• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian ini akan membahas demografi responden berdasarkan jenjang pendidikan, usia, lama usaha berdiri, jenis kelamin, pendapatan per tahun,memiliki NPWP atau tidak, dan siapa yang mengisi SPT. Jumlah kuesioner yang dapat digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100. Ringkasan demografi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4. 1. Data Demografi Responden

Demografi Kategori Jumlah Responden Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 69 69%

Perempuan 31 31%

Usia

15 - 24 12 12%

25 – 34 23 23%

35 – 44 32 32%

45 – 54 26 26%

22

> 55 7 7%

Lama Usaha

< 5 Tahun 9 9%

5 - 10 Tahun 66 66%

> 10 Tahun 25 25%

Pendidikan Terakhir

SD 6 6%

SMP/Sederajat 7 7%

SMA/Sederajat 43 43%

Diploma 4 4%

S1 39 39%

S2 1 1%

Pendapatan Per Tahun

< 300 Juta 73 73%

300 Juta – 2,5 M 18 18%

>2,5 M – 4,8 M 9 9%

Memiliki NPWP Ya 100 100%

Tidak 0 0%

Siapa Yang Mengisi SPT

Sendiri 53 53%

Konsultan 34 34%

Fiskus 13 13%

Sumber : Data Primer (2022)

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa jenis kelamin responden yang terbanyak adalah laki-laki yaitu sebanyak 69 orang. Usia responden yang terbanyak adalah pada kelompok umur 35-44 tahun yaitu sebanyak 32 orang dengan demikian dapat dikatakan bahwa mayoritas responden berusia dewasa. Sehubungan dengan lama usaha, sebagian besar responden melakukan usaha selama 5-10 tahun yaitu sebanyak 66 orang. Berkaitan dengan pendidikan terakhir tampak bahwa jumlah responden terbanyak dari kelompok responden yang pendidikannya dari SMA yaitu sebanyak 43 orang. Terkait pendapatan per tahun responden, diketahui bahwa responden memiliki pendapatan per tahun dibawah Rp 300.000.000 yaitu sebanyak 73 Usaha, Rp 300.000.000 sampai 2,5 miliar sebanyak 18 usaha dan pendapatan diatas 2,5 miliar sampai 4,8 miliar sebanyak 9 usaha, berdasarkan omset per tahun dapat dipastikan bahwa responden adalah pelaku UKM (Usaha Kecil Menengah). Untuk kepemilikan NPWP, seluruh responden telah memiliki NPWP, dan untuk pengisian SPT, sebagian besar responden lebih memilih mengisinya

23 sendiri yaitu sebanyak 53 orang atau 53%, 34 orang atau 34% memilih fiskus dan 13 orang atau 13% memilih konsultan.

Analisis Statistik Deskriptif

Berdasarkan data tabel 4.2 didapatkan informasi mengenai kepatuhan wajib pajak UKM memiliki rata-rata berkisar 3.78 sampai 4.21. Nilai indikator tertinggi pada variabel norma pribadi yaitu 4.13 dan terendah yaitu 4.00. Nilai tertinggi pada variabel norma subyektif adalah 4.21 dan terendah adalah 3.88. Pada variabel norma deskriptif nilai tertinggi ada pada angka 3.98 dan terendah 3.80. Selanjutnya pada variabel norma injungtif nilai tertinggi ditunjukan pada angka 3.99 dan terendah 3.87. Sedangkan pada variabel kepercayaan pada pemerintah dan kepatuhan wajib pajak nilai tertinggi masing-masing yaitu 4.09 dan 3.98 dan terendah masing-masing-masing-masing 3.78 dan 3.87. Secara umum nilai ekspektasi responden terhadap kepatuhan pajak menunjukkan hasil yang cukup baik, mereka rata-rata memberikan sikap yang cukup positif terhadap kepatuhan pajak dalam menunjang aktivitas bisnis mereka.

Tabel 4. 2. Statistik Deskriptif Variabel

Variabel Indikator Minimum Maximum Mean Std. Deviation Norma

24

Uji validitas digunakan untuk menguji sejauh mana ketepatan alat pengukur dapat mengungkapkan konsep gejala/kejadian yang diukur. Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten. Pengujian validitas dan reliabilitas selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.

