• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Biomineral Dienkapsulas

Cairan rumen dalam proses pembuatan biomineral dienkapsulasi diendapkan dengan larutan HCl 0,1 N hingga pHnya menjadi 5,5 (Gambar 4). Tahapan tersebut berdasarkan hasil penelitian Tjakradidjaja et al. (2009) yang menyatakan bahwa produksi optimum biomineral cairan rumen terjadi pada pengasaman (asidifikasi) pada pH 5,5 karena kadar bahan kering dan kadar abu endapannya merupakan nilai tertinggi, dengan kadar bahan organik yang rendah. Tahapan selanjutnya ialah cairan rumen ditambahkan sumber xylosa (sesuai dengan perlakuan yang diterapkan) dan dipanaskan dengan otoklaf pada suhu 121ºC selama 15 menit. Pemanasan tersebut bertujuan agar nutrien yang terkandung dalam cairan rumen dapat dilindungi dari degradasi oleh mikroba rumen. Selain itu, xylosa dapat bereaksi mengikat mineral- mineral saat berada dalam suhu pemanasan. Hasil analisis kandungan nutrien biomineral kontrol dan dienkapsulasi tercantum dalam Tabel 6.

Tabel 6. Kandungan Nutrien Biomineral Kontrol dan Dienkapsulasi

Perlakuan BK Abu PK LK*) SK BETN

(%) (% BK) P1 91,31 7,26 11,72 1,92 1,57 77,54 P2 91,58 6,73 10,48 2,10 2,31 78,37 P3 90,78 7,02 10,86 0,54 3,05 78,52 P4 89,52 6,09 11,84 1,21 0,89 79,97 P5 90,66 7,16 11,61 0,83 1,21 79,18 P6 91,79 7,37 11,25 1,42 0,70 79,26 P7 90,24 6,83 11,41 1,95 0,91 78,90 P8 90,65 9,02 11,48 1,24 1,25 77,02 P9 92,97 9,29 11,27 1,23 0,81 77,40 Pembanding Kontrol 90,19 5,81 11,12 2,37 0,79 79,90

Keterangan : Hasil Analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Institut Pertanian Bogor (2008) P1 = Biomineral + SG 2% P4 = Biomineral + HSG 2% P7 = Biomineral + LK 2% P2 = Biomineral + SG 4% P5 = Biomineral + HSG 4% P8 = Biomineral + LK 4% P3 = Biomineral + SG 6% P6 = Biomineral + HSG 6% P9 = Biomineral + LK 6% BK = Bahan Kering PK = Protein kasar *LK = Lemak kasar SK = Serat kasar BETN = Bahan ekstrak tanpa nitrogen

Biomineral kontrol mengandung bahan kering 90,19%, kadar abu 5,81% BK, protein kasar 11,12% BK, lemak kasar 2,37% BK, serat kasar 0,79% BK dan bahan ekstrak tanpa nitrogen 79,90% BK. Penambahan serbuk gergaji (SG), hidrolisis serbuk gergaji (HSG) dan limbah kertas (LK) terhadap biomineral menyebabkan kandungan serat kasar dan kadar abunya meningkat, sedangkan kandungan lemak kasarnya menurun. Kandungan bahan kering dan protein kasar hampir sama dengan biomineral kontrol. Kandungan bahan kering dan protein kasar pada biomineral dienkapsulasi secara berturut-turut berkisar antara 89,52-92,97% dan 10,48-11,84% BK. Kadar protein kasar pada biomineral baik kontrol maupun dienkapsulasi yang cukup tinggi dapat memberikan sumbangan protein bila suplemen ini diberikan pada ternak.

Biomineral dengan penambahan serbuk gergaji memiliki kadar abu yang menurun seiring dengan meningkatnya taraf penggunaannya. Hal ini dikarenakan serbuk gergaji mempunyai tekstur padat dan kemungkinan besar xylosa masih dalam bentuk terikat dengan molekul-molekul organik lainnya. Dengan demikian, xylosa dari serbuk gergaji agak sulit mengikat mineral. Biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas memiliki kadar abu yang meningkat seiring dengan meningkatnya taraf penggunaannya. Hal ini dikarenakan hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas mempunyai tekstur cair dan xylosa sudah berada dalam keadaan bebas atau tidak terikat dengan komponen molekul organik lainnya. Keadaan demikian memungkinkan pengikatan mineral yang lebih mudah.

