• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil dan Pembahasan 1.Analisis Deskriptif 1.Analisis Deskriptif

Pengelolaan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

Software Eviews v.7.0 dan Microsoft Excel 2007, untuk mengolah data serta

memperoleh hasil dari variabel-variabel yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti yaitu pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, pembiayaan

murabahah, NPF (Non Performing Financing), dan Profitabilitas Bank

Pembiayaan Rakyat Syariah yaitu ROA (Return On Assets).

2. Analisis pengujian statistik a. Uji stasioner data

Langkah pertama dalam melakukan analisis data time series yaitu uji stasioneritas, uji stasioneritas dilakukan untuk mengetahui apakah variabel-variabel yang diuji stasioner atau tidak. Uji stasioneritas data dapat dilakukan dengan menggunakan uji akar unit yaitu dengan menggunakan augmented dickey-fuller (ADF) pada derajat yang sama

(level atau difference) hingga diperoleh suatu data yang stasioner. Pada

penelitian ini menggunakan uji augmented dickey –fuller (ADF).

Berikut adalah hasil uji stasioneritas dengan menggunakan

Tabel 4.6

Hasil uji ADF pada tingkat Level Variabel Adf t-Statistics Critical Value Probabilitas Keterangan Mudharabah -3.901883 -3.486509 0.0179 Stasioner Musyarakah -3.801526 -3.485218 0.0231 Stasioner

Murabahah -0.190588 -3.485218 0.9919 Tidak stasioner NPF -1.583154 -3.483970 0.7885 Tidak stasioner ROA -2.178308 -3.483970 0.4928 Tidak stasioner Keterangan : Adf t-statistik < critical value = tidak stasioner, adf t-statistik > critical value = stasioner

Dari hasil tabel 4.6 uji stasioneritas dengan uji ADF pada tingkat level diatas, dengan a=0.05 dapat dilihat bahwa terdapat beberapa data variabel yang tidak stasioner, yaitu variabel murabahah, NPF, dan ROA. Pada variabel mudharabah dapat dikatakan stasioner karena ADF t-statistik > titik kritis pada taraf nyata 5% yaitu adf t-t-statistik sebesar-3.901883 > test critical value sebesar -3.486509, lalu pada variabel

musyarakah data dikatakan stasioner karena ADF t-statistik > titik kritis

pada taraf nyata 5% yaitu ADF t-statistik sebesar -3.801526 > test critical

value sebesar -3.485218. Sedangkan pada variabel nilai pembiayaan

murabahah dikatakan tidak stasioner karena ADF t-statistik < titik kritis

pada taraf nyata 5% yaitu ADF t-statistik sebesar-0.190588 < test critical

value sebesar -3.485218. pada variabel NPF dapat dikatakan tidak

62

statistik sebesar -1.583154 < test critical value sebesar -3.483970 . dan pada variabel ROA dapat dikatakan tidak stasioner karena ADF t-statistik < titik kritis pada taraf nyata 5% yaitu adf t statistik sebesar-2.178308 <

test critical value sebesar -3.483970.

Karena dari lima variabel yang di uji hanya ada dua variabel yang stasioner pada tingkat level, dan terdapat tiga variabel yang belum stasioner, maka perlu dilakukan uji lanjutan pada tingkat 1st difference. Seperti uji sebelumnya, untuk mengetahui data yang diteliti stasioner atau tidak adalah dengan uji ADF.

Pada tabel berikut merupakan hasil uji ADF pada tingkat 1st difference. Tabel 4.7

Hasil Uji ADF pada tingkat 1st Difference Variabel Adf t-Statistics Critical Value Probabilitas Keterangan Murabahah -6.025233 -3.485218 0.0000 Stasioner NPF -9.795614 -3.485218 0.0000 Stasioner ROA -8.788606 -3.485218 0.0000 Stasioner Sumber : data diolah

Keterangan : ADF t-statistik < critical value = tidak stasioner, ADF t-statistik > critical value = stasioner.

