• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Lingkungan Eksternal

atau menjalankan ibadah sholat. Disela-sela jam tersebut karyawan juga melakukan persiapan untuk jam makan berikutnya seperti menggoreng ayam, membuat minuman teh, menanak nasi, mencetak dan membungkusnya.

Saat ini F-Chick mempekerjakan enam orang karyawan. Terdiri dari tukang potong ayam, pelayan dan kasir. Empat orang karyawan yang bekerja shift sebagai pelayan dan kasir di kantin memperoleh upah sebesar Rp 700.000/bulan dan uang harian Rp 10.000. Jam kerja shift pertama dimulai pukul 07.00 WIB sampai dengan 14.30 WIB dan jam kerja shift kedua yaitu 14.30 WIB - 21.00 WIB. Satu orang karyawan yang bertugas di kantin diberi gaji harian Rp 60.000 dan uang makan Rp 20.000, karena jam kerjanya yang lebih panjang yaitu dari pukul 07.00 WIB -21.00 WIB. Karyawan di bagian pemotongan ayam diberi upah Rp 800.000/bulan. Sistem perekrutan dilakukan ketika ada posisi yang kosong dan pada saat diterima, karyawan langsung bekerja sambil didampingi oleh pemilik usaha untuk di-training.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Lingkungan Eksternal

Analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan dan kejadian-kejadian yang berada di luar kendali suatu usaha. Analisis yang dilakukan berfokus pada faktor-faktor kunci yang menjadi ancaman dan peluang bagi suatu usaha, sehingga memudahkan manajemen untuk menentukan strategi-strategi dalam meraih peluang serta menghindari ancaman. Pada penelitian ini, analisis dilakukan secara bersama-sama dengan pemilik dan pengelola UKM.

Analisis Lingkungan Makro

Lingkungan makro merupakan segala sesuatu yang berada di luar kendali suatu usaha tetapi sangat berpengaruh terhadap kelangsungan bisnis. Lingkungan makro biasanya tidak berhubungan secara langsung dengan situasi operasional UKM. Identifikasi faktor-faktor eksternal lingkungan makro bertujuan untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan dan kejadian-kejadian yang berada di luar kendali. Faktor-faktor lingkungan makro yang mempengaruhi UKM antara lain faktor kebijakan pemerintah, ekonomi, sosial budaya dan demografi.

1. Faktor Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga gas elpiji 12 kg, tarif dasar listrik (TDL) dan dalam waktu dekat akan disusul dengan kenaikan harga BBM, tentunya akan berdampak langsung pada usaha kecil yang bergerak di bidang kuliner tidak terkecuali F-Chick. Dalam menjalankan usahanya F-Chick menggunakan gas elpiji non subsidi 12 kg, maka dengan naiknya harga elpiji dirasakan cukup memberatkan. Selain itu dengan kenaikan TDL, biaya operasional sehari-hari pun menjadi meningkat. Hal ini menjadi dilema bagi F-Chick, karena meskipun biaya operasional naik, F-Chick tidak bisa serta merta menaikkan harga produknya.

2. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi dapat mempengaruhi daya beli dan pola konsumsi masyarakat. Kondisi ekonomi yang semakin membaik, diiringi dengan peningkatan daya

beli masyarakat memungkinkan adanya peningkatan permintaan pasar terhadap suatu produk.

Faktor ekonomi yang paling mempengaruhi jalannya usaha kecil F-Chick adalah ketidakstabilan harga-harga atau kenaikan harga bahan baku misalnya daging ayam karkas, beras, gas elpiji, kertas laminasi. Harga ayam biasanya naik ketika menjelang bulan puasa sampai lebaran idul fitri, namun setelah lebaran harga mulai berangsur stabil. Kenaikan gas elpiji 12 kg dalam satu tahun ini juga dirasakan cukup berat bagi usaha kecil seperti F-Chick. Sedangkan untuk kertas laminasi pernah mengalami kenaikan yang cukup tajam ketika melemahnya kurs rupiah terhadap dolar, karena kertas tersebut masih diimpor. Namun hal tersebut masih bisa diatasi dengan cara mencari supplier baru.

