HASIL DAN PEM MBAHAS SAN
Keadaan UUmum Se
17 paclobutrazol umumnya memiliki penampilan yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman control (tanpa aplikasi paclobutrazol)
.
Hasil
Berdasarkan hasil rekpitulasi sidik ragam (Tabel Lampiran 1), diketahui bahwa pemberian paclobutrazol berpengaruh nyata terhadap peubah jumlah daun total dan lebar daun tanaman anggrek Dendrobium lasianthera . Pada peubah jumlah daun total dan lebar daun berpengaruh nyata pada 6 MSP dan berpengaruh sangat nyata pada 7 dan 8 MSP.
Paclobutrazol tidak memberikan respon yang nyata pada peubah persen tumbuh, panjang daun, pertambahan jumlah tunas, jumlah akar, panjang akar, diameter akar, diameter sel palisade, warna daun, tinggi tanaman, dan bobot segar tanaman. Jumlah stomata berkisar antara 50.96 hingga 86.64 per mm2, jumlah sel palisade berkisar antara 229.35 hingga 346.58 per mm2 dan jumlah klorofil (a+b) berkisar antara 0.4296 hingga 0.8477 mg/g.
Persentase Tumbuh Planlet
Persen tumbuh pada data hasil analisis (Tabel 1) menunjukkan bahwa persentase tumbuh planlet tidak berbeda nyata antar perlakuan. Perlakuan dengan aplikasi paclobutrazol tidak meningkatkan persen tumbuh planlet anggrek Dendrobium lasianthera.
Planlet anggrek Dendrobium lasianthera cenderung mengalami penurunan daya tumbuh selama delapan minggu selama pengamatan. Persen tumbuh planlet yang diberi aplikasi paclobutrazol masih tinggi (mencapai 90%) sampai 3 MSP.
18 Tabel 1. Rata-Rata Persentase Tumbuh Planlet Anggrek Dendrobium lasianthera Paclobutrazol
(ppm) Waktu pengamatan (MSP)
1 2 3 4 5 6 7 8
Jumlah Daun Total
Jumlah daun total diamati setiap minggu hingga 8 MSP, jumlah daun yang dihitung adalah daun yang telah membuka sempurna. Aplikasi paclobutrazol terhadap jumlah daun total tidak berpengaruh nyata pada 1 hingga 5 MSP (Tabel 2). Hasil analisis statistik pada 8 MSP menunjukkan bahwa pemberian paclobutrazol pada konsentrasi 10 ppm berbeda nyata dengan semua perlakuan dengan jumlah daun total tanaman 6 helai.
Tabel 2. Rata-Rata Jumlah Daun Total Anggrek Dendrobium lasinathera Paclobutrazol
(ppm)
Waktu pengamatan (MSP)
1 2 3 4 5 6 7 8
19 Panjang Daun
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata menghambat panjang daun (Tabel 3). Sejak minggu awal setelah perlakuan, rata-rata panjang daun tanaman cenderung meningkat hingga akhir pengamatan.
Tabel 3. Rata-Rata Panjang Daun Anggrek Dendrobium lasianthera Paclobutrazol
(ppm)
Waktu pengamatan (MSP)
1 2 3 4 5 6 7 8
………cm……….
0 4.28 4.3 4.36 4.39 4.49 4.6 4.67 4.7 5 4.9 5.02 5.05 5.06 5.24 5.2 5.34 5.41 10 5.39 5.40 5.44 5.44 5.46 5.54 5.60 5.66 15 5.24 5.24 5.24 5.25 5.27 5.32 5.36 5.41 20 4.75 4.76 4.76 4.77 4.78 4.82 4.86 4.89
Uji F tn tn tn tn tn tn tn tn
KK 11.29 11.37 11.38 11.27 11.11 11.24 11.14 10.94
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata KK = Koefisien Keragaman
Lebar Daun
Lebar daun tidak dihambat oleh pemberian paclobutrazol pada 1 hingga 5 MSP (Tabel 4). Konsentrasi paclobutrazol 15 ppm berbeda nyata dengan perlakuan 0 ppm, dan 5 ppm. Perlakuan paclobutrazol 15 ppm menghasilkan lebar daun terkecil pada 8 MSP, dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pemberian paclobutrazol menunjukkan respon linier pada 6 dan 7 MSP, serta respon kuadratik pada 8 MSP. Respon linier pada 7 MSP memiliki persamaan y = 0.7344 - 0.01072x, dengan R2 = 0.46 (Gambar 6). Respon kuadratik pada 8 MSP memiliki persamaan y = 0.8037 – 0.02730x + 0.000857x2, dengan R2 = 0.54 (Gambar 7). Pemberian paclobutrazol menurunkan lebar daun anggrek Dendrobium lasianthera pada 6 dan 7 MSP.
