BAB II: LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
F. Teknik Analisis Data
Dalam analisis data yang terkumpul dari penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data kuantitatif yang meliputi uji coba butir soal, uji normalitas, uji homogenitas dan analisis uji kesamaan dua rata-rata atau uji beda.
5 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm 45
6Sugiono, Metode Penelitian Kuntitatif, Kualitatif dan R&D, hlm. 231.
7Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, hlm. 53.
1. Validitas butir soal
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu alat ukur dikatakan valid apabila tes tersebut mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrument yang kurang valid berarti memiliki validitas rendah.8 Pengajuan validitas menggunakan rumus sebagai berikut .9
Dimana
rpbi : Koefisien biseral
Mp : Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal Mt : Rata-rata skor total
St : Standart deviasi skor total
p : Proporsi siswa yang menjawab benar pada setiap butir soal q : Proporsi siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal 2. Reliabilitas
Reliabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Pengujian reliabilitas menggunakan rumus: 10
r11 : Koefisien reliabilitas tes n : Banyaknya butir item 1 : Bilangan konstan
8Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, hlm. 168.
9Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 79.
10 Sugiono, Statistik Untuk Penelitian, (Bandung:Alfabet, 2007), hlm.359
St2
Butir-butir item tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai butir-butir item yang baik, apabila butir-butir item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah, dengan kata lain derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup.11 Angka indeks kesukaran item dapat diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Dubois, yaitu:12
JS P = B
Dimana:
P : Indeks kesukaran
B : Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan betul JS : Jumlah seluruh siswa peserta tes
Kriteria yang digunakan:
P < 0,30 Terlalu sukar 0,30 ≤ 0,70 Cukup (sedang) P > 0,70 Terlalu mudah 4. Daya pembeda
Daya pembeda item adalah kemampuan suatu butir item hasil belajar untuk dapat membendakan antara test yang berkemampuan tinggi , dengan test yang kemampuannya rendah. Besarnya angka yang menunjukkan daya pembeda soal disebut indeks diskriminasi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal tersebut membedakan antara peserta didik yang pandai dengan peserta didik yang kurang pandai.
11Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, hlm. 207.
12Sugiono, Statistik Untuk Penelitian, hlm. 208.
Rumus yang digunakan untuk mencari daya pembeda soal dengan JB : Banyaknya peserta kelompok bawah
BA : Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar BB : Banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab
benar
Kriteria yang digunakan dalam menentukan daya pembeda adalah:
P < 0,0 jelek sekali
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas data dengan Chi kuadrat (χ2). Rumus Chi kuadrat adalah sebagai berikut:14
∑
−fo : Frekuensi yang diobservasi fh : Frekuensi yang diharapkan
13Sugiono, Statistik Untuk Penelitian, hlm. 218.
14Sugiono, Statistik Untuk Penelitian, hlm. 104.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam uji normalitas data dengan Chi kuadrat adalah sebagai berikut: 15
a. Menentukan jumlah kelas interval, untuk menguji normalitas dengan Chi kuadrat ini, jumlah kelas interval ditetapkan 6. Hal ini sesuai dengan bidang yang ada pada kurva normal baku.
b. Menentukan panjang kelas interval:
interval)
c. Menyusun ke dalam tabel distribusi frekuensi sekaligus tabel penolong untuk menghitung harga Chi kuadrat hitung.
d. Menghitung fh (frekuensi yang diharapkan), cara menghitung fh didasarkan pada prosentase luas tiap bidang kurva normal dikalikan jumlah data observasi (jumlah individu dalam sampel).Memasukkan harga-harga fh ke dalam tabel kolom fh, sekaligus menghitung
merupakan harga Chi kuadrat (χ2) hitung.
e. Membandingkan harga Chi kuadrat hitung dengan Chi kuadrat tabel.
Bila harga Chi kuadrat hitung lebih kecil dari harga Chi kuadrat tabel, maka distribusi data dinyatakan normal, dan bila lebih besar dinyatakan tidak normal.
