)

Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada. Tingkah laku operasional khusus, yang berisikan tife hasil belajar ini: menilai, membandingkan, mempertimbangkan, mempertentangkan, menyarankan, mengeritik, menyimpul-kan, mendukung, menberikan pendapat (Hamid, 2009).

http://zaifbio.wordpress.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif-dan-psikomotorik/

Konsep tersebut mengalami perbaikan seiring perkembangan zaman. Setiap kategori dalam refvisi takssonomi bloom terdiri dari subkategori yang memiliki kata kunci berupa kata berasosiasi dengan kata tersebut. Kata-kata kunci tersebut seperti terurai seperti di bawah ini:

1) Mengingat: mengurutkan, menjelaskan, mengidentifikasi, menamai, menempatkan, mengulangi dan menemukan kembali.

2) Memahami: menafsirkan, meringkas, mengklarifikasikan, membandingkan, menjelaskan, dan membeberkan.

3) Menerapkankan: melaksanakan, menggunakan, menjalankan, melakukan, mempraktekan, memilih, menyusun, memulai, menyelesaikan, dan mendeteksi.

4) Menganalisis: menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, dan membandingkan. 5) Mengevaluasi: menyusun hipotesis, mengkritik, memprediksi, memprediksi,

menilai, menguji, membenarkan, dan menyalahkan.

6) Berkreasi: merancang, membangun, merencanakan, memproduksi,

menemukan, membaharui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, dan mengubah (Katminingsih, 2012).

http://yunikatminingsih.blogspot.com/2012/10/2-mengenal-revisi-taksonomi-bloom-oleh.html

Dalam penelitian ini peneliti memilih menggunakan taksonomi bloom yang telah direvisi. Ini dikarenakan taksonomi mengalami perkembangan sesuai penggunaannya. Hal ini disesuaikan dengan pendekatan yang digunakan yakni CTL berbasis lingkungan yang menitik beratkan pada konsep pembelajaran dunia nyata. Sesuai kenyataan taksonomi mengalami revisi dan perkembangan yang psatinya disesuaikan dengan keadaan terkini, menjadi alasan peneliti untuk memilih taksonomi bloom revisi sebagai acuan.

2.1.3.4.2. Ranah afektif

Berhubungan dengan sikap, minat, nilai merupakan hasil belajar yang paling sukar diukur. Instrumen biasanya berupa non tes misal wawancara, angket,

lembar observasi sikap. Ada beberapa tingkatan bidang afektif sebagai tujuan dan tipe hasil belajar, yaitu;

a. Receiving (penerimaan), mengacu pada keinginan peserta didik untuk menghadirkan rangsangan atau fenomena tertentu (aktivitas kelas, buku teks, musik, dan sebagainya).

b. Responding (jawaban) yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar.

c. Valuing (penilaian) yakni berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi.

d. Organisasi (pengorganisasian) yakni pengembangan nilai kedalam satu nilai organisasi, termasuk menetukan hubungan satu nilai dengan nilai lain dan kemantapan, dan prioritas niali yang telah dimilikinya.

e. Internalisasi nilai (karakteristik nilai) yakni keterpaduan dari semua sistem nilai yang telah dimiliki sesorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.

2.1.3.4.3. Ranah psikomotor

Ranah psikomotor menunjukkan kemampuan fisik, keterampilan motorik dan syaraf, manipulasi objek, koordinasi syaraf. Ranah psikomotor ini sukar karena sering tumpang tindih dengan ranah kognitif dan afektif. Instrumen penilaian dikembangkan biasanya menggunakan lembar observasi unjuk kerja. Ada enam tingkat keterampilan yakni:

1) Gerakan refleks (ketermpilan pada gerakan yang tidak sadar) 2) Keterampilan pada gerakan-gerakan dasar.

3) Kemampuan perseptual termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif motorik dan lain-lain.

4) Kemampuan dibidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan. 5) Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada

keterampilan yang kompleks.

6) Kemampuan yang berkenaan dengan no descursive komunukasi seperti gerakan ekspresif, interpretatif (Hamid, 2009).

http://zaifbio.wordpress.com/2009/11/15/ranah-penilaian-kognitif-afektif-dan-psikomotorik/

Dari sumber yang peneliti peroleh dapat disimpulkan hasil belajar merupakan perubahan perilaku diperoleh peserta didik. Perolehan aspek-aspek perubahan perilaku tergantung pada hal yang dipelajari peserta didik. Perubahan perilaku harus dicapai setelah melaksanakan kegiatan belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran berupa hasil belajar kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dalam penelitian ini, untuk mengetahui hasil belajar sebagai salah satu indikator kualitas pembelajaran peneliti membatasi hanya pada ranah kognitif. Hal ini dikarenakan dalam penilaian yang peneliti lakukan ranah afektif dan psikomotorik masuk kedalam indikator aktivitas siswa.

Dokumen terkait