Kandungan serat kasar yang meningkat pada biomineral dienkapsulasi dikarenakan sumber xylosa yang digunakan berupa serbuk gergaji, hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas mengandung serat kasar yang tinggi. Biomineral dengan penambahan serbuk gergaji meningkat seiring dengan meningkatnya taraf penggunaan sumber xylosa yang diberikan, namun kandungan serat kasar pada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas memiliki pola yang sama yaitu mengalami penurunan pada taraf penggunaan sumber xylosa 6%. Hal ini dikarenakan hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas yang diberikan adalah dalam bentuk larutan.

Kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) pada biomineral dienkapsulasi berkisar antara 77,02-79,97% BK. Kandungan BETN pada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji hampir sama dengan biomineral kontrol yaitu sekitar 79% BK, sedangkan kandungan BETN pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji dan limbah kertas lebih rendah daripada biomineral kontrol.

Kandungan BETN dalam hasil penelitian ini didukung hasil penelitian Tjakradidjaja et al. (2009) yang menyatakan bahwa biomineral “origin” (asli) mengandung BETN sekitar 20% BK, kemudian mengalami peningkatan akibat penambahan bahan carrier menjadi sekitar 79% BK. Hal itu dikarenakan tepung terigu dan agar-agar yang ditambahkan sebagai bahan carrier mengandung pati yang cukup tinggi.

Hasil analisis kandungan mineral makro dan mikro pada biomineral kontrol dan dienkapsulasi tercantum dalam Tabel 7 dan 8. Tabel 7 dan 8 menunjukkan bahwa biomineral kontrol mengandung N 1,34%, P 0,30%, K 1,16%, Ca 0,38%, Mg 0,12%, Na 0,53%, dan S 0,31%; dan Fe 1384 ppm, Al 169 ppm, Mn161 ppm, Cu

Tabel 7. Kandungan Mineral Makro pada Biomineral

Perlakuan N P K Ca Mg Na S --- % --- P1 1,52 0,26 0,46 0,29 0,08 0,49 0,19 P2 1,39 0,26 0,41 0,34 0,09 0,48 0,13 P3 1,22 0,26 0,48 0,35 0,09 0,46 0,15 P4 1,84 0,31 0,56 0,35 0,09 0,48 0,19 P5 1,61 0,29 0,45 0,33 0,09 0,46 0,18 P6 1,65 0,29 0,54 0,32 0,09 0,47 0,23 P7 1,59 0,31 0,80 0,36 0,10 0,49 0,22 P8 1,89 0,32 0,71 0,42 0,10 0,52 0,19 P9 1,55 0,29 0,68 0,38 0,09 0,46 0,18 Pembanding Kontrol 1,34 0,30 1,16 0,38 0,12 0,53 0,31

Keterangan : Hasil Analisis Balai Penelitian Tanah (2008)

P1 = Biomineral + SG 2% P4 = Biomineral + HSG 2% P7 = Biomineral + LK 2% P2 = Biomineral + SG 4% P5 = Biomineral + HSG 4% P8 = Biomineral + LK 4% P3 = Biomineral + SG 6% P6 = Biomineral + HSG 6% P9 = Biomineral + LK 6%

6 ppm, Zn 81 ppm, Ni 0,9 ppm, Cr 1,1 ppm dan Se 0,1 ppm. Proteksi biomineral baik dengan serbuk gergaji, hidrolisis serbuk gergaji maupun limbah kertas menyebabkan kandungan mineral makro menurun kecuali mineral N, sedangkan kandungan mineral mikronya meningkat kecuali mineral Mn dan Ni. Kandungan mineral N pada biomineral dienkapsulasi lebih tinggi daripada biomineral kontrol, kecuali pada perlakuan P3. Kandungan mineral P pada perlakuan P4, P7 dan P8 juga lebih tinggi daripada biomineral dienkapsulasi. Kandungan mineral Mn dan Ni pada biomineral dienkapsulasi lebih rendah daripada biomineral kontrol. Kandungan mineral makro yang menurun dikarenakan mineral yang bersifat kation diantaranya K, Ca, Mg dan Na terikat pada sumber xylosa, sehingga kemungkinan tidak terdeteksi saat analisis mineral.

