• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian dihitung dalam bahan kering dan bahan organik yang diperoleh dari konsumsi pakan dan kecernaan pakan selama penelitian.

Konsumsi Bahan Kering (BK)

Konsumsi pakan dihitung dengan menambahkan semua yang dikonsumsi oleh ternak domba yaitu konsumsi dari pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dan starbio serta konsentrat dalam bahan kering. Rataan konsumsi pakan (dalam bahan kering) selama penelitian dilihat pada tabel 10. Tabel 10. Rataan konsumsi bahan kering dari hasil penelitian (gram/ekor/hari)

Perlakuan Ulangan Rataan Sd

1 4 5 6

P1 470.12 487.87 41.27 485.71 412.85 527.14 487.87 41.27

P2 544.28 505.99 28.49 460.14 480.12 517.14 505.99 28.49

P3 550.47 526.09 30.46 547.14 537.14 467.14 526.09 30.46

Rataan 521.62 506.65 15.61 497.66 476.70 503.80 506.65 15.61

Dari data konsumsi bahan kering pada tabel 10 memperlihatkan rataan konsumsi bahan kering sebesar 506.65 gram/ekor/hari dengan standart deviasi 15.61. Dengan rataan tertinggi pada perlakuan P3 (ransum berbasis pucuk batang ubi kayu) yaitu sebesar 526.09 gram/ekor/hari dengan standart deviasi 30.46 dan rataan konsumsi bahan kering terendah pada perlakuan P1 (ransum berbasisi pucuk batang tebu) sebesar 487.87 gram/ekor/hari dengan standart deviasi 41.27.

23

Gambar 1. Diagram batang konsumsi bahan kering

Untuk melihat perbandingan kualitas ransum terhadap konsumsi bahan kering antarperlakuan dapat dilihat pada tabel sidik ragam kontras orthogonal yang tertera pada tabel 11.

Tabel 11. Sidik ragam kontras orthogonal konsumsi bahan kering

SK dB JK KT F hitung F Tabel F5% F1% Perlakuan 2 121.84 60.92 0.000209 tn 3.29 5.42 (1) AvsB,C 1 88.17 88.17 0,000302 tn 4,54 8,68 (2) BvsC 1 33.66 33.66 0,000115 tn 4,54 8,68 Galat 15 4367805.08 291187 Total 17 4367926.92

Ket. : tn : Tidak Berbeda Nyata

t. :

Dari Tabel 11 terlihat bahwa uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dan starbio serta konsentrat memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap konsumsi bahan kering domba sei putih (P>0.05), dikarenakan umur yang seragam. Hal ini sesuai dengan pernyatan Parakkasi (1995) yang menyatakan bahwa tingkat perbedaan konsumsi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor ternak (bobot badan, umur, tingkat kecernaan pakan, kualitas pakan dan palatabilitas). Makanan yang

24 berkualitas baik tingkat konsumsinya lebih tinggi dibandingkan dengan makanan berkualitas rendah, sehingga pakan dengan kualitas yang relatif sama maka tidak berbeda pula halnya terhadap tingkat konsumsinya. Fharhandani (2006) menambahkan bahwa serat kasar yang tinggi juga dapat mempengaruhi proses pencernaan dimana serat yang mempunyai kecernaan yang rendah akan sulit untuk dicerna sehingga mempengaruhi konsumsi pakan dan ketersediaan nutrien untuk ternak.

Dari tabel rataan konsumsi bahan kering diketahui bahwa konsumsi bahan kering domba tersebut telah memenuhi kebutuhan harian yang berkisar 0.25-0.36 kg/hari (NRC, 1995). Konsumsi tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (ransum berbasis pucuk batang ubi kayu) yang menunjukkan bahwa perlakuan tersebut memiliki tingkat palatabilitas yang lebih tinggi dari perlakuan yang lainnya.

Konsumsi Bahan Organik (BO)

Data konsumsi ransum ternak domba yang dihitung dalam bentuk bahan organik dapat dilihat pada tabel 12.