Dari hasil uji stasioneritas dengan uji ADF pada tingkat 1 st

difference diatas, dengan a=0.05 dapat dilihat bahwa variabel murabahah

data dikatakan stasioner, karena ADF t-statistik > critical value yaitu adf t-statistik sebesar -6.025233 > critical value sbesar -3.485218 . Pada

variabel NPF data dikatakan stasioner , karena ADF t-statistik > critical

value , yaitu ADF t-statistik sebesar -9.795614 > critical value sebesar

-3.485218 . Pada variabel ROA data dikatakan stasioner , karena ADF t-statistik > critical value , yaitu ADF t-statistik sebesar-8.788606 > critical

value sebesar -3.485218.

b. Uji lag length

Permasalahan yang terjadi pada uji stasioneritas adalah penentuan lag yang optimal. Pada pendekatan VAR maupun VECM sangat sensitif terhadap panjangnya lag yang digunakan. Penentuan panjangnya lag dimaksudkan untuk mengetahui panjangnya periode keterpengaruhan suatu variabel terhadap variabel masa lalunya maupun variabel endogen lainnya.

Untuk menentukan panjang lag yang optimal dapat dilihat dari beberapa criteria yaitu: Final Prediction Error (FPI), Akaike Information

Criterion (AIC), Schwarz Information Criterion (SC), dan Hanna-Quinn

Information Criterion (HQ). hasil uji panjang lag optimal dapat dilihat

64

Tabel 4.8

Penentuan Lag Optimal

lag LogL LR FPE AIC SC HQ

0 109.1666 NA 1.67e-08 -3.720237 -3.539402 -3.650128 1 439.9789 590.7363* 3.02e-13* -14.64210 -13.55710* -14.22145* 2 455.6938 25.25600 4.30e-13 -14.31049 -12.32131 -13.53929 3 481.3005 36.58104 4.45e-13 -14.33216 -11.43880 -13.21041 4 496.6385 19.17252 7.02e-13 -13.98709 -10.18956 -12.51479 5 517.6148 22.47453 9.83e-13 -13.84338 -9.141675 -12.02054 6 545.9063 25.26031 1.20e-12 -13.96094 -8.355056 -11.78755 7 598.4473 37.52930 7.40e-13 -14.94455* -8.434489 -12.42061 Sumber : output eviews 7(data diolah)

Dari tabel 4.8 di atas dapat dilihat hasil dari tabel tersebut memberikan lag yang berbeda-beda. Dari hasil tabel 4.8 terlihat bahwa dengan kriteria LR, FPE, SC dan HQ. Kandidat lag yang disarankan adalah lag 1, sedangkan kriteria AIC menyarankan kandidat lag 7. Dapat dilihat dari tanda bintang yang paling banyak dan nilai yang paling kecil.

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, didapatkan kandidat lag adalah 1 dan 7. Untuk menentukan lag yang optimal adalah dengan cara mengestimasi sistem VAR baik pada lag 1 dan 7. Nilai Adj.R squared

tertinggilah yang merupakan sistem var dengan lag optimal. Maka didapatilah nilai Adj. R squared pada lag 1 sebesar 0.870950 dan lag 7 sebesar 0.801530 . Dengan demikian, lag optimal yang disarankan adalah lag 1.

c. Uji Kointegrasi

Setelah kedua uji diatas dilakukan, langkah selanjutnya yang harus dilakukan dalam uji Vector Autoregressive (VAR) adalah uji kointegrasi. Uji kointegrasi dilakukan untuk mengetahui terjadinya kestabilan jangka panjang terhadap variabel-variabel yang diteliti. Uji kointegrasi pada penelitian ini menggunakan uji kointegrasi Multivariate Johansen Test.

Tabel 4.9

Hasil Uji Kointegrasi (Johansen Test)

Unrestricted Cointegration Rank Test (Trace)

Hypothesized Trace 0.05

No. of CE(s) Eigenvalue Statistic Critical Value Prob.**

None * 0.388104 95.89352 88.80380 0.0140

At most 1 * 0.325679 65.93072 63.87610 0.0333

At most 2 0.283356 41.89370 42.91525 0.0631

At most 3 0.185135 21.56995 25.87211 0.1565

At most 4 0.138322 9.081282 12.51798 0.1754

Sumber : output eviews 7 (data diolah)

