BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Kajian Teori
2.1.3. Kualitas Pembelajaran
2.1.3.8. Hasil Belajar Siswa
Slameto (2010:2-5) menjelaskan bahwa belajar akan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada diri individu. Hasil belajar yang berupa perubahan tingkah laku ini akan berlangsung secara berkesinambungan dan dinamis. Selain itu, perubahan tingkah laku ini bersifat menyeluruh pada aspek sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.
Burton (dalam Hamalik, 2001:31) menyebutkan bahwa hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan. Perbedaan hasil belajar antarsiswa dipengaruhi oleh perbedaan individual di kalangan siswa.
Kraiger dkk. (1993:312) mengemukakan bahwa hasil belajar sebagai perubahan pada pengetahuan verbal (verbal knowledge) atau kapasitas perilaku seseorang. Hasil belajar ini dibagi menjadi tiga kategori, yakni kognitif (cognitive), keterampilan (skill-based), dan afektif (affective).
Kauchak & Eggen (1998:73) menjelaskan bahwa terdapat tiga domain atau ranah dalam pembelajaran, yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ranah kognitif berkaitan dengan pemerolehan pengetahuan dan keterampilan. Ranah afektif berpusat pada sikap dan nilai yang diinternalisasikan oleh setiap individu. Ranah psikomotorik melibatkan perkembangan kemampuan koordinasi dan fisik.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka disimpulkan bahwa hasil belajar adalah dampak dari proses belajar yang dilakukan seseorang sehingga diperoleh suatu kemampuan tertentu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Menurut Kraiger dkk. (1993:313), kognisi mengacu pada variabel-variabel yang berhubungan dengan kuantitas dan jenis pengetahuan serta hubungan antar elemen pengetahuan. Sedangkan, kognitif itu sendiri berkaitan dengan proses pemerolehan, pengorganisasian, dan penerapan pengetahuan.
Krathwohl (2002:215) mengemukakan tentang enam kategori taksonomi proses kognitif yang merupakan revisi dari taksonomi Bloom. Mayer (2002:228-232) menjelaskan masing-masing kategori sebagai berikut:
Mengingat diartikan sebagai menarik kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang. Kategori ini mencakup dua proses kognitif yang lebih spesifik, yaitu mengenali (recognizing) dan mengingat (recalling).
2) Memahami (understand) atau C2
Proses memahami terjadi apabila siswa mampu mengaitkan pengetahuan awal dengan pengetahuan baru yang akan mereka peroleh. Secara spesifik, pengetahuan baru akan diintegrasikan dengan skema dan kerangka pikir yang sudah ada. Kategori ini mencakup tujuh proses kognitif, yaitu menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan menjelaskan (explaining).
3) Menerapkan (apply) atau C3
Menerapkan adalah menggunakan prosedur untuk mengerjakan tugas atau menyelesaikan masalah dan berkaitan dengan pengetahuan prosedural. Kategori ini terdiri dari dua proses kognitif, yaitu mengeksekusi (executing) dan menerapkan (implementing).
4) Menganalisis (analyze) atau C4
Menganalisis artinya menguraikan suatu objek menjadi unsur-unsur penyusunnya dan menentukan keterkaitan antar unsur serta keterkaitan secara keseluruhan. Kategori ini memiliki tiga proses kognitif, yakni membedakan (differentiating), mengorganisasi (organizing), dan menemukan pesan tersirat (attributting).
Mengevaluasi didefinisikan sebagai membuat suatu penilaian berdasarkan kriteria dan standar yang sudah ada. Kriteria yang sering digunakan adalah kualitas, keefektifan, efisiensi, dan konsistensi. Kategori ini meliputi mengecek (checking) dan mengkritik (critiquing).
6) Menciptakan (create) atau C6
Menciptakan artinya menggabungkan beberapa elemen untuk membentuk suatu kesatuan fungsional, yakni mengorganisasikan kembali elemen-elemen ke bentuk atau pola yang baru. Kategori ini mencakup membuat (generating), merencanakan (planning), memproduksi (producing).
