• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAGAN ALIR PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Analisis Proximat Bubuk Daun Kunyit

Tahap awal analisis proximat dimulai dengan pembuatan bubuk daun kunyit. Daun kunyit segar diiris tipis kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 35oC selama 24 jam, lalu digiling dan diayak dengan ayakan 20 mesh. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, analisis proximat terhadap bubuk daun kunyit diperoleh hasil seperti pada Tabel 1 di bawah ini :

Tabel 1. Komposisi Kimia Bubuk Daun Kunyit

Komposisi Jumlah (%) Kadar Air 6,83 Kadar Abu 5,45 Kadar Protein 12,44 Kadar Lemak 6,32 Kadar Karbohidrat 68,96

Keterangan : Dilakukan dengan 5 ulangan, hasil rataan.

Hasil analisis proximat terhadap kadar air bubuk daun kunyit diperoleh sebesar 6,83%. Ini sesuai persyaratan yang ditetapkan Materia Medika Indonesia (MMI) sebesar < 10%. Kadar air yang melebihi dari 10% dapat menjadi media yang baik untuk pertumbuhan jamur pada saat penyimpanan, sehingga mutu simplisia akan menurun.

Ekstrak Daun Kunyit

Pada proses ekstraksi daun kunyit dimulai dari penyediaan sampel 20 kg daun kunyit segar. Daun kunyit dicuci, lalu diiris tipis 2 cm dan kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 35oC selama 24 jam sehingga diperoleh 3,1 kg daun kunyit kering, lalu digiling dan diayak dengan ayakan 20 mesh sehingga diperoleh bubuk daun kunyit. Bubuk daun kunyit kemudian

ditimbang masing-masing 500 g dan dimaserasi dengan menggunakan empat pelarut (air, metanol, etil asetat dan n-heksana) selama 3 hari sehingga diperoleh hasil maserasi pertama larutan berwarna hijau pekat. Kemudian maserasi dilanjutkan dengan proses kedua, ketiga, keempat dan kelima. Hasil maserasi kemudian dikeringkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental daun kunyit. Lalu ditimbang dan diperoleh ekstrak daun kunyit pelarut air : 42,1 g, ekstrak daun kunyit pelarut metanol: 38,7 g, ekstrak daun kunyit pelarut etil asetat : 36,3 g dan ekstrak daun kunyit pelarut n-heksana : 18,6 g.

Ekstrak dari masing-masing pelarut dilanjutkan dengan uji pendahuluan, yaitu aktivitas antimikroba terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae, dan Lactobacillus acidophilus. Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan diketahui bahwa, ekstrak air, metanol dan etil asetat menghambat pertumbuhan bakteri uji, sedangkan ekstrak yang menggunakan pelarut n-heksana tidak menghambat aktivitas pertumbuhan bakteri uji. Oleh karena itu, pada penelitian ekstrak daun kunyit pelarut n-heksana tidak digunakan untuk uji fitokimia dan uji mikrobiologi.

Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Daun Kunyit

Uji fitokimia dilakukan bertujuan untuk mengidentifikasi komponen senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak daun kunyit. Komponen senyawa bioaktif yang diuji pada penelitian ini yaitu : alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, uji fitokimia ekstrak daun kunyit dengan pelarut air, metanol dan etil asetat menunjukkan adanya beberapa senyawa seperti pada Tabel 2 di bawah ini :

Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Daun Kunyit Dengan Pelarut Air, Metanol dan Etil Asetat

Komponen Senyawa Bioaktif

Pelarut Ekstrak Daun Kunyit

Air Metanol Etilasetat

Alkaloid - + + Flavonoid + + + Glikosida + + + Saponin + + + Tanin + + + Steroid/Triterpenoid - - +

Keterangan : (+) = Mengandung golongan senyawa (-) = Tidak Mengandung golongan senyawa

Dari hasil skrining fitokimia diketahui bahwa senyawa alkaloid diperoleh dari ekstrak daun kunyit yang menggunakan pelarut metanol dan etil asetat. Senyawa flavonoid, glikosida, saponin dan tanin diperoleh dari ekstrak daun kunyit dengan pelarut air, metanol dan etil asetat. Sementara untuk senyawa steroid/triterpenoid hanya diperoleh dari ekstrak daun kunyit yang menggunakan pelarut etil asetat.