Berdasarkan tabel 4.9 , nilai trace statistic, lebih besar dari nilai kritis yaitu 95.89352 > 88.80380 pada tingkat keyakinan 5%. Dan persamaan kointegrasi (cointegration equition) yang terbentuk melalui uji kointegrasi ini berjumlah satu persamaan, terlihat dari tanda (*). Artinya, di antara variabel pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah,

66

pembiayaan murabahah, NPF dan ROA terdapat satu persamaan linear jangka panjang yang terkandung di dalam model. Maka dari itu dapat dilanjutkan dengan model VECM.

d. Estimasi VECM

Berikut ini merupakan tabel hasil estimasi VECM Pengujian VECM (Vector Error Correction Model)

Setelah melakukan beberapa uji sebelumnya, maka langkah yang dilakukan selanjutnya adalah uji VECM (Vector Error Correction Model). Uji VECM dilakukan karena terdapat kointegrasi pada saat uji kointegrasi. Uji VECM dilakukan dengan Impulse Response Function atau IRF dan

Forecast Error Decomposition Variance atau FEDV. Hasil yang diperoleh

adalah:

Tabel 4.10

Estimasi VECM Jangka Panjang dan Jangka Pendek

VARIABEL KOEFISIEN T-STATISTIK

Jangka Pendek C0intEq1 (0.00047) (1.45228) MUDHARABAH (-1) (0.84966) (-0.16108) MUSYARAKAH (-1) (0.76462) (-0.82914) MURABAHAH (-1) (2.30078) (1.69225) NPF (-1) (0.05854) (1.01735) Jangka panjang MUDHARABAH (-1) (1.391618) (5.07391) MUSYARAKAH (-1) (-2.465135) (-1.44212) MURABAHAH (-1) (-6.627566) (-3.61933) NPF (-1) (1.542858) (0.62723) Sumber : output eviews 7 (data diolah)

Berdasarkan tabel 4.10 di atas dalam jangka panjang, pembiayaan

mudharabah dan NPF memiliki pengaruh yang positif dan signifikan

terhadap return on assets. Artinya, setiap kenaikan 1% maka akan terjadi peningkatan return on assets sebesar 1.391618 dan NPF sebesr 1.542858. sedangkan penyaluran pembiayaan pada musyarakah dan murabahah

dalam jangka panjang memiliki pengaruh negatif tidak signifikan terhadap

return on assets (ROA).

Pada analisis jangka pendek, terdapat koreksi kesalahan sebesar 0.00047 yang signifikan secara statistik. Hal ini menunjukkan bahwa setiap bulan kesalahan dikoreksi sebesar 0,00047 persen untuk menuju keseimbangan jangka panjang., dimana sekitar 0,47% proses adjustment

terjadi pada bulan pertama (karena data bulanan) dan 99,53% proses adjustment terjadi pada tahun-tahun berikutnya. Pada jangka pendek ini variabel yang mempengaruhi return on assets pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah secara signifikan adalah pembiayaan murabahah, sedangkan untuk variabel lainnya tidak berpengaruh secara signifikan dalam jangka pendek terhadap return on assets (ROA) Bank Pembiayaan Raakyat Syariah di Indonesia.

1. Impulse Rensponse Function (IRF)

68 -.02 -.01 .00 .01 .02 .03 .04 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Response of ROA to LN_MUDHARABAH

-.02 -.01 .00 .01 .02 .03 .04 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Response of ROA to LN_MUSYARAKAH

-.02 -.01 .00 .01 .02 .03 .04 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Response of ROA to LN_MURABAHAH

-.02 -.01 .00 .01 .02 .03 .04 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Response of ROA to NPF

Tabel 4.11

Nilai Impulse Response ROA (Return On Assets) Response of ROA: Period ROA LN_MUDHARA BAH LN_MUSYARA KAH LN_MURABAHA H NPF 1 0.167996 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 2 0.141043 0.019435 -0.004097 0.026602 0.027447 3 0.145932 0.029829 -0.011125 0.027673 0.014365 4 0.145087 0.031968 -0.007444 0.025471 0.021303 5 0.144691 0.031538 -0.006115 0.026416 0.021192 6 0.144986 0.030054 -0.005571 0.026870 0.021012 7 0.145182 0.028442 -0.005608 0.027402 0.020374 8 0.145395 0.027195 -0.005928 0.027739 0.019678 9 0.145534 0.026441 -0.006282 0.027905 0.019173 10 0.145605 0.026117 -0.006565 0.027949 0.018875 Sumber : output eviews 7 (data diolah)

