• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Deteksi CyMV pada plbs Anggrek Dendrobium

Untuk mendapatkan plbs anggrek Dendrobium yang digunakan selanjutnya untuk perlakuan dengan antivirus Ribavirin, telah dilakukan pengujian atau deteksi CyMV pada tiga jenis plbs yang terdapat di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Hias Cianjur. Plbs anggrek yang diuji adalah jenis Dendrobium

Jayakarta (D. Jayakarta), D. Polisema dan D. Sonia. Berdasarkan hasil uji DAS- ELISA terhadap CyMV pada ketiga jenis plbs, diketahui bahwa plbs D. Jayakarta menunjukkan reaksi positif terhadap antiserum CyMV, artinya terinfeksi atau mengandung partikel CyMV, sedangkan plbs D. Polisema dan D. Sonia bereaksi negatif (Tabel 1). Dengan demikian, plbs anggrek D. Jayakarta digunakan selanjutnya untuk perlakuan dengan antivirus Ribavirin.

Tabel 1 Deteksi CyMV pada plbs anggrek Dendrobium

Jenis Plbs Dendrobium Ulangan Absorbansi Hasil Uji

D. Sonia 1 0,00 - 2 0,01 - 3 0,00 - D. Jayakarta 1 0,09 + 2 0,07 + 3 0,08 + D. Polisema 1 0.01 - 2 0,00 - 3 0.01 - Keterangan:

Kontrol positif = 0,05 ; Kontrol negatif = 0,01. Sampel dikatakan positif (+) terinfeksi CyMV jika nilai absorbansinya sama dengan atau lebih besar dari dua kali nilai absorbansi kontrol negatif (Sutula et al 1986)

Tidak terdeteksinya CyMV pada plbs anggrek D. Polisema dan D. Sonia kemungkinan bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (a) plbs tersebut tidak mengandung CyMV, atau (b) plbs mengandung CyMV tetapi konsentrasinya sangat rendah, sehingga tidak terdeteksi dengan metode DAS-ELISA. Menurut Hsu et al. (1992), deteksi CyMV pada anggrek dengan metode Immunosorbent Electron Microscopy (ISEM) adalah lebih sensitif dibandingkan dengan metode

ELISA. Namun demikian, metode ISEM memerlukan biaya dan peralatan yang lebih mahal dibandingkan dengan metode DAS-ELISA.

Walaupun konsentrasi CyMV yang rendah dalam sampel plbs merupakan faktor pembatas dalam penggunaan metode DAS-ELISA, metode tersebut masih tetap dapat digunakan dan dijadikan dasar pertimbangan dalam deteksi cepat keberadaan virus tersebut pada bagian tanaman. Pendekatan yang dapat dilakukan dalam memproduksi tanaman anggrek bebas CyMV adalah pengujian periodik dengan metode DAS-ELISA pada tahapan produksi tanaman.

Pengaruh Perlakuan Zat Antivirus Ribavirin Terhadap Keberadaan Cymbidium mosaic virus (CyMV) dalam plbs Anggrek Dendrobium Jayakarta

Penambahan zat antivirus Ribavirin tampak berpengaruh pada subkultur ketiga yaitu setelah 3 x 18 hari atau 54 hari setelah tanam. Pada perlakuan tanpa zat antivirus Ribavirin (0 ppm) baik pada subkultur pertama, kedua maupun ketiga (18–54 hari setelah tanam), keberadaan CyMV masih terdeteksi pada setiap ulangan (Tabel 2). Pada subkultur pertama dan kedua tampak bahwa setiap perlakuan zat antivirus Ribavirin pada masing-masing ulangan belum menunjukan perlakuan yang dapat membebaskan CyMV dalam plbs anggrek D. Jayakarta. Dengan demikian pada subkultur pertama dan kedua pada setiap perlakuan menunjukan bahwa plbs terdeteksi masih mengandung atau terinfeksi CyMV (Tabel 2).