Tabel 12. Rataan konsumsi bahan organik dari hasil penelitian(gram/ekor/hari)

Perlakuan Ulangan Rataan Sd

1 2 3 4 5 6

P1 204.28 235.71 214.28 211.42 180.57 230.00 212.78 18.03

P2 250.14 242.85 231.42 211.42 220.57 237.14 232.25 13.08

P3 231.42 240.28 248.57 244.42 211.42 235.19 13.16

Rataan 228.61 239.61 222.85 223.80 215.14 226.18 226.74 9.94

Dari data konsumsi bahan organik pada tabel 12 memperlihatkan rataan konsumsi bahan organik sebesar 226.74 gram/ekor/hari dengan standart deviasi 9.94. Dengan rataan tertinggi pada perlakuan P3 (ransum berbasis pucuk batang ubi kayu) yaitu sebesar 235.19 gram/ekor/hari dengan standart deviasi 13.16.

25 Rataan konsumsi bahan organik terendah pada perlakuan P1 (ransum berbasis pucuk batang tebu) sebesar 212.78 gram/ekor/hari dengan standart deviasi 18.03.

Gambar 2. Diagram batang konsumsi bahan organik

Untuk melihat perbandingan kualitas ransum terhadap konsumsi bahan kering antar perlakuan dapat dilihat pada tabel sidik ragam kontras orthogonal dibawah ini.

Tabel 13. Sidik ragam kontras orthogonal konsumsi bahan organik

SK dB JK KT F hitung F Tabel F5% F1% Perlakuan 2 49.85 24.92 0.000427 tn 3.29 5.42 (1) AvsB,C 1 49.11 49.11 0,000841tn 4,54 8,68 (2) BvsC 1 0.73 0.37 0,000012tn 4,54 8,68 Galat 15 875562.1 58370.8 Total 17 875611.95

Ket. : tn : Tidak Berbeda NyataKet. :

Dari tabel 13 terlihat bahwa uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dan starbio serta konsentrat memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap konsumsi bahan organik domba sei putih (P>0.05).

26 Dari hasil penelitian pada tabel rataan konsumsi bahan organik menunjukkan bahwa hasil yg didapat berbeda tidak nyata pada semua perlakuan. Sama halnya dengan hasil konsumsi bahan kering yang juga berbeda tidak nyata. Konsumsi bahan organik ini dikatakan sejalan dengan konsumsi bahan kering. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sutardi (1980) yang menyatakan bahwa bahan organik berkaitan erat dengan bahan kering karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering. Rahmawati (2001) menambahkan bahwa bahan organik menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak. Menurut Tomaszewska (1993) bahwa tingkat konsumsi sangat dipengaruhi oleh koefisien cerna, kualitas ransum, fermentasi dalam rumen, serta status fisiologi ternak. Kecernaan Bahan Kering (KcBK)

Kecernaan suatu bahan makanan merupakan selisih dari bahan makanan yang tidak diekskresikan melalui feses atau bagian yang diserap oleh saluran pencernaan dan dimanfaatkan oleh mikroba dalam alat pencernaan.

Untuk melihat pengaruh dari uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dan starbio serta konsentrat terhadap kecernaan bahan kering pada domba sei putih dapat dilihat dari rataan kecernaan bahan kering (BK) yang tertera pada tabel 14.