Jika grafik impulse response menunjukkan pergerakan yang semakin mendekati titik keseimbangan (convergence) atau kembali keseimbangan sebelumnya, ini berarti respon suatu peubah akibat suatu guncangan makin lama akan menghilang sehingga guncangan tersebut tidak meninggalkan pengaruh permanen terhadap peubah tersebut.36

Dari tabel 4.11 diatas, dapat dilihat bahwa variabel ROA (Return

On Assets) merespon shock yang diberikan variabel muharabah,

murabahah, dan NPF adalah positif diawal hingga akhir periode atau

36

Bambang Juanda dan Junaidi, ”Ekonometrika Deret Waktu”, (Bogor: IPB Press, 2012), h. 157

70

positif permanen. Shock yang dihasilkan oleh variabel Mudharabah

murabahah dan NPF adalah positif diawal hingga akhir periode atau positif

permanen. Sedangkan shock yang diberikan oleh variabel pembiayaan

musyarakah adalah negatif permanen atau negatif di awal dan akhir

periode. Hal tersebut dapat dilihat dari grafik yang ada pada lampiran, grafik cenderung berada di atas garis horizontal jika terhadap variabel

mudharabah, murabahah, dan NPF, sedangkan grafik IRF yang dihasilkan

variabel ROA terhadap variabel pembiayaan musyarakah adalah negatif, dibawah garis horizontal.

Selanjutnya akan dibahas mengenai respon ROA (Return on Assets) terhadap shock yang ditimbulkan oleh variabel mudharabah, musyarakah,

murabahah, dan NPF. Pertama akan dibahas mengenai respon ROA

terhadap shock yang ditimbulkan oleh variabel pembiayaan mudharabah. Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat dari grafik bahwa respon yang diberikan variabel ROA akibat shock yang ditimbulkan variabel

mudhrabah pada periode ke 4 sebesar 0.031968, artinya kenaikan

penyaluran pembiayaan mudharabah sebesar 1% akan meningkatkan

return on assets sebesar 0,031%.

Selanjutnya akan dibahas mengenai respon return on assets

terhadap pembiayaan musyarakah. Pada tabel dapat dilihat respon yang diberikan return on assets terhadap shock yang diberikan pembiayaan

periode ke 3 shock yang diberikan adalah sebesar -0,011125, artinya, melemahnya penyaluran pembiayaan musyarakah sebesar 1% akan mengakibatkan penurunan return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah sebesar 0,011%.

Pada variabel pembiayaan murabahah respon yang diberikan variabel return on assets akibat shock yang ditimbulkan variabel pembiayaan murabahah adalah positif permanen, dapat dilihat pada tabel diperiode ke 2 shock yang diberikan adalah sebesar 0,026602 yang berarti kenaikan penyaluran pembiayaan murabahah sebesar 1% mengakibatkan kenaikan return on asset sebesar 0,026%. Semakin besar penyaluran pembiayaan murabahah maka semakin tinggi pula return on asset yang akan didapatkan oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Selanjutnya, berdasarkan tabel respon yang diberikan variabel

return on assets BPRS terhadap shock yang ditimbulkan oleh tingkat NPF

adalah positif di awal hingga akhir periode, shock yang diberikan pada periode ke 3 sebesar 0.014365, artinya kenaikan NPF sebesar 1% akan mengakibatkan kenaikan return on assets BPRS sebesar 0.014%.

Rangkuman hasil analisis impulse response function untuk model

return on assets pada BPRS terhadap pembiayaan mudharabah,

pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah dan NPF dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

72

Tabel 4.12

Respon return on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia

Guncangan Variabel Respon return on assets BPRS di Indonesia Pembiayaan mudharabah Positif dan permanen

Pembiayaan musyarakah Negatif pada periode dua dan selanjutnya Pembiayaan murabahah Positif dan permanen

NPF Positif dan permanen

Sumber : data diolah

Dari hasil uji IRF diketahui bahwa pembiayaan mudharabah, pembiayaan murabahah dan NPF memiliki respon positif terhadap return

on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia.

