• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Mortalitas

Mortalitas dihitung pada 3 MSA dan 6 MSA. Data mortalitas

S. podophyllum yang diaplikasikan dengan paraquat, triasulfuron,

amonium glufosinat dan fluroksipir secara tunggal dan campuran pada pengamatan 3 MSA (lampiran 3) sedangkan mortalitas pada pengamatan 6 MSA (lampiran 5 )

Sidik ragam mortalitas pada pengamatan 3 MSA (lampiran 4) menunjukkan bahwa perlakuan dengan herbisida berpengaruh nyata dalam mengendalikan S. podophyllum. Perlakuan penyiangan dengan manual berpengaruh nyata dengan kontrol, paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan kontrol berpengaruh nyata dengan paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan paraquat, paraquat + triasulfuron berpengaruh nyata dengan amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan amonium glufosinat berpengaruh nyata dengan fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan fluroksipir + amonium glufosinat berpengaruh nyata dengan fluroksipir.

Sidik ragam mortalitas pada pengamatan 6 MSA (lampiran 6) menunjukkan bahwa perlakuan herbisida berpengaruh nyata dalam mengendalikan S. podophyllum. Perlakuan penyiangan dengan manual berpengaruh nyata dengan kontrol, paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium

glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan kontrol berpengaruh nyata dengan paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan paraquat, paraquat + triasulfuron berpengaruh nyata dengan amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan amonium glufosinat berpengaruh nyata dengan fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan fluroksipir + amonium glufosinat berpengaruh nyata dengan fluroksipir.

Rataan mortalitas S. podophyllum pada pengamatan 3 MSA dan 6 MSA ditampilkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan mortalitas S. podophyllum pada pengamatan 3 MSA dan 6 MSA

Perlakuan Rataan 3 MSA 6 MSA ……… % …………... Kontrol (T1) 0.00 0.00 Paraquat (T2) 93.00 71.67 Paraquat + Triasulfuron (T3) 90.50 74.17 Amonium glufosinat (T4) 80.00 60.83

Fluroksipir + Amonium glufosinat (T5) 44.17 74.17

Fluroksipir (T6) 0.00 0.00

Penyiangan manual (T7) 97.67 90.83

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada pengamatan 3 MSA dari perlakuan herbisida tersebut, maka perlakuan dengan fluroksipir tidak dapat mengendalikan S. podophyllum sedangkan perlakuan lain dapat mengendalikan S. podophyllum yaitu paraquat (93%), paraquat + triasulfuron (90.50%), amonium glufosinat (80%), fluroksipir + amonium glufosinat (44.17%), yang tertinggi (93 %) terdapat pada perlakuan paraquat dan yang terendah (44.17%) pada perlakuan fluroksipir + amonium glufosinat.

Sama halnya mortalitas pada pengamatan 6 MSA, perlakuan fluroksipir tidak dapat mengendalikan S. podophyllum sedangkan perlakuan lain dapat mengendalikan S. podophyllum yaitu paraquat (71.67%), paraquat + triasulfuron (74.17%), amonium glufosinat (60.83%), fluroksipir + amonium glufosinat (74.17%), yang tertinggi (74.17%) terdapat pada perlakuan paraquat + triasulfuron dan fluroksipir + amonium glufosinat dan yang terendah (60.83%) pada perlakuan amonium glufosinat.

Bobot Kering

Bobot kering dihitung pada 4 MSA, 8 MSA dan 12 MSA. Data bobot kering S. podophyllum pada pengamatan 4 MSA (lampiran 7) sedangkan pada pengamatan 8 MSA (lampiran 9) dan pada pengamatan 12 MSA (lampiran 11).

Sidik ragam bobot kering pada pengamatan 4 MSA (lampiran 8) menunjukkan bahwa perlakuan dengan herbisida berpengaruh nyata dalam mengendalikan S. podophyllum. Perlakuan penyiangan dengan manual berpengaruh nyata dengan kontrol, paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan kontrol berpengaruh nyata dengan paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan paraquat, dan paraquat + triasulfuron berpengaruh nyata dengan amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan amonium glufosinat berpengaruh nyata dengan fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir.

