Materi yang akan dijadikan bahan penelitian difokuskan pada operasi irisan dan gabungan dua himpunan. Pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan terdapat
HASIL DAN PEMBAHASAN a. Hasil Pengembangan Instrumen
Peneliti mengembangkan instrumen sebelum melakukan pengambilan data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah tes kepribadian, lembar observasi, dan pedoman wawancara. Peneliti mengembangkan instrumen pada bulan Januari-Februari 2016. Instrumen yang dibuat peneliti terlebih dahulu divalidasi ke para ahli sebelum digunakan untuk penelitian di lapangan.
Subjek dalam penelitian dipilih berdasarkan hasil tes kepribadian. Tes kepribadian yang digunakan diadaptasi dari angket JEPQRS (Junior Eysenck Personality Questionare Revised- Short form). Tes terdiri atas 24 soal dimana 12 item untuk menguji kebohongan siswa dan 12 item untuk mengetahui tingkat ekstroversi. Proses adaptasi angket JPEQRS mempertimbangkan tiga faktor yaitu kebahasaan, usia siswa, kondisi lingkungan di Indonesia.
Item kebohongan terdapat pada nomor 2,4,6,8,10,12,14,16,18, dan 20. Item ekstraversi terdapat pada nomor 1,3,5,7,9,11,13,15,17,19,21, dan 23. Setiap jawaban “iya” diberi skor 1 dan jawaban “tidak” diberi skor 0, kecuali pada item bertanda * diberi skor yang berkebalikan. Apabila skor kebohongan maka subjek tersebut terindikasi bohong dan harus mengulang tes. Jika skor pada item ekstraversi maka siswa tersebut termasuk siswa cenderung introvert.
Peneliti melakukan observasi terhadap performa subjek pada pelaksanaan pembelajaran. Peneliti menggunakan lembar observasi sebagai pedoman hal apa saja yang harus diobservasi. Untuk keperluan tersebut, peneliti mengembangkan instrumen lembar observasi. Sesuai dengan indikator komunikasi matematis tulis dan lisan, peneliti mengembangkan lima aspek untuk mendukung kegiatan observasi pembelajaran yaitu sebagai berikut.
Cara siswa menyatakan himpunan dalam diagram Venn
Cara siswa menyatakan himpunan dalam notasi pembentuk himpunan Tindakan siswa ketika ia butuh bantuan
Cara siswa menyampaikan respon terhadap pertanyaan guru Cara siswa memberikan alasan terhadap jawaban yang dibuat
Masing-masing aspek dilengkapi dengan rumusan performa siswa. Observer dapat memberi tanda pada performa yang muncul. Apabila ada kejadian di lapangan yang diluar dugaan, observer dapat menambahkan keterangan pada kolom catatan.
Wawancara dilakukan dengan tujuan mengetahui komunikasi matematis lisan siswa. Pertanyaan wawancara harus sesuai dengan fokus penelitian. Oleh karena hal tersebut, peneliti membuat pedoman wawancara sebagai acuan dalam memberikan pertanyaan kepada subjek penelitian. Pedoman wawancara memuat item pertanyaan yang dapat mengungkap indikator komunikasi matematis lisan dan sesuai dengan materi. Pengembangan pedoman wawancara memperhatikan lima hal sebagai berikut.siswa. Pengembangan pedoman wawancara memperhatikan empat hal sebagai berikut.
Kepribadian introvert
Kemungkinan jawaban muncul
Pertanyaan pelacak apabila siswa tidak bisa menjawab Pertanyaan lanjutan
Bisa mengungkap komunikasi lisan (sesuai indikator) Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini tersaji pada lampiran.
b. Hasil Pengambilan Data
Subjek penelitian merupakan elemen penting dalam sebuah penelitian. Peneliti melakukan pemilihan subjek dengan memberikan tes kepribadian kepada siswa Homeschooling kelas VII pada 18 Februari 2016 pada saat mereka berkumpul di kantor untuk mengikuti kelas psikologi. Siswa yang mengerjakan tes sebanyak 11siswa.
Sistem penskoran terbagi menjadi dua, yaitu untuk menilai kebohongan dan tingkat ekstroversi. Skor kebohongan yang ≥ 6 mengindikasikan bahwa siswa bohong dan tes harus diulang. Skor ekstroversi yang < 6 menunjukkan bahwa siswa mempunyai kepribadian introvert. Hasil tes kepribadian di sajikan dalam tabel 1. Siswa yang dipilih sebagai subjek penelitian adalah siswa yang tidak bohong dan memiliki kepribadian introvert dengan skor relatif rendah sebanyak lima siswa.