Tabel 8. Kandungan Mineral Mikro pada Biomineral

Perlakuan Fe Al Mn Cu Zn Co Ni Cr Se --- ppm --- P1 1588 236 80 7 83 0,2 0,3 1,5 0,1 P2 1954 276 90 7 87 0,4 0,5 1,9 0,2 P3 2299 316 95 8 91 0,4 0,5 2,4 0,1 P4 1827 367 103 9 97 0,3 0,5 1,5 0,4 P5 1853 309 92 8 93 0,2 0,7 1,3 0,2 P6 1652 305 92 8 104 0,2 0,7 1,2 0,2 P7 1930 308 114 7 87 0,2 0,6 1,4 0,2 P8 2244 397 130 10 95 0,2 0,6 2,0 0,4 P9 2052 356 118 9 107 0,2 0,8 1,8 0,1 Pembanding Kontrol 1384 169 161 6 81 0,0 0,9 1,1 0,1

Keterangan : Hasil Analisis Balai Penelitian Tanah (2008)

P1 = Biomineral + SG 2% P4 = Biomineral + HSG 2% P7 = Biomineral + LK 2% P2 = Biomineral + SG 4% P5 = Biomineral + HSG 4% P8 = Biomineral + LK 4% P3 = Biomineral + SG 6% P6 = Biomineral + HSG 6% P9 = Biomineral + LK 6%

Berdasarkan kebutuhan mineral pada sapi perah yang tersaji pada Tabel 2, dapat diketahui bahwa biomineral baik kontrol maupun dienkapsulasi dapat memenuhi kebutuhan mineral Fe, Mn dan Zn pada sapi perah, sedangkan kandungan mineral Mg dan Na pada biomineral belum mencukupi kebutuhan sapi perah.

Kandungan Fe, Mn dan Zn pada biomineral jauh melebihi kebutuhan sapi perah. Fe berfungsi dalam proses oksidasi yaitu mengangkut O2 dan CO2 dalam sel, sebagai

pengangkut hidrogen ke dalam sel dan sebagai bagian dari sistem transpor elektron dalam sel, sehingga kandungan Fe dalam ransum yang tinggi tidak terlalu berpengaruh pada ternak (Tillman et al., 1998). Zn berfungsi sebagai aktivator beberapa enzim dan beberapa enzim dalam tubuh ternak mengandung Zn. Selain itu, Zn berperan dalam replikasi dan diferensiasi sel, metabolisme asam nukleat, produksi, penyimpanan dan sekresi hormon, sistem imun dan keseimbangan elektrolit (McDonald et al.,2002). Zn juga berperan penting dalam meningkatkan aktivitas mikroba dalam rumen (Arora, 1989), sehingga kandungan Zn yang tinggi pada biomineral dapat meningkatkan proses fermentasi yang terjadi dalam rumen. Mn berfungsi sebagai pengaktif reaksi enzim yang menyangkut metabolisme karbohidrat, lemak dan protein (Williamson dan Payne, 1993). Kandungan Mn yang tinggi pada biomineral dapat meningkatkan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Kandungan Mg dan Na pada biomineral yang belum mencukupi kebutuhan sapi perah, diharapkan dapat dipenuhi dari pakan ternak yaitu hijauan dan konsentrat.

Kandungan mineral S dan P pada biomineral dapat mencukupi kebutuhan sapi jantan, dara dan kering. Selain itu, kandungan mineral P juga dapat memenuhi kebutuhan sapi laktasi dengan produksi 7-13 l/hari. Kandungan mineral Ca pada biomineral hanya dapat mencukupi kebutuhan sapi jantan. Walaupun demikian, suplemen mineral organik dilaporkan lebih tersedia untuk meningkatkan produksi ternak dibandingkan dengan mineral anorganik (McDowell, 1992).

Rasio Ca : P pada biomineral yaitu 1 : 1, sedangkan kebutuhan Ca : P untuk sapi perah yang sedang laktasi yaitu 1,4 : 1 (NRC, 1989). Kandungan Ca : P pada biomineral tidak mencukupi kebutuhan Ca : P untuk sapi perah yang sedang laktasi. Hal ini dapat diatasi dengan penambahan kapur atau sumber Ca lainnya dalam pembuatan biomineral.

