• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

E. Hasil Belajar Matematika

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah menerima pengalaman belajarnya.43 Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar. Di sisi peserta didik, hasil belajar merupakan penggalan dari proses belajar. Hasil belajar dari sebagian orang adalah berkat tindakan guru, suatu pencapaian tujuan pengajaran. Sedang pada bagian lain, merupakan peningkatan kemampuan mental peserta didik. Hasil belajar peserta didik tersebut dibedakan menjadi dampak pengajaran dan dampak pengiring. Dampak pengajaran adalah hasil yang dapat diukur, tertuang dalam angka rapor, angka dalam ijazah, atau kemampuan meloncat setelah latihan. Dampak pengiring adalah terapan pengetahuan dan kemampuan di bidang lain, sesuatu transfer ilmu.44 Hasil belajar peserta didik pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku, dalam arti luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik.45

Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, dan sikap dan cita-cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni informasi verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap dan keterampilan motoris.46

43 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,

2006), h. 22

44 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran,, Op. Cit., h. 3-5

45 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar,, Op.Cit., h. 3

28

Berdasarkan klarifikasi hasil belajar, Benyamin Bloom membagi ranah hasil belajar dalam tiga garis besar, yaitu:

1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yaitu pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintetis, dan evaluasi.

2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

3. Ranah psikomotoris, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek pada ranah psikomotoris, yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perspektual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.47

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan dampak yang didapatkan peserta didik dari proses belajar yang dilakukan yang dilihat dari evaluasi pembelajaran. Dengan demikian, hasil belajar matematika merupakan hasil yang diperoleh peserta didik dalam mempelajari matematika.

F. Tinjauan Peta konsep

Cara lain untuk menguatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik terhadap bahan-bahan yang telah dibacanya adalah metode pembelajaran peta konsep. Hal-hal yang perlu dipersiapkan adalah potongan kartu-kartu yang bertuliskan konsep-konsep utama. Selanjutnya guru memberikan potongan kartu-kartu yang bertuliskan konsep utama kepada para peserta didik. Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencoba beberapa kali membuat peta yang menggambarkan hubungan

konsep. Pastikan peserta didik membuat garis penghubung antar konsep-konsep tersebut di setiap garis penghubung. Diharapkan peserta didik menulis kata atau kalimat yang menjelaskan hubungan antar konsep. Kalimat-kalimat itu menunjukkan asumsi yang dibangun peserta didik dalam menjelaskan hubungan antar konsep.48

Dalam pelaksanaan metode ini, guru meminta peserta didik mensintesis atau membuat satu gambar atau diagram tentang konsep-konsep utama yang saling berhubungan, yang ditandai dengan garis panah ditulis di label yang membunyikan bentuk hubungan antar konsep-konsep utama itu.49 Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Tujuan metode pembelajaran ini mencakup:

1. Mengembangkan kemampuan menggambarkan kesimpulan-kesimpulan yang masuk akal

2. Mengembangkan kemampuan mensintesis dan mengintegrasikan informasi atau ide menjadi satu

3. Mengembangkan kemampuan berpikir secara holistik untuk melihat keseluruhan dan bagian-bagian

4. Mengembangkan kecakapan, strategi, dan kebiasaan belajar 5. Belajar konsep-konsep dan teori

6. Belajar memahami perspektif dan dalam suatu konsep 7. Mengembangkan satu keterbuakaan terhadap ide baru

8. Mengembangkan kapasitas untuk memikirkan kemandirian.50

48 Agus Suprijono, Cooperative Learning: Teori dan Aplikasi PAIKEM, Op.Cit., h. 106-107

49 Ibid., h. 107

50 Hisyam Zaini, dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2008),

30

Mind Mapping sangat berguna untuk pelajar yang dominan pada kecerdasan visual parsial. Anak tersebut dapat terbantu dengan visualisasi diagram dan gambar. Anda dapat menggunakan Software Mind Manager dalam membuat Mind Mapping.51

G. Kerangka Pikir

Pembelajaran berbasis neurosains melalui peta konsep ini diterapkan dalam pembelajaran matematika untuk membantu peserta didik dalam mengikuti proses belajar matematika dengan menggunakan kekuatan diri yang berpusat pada sistem kerja otak peserta didik, sehingga mampu mencerna persoalan-persoalan yang ada yang berhubungan dengan matematika. Dengan adanya kondisi yang demikian, diharapkan aktivitas belajar peserta didik menjadi semakin lebih baik dan menarik yang pada akhirnya akan berpengaruh pada hasil belajar peserta didik.

Menurut Sigit Dwi Saputro dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa pendekatan neurosains memiliki pengaruh terhadap hasil belajar peserta didik dengan taraf signifikansi 0,00. Hal ini di perkuat dengan hasil penelitian Tanto Aljauharie Tantowie dimana pendekatan tersebut memiliki dampak bagi peserta didik, yakni berupa peningkatan pencapaian kompetensi akademik dan nilai karakter yang dicapai melalui model pembelajaran yang dikembangkan. Sehingga pendekatan neurosains sangat baik diterapkan dalam pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Erniati.

51 Agustina dan Heribertus, MagicMathic’s 2: Cara Kreatif Belajar Matematika, (Yogyakarta:

Tahapan pada penelitian ini yaitu diawali dengan melakukan observasi pada peserta didik, kemudian diberikan pre-test pada kelas sampel. Selanjutnya melakukan proses pembelajaran dengan menerapkan Pembelajaran berbasis neurosains melalui peta konsep pada kelas eksperimen. Sedangkan pada kelas kontrol peserta didik diajar dengan pembelajaran konvensional. Kemudian, peneliti memberikan post-test untuk mengetahui hasil belajar peserta didik. Selanjutnya hasil dari post-test tersebut dianalisis untuk mengetahui hasil penelitian dengan harapan bahwa pembelajaran neurosains melalui peta konsep efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik daripada pembelajaran konvensional.

Secara sistematis, kerangka pikir dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Peserta Didik Kelas VIII SMPN 3 Burau Kab. Luwu Timur

Observasi awal/Pre-Test

Pembelajaran

Kelas Kontrol Kelas Eksperimen

Menggunakan Pembelajaran Konvensional

Menggunakan Pembelajaran Berbasis Neurosains Melalui Peta

Konsep Post-Test

Analisis Data Hasil Penelitian

32

BAB III

Dokumen terkait