Tabel 1. Hasil Tes Kepribadian
No Siswa Skor Kesimpulan Skor Kebohongan Skor Ekstroversi Bohong/ Tidak Ekstrovert/ Introvert
1 Siswa 1 (YW) 5 3 Tidak Bohong Introvert
2 Siswa 2 4 5 Tidak Bohong Introvert
3 Siswa 3 4 5 Tidak Bohong Introvert
4 Siswa 4 7 3 Bohong -
5 Siswa 5 5 9 Tidak Bohong Ekstrovert
6 Siswa 6 (JS) 5 2 Tidak Bohong Introvert
7 Siswa 7 4 8 Tidak Bohong Ekstrovert
8 Siswa 8 (RC) 4 2 Tidak Bohong Introvert
9 Siswa 9 (VA) 4 3 Tidak Bohong Introvert
10 Siswa 10 (EA) 4 2 Tidak Bohong Introvert
11 Siswa 11 4 4 Tidak Bohong Introvert
Keterangan : Siswa yang terpilih sebagai subjek penelitian adalah siswa yang bertanda merah. Subjek akan disebut sesuai dengan inisial
Setelah subjek terpilih, peneliti mengobservasi siswa selama pembelajaran, kemudian peneliti melakukan wawancara untuk mengungkap lebih mendetail tentang komunikasi lisan.
1. YW
YW belum bisa menggambarkan diagram Venn dengan sempurna. YW tidak membuat kotak dan tidak menuliskan semesta himpunannya. Penamaan diagram Venn masih belum konsisten karena terkadang menggunakan huruf kapital, huruf kecil, bahkan digunakan bersamaan. YW menyertakan tanda titik didekat bilangan untuk menunjukkan anggota himpunan.
Membuat notasi pembentuk himpunan merupakan hal yang sulit bagi YW. Dia masih perlu diingatkan untuk membuat kurung kurawal sebelum menuliskan himpunan. YW jarang menggunakan simbol-simbol matematis seperti lebih sering menggunakan kata “elemen” daripada simbol . YW sering terbalik dalam menuliskan simbol irisan dan gabungan dan terbalik dalam menggunakan kurang dari dan lebih dari.
YW masih kurang peka dalam menyadari apa yang ia bingungkan terhadap materi irisan dan gabungan dua himpunan. Dia mengetahui kalau dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam skemanya, namun kurang cepat dalam menyadari. YW memberitahu guru bahwa dia kebingungan dan meminta diulang dari awal.
Cara YW memberikan respon terhadap pertanyaan guru adalah dengan cara bertanya balik kepada guru karena belum mengerti secara jelas tentang maksud pertanyaan sekaligus untuk meyakinkan bahwa persepsi yang dia tangkap adalah benar. Setelah merasa pertanyaan jelas, YW meminta waktu untuk berpikir dulu kemudian menjawab. Apabila guru menanyakan alasan dari jawaban yang YW buat, YW belum bisa memberikan alasan lengkap karena YW selalu merasa jawabannya salah. YW merasa kurang percaya diri dalam menjawab pertanyaan dari guru.
Hal lain yang muncul dalam observasi adalah YW mendadak seperti orang gagap ketika berbicara. Hal tersebut terjadi apabila YW merasa kurang nyaman dan pikiran sedang “ngeblank”.
YW sebenarnya memilik semangat tinggi untuk belajar namun karena memiliki kekurangan menjadikan dia kurang percaya diri.
Berdasarkan hasil wawancara, peneliti mendapatkan informasi lebih mendalam tentang YW. YW masih kurang peka dalam menyadari apa yang ia bingungkan terhadap materi irisan dan gabungan dua himpunan. Dia mengetahui kalau dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam skemanya, namun kurang cepat dalam menyadari. YW memberitahu guru bahwa dia kebingungan dan meminta diulang dari awal.