Konsentrasi Amonia

Protein pakan didalam rumen dipecah oleh mikroba menjadi peptida dan asam amino, beberapa asam amino dipecah lebih lanjut menjadi amonia. Amonia yang diproduksi bersama dengan peptida dan asam amino akan digunakan oleh

mikroba rumen dalam pembentukan protein mikroba. Umumnya proporsi protein yang didegradasi didalam rumen sekitar 70-80% atau 30-40% untuk protein yang sulit dicerna dan ini merupakan protein by pass yang akan dimanfaatkan untuk ternak ruminansia (McDonald et al., 2002).

Tabel 9. Rataan Konsentrasi Amonia pada Biomineral Dienkapsulasi Sumber

xylosa

Taraf penggunaan sumber xylosa (%)

Rataan ± Sd 2 4 6 --- mM --- SG 32,62 ± 10,93 26,45 ± 1,68 27,73 ± 5,30 28,93 ± 3,26 HSG 27,70 ± 2,91 26,09 ± 7,75 30,89 ± 1,35 28,23 ± 2,44 LK 28,45 ± 4,05 25,54 ± 2,70 25,80 ± 4,25 26,60 ± 1,61 Rataan ± Sd 29,59 ± 2,65 26,03 ± 0,46 28,14 ± 2,57 27,92 ± 1,20 Keterangan : SG = Serbuk gergaji; HSG = Hidrolisis serbuk gergaji; LK = Limbah kertas

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa konsentrasi amonia tidak dipengaruhi oleh perbedaan sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa (Tabel 9). Adapun interaksi antara faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa tidak nyata terhadap konsentrasi amonia. Dengan demikian, ketiga jenis sumber xylosa dapat digunakan untuk memproteksi biomineral. Demikian juga dengan taraf penggunaan sumber xylosa. Konsentrasi amonia yang terendah dapat dicapai dengan menggunakan taraf penggunaan sumber xylosa sebesar 4%.

Pada biomineral kontrol, konsentrasi amonia yang dihasilkan adalah sebesar 32,05 mM. Walaupun konsentrasi amonia pada biomineral dengan faktor serbuk gergaji, hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas dengan taraf yang berbeda (2, 4 dan 6%) tidak berbeda nyata, namun Tabel 9 menunjukkan bahwa faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa terhadap biomineral dapat menurunkan konsentrasi amonia dibandingkan dengan biomineral kontrol. Penurunan konsentrasi amonia mencapai 9,7; 11,9 dan 17% pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji, hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas, sedangkan taraf penggunaan sumber xylosa 2, 4 dan 6% menurunkan konsentrasi amonia sebesar 7,7; 18,8 dan 12,2%. Berdasarkan persentase penurunan konsentrasi amonia tersebut, dapat dikatakan bahwa sumber xylosa yang optimum mengurangi degradasi protein didalam rumen adalah limbah kertas, sedangkan taraf optimumnya ialah 4%. Hasil

ini didukung oleh hasil uji ortogonal polinomial bahwa taraf penggunaan sumber xylosa mengakibatkan konsentrasi amonia mengikuti pola kuadratik (P<0,1) dengan persamaan kuadrat Y = 38,83 - 6,0325 X + 0,7088 X2, dimana Y merupakan konsentrasi amonia dan X merupakan taraf penggunaan sumber xylosa. Pada Gambar 6 dapat dilihat bahwa taraf 4% menghasilkan konsentrasi amonia paling rendah dibandingkan dengan taraf lainnya.

.