Mempunyai lebih dari satu supplier, F-Chick dapat melakukan negosiasi harga. Ketika harga bahan-bahan tersebut naik, pedagang tidak bisa serta-merta menaikkan harga produknya atau mengubah ukuran produk menjadi lebih kecil

karena hal tersebut dapat menyebabkan pelanggan berpindah ke pesaing. Parameter kondisi ekonomi makro suatu negara adalah dengan melihat laju

inflasi dan laju pertumbuhan yang diukur dengan Product Domestic Bruto (PDB) dan Gross Domestik Product (GDP) per kapita. Kondisi ekonomi Indonesia dipertengahan tahun 2014 tingkat inflasi yang terjadi sebesar 7,25 persen, lebih kecil dibandingkan tingkat inflasi tahun 2013 sebesar 8,79 persen. Dari kondisi tersebut dapat dilihat di tahun 2014 pemerintah dan Bank Indonesia (BI) berhasil menekan laju inflasi dengan cukup signifikan (Lampiran 1).

Hal tersebut mengindikasikan adanya perubahan kondisi ekonomi Indonesia menjadi lebih baik. Nilai PDRB atas dasar harga konstan yang dihasilkan oleh Kabupaten Bogor mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan adanya korelasi yang positif antara laju pertumbuhan ekonomi dengan nilai PDRB yang dihasilkan, dimana laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor pada tahun 2014 semakin baik yang diiringi dengan peningkatan nilai PDRB yang dihasilkan.

3. Faktor Sosial, Budaya dan Demografi

Sebagai produk agribisnis, peningkatan konsumsi daging ayam juga dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan masyarakat. Salah satu potensi adanya peningkatan kebutuhan masyarakat tersebut dapat dilihat dari jumlah populasi penduduk. Karena kekuatan ekonomi makro pertama yang dipantau oleh pemasar adalah populasi, karena oranglah yang membentuk pasar (Kotler, 2002). Di Kabupaten Bogor pertambahan penduduk mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kabupaten Bogor merupakan kabupaten dengan penduduk tertinggi di Jawa Barat yaitu sebanyak 4,7 juta jiwa (BPS Kabupaten Bogor 2010). Kondisi tersebut bagi F-Chick merupakan peluang dalam meningkatkan kapasitas penjualan ayam goreng fast food.

Tingkat pendidikan konsumen F-Chick yang mayoritas mahasiswa juga turut mempengaruhi pembelian produk-produk kuliner. Pada umumnya mahasiswa lebih memilih makanan yang murah, hemat dan mengenyangkan, namun hal tersebut tidak lantas membuat mereka asal memilih dalam membeli makanan. Tingkat pendidikan yang tinggi diikuti dengan bertambahnya wawasan dan pengetahuan konsumen, meningkatkan kesadaran untuk cermat dalam

mengonsumsi produk-produk kuliner. Perubahan gaya hidup, pola konsumsi dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi menyebabkan tingginya minat masyarakat terhadap produk makanan cepat saji seperti ayam goreng fast food. 4. Faktor Teknologi

Penggunaan teknologi dalam UKM akan memberikan efektifitas dan efisiensi yang akan berpengaruh terhadap biaya operasional UKM. Pengunaan teknologi juga dapat menciptakan pasar baru dan pola konsumsi pasar. Teknologi yang senantiasa berkembang harus selalu diikuti oleh setiap perusahaan yang ingin maju dan berkembang tak terkecuali F-Chick. Adaptasi teknologi yang kreatif akan berdampak pada perencanaan UKM melalui perkembangan produk baru atau perbaikan produk lama dan peningkatan pemasaran. Beberapa kemajuan teknologi yang terjadi antar lain di bidang transportasi, komunikasi dan informasi, proses produksi pengolahan dan pengemasan, akan berpengaruh terhadap perkembangan usaha.

F-Chick menggunakan mobil jenis pick up yang digunakan untuk mengirim ayam potong yang sudah dibumbui setiap harinya ke kantin. Mobil ini juga digunakan untuk berbelanja bahan baku dan mengantar pesanan ke pelanggan bila ada pesanan dalam jumlah besar. Untuk pesanan di bawah 100 porsi digunakan sepeda motor sebagai alat transportasinya. Penggunaan mobil pick up dan sepeda motor memberikan pengaruh besar terhadap efektivitas dan efisiensi pemasaran baik dilihat dari efisiensi biaya maupun waktu.