Metanol dan etil asetat merupakan pelarut organik, sehingga alkaloid dapat tertarik pada pelarut tersebut. Alkaloid adalah senyawa yang bersifat polar. Dalam bentuk bebas, alkaloid merupakan basa lemah yang sukar larut dalam air tetapi mudah larut dalam pelarut organik (Rusdi, 1998).

Flavonoid umumnya lebih mudah larut dalam air atau pelarut polar dikarenakan memiliki ikatan dengan gugus hidroksil (Markham, 1988). Glikosida merupakan senyawa yang mengadung komponen gula dan non gula. Saponin pada umumnya berada dalam bentuk glikosida sehingga cenderung bersifat polar (Harborne, 1987). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang dapat menimbulkan busa jika dikocok dalam air. Hal tersebut terjadi karena saponin memiliki gugus polar dan non polar yang akan membentuk misel. Pada saat misel terbentuk gugus polar akan menghadap keluar dan gugus non polar menghadap

kedalam tampak seperti busa (Robinson, 1991). Air dan metanol adalah pelarut polar, sementara etil asetat merupakan pelarut semi polar, dan ketiga pelarut ini dapat menarik senyawa flavonoid maupun glikosida yang terkandung pada bahan.

Golongan tanin yang merupakan senyawa fenolik cenderung larut dalam air dan cenderung bersifat polar (Harborne, 1987). Pengujian tanin menunjukkan bahwa tanin yang terkandung di dalam ekstrak merupakan tanin kondensasi karena terbentuk warna hijau kehitaman setelah ditambahkan dengan FeCl3 (Sangi

et al., 2008). Air dan metanol adalah pelarut polar, sementara etil asetat merupakan pelarut semi polar, sehingga tanin dapat tertarik pada ketiga pelarut tersebut.

Terpenoid bersifat larut dalam lemak, salah satu golongan terpenoid yang berpotensi sebagai antimikroba adalah triterpenoid. Sedangkan steroid adalah golongan lemak dan merupakan bagian dari triterpenoid (Harborne, 1987). Sehingga senyawa-senyawa ini cenderung larut dalam pelarut non polar, dan oleh sebab itu pada uji streroid/triterpenoid ekstrak daun kunyit, hanya yang mengunakan pelarut etil asetat yang dapat menarik senyawa tersebut, dimana air dan metanol merupakan pelarut polar, sedangkan etil asetat merupakan pelarut semi polar.

Oleh karena itu, pemilihan pelarut pada proses ekstraksi sangat penting.

Menurut Voight (1994), proses penarikan bahan (ekstraksi) terjadi dengan mengalirnya pelarut ke dalam sel bahan yang menyebabkan protoplasma membengkak, dan kandungan sel dalam bahan akan terlarut sesuai dengan kelarutannya. Daya melarutkan yang tinggi berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran bahan yang diekstraksi.

Pengaruh Penghambatan Ekstrak Daun Kunyit terhadap Escherichia coli

Analisis sidik ragam (Lampiran-1) menunjukkan bahwa jenis pelarut memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap diameter zona hambat pertumbuhan Escherichia coli. Untuk mengetahui perbedaan zona hambat pada masing-masing taraf perlakuan dilakukan uji Least Significant Range (Lampiran-2). Hubungan antara pengaruh jenis pelarut terhadap diameter zona hambat pertumbuhan E. coli dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini :

Keterangan :

DMSO = kontrol negatif (-), tetrasiklin = kontrol positif (+)

Gambar 2. Histogram Hubungan Jenis Pelarut terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Escherichia coli

Masing-masing pelarut memberi pengaruh berbeda nyata dengan perlakuan pelarut lainnya. Diameter zona hambat tertinggi diperoleh pada pelarut etil asetat yaitu 10,905 mm dan diameter zona hambat terendah diperoleh pada pelarut air yaitu 9,175 mm. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tinggi rendahnya diameter zona hambat pertumbuhan E. coli ekstrak daun kunyit yang dihasilkan dengan pelarut air, metanol dan etil asetat disebabkan sifat dari masing-masing

pelarut itu sendiri dalam menyerap/menarik senyawa antibakteri. Pemilihan pelarut yang sesuai merupakan faktor penting dalam proses ekstraksi. Pelarut yang digunakan adalah pelarut yang dapat menyaring sebagian besar metabolit sekunder yang diinginkan dalam simplisia (Depkes RI, 2008).