Artinya jika return on assets pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah meningkat, maka akan memperbaiki kinerja pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia, serta dapat membantu perekonomian di Indonesia.

Berbeda dengan ketiga variabel lainnya, pembiayaan musyarakah

memiliki respon negatif pada return on assets pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia, hal ini diduga karena pembiayaan bagi hasil (pembiayaan musyarakah) karena mungkin terlalu banyak mengeluarkan biaya operasional untuk mengadakan pemantauan lebih intensif terhadap setiap investasi yang diberikan. Sehingga hal ini akan meningkatkan biaya yang dikeluarkan oleh para banker dalam menjaga efisiensi kinerja lembaga keuangan itu sendiri, selain itu, apabila terjadi kerugian maka

bank akan ikut menanggung kerugian mitra dan bisnis yang dijalankan oleh pengusaha, sehingga akan berpengaruh terhadap jumlah return on assets

(ROA) yang akan diterima oleh bank.

2. Variance decomposition

Tabel 4.13

Nilai Variance Decomposition Return On Assets (ROA) Varian ce Decom position of ROA:

Period S.E. ROA

LN_MUDH ARABAH LN_MUSY ARAKAH LN_MURAB AHAH NPF 1 0.167996 100.0000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 2 0.223543 96.28682 0.755891 0.033589 1.416139 1.507563 3 0.270653 94.75628 1.730259 0.191870 2.011484 1.310105 4 0.310618 93.75940 2.372839 0.203111 2.199612 1.465037 5 0.345829 93.14359 2.745929 0.195118 2.357974 1.557392 6 0.377779 92.78436 2.934011 0.185259 2.481915 1.614458 7 0.407186 92.57889 3.013415 0.178435 2.589225 1.640032 8 0.434594 92.46280 3.036889 0.175245 2.680344 1.644726 9 0.460366 92.39371 3.036253 0.174794 2.756056 1.639186 10 0.484768 92.34762 3.028520 0.175981 2.817970 1.629911 Sumber : ouput eviews 7 (data diolah)

Tabel 4.13 diatas menggambarkan hasil variance decomposition

yang menggambarkan hasil olah data ke lima variabel dalam kurun waktu 10 periode kedepan. Hasil dari uji ini menerangkan mengenai proporsi

74

dari pergerakan pengaruh shock pada sebuah variabel lainnya yang dapat dilihat pada periode saat ini dan periode yang akan datang.

Dari tabel diawal periode pembiayaan mudharabah, pembiayaan

musyarakah, pembiayaan murabahah, dan NPF tidak memberikan

pengaruh terhadap Return on Assets (ROA), hal ini dapat dilihat bahwa nilai pengaruh dari Return on Assets (ROA) itu sendiri adalah 100%. Pada periode kedua hingga ke sepuluh pun return on assets (ROA) masih tetap memimpin dibandingkan variabel lainnya, dapat dilihat pada periode dua yaitu pembiayaan mudharabah hanya 0,75% , musyarakah 0,33%,

murabahah 1,41%, dan NPF 1,50%.

Hasil uji variance decomposition tingkat pembiayaan mudharabah

mempengaruhi nilai return on assets (ROA) sebesar 3,02% di akhir periode. Nilai pengaruh yang ditunjukkan sangat besar, karena nilai pengaruh terlihat dari periode awal hingga akhir periode menunjukkan pergerakan naik dan stabil. Nilai pembiayaan musyarakah mempengaruhi nilai return on assets sebesar 0,17%, nilai pembiayaan murabahah

mempengaruhi nilai return on assets sebesar 2,81%, dan nilai NPF mempengaruhi nilai return on assets sebesar 1,62% di akhir periode.