Keperluan komunikasi baik dengan karyawan, supplier dan pelanggan, digunakan telepon genggam atau handphone. Selain alat transportasi dan alat komunikasi, F-Chick menggunakan komputer untuk membuat laporan keuangan sederhana. Komputer dilengkapi dengan akses internet untuk memudahkan proses transaksi online, mencari ide untuk resep baru dan informasi lain yang berguna untuk pengembangan usaha ayam goreng fast food. Dalam proses produksi pengolahan dan pengemasan, F-Chick menggunakan kompor deep fryer dengan pengatur suhu, freezer khusus penyimpanan ayam, mesin pengaduk dan kertas laminasi sebagai pembungkus nasi.

Untuk menentukan apa saja yang menjadi faktor-faktor strategis eksternal dari lingkungan makro, dilakukan wawancara dan diskusi dengan para pakar fried chicken. Para pakar ini terdiri dari para pengusaha ayam goreng fast food yang sudah bertahun-tahun menjalankan usaha fried chicken. Proses wawancara dilakukan selain untuk memberi penilaian juga gambaran umum dari usaha para pakar.

1. Rahman, owner Family Fried Chicken

Rahman menjalankan usaha fried chicken sejak tahun 1997. Ia membuka kios Family Fried Chicken di teras rumahnya yang terletak di pinggir jalan utama perumahan Mangun Jaya II, Tambun Bekasi. Pendapat Rahman mengenai pengaruh faktor eksternal dari lingkungan makro, salah satunya menurut beliau adalah laju inflasi. Laju inflasi berpengaruh pada peningkatan harga bahan baku. Sedangkan harga jual produk tetap, hal ini membuat keuntungan yang didapat menjadi berkurang. Perkembangan teknologi juga sangat membantu, terutama dalam komunikasi. Dalam penyimpanan bahan baku, display produk, teknologi juga diperlukan agar ayam tetap dalam kondisi baik serta agar produk nampak menarik dimata konsumen. Namun dalam

mengolah atau menggoreng tidak harus selalu menggunakan teknologi canggih. Misalkan saat menggoreng, terkadang bagi pengusaha pemula diperlukan latihan untuk mengasah feeling dalam menggoreng ayam. Menggoreng dengan penggorengan biasa akan melatih skill seseorang untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan agar ayam matang sempurna dan pas kerenyahannya serta bagaimana teknik mengatur api. Perubahan pola konsumsi masyarakat menurut Rahman juga dinilai sebagai salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi usaha ayam goreng fast food. Berdasarkan pengalamannya, penjualan Family Fried Chicken mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, dan sebagian besar konsumen Family Fried Chicken adalah ibu rumah tangga yang tidak sempat untuk memasak untuk keluarganya. Selain itu menurut Rahman, menjamurnya usaha ayam potong baik skala besar maupun kecil, turut mendukung perkembangan usaha ayam goreng fast food.

2. Rama, owner Chicken Corner7

Usaha ini dimiliki oleh Rama seorang sarjana lulusan IPB yang memilih untuk berkecimpung di dunia bisnis. Rama menjalankan usahanya dengan konsep mini resto dan memasarkannya dalam bentuk franchise. Bisnis yang digelutinya itu kini sudah memiliki sepuluh cabang di Tangerang dan Jakarta. Menurut Rama, ia melihat faktor gaya hidup masyarakat sekarang menjadi peluang yang cukup baik untuk ditangkap para wirausahawan, khususnya di bidang ayam goreng fast food. Bantuan kredit juga dirasakan memberi manfaat besar bagi pengusaha kecil yang ingin mengembangkan usahanya. Pertumbuhan usaha ayam potong juga memudahkan para pengusaha fried chicken dalam hal penyediaan bahan baku.