Gambar 6. Grafik Hubungan Konsentrasi Amonia dengan Biomineral Faktor Sumber Xylosa dan Taraf Penggunaan Sumber Xylosa

Penurunan konsentrasi amonia dalam hasil penelitian ini dikarenakan xylosa mampu memproteksi protein dari degradasi mikroba rumen (Prasetiyono, 2008). Penurunan tersebut menunjukkan bahwa protein yang didegradasi dalam rumen lebih sedikit atau protein bypass lebih banyak. Puastuti (2005) menyatakan bahwa amonia rumen lebih rendah pada pakan dengan protein tahan degradasi. Menurut Windschitl dan Stern (1988b), penurunan konsentrasi N amonia pada bungkil kedelai yang diberi xylosa mengindikasikan asam amino yang dideaminasi lebih rendah akibat pengaruh xylosa. Efek perlindungan xylosa terjadi oleh karena adanya reaksi Mailard antara gula aldehid dengan asam amino bebas yang menyebabkan ketersediaan protein dalam rumen menurun (Nakamura et al., 1992). Hasil penelitian Cleale et al. (1987a) juga menyatakan bahwa melalui reaksi Mailard dapat menekan pelepasan amonia dalam rumen dari tepung kedelai yang diberi xylosa murni.

Lebih lanjut dinyatakan oleh Cleale et al. (1987b) bahwa pelepasan amonia yang ditekan oleh reaksi Mailard dipengaruhi oleh sumber dan jumlah gula pereduksi yang ditambahkan, kadar air, pH bahan, suhu dan lama pemanasan. Oleh

0 5 10 15 20 25 30 35 0 2 4 6 8

Taraf penggunaan sum ber xylosa (%)

K o n s e n tr a s i A m o n ia ( m M ) SG HSG LK

karena itu, besarnya penurunan konsentrasi amonia dipengaruhi oleh kadar xylosa yang terkandung dalam bahan sumber xylosa, namun dalam penelitian ini konsentrasi xylosa dalam bahan sampel tidak diukur. Ahmed et al. (2001) menyatakan bahwa xylosa merupakan konstituen utama dari hemiselulosa ketika diambil dari kayu keras (hardwood), maka kadar xylosa dalam serbuk gergaji pantas dipertimbangkan. Demikian juga pada xylosa dari hidrolisis serbuk gergaji. Menurut McDonald et al. (2002), xylosa diproduksi dalam jumlah yang pantas dipertimbangkan setelah hijauan dihidrolisis dengan asam sulfat normal. Oleh karena itu, pada penelitian ini serbuk gergaji dihidrolisis menggunakan larutan H2SO4 0,3 M.

Menurut Prasetiyono (2008), berdasarkan hasil analisis dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC), konsentrasi xylosa pada black liquor yang telah dinetralkan dengan HCl adalah 3,2658 x 102 ppm.

Konsentrasi amonia dalam hasil penelitian ini berkisar antara 25,54-32,62 mM (Tabel 9). Kisaran ini melebihi kisaran konsentrasi amonia yang optimum untuk menunjang sintesis protein mikroba rumen yaitu 6-21 mM (McDonald et al., 2002). Hal ini mengindikasikan bahwa proteksi biomineral dengan xylosa tidak mengganggu sintesis protein mikroba rumen. Selain itu, konsentrasi amonia yang tinggi juga dikarenakan dalam percobaan in vitro tidak terjadi penyerapan amonia oleh dinding rumen dan pembuangan melalui urin sehingga amonia terakumulasi di dalam tabung fermentor.

Konsentrasi VFA

Volatile Fatty Acid (VFA) merupakan produk akhir fermentasi kardohidrat dan merupakan sumber energi utama ruminansia asal rumen (Hungate, 1966). Produksi VFA total dapat menggambarkan fermentabilitas suatu pakan.

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa konsentrasi VFA tidak dipengaruhi oleh perbedaan sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa (Tabel 10) dan tidak terdapat interaksi antara faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa. Uji lanjut dengan ortogonal polinomial menunjukkan konsentrasi VFA pada biomineral dengan penambahan limbah kertas mengikuti pola kuadratik (P<0,1) dengan persamaan kuadrat Y = 72,36 + 78,007 X - 11,094 X2, dimana Y merupakan konsentrasi VFA dan X merupakan taraf penggunaan sumber xylosa. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan limbah kertas pada biomineral meningkatkan

konsentrasi VFA pada taraf 4%, kemudian menurun pada taraf 6%. Sebaliknya, konsentrasi VFA pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji menurun pada taraf 4%, kemudian meningkat pada taraf 6%. Pada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji, konsentrasi VFA menurun seiring dengan meningkatnya taraf penggunaan sumber xylosa (Gambar 7).