Tabel 4. 3. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Indikator Validitas (Corrected item

– Total Correlation)

25 Pada tabel 4.2 menunjukkan semua indikator masing-masing variabel mempunyai nilai r hitung positif dan r hitung > r tabel (0.165) sehingga indikator yang diuji tersebut dinyatakan valid. Demikian halnya dengan uji reliabilitasnya, menunjukkan nilai Cronbach alpha masing-masing variabel > 0.60 sehingga indikator-indikator dari setiap

variabel tersebut dinyatakan reliabel.

Uji Asumsi Klasik

Uji asumsi klasik merupakan prasyarat analisis regresi berganda, pengujian ini harus dipenuhi agar penaksiran parameter dan koefisien regresi tidak bias. Pengujian asumsi klasik ini meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Hasil uji asumsi klasik dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

Tabel 4. 4. Uji Asumsi Klasik

Variabel

Normalitas Multikolinearitas Heteroskedastisitas Autokor elasi

Hasil uji normalitas data dengan Kolmogorov-Smirnov dapat disimpulkan dengan membandingkan nilai angka probabilitas atau Asymp. Sig (2-tailed) dengan taraf signifikansi sebesar 0,05 atau 5% dengan pengambilan keputusan jika nilai signifikansi kurang dari 0,05 atau 5% maka distribusi data adalah tidak normal. Dan jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 atau 5% maka distribusi data adalah normal. Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa angka Kolmogorov-Smirnov (K-S) sebesar 1.159 mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.136 > 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data residualnya adalah normal.

Tabel 4.4 menunjukkan bahwa berdasar pada nilai tolerance tampak bahwa semua nilai tolerance untuk masing-masing variabel bebas > 0.10 maka tidak ada multikolinearitas diantara variabel bebasnya. Berdasar pada nilai VIF tampak bahwa

26 semua nilai VIF untuk masing-masing variabel bebas < 10 maka tidak ada multikolinearitas diantara variabel bebasnya.

Dengan menggunakan uji glejser, koefisien parameter untuk masing-masing variabel bebasnya tidak ada yang signifikan atau angka sig > 0.05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas dalam model regresi. Artinya tidak ada korelasi antara besarnya data dengan residual sehingga bila data diperbesar tidak menyebabkan residual (kesalahan) semakin besar pula.

Berdasarkan tabel 4.4, nilai DW diketahui sebesar 2.119, nilai ini akan dibandingkan dengan nilai tabel signifikansi 5%, dengan jumlah sampel 100 (n = 100) dan jumlah variabel independen 5 (k = 5), maka diperoleh nilai du sebesar 1.7804, nilai dl sebesar 1.5710 nilai DW sebesar 2.119, nilai 4 – dl sebesar 2.429 dan nilai 4-du sebesar 2.2196, maka dapat disimpulkan bahwa du < DW < 4 – du (1.7804 < 2.119 < 2.2196), maka artinya tidak terdapat autokorelasi.

Analisis Regresi Linier Berganda

Setelah semua uji asumsi klasik terpenuhi selanjutnya dilakukan analisis regresi linier berganda. Untuk menguji pengaruh norma pribadi, norma subyektif, norma deskriptif, norma injungtif dan kepercayaan pada pemerintah terhadap kepatuhan wajib pajak. Adapun hasil persamaan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh norma pribadi, norma subyektif, norma deskriptif, norma injungtif dan kepercayaan pada pemerintah terhadap kepatuhan wajib pajak ditunjukkan dengan hasil perhitungan regresi seperti tabel 4.5 di bawah ini :

Tabel 4. 5. Analisis Regresi Linier Berganda Variabel Koefisien

Regresi (B) t hitung Sig Keterangan Konstanta 4.086 2.005 0.048** Hipotesis Diterima Norma Pribadi 0.204 3.508 0.001** Hipotesis Diterima Norma Subyektif 0.147 3.180 0.002** Hipotesis Diterima Norma Deskriptif 0.010 0.201 0.841** Hipotesis Ditolak

Norma Injungtif 0.166 2.202 0.030** Hipotesis Diterima Kepercayaan Pada Pemerintah 0.108 2.386 0.019** Hipotesis Diterima

Sumber : Data Primer (2022)