3. Gun Gun, owner Hot Crispy

Hot Crispy merupakan salah satu merk ayam goreng fast food yang sudah cukup populer di lingkar kampus IPB Dramaga. Usaha ini berdiri pada tahun 2006 dan memiliki ciri khas yaitu nasi yang dibungkus daun pisang seperti nasi timbel dan citarasa ayamnya yang gurih pedas. Lokasi Hot Crispy berada di pinggir jalan raya Dramaga KM 9 yang merupakan daerah ramai dan dilewati jalur lalu lintas. Penilaian Gun Gun mengenai lingkungan makro, tersedianya kredit usaha memberikan manfaat yang besar bagi pengusaha kecil yang ingin mengembangkan usaha namun memiliki modal terbatas. Bertambahnya jumlah penduduk di Bogor khususnya di lingkar kampus IPB menjadi peluang untuk menekuni bisnis. Gun Gun mencoba berinovasi dalam menjual produknya yaitu dengan konsep mini resto. Ia melihat adanya perubahan gaya hidup pada masyarakat sekitar dimana banyak orang yang lebih senang makan bersama keluarga atau teman-temannya di luar rumah. Pada akhir minggu, lokasi tersebut bertambah ramai dengan adanya pasar kaget dan orang-orang yang berolahraga pagi. Gun Gun mencoba memanfaatkan peluang tersebut untuk mendulang keuntungan. Hot Crispy dapat menjadi pilihan untuk konsumen yang ingin makan di luar rumah dengan harga terjangkau. Dalam hal teknologi juga sangat membantu, dengan kecanggihan teknologi ayam goreng fast food dapat diproduksi dengan cepat, dan disajikan dengan kondisi yang terjaga kualitasnya. Kemudahan memperoleh pasokan bahan baku yaitu ayam karkas dinilai Gun Gun merupakan faktor pendukung tumbuhnya usaha ayam goreng fast food.

Analisis Lingkungan Industri

Analisis lingkungan industri dilakukan berdasarkan kondisi F-Chick dalam industri yang digelutinya. Variabel-variabel yang dilihat dalam penelitian ini adalah persaingan antar perusahaan/UKM dalam industri kekuatan tawar-menawar pembeli, kekuatan tawar-tawar-menawar pemasok.

1. Persaingan dalam Industri atau Perusahaan Sejenis

Menurut Porter (1997), tingkat persaingan dipengaruhi oleh 6 faktor, yakni: (a) jumlah kompetitor, (b) tingkat pertumbuhan industri, (c) karakteristik produk, (d) biaya (produksi) tetap yang besar, (e) kepastian produksi, dan (f) besarnya hambatan yang keluar berupa aset dan idealisme bisnis.

Ayam goreng fast food merupakan produk olahan daging ayam broiler yang sudah lama dikenal masyarakat. Proses pembuatannya relatif mudah karena untuk membuat ayam goreng tepung tersebut bisa dengan menggunakan peralatan dapur sederhana. Perbedaan produk ayam goreng satu dengan lainnya terletak pada ukuran, bumbu dan cara membalut tepung agar terasa renyah (crispy). Perbedaan tersebut dapat menjadi ciri khas, produk dengan ukuran potongan ayam yang besar, rasa yang enak dan tepung yang renyah tentunya akan lebih disukai konsumen. Selain itu modal yang dibutuhkan untuk melakukan usaha pengolahan ini tidak terlalu besar. Rendahnya hambatan masuk pada industri ayam goreng fast food ini menjadi ancaman besar bagi perusahaan yang sudah berjalan saat ini termasuk F-Chick. Perusahaan dengan modal besar maupun kecil akan dengan mudah memasuki industri ini.

Persaingan yang terjadi dalam industri ayam goreng fast food ini cukup kompetitif. Kondisi ini dapat dilihat dari banyaknya produk yang bermunculan di wilayah Bogor, khususnya di sekitar kampus IPB. Produk yang dijual ada yang menggunakan booth sederhana seperti Hisana Fried Chicken maupun dengan konsep mini resto seperti Hot Crispy dan D’Besto. Perusahaan dengan modal besar Giant Fried Chicken juga sudah mulai merambah persaingan usaha di daerah Dramaga. Bertambahnya jumlah perusahaan dalam industri ini menunjukkan semakin tingginya tingkat persaingan yang terjadi.

Persaingan yang tinggi dalam industri ayam goreng fast food, membuat para pengusaha ayam goreng fast food mencoba menerapkan strategi diferensiasi untuk menciptakan perbedaan dan memberikan nilai lebih kepada para konsumen, yaitu dengan menciptakan image produk yang unik atau berbeda dengan ayam goreng fast food pada umumnya. Misalkan produk ayam goreng tepung dengan rasa pedas yang dihidangkan dengan nasi timbel (Hot Crispy), ayam goreng tepung super pedas (Hisana Fried Chicken), ayam goreng tepung dengan sambal tradisional (Hot-Hot Crispy), atau ayam goreng tepung yang disajikan dengan cara diiris-iris terlebih dahulu dengan aneka bentuk (Alabama Fried Chicken). Strategi ini dibuat para pesaing untuk mengatasi kejenuhan pasar, menciptakan image produk dan loyalitas konsumen.