Sidik ragam bobot kering pada pengamatan 8 MSA (lampiran 10) menunjukkan bahwa perlakuan herbisida berpengaruh nyata dalam mengendalikan S. podophyllum. Perlakuan penyiangan dengan manual

berpengaruh nyata dengan kontrol, paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan kontrol berpengaruh nyata dengan paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan paraquat dan paraquat + triasulfuron berpengaruh nyata dengan amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir. Perlakuan amonium glufosinat berpengaruh nyata dengan fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir.

Sidik ragam bobot kering pada pengamatan 12 MSA (lampiran 12) menunjukkan bahwa perlakuan herbisida berpengaruh nyata dalam mengendalikan S. podophyllum. Perlakuan penyiangan dengan manual berpengaruh nyata dengan kontrol, paraquat, paraquat + triasulfuron, amonium glufosinat, fluroksipir + amonium glufosinat, fluroksipir.

Rataan bobot kering S. podophyllum pada pengamatan 4 MSA, 8 MSA dan 12 MSA ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Bobot kering S. podophyllum pada pengamatan 4 MSA, 8 MSA dan 12 MSA

Perlakuan Rataan

4 MSA 8 MSA 12 MSA ……..……… g ………

Kontrol (T1) 891.13 880.55 855.18

Paraquat (T2) 25.20 80.58 597.25

Paraquat + Triasulfuron (T3) 25.68 131.67 744.57

Amonium glufosinat (T4) 90.60 156.83 590.05

Fluroksipir + Amonium glufosinat (T5) 704.13 474.82 727.27

Fluroksipir (T6) 799.63 609.33 820.77

Penyiangan manual (T7) 4.72 22.45 24.80

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa bobot kering pada pengamatan 4 MSA dari perlakuan herbisida yang tertinggi (799.63 g) terdapat pada perlakuan fluroksipir dan terendah (25.20 g) pada perlakuan paraquat sedangkan pada

pengamatan 8 MSA, bobot kering yang tertinggi (609.33 g) terdapat pada perlakuan fluroksipir dan yang terendah (80.58 g) pada perlakuan paraquat. Pada pengamatan 12 MSA , bobot kering yang tertinggi (820.77 g) terdapat pada perlakuan fluroksipir dan yang terendah (590.05 g) pada perlakuan amonium glufosinat.

Pembahasan

Pada pengamatan mortalitas 6 MSA, dari perlakuan yang menggunakan

herbisida diketahui perlakuan fluroksipir tidak dapat mengendalikan S. podophyllum, tetapi dengan perlakuan herbisida lainnya dapat mengendalikan

S. podophyllum, yang tertinggi (74.17%) terdapat pada perlakuan paraquat +

triasulfuron dan fluroksipir + amonium glufosinat dapat mengendalikan S. podophyllum dan yang terendah (60.83%) pada perlakuan amonium glufosinat.

Hal yang menyebabkan fluroksipir tidak efektif dalam mengendalikan S. podophyllum adalah mungkin karena perbedaan formulasi herbisidanya karena

menurut Moenandir (1990) menyatakan bahwa bagi suatu spesies, selektivitas herbisida sangat ditentukan oleh bentuk formulasinya. Sedangkan pada perlakuan paraquat + triasulfuron dan fluroksipir + amonium glufosinat lebih efektif mengendalikan gulma S. podophyllum. Hal ini mungkin disebabkan karena herbisida paraquat + triasulfuron dan fluroksipir + amonium glufosinat adalah herbisida campuran yang dapat memperluas daya bunuh herbisida, menurut Moenandir (1988) bahwa dalam penggunaannya, herbisida sering dicampur dengan herbisida lain dengan tujuan memperluas daya bunuh herbisida pada

berbagai jenis gulma, mengharapkan adanya efek sinergistik, sehingga efektivitas penggunaannya meningkat.