Dari hasil uji skrining fitokimia yang dilakukan diketahui bahwa pelarut etil asetat mampu menarik seluruh senyawa bioaktif yang diuji yaitu senyawa alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid. Etil asetat merupakan pelarut semi polar sehingga mampu melarutkan senyawa polar maupun non polar.

Pelarut metanol merupakan pelarut yang bersifat universal sehingga dapat melarutkan analit yang bersifat polar dan nonpolar. Metanol dapat menarik alkaloid, steroid, saponin, dan flavonoid dari tanaman (Thompson, 1985). Sedangkan pelarut air hanya mampu menarik senyawa flavonoid, glikosida, saponin dan tanin. Air dan metanol adalah pelarut polar, namun pada hasil uji skrining alkaloida, pelarut air tidak mampu menarik senyawa alkaloid dikarenakan dalam bentuk bebas alkaloida merupakan basa lemah yang sukar larut dalam air dan mudah larut dalam pelarut organik.

Kemampuan ekstrak daun kunyit dalam menghambat pertumbuhan E. coli

karena keberadaan senyawa bioaktif yang terkandung dalam ekstrak daun kunyit, diantaranya: alkaloid, flavonoid, glikosida, saponin, tanin dan steroid/triterpenoid. Menurut Heinrich, (2009) senyawa flavonoid mampu merusak dinding sel sehingga menyebabkan kematian sel. Sundari et al., (1996) menyatakan bahwa flavonoid dapat menghambat pembentukan protein sehingga menghambat pertumbuhan mikroba. Selain flavonoid kandungan senyawa lain seperti senyawa

tanin juga dapat merusak membran sel. Kandungan senyawa lain seperti alkaloid dalam kunyit mampu mendenaturasi protein sehingga merusak aktivitas enzim dan menyebabkan kematian sel (Robinson, 1991). Menurut Harborne (1987), salah satu golongan terpenoid yang berpotensi sebagai antimikroba adalah triterpenoid. Sedangkan steroid adalah golongan lemak dan merupakan bagian dari triterpenoid.

Penggunaan antibiotik tetrasiklin (Oxoid) 30 μg/ml bertujuan untuk membandingkan kemampuan daya hambat ekstrak daun kunyit dengan antibiotik tetrasiklin terhadap bakteri uji. Tetrasiklin memiliki daya hambat 11,3 mm terhadap bakteri E. coli.

Analisis sidik ragam (Lampiran-1) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap diameter zona hambat pertumbuhan E. coli. Untuk mengetahui perbedaan zona hambat pada masing-masing taraf perlakuan dilakukan uji Least Significant Range (Lampiran-2). Hubungan antara pengaruh konsentrasi ekstrak daun kunyit terhadap diameter zona hambat pertumbuhan E. coli dapat dilihat pada Gambar 3 di bawah ini :

Gambar 3. Grafik Hubungan Konsentrasi Ekstrak Daun Kunyit terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Escherichia coli

Masing-masing perlakuan konsentrasi ekstrak daun kunyit memberi pengaruh berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Diameter zona hambat tertinggi diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun kunyit 80% yaitu 11,813 mm dan diameter zona hambat yang terendah diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun kunyit 20% yaitu 8,153 mm.

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa diameter zona hambat pertumbuhan E. coli dengan konsentrasi pelarut 20%, 40%, 60% dan 80% membentuk garis linear. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tinggi rendahnya diameter zona hambat pertumbuhan E. coli dari konsentrasi ekstrak daun kunyit yang dihasilkan disebabkan dengan semakin tingginya konsentrasi semakin banyak senyawa bioaktif yang terkandung, sehingga kemampuan difusi bahan antimikroba juga semakin besar dan menghasilkan diameter zona hambat yang semakin besar. Menurut Darmayasa (2008) pemberian konsentrasi yang berbeda-beda menunjukkan pengaruh yang berberbeda-beda pula terhadap zona hambatan yang dihasilkan. Besarnya diameter zona hambat juga tergantung pada daya resap zat antibakteri ke dalam lempeng agar dan kepekaan bakteri terhadap zat antibakteri tersebut. Menurut Cappucino dan Sherman (1996), faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya zona hambat berupa kemampuan difusi bahan antimikroba ke dalam media dan interaksinya dengan mikroba yang diuji, jumlah mikroba yang diujikan, kecepatan tumbuh mikroba uji, dan tingkat sensitifitas mikroba terhadap bahan antimikroba.