Allen & Freudman (2010:1) menjelaskan bahwa ranah afektif berasal dari kehidupan emosional siswa dan mencerminkan kepercayaan siswa, sikap, kesan, keinginan, perasaan, nilai, aturan, dan minat. Pembelajaran afektif melibatkan perubahan pada perasaan, sikap, dan nilai-nilai yang membentuk pemikiran dan tingkah laku siswa. Ada dua aspek dalam pembelajaran afektif, yaitu siswa (mencakup sikap, motivasi, dan perasaan siswa tentang materi dan lingkungan pembelajaran) dan guru.
Gagne (dalam Kraiger dkk., 1993:318) menjelaskan bahwa sikap merupakan salah satu hasil dari pembelajaran. Sikap, termasuk motivasi dan afektif, didefinisikan sebagai kondisi internal yang dapat memengaruhi perilaku personal seseorang. Oleh karena itu, hasil belajar afektif mencakup sikap dan motivasi (Kraiger, 1993:319). Brown dkk. (dalam Allen & Freudman, 2010:2) menyebutkan beberapa karakteristik afektif, yaitu motivasi, inisiatif, empati, kejujuran, komitmen, optimis, peduli, dan percaya diri.
Terdapat lima kategori afektif menurut Krathwohl (dalam Allen & Friedman, 2010:4) yang ditunjukkan pada gambar 2.1 berikut:
Gambar 2.1 Krathwohl’s Taxonomy of Affective Learning
1) Receiving atau penerimaan, yakni kepekaan dalam menerima rangsangan dari luar yang datang dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lainnya. Dalam kategori ini termasuk kesadaran, untuk menerima stimulus, keinginan untuk melakukan kontrol dan seleksi terhadap rangsangan dari luar. Contoh kata kerja operasionalnya adalah bertanya, memilih, mengidentifikasi, menentukan, dan menunjukkan.
2) Responding atau tanggapan, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencakup ketetapan reaksi, kedalaman perasaan, kepuasan merespon, tanggung jawab dalam memberikan respon terhadap stimulus dari luar yang datang pada dirinya. Contoh kata kerja operasionalnya adalah menjawab, membantu, mendiskusikan, menunjukkan, dan mempresentasikan.
3) Valuing atau penilaian, berkenaan dengan nilai atau kepercayaan terhadap gejala atau stimulus yang diterima. Dalam hal ini termasuk kesediaan
menerima nilai, latar belakang atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut. Contoh kata kerja operasionalnya adalah membedakan, menjelaskan, memulai, membenarkan, dan mengusulkan.
4) Organizing atau organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya. Contoh kata kerja operasionalnya adalah mengatur, mengkombinasikan, membandingkan, menggabungkan, dan mengorganisasi.
5) Characterizing by a value atau internalisasi nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Contoh kata kerja operasionalnya adalah menampilkan kepercayaan diri, menjaga diri, dan bekerjasama.
Menurut Kauchak & Eggen (1998:74-75), ranah psikomotorik berkaitan dengan perkembangan kemampuan koordinasi dan fisik. Terdapat enam kategori dalam taksonomi ranah psikomotorik, yakni:
1) Gerakan refleks, yaitu gerakan diluar kontrol kesadaran seseorang.
2) Gerakan dasar, yaitu gerakan yang dipelajari di usia-usia awal yang membentuk dasar pertumbuhan selanjutnya.
3) Kemampuan perseptual, yakni koordinasi gerakan-gerakan otot dengan kondisi luar melalui umpan balik dari indra.
4) Kemampuan fisik, yakni perkembangan kekuatan, daya tahan tubuh, dan fleksibilitas.
5) Gerakan terampil, adalah kemampuan fisik yang kompleks.
6) Komunikasi nondiskursif, adalah kegunaan tubuh untuk mengekspresikan perasaan atau ide-ide.
Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli tersebut, diketahui bahwa hasil belajar yang mencakup tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, memiliki peran penting dalam menentukan keberhasilan siswa dalam belajar. Hal ini berarti bahwa dalam pembelajaran hendaknya dikembangkan ketiga ranah tersebut, baik dalam proses belajar mengajar dan evaluasi. Dalam penelitian ini, indikator hasil belajar siswa pada ranah kognitif yang ingin dicapai adalah menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan operasi hitung, KPK, dan FPB. Evaluasi hasil belajar ranah kognitif dengan teknik tes dilaksanakan pada akhir pembelajaran dan data yang diperoleh digunakan untuk menentukan ketuntasan hasil belajar siswa, baik secara klasikal maupun individu.
2.1.4.Pengertian Matematika