2. Ancaman Masuknya Pesaing Baru

Usaha ayam goreng fast food atau fried chicken ini tidak memerlukan skala ekonomi yang besar dan untuk memulai usaha ini kebutuhan modal awal relatif kecil, sehingga dapat dilihat bahwa hambatan untuk memasuki industri ini rendah. Rendahnya hambatan masuk ini menjadi ancaman, karena masuknya pendatang baru potensial yang mampu bersaing pada usaha ini tergolong cukup tinggi.

3. Ancaman Produk Substitusi

Produk substitusi adalah produk yang memiliki karakteristik yang berbeda, namun ia dapat memberikan fungsi atau jasa yang sama. Oleh sebab itu munculnya produk substitusi ayam goreng tepung akan mengancam jumlah permintaan ayam goreng tepung apalagi kalau produk substitusi tersebut memiliki harga lebih rendah. Pada ayam goreng fast food yang tergolong sebagai produk substitusi khususnya di lingkar kampus IPB adalah ayam bakar, ayam penyet, ayam goreng kremes, masakan sunda, masakan padang, dan lain-lain. Dengan adanya produk substitusi, konsumen dihadapkan pada berbagai pilihan sehingga perusahaan harus memperhatikan hal ini dan kreatif dalam menawarkan produknya karena banyaknya produk substitusi yang juga mengincar segmen pasar yang sama.

4. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli

Kekuatan pembeli dalam industri ditentukan oleh karakter pasarnya dan kepentingan relatif pembeli dari industri yang bersangkutan. Sasaran utama F-Chick adalah mahasiswa IPB khususnya mahasiswa TPB. Banyaknya pilihan produk menyebabkan pembeli dihadapkan pada beberapa pilihan tergantung selera dan tingkat kesukaan pembeli. Oleh karena itu pembeli memiliki posisi tawar menawar yang kuat, hal ini dapat menjadi ancaman bagi F-Chick. Berkembangnya industri yang bergerak di bidang restoran yang menawarkan produk olahan daging ayam menguntungkan pembeli karena banyaknya perusahaan yang menawarkan produk-produk yang relatif sama. Kondisi ini menyebabkan pembeli memiliki pilihan produk yang banyak, sehingga pembeli dengan mudah dapat berpindah dari suatu produk ke produk lainnya jika kebutuhan atau permintaan mereka tidak dapat dipenuh.

5. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok

Pemasok merupakan pihak yang dibutuhkan dalam penyediaan bahan baku untuk kelangsungan proses produksi. Ada beberapa pemasok yang menyuplai kebutuhan daging ayam broiler F-Chick yaitu Mama Food, Pangan Guna Sejahtera, Buitenzorg Food dan Lotte Mart. Ayam yang digunakan F-Chick adalah ayam karkas berukuran 0,98-1 kilogram. Apabila satu pemasok tidak dapat memenuhi kebutuhan Chick sesuai dengan yang dibutuhkan, maka F-Chick dapat memesan kepada pemasok yang lainnya. Dari keempat pemasok tersebut yang menjadi pemasok utama adalah Mama Food, karena sistem pembayaran yang mudah, adanya layanan pesan antar dan stok ayam yang sesuai permintaan juga cukup stabil. Selain tiga pemasok tadi ada juga pengusaha-pengusaha ayam broiler yang kerap menawarkan produknya kepada F-Chick. Jadi untuk bahan baku utama, F-Chick mempunyai banyak pilihan sehingga kekuatan tawar menawar pemasok tidak begitu berpengaruh.

Untuk bahan-bahan seperti beras, minyak goreng, saus sambal dan gas elpiji dapat diperoleh melalui toko-toko langganan. Sedangkan untuk bahan-bahan lain seperti bumbu marinasi F-Chick bekerjasama dengan supplier bumbu di luar Bogor, untuk kemasan seperti paper bag dan kotak karton F-Chick masih bekerjasama dengan perusahaan percetakan di kota Bogor. Khusus untuk bumbu posisi pemasok kuat, karena F-Chick tidak pernah berganti pemasok untuk menjaga kualitas.

Berikut ini adalah pendapat para pakar mengenai faktor-faktor strategis eksternal dari lingkungan industri. Rahman, owner Family Fried Chicken

berpendapat bahwa persaingan dalam usaha akan selalu ada. Saat ini di dekat perumahan Rahman tinggal dan menjalankan usaha, sudah berdiri restoran ayam goreng fast food California Fried Chicken dan Sabana Fried Chicken. Semakin banyaknya pesaing menuntut pengusaha fried chicken untuk terus menjaga kualitas produknya agar pelanggan tidak berpindah ke pesaing. Agar produksi tetap stabil dan bahan baku yang berkualitas selalu tersedia, hubungan yang baik dengan pemasok harus selalu dijaga.

Rama, owner Chicken Corner7 menilai bahwa persaingan dalam industri ayam goreng fast food semakin ketat sehingga para pengusaha ayam goreng fast food harus pandai berinovasi baik dalam produk maupun cara berpromosi, atau bisa juga dengan menerapkan strategi backward integration seperti yang saat ini dijalaninya. Selain menjual ayam goreng fast food dan sistem bisnisnya (waralaba), Rama juga bekerjasama dengan supplier kemasan untuk mendistribusikan paperbag dan kertas laminasi kepada para pengusaha kecil ayam goreng fast food.

Gun Gun, owner Hot Crispy berpendapat mengenai lingkungan industri yaitu makin ketatnya persaingan memang akan sangat menguntungkan bagi konsumen, karena semakin banyak pilihan yang ditawarkan, baik dari segi jenis makanan, kualitas, harga dan pelayanan. Menurut Gun Gun, lingkungan kampus merupakan pasar yang sangat potensial bagi pengusaha ayam goreng fast food, sehingga tidak heran apabila jumlah pendatang baru yang menjual produk sejenis di lingkar kampus IPB semakin banyak. Hal ini juga disebabkan untuk memulai usaha ayam goreng fast food tidak diperlukan modal yang besar. Karena itu sangat penting untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas produk. Hot Crispy juga menjual aneka minuman jus dan kue-kue untuk memenuhi keinginan konsumen. Hot Crispy memiliki banyak pemasok untuk bahan baku utama sehingga kekuatan tawar menawar Hot Crispy dengan pemasok dapat dikatakan cukup kuat.

Analisis Lingkungan Internal

Analisis lingkungan internal merupakan tahap pengkajian faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan dalam suatu perusahaan. Faktor-faktor dari lingkungan internal F-Chick adalah sebagai berikut:

1. Sumberdaya Manusia

Sumberdaya manusia dalam UKM merupakan aset yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam menjalankan roda usaha. Tenaga kerja yang ada di F-Chick saat ini berjumlah 7 orang, dengan alokasi jumlah yang berbeda-beda pada setiap bagian. Berdasarkan latar belakang pendidikan terakhir, Tenaga kerja F-Chick memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari lulusan sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas.

Sistem penerimaan tenaga kerja dilakukan secara sederhana, yaitu dengan wawancara atau berbicara langsung kepada pemilik F-Chick, tidak ada syarat-syarat khusus penerimaan tenaga kerja, yang diperhatikan hanya kemauan, kemampuan, dan loyalitas kepada pekerjaan yang akan ditekuni. Dalam menjalankan tugasnya, keterampilan tenaga kerja sangat mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan nantinya, terutama untuk bagian menggoreng,

memotong ayam dan membumbui. Keahlian ini akan terasah diperoleh dari kebiasaan dan rutinitas mereka bekerja setiap hari.

Seperti kebanyakan usaha kecil pada umumnya, masalah sumberdaya manusia merupakan salah satu masalah yang krusial bagi F-Chick. Sebagai sebuah usaha kecil, bukan hal yang mudah mendapatkan karyawan yang tepat baik dalam hal keterampilan, kejujuran, kinerja maupun loyalitas. Karena tidak adanya divisi khusus untuk merekrut karyawan. Dalam kurun waktu 1 tahun

Dokumen terkait