Cara YW memberikan respon terhadap pertanyaan adalah dengan cara bertanya balik kepada guru karena belum mengerti secara jelas tentang maksud pertanyaan sekaligus untuk meyakinkan bahwa persepsi yang dia tangkap adalah benar. Setelah merasa pertanyaan jelas, YW meminta waktu untuk berpikir dulu kemudian menjawab. Apabila guru menanyakan alasan dari jawaban yang YW buat, YW belum bisa memberikan alasan lengkap karena YW selalu merasa jawabannya salah. YW merasa kurang percaya diri dalam menjawab pertanyaan dari guru.
YW lebih nyaman apabila menjawab pertanyaan dengan menulis. YW lebih sering menggunakan kalimat verbal daripada simbol matematika. Pada saat wawancara, YW lebih sering memangdang pada kertas jawabannya daripada memandang wajah peneliti. Ketika YW menjawab pertanyaan juga sambil melihat ke arah kertasnya. Peneliti sudah memancing YW untuk mengutarakan pendapat secara lisan, namun YW mengatakan bahwa yang ia tulis sudah cukup jelas.
2. RC
RC merupakan siswa introvert yang rajin. Dia fokus mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Kekurangannya ialah RC cenderung diam ketika guru mengajak berinteraksi. RC lebih sering menjawab pertanyaan guru dengan cara menulis lalu menunjukkan kepada guru.
Cara RC menyatakan himpunan dalam diagram Venn cukup benar. RC membuat diagram Venn dengan terlebih dahulu membuat kotak, lingkaran, kemudian menamai lingkaran sesuai dengan nama himpunan. Pengisian anggota himpunan dengan bilangan yang disertai tanda titik. Pada saat menyatakan himpunan dalam notasi pembentuk himpunan, RC menyatakannya dengan cukup benar juga. RC menggunakan simbol matematika seperti dengan benar. Penggunaan operator “<, >, ≤, ≥” sudah benar. Kekurangannya adlh RC terkadang menuliskan “bilangan asli” daripada atau .
RC merupakan siswa yang cukup paham dengan kemampuannya. Ketika ia menemui kesulitan maka akan langsung bertanya pada guru. Ia bertanya dengan menunjukkan tulisannya dan berkata “bu yang ini saya bingung”. Pada saat yang sebaliknya yaitu ketika guru memberikan pertanyaan kepada RC, ia langsung merespon. Apabila RC merasa pertanyaan dari guru sulit, ia akan meminta berpikir dulu krn tidak mau dibantu secara langsung. RC cukup tanggap dalam menerima respon namun respon yang disampaikan jarang melalui ucapan. RC lebih suka untuk menulis jawaban dari pertanyaan guru daripada menjawab secara lisan.
Hal lain yang terlihat pada saat pembelajaran adalah RC selalu meletakkan tas dipangkuan dan mendekapnya. RC merasa tidak percaya diri sehingga berusaha menutup diri. Ketika guru mencoba menatap wajah RC maka RC akan refleks untuk menunduk.
RC percaya bahwa yang ia tulis sudah lengkap dan mewakili yang ia maksud. RC berusaha menulis selengkap mungkin karena RC kurang berkenan jika banyak ditanyai dan menjawab secara lisan. RC sangat serius dalam mengerjakan soal yang diberikan tapi kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapatnya secara lisan.
Peneliti menggali kemampuan RC dalam memberikan alasan terhadap jawaban yang dibuat. Lagi lagi, RC memberikan penjelasan lengkap dalam tulisannya. Apabila diminta untuk mengungkapkan secara lisan, RC hanya menjawab sepotong-sepotong. RC kurang tanggap apabila diajak berinteraksi melalui lisan. RC menyampaikan ide-idenya melalui tulisan. Hingga wawancara usai, RC tidak melepaskan tas yang ia peluk. Jika dianalisis sekilas, RC terlihat kurang percaya diri
sehingga menggunakan media tas untuk membuat ia percaya diri. Sikap RC ketika wawancara sama ketika pembelajaran berlangsung yaitu merangkul tas.
3. JS
Pada materi himpunan, JS lebih suka menjawab soal dengan menggunakan diagram Venn daripada dengan notasi pembentuk himpunan. Diagram Venn yang dibuat oleh JS tidak sempurna karena tidak ada nama himpunannya, tidak ada kotaknya, tidak ada titik sebagai penanda anggota himpunan. Ketika JS disuruh menuliskan himpunan dalam bentuk notasi, dia hanya membuat inti dari himpunan itu. Misal ada , JS hanya menuliskan karena JS tidak mau terikat aturan seperti tanda kurang karawal dan sebagainya. JS menganggap yang penting sudah ada .