27 Keterangan : Signifikansi pada * 1%, Signifikansi pada ** 5%, Signifikansi pada ***

10%

Dari tabel 4.5 menunjukkan bahwa persamaan regresi yang didapatkan dari hasil perhitungan adalah nilai konstanta 4.086 menunjukkan besarnya kepatuhan wajib pajak adalah 4.086 jika variabel norma pribadi, norma subyektif, norma deskriptif, norma injungtif, dan kepercayaan pada pemerintah adalah 0 (nol). Koefisien regresi variabel norma pribadi sebesar 0.204, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan norma pribadi mengalami kenaikan 1%, maka variabel kepatuhan wajib pajak akan mengalami peningkatan sebesar 0.204. Norma subyektif mempunyai koefisien regresi sebesar 0.147, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan norma subyektif mengalami kenaikan 1%, maka variabel kepatuhan wajib pajak akan mengalami peningkatan sebesar 0.147. Koefisien variabel norma deskriptif diperoleh sebesar 0.010, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan norma deskriptif mengalami kenaikan 1%, maka variabel kepatuhan wajib pajak akan mengalami peningkatan sebesar 0.010. Koefisien regresi variabel norma injungtif sebesar 0.166, artinya jika variabel norma injungtif mengalami kenaikan 1% dan variabel independen lain nilainya tetap maka variabel kepatuhan wajib pajak akan mengalami peningkatan sebesar 0.166.

Variabel kepercayaan pada pemerintah memperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0.108, artinya jika variabel kepercayaan pada pemerintah mengalami kenaikan 1% dan independen lain nilainya tetap maka variabel kepatuhan wajib pajak akan mengalami peningkatan sebesar 0.108.

Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 4.5, diketahui bahwa norma pribadi mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini ditunjukan oleh nilai t hitung > t tabel (3.508 > 1.983) dengan angka signifikansi 0.001 <

0.05, sehingga H1 yang menyatakan bahwa norma pribadi berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dapat diterima. Norma subyektif mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini ditunjukan oleh nilai t hitung > t tabel (3.180 > 1.983) dengan angka signifikansi 0.002 < 0.05, sehingga H2 yang menyatakan bahwa norma subyektif berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dapat diterima.

Norma deskriptif mempunyai pengaruh yang negatif dan tidak signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini ditunjukan oleh nilai t hitung < t tabel (0.201 < 1.983)

28 dengan nilai signifikansi 0.841 > 0.05, sehingga H3 yang menyatakan bahwa norma deskriptif berpengaruh positif terhadap kepatuhan pajak ditolak. Norma injungtif mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini ditunjukan oleh nilai t hitung > t tabel (2.202 > 1.983) dengan angka signifikansi 0.030 <

0.05, sehingga H4 yang menyatakan bahwa norma injungtif berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dapat diterima. Kepercayaan pada pemerintah mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Hal ini ditunjukan oleh nilai t hitung > t tabel (2.386 > 1.983) dengan angka signifikansi 0.019 < 0.05, sehingga H5 yang menyatakan bahwa kepercayaan pada pemerintah berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak dapat diterima.

Uji Simultan (Uji F)

Uji statistik F digunakan untuk melihat apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap variabel dependen.

Tabel 4. 6. Uji Simultan

Sumber : Data Primer (2022)

Hasil uji F pada tabel 4.6, menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0.000 < 0.05, hal ini berarti bahwa norma pribadi, norma subyektif, norma deskriptif, norma injungtif dan kepercayaan pada pemerintah mempengaruhi kepatuhan wajib pajak secara simultan.

Uji Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui persentase perubahan variabel dependen (Y) yang disebabkan oleh variabel independen (X). Tujuannya adalah untuk menghitung besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

Tabel 4. 7. Uji Koefisien Determinasi

R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

0.549 0.302 0.264 1.12774

Sumber : Data Primer (2022)

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Regression 51.611 5

10.322

1.272 8.116 0.000

Residual 119.549 94

Total 171.160 99

29 Berdasarkan tabel 4.7, dapat dilihat bahwa hasil adjusted R2 dari variabel-variabel independen dalam penelitian ini adalah sebesar 0.302. Hal ini berarti bahwa 30.2% dari kepatuhan wajib pajak UKM dipengaruhi oleh variabel norma pribadi, norma subyektif, norma deskriptif, norma injungtif dan kepercayaan pada pemerintah. Sedangkan 69.8%

lainnya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak termasuk dalam model regresi penelitian ini.

PEMBAHASAN

Norma Pribadi Berpengaruh Positif Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bukti empiris bahwa terdapat pengaruh norma pribadi terhadap kepatuhan wajib pajak dengan arah hubungan positif.

Hal ini berarti semakin tinggi norma pribadi semakin tinggi kepatuhan wajib pajak UKM.

