Analisis lingkungan internal merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan Peternakan pada area fungsional bisnis, termasuk manajemen sumber daya manusia, pemasaran, keuangan atau akuntansi, produksi atau operasi , penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi manajemen. Analisis lingkungan internal Peternakan dilakukan untuk mengetahui faktor – faktor internal yang menjadi kekuatan dan kelemahan dari pemasaran.
Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki digunakan untuk memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman yang berasal dari lingkungan eksternal peternakan.
Berikut ini akan dibahas faktor – faktor internal dari Peternakan : Manajemen Sumber Daya Manusia
Peternakan Puyuh Mempunyai satu orang manajer yang sekaligus sebagai pemilik peternakan dan dua orang karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar lokasi peternakan yaitu Desa Pematang Serai Kecamatan Tanjung Pura.
Keterampilan dan pengalaman kerja karyawan menjadi suatu hal yang sangat penting dikarenakan dalam proses pembudidayaan puyuh diperlukan pengetahuan dan ketelitian agar proses budidaya dapat berjalan dengan lancar.
Hari kerja karyawan adalah tujuh hari kerja atau dengan kata lain karyawan bekerja setiap hari dalam satu minggu. Hal ini dikarenakan proses produksi dan pemeliharaan puyuh berlangsung setiap hari. Kegiatan operasional peternak dimulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Waktu istirahat untuk karyawan selama satu jam yaitu pada pukul 12.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB. Sehingga dalam satu hari karyawan hanya bekerja selama
28
29
delapan jam. Jika karyawan bekerja lebih dari waktu kerja yang telah ditetapkan maka mendapatkan uang lembur sebesar Rp. 5.000 per jam atau jika dalam satu hari penuh karyawan diminta untuk bekerja ekstra maka pihak manajemen akan memberikan uang lembur sebesar Rp. 20.000 per hari. Pemberian uang lembur ini merupakan salah satu kegiatan pemberian motivasi yang dilakukan oleh pihak Peternakan untuk meningkatkan semangat kerja karyawan.
Selain mendapatkan uang lembur jika bekerja diluar jam kerja, pihak manajemen juga memberikan bonus pada hari raya atau Tunjangan Hari Raya (THR). Besarnya THR yang diberikan kepada para karyawan adalah sama dengan satu bulan gaji. Hal ini dilakukan agar loyalitas karyawan terhadap Peternakan tetap terjaga dan sebagai bentuk perhatian pihak peternakan terhadap para karyawan yang telah membantu kegiatan operasional peternakan. Penentuan besarnya gaji yang diterima oleh setiap karyawan didasarkan pada pengalaman, keterampilan,tugas dan tanggung jawab serta lamanya bekerja. Semakin lama bekerja, semakin terampil dan semakin berat tugas yang menjadi tanggung jawabnya maka seorang karyawan akan mendapatkan gaji yang lebih besar dibandingkan dengan karyawan yang baru bekerja dan belum berpengalaman.
Pemasaran
Proses pemasaran produk yang dihasilkan oleh Peternakan Puyuh di dusun II Desa Pematang Serai Kecamatan Tanjung Pura selama ini dilakukan dengan mendatangi langsung calon pembeli ke pasar – pasar dan mempromosikan produk yang dihasilkan. Jika pelanggan tertarik untuk membeli produk proses pemesanan dilakukan dengan menggunakan media handphone atau pembeli yang datang
30
langsung ke peternakan. Proses pemesanan seperti ini dapat berkembang karena telah terjalin kepercayaan antara peternakan dengan pelanggan.
Dalam memasarkan produk yang dihasilkan peternakan menggunakan peti berkapasitas 1.200 butir dan dus berkapasitas 750 butir. peternakan belum memberikan merek pada peti atau kardus yang digunakan untuk memasarkan produk telur puyuh yang dihasilkan. Tidak adanya merek pada peti dan dus yang digunakan oleh peternakan untuk memasarkan produk menjadikan identitas dari produk yang dihasilkan tidak terlihat. Padahal pemberian nama merek atau cap pada suatu produk merupakan hal yang penting sebagai media penanaman brand image yang positif bagi konsumen.
Jika brand equity ini bisa dikelola dengan baik, peternakan akan mendapatkan dua hal. Pertama, para konsumen akan menerima nilai produknya.
