• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen KURETASE DAN GINGIVEKTOMI (Halaman 31-36)

PASIEN IV A. Identifikasi Pasien

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Kontrol pasien I dilakukan seminggu setelah dilakukannya operasi kuretase.

Pemeriksaan subjektif pasien menunjukkan tidak ada keluhan, pasien tidak mengeluhkan gusi mudah berdarah. Coe-pack telah terlepas 2 hari sebelum kontrol. Gingiva regio gigi 41, 31, dan 32 sudah tidak kemerahan.

Pasien II dilakukan kontrol 1 minggu setelah dilakukannya operasi gingivektomi. Pemeriksaan subjektif pasien menunjukkan pasien masih mengeluhkan gusinya yang sedikit berdarah pasca bedah. Coe-pack masih terpasang dengan baik. Gingiva regio gigi 41 dan 42 masih menunjukkan kemerahan. Kontrol dilanjutkan 1 minggu setelahnya dengan pelepasan coe-pack.

Kontrol ke-2 menunjukkan tidak terdapat keluhan pada pemeriksaan subjektifnya, dan pada pemeriksaan objektif juga tidak menunjukkan kemerahan.

Kontrol pasien III dilakukan pada hari ke – 7, penyembuhan berjalan optimal, kondisi periodontal pack sudah terlepas. Kondisi gingiva yang sebelumnya kemerahan menjadi membaik serta margin gingiva menutup dan sudah tidak tedapat poket periodontal.

Pada kontrol hari ke-7 untuk pasien IV, penyembuhan berjalan optimal, kondisi periodontal pack sudah terlepas. Gingiva sekitar gigi 12 dan 13 tampak berwarna merah muda, poket periodontal dalam masa penyembuhan.

B. PEMBAHASAN

Pasien I merupakan perempuan berusia 22 tahun datang ke klinik periodonsia RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan makanan sering terselip pada gusi depan bawah dan gusi mudah berdarah saat menyikat gigi walaupun telah

dilakukan pembersihan karang gigi. Dari anamnesis dan pemeriksaan objektif terhadap pasien, dapat diketahui bahwa pasien memiliki bleeding on probing positif dan kedalaman poket + 4 mm pada gingiva regio gigi 41, 31, dan 32 meskipun sudah dilakukan initial therapy dengan scaling dan root planing. Masih adanya bleeding on probing dan tidak membaiknya kedalaman poket dari visit pertama saat pasien dirawat scaling dan root planing ke visit selanjutnya saat kontrol menunjukkan tanda inflamasi dan attachment loss yang menjadi ciri khas periodontitis.

Sementara pasien II adalah pasien perempuan berusia 20 tahun datang ke klinik periodonsia RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan pembengkakan gusi depan kanan bawah disertai gusi mudah berdarah saat menyikat gigi walaupun telah dilakukan pembersihan karang gigi. Anamnesis dan pemeriksaan objektif terhadap pasien diketahui bahwa pasien memiliki bleeding on probing positif dan kedalaman poket gingiva + 4 mm pada gingiva regio gigi 41, 42, dan 43 meskipun sudah dilakukan initial therapy dengan scaling dan root planing. Masih adanya bleeding on probing dan tidak membaiknya kedalaman poket dari visit pertama saat pasien dirawat scaling dan root planing ke visit selanjutnya saat kontrol menunjukkan adanya enlargement gingiva. Pembengkakan pada gusi dialami pasien karena malposisi gigi-gigi sebelahnya sehingga gusi di sekitar regio gigi tersebut terlihat membengkak.

Pasien III merupakan seorang pasien perempuan berusia 21 tahun dengan keadaan gingiva sedikit membengkak dan berwarna kemerahan pada regio gigi 44. Kontur membulat, konsistensi lunak, tekstur halus (unstippling), BOP positif dan adanya poket periodontal sedalam 3,5 mm. Perawatan bedah periodontal berupa kuretase pada regio gigi 44 diharapkan dapat berhasil sehingga dapat menghilangkan jaringan granulasi yang melekat pada gigi dan dinding poket sebelah dalam dan terjadi perlekatan kembali antara jaringan lunak dengan permukaan gigi dan pengurangan kedalaman poket periodontal.

Pasien IV adalah seorang pasien laki-laki berusia 24 tahun dengan keadaan gingiva sedikit membengkak dan berwarna kemerahan pada regio gigi 13. Kontur membulat, konsistensi lunak, tekstur halus (unstippling), BOP positif dan adanya

poket periodontal sedalam 4 mm. Perawatan bedah periodontal berupa kuretase pada regio gigi 13 diharapkan dapat berhasil sehingga dapat menghilangkan jaringan granulasi yang melekat pada gigi dan dinding poket sebelah dalam dan terjadi perlekatan kembali antara jaringan lunak dengan permukaan gigi dan pengurangan kedalaman poket periodontal.

Poket periodontal pada pasien diduga terkait kalkulus subgingiva sehingga menimbulkan respon inflamasi. Pada kasus ini, dilakukan tindakan kuretase karena poket periodontal yang terjadi ditimbulkan oleh deposit kalkulus subgingiva yang masih tertinggal. Scaler tip kurang dapat menjangkau kalkulus subgingiva saat dilakukan scaling 1 minggu sebelumnya. Perawatan ideal yang dilakukan untuk mengkoreksi keadaan tersebut adalah kuretase supaya diharapkan terjadi perlekatan kembali antara jaringan lunak dengan permukaan gigi.