Pemilik UKM yang mempunyai norma pribadi tinggi yaitu berkeyakinan bahwa kepatuhan pajak adalah sesuatu yang etis dan sesuatu yang benar untuk dilakukan maka akan mendorong untuk senantiasa berkeinginan patuh pajak, apabila tidak melakukan kepatuhan perpajakan yaitu menghitung, membayar dan melaporkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku maka pemilik UKM akan merasa bersalah dan malu, dan sebaliknya apabila melakukan kepatuhan perpajakan akan merasa senang karena sudah menjadi warga negara yang baik.

Bukti empiris ini menunjukkan bahwa pemilik UKM yang memiliki keyakinan lebih tinggi atas kepatuhan pajak merupakan perilaku yang benar maka akan lebih patuh atas kewajiban perpajakan yaitu menghitung, membayar dan melaporkan dibanding dengan pemilik UKM yang memiliki keyakinan lebih rendah atas kepatuhan pajak merupakan perilaku yang benar. Bukti empiris ini juga menunjukkan bahwa sistem perpajakan di Indonesia sesuai dengan norma pribadi yang dimiliki pemilik UKM. Zuhal et al (2016) menyatakan bahwa jika norma dan nilai pribadi seseorang sesuai dengan undang perpajakan, mereka akan bersedia secara sukarela mematuhi undang-undang perpajakan.

Dari hasil analisis deskriptif terlihat bahwa rata-rata responden mempunyai norma pribadi dengan kategori setuju akan pentingnya kepatuhan pajak. Hal ini menunjukkan bahwa pemilik UKM sekaligus sebagai pengelola dalam mengambil keputusan yang

30 hubungannya dengan kepatuhan pajak akan merasa bersalah jika menghitung pajak dengan omset lebih rendah dari yang sesungguhnya, merasa malu jika membayar pajak tidak sesuai dengan yang seharusnya, merasa bersalah jika membayar pajak lewat tanggal 15 setiap bulannya dan merasa senang jika melaporkan SPT sebelum atau paling lambat tanggal 30 april setiap tahunnya.

Temuan penelitian ini mendukung sejumlah penelitian sebelumnya yang mengaitkan norma pribadi terhadap kepatuhan pajak. Seperti misalnya temuan Jimenez

& Iyer (2016) menunjukkan bahwa norma pribadi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak. Penelitian ini juga konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Bobek et al (2013) bahwa kepatuhan pajak dipengaruhi secara langsung oleh norma pribadi. Penelitian dari Hikmah et al (2021) juga menunjukkan bahwa norma pribadi memiliki pengaruh yang positif terhadap kepatuhan pajak.

Norma Subyektif Berpengaruh Positif Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bukti empiris bahwa terdapat pengaruh norma subyektif terhadap kepatuhan wajib pajak dengan arah hubungan positif.

Hal ini berarti semakin tinggi norma subyektif semakin tinggi kepatuhan wajib pajak UKM. Pemilik UKM akan memiliki keinginan berperilaku kepatuhan pajak apabila orang-orang yang dianggap penting mendukung terhadap apa yang ia lakukan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemilik UKM mempunyai norma subyektif yang tinggi ketika orang orang yang dianggap penting oleh pemilik UKM menyetujui atau mendukung untuk melaksanakan kepatuhan pajak, yang akhirnya norma subyektif tersebut dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak UKM. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Jimenez & Iyer, 2016) individu akan membuat keputusan mereka tentang kepatuhan pajak atau penghindaran mesmpertimbangkan apakah mereka akan disetujui oleh orang-orang yang dekat dengan mereka atau tidak.

Bukti empiris menunjukkan bahwa pemilik UKM yang memiliki persepsi lebih tinggi atas persetujuan orang orang yang dianggap penting untuk kepatuhan pajak maka akan lebih berniat untuk patuh atas kewajiban perpajakan yaitu menghitung, membayar dan melaporkan dibanding pemilik UKM yang memiliki persepsi lebih rendah atas persetujuan orang orang yang dianggap penting untuk kepatuhan pajak. Ajzen (1991) mengemukakan bahwa norma subyektif dibangun melalui tekanan sosial dan pengaruh masyarakat sekitar individu yang dianggap penting. Bukti empiris ini menunjukkan

31 bahwa keluarga, orang tua, teman, mitra, karyawan menyetujui atau mendukung pemilik UKM untuk melakukan kepatuhan perpajakan. Hal ini selaras dengan pendapat Damayanti et al (2015) bahwa wajib pajak yang memiliki persepsi bahwa tekanan dari lingkungan sosial (keluarga, teman dan kolega) pada kepatuhan pajak akan berniat untuk mematuhi kewajiban pajak mereka daripada wajib pajak yang tidak memiliki persepsi bahwa tekanan dari lingkungan sosial pada kepatuhan pajak. Dari hasil analisis deskriptif memang terlihat bahwa rata-rata responden mempunyai norma subyektif pada kategori setuju.

Temuan penelitian ini mendukung sejumlah penelitian sebelumnya yang mengaitkan antara norma subyektif dengan kepatuhan pajak. Seperti pada penelitian Hikmah et al (2021) bahwa norma subyektif memiliki pengaruh terhadap kepatuhan pajak. Penelitian ini juga konsisten dengan penelitian Karolina & Noviari (2019) menunjukkan kepatuhan pajak dipengaruhi oleh norma subyektif. Penelitian dari Hikmah et al (2021) juga menunjukkan bahwa norma subyektif memiliki pengaruh yang positif

terhadap kepatuhan pajak.

Norma Deskriptif Berpengaruh Positif Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bukti empiris bahwa tidak terdapat pengaruh secara signifikan norma deskriptif terhadap kepatuhan wajib pajak UKM. Bukti empiris ini menunjukkan bahwa norma deskriptif tidak dapat meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Tidak terbuktinya hipotesis yang menyatakan bahwa norma deskriptif berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak UKM dapat diartikan bahwa persepsi pemilik UKM sekaligus sebagai pengelola terhadap pengamatan perilaku kepatuhan pajak yang dilakukan sebagian besar wajib pajak lain tidak mampu mendorong keinginan pemilik UKM untuk melakukan perilaku kepatuhan pajak sesuai peraturan yang berlaku.

Hal ini diduga karena setidaknya dua hal. Pertama, perilaku kepatuhan pajak itu sendiri bukanlah perilaku yang mudah diamati Bobek et al (2007), sehingga dapat menimbulkan bias keyakinan seseorang terhadap perilaku kepatuhan pajak orang lain. Kedua, melanggar norma deskriptif mungkin tidak memiliki dampak sosial (Chung & Rimal, 2016). Apalagi di Indonesia yang masyarakatnya memiliki budaya kolektivisme, sehingga lebih memperhatikan aspek sosial daripada keyakinan individu.

Dari hasil analisis deskriptif memang terlihat bahwa rata-rata responden mempunyai norma subyektif pada kategori setuju. Namun norma deskriptif tersebut tidak

32 dapat mendorong pemilik UKM dalam patuh membayar pajak. Hal ini dimungkinkan karena pemilik UKM sekaligus sebagai pengelola dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan kepatuhan pajak tidak melihat kebiasaan orang lain, namun atas kesadaran sendiri. Hal ini sejalan dengan pernyataan Bobek et al (2013) yang menyatakan bahwa kepatuhan pajak merupakan keputusan pribadi. Hasil studi empiris ini juga mendukung penelitiannya Bobek et al (2013) dalam penelitiannya di amerika membuktikan secara empiris bahwa norma deskriptif tidak berpengaruh secara langsung terhadap niat untuk patuh. Begitu juga dengan hasil penelitian Zuhal et al (2016) dalam penelitiannya UKM di Turki tidak dapat membuktikan secara empiris bahwa norma deskriptif berpengaruh secara langsung terhadap niat untuk patuh. Penelitian dari Hikmah et al (2021) juga menunjukkan bahwa norma norma deskriptif memiliki pengaruh yang negatif terhadap kepatuhan pajak.

Di sisi lain bukti empiris ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan Jimenez & Iyer (2016) yang menyatakan bahwa norma deskriptif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak. Shaharuddin et al (2018) menunjukkan bahwa di Malaysia kesediaan seseorang untuk patuh dapat dijelaskan dengan norma deskriptif, ini berarti bahwa mengamati apa yang dilakukan orang lain dalam situasi tertentu, memiliki potensi signifikan untuk secara langsung mempengaruhi keinginan dalam kepatuhan pajak. terhadap niat untuk patuh.