Dari persamaan pada Gambar 3, dapat dihitung nilai IC50 = 9,988 mm, sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri E. coli, tergolong pada tingkat sedang. Arora dan Bhardwaj (1997) mengatakan bahwa aktivitas antimikroba dikategorikan tingkat sensitifitas tinggi apabila diameter zona hambat mencapai > 12 mm, kategori tingkat sensitifitas sedang diberikan apabila ekstrak mampu memberikan diameter zona hambat sekitar 9-12 mm, kategori tingkat sensitifitas rendah apabila diameter berkisar antara 6-9 mm dan resisten apabila < 6 mm (tidak memiliki zona hambat).

Kemampuan setiap bakteri dalam melawan aktivitas antibakteri berbeda-beda tergantung ketebalan dan komposisi dinding selnya. Bakteri E. coli termasuk bakteri Gram negatif yang memiliki sifat lebih tahan terhadap antimikroba dibandingkan dengan bakteri Gram positif. Hal ini disebabkan E. coli memiliki lapisan lipopolisakarida yang terikat pada selaput luar dengan ikatan hidrofobik. Menurut Brooks et al (1998), selaput luar memiliki kemampuan untuk menyingkirkan molekul hidrofobik dan bersifat melindungi sel. Menurut Best (1999), pada bakteri Gram positif tidak ada lapisan lipopolisakarida yang berfungsi sebagai penghalang masuknya senyawa antimikroba sehingga senyawa antimikroba yang bersifat hidrofilik maupun hidrofobik dapat melewatinya.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, diketahui bahwa ekstrak rimpang kunyit yang diteliti memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Salmonella typhimurium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya senyawa-senyawa metabolik berupa alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, minyak atsiri, dan tannin terbukti dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhimurium

(Sunanti, 2007). Ekstrak daun kunyit juga memiliki aktivitas anti jamur terhadap

Aspergillus flavus dan Aspergillus moniliforme (Dani et al., 2012). Beberapa penelitian juga menyebutkan ekstrak kunyit memiliki aktifitas antifungi terhadap

Alternaria porri secara in vitro (Nurhayati et al., 2008).

Pengaruh Penghambatan Ekstrak Daun Kunyit terhadap Staphylococcus aureus

Analisis sidik ragam (Lampiran-3) menunjukkan bahwa jenis pelarut memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap diameter zona hambat pertumbuhan Staphylococcus aureus. Untuk mengetahui perbedaan zona hambat pada masing-masing taraf perlakuan dilakukan uji Least Significant Range (Lampiran 4). Hubungan antara pengaruh jenis pelarut terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah ini:

Keterangan :

DMSO = kontrol negatif (-), tetrasiklin = kontrol positif (+)

Gambar 4. Histogram Hubungan Jenis Pelarut terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Staphylococcus aureus

Perlakuan pelarut air berbeda tidak nyata dengan pelarut metanol dan berbeda nyata dengan perlakuan pelarut etit asetat. Dan perlakuan pelarut metanol memberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan pelarut etil asetat. Diameter zona hambat tertinggi diperoleh pada pelarut etil asetat yaitu 11,385 mm dan diameter zona hambat terendah diperoleh pada pelarut air yaitu 9,545 mm.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa tinggi rendahnya diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus ekstrak daun kunyit yang dihasilkan dengan pelarut air, metanol dan etil asetat disebabkan sifat dari masing-masing pelarut dalam menarik senyawa antibakteri. Penggunaan pelarut dalam melakukan ekstrak bahan pangan akan mempengaruhi hasil pengujian senyawa bioaktif bahan pangan tersebut.

Dari Tabel 2, dapat dilihat bahwa dari hasil uji skrining fitokimia yang dilakukan, hanya ekstrak yang menggunakan pelarut etil asetat yang mampu menyerap senyawa steroid/triterpenoid, sehingga memberi efek pengaruh berbeda nyata dengan perlakuan pelarut air dan metanol. Etil asetat merupakan pelarut semi polar sehingga mampu melarutkan senyawa polar maupun non polar. Air dan metanol adalah pelarut polar, namun pada hasil uji skrining alkaloida, pelarut air tidak mampu menarik senyawa alkaloid dikarenakan dalam bentuk bebas alkaloida merupakan basa lemah yang sukar larut dalam air dan mudah larut dalam pelarut organik. Hougton dan Raman (1998) mengatakan, senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar lebih mudah larut dengan pelarut non polar.