Setelah prosedur kuretase selesai, area operasi ditutup dengan menggunakan periodontal pack (periodontal dressing). Periodontal dressing yang digunakan untuk menutupi luka mempunyai berbagai fungsi, yaitu melindungi luka dari iritasi, mengurangi kemungkinan infeksi, mengontrol perdarahan paska operasi, dan mengontrol produksi jaringan granulasi yang berlebihan (Carranza, 1996).

Periodontal dressing dapat mempercepat pemulihan dan memberikan kenyamanan pasca operasi. Periodontal dressing harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1 Harus bersifat tidak mengiritasi dan tidak merangsang terjadinya reaksi alergi.

2 Dapat mencegah akumulasi sisa makanan dan saliva.

3 Mempunyai sifat antibakteri sehingga dapat mencegah pertumbuhaan bakteri.

4 Harus cukup keras sehingga tidak mudah bergeser.

5 Rasanya tidak menggangu.

Periodontal dressing yang digunakan pada operasi ini adalah Coepack yang bersifat non-eugenol.

Segera setelah kuretase, jendalan darah mengisi sulkus gingiva, yang secara total ataupun parsial memisahkan lining epithelial. Hemorrhargi terjadi pada

jaringan dengan dilatasi kapiler dan leukosit polimorfonuklear tampak pada area perlukaan. Kemudian diikuti dengan proliferasi jaringan granulasi yang cepat dengan penurunan jumlah pembuluh darah sebagai tanda kematanagn jaringan (Carranza, 1996).

7 hari setelah operasi pasien datang untuk kontrol. Pasien tidak memiliki keluhan. Dari pemeriksaan klinis, gingiva dan poket periodontal sedang dalam proses penyembuhan, ditandai dengan gingiva yang berkurang hemorrhagi dan kemerahannya serta keadaan margin gingiva yang menutup. Proses penyembuhan meliputi pembentukan bekuan darah, pembentukan jaringan granulasi, epitelisasi, pembentukan kolagen, regenerasi dan maturasi. Sel akan menutupi luka dalam waktu 7-14 hari dan terkeratinisasi setelah 2-3 minggu. Pembentukan perlekatan epitel yang baru berlangsung selama 4 minggu (Manson dan Eley, 2003).

Penyembuhan epithelial lining poket setelah kuretase diperkirakan selama 5-12 hari. Pada penelitian Witjaksono dkk. (2006) jaringan sulkus gingiva mengalami perlekatan kembali dalam waktu 2-3 minggu pasca kuretase.

Untuk tindakan gingivektomi, setelah penegakan diagnosis, maka langkah pertama adalah fase inisial berupa eliminasi seluruh deposit yang keras dan lunak di sekitar gigi melalui tindakan scaling dan polishing. Jika setelah itu dilakukan reevaluasi dan kondisi pembesaran gingiva masih ada maka perlu dilakukan rekonturing gingiva dengan cara gingivektomi.

Beberapa saat setelah operasi terlihat warna kemerahan pada margin gingiva yang dieksisi. Daerah tersebut kemudian ditutup dengan periodontal pack atau dressing dengan tujuan melindungi luka dari iritasi, menjaga agar daerah luka tetap dalam kondisi bersih, mengontrol perdarahan, dan mempercepat penyembuhan.Pasien diberi resep obat minosep yang berfungsi utuk menjaga kesehatan mulut dan menghambat pertumbuhan plak.

Saat kontrol, ditemukan gingiva tampak masih berwarna kemerah-merahan dan sudah menunjukkan mulainya proses reepitelisasi. Menurut Fedi (2004) proses penyembuhan meliputi pembentukan bekuan darah, pembentukan jaringan granulasi, epitelisasi, pembentukan kolagen, regenerasi dan maturasi. Sel akan menutupi luka dalam waktu 7-14 hari dan terkeratinisasi setelah 2-3 minggu.

Pembentukan perlekatan epitel yang baru berlangsung selama 4 minggu (Eley dan Manson, 2004).

BAB V KESIMPULAN

1. Periodontitis pada pasien I tergolong periodontitis sedang, sementara pada pasien III dan IV tergolong periodontitis ringan, yang disebabkan oleh inflamasi dari akumulasi plak dan kalkulus subgingiva.

2. Tindakan kuretase dilakukan untuk menghilangkan jaringan granulasi pada gigi dan dinding poket periodontal sebelah dalam agar terjadi perlekatan kembali antara jaringan lunak dengan permukaan gigi dan ukuran poket berkurang.

3. Tindakan kuretase memberikan hasil yang baik, setelah 7 hari keadaan gingiva yang sebelumnya hemorrhagi dan kemerahan menjadi membaik serta margin gingiva menutup, sedangkan poket periodontal masih dalam proses penyembuhan.

4. Enlargement gingiva dapat disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Dalam kasus ini, enlargement gingiva pada pasien II disebabkan oleh malposisi gigi-gigi.

5. Pembesaran gingival yang bersifat fibrotik dapat diatasi dengan bedah periodontal yaitu gingivektomi.

6. Salah satu penentuan kesuksesan perawatan gingivektomi adalah sikap pasien yang kooperatif, kondisi kesehatan umum dan lokal pasien, serta kemampuan operator.

7. Hasil perawatan gingivektomi dalam keempat kasus ini baik.

Dalam dokumen KURETASE DAN GINGIVEKTOMI (Halaman 31-36)

Dokumen terkait