Mereka dapat merasakan semua manfaat yang diperoleh dari produk yang mereka beli dan merasa puas karena produk itu sesuai dengan harapan mereka. Kedua, peternak itu sendiri memperoleh nilai melalui loyalitas pelanggan terhadap merek,yaitu peningkatan margin keuntungan, keunggulan bersaing, dan efisiensi serta efektivitas kerja khususnya pada program pemasaran.
Tidak adanya merek pada kemasan membuat produk yang dihasilkan oleh peternakan tidak memiliki perbedaan dengan produk yang dihasilkan oleh pesaing atau tidak memiliki identitas sendiri yang dapat menjamin kualitas dari produk yang dipasarkan. Selain itu, pemberian merek juga bermanfaat sebagai salah satu media promosi untuk memperkenalkan peternakan kepada para pelanggan khususnya calon pelanggan baru. Selama ini pihak peternakan belum melakukan kegiatan promosi secara langsung. Promosi hanya terjadi dari mulut ke mulut
31
pelanggan yang pernah membeli produk kepada peternakan. Hal ini yang menyebabkan wilayah pemasaran dari peternakan masih terbatas yaitu hanya di wilayah Desa Pematang Serai Kecamatan Tanjung Pura. Peternakan menggunakan saluran distribusi langsung yaitu dengan memasarkan produk yang dihasilkan langsung kepada pasar sasaran yaitu pedagang eceran atau bandar pedagang asongan. Pendeknya saluran distribusi yang dipilih oleh peternakan membuat proses pemasaran menjadi lebih efisien. Pemilihan saluran distribusi ini juga didasarkan atas pertimbangan peternakan telah memiliki sarana transportasi sendiri yaitu berupa becak sehingga akan sangat memudahkan dalam proses pemasaran produk.
Penetapan harga yang dilakukan oleh peternakan yaitu dengan menggunakan metode Competition Based Pricing. peternakan menetapkan harga jual produk telur puyuh yang dihasilkan dibawah dari harga pesaing. Harga yang ditetapkan oleh peternakan yaitu Rp. 150 per butir Sedangkan harga yang ditetapkan oleh pesaing di pasar wilayah desa Pematang Serai Kecamatan Tanjung Pura yaitu berkisar antara Rp.180 – Rp.200 per butir.
Analisis Lingkungan Eksternal Peternak
Analisis lingkungan eksternal Peternakan merupakan analisis terhadap lingkungan yang berada di luar peternakan. Analisis lingkungan eksternal bertujuan untuk mengetahui peluang yang dapat dimafaatkan oleh peternakan dan ancaman yang dapat menghambat kemajuan dari peternakan.
Berikut akan dibahas faktor – faktor eksternal dari peternakan yang mungkin dapat menjadi peluang atau ancaman bagi peternakan.
32
Kekuatan Ekonomi
Konsumsi telur puyuh yang terus mengalami peningkatan merupakan suatu indikasi bahwa telur puyuh semakin diminati oleh masyarakat.
Peningkatan konsumsi telur puyuh ini merupakan suatu peluang yang dapat dimanfaatkan oleh peternakan untuk terus mengembangkan usahanya dan meningkatkan jumlah penjualan telur puyuh yang dihasilkan.
Selain itu, meningkatnya konsumen masyarakat juga merupakan indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin meningkat atau semakin membaik. Peningkatan pertumbuhan ekomonomi ini dapat mengambarkan besarnya pendapatan yang diperoleh masayarakat yang akan digunakan untuk pengeluaran konsumsi masyarakat mengalami peningkatan dan merupakan indikasi bahwa tingkat kesejahteraaan masyarakat juga semakin meningkat.
Kekuatan sosial, budaya,demografi,dan lingkungan
Kondisi sosial dan budaya yang menentukan permintaan serta pertumbuhan permintaan terhadap telur puyuh antara lain adalah tren gaya hidup seseorang. Dewasa ini, gaya hidup masyarakat Indonesia semakin peduli terhadap kesehatan. healty lifestyle masuk melalui tren yang kemudian perlahan-lahan berubah menjadi sebuah gaya hidup yang lebih baik di masyarakat.
Adanya tren gaya hidup sehat ini ditandai dengan semakin bijaksananya masyarakat dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan mereka.