Penggunaan antibiotik tetrasiklin (Oxoid) 30 μg/ml bertujuan untuk membandingkan kemampuan daya hambat ekstrak daun kunyit dengan antibiotik tetrasiklin terhadap bakteri uji. Tetrasiklin memiliki daya hambat 11,5 mm terhadap bakteri S. aureus.

Analisis sidik ragam pada (Lampiran-3) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus. Untuk mengetahui perbedaan zona hambat pada masing-masing taraf perlakuan dilakukan uji Least Significant Range (Lampiran 4). Hubungan antara pengaruh konsentrasi ekstrak daun kunyit terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini:

Gambar 5. Grafik Hubungan Konsentrasi Ekstrak Daun Kunyit terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Staphylococcus aureus

Perlakuan konsentrasi ekstrak daun kunyit 20% berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 40%, dan memberi pengaruh berbeda nyata dengan

perlakuan konsentrasi 60% dan 80%. Perlakuan konsentrasi ekstrak daun kunyit 40% memberi pengaruh berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi 60%, dan 80%. Dan perlakuan konsentrasi ekstrak daun kunyit 60% memberi pengaruh berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi 80%. Diameter zona hambat tertinggi diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun kunyit 80% yaitu 12,287 mm dan diameter zona hambat terendah diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun kunyit 20% yaitu 8,753 mm.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa diameter zona hambat pertumbuhan S. aureus semakin meningkatnya konsentrasi ekstrak daun kunyit maka senyawa bioaktif yang terkandung juga semakin meningkat, sehingga kemampuan difusi bahan antimikroba juga semakin besar dan menghasilkan diameter zona hambat yang semakin besar. Darmayasa (2008) mengatakan, pemberian konsentrasi yang berbeda-beda menunjukkan pengaruh yang berbeda pula terhadap zona hambatan yang dihasilkan. Besarnya diameter zona hambat juga tergantung pada daya resap zat antibakteri ke dalam lempeng agar dan kepekaan bakteri terhadap zat antibakteri tersebut. Cappucino dan Sherman (1996) menambahkan, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya zona hambat berupa kemampuan difusi bahan antimikroba ke dalam media dan interaksinya dengan mikroba yang diuji, jumlah mikroba yang diujikan, kecepatan tumbuh mikroba uji, dan tingkat sensitifitas mikroba terhadap bahan antimikroba.

Dari persamaan pada Gambar 5, dapat dihitung nilai IC50 = 10,301 mm, sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit terhadap diameter zona hambat pertumbuhan bakteri S. aureus, tergolong tingkat sedang. Arora dan Bhardwaj (1997) mengatakan bahwa aktivitas antimikroba

dikategorikan tingkat sensitifitas tinggi apabila diameter zona hambat mencapai > 12 mm, kategori tingkat sensitifitas sedang diberikan apabila ekstrak mampu memberikan diameter zona hambat sekitar 9-12 mm, kategori tingkat sensitifitas rendah apabila diameter berkisar antara 6-9 mm dan resisten apabila < 6 mm (tidak memiliki zona hambat).

S. aureus yang merupakan bakteri Gram positif. Umumnya bakteri Gram positif lebih peka terhadap senyawa antibakteri dibandingkan dengan bakteri gram negatif karena dinding sel bakteri gram positif tidak memiliki lapisan lipopolisakarida sehingga senyawa antimikroba yang bersifat hidrofilik maupun hidrofobik dapat melewati dinding sel bakteri gram positif melalui mekanisme difusi pasif kemudian berinteraksi langsung dengan peptidoglikan pada sel bakteri yang sedang tumbuh dan menyebabkan kematian sel (Tortora et al, 2007).

Pengaruh Penghambatan Ekstrak Daun Kunyit terhadap Shigella dysenteriae

Analisis sidik ragam (Lampiran-5) menunjukkan bahwa jenis pelarut memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap diameter zona hambat pertumbuhan Shigella dysenteriae. Untuk mengetahui perbedaan zona hambat pada masing-masing taraf perlakuan dilakukan uji Least Significant Range (Lampiran-6). Hubungan antara pengaruh jenis pelarut terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. dysenteriae dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini:

Keterangan :

DMSO = kontrol negatif (-), tetrasiklin = kontrol positif (+)

Gambar 6. Histogram Hubungan Jenis Pelarut terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Shigella dysenteriae