Tindakan yang dilakukan oleh JS ketika butuh bantuan adalah bertanya pada guru secara lisan dan tertulis tentang apa yang tidak ia mengerti. Intensitas pertanyaaan yang disampaikan secara lisan sangat jarang. JS lebih sering mengungkapkan ketidakmengertiannya dengan cara menunjuk sesuatu yang telah ia tulis dan memberitahukan bahwa yang ditunjuk merupakan hal yang tidak ia mengerti.
Pada saat guru memberikan pertanyaan, JS lebih suka memberikan respon dengan cara menulis. JS hiperaktif dalam perilaku tetapi sangat minim percakapan. Kelebihan JS adalah ia sangat percaya diri sehingga ketika ditanya alasan menjawab pertanyaan maka ia akan merasa yakin bahwa jawabannya benar namun kurang suka jika ditanya mengapa.
Peneliti melakukan wawancara dengan JS dalam keadaaan yang kurang kondusif. JS bersembuyi dibawah kolong meja sambil tiduran dan main HP. JS memang siswa yang kurang peduli dengan dunia sekitar. Ia asyik dengan dunianya sendiri. JS masih bisa kooperatif dengan menjawab pertanyaan, namun butuh waktu untuk menunggu JS bersedia menjawab.
JS merupakan siswa yang kurang suka apabila diatur termasuk dalam menjawab soal. JS lebih suka apabila menyatakan himpunan dalam diagram Venn. JS kurang berkenan apabila disuruh menjawab dengan notasi pembentuk himpunan yang lengkap. Kalimat andalan yang dilontarkan JS ketika malas menjawab adalah “yang penting intinya sama”. JS membatasi interaksi dengan peneliti sehingga JS lebih banyak menyampaikan ide dengan menulis.
4. EA
Cara belajar EA sungguh unik. EA seperti berbicara sendiri ketika dia berpikir. Dia tidak mau diganggu dengan pertanyaan ketika ia berpikir sambil berbicara. Ia merasa bisa fokus ketika berpikir dengan cara seperti itu. EA memiliki emosi yang labil. Ketika ia tidak mau belajar, maka dia akan mengamuk hingga memukul. Akan tetapi jika EA dalam kondisi nyaman maka dapat diajak berkomunikasi dengan enak. EA merupakan siswa yang tidak mau terikat aturan yang baginya ribet.
Pada materi irisan dan gabungan dua himpunan, EA terlihat paham ketika dijelaskan. EA bisa menjawab pertanyaan pertanyaan yang diberikan oleh guru, namun EA hanya mengambil intinya saja. Seperti pada materi menyatakan himpunan dalam diagram Venn. EA hanya membuat lingkaran, nama himpunan, dan anggotanya. EA tidak memperhatikan contoh diagram Venn seperti yang dibuatkan oleh guru. EA mengatakan bahwa yang penting adalah isinya (anggota himpunannya).
Cara EA menyatakan himpunan dalam bentuk notasi juga berbeda dengan yang diajarkan oleh guru. EA belum konsisten dalam membuat kurung kurawal, dan simbol semesta himpunan misal himpunan bilangan asli dinyatakan dengan kalimat verbal “bilangan asli”
EA akan bertanya pada guru ketika merasa kesulitan. Cara EA bertanya adalah dengan menunjuk satu bagian dan berkata “ini bagaimana?”. EA akan menunjukkan respon jika diberi pertanyaan pancingan terlebih dahulu. EA merespon melalui lisan atau tertulis sesuai kondisi “mood”nya. EA selalu meminta waktu berpikir sambil berbicara sendiri ketika berpikir.
EA merupakan tipe anak yang cukup “ngeyel” sehingga kurang berkenan menerima saran dari orang lain. Hal ini terlihat ketika guru meminta EA memberikan alasan terhadap jawaban yang dia buat. EA yakin bahwa jawabannya benar dan “ngeyel” pokoknya begini. Ketika guru memberikan saran perbaikan terhadap jawaban tersebut, EA memperbaiki jawaban namun dengan wajah yang kurang berkenan.