6. Uji homogenitas
Uji homogenitas sampel dilakukan untuk mengetahui seragam tidaknya variansi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama.
Pengujian homogenitas data dilakukan dengan uji varians. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Menghitung rata-rata
( )
xb. Menghitung varians (S2) dengan rumus:
15Sugiono, Statistik Untuk Penelitian, hlm. 80.
( )
c. Menghitung F dengan rumus
kecil
Apabila Fhitung < Ftabel maka data berdistribusi homogen.
Analisis tahap akhir digunakan untuk membuat interpretasi lebih lanjut. Analisis tahap akhir meliputi analisis data hasil observasi keaktifan peserta didik dan uji hipotesis.
7. Analisis data hasil observasi keaktifan peserta didik Data dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Membuat rekapitulasi hasil observasi keaktifan peserta didik b. Menentukan criteria keaktifan peserta didik dengan parameter
c. Penilaian tingkat keaktifan peserta didik secara klasikal ditentukan dengan menghitung prosentase keaktifan peserta didik keseluruhan selama pembelajaran.
8. Uji Hipotesis
Hipotesis dapat diuji dengan menggunakan rumus uji t pihak kanan yang digunakan untuk menentukan adanya pengaruh positif model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) terhadap hasil belajar peserta didik. Data yang digunakan adalah data hasil tes setelah diberi perlakuan.
Kriteria pengujian adalah Ho diterima. Jika thitung < ttabel. jika thitung >
ttabel maka Ha diterima, artinya hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) pada kelompok eksperimen lebih baik dari pada hasil belajar belajar kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional (ceramah). Ini berarti model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) berpengaruh positif terhadap keaktifan dan hasil belajar peserta didik.
A. Deskripsi Hasil Penelitian
Hasil penelitian dan pembahasan pada bab ini adalah hasil studi lapangan untuk memperoleh data dengan teknik observasi dan tes setelah dilakukan suatu pembelajaran yang berbeda antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional (ceramah) terhadap keaktifan dan hasil belajar biologi kelas SMP Pondok Modern Selamet Kendal pada materi pokok sistem peredaran darah pada manusia.
Penelitian ini dilakukan pada dua kelompok yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan November di SMP Pondok Modern Selamet Kendal denga sampel penelitian kelas VIII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII C sebagi kelas kontrol.
Sebelum kegiatan penelitian ini dilaksanakan, peneliti menentukan materi pelajaran dan menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran. Materi yang dipilih adalah sistem peredaran darah pada manusia. Pembelajaran yang digunakan pada kelompok eksperimen menggunakan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT), sedangkan kelompok kontrol dengan metode ceramah.
B. Pengujian Hipotesis
Analisis data hasil belajar dan keaktifan dalam penelitian ini yaitu analisis uji coba, analisis hasil belajar dan analisis keaktifan peserta didik.
1. Analisis Uji Coba
Analisis uji coba yang digunakan untuk menganalisis tes sebagai instrumen dalam penelitian ini. Hasil analisis butir soal adalah sebagai berikut:
51
a. Analisis Validitas Tes
Uji validitas digunakan untuk mengetahui valid tidaknya item-item tes soal. Soal yang tidak valid akan di drop (dibuang) dan tidak digunakan. Item yang valid berarti item tersebut dapat merepresentasikan materi terpilih yaitu sistem peredaran darah pada manusia. Berdasarkan Perhitungan validitas soal terdapat di lampiran 7.
b. Analisis Reliabilitas
Setelah uji validitas dilakukan, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas pada instrumen tersebut. Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui tingkat konsistensi jawaban instrumen. Instrumen yang baik secara akurat memiliki jawaban konsisten untuk kapanpun instrumen itu disajikan.
Berdasarkan hasil perhitungan konsisten reliabilitas butir soal 1 diperoleh r11 = 0,465. Pada taraf signifikansi 5%, dengan N = 32, diperoleh ttabel = 0.367. Karena rhitung > rtabel, maka dapat disimpulkan bahwa butir item tersebut valid. Perhitungan reliabilitas soal terdapat di lampiran 8.
c. Analisis Indeks Kesukaran
Uji indeks kesukaran digunakan untuk mengetahui tingkat kesukaran soal itu apakah sedang, sukar atau mudah. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien indeks kesukaran butir soal diperoleh :
Tabel 4.1 Prosentase kesukaran butir soal
No Kriteria Nomor Soal Jumlah Perhitungan indeks kesukaran butir soal terdapat di lampiran 9.
d. Analisis Daya Beda
Berdasarkan hasil perhitungan daya beda butir soal diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.2 Prosentase daya beda butir soal
No Kriteria Nomor Soal Jumlah
Perhitungan analisis daya beda terdapat di lampiran 10.
2. Analisis Hasil Belajar
Setelah instrumen penelitian yang berupa tes diujicobakan dan dianalisis kemudian dilakukan pengujian hipotesis dari data hasil belajar.
a. Hasil nilai awal
Hasil nilai awal kelas kontrol dan kelas eksperimen disajikan dalam tabel berikut :
Kelas Rata-rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi
Eksperimen 47,71 30 64
Kontrol 50,97 30 68
Tabel 4.3 : Hasil nilai awal b. Uji Normalitas Awal
Pengujian kenormalan distribusi populasi digunakan uji chi kuadrat. Nilai awal yang digunakan untuk menguji normalitas distribusi f adalah nilai pretest peserta didik kelas VIII B dan VIII C
SMP Pondok Modern Selamet Kendal materi pokok sistem peredaran darah pada manusia.
Tabel 4.4 : Normalitas nilai awal
Sumber Variasi Kelas eksperimen Kelas kontrol χ2hitung
4,6799 3,5662
χ2table 7,81 7,81
Dk 3 3
Kriteria Normal Normal
Berdasarkan perhitungan uji normalitas diperoleh untuk kelompok eksperimen χ2hitung = 4,67 untuk kelompok kontrol χ2hitung
= 3,566 dan dengan α=5% dan Dk = 6-3 = 3 di tabel distribusi frekuensi Chi kuadrat didapat χ2 (0,95)(3) = 7,81, maka dapat dikatakan bahwa data untuk populasi pada penelitian ini yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol berdistribusi normal karena χ2hitung < χ2tabel. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 15.
c. Uji Homogenitas Awal
Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui seragam tidaknya variasi sampel-sampel yang diambil dari populasi yang sama pada nilai awal.
Tabel 4.5 : Homogenitas nilai awal
Kelas Varians Dk Fhitung Ftabel
Kontrol 106,4403 35
1,009 1,99 Eksperimen 105,4866 34
Dari perhitungan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diperoleh Fhitung= 1,009 Dengan α = 5% dan dk pembilang = nb-1, dk penyebut = nk-1 diperoleh Ftabel = 1,99. Karena F hitung berada pada daerah penerimaan Ho, maka dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok tersebut homogen karena mempunyai varians yang sama.
Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 14.
d. Uji perbedaan dua rata-rata
Uji perbedaan dua rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah kelompok eksperimen dan kontrol mempunyai rata-rata yang tidak berbeda pada tahap awal ini. Rata-rata kedua kelompok dikatakan tidak berbeda apabila tabel < thitung < ttabel. Dengan taraf signifikansi α = 5%, dk = 34+ 35- 2 = 67. Peluang = 1- α
2
1 dari daftar
distribusi t didapat ttabel = 1.99. Dari perhitungan diperoleh thitung = -1,317 Karena thitung < ttabel maka Ho diterima sehingga dapat dikatakan bahwa rata-rata kedua kelompok tidak ada perbedaan. Artinya kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai kondisi yang sama. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 16.
3. Analisis Tahap Akhir a. Hasil nilai akhir
Kelas Rata-rata Nilai Terendah Nilai Tertinggi
Eksperimen 70,09 44 86
Kontrol 60,46 44 80
Tabel 4.6 : hasil nilai akhir b. Uji normalitas hasil belajar (post-test)
Untuk uji normalitas hasil belajar nilai yang digunakan adalah nilai post test peserta didik kelas VIII SMP pondok modern selamet Kendal pada materi pokok sistem peredaran darah pada manusia.
Tabel 4.7: Normalitas nilai akhir
Sumber Variasi Kelas eksperimen Kelas kontrol
χ2hitung 5,4837 2,5419
χ2table 7,81 7,81
Dk 3 3
Kriteria Normal Normal
Berdasarkan perhitungan uji normalitas diperoleh untuk kelompok eksperimen χ2hitung = 5,4 dan kelompok kontrol χ2hitung = 2,5 , dengan α = 5% dan dk = 6-3 = 3 di tabel distribusi frekuensi Chi kuadrat didapat χ2 (0,95)(3) = 7,815, maka ber distribusi normal karena χ2hitung < χ2tabel. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 18.
c. Uji homogenitas nilai post test
Nilai yang digunakan untuk menguji homogenitas hasil belajar adalah nilai post-test peserta didik VIII SMP Pondok Modern Selamet Kendal pada materi pokok sistem peredaran darah pada manusia.
Tabel 4.8 : homogenitas nilai akhir
Kelas Varians Dk Fhitung Ftabel
Kontrol 77,9025 35
1,066 1,99
Eksperimen 83,0526 34
Berdasarkan perhitungan uji homogenitas hasil belajar diperoleh kelompok eksperimen dan kontrol Fhitung = 1,066, sedangkan dengan α = 5% dan dk = k-1 diperoleh Ftabel = 1,99. Karena F hitung
berada pada daerah penerimaan Ho, maka dapat dikatakan kedua kelompok homogen, karena mempunyai varians yang sama.
Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 19.
d. Uji Perbedaan rata-rata hasil belajar
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji perbedaan dua rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji t yang digunakan adalah uji t satu pihak yaitu pihak kanan.
Sedangkan nilai yang digunakan adalah nilai post-test.
Dengan taraf signifikansi α = 5%, dk = n1+ n2-2 = 39. Peluang
= 1-α = 1-0,05 = 0,95 dari daftar distribusi t didapat ttabel =1,979 Berdasarkan perhitungan hasil penelitian diperoleh thitung = 4,460 dan ttabel = 1,67. Kriteria pengujian Ho diterima jika thitung < ttabel. Karena pada penelitian ini thitung > ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya hasil belajar kelompok eksperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 20.
4. Keaktifan peserta didik dalam pembelajaran
Kektifan yang diamati dalam penelitian ini adalah keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Adapun keaktifan yang diamati meliputi:
a. Melakukan kerja sama kelompok
b. Memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru atau teman c. Mengajukan pertanyaan
d. Mengemukakan pendapat e. Menjawab pertanyaan
f. Memberikan tanggapan dari pertanyaan teman g. Mencatat materi
h. Menyimpulkan kegiatan pembelajaran
i. Tidak melakukan kegiatan yang dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar
j. Membaca bahan ajar (LDS,buku, LKS)
Data hasil pengamatan keaktifan peserta didik dalam penelitian ini ditunjukkan dalam tabel berikut :
Tabel 4.9 : Persentase keaktifan peserta didik
Dari data yang ditunjukkan pada tabel di atas keaktifan pesrta didik pada kelas kontrol pada pertemuan pertama 32,45% dan pertemuan kedua 43,5% dengan rata-rata 37,96%, sedangkan keaktifan peserta didik eksperimen pertemuan pertama 77,13 dan pertemuan kedua 86,1% dengan rata-rata 81,62. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan peserta didik pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol sehingga dengan kata lain pembelajaran NHT lebih dapat mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran dari pada pembelajaran konvensional. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 5.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan data hasil belajar dan keaktifan peserta didik dalam penelitian ini. Pengetahuan awal diketahui dari nilai pre-test dan pengetahuan akhir diperoleh dari nilai post-test peserta didik kelas VIII B dan VIII C Pondok Modern Selamet Kendal semester I materi pokok sistem peredaran darah.