Perlakuan pelarut air memberi pengaruh berbeda tidak nyata dengan pelarut metanol dan berbeda nyata dengan perlakuan pelarut etil asetat. Dan perlakuan pelarut metanol memberikan pengaruh yang berbeda nyata dengan perlakuan pelarut etil asetat. Diameter zona hambat tertinggi diperoleh pada pelarut etil asetat yaitu 10,855 mm dan diameter zona hambat terendah diperoleh pada pelarut air yaitu 8,800 mm.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa penggunaan pelarut dalam melakukan ekstrak bahan pangan mempengaruhi hasil pengujian senyawa bioaktif bahan pangan tersebut. Tinggi rendahnya diameter zona hambat pertumbuhan S. dysenteriae ekstrak daun kunyit yang dihasilkan dengan menggunakan pelarut air, metanol dan etil asetat disebabkan sifat dari masing-masing pelarut itu sendiri dalam menyerap/menarik senyawa antibakteri. Dari Tabel 2, dapat dilihat bahwa dari hasil uji skrining fitokimia yang dilakukan, hanya ekstrak yang menggunakan pelarut etil asetat yang mampu menyerap senyawa steroid/triterpenoid, sehingga

memberi efek pengaruh berbeda yang signifikant terhadap perlakuan pelarut air dan metanol.

Hougton dan Raman (1998) menuliskan bahwa senyawa polar lebih mudah larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar lebih mudah larut dengan pelarut non polar. Senyawa polar akan terekstraksi dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam senyawa non polar (Depkes RI, 2000).

Etil asetat merupakan pelarut semi polar sehingga mampu melarutkan senyawa polar maupun non polar. Air dan metanol adalah pelarut polar, namun pada hasil uji skrining alkaloida, pelarut air tidak mampu menarik senyawa alkaloid dikarenakan dalam bentuk bebas alkaloida merupakan basa lemah yang sukar larut dalam air dan mudah larut dalam pelarut organik.

Penggunaan antibiotik tetrasiklin (Oxoid) 30 μg/ml bertujuan untuk membandingkan kemampuan daya hambat ekstrak daun kunyit dengan antibiotik tetrasiklin terhadap bakteri uji. Tetrasiklin memiliki daya hambat 11,0 mm terhadap bakteri S. dysenteriae.

Analisis sidik ragam (Lampiran-5) menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit memberi pengaruh berbeda sangat nyata terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. dysenteriae. Untuk mengetahui perbedaan zona hambat pada masing-masing taraf perlakuan dilakukan uji Least Significant Range, yang dapat dilihat pada Lampiran-6. Hubungan antara pengaruh konsentrasi ekstrak daun kunyit terhadap diameter zona hambat pertumbuhan S. dysenteriae dapat dilihat pada Gambar 7 di bawah ini:

Gambar 7. Grafik Hubungan Konsentrasi Ekstrak Daun Kunyit terhadap Diameter Zona Hambat Pertumbuhan Shigella dysenteriae

Perlakuan konsentrasi ekstrak daun kunyit 20% berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 40%, dan berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi 60% dan 80%. Perlakuan konsentrasi 40%memberi pengaruh berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 60%, dan berbeda nyata dengan perlakuan konsentrasi 80%. Dan perlakuan konsentrasi 60% memberi pengaruh berbeda tidak nyata dengan perlakuan konsentrasi 80%. Diameter zona hambat tertinggi diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun kunyit 80% yaitu 11,107 mm dan diameter zona hambat terendah diperoleh pada konsentrasi ekstrak daun kunyit 20% yaitu 8,493 mm.

Gambar 7 menunjukkan bahwa seiring dengan meningkatnya konsentrasi pelarut, maka diameter zona hambat pertumbuhan S. dysenteriae juga semakin meningkat. Hal ini dikarenakan semakin banyaknya senyawa bioaktif yang terkandung, sehingga kemampuan difusi bahan antimikroba juga semakin besar dan menghasilkan diameter zona hambat yang semakin besar. Cappucino dan Sherman (1996) mengatakan, faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya zona

hambat berupa kemampuan difusi bahan antimikroba ke dalam media dan interaksinya dengan mikroba yang diuji, jumlah mikroba yang diujikan, kecepatan tumbuh mikroba uji, dan tingkat sensitifitas mikroba terhadap bahan antimikroba.

Dari persamaan pada Gambar 7 dapat dihitung nilai IC50 = 9,691 mm, sehingga dapat dikatakan bahwa konsentrasi ekstrak daun kunyit terhadap

Dokumen terkait