EA aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti namun melalui tulisan. Ketika peneliti diam tidak memberikan pertanyaan pancingan, EA tidak berinisiatif bertanya maupun menyampaikan idenya. EA bermain dengan duanianya sendiri seperti coret-coret kertas, melipat-lipat, dan lain-lain. Ketika peneliti memberi pertanyaan berupa soal, maka EA hanya akan menunjukkan jawaban tertulis tanpa menjelaskan. Peneliti memberi pertanyaan pancingan agar EA bersedia sedikit demi sedikit untuk menyampaikan pendapatnya secara lisan. Berikut cuplikan percakapan peneliti dengan EA ketika meminta EA memberikan alasan dari jawaban yang ia buat.
EA memberikan alasan dengan sangat yakin meskipun ia tidak menggunakan diagram Venn untuk mengecek kebenaran pernyataan. Ketika memberikan alasan, EA sambil berbicara sendiri dan menuliskannya. EA jarang melakukan kontak mata dengan peneliti ketika menjawab. Jawaban secara lisan yang disampaikan oleh EA terkesan bukan menjawab pertanyaan namun terlihat seperti menggerutu.
5. VA
Suasana sangat hening ketika terjadi kegiatan pembelajaran antara VA dengan guru. VA lebih banyak menulis dan melihat buku dihadapannya. VA juga jarang memulai untuk bertanya kepada guru. VA sangat pendiam ketika pembelajaran berlangsung. Ketika ditanya oleh guru, VA baru terpancing untuk bicara. Pandangan VA terlihat kaku seperti tidak berani untuk menatap, takut berbicara, dan ragu untuk menjawab.
VA cukup memahami materi irisan dan gabungan dua himpunan. Diagram Venn yang dibuat oleh VA masih kurang tepat karena dia belum memberikan nama pada himpunannya. Untuk menentukan irisan dua himpunan, VA mendaftar anggota terlebih dahulu kemudian melingkari anggota yang sama.
VA tidak mengalami kesulitas ketika harus mengubah himpunan dalm bentuk notasi. VA mengetahui bahwa untuk membuat notasi pembentuk himpunan harus diawali dengan kurung kurawal. Simbol dan operator yang digunakan juga sudah benar. VA tidak mengalami kesulitan ketika berinteraksi melalui tulisan yang dia buat, namun ketika guru menanyakan suatu hal secara lisan terlihat bahwa VA kurang nyaman.
Tindakan yang dilakukan VA ketika ia butuh bantuan adalah dengan memberitahu guru bahwa dia belum paham dan meminta dijelaskan dari awal karena ia tidak tau manakah yang ia bingungkan. Ketika guru memberikan pertanyaan pada VA, ia sering menanyakan ulang redaksi pertanyaan. Hal ini terjadi karena ia kurang fokus apabila diajak berinteraksi secara lisan. Setelah VA paham dengan maksud pertanyaan dari guru, VA meminta waktu berpikir dan menjawab pertanyaan tersebut secara tertulis.
Guru memulai interaksi dengan VA melalui pertanyaan-pertanyaan pancingan karena jika tidak ditanya maka VA akan diam saja. Ketika VA menjawab soal dan guru menanyakan alasan terhadap jawaban yang dibuat, VA menjelaskannya lewat tulisan yang ditunjukkan kepada gurunya. Alasan yang diberikan VA terkadang logis terkadang kurang, tetapi VA percaya bahwa jawaban itu benar. VA yakin dengan kemampuan sendiri meskipun terkadang keyakinannya itu salah.
VA cukup cuek dengan apa yang terjadi disekitarnya. VA sering bertanya kembali kepada peneliti tentang pertanyaan bahkan jawaban. VA mempunyai keraguan tinggi terhadap jawabannya sendiri sehingga setiap dia ragu maka dia kan langsung bertanya dengan bilag “begini ya?” sambil menunjuk jawabannya.
VA cukup kooperatif untuk diajak berinteraksi dan berdiskusi ketika dia sangat nyaman. Ketika wawancara memasuki pertanyaan mengenai cara VA memberikan alasan terhadap jawaban yang dibuat, VA mulai tidak nyaman karena sangat mengantuk. VA sudah mulai malas untuk berinteraksi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Berikut cuplikan wawancara peneliti dengan VA pada sesi VA mengantuk.