Tabel 10. Rataan Konsentrasi VFA Total pada Biomineral Dienkapsulasi Sumber

xylosa

Taraf penggunaan sumber xylosa (%) Rataan ± Sd

2 4 6 --- mM --- SG 165,88 ± 45,30 154,56 ± 47,67 190,60 ± 80,64 170,35 ± 18,43 HSG 188,28 ± 40,46 166,25 ± 61,34 148,56 ± 32,44 167,70 ± 19,89 LK 184,00 ± 80,39 206,89 ± 70,12 141,03 ± 53,53 177,31 ± 33,44 Rataan ± Sd 179,39 ± 11,89 175,90 ± 27,47 160,06 ± 26,71 171,78 ± 4,96 Keterangan : SG = Serbuk gergaji; HSG = Hidrolisis serbuk gergaji; LK = Limbah kertas

Pada Gambar 7 terlihat pula bahwa biomineral dengan penambahan limbah kertas pada taraf 4% menghasilkan konsentrasi VFA tertinggi, namun menghasilkan konsentrasi amonia yang paling rendah (Gambar 6). Hal ini menunjukkan bahwa degradasi protein dalam rumen rendah, tetapi karbohidrat masih dapat difermentasi dalam rumen. Oleh karena itu, biomineral ini dapat dikatakan cukup fermentable.

Gambar 7. Grafik Hubungan Konsentrasi VFA dengan Biomineral Faktor Sumber Xylosa dan Taraf Penggunaan Sumber Xylosa

Biomineral kontrol menghasilkan konsentrasi VFA sebesar 177,94 mM. Faktor sumber xylosa pada biomineral menurunkan konsentrasi VFA dibandingkan dengan biomineral kontrol, sedangkan pada faktor taraf penggunaan sumber xylosa, konsentrasi VFA menurun hanya pada taraf 4 dan 6%. Konsentrasi VFA pada biomineral dengan perlakuan taraf penggunaan sumber xylosa 2% lebih tinggi daripada biomineral kontrol. Hasil ini sejalan dengan penelitian Prasetiyono (2008) yang menyatakan bahwa konsentrasi VFA menurun pada bungkil kedelai yang diberi xylosa.

Konsentrasi VFA yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah dengan kisaran 141,03-206,89 mM dengan rataan 171,78±4,96 mM (Tabel 10). Konsentrasi VFA ini lebih tinggi daripada kisaran VFA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba rumen yang optimal yaitu 80-160 mM (Sutardi, 1980). Konsentrasi VFA yang tinggi dikarenakan dalam percobaan in vitro tidak terjadi penyerapan VFA oleh dinding rumen atau lolos ke abomasum sehingga VFA terakumulasi di dalam tabung fermentor.

Degradabilitas Bahan Kering

Degradabilitas bahan kering (DBK) dan bahan organik (DBO) dapat dijadikan salah satu indikator untuk menentukan kualitas pakan dan nilainya menunjukkan seberapa banyak zat makanan dalam pakan dapat dimanfaatkan oleh mikroba rumen (Sutardi, 1977).

Tabel 11. Rataan Degradabilitas Bahan Kering (DBK) Sumber

xylosa

Taraf penggunaan sumber xylosa (%) Rataan ± Sd

2 4 6 --- % --- SG 42,28 ± 7,26 38,97 ± 8,61 39,89 ± 6,63 40,38 ± 1,71a HSG 42,05 ± 3,84 45,14 ± 6,56 40,78 ± 8,13 42,66 ± 2,24a LK 41,05 ± 6,75 43,59 ± 8,73 47,93 ± 4,30 44,19 ± 3,48b Rataan ± Sd 41,79 ± 0,65 42,57 ± 3,21 42,87 ± 4,40 42,91 ± 1,92 Keterangan : Nilai dengan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan

perbedaan yang nyata (P<0,05)

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa degradabilitas bahan kering (DBK) secara nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perbedaan sumber xylosa, tetapi tidak dipengaruhi oleh taraf penggunaan sumber xylosa (Tabel 11). Interaksi antara faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa nyata (P<0,05) mempengaruhi DBK. Pengaruh interaksi diperlihatkan dalam Gambar 8.

