• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Cara Kerja Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Efektivitas Beauveria bassiana terhadap Mortalitas Kutu Daun

Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. bassiana memberikan pengaruh terhadap mortalitas kutu daun, tingkat kematian kutu daun tertinggi akibat pengaruh B. bassiana adalah perlakuan B3 (1,76 x107 spora/ml) yaitu menyebabkan rata-rata kematian sebesar 40,91% (Tabel 1). Akan tetapi perbedaan konsentrasi B. bassiana tidak mempengaruhi tingkat mortalitas kutu daun (Lampiran 1). Hal ini diduga karena selang antar konsentrasi terlalu dekat sehingga pengaruhnya terhadap kematian kutu daun hampir sama. Dugaan kedua, karena tingkat keefektifan atau daya serang B. bassiana terhadap kutu daun rendah, terkait dengan isolat murni B. bassiana yang berasal dari walang sangit bukan berasal dari kutu daun, B. bassiana akan jauh lebih efektif jika berasal dari inang kutu daun itu sendiri atau yang masih dalam satu ordo (Homoptera).

Serangga inang merupakan faktor penting yang menentukan keragaman genetik cendawan, sedangkan faktor lingkungan berperan dalam persebaran cendawan ke serangga, kelangsungan hidup cendawan sebagai agen hayati, dan kelangsungan hidup konidia di lapangan. Keragaman genetik cendawan penting dalam menentukan jenis isolat serta perbaikan sifat isolat B. bassiana yang digunakan sebagai agens hayati, yaitu apakah isolat bersifat spesifik terhadap inang dan lingkungan (Thomas dan Jenkins, 1997).

Tabel 1. Pengaruh perlakuan jamur B. bassiana terhadap mortalitas kutu daun Konsentrasi Persentase mortalitas kutu daun (%)

0 x107 spora/ml

commit to user

Penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali. Gambar 1 menunjukkan bahwa kematian kutu daun akibat pengaruh B. bassiana berlangsung secara bertahap. Berbeda dengan insektisida metonil, kematian berlangsung cepat

akibat daya membunuh tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh cara kerja B. bassiana dalam melumpuhkan musuh alaminya. Hasil ini sesuai dengan

penelitian Purnama yaitu pada A. craccivora yang terinfeksi B. bassiana bekerja maksimal dengan menunjukkan ciri-ciri, warna tubuh memudar, jarang bergerak untuk pindah tempat makan, pada akhirnya tidak mampu bergerak, dalam 2 - 3 hari tubuh A. craccivora mulai mengeras dan ditumbuhi

miselium. B. bassiana bekerja maksimal pada hari kelima dan keenam (Purnama et al., 2003).

Gambar 1. Pola kematian kutu daun selama 7 hari

Mekanisme infeksi jamur B. bassiana terhadap serangga, dilakukan secara langsung dengan menginfeksi lapisan kulit luar. Spora akan berkecambah membentuk hifa dan terus berkembang sekaligus menghasilkan enzim kitinase dan protease yang menghancurkan kutikula, akibat rusaknya kutikula, hifa akan menembus dan berkembang di dalam tubuh serangga.

Hama akan mati karena seluruh tubuh telah dipenuhi oleh miselium B. bassiana. Pada tingkatan lanjut, hifa akan menembus keluar dan tumbuh di

0

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

bagian luar tubuh serangga, serta menghasilkan konidia yang akan disebarkan ke lingkungan dan menginfeksi serangga lain (Mahr, 1999).

Penetrasi B. bassiana berlangsung 12 - 24 jam dengan bantuan enzim khitinase, lipase, dan protease yang dikeluarkan hifa. Miselium di dalam epidermis, tumbuh ke seluruh jaringan tubuh, mengadakan penetrasi ke permukaan tubuh dan membentuk konidia (Robert, 1981 cit Purnama, 2003).

Hifa juga akan menghasilkan toksin yang mengandung beauverisin, beauverolit, bassianolit, isorolit, zat warna dan asam oksali (Steinhaus, 1949).

Gejala awal kutu daun terinfeksi B. bassiana hampir sama dengan kutu daun terpapar insektisida yaitu, warna tubuh kutu daun berubah kemerahan, tapi sebelumnya kutu daun tidak lagi aktif bergerak, warna lama kelamaan berubah menghitam atau memudar. Muncul miselium tidak langsung berupa benang-benang halus terlihat beberapa hari kemudian (Lampiran 9). Apabila inang telah mati, maka miselium akan tersebar dengan cara memenuhi ruang rongga tubuh sehingga tubuh inang akan mengeras. Pada kondisi lembab dan suhu hangat (23 - 30 oC), hifa akan menembus intergumen dan menghasilkan konidia (Robert, 1981 cit Purnama 2003)

Gambar 2. Histogram populasi akhir kutu daun

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa populasi kutu daun semakin meningkat kecuali insektisida metonil yang telah mematikan semua kutu daun. Pertumbuhan kutu daun sangat cepat dalam satu minggu pengamatan

commit to user

(Gambar 2), populasi kutu daun akhir tertinggi adalah kontrol rata-rata mencapai 75 ekor. Menurut Capinera (2001), rata-rata kutu daun dapat menghasilkan 3 - 10 nimfa/hari atau dapat mencapai lebih dari 50 keturunan dalam seminggu dan daur hidup berlangsung sekitar 20 - 25 hari.

Tabel 2. Pengaruh B. bassiana terhadap populasi kutu daun

Keterangan : Angka - angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT taraf 5 %

Gambar 3. Perkembangan populasi kutu daun selama 1 minggu

B. bassiana juga memberikan pengaruh yang berbeda terhadap perkembangan populasi kutu daun. Perlakuan B. bassiana berbagai konsentrasi mampu menekan perkembangan kutu daun (Lampiran 2). Pada konsentrasi B3 (1,76 x107 spora/ml) populasi kutu daun dapat ditekan sebesar 37% dibandingkan dengan kontrol. Semakin tinggi konsentrasi B. bassiana semakin sedikit populasi kutu daun (Gambar 3), namun berbeda dengan B4 (5,28 x107 spora/ml) populasi kutu daun lebih banyak

Konsentrasi Rata-rata populasi kutu daun (ekor) 0 x107 spora/ml

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

dibandingkan konsentrasi yang lain. Hal ini diduga karena kepekatan larutan justru menghambat serangan B. bassiana ke kutu daun, spora tidak langsung mengenai tubuh serangga sehingga penyebaran konidia terhambat. Pada gambar di atas juga terlihat bahwa setiap hari populasi kutu daun terus meningkat, hal ini menunjukkan bahwa pengendalian kutu daun menggunakan B. bassiana kurang efektif.

B. Pengaruh Beauveria bassiana terhadap Mortalitas Predator Kutu Daun Hasil pengamatan menunjukkan bahwa B. bassiana pengaruh tidak langsung tidak berdampak terhadap kematian musuh alami kutu daun yaitu kumbang Coccinellidae. Kematian hanya ditunjukkan oleh pengaruh pemberian insektisida metonil. Pengaruh tidak langsung yaitu penyemprotan terhadap kutu daun, menunjukkan bahwa metonil langsung bereaksi terhadap kumbang, sehingga kumbang langsung mati sebelum sempat memangsa kutu daun (Lampiran 3 & 5). Metonil merupakan racun sistemik, diserap oleh daun atau bagian tanaman lain, sehingga serangga yang menyerang bagian tanaman akan mati. Metonil memiliki cara kerja ganda sebagai racun kontak maupun racun lambung yang efektif mematikan serangga hama, serta memiliki spektrum pengendali serangga yang luas, terutama dari ordo Lepidoptera, Hemiptera, Homoptera, Diptera dan Coleoptera (MKD, 2011).

Tabel 3. Pengaruh B. bassiana terhadap mortalitas musuh alami kutu daun (Coccinellidae)

Keterangan : Angka - angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT taraf 5 %

Konsentrasi N Persentase Mortalitas Coccinellidae pengaruh

commit to user

Pengaruh pemberian B. bassiana dan kontrol menunjukkan hasil yang berbeda, kumbang tetap hidup dan memangsa kutu daun yang diberikan.

Terdapat kumbang yang mati setelah selang beberapa hari kemudian, tetapi gejala kematiannya tidak menunjukkan akibat pengaruh B. bassiana (Lampiran 9). Hal ini diduga dipengaruhi faktor suhu, kelembaban, fisiologi ataupun kumbang mengalami stress. Hal ini membuktikan bahwa B. bassiana aman bagi kumbang Coccinellidae, diduga karena perbedaan jauh antara ordo-ordonya. Hasil ini sejalan dengan penelitian tentang aplikasi B. bassiana di lapang yang inangnya berasal dari Hemiptera, Coleptera dan Orhtoptera, tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas lebah madu (Hymenoptera) di sekitar lahan pertanian. Tingkat mortalitas lebah madu sebesar 2,3 - 3,1 % tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol sehingga aman untuk diaplikasikan (Al mazra’awi, 2007).

Gambar 4. Histogram mortalitas Coccinellidae

Perlakuan pengaruh langsung B. bassiana ke kumbang menunjukkan hasil yang sama seperti halnya pengaruh tidak langsung bahwa perlakuan B. bassiana tidak berdampak terhadap kematian kumbang Coccinellidae dan tetap aktif memangsa kutu daun (Lampiran 4 & 6).

0 20 40 60 80 100 120

K B1 B2 B3 B4 Metonil

Persentase mortalitas Coccinellidae(%)

Konsentrasi

Tidak Langsung Langsung

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

C. Pengaruh Beauveria bassiana terhadap Daya Mangsa Coccinellidae Pemberian B. bassiana secara tidak langsung ke kumbang Coccinellidae mempengaruhi perilaku memangsa kumbang Coccinellidae terhadap kutu daun (Tabel 4). Hal ini disebabkan oleh faktor kematian kumbang Coccinellidae akibat perlakuan insektisida sehingga kumbang tidak sempat memangsa. Pada perlakuan B. bassiana konsentrasi 1,76 x107 spora/ml menunjukkan daya mangsa kumbang menurun. Hal ini dikarenakan terdapat kumbang yang mati sehingga menurunkan jumlah kutu daun yang dimangsa tetapi rata-rata daya mangsa sebelum kematian sama (Lampiran 5), kematian diduga dipengaruhi faktor lain seperti tingkat kondisi suhu maupun kelembapan tempat perlakuan, kumbang mengalami stress ataupun kondisi fisik kumbang serta kemungkinan lain kumbang telah berumur tua.

Tabel 4. Daya mangsa Coccinellidae terhadap kutu daun pengaruh tidak langsung B.

bassiana

Keterangan : Angka - angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT taraf 5 %

Gambar 5. Histogram total daya mangsa Coccinellidae pengaruh B. bassiana secara tidak langsung

Konsentrasi Persentase daya mangsa Coccinellidae terhadap kutu daun perlakuan tidak langsung (%)

0 x107 spora/ml 92,32c

commit to user

Pemberian B. bassiana secara langsung ke kumbang Coccinellidae tidak mempengaruhi perilaku daya mangsa kumbang Coccinellidae (Tabel 5).

Perlakuan insektisida metonil yang menunjukkan daya mangsa yang rendah, hal ini terkait dengan kumbang yang langsung mati setelah diberikan perlakuan.