Tabel 14. Rataan kecernaan bahan kering dari hasil penelitian (%)

Perlakuan Ulangan Rataan Sd

1 2 3 4 5 6

P1 66.47 56.21 52.51 59.58 51.82 64.78 58.56 5.625 P2 54.4 62.82 60.82 65.29 60.74 62.13 61.03 3.332 P3 60.58 55.9 - 67.29 62.31 66.73 62.56 4.197 Rataan 60.48 58.31 56.66 64.05 58.29 64.54 60.71 2.97

27 Dari data kecernaan bahan kering pada tabel 14 memperlihatkan rataan kecernaan bahan kering sebesar 60.71% dengan standart deviasi 2.97. Rataan tertinggi pada perlakuan P3 (ransum berbasis pucuk batang ubi kayu) yaitu sebesar 62.56% dengan standart deviasi 4.197 dan rataan nilai terendah pada perlakuan P1 (ransum berbasisi pucuk batang tebu) sebesar 58.56% dengan standart deviasi 5.625. 58.56 61.03 62.56 0 10 20 30 40 50 60 70 80

Ke

ce

rn

aan

P

ak

an

P 1 P e rla k ua n (K g /E k or/Ming g u) P 1 P 2 P 3 P 2 P 3

Gambar 3. Diagram batang kecernaan bahan kering

Untuk melihat perbandingan kualitas ransum terhadap konsumsi bahan kering antar perlakuan dapat dilihat pada tabel sidik ragam kontras orthogonal dibawah ini.

Tabel 15. Sidik ragam kontras orthogonal kecernaan bahan kering

SK db JK KT F hitung F Tabel F5% F1% Perlakuan 2 253.183 126.5915 0.010266 tn 3.29 5.42 (1) AvsB,C 1 15,64202 15,64202 0,001268tn 4,54 8,68 (2) BvsC 1 237,54 237,54 0,019262tn 4,54 8,68 Galat 15 184976 12331.73 Total 17 185229.2

28 Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dengan penambahan starbio memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap kecernaan bahan kering domba sei putih. Diduga karena kualitas ransum terutama protein kasar dari ketiga perlakuan yang relatif sama.

Dari tabel rataan dapat dilihat bahwa kecernaan bahan kering dapat dikatakan tinggi yaitu pada kisaran 55%-65% (Preston and Leng, 1987). Menurut mereka pada kisaran tersebut diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan ternak.

Dari hasil yang didapat, tingginya rataan kecernaan bahan kering pada penelitian ini diduga karena adanya penambahan starbio. Menurut Ngadiyono dan Baliarti (2001) penambahan probiotik untuk ternak ruminansia ditujukan agar rumen dapat mencerna lebih baik pakan yang berserat tinggi. Telah diketahui bahwa ketiga perlakuan mengandung serat yang tinggi. Dengan adanya penambahan starbio inilah yang diduga meningkatkan kecernaan pakan dalam saluran pencernaan.

Menurut Agni (2005) bahwa hijauan umumnya mengandung selulosa dan lignin yang jika berkaitan akan membentuk lignoselulosa. Selulosa dalam bentuk ini sulit dibebaskan dan didegradasi sehingga akan mempengaruhi kecernaan bahan kering.

Kecernaan Bahan Organik (KcBO)

Kecernaan bahan organik menunjukan derajat cerna pakan pada alat-alat pencernaan serta seberapa besar sumbangan suatu pakan bagi ternak.

29 Untuk melihat pengaruh dari uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dan starbio serta konsentrat terhadap kecernaan bahan kering pada domba sei putih dapat dilihat dari rataan kecernaan bahan organik (BO) yang tertera pada Tabel 16.

Tabel 16. Rataan kecernaan bahan organik dari hasil penelitian (%)

Perlakuan Ulangan Rataan Sd

1 2 3 4 5 6

P1 70.34 67.45 55.4 65.20 53.33 65.15 62.81 6.247 P2 63.77 68.29 65.8 73.24 68.31 70.12 68.25 3.013 P3 63.64 64.34 - 68.16 67.71 71.01 66.97 2.694 Rataan 65.91 66.69 60.60 68.86 63.1 68.76 66.01 2.32