Pada subkultur ketiga perlakuan zat antivirus Ribavirin 10 ppm dan 20 ppm belum dapat mengeliminasi CyMV dengan sempurna. Hal ini tampak pada perlakuan tersebut dapat membebaskan CyMV pada plbs anggrek D. Jayakarta sebesar 33.33% yaitu pada ulangan 3 di perlakuan 10 ppm dan pada ulangan 1 di perlakuan 20 ppm (Tabel 2 dan 3). Hasil ini menunjukkan eliminasi yang baik bila dibandingkan hasil penelitian sebelumnya yaitu Diningsih et al. (2010), dimana perlakuan 10 ppm dan 20 ppm zat antivirus Ribavirin terhadap anggrek D. Burana stripe hanya dapat mengeliminasi CyMV sebesar 20%. Bahkan pada konsentrasi perlakuan 40 ppm juga belum dapat mengeliminasi sempurna CyMV dengan persen bebas virus 20%.

Eliminasi sempurna CyMV pada plbs anggrek D. Jayakarta tampak pada masing-masing ulangan subkultur ketiga dengan perlakuan konsentrasi zat antivirus Ribavirin 30, 40 dan 50 ppm (Tabel 2). Persen bebas CyMV menunjukan hasil 100% pada ketiga perlakuan tersebut (Tabel 3). Pada konsentrasi tersebut dapat dikatakan bahwa zat antivirus Ribavirin telah mampu mengeliminasi CyMV pada plbs anggrek D. Jayakarta.

Tabel 2 Uji keberadaan CyMV terhadap plbs anggrek D. Jayakarta setelah perlakuan zat antivirus Ribavirin pada setiap subkultur

Sub Kultur

Konsentrasi Ribavirin

(ppm)

Hasil Uji DAS-ELISA Ulangan

Absorbansi pada 410 nm Hasil uji

1 2 3 1 2 3 1 0 0.13 0.15 0.13 + + + 10 0.2 0.22 0.22 + + + 20 0.18 0.18 0.19 + + + 30 0.19 0.21 0.21 + + + 40 0.18 0.17 0.17 + + + 50 0.17 0.14 0.17 + + + 2 0 0.12 0.11 0.14 + + + 10 0.07 0.09 0.08 + + + 20 0.09 0.11 0.1 + + + 30 0.12 0.15 0.13 + + + 40 0.12 0.17 0.22 + + + 50 0.22 0.21 0.2 + + + 3 0 0.24 0.29 0.25 + + + 10 0.27 0.27 0.19 + + - 20 0.13 0.21 0.21 - + + 30 0.13 0.15 0.18 - - - 40 0.15 0.11 0.1 - - - 50 0.13 0.14 0.19 - - - Keterangan:

Kontrol positif subkultur 1 = 0.15 ; kontrol negatif = 0.05 Kontrol positif subkultur 2 = 0.16 ; kontrol negatif = 0.03 Kontrol positif subkultur 3 = 0.17 ; kontrol negatif = 0.10

Sampel dikatakan positif (+) terinfeksi CyMV jika nilai absorbansinya sama dengan atau lebih besar dari dua kali nilai absorbansi kontrol negatif (Sutula et al 1986)

Subkultur 1 = 18 hari setelah tanam; subkultur 2 = 36 hari setelah tanam dan subkultur 3 = 54 hari setelah tanam

Dari ketiga subkultur, eliminasi CyMV pada plbs anggrek D. Jayakarta yang paling baik terdapat pada subkultur ketiga, pada konsentrasi zat antivirus Ribavirin 10 dan 20 ppm menghasilkan persen bebas sebesar 33.33% selanjutnya pada konsentrasi 30, 40 dan 50 ppm menghasilkan persen bebas sebesar 100%. Setelah dilakukan dengan uji ANOVA yang menunjukan P value < 0.05 yang artinya perlakuan Ribavirin dapat membebaskan CyMV. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan (α=0.05) variasi tersebut hanya berbeda nyata terhadap konsentrasi perlakuan zat antivirus Ribavirin 0 ppm dengan persen bebas CyMV pada anggrek

D. Jayakarta sebesar 0% (Tabel 3).

Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa zat antivirus Ribavirin pada taraf konsentrasi yang diuji memiliki aktivitas antivirus terhadap CyMV dengan kemampuan eliminasi berkisar antara 33.33 - 100%. Berdasarkan hal tersebut maka untuk mendapatkan tanaman anggrek yang bebas CyMV dengan jumlah yang memadai, dapat dilakukan perbanyakan dengan menggunakan plbs yang sudah bebas dari infeksi virus tersebut.