20 Tabel 4. Rata-Rata Lebar Daun Anggrek Dendrobium lasianthera
Paclobutrazol
(ppm) Waktu pengamatan (MSP)
1 2 3 4 5 6 7 8
………..cm………
0 0.46 0.49 0.53 0.58 0.62 0.71a 0.76a 0.79a 5 0.44 0.49 0.50 0.51 0.56 0.6ab 0.67ab 0.70ab 10 0.48 0.49 0.52 0.52 0.52 0.57bc 0.60bc 0.62bc 15 0.44 0.45 0.45 0.45 0.46 0.49c 0.52c 0.56c 20 0.48 0.48 0.48 0.48 0.48 0.52bc 0.57bc 0.61bc
Uji F tn tn tn tn tn * ** **
KK 20.35 19.54 17.13 16.22 17.01 13.84 12.96 12.15
Keterangan : * = berbeda nyata pada taraf 5%
** = berbeda sangat nyata pada taraf 1%
tn = tidak berbeda nyata MSP = Minggu Setelah Perlakuan KK = Koefisien Keragaman
y = 0.7344 – 0.01072x
Gambar 5. Respon Lebar Daun terhadap Pemberian Paclobutrazol pada 7 MSP.
y = 0.8037-0.02730X + 0.000857x2
Gambar 6. Respon Lebar Daun terhadap Pemberian Paclobutrazol pada 8 MSP
21 Pertambahan Jumlah Tunas Baru
Tunas baru pada planlet anggrek Dendrobium lasianthera mulai muncul pada 5 MSP (Tabel 5). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa konsentrasi paclobutrazol tidak nyata meningkatkan pertambahan jumlah tunas baru pada 5 hingga 8 MSP. Jumlah tunas baru yang dihasilkan tanaman rata-rata tertinggi terdapat pada 5 MSP.
Tabel 5. Rata-Rata Pertambahan Jumlah Tunas Baru Anggrek D. lasianthera Paclobutrazol
(ppm)
Waktu pengamatan (MSP)
5 6 7 8
0 0.56 0.08 0.12 0.04
5 0.64 0.24 0.08 0.04
10 0.60 0.20 0.24 0.04
15 0.48 0.36 0.40 0.04
20 0.52 0.40 0.20 0.12
Uji F tn tn tn tn
KK 1.73 2.93 2.42 1.13
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata KK = Koefisien Keragaman
Jumlah Akar, Panjang Akar, dan Diameter Akar
Konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah, panjang, dan diameter akar tanaman anggrek Dendrobium lasianthera (Tabel 6).
Panjang akar tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan 0 ppm yaitu sebesar 3.85 cm. Pada perlakuan 20 ppm memiliki rata-rata panjang akar terkecil yaitu 3.03 cm. Diameter akar terbesar terdapat pada tanaman kontrol yaitu sebesar 0.17 cm dan terkecil pada perlakuan 5 ppm yaitu sebsar 0.11 cm. Pada penelitian ini pemberian paclobutrazol menginduksi terbentuknya akar lateral tanaman. Akar lateral terdapat pada seluruh perlakuan dengan paclobutrazol, 5, 10, 15, dan 20 ppm. Tanaman kontrol menunjukkan tidak terdapat akar lateral (Gambar 8).
22
Akar, dan Diiameter Akaar Anggrek SP
ar Panjaang akar pri (cm)
imer DDiameter aka (cm)
23 daun pada planlet anggrek Dendrobium lasianthera setelah diberikan aplikasi paclobutrazol. Rata-rata warna daun tertinggi terdapat pada perlakuan 20 ppm yaitu sebesar 25.33 (Tabel 7).