Norma Injungtif Berpengaruh Positif Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bukti empiris bahwa terdapat pengaruh norma injungtif terhadap kepatuhan wajib pajak UKM dengan arah hubungan positif. Hal ini berarti semakin tinggi norma injungtif maka semakin tinggi kepatuhan wajib pajak UKM. Bukti empiris ini menunjukkan bahwa pemilik UKM yang mempunyai norma injungtif yang lebih tinggi akan lebih patuh dalam memenuhi kewajiban pajak yaitu menghitung, membayar dan melaporkan dibanding pemilik UKM yang memiliki norma injungtif yang lebih rendah. Pemilik UKM yang memiliki persepsi bahwa perilaku kepatuhan pajak itu merupakan perilaku yang diterima masyarakat dan apabila tidak melakukan perilaku kepatuhan pajak tersebut akan mendapat sanksi sosial maka akan mempunyai keinginan untuk patuh pajak. Hal ini sesuai dengan pendapat Chung & Rimal (2016) yang menyatakan bahwa norma injungtif mengacu pada persepsi masyarakat terhadap perilaku yang seharusnya dilakukan, sehingga apabila perilaku tersebut tidak

33 dipatuhi maka individu tersebut akan mendapat sanksi sosial. Selanjutnya (Onu & Oats (2014 menyatakan bahwa masyarakat dapat memberikan sanksi ketidakpatuhan merupakan perilaku yang sangat tidak bermoral. Dengan adanya sanksi sosial tersebut akan memberatkan pemilik UKM dalam keberlanjutannya karena disamping pemilik sekaligus sebagai pengelola, sehingga mendorong tingkat kepatuhan pajak.

Hasil studi empiris mendukung Bobek et al (2007 yang menyatakan bahwa apabila seorang individu mempunyai keinginan menyelaraskan diri dengan norma injungtif maka ia akan berusaha untuk mentaati peraturan yang berlaku yaitu berperilaku kepatuhan pajak. Dari hasil analisis deskriptif dapat dilihat bahwa rata-rata responden mempunyai norma injungtif pada kategori setuju. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemilik UKM menyelaraskan diri dengan norma injungtif.

Temuan penelitian ini mendukung sejumlah penelitian sebelumnya yang mengaitkan antara norma injungtif dengan kepatuhan pajak. Seperti misalnya Budiningrum (2014) menyimpulkan bahwa norma injungtif berpengaruh langsung terhadap kepatuhan pajak. Penelitian dari Jimenez & Iyer (2016) menyatakan bahwa norma injungtif berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan pajak. Penelitian dari Hikmah et al (2021) juga menunjukkan bahwa norma injungtif memiliki pengaruh yang positif terhadap kepatuhan pajak.

Kepercayaan Pada Pemerintah Berpengaruh Positif Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Hasil pengujian hipotesis kelima menunjukkan bukti empiris bahwa terdapat pengaruh kepercayaan pada pemerintah terhadap kepatuhan wajib pajak UKM dengan arah hubungan positif. Hal ini berarti semakin baik kepercayaan pada pemerintah maka semakin tinggi niat untuk patuh dibandingkan dengan yang memiliki tingkat kepercayaan pada pemerintah yang rendah. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Richardson & Lanis (2007), Saad (2009), Kogler et al (2013), Turner (2005), serta Razak & Adafula (2013). Richardson & Lanis (2007) membuktikan secara empiris bahwa wajib pajak yang mengganggap bahwa sistem pajak tidak adil cenderung akan menghindari membayar pajak. Selain itu, Saad (2009) membuktikan secara empiris bahwa persepsi atas pajak akan lebih memengaruhi kepatuhan pajak. Dalam penelitiannya di Ghana, Razak & Adafula (2013) membuktikan secara empiris bahwa persepsi wajib pajak atas pemerintah berpengaruh terhadap niat

34 untuk patuh. Hal yang senada juga dibuktikan oleh Kogler et al (2013) dan Turner (2005) yang menunjukkan bahwa tingkat voluntary compliance lebih dipengaruhi oleh kepercayaan wajib pajak terhadap pemerintah terutama terhadap sistem perpajakan.

Beberapa studi yang telah dilakukan memperoleh bukti empiris bahwa kepercayaan pada pemerintah berpengaruh terhadap kepatuhan pajak. Pengujian pengaruh kepercayaan pada pemerintah terhadap kepatuhan pajak telah dilakukan di berbagai negara yang berbeda. Penelitian saat ini, juga mendapatkan bukti empiris yang konsisten dengan penelitian penelitian sebelumnya. Bukti empiris ini memiliki implikasi bahwa wajib pajak yang memiliki kepercayaan pada pemerintah yang lebih baik akan memiliki niat untuk patuh yang lebih tinggi dibandingkan dengan wajib pajak yang memiliki kepercayaan pada pemerintah yang rendah.

PENUTUP

Dokumen terkait