Hasil test awal pada kelas VIII C (kontrol) dan kelas VIII B (eksperimen) menunjukkan ttabel =1.99 dan thitung = -1.317. Karena thitung
< tabel maka Ho diterima atau dengan kata lain rata-rata kedua kelompok tidak ada perbedaan (homogen). Hal ini berarti sampel berasal dari kondisi atau keadaan awal yang sama.
Pertemuan ke-
Perentase Tingkat Keaktifan Peserta Didik
Eksperimen Kontrol
1 77,13 32,43
2 86,1 43,5
Rata-rata 81,62 37,96
Selanjutnya kelas eksperimen dan kelas kontrol diberikan perlakuan yang berbeda dalam mempelajari materi pokok sistem peredaran darah. Dalam kelas kontrol pembelajaran dengan menggunakan model konvensional (ceramah), sedangkan kelas eksperimen menggunakan numbered head together (NHT). Setelah pembelajaran selesai kelas kontrol dan eksperimen diberi tes akhir yang sama.
Dari hasil tes akhir yang telah dilakukan diperoleh rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen adalah 70,09 sedangkan rata-rata hasil belajar kelompok kontrol adalah 60,46. Berdasarkan uji perbedaan rata-rata satu pihak yaitu uji pihak kanan diperoleh thitung = 4,460 dan ttabel = 1,99 Karena thitung > ttabel berarti Ho ditolak, artinya bahwa hasil belajar kedua kelompok tersebut berbeda secara nyata atau signifikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, maka pembelajaran NHT lebih efektif dari pada pembelajaran konvensional.
Selain hasil belajar di atas, keaktifan peserta didik dalam setiap tahap diamati untuk memperoleh data tentang keaktifan peserta didik saat proses belajar mengajar berlangsung, baik pada kelas kontrol maupun kelas eksperimen.
Dari hasil pengamatan atau observasi keaktifan peserta didik saat proses belajar mengajar berlangsung menunjukkan keaktifan peserta didik pada kelas kontrol 37,96 %, sedangkan kelas eksperimen 81,62%. Persentase keaktifan tersebut menunjukkan bahwa keaktifan peserta didik saat proses belajar dengan model numbered head together lebih tinggi dari pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Hasil belajar dan keaktifan peserta didik pada kelas ekperimen lebih tinggi dari kelas kontrol karena dengan pembelajaran NHT memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama saat belajar dan menemukan penyelesaian dari masalah yang ada, selain itu peserta didik diajak untuk lebih aktif dan mampu berinteraksi dengan peserta didik yang lain.
Dalam pembelajaran NHT peserta didik dapat berdiskusi, bertanya, dan menanggapi jawaban dari yang lainnya. Dengan berdiskusi peserta didik
senang belajar bersama teman karena dapat saling aktif bertukar pendapat, membagi ide-ide, aktif mencari informasi dengan membaca dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Dengan cara belajar yang bervariasi peserta didik tidak merasa bosan dan lebih bersemangat dalam belajar. Sehingga materi pelajaran lebih mudah diserap oleh peserta didik.
Confucius mengatakan ada tiga konsep belajar aktif yaitu : 1. what I hear, I forget (apa yang saya dengar , saya lupa) 2. what I see, I remember (apa yang saya lihat , saya ingat) 3. what I do, I understand (apa yang saya lakukan, saya paham)1.
Sehingga dengan keterlibatan peserta didik dalam mempelajari konsep dalam suatu kelompok akan mempermudah peserta didik untuk memahami konsep tersebut dibandingkan peserta didik kelas kontrol yang hanya diam, melihat dan mendengarkan guru menjelaskan konsep tersebut. Pembelajaran yang demikian cenderung monoton dan membosankan karena kurang mengikutsertakan peserta didik dalam proses pembelajaran.
D. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa dalam penelitian ini pasti terjadi banyak kendala dan hambatan. Hal tersebut bukan karena faktor kesengajaan, melainkan terjadi karena adanya keterbatasan dalam melakukan penelitian.