VA memberikan alasan dengan menggunakan logika. VA tidak membuat diagram Venn untuk menunjukkan bahwa pernyataan peneliti salah. Va menjawab dengan pernyataan yang cukup singkat namun terlihat yakin dengan jawabannya. Di sisi lain, VA menjawab singkat karena kurang nyaman dengan keadaan dan sedang mengantuk sehingga terlihat seperti malas untuk menjawab panjang lebar.
c. Pembahasan Data Penelitian
Komunikasi matematis lisan pada materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan mencakup tiga indikator yaitu, 1) menyampaikan ide matematis kepada orang lain, 2) menggunakan bahasa / lambang matematika untuk menyampaikan ide matematis, 3) memberikan alasan dari jawaban yang telah dibuat, yang semuanya mencakup materi operasi irisan dan gabungan dua himpunan. Komunikasi matematis lisan merupakan suatu proses siswa mengemukakan apa yang ada di pikirannya melalui ucapan / lisan. Komunikasi matematis lisan dalam penelitian inin dikaitkan dengan kepribadian introvert.
Siswa introvert yang cenderung kurang suka bersosialisasi akan jarang pula berkomunikasi secara lisan dengan orang lain. Siswa memberikan respon ketika ditanya saja. Mereka kurang memiliki insiatif untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu karena mereka merasa perlu bicara ketika hal penting saja. Pada saat pembelajaran, siswa introvert lebih suka diam dan fokus memperhatikan, tapi mereka bukan tipe yang bisa mengutarakan pendapatnya atau bertanya secara lisan.
Pada penelitian ini, peneliti melihat komunikasi matematis lisan melalui kegiatan observasi dan wawancara. Hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan kelima subjek mempunyai tipe komunikasi matematis lisan yang sama. Mereka cenderung pasif, baru mengemukakan pendapat ketika ditanya, jawaban yang diberikan pun singkat dan lebih banyak menuliskan jawaban.
Penelitian terdahulu telah banyak yang mengungkapkan antara tipe kepribadian dengan gaya bersosialisasi dan bertingkah laku terhadap suatu stimulus. Sosialisasi erat kaitannya dengan komunikasi. Komunikasi dalam kehidupan sehari-hari cenderung pada komunikasi secara lisan, tulisan, gerakan, dan bahasa isyarat. Pada bidang matematika terdapat pula komunikasi yang sering disebut dengan komunikasi matematis. Komunikasi matematis terbagi menjadi dua yaitu komunikasi matematis tulis dan lisan.
Burtavede dan Mihaila (2011) mengungkapkan bahwa secara signifikan waktu reaksi introvert lebih tinggi daripada waktu reaksi ekstrovert. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Ketika subjek penelitian mengerjakan soal, ia butuh waktu lama untuk memahami soal. Pada saat wawancara, peneliti tidak jarang mengulang pertanyaan dan terus memberikan pertanyaan pancingan agar subjek bersedia menjawab secara lisan.
Pernyataan lain yang diungkap oleh Burtavede dan Mihaila (2011) adalah ketika siswa introvert mengalami kesulitan belajar, mereka cenderung diam. Peneliti menemukan fenomena bahwa subjek sering diam ketika tidak bisa. Mereka cenderung hanya memberi isyarat bingung ketika mereka butuh bantuan. Hal lain yang ditemukan adalah mereka menanyakan secara lisan. Dalam hal ini, siswa introvert sulit untuk mengungkapkan ide berupa pertanyaan atau tanggapan secara lisan.
Siswa itrovert merasa nyaman ketika mereka belajar mandiri tanpa ada gangguan dari dunia luar. Di homeschooling, mereka terpenuhi kebutuhannya untuk mendapat perhatian yang khusus dari
guru. Di sisi lain, pembelajaran alternatif ini kurang melatih siswa untuk bersosialisi dan berkomunikasi. Zafar dan Meenakshi (2012) mengungkapkan bahwa kebanyakan siswa yang berkepribadian introvert akan lebih baik jika diberikan pembelajaran di kelas, khususnya pada keterampilan membaca dan menulis. Keterampilan membaca dan menulis merupakan komponen penting dalam komunikasi matematis. Karena dengan keterampilan tersebut, siswa akan terlatih untuk berkomunikasi baik dalam kehidupan sehari-hari maupun komunikasi dalam matematika.
Pada hasil penelitian ini, kepribadian introvert memainkan peranan penting dalam komunikasi matematis lisan. Siswa butuh pancingan terus menerus agar mengungkapkan idenya secara lisan. Tidak jarang pula, mereka bisa menuliskan idenya namun tidak bisa dan/atau tidak bersedia mengungkapkan secara lisan. Pada komunikasi matematis tulis, kepribadian memiliki peran namun