Dari data kecernaan bahan organik pada tabel 16 memperlihatkan rataan kecernaan bahan organik sebesar 66.01% dengan standart deviasi 2.32. Rataan tertinggi pada perlakuan P2 (ransum berbasis pucuk batang jagung) yaitu sebesar 68.25% dengan standart deviasi 3.013 dan rataan nilai terendah pada perlakuan P1 (ransum berbasis pucuk batang tebu) sebesar 62.81% dengan standart deviasi 6.247. 62.81 68.25 66.97 0 10 20 30 40 50 60 70 Kecernaan pakan P1 P2 P3 Perlakuan (Kg/ekor/hari) P1 P2 P3 Gambar 4. Diagram batang kecernaan bahan organik

30 Untuk melihat perbandingan kualitas ransum terhadap konsumsi bahan kering antar perlakuan dapat dilihat pada tabel sidik ragam kontras orthogonal dibawah ini.

Tabel 17. Sidik ragam kontras ortogonal kecernaan bahan organik

SK dB JK KT F hitung F Tabel F5% F1% Perlakuan 2 467.0646 233.5323 0.0159 tn 3.29 5.42 (1) AvsB,C 1 2,4336 2,4336 0,00016 tn 4,54 8,68 (2) BvsC 1 464,63407 464,63407 0,03182 tn 4,54 8,68 Galat 15 218978.4 14598.56 Total 17 219445.5

Ket. : tn : Tidak Berbeda Nyata

. : Dari tabel 17 terlihat bahwa uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dengan penambahan starbio memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap kecernaan bahan organik domba sei putih (P>0.05). Namun demikian hasil yang diperoleh masih dikatakan tinggi yang dapat dilihat pada tabel rataan kecernaan bahan organik.

Dari tabel tersebut menunjukkan bahwa kondisi yang diperoleh hampir sama dengan kecernaan bahan kering. Hal ini mengingat eratnya kaitan antara bahan kering dengan bahan organik, karena sebagian besar bahan kering terdiri dari bahan organik (Sutardi, 1980). Rahmawati (2001) menambahkan bahwa bahan organik menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan perkembangan ternak. Kecernaan bahan organik diukur karena komponen dari bahan organik sangat dibutuhkan ternak untuk hidup pokok dan produksi. Semakin nilai kecernaan suatu bahan maka semakin banyak zat gizi yang diserap tubuh (Silalahi, 2003).

Dari hasil data yang didapat, rataan kecernaan bahan organik tertinggi terdapat pada perlakuan P2 (ransum berbasis pucuk batang jagung) dan P3 (ransum berbasis pucuk batang ubi kayu). Hal ini dikarenakan pada perlakuan

31 tersebut bahan pakan perlakuannya memiliki komposisi kimia yang lebih tinggi dari perlakuan P1 (ransum berbasis pucuk batang tebu), sehingga kecernaan bahan organiknya pun tinggi, selain itu pada perlakuan P1 yang menggunakan bahan pakan berbasis pucuk batang tebu memiliki daya cerna dan nilai gizi yang relatif rendah. Dwiyanto, dkk (2001) menegaskan bahwa pucuk tebu memiliki daya cerna dan nilai gizi yang relatif rendah, hal tersebut dapat dilihat dari kandungan serat kasar yang cukup tinggi (42,30).

Rekapitulasi hasil penelitian

Tabel 18. Rekapitulasi hasil penelitian konsumsi dan kecernaan BK dan BO Perlakuan Parameter Konsumsi BK (g/ekor/hari) Konsumsi BO (g/ekor/hari) Kecernaan BK (%) Kecernaan BO(%) P1 487.87tn 212.78tn 58.56tn 62.81tn P2 505.99tn 232.25tn 61.03tn 68.25tn P3 526.09tn 235.19tn 62.56tn 66.97tn

tn : Tidak Berbeda Nyata

Dari tabel rekapitulasi hasil penelitian dapat dilihat bahwa uji ransum berbasis pucuk batang tebu, pucuk batang jagung, pucuk batang ubi kayu dengan penambahan starbio memberikan pengaruh yang berbeda tidak nyata terhadap konsumsi bahan kering, konsumsi bahan organik, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik.

32

Dokumen terkait