Tabel 7. Rata-Rata Warna Daun Anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP Paclobutrazol (ppm) Warna daun
0 20.99
5 20.87
10 23.05
15 22.44
20 25.33
Uji F tn
KK 20.92
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata KK = Koefisien Keragaman
Jumlah Klorofil
Hasil uji klorofil anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP menunjukkan jumlah klorofil a, b, dan jumlah klorofil (a+b) pada semua perlakuan paclobutrazol memiliki jumlah klorofil yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan tanpa paclobutrazol (Tabel 8).
Tabel 8. Nilai Uji Klorofil a dan b Anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP Paclobutrazol (ppm) Klorofil a Klorofil b Klorofil (a+b)
………mg/g………
0 0.2698 0.1598 0.4296
5 0.2680 0.2366 0.5046
10 0.2761 0.1669 0.4430
15 0.4741 0.3736 0.8477
20 0.3064 0.2198 0.5262
Kerapatan Stomata
Kerapatan stomata anggrek Dendrobium lasianthera diamati pada 8 MSP.
menunjukkan bahwa kerapatan stomata daun anggrek Dendrobium lasianthera berkisar antara 50 hingga 86 stomata, dengan perbesaran 40x di bawah mikroskop (Gambar 9).
24 Tabel 9. Kerapatan Stomata Anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP
Paclobutrazol (ppm) Kerapatan stomata (per mm2)
0 66.25
5 50.96
10 56.06
15 66.25
20 86.64
0 ppm 5 ppm
10 ppm 15 ppm
Gambar 8. Stomata dun anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP.
20 ppm
25 Kerapatan Sel Palisade dan Diameter Sel Palisade
Kerapatan sel palisade diamati pada 8 MSP, dengan pengamatan dibawah mikroskop pada perbesaran 40x (Gambar 10). Kerapatan sel palisade berkisar antara 229.35 hingga 346.58 (Tabel 11). Pada perlakuan kontrol kerapatan sel palisade dan diameter sel palisade menunjukkan nilai terkecil dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Tabel 10. Kerapatan Sel Palisade dan Diameter Sel Palisade Anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP
Paclobutrazol
(ppm) Kerapatan sel palisade (per mm2) Diameter sel palisade (nm)
0 229.35 32264
5 285.42 34365
10 305.81 35956
15 346.58 36645
20 326.19 41540
Uji F tn
KK 8.46
Keterangan : tn = tidak berbeda nyata KK = Koefisien Keragaman
5 ppm 0 ppm
26
10 ppm 15 ppm
20 ppm
Gambar 9. Sel palisade daun anggrek Dendrobium lasianthera pada 8 MSP. Tinggi Tanaman
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tanpa aplikasi paclobutrazol (0 ppm) dan seluruh konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh nyata dalam menghambat tinggi tanaman anggrek Dendrobium lasianthera, pada 4 MSP dan 8 MSP.
27 Tabel 11. Rata-Rata Tinggi Tanaman Anggrek Dendrobium lasianthera
Paclobutrazol (ppm) Waktu pengamatan (MSP)
4 8
Bobot Segar Tanaman
Bobot segar tanaman anggrek Dendrobium lasianthera diamati pada 8 MSP. Hasil analisis menunjukkan bahwa bobot segar tanaman tidak berpengaruh nyata terhadap konsentrasi paclobutrazol yang diberikan (Tabel 12). Bobot segar tanaman anggrek Dendrobium lasianthera berkisar antara 0.60 hingga 0.86 g.
Tabel 12. Rata-Rata Bobot Segar Tanaman Anggrek D. lasianthera pada 8 MSP Paclobutrazol (ppm) Bobot (g)
0 0.67
Aklimatisasi adalah suatu proses dari suatu organisme untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan (Dinarti et al., 2007). Keberhasilan aklimatisasi akan menentukan persentase tumbuh bibit di lapangan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa persentase tumbuh planlet anggrek Dendrobium lasianthera selama 4 MSP dengan pemberian paclobutrazol 5-20 ppm, menunjukkan persentase tumbuh yang tinggi yaitu diatas 90%, sedangkan pada tanaman kontrol penurunan persen tumbuh mulai terlihat sejak 3 MSP.
28 Persentase tumbuh planlet anggrek Dendrobium lasianthera terus mengalami penurunan pada seluruh perlakuan dari 5 hingga 8 MSP, dan rata-rata mencapai 78 % pada 8 MSP. Penurunan persentase tumbuh diduga karena suhu di dalam green house yang berkisar antara 25 - 40oC dan kelembaban berkisar 52-75%. Tingginya suhu dan rendahnya kelembaban udara di green house menyebabkan tanaman anggrek Dendrobium lasianthera layu, sehingga mengalami kematian.
Anatomi daun anggrek dari perbanyakan in vitro yang memiliki lapisan kutikula kurang berkembang menyebabkan laju transpirasi tanaman tinggi, dan tidak adaptif terhadap kondisi in vivo, sehingga efektivitas paclobutrazol masih rendah. Efektivitas paclobutrazol ditentukan oleh cara aplikasi dan konsentrasi yang diberikan. Cara aplikasi melalui perendaman yang diduga kurang efektif dan konsentrasi paclobutrazol yang masih rendah, membuat persen tumbuh planlet anggrek Dendrobium lasianthera belum maksimal. Planlet anggrek Dendrobium lasianthera setelah aklimatisasi diharapkan memiliki persentase tumbuh yang tinggi, hijau daun meningkat, dan memiliki jumlah akar hidup yang optimal.
Hasil penelitian Syahid (2007) menunjukkan pengaruh retardan paclobutrazol terhadap pertumbuhan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) selama konservasi in vitro, pada tahap aklimatisasi di rumah kaca pada umur 2 bulan cukup tinggi karena bibit dapat tumbuh dan hidup dengan baik, serta berkembang dengan sempurna secara morfologi baik dalam bentuk batang dan daun tanpa menunjukkan adanya penyimpangan dalam penampilannya secara visual di rumah kaca.
Jumlah daun total anggrek Dendrobium lasianthera pada akhir pengamatan menunjukkan bahwa tanaman kontrol (0 ppm) memiliki jumlah daun paling sedikit dibandingkan dengan tanaman yang diberi perlakuan 10 ppm yang memberikan jumlah daun terbanyak sebesar 6 helai. Hal yang berbeda ditemukan pada penelitian Syahid (2007) konservasi in vitro temulawak, jumlah daun temulawak yang dihasilkan tidak berbeda pada berbagai konsentrasi paclobutrazol. Perbedaan hasil penelitian ini diduga karena jumlah daun dihitung dari jumlah tunas awal dan tunas baru yangg muncul, berdasarkan jumlah tunas yang diberi aplikasi paclobutrazol cenderung mempunyai jumlah daun lebih
29 banyak dibandingkan dengan kontrol. Krishnamoorthy (1981) menyatakan bahwa retardan merupakan senyawa kimia yang mempunyai efek fisiologis menghambat pemanjangan sel di meristem apikal, sedangkan jumlah daun tidak dipengaruhinya. Pemberian paclobutrazol dalam penelitian ini tidak mempengaruhi jumlah daun anggrek Dendrobium lasianthera.
Pemberian paclobutrazol yang semakin tinggi menurunkan lebar daun tanaman anggrek Dendrobium lasianthera. Tanaman kontrol memiliki ukuran lebar daun lebih besar dibandingkan dengan tanaman yang diberi perlakuan paclobutrazol. Sesuai dengan pernyataan Wattimena (1988) bahwa pengaruh pemberian retardan dapat menghambat proses sintesis giberelin, atau biasa disebut anti giberelin. Paclobutrazol menghambat sintesis giberelin dengan cara menghambat oksidasi kaurene menjadi asam kaurenat. Terhambatnya sintesis giberelin mengakibatkan pemanjangan sel pada meristem sub apikal berjalan lambat (Khrisnamoorthy, 1981). Pada 8 MSP terdapat respon kuadratik yang diduga efektivitas paclobutrazol mulai menurun, dengan ditunjukkan oleh lebar daun tanaman yang mengalami peningkatan.
Panjang daun dalam penelitian ini tidak dihambat oleh paclobutrazol. Hal tersebut menunjukkan bahwa aplikasi paclobutrazol tidak menghambat pemanjangan sel daun tanaman anggrek Dendrobium lasianthera. Panjang daun yang tidak terhambat akan memberikan respon baik terhadap tanaman, sehingga tanaman tetap dapat hidup dan tumbuh normal tanpa adanya penghambatan.
Pertumbuhan tunas yang terdapat pada meristem apikal tidak dipengaruhi oleh pemberian paclobutrazol. Pada penelitia ini aplikasi paclobutrazol tidak menekan pertambahan jumlah tunas baru anggrek Dendrobium lasianthera. Hal berbeda ditemukan pada hasil penelitian Syahid (2007) pengaruh retardan paclobutrazol terhadap pertumbuhan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) selama konservasi in vitro, konsentrasi tinggi paclobutrazol 5.0 mg/L mampu menekan jumlah tunas yang berbeda nyata dengan perlakuan tanpa paclobutrazol. Pada semua perlakuan paclobutrazol, tunas-tunas baru masih bertambah sampai kultur berumur tujuh bulan walaupun dalam jumlah sedikit.
Menurut Syahid (2007) bertambahnya jumlah tunas diduga kandungan sitokinin endogen di dalam jaringan cukup tinggi sehingga pada perlakuan
30 tersebut tunas baru masih terbentuk. Hasil yang sama pada penelitian ini diduga sitokinin endogen cukup tinggi, sehingga petambahan jumlah tunas masih terlihat.
Akar pada tanaman merupakan bagian terpenting dalam penyerapan hara.
Jumlah akar yang semakin banyak memungkinkan penyerapan hara dan pertumbuhan tanaman lebih baik. Akar merupakan jaringan tanaman yang berasal dari meristem apikal, sedangkan paclobutrazol bekerja pada meristem sub apikal.
Pada hasil penelitian ini pemberian paclobutrazol tidak menurunkan jumlah, panjang, dan diameter akar anggrek Dendrobium lasianthera.
Hasil penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Syahid (2007) pada tanaman temu lawak dan Rosita et al. (2008) pada tanaman nilam bahwa pemberian beberapa konsentrasi paclobutrazol tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan akar dan tiga varietas nilam memberikan pengaruh yang tidak berbeda. Pada penelitian ini pengaruh paclobutrazol menginduksi terbentuknya akar lateral anggrek Dendrobium lasianthera.
Akar lateral terdapat pada seluruh perlakuan konsentrasi paclobutrazol 5, 10, 15, dan 20 ppm. Tanaman kontrol tidak menghasilkan akar lateral (Gambar 8).
Menurut Early dan Martin (1988) pemberian paclobutrazol meningkatkan ketebalan akar dan menyebabkan munculnya akar lateral pada daerah dekat ujung akar. Terbentuknya akar lateral akan meningkatkan ketegaran tanaman, sehingga potensi tumbuh akan lebih baik. Munculnya akar lateral diduga karena efektivitas fotosintesis yang meningkat, secara tidak langsung akan meningkatkan sinsetis auksin endogen. Auksin disintesis pada apeks tajuk dan ujung akar dan salah satu peran fisiologis auksin adalah inisiasi akar lareral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akar lateral, kerapatan stomata, dan warna daun tertinggi terdapat pada aplikasi paclobutrazol 20 ppm. Akar lateral, kerapatan stomata, dan warna daun yang meningkat diduga akan meningkatkan asimilat yang dihasilkan dan secara tidak langsung akan meningkatkan potensi hidup lebih baik bagi tanaman.
Warna daun tanaman berkisar antara 20.87-25.33 dan warna daun terendah ditunjukkan pada tanaman kontrol. Warna daun mencerminkan kandungan klorofil pada daun. Mattjik et al., (1994) menyatakan bahwa retardan merupakan zat pengatur tumbuh yang telah dibuktikan dapat mempengaruhi ketegaran planlet dan menambah butir-butir klorofil. Harjadi (2009) menyatakan bahwa
31 tanaman yang diberi zat penghambat tumbuh (retardan) menunjukkan daun yang lebih hijau.
Jumlah klorofil a, klorofil b, dan klorofil (a+b) cenderung lebih tinggi pada tanaman yang diberi paclobutrazol dibandingkan dengan tanaman kontrol.
Jumlah klorofil yang tinggi diharapkan dapat meningkatkan efektivitas proses fotosintesis pada daun, yang kemudian akan meningkatkan pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium lasianthera.
Jumlah sel palisade berkisar 229.35 hingga 346.58. Semakin besar jumlah sel palisade dalam sel tanaman, diduga tebal daun, kandungan klorofil dan ketegaran daun akan semakin meningkat. Menurut pendapat Wattimena (1988) pemberian paclobutrazol dapat menyebabkan perubahan karakteristik daun seperti penurunan ukuran sel, ruang interseluler, meningkatkan kandungan klorofil, jumlah sel parenkim palisade dan menahan pembukaan stomata.
Sel palisade berbentuk seperti tiang atau berbentuk seperti pagar yang terdiri dari satu atau beberapa lapis sel yang mengandung kloroplas. Fungsi dari sel palisade terspesialisasi untuk meningkatkan efisiensi fotosintesis. Bentuk dan susunan sel palisade memungkinkan kloroplas terlokalisasi pada posisi strategis untuk menyerap cahaya matahari secara maksimal. Area permukaan sel yang bebas dari kontak dengan sel lain merupakan faktor yang menentukan tingginya efisiensi fotosintesis (Iriawati, 2009). Besarnya diameter sel palisade berhubungan dengan kandungan klorofil pada daun tanaman. Diameter sel palisade yang semakin besar diduga akan meningkatkan kandungan klorofil dalam sel.
Jumlah stomata tanaman anggrek Dendrobium lasianthera berkisar antara 50.96 - 86.64 per mm2. Fungsi dari stomata adalah (1) sebagai jalan masuk dan keluarnya CO2 maupun O2 dari udara pada waktu proses fotosintesis dan respirasi, (2) sebagai jalan penguapan (transpirasi), (3) serta sebagai jalan masuk unsur hara yang diberikan melalui daun. Semakin banyak dan besar ukuran stomata daun semakin tinggi laju transpirasi pada daun sehingga akan mempengaruhi laju transportasi zat hara dari akar ke daun (Pandey dan Sinha, 1972).
Aplikasi paclobutrazol tidak menurunkan tinggi dan bobot segar tanaman anggrek Dendrobium lasianthera. Hal ini sejalan dengan penelitian Rosita et al.
(2008) pemberian paclobutrazol pada tiga varietas nilam memberikan pengaruh
32 yang tidak berbeda terhadap karakter tinggi tunas dan bobot basah planlet nilam dan Satjapradja (2006) pada Agathis loranthifolia. Tanaman anggrek tergolong tanaman yang cukup lambat dalam pertumbuhannya, sehingga pemberian paclobutrazol tidak menghambat pertumbuhan tanaman.
Aplikasi paclobutrazol memberikan respon positf terhadap pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium lasianthera. Respon positif dari aplikasi paclobutrazol ditunjukkan dengan munculnya akar lateral, meningkatnya warna hijau daun, meningkatnya kerapatan stomata dan diameter sel palisade, tidak menghambat panjang daun dan tinggi tanaman. Pengaruh positif tersebut diduga membuat kondisi tanaman menjadi lebih tegar dan kokoh, sehingga potensi hidup dan pertumbuhan planlet anggrek Dendrobium lasianthera setelah aklimatisasi akan lebih baik.
33 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Hasil penelitian menunjukkan pemberian paclobutrazol hingga 20 ppm belum mampu meningkatkan persentase tumbuh tanaman anggrek Dendrobium lasianthera. Pemberian paclobutrazol meningkatkan jumlah daun total dan menurunkan lebar daun tanaman anggrek Dendrobium lasianthera pada 6, 7, dan 8 MSP. Perlakuan 10 ppm paclobutrazol menghasilkan rata-rata jumlah daun total planlet tertinggi yaitu 6 helai pada 8 MSP. Lebar daun terkecil ditunjukkan pada perlakuan paclobutrazol 15 ppm sebesar 0.56 cm pada 8 MSP. Respon positif dari aplikasi paclobutrazol ditunjukkan dengan munculnya akar lateral, meningkatnya warna hijau daun, meningkatnya kerapatan stomata dan diameter sel palisade, serta tidak menghambat panjang daun dan tinggi tanaman.
Pemberian paclobutrazol tidak berpengaruh nyata pada panjang daun, jumlah tunas, warna daun, jumlah akar, panjang akar, diameter akar, diameter sel palisade, tinggi tanaman, dan bobot segar tanaman. Berdasarkan data peubah persentase tumbuh, akar lateral yang terbentuk, warna daun, diameter sel palisade, dan jumlah stomata, pemberian paclobutrazol 20 ppm merupakan perlakuan terbaik.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai lama perendaman, cara aplikasi paclobutrazol melalui penyemprotan pada daun maupun aplikasi penyiraman pada media tanam dan konsentrasi paclobutrazol yang lebih tinggi dari 20 ppm. Penelitian sebaiknya dilakukan di green house dengan intensitas cahaya rendah seperti penggunaan paranet dengan persentase naungan lebih tinggi untuk mengurangi intensitas cahaya dan frekuensi penyiraman lebih sering.
34
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Anggrek Stuberi Dendrobium lasianthera.
http://www.plantamor.com. [ 12 Maret 2012].
Badan Pusat Statistik. 2010. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Anggrek 2009-2010. Badan Pusat Statistik. Jakarta. 4 hal.
Cathey, H.M. 1975. Comparative plant growth-retarding activities of Ancymidol with ACPA, Phosfon, Chlormequat, and SADH on ornamental plant species. Hort.Sci. 10(3):204-216.
Darmono, D.W. 2008. Agar Anggrek Rajin Berbunga. Penebar Swadaya. Jakarta.
95 hal.
David,. 2010. Dendrobium lasianthera J.J Sm 1932. http://d-orchid.blogspot.com.
[10 September 2011].
Dinarti, D., A. Purwito, dan A.D. Susila. 2007. Optimalisasi Daya Regenerasi dan Multiplikasi Tunas In Vitro Bawang Merah untuk Mendukung Penyediaan Bibit Berkualitas. Laporan Penelitian Hibah Bersaing. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 89 hal.
Destri dan T. Jodi. 2006. Koleksi Anggrek Kebun Raya Cibodas. LIPI UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas. Cianjur. 83 hal.
Direktorat Jendral Hortikultura. 2011. Data Ekspor Impor Anggrek 2006-2010.
Jakarta: Departemen Pertanian.
Early, J.D.Jr., and G.C. Martin. 1988. Sensitivity of peach seedling vegetative growth to paclobutrazol. J. Amer. Soc. Hort. Sci., 113:23-27. Dalam R.
Poerwanto dan H. Inoue. Pengaruh paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan pembungaan jeruk satsuma mandarin pada beberapa kondisi suhu.
1994. Bul. Agron. 22(1):55-67.
Gardner, F.P., R.B. Pearce, dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya (diterjemahkan dari: Physiology of Crop Plants, penerjemah: H. Susilo). Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 428 hal.
Gilbert, P.A. 1953. A beautiful Dendrobium from New Guinea. Australian Orchid Review. 18:58
Gomez, G.K.A., dan A.A. Gomez. 2007. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. Edisi kedua. Universitas Indonesia (UI Press). Jakarta. 698 hal.
Harjadi, S.S. 2009. Zat Pengatur Tumbuh. Penebar Sawadaya. Jakarta. 76 hal.
35 Hazarika, B.N. 2003. Acclimatization of tissue cultured plants. Current Science
85(12):1704-1712.
Herlina, D. dan K. Dwiatmini. 1996. Peran Zat Pengatur Tumbuh dan Dosis Pupuk Organik terhadap Induksi Pembungaan Melati (Jasminum sambac) sebagai Tanaman Pot. Laporan Penelitian Balai Penelitian Tanaman Hias.
Jakarta. 14 hal.
Iriawati. 2009. Struktur dan Fungsi Daun. Institut Teknologi Bandung. 22 hal.
Krishnamoorthy, H.N. 1981. Plant Growth Substances Including Aplication in Agriculture. Tata Mc. Graw-Hill Pub. Co. Ltd. New Delhi. 241 p.
Latif, S.M. 1960. Bunga Anggrek Permata Belantara Indonesia. Sumur Bandung.
Bandung. 105 hal.
Lestari, E.G. dan R. Purnamaningsih. 2005. Penyimpanan in vitro tanaman obat daun dewa melalui pertumbuhan minimal. AgroBiogen 1(2):68-72.
Mattjik, N. A., E. Prasetyo dan J. Wiroatmodjo, 1994. Penggunaan retardan pada media kultur in vitro Zingiber officinale Rosc untuk memperoleh ketegaran plantlet. Makalah dalam Seminar Hasil Penelitian dan Pengembangan Bio-teknologi II. Puslitbang Biotek-nologi LIPI. 6 - 7 September. 20 hal.
Pandey, S.N. dan B.K. Sinha. 1972. Plant Physiology. Edisi kedua. Vikas Press PVT LTD. New Delhi.
Purohit, S.S. 1986. Hormonal regulation of plant growth and development
Volume III. Agro Botanical Publishers.
http://www.OVPg.org/98otrios.htm.india. [2 September 2011].
Rosita, E., M. Ariyanti, dan S. Amin. 2008. Induksi akar dari eksplan daun tiga varietas nilam dalam media ms yang mengandung paclobutrazol in vitro.
Zuriat 19(1):179-192.
Sandra, E. 2010. Mengenal Hama pada Tanaman Anggrek.
http://www.EshaFlora.com. [ 13 Januari 2012].
Satjapradja, O., L. Setyaningsih, D. Syamsuwida, dan A. Rahmat. 2006. Kajian penggunaan paclobutrazol terhadap pertumbuhan semai Agathis loranthifolia. Manajemen Hutan Tropika 12(1):63-73.
Sitepu, R. 2007. Respon Petumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) terhadap Pupuk Kalium dan Paclobutrazol. Skripsi.
Universitas Sumatera Utara. Medan. 67 hal.
36 Subhan. 2010. Mengenal Dendrobium. http://subhan98.wordpress.com. [10
September 2011].
Sumartono. 1981. Anggrek untuk Rakyat. PT Bumi Restu. Jakarta. 87 hal.
Syahid, S.F. 2007. Pengaruh retardan paclobutrazol terhadap pertumbuhan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza) selama konservasi in vitro. Littri 13(3):93-97.
Tjitrosoepomo, G. 2007. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 475 hal.
Wattimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas IPB. Bogor. 145 hal.
Yoshida, S., D.A. Forno, J.H. Coock, and K.A. Games. 1976. Laboratorium Manual for Physiologal Studies of Rice. The International Rice Research Institute. Manila.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya. Edisi 1. PT Bumi Aksara. Jakarta. 250 hal.
LAMPIRAN
38 Tabel Lampiran 1. Rekapitulasi Hasil Sidik Ragam Peubah-Peubah yang Diamati
pada Perlakuan Berbagai Konsentrasi Paclobutrazol
No Peubah Umur (MSP) Pengaruh Perlakuan
1 Persen Tumbuh Planlet 1 – 8 tn
5 Pertambahan Jumlah
Tunas 1 – 8 tn
6 Jumlah Akar 8 tn
7 Panjang Akar 8 tn
8 Diameter Akar 8 tn
9 Warna Daun 8 tn
10 Jumlah Klorofil 11 Kerapatan Stomata 12 Kerapatan Sel Palisade
13 Diameter Sel Palisade 8 tn
39
Gambar L
Gambar
Lampiran 1.
La
Lampiran 2
. Perendama arutan Paclo
2. Green Ho (a); Planlet Pada Rak b
an Planlet A obutrazol.
ouse Kebun t Anggrek D besi (b).
Anggrek De
n Percobaan Dendrobium
endrobium l
Cikabayan
lasianthera
m lasianthern, IPB Dram Pada
a dalam Potmaga t
40