Tabel 5. Daya mangsa Coccinellidae terhadap kutu daun pengaruh langsung B.

bassiana

Konsentrasi Persentase daya mangsa Coccinellidae terhadap kutu daun perlakuan langsung (%)

0 x107 spora/ml 88,74b

0,19 x107 spora/ml 91,78b

0,59 x107 spora/ml 87,57b

1,76 x107 spora/ml 81,60b

5,28 x107 spora/ml 87,50b

Metonil ,00a

Keterangan : Angka - angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT taraf 5 %

Pemberian B. bassiana secara langsung terhadap predator Coccinellidae tidak mempengaruhi daya mangsa terhadap kutu daun. Hal ini memberikan penjelasan bahwa kumbang masih dapat memangsa kutu daun yang hidup, kumbang tidak akan mau memakan kutu daun yang telah mati, walaupun kutu daun yang hidup telah terinfeksi B. bassiana dan tidak menyebabkan kematian setelah memangsa kutu daun. Perilaku memangsa kumbang Coccinellidae tersebut diduga disebabkan karena perbedaan ordo yang jauh antara Coccinellidae (Coleoptera) dengan inang B. bassiana yaitu walang sangit (Hymeptera), sehingga kumbang tidak terinfeksi B. bassiana.

Walaupun jumlah kutu daun yang dimangsa tidak sama per perlakuan dimana jumlah kutu daun tertinggi dimangsa adalah perlakuan B1 (Lampiran 6), perbedaan-perbedaan kemampuan memangsa kumbang antar perlakuan tersebut diduga dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan kondisi Coccinellidae.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

Gambar 6. Histogram total daya mangsa Coccinellidae pengaruh B. bassiana secara langsung

D. Pengaruh Beauveria bassiana terhadap Persentase Intensitas Kerusakan Tanaman Cabai Akibat Serangan Kutu Daun

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemberian B. bassiana mempengaruhi intensitas kerusakan tanaman cabai akibat serangan kutu daun.

Intensitas kerusakan terendah adalah pemberian insektisida metonil, sedangkan intensitas tertinggi adalah B1 (0,19 x107 spora/ml), dimana nilainya tidak berbeda jauh dengan perlakuan kontrol, B3, dan B4 sedangkan perlakuan insektisida metonil tidak ada kerusakan karena tidak ada satu pun kutu daun pada tanaman cabai (Lampiran 7).

Tabel 6. Pengaruh B. bassiana terhadap intensitas kerusakan tanaman akibat serangan kutu daun

Keterangan : Angka - angka pada tiap kolom yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada DMRT taraf 5 %

Konsentrasi N Persentase intensitas kerusakan tanaman

commit to user

Perbedaan variasi intensitas kerusakan daun masing-masing perlakuan, dipengaruhi oleh turun naiknya populasi kutu daun yaitu jumlah keturunan kutu daun dan tingkat kematian imago kutu daun. Penambahan daun pada tanaman cabai juga mempengaruhi intensitas serangan. Penambahan jumlah daun yang tidak terserang kutu daun akan mengurangi intensitas kerusakan tanaman.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian dengan judul ” Uji Efektivitas B. bassiana terhadap Aphids dan Pengaruhnya Pada Predator Kumbang Coccinellidae pada Tanaman Cabai” adalah:

1. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan B. bassiana memberikan pengaruh terhadap kematian kutu daun. Kematian tertinggi ditunjukkan pada kepadatan spora 1,76 x107 spora/ml dengan kematian kutu daun sebesar 40,91%.

2. Perbedaan konsentrasi B. bassiana tidak menunjukkan pengaruh yang berbeda terhadap kematian kutu daun, diduga karena selisih antar konsentrasi terlalu dekat dan tingkat keefektifannya rendah.

3. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perlakuan B. bassiana tidak memberikan pengaruh terhadap kematian Coccinellidae, sehingga aman bagi predator kutu daun kumbang Coccinellidae.

4. Konsentrasi B. bassiana memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap tingkat intensitas kerusakan tanaman.

B. Saran

1. B. bassiana aman terhadap predator kumbang Coccinellidae sehingga dapat diaplikasikan ke lahan yang terdapat predator ini.

2. B. bassiana memiliki potensi untuk mengendalikan kutu daun sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan selisih antar konsentrasi lebih besar.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan isolat B. bassiana yang berasal dari inang kutu daun agar mendapatkan hasil maksimal.

4. Perlu dilakukan penyemprotan perlakuan dan pengamatan lebih lama untuk benar-benar mengetahui keefektifan B. bassiana.

Dokumen terkait