Dilihat dari semua perlakuan yang menggunakan herbisida maka yang efektif mengendalikan S. podophyllum pada 3 MSA adalah herbisida tunggal tetapi 3 minggu kemudian herbisida campuran yang efektif mengendalikan S. podophyllum walaupun herbisida tersebut tidak menunjukkan perbedaan daya bunuh yang jauh. Hal ini mungkin disebabkan karena herbisida tunggal tersebut merupakan herbisida kontak yang hanya akan mempengaruhi bagian yang terkena semprotan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sebayang (2005) bahwa herbisida kontak mengendalikan gulma dengan membunuh jaringan tanaman melalui kontak langsung dengan herbisida yang umumnya diaplikasikan melalui daun atau batang karena herbisida ini hanya mempengaruhi bagian gulma yang terkena oleh herbisida. Sedangkan herbisida campuran mungkin disebabkan karena herbisida campuran reaksinya lama sehingga 3 minggu kemudian baru terlihat responnya.

Dari pengamatan bobot kering 12 MSA dapat dilihat bahwa dari perlakuan herbisida yang tidak efektif menekan bobot kering S. podophyllum adalah perlakuan fluroksipir (820.77 g) dan yang efektif adalah perlakuan amonium glufosinat (590.05 g). Hal yang menyebabkan perlakuan fluroksipir tidak efektif adalah mungkin disebabkan karena S. podophyllum memiliki permukaan daun yang berlilin dan licin sehingga herbisida susah masuk ke dalam jaringan tumbuhan tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sukman dan Yakup (2002) bahwa daun yang berkedudukan tegak, sempit dan berlilin bila disemprot herbisida tidak akan menempel sehingga tidak dapat menekan bobot kering S. podophyllum, sedangkan perlakuan amonium glufosinat lebih efektif adalah

mungkin disebabkan karena perlakuan amonium glufosinat tersebut adalah herbisida non selektif yang bekerja secara kontak dengan cepat ke daun yang terkena herbisida tersebut sehingga gulma tersebut mati. Hal ini sesuai dengan pernyataan Marveldani (2007) bahwa amonium glufosinat adalah herbisida yang bersifat non selektif yang akan mematikan semua jenis gulma dan bersifat kontak.

Dilihat dari semua perlakuan yang menggunakan herbisida, maka yang efektif menekan bobot kering S. podophyllum pada 4 MSA dan 8 MSA adalah paraquat dan pada 12 MSA adalah amonium glufosinat, dari perlakuan herbisida tersebut pada 4 MSA paraquat menekan 97.17%, paraquat + triasulfuron menekan 97.11%, amonium glufosinat menekan 89.83%, fluroksipir + amonium glufosinat menekan 20.98%, fluroksipir menekan 10.26% dan penyiangan manual menekan 99.47%. Sedangkan pada pengamatan 8 MSA paraquat menekan 90.84%, paraquat + triasulfuron menekan 985.04%, amonium glufosinat menekan 82.18%, fluroksipir + amonium glufosinat menekan 46.07%, fluroksipir menekan 30.80% dan penyiangan manual menekan 97.45%. Pada pengamatan 12 MSA paraquat menekan 30.16%, paraquat + triasulfuron menekan 12.93%, amonium glufosinat menekan 31%, fluroksipir + amonium glufosinat menekan 14.95%, fluroksipir menekan 4.02% dan penyiangan manual menekan 97.10%. Dari data persentase penekanan tersebut dapat dilihat bahwa pada 12 MSA persentase penekanannya semakin sedikit. Hal tersebut mungkin disebabkan herbisida tersebut sudah mulai berkurang reaksinya di dalam gulma tersebut sehingga pada 12 MSA pertumbuhan S. podophyllum sudah semakin lebat. Dari data tersebut juga dapat diketahui bahwa perlakuan herbisida tunggal lebih efektif menekan bobot kering S. podophyllum. Hal ini bertolak belakang dengan pernyataan Moenandir (1988)

bahwa suatu campuran lebih dari satu jenis herbisida akan mempunyai sifat sinergestik yaitu suatu sifat dari campuran tersebut yang lebih efektif daripada salah satu pencampur bila diberikan secara tunggal. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor tanamannya atau mungkin herbisida tersebut tidak tercampur dengan baik. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tjitrosoedirdjo, dkk (1984) bahwa cara kerja yang selektif merupakan faktor yang paling penting bagi keberhasilan suatu herbisida dan banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilannya yaitu faktor tanaman, herbisidanya, lingkungan dan cara pemakaiannya.

Dokumen terkait