Tabel 3 Persen Bebas CyMV dalam plbs anggrek D. Jayakarta pada setiap subkultur

Perlakuan/ Konsentrasi Ribavirin (ppm)

% Bebas CyMV

subkultur 1 subkultur 2 subkultur 3

0 0 a 0 a 0 a 10 0 a 0 a 33.33 ab 20 0 a 0 a 33.33 ab 30 0 a 0 a 100 b 40 0 a 0 a 100 b 50 0 a 0 a 100 b

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%

Hsu et al. (1992) mengemukakan bahwa disamping penggunaan zat antivirus, pengendalian infeksi virus dalam tanaman anggrek akan tergantung pada seleksi dan perbanyakan tanaman bebas virus serta eradikasi spesimen yang terinfeksi penyakit. Penggunaan zat antivirus Ribavirin dalam eliminasi virus juga dilaporkan oleh Albouy et al. (1996), bahwa penggunaan Virazole (nama dagang yang mengandung zat antivirus Ribavirin) pada konsentrasi 25 ppm menunjukan

95% planlet tanaman anggrek bebas virus dapat diperoleh setelah melakukan subkultur sebanyak lima kali ke dalam media padat yang sama yang mengandung Virazole 25 ppm, dan subkultur dilakukan setiap 18 hari. Sedangkan hasil penelitian ini pada konsentrasi Ribavirin 20 ppm dapat membebaskan CyMV pada plbs anggrek D. Jayakarta 33.33% dan pada konsentrasi 30 ppm sebesar 100% hanya dengan 3 kali subkultur dan dengan perlakuan subkultur yang sama yaitu setiap 18 hari. Sehingga hasil penelitian ini menunjukan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan yang dilaporkan Albouy (1996). Selain penggunaan zat antivirus Ribavirin, Diningsih et al. (2010) melakukan penelitian eliminasi CyMV pada anggrek D. Burana Stipe dengan Ribavirin. Hasil penelitiannya menunjukan pada konsentrasi Ribavirin 40 ppm, plbs yang bebas virus sebesar 20% setelah kultur selama 2 bulan. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini, dimana pada konsentrasi Ribavirin 40 ppm ternyata plbs yang bebas CyMV adalah eliminasi yang sempurna sebesar 100% setelah dilakukan subkultur sebanyak 3 kali pada media padat yang sama dengan subkultur dilakukan setiap 18 hari, bahkan dengan pada perlakuan konsentrasi Ribavirin 20 ppm saja sudah dapat menghasilkan plbs anggrek D. Jayakarta sebanyak 33.33% bebas CyMV. Perbedaan hasil ini bisa disebabkan karena suplai nutrisi bagi pertumbuhan plbs juga mempengaruhi. Pada penelitian yang dilakukan Diningsih et.al (2010) tidak dilakukan subkultur tetapi langsung proses kultur selama 2 bulan, dimana dimungkinkan tidak ada pembaruan pemberian nutrisi pada media yang menyebabkan absorpsi zat antivirus menjadi terhambat dan tidak merata.

Pengaruh Antivirus Ribavirin Terhadap Pertumbuhan plbs Anggrek Dendrobium Jayakarta

Pengaruh perlakuan antivirus Ribavirin terhadap pertumbuhan anggrek D.

Jayakarta terinfeksi CyMV pada ketiga subkultur dengan lamanya setiap subkultur selama 18 hari dapat dilihat dari data persen hidup dan warna plbs yang ditunjukkan pada Tabel 4, 5 dan 6. Warna plbs yang tumbuh dengan baik menunjukan warna hijau pada saat perlakuan (Gambar 6).

Berdasarkan data Tabel 4 dapat dikatakan bahwa perlakuan antivirus Ribavirin 10, 20, 30, 40 dan 50 ppm pada subkultur pertama tidak memberikan efek yang berbeda dengan plbs tanpa Ribavirin (0 ppm) dalam pertumbuhannya.

Gambar 6 Plbs yang tumbuh dengan baik saat perlakuan Ribavirin 30 ppm pada subkultur ke 2

Gambar 7 Plbs yang mengalami perubahan warna saat perlakuan Ribavirin 30 ppm pada subkultur ke 3

Sedangkan pada subkultur kedua, pