MEMELIHARA KETERLIBATAN SISWA
VII. PENGGUANAAN BAHASA
2. Hasil Belajar Peserta Didik
a. Hasil Belajar Ranah Kognitif
Hasil belajar peserta didik dari kondisi awal, siklus I sampai dengan siklus II ditunjukkan indikator yang terdiri dari nilai rata-rata, nilai tertinggi, nilai terendah, dan ketuntasan belajar. Nilai- nilai hasil belajar ranah kognitif diperoleh dengan melihat hasil evaluasi peserta didik yang dikerjakan secara perseorangan. Tabel berikut ini menunjukkan perkembangan hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif.
Tabel 4.30 Peningkatan Hasil Belajar Ranah Kognitif
Indikator Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Nilai rata-rata 45,75 69,53 89,67
Nilai tertinggi 70 90 100
Nilai terendah 30 35 60
Peserta didik yang tuntas 0 16 26
Peserta didik yang belum tuntas 33 16 5
Ketuntasan belajar 0% 50% 83,87%
(Sumber : Hasil penelitian tahun 2016 data yang telah diolah)
Dari tabel di atas memperlihatkan adanya peningkatan nilai rata-rata dan persentase ketuntasan belajar dari kondisi awal, siklus I ke siklus II. Pada kondisi awal diperoleh rata 45,75 kemudian pada siklus I diperoleh rata-rata 69,53 kemudian meningkat pada siklus II menjadi rata-rata-rata-rata 89,67. Pada kondisi awal ketuntasan belajar 0% kemudian siklus I ketuntasan belajar hanya mencapai persentase sebesar 50%. Sedangkan pada siklus II ketuntasan belajar mencapai persentase sebesar 83,87%, sehingga dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 33,87%. Peningkatan ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : penerapan pembelajaran dengan menggunakan model STAD (Student Teams Achievement Division), meningkatnya kerjasama dan saling membantu antar peserta didik dalam kelompok, adanya media pembelajaran yang sesuai.
b. Hasil Belajar Ranah Afektif
Dari hasil penelitian bahwa hasil belajar ranah afektif peserta didik kelas VIII A SMP N 2 Sokaraja mengalami peningkatan dari kondisi awal, siklus I sampai pada siklus II. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik sudah aktif dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division). Persentase ketuntasan belajar Pendidikan Kewarganegaraan peserta didik pada ranah afektif kelas VIII A SMP N 2 Sokaraja pada KD Kehidupan Demokratis Dalam Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara dapat dilihat pada tabel 4.31 berikut ini :
Tabel 4.31 Peningkatan Hasil Belajar Ranah Afektif
(Sumber : Hasil penelitian tahun 2016 data yang telah diolah)
Dari tabel di atas terlihat jelas peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan ranah afektif pada setiap siklus. Peningkatan dari kondisi awal, siklus I sampai dengan siklus II, pada kondisi awal ketuntasan belajar pada hasil belajar ranah afektif peserta didik sebesar 21,21% dan siklus I sebesar 62,5%. Maka dari itu terjadi peningkatan sebesar 41,29%. Kemudian pada siklus II ketuntasan belajar pada hasil belajar ranah afektif sebesar 100%, ini berarti dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 37,5%.
Peningkatan hasil belajar ranah afektif ini dikarenakan dalam proses pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) peserta didik diberikan kesempatan untuk menyatakan pendapatnya kepada orang lain sehingga pembelajaran ini akan lebih aktif. Peserta didik berani untuk menyatakan pendapatnya di depan kelas melatih keberanian peserta didik di dalam proses pembelajaran.
No Siklus Persentase Ketuntasan Belajar 1. Kondisi awal 21,21%
2. Siklus I 62,5%
c. Hasil Belajar Peserta Didik Ranah Psikomotor
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hasil belajar ranah psikomotor peserta didik kelas VIII A SMP N 2 Sokaraja mengalami peningkatan dari kondisi awal, siklus I sampai dengan siklus II. Persentase ketuntasan belajar Pendidikan Kewarganegaraan peserta didik pada ranah psikomotor kelas VIII A SMP N 2 Sokaraja pada KD Kehidupan Demokratis Dalam Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara dapat dilihat pada tabel 4.32 berikut ini :
Tabel 4.32 Peningkatan Hasil Belajar Ranah Psikomotor
No Siklus Ketuntasan Belajar
1. Kondisi awal 15,15%
2. Siklus I 65,62%
3. Siklus II 100%
(Sumber : Hasil penelitian tahun 2016 data yang telah diolah)
Dari tabel di atas dapat diketahui adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar Pendidikan Kewarganegaraan ranah psikomotor pada setiap siklus. Pada kondisi awal persentase ketuntasan belajar ranah psikomotor hanya mencapai 15,15%, siklus I sebesar 65,62% dan siklus II sebesar 100%. Berarti ada peningkatan dari kondisi awal ke siklus I sebesar 50,47% dan siklus I ke siklus II sebesar 34,38%.
Peningkatan hasil belajar ranah psikomotor dari kondisi awal, siklus I dan siklus II dikarenakan dengan menggunakan model pembelajaran STAD
(Student Teams Achievement Division) melatih keterampilan peserta didik seperti dalam menyatakan pendapatnya sendiri. Sehingga peserta didik sangat aktif dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ini.
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan di atas bahwa penelitian telah memenuhi indikator keberhasilan. Untuk hasil belajar peserta didik ranah kognitif yang diambil dalam 2 siklus ternyata pada siklus II meningkat mencapai persentase 83,87% dari jumlah peserta didik telah memenuhi KKM mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yaitu 75, sehingga penelitian sudah memenuhi indikator keberhasilan hasil belajar ranah kognitif yaitu
≥ 75%.
Hasil belajar peserta didik ranah afektif telah terlihat pada peningkatan hasil belajar pada KD Kehidupan Demokratis Dalam Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara dengan menggunakan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division). Hasil telah mencapai 100% dari skor maksimal seluruh peserta didik, dimana indikator keberhasilan yang ditetapkan adalah peningkatan hasil belajar mencapai 75% dari skor maksimal seluruh peserta didik.
Pada hasil belajar ranah psikomotor peserta didik juga menunjukkan peningkatan. Hasil belajar pada ranah psikomotor peserta didik pada KD Kehidupan Demokratis Dalam Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara dengan menggunakan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division). Hasil telah mencapai 100% dari skor maksimal seluruh peserta didik, dimana indikator keberhasilan yang ditetapkan adalah peningkatan hasil belajar mencapai 75% dari skor maksimal seluruh peserta didik.
Hal tersebut juga diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 3 Februari 2016 kepada 4 peserta didik kelas VIIA SMP N 2 Sokaraja yang dipilih secara acak, yaitu Diptya, Endra, Laili, dan Wiga. Mereka berpendapat bahwa dengan menggunakan model pembelajaran STAD
(Student Teams Achievement Division) akan membuat mereka lebih semangat dan lebih senang dalam mengikuti pembelajaran PKn karena mereka diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya sehingga mereka lebih mudah dalam memahami materi Kehidupan Demokratis Dalam Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara dengan menggunakan model tersebut. Dan mereka juga berpendapat bahwa dengan menggunakan model tersebut dapat membuat mereka lebih percaya diri dan berani untuk berbicara didepan teman-temannya serta dapat meningkatkan semangat belajar sehingga akan memungkinkan hasil belajarnya meningkat karena mengikuti pembelajaran dengan bersungguh-sungguh. Akan tetapi ada beberapa kesulitan yang dihadapi mereka, misalnya pada saat berdiskusi tidak semua siswa dapat menerima pendapat dari teman kelompoknya, waktu untuk berdiskusi kurang. Berdasarkan hasil wawancara peserta didik secara acak peserta didik berpendapat bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) lebih dapat memahami materi karena setelah pemberian materi pelajaran peserta didik langsung diberi soal latihan dan peserta didik diberi kesempatan untuk berperan aktif dalam pembelajaran sehingga peserta didik senang dan lebih mudah untuk
memahami materi dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan meningkat.
Hal ini juga diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan guru PKn yaitu ibu Susiati Purwaningsih, S.Pd pada hari Rabu, 3 Februari 2016. Beliau menyatakan bahwa dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) membuat lebih mengena kepada peserta didik dan peserta didik menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik dapat menyerap materi dengan baik. Menurut Ibu Susiati Purwaningsih, S.Pd pembelajaran dengan menggunakan model STAD (Student Teams Achievement Division) peserta didik dalam mengerjakan soal kelompok dapat membantu atau mengajari peserta didik lain yang belum paham sehingga peserta didik tersebut menjadi lebih mudah dalam memahami materi. Hal tersebut nantinya dapat membantu peserta didik didalam mengerjakan soal individu dan hasil belajar peserta didik akan meningkat dibandingkan dengan menggunakan metode ceramah dimana peserta didik hanya menerima, mencatat dan menghafal materi. Dengan demikian dapat disimpulkan jika pembelajaran melalui model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division) dapat membuat suasana pembelajaran menjadi menyenangkan sehingga peserta didik dapat lebih antusias dan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan meningkat.