Konsumsi pangan yang sesuai dengan tren gaya hidup masyarakat sejalan dengan pencapaian Pola Pangan Harapan (PPH) masyarakat (Tabel 3).
33
Tabel 3. Komposisi Energi,Bobot dan skor pangan dalam Pola Pangan Harapan Kelompok Pangan Energi (kkal) % Energi Bobot Skor Pangan
Padi - padian 1000 50,0 0,5 25,0
Umbi-umbian 120 6,0 0,5 2,5
Pangan Hewani 240 12,0 2,0 24,0
Minyak dan Lemak 200 10,0 0,5 5,0
Buah dan biji berminyak 60 3,0 0,5 1,0
Kacang-kacangan 100 5,0 2,0 10,0
Gula 100 5,0 0,5 2,5
sayur dan buah 120 6,0 5,0 30,0
Lain-lain 60 3,0 0,0 0,0
Total 2000 100 100,0
Sumber : Deptan (2019) Kekuatan Teknologi
Perkembangan teknologi saat ini memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan produktivitas suatu peternak. Perkembangan teknologi di bidang peternakan cukup pesat. Perkembangan teknologi ini terlihat dengan ditemukannya teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas sector peternakan. Perkembangan teknologi biasanya terlihat dari semakin modern alat – alat yang digunakan oleh peternakan sehingga akan sangat membuat proses produksi menjadi semakin efisien dan efektif.
Selain kemajuan teknologi yang terjadi pada proses produksi, perkembangan teknologi dalam bidang informasi dan telekomunikasi juga sangat membantu peternak dalam melakukan komunikasi dengan pihak – pihak di luar
34
peternak baik dengan pelanggan, pemasok ataupun pihak – pihak lain yang memiliki kepentingan.
Saluran Pemasaran Telur Puyuh
Pemasaran merupakan proses kegiatan menyalurkan produk dari produsen kekonsumen. Pemasaran merupakan puncak dari kegiatan ekonomi dalam agribisnis peternakan. Subsistem pemasaran dari agribisnis peternakan puyuh petelur yakni kegiatan-kegiatan untuk memperlancar pemasaran komoditas peternakan berupa telur segar. Peternakan yang telah menghasilkan produk menginginkan telur-telur yang dihasilkan diterima oleh konsumen. Kegiatan pemasaran yang didalamnya termasuk kegiatan distribusi untuk memperlancar arus komoditas dari sentral produksi ke sentral konsumsi, informasi pasar, penyimpanan, pengangkutan, penjualan, promosi.
Saluran pemasaran sangat penting dalam memasarkan produksi yang dihasilkan karena saluran pemasaran dapat mempengaruhi kelancaran penjualan, alternatif biaya, tingkat keuntungan dan lainnya. Dalam kegiatan pemasaran barang dan jasa dari produsen ke konsumen terdapat perantara-perantara yang menjadi jembatan penghubung antara peternak dengan konsumen akhir.
Ada 3 (tiga) tipe saluran pemasaran telur puyuh pada peternakan milik Bapak Salman di Dusun II Desa Pematang Serai Kecamatan Tanjung Pura yaitu : Tipe I : Produsen menjual telur puyuh langsung ke konsumen.
Pada saluran ini Peternakan milik Bapak Salman tidak berhubungan langsung dengan pedagang pengumpul, karena konsumen datang sendiri ke tempat peternakan untuk membeli telur puyuh. Kebanyakan konsumen yang terlibat yaitu dari masyarakat sekitar peternakan yang langsung membeli sendiri
35
sesuai seberapa banyak kebutuhan. Namun biasanya konsumen masyarakat sekitar peternakan hanya membeli telur puyuh untuk konsumsi sehari makan sehingga telur puyuh yang dibeli tidak begitu banyak seperti agen-agen. Harga jual telur puyuh yang dijual produsen kepada konsumen rumah tangga (masyarakat sekitar) sudah dilakukan pemotongan harga, yang biasanya dijual ke konsumen lain Rp.
200/butir namun dijual ke konsumen rumah tangga Rp. 150 s/d Rp. 180 / butir.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
Gambar 2. Tipe I saluran pemasaran telur puyuh bapak Salman
Tipe II : Produsen menjual telur puyuh ke pedagang pengecer dan pedagang