Hasil uji ortogonal kontras menunjukkan bahwa nilai DBK pada biomineral dengan penambahan limbah kertas (44,19±3,48%) berbeda nyata (P<0,05) dengan biomineral dengan penambahan serbuk gergaji (40,38±1,71%) dan hidrolisis serbuk gergaji (42,66±2,24%). Nilai DBK pada biomineral dengan penambahan limbah kertas nyata (P<0,05) lebih tinggi daripada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji dan hidrolisis serbuk gergaji, hasil ini didukung oleh konsentrasi amonia yang lebih rendah pada biomineral dengan penambahan limbah kertas. Menurut Puastuti (2005), terdapat korelasi antara produksi amonia dalam rumen dengan degradabilitas ransum dalam rumen. Hal ini mengindikasikan bahwa nutrien yang terdegradasi didalam rumen lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan sumber xylosa lainnya. Selain itu, nilai DBK pada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji berbeda nyata (P<0,1) dengan biomineral dengan penambahan serbuk gergaji. Nilai DBK pada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji lebih tinggi daripada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji. Hal ini dikarenakan pada hidrolisis serbuk gergaji, serat kasar telah mengalami proses hidrolisis menjadi bentuk yang lebih sederhana, diantaranya hemiselulosa terhidrolisis menjadi xylosa dan arabinosa. Xylosa memberikan perlindungan terhadap biomineral sehingga degradasi nutrien dalam rumen lebih rendah dan pasokan nutrien ke organ pasca rumen menjadi lebih tinggi.

Berdasarkan uji ortogonal polinomial, nilai DBK pada biomineral dengan penambahan limbah kertas mengikuti pola linier (P<0,01) dengan persamaan kuadrat Y = 37,31 + 1,72 X, dimana Y merupakan DBK dan X merupakan taraf penggunaan sumber xylosa. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai DBK pada biomineral dengan penambahan limbah kertas meningkat seiring dengan meningkatnya taraf penggunaan sumber xylosa. Pada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji, nilai DBK mengikuti pola kuadratik (P<0,05) dengan persamaan kuadrat Y = 31,51 + 7,1325 X – 0,9313 X2, dimana Y merupakan DBK dan X merupakan taraf

penggunaan sumber xylosa. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan hidrolisis serbuk gergaji meningkatkan nilai DBK pada taraf 4%, kemudian menurun pada taraf 6%. Pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji, nilai DBK menurun pada taraf 4%, kemudian sedikit meningkat pada taraf 6% (Gambar 8).

Gambar 8. Grafik Hubungan Degradabilitas Bahan Kering dengan Biomineral Faktor Sumber Xylosa dan Taraf Penggunaan Sumber Xylosa

Nilai DBK pada biomineral kontrol sebesar 38,61%. Faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa pada biomineral meningkatkan nilai DBK dibandingkan dengan biomineral kontrol. Peningkatan DBK pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji, hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas masing- masing mencapai 4,6; 10,5 dan 14,4%, sedangkan akibat faktor taraf penggunaan sumber xylosa 2, 4 dan 6% DBK masing-masing meningkat mencapai 8,2; 10,3 dan 11%. Menurut Kurniawan (2007), semakin tinggi nilai DBK dan degradabilitas bahan organik (DBO) suatu ransum akan semakin tinggi pula jumlah ransum yang tertinggal dalam tubuh ternak untuk dimanfaatkan bagi pertumbuhan dan perkembangan.

Degradabilitas Bahan Organik

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa degradabilitas bahan organik (DBO) tidak dipengaruhi faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa (Tabel 12) dan tidak terdapat interaksi antara faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa. Berdasarkan uji ortogonal kontras, nilai DBO pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji berbeda nyata (P<0,1) dengan

Y = 37,31 + 1, 72 X

biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas. Nilai DBO pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji lebih tinggi daripada biomineral dengan penambahan hidrolisis serbuk gergaji dan limbah kertas. Tabel 12 juga menunjukkan nilai DBO pada taraf penggunaan sumber xylosa 4% lebih tinggi daripada taraf lainnya.