75

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari pengujian vector error correction model (VECM) tentang pengaruh pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah dan NPF terhadap return on assets pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia selama periode 2010-2015, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Berdasarkan pengujian dengan menggunakan uji VECM menunjukkan bahwa variabel independen pembiayaan mudharabah, pembiayaan

musyarakah, pembiayaan murabahah dan NPF secara bersama-sama

mempengaruhi Return On Assets (ROA) dalam jangka pendek dan jangka panjang pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

2. Pengaruh jangka pendek antara variabel pembiayaan mudharabah, pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah dan NPF terhadap

return on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di

Indonesia dapat dilihat dari hasil uji estimasi VECM, kesimpulannya adalah :

a. Pengaruh pembiayaan mudharabah terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka pendek adalah negatif dan tidak signifikan.

76

b. Pengaruh pembiayaan musyarakah terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka pendek adalah negatif dan tidak signifikan.

c. Pengaruh pembiayaan murabahah terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka pendek adalah positif dan signifikan.

d. Pengaruh NPF terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka pendek adalah negatif dan tidak signifikan. 3. Pengaruh jangka panjang antara variabel pembiayaan murabahah,

pembiayaan musyarakah, pembiayaan murabahah dan NPF terhadap

return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dapat dilihat dari hasil

uji estimasi VECM, kesimpulannya adalah :

a. Pengaruh pembiayaan mudharabah terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka panjang yaitu positif dan signifikan.

b. Pengaruh pembiayaan musyarakah terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka panjang yaitu negatif dan tidak signifikan.

c. Pengaruh pembiayaan murabahah terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka panjang yaitu negatif dan tidak signifikan.

d. Pengaruh NPF terhadap return on assets Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dalam jangka panjang yaitu positif dan signifikan

4. Hasil analisis Impulse Response Function (IRF) terhadap respon return on

assets (ROA) Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia akibat

guncangan (shock) dari variabel pembiayaan mudharabah, pembiayaan

musyarakah, pembiayaan murabahah dan NPF periode 2010-2015 adalah

sebagai berikut :

a. Pembiayaan mudharabah memiliki respon positif dan permanen di awal periode hingga akhir periode terhadap return on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia.

b. Pembiayaan musyarakah memiliki respon negatif dan permanen di awal periode hingga akhir periode terhadap return on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia.

c. Pembiayaan murabahah memiliki respon positif dan permanen di awal periode hingga akhir periode terhadap return on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia.

d. NPF memiliki respon positif dan permanen di awal periode hingga akhir periode terhadap return on assets (ROA) pada Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia.

78

B. Saran

Saran yang dapat penulis berikan setelah melakukan penelitian dan mendapatkan hasil dari penelitian ini adalah :

1. Bagi Bank Pembiayaan Rakyat Syariah di Indonesia haruss lebih meningkatkan pembiayaan dalam bentuk bagi hasil (mudharabah dan

musyarakah) dan pembiayaan jual beli (murabahah), karena bagaimanapun

juga pembiayaan bagi hail merupakan produk unggulan yang dimiliki oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, oleh karena itu bagi para praktisi diharapkan mampu untuk meningkatkan kinerja Bank Pembiayaan Rakyat Syariah masing-masing sehingga BPRS di Indonesia terus mengalami peningkatan. Peningkatan kinerja dapat berupa peningkatan dalam menganalisa calon nasabah yang harus memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi, sehingga mengurangi resiko pembiayaan bermasalah.

2. Bagi para nasabah, khususnya yang melakukan pembiayaan bagi hasil

(mudharabah dan musyarakah) seharusnya memiliki modal moral dan

tanggung jawab yang besar terlebih dahulu sebelum melakukan kontrak kerjasama. Sehingga dapat mengurangi resiko berupa pembiayaan bermasalah yang akan dialami oleh pihak bank syariah. Jika di antara pihak bank dan nasabah memiliki rasa kepercayaan (trust), kehati-hatian (prudent) dan tingkat pengembalian sesuai dengan kesepakatan, maka semua produk yang dikeluarkan oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah dapat berjalan dengan baik.

3. Bagi penelitian berikutnya agar dapat melanjutkan dan memperpanjang periode waktu penelitian serta dapat menggunakan variabel-variabel yang mungkin dapat mempengaruhi pembiayaan BPRS di Indonesia. sehingga dapat memberikan hasil penelitian yang lebih akurat dan lebih baik.

80