Adapun keterbatasan yang dialami peneliti dalam penelitian ini adalah
1. Pengukuran penelitian yang hanya hasil belajar biologi materi pokok sistem peredaran darah pada manusia, tidak mengukur pada peningkatan hasil belajar.
2. Dan juga pelaksanaan pembelajaran Numbered Head Together (NHT) hanya pada materi sistem peredaran darah.
3. Selain itu, tempat penelitian hanya terbatas di SMP Pondok Modern Selamet Kendal, sehingga apabila dilakukan di sekolah lain, hasil penelitian ini dimungkinkan berbeda.
1 Melvin l. Silberman, Active learning, 10 Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta : Pustaka Insan Mandiri), 2007.hlm.1
Demikianlah beberapa keterbatasan penelitian ini. Untuk selanjutnya pelaksanaan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) tidak terbatas pada hasil belajar biologi materi pokok sistem peredaran darah pada manusia saja, melainkan dapat ditetapkan pada materi biologi lain yang dianggap sesuai dengan model pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan adanya tindak lanjut dari model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) sehingga mampu menggiring pengetahuan guru dalam memudahkan pemahaman peserta didik dalam menuntut ilmu
61 A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Numbered Head Together (NHT) kelas VIII SMP Pondok Modern Selamet Kendal pada Sistem Peredaran Darah Manusia yaitu:
1. Dari pembahasan diketahui rata-rata kelas eksperimen 70.09 dan kelas kontrol 60,46 dan uji perbedaan rata-rata pihak kanan, diperoleh hasil belajar t hitung = 4,460 dan t tabel = 1,67 jadi Ho ditolak yang artinya hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Sehingga pembelajaran NHT lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar dari pada model konvensional (ceramah)
2. Selain itu pembelajaran NHT juga efektif untuk meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran sistem peredaran darah. Hal ini ditunjukkan dengan tingkat keaktifan peserta didik pada kelompok kontrol 37.965 % sedangkan kelompok eksperimen 81.62 %. Sehingga dengan kata lain kelompok eksperimen lebih tinggi tingkat keaktifannya.
B. SARAN-SARAN
Dari kesimpulan penelitian yang dilakukan, peneliti memberikan saran yang ditujukan untuk pihak-pihak yang berkepentingan antara lain: Bagi para Pendidik dapat menerapkan model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) pada materi pelajaran dan pokok bahasan lain yang nantinya diharapkan mampu meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran sehingga mampu menanamkan belajar mandiri. Selain itu Penerapan Numbered Heads Together (NHT) perlu dikembangkan pada konsep lain yang mempunyai permasalahan yang sama.
C. PENUTUP
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan kekuatan, hidayah dan taufik-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis menyadari dalam penyusunan skripsi ini tidak bisa lepas dari kesalahan dan kekeliruan. Hal ini semata-mata merupakan keterbatasan ilmu dan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak demi perbaikan yang akan datang untuk mencapai kesempurnaan. Akhirnya penulis hanya berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.
Arikunto, Suharsimi. Dasar-asar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007.
Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Bandung: CV. Diponegoro, 2005.
Departemen pendidikan Nasional, kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ketiga, Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta :Rhineka Cipta 2006, cet.3.
Evelyn C. Pearce, Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis, Jakarta: PT Gramedia, 2006.
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://adedq.files.wordpress.com/2007/09/13 /jantung-dan-pembuluh
http://www.google.co.id/http://biologigonz.blogspot.com/2010/03/aorta-arteri-vena-kapiler. html&usg.
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.becomehealthynow.com/images/
organs/cells/http://lielliawati.blogspot.com/2008/10/belajarlah-dari-sel-darah-merah.
http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://tfakhrizalspd.files.wordpress.com/http:
//tfakhrizalspd.wordpress.com/2010/07/09/sel-darah-putih/&usg
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2009/08/peredaran-darah-manusia.html&usg=
http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah,golongan_darah&action,diunduh pada
http://id.wikipedia.org/wiki/Golongan_darah,golongan_darah&action,diunduh pada