Tabel 12. Rataan Degradabilitas Bahan Organik (DBO) Sumber

xylosa

Taraf penggunaan sumber xylosa (%) Rataan ± Sd

2 4 6 --- % --- SG 50,55 ± 7,30 51,77 ± 9,23 50,62 ± 7,40 50,96 ± 0,68 HSG 46,25 ± 6,73 49,79 ± 8,62 45,70 ± 11,52 47,25 ± 2,22 LK 45,95 ± 6,71 49,00 ± 9,67 46,74 ± 8,49 47,23 ± 1,58 Rataan ± Sd 47,58 ± 2,57 50,18 ± 1,42 47,69 ± 2,59 48,48 ± 2,16 Keterangan : SG = Serbuk gergaji; HSG = Hidrolisis serbuk gergaji; LK = Limbah kertas

Biomineral kontrol menghasilkan nilai DBO sebesar 37,60%. Perlakuan yang diterapkan meningkatkan nilai DBO dibandingkan dengan biomineral kontrol. Hal ini mengindikasikan proteksi xylosa meningkatkan nutrien yang lolos dari degradasi dalam rumen. Hasil ini didukung oleh Windschitl dan Stern (1988b) yang menyatakan bahwa pencernaan BO dalam rumen cenderung menurun pada bungkil kedelai yang diberi lignosulfonat (black liquor). Lignosulfonat mengandung suatu varietas gula kayu dengan gula utamanya adalah xylosa (Windschitl dan Stern, 1988a).

Kecernaan Bahan Kering

Kecernaan bahan kering (KCBK) merupakan salah satu indikator untuk menentukan kualitas ransum. Semakin tinggi KCBK maka semakin tinggi pula peluang nutrisi yang dapat dimanfaatkan ternak untuk pertumbuhannya. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa KCBK secara nyata (P<0,05) dipengaruhi oleh perbedaan sumber xylosa, tetapi tidak dipengaruhi oleh taraf penggunaan sumber xylosa (Tabel 13). Adapun interaksi antara faktor sumber xylosa dan taraf penggunaan sumber xylosa tidak nyata terhadap KCBK. Nilai KCBK pada biomineral dengan penambahan limbah kertas (60,98%) lebih tinggi daripada

biomineral dengan penambahan serbuk gergaji (58,73%) dan hidrolisis serbuk gergaji (56,93%). Hasil ini sejalan dengan degradabilitas bahan kering (DBK) yang dihasilkan.

Tabel 13. Rataan Kecernaan Bahan Kering (KCBK) Sumber

xylosa

Taraf penggunaan sumber xylosa (%) Rataan ± Sd

2 4 6 --- % --- SG 59,63 ± 3,34 56,15 ± 4,30 60,24 ± 3,86 58,73 ± 2,27a HSG 57,67 ± 5,28 55,87 ± 9,31 57,26 ± 3,70 56,93 ± 0,94a LK 62,02 ± 7,08 60,94 ± 5,95 59,97 ± 3,47 60,98 ± 1,02b Rataan ± Sd 59,78 ± 2,18 57,65 ± 2,85 59,22 ± 1,71 58,88 ± 2,03 Keterangan : Nilai dengan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan

perbedaan yang nyata (P<0,05)

SG = Serbuk gergaji; HSG = Hidrolisis serbuk gergaji; LK = Limbah kertas

Nilai kecernaan BK pada biomineral kontrol adalah sebesar 59,36%. Nilai KCBK pada biomineral dengan penambahan limbah kertas lebih tinggi daripada biomineral kontrol, sedangkan pada biomineral dengan penambahan serbuk gergaji dan hidrolisis serbuk gergaji lebih rendah daripada biomineral kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa limbah kertas (black liquor) terbukti dapat digunakan sebagai bahan pelindung biomineral cairan rumen dari fermentasi mikroba rumen, sehingga pasokan nutrien ke organ pasca rumen yang dapat dimanfaatkan induk semang lebih tinggi. Menurut Puastuti (2005), pasokan nutrien pascarumen berkualitas atau tidak harus dilihat kecernaannya dalam pasca rumen. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Prasetiyono (2008), bahwa black liquor dari limbah pabrik kertas dapat digunakan sebagai bahan protektor protein kedelai melalui proses ekstrusi. Lebih lanjut disebutkan bahwa proteksi protein kedelai dengan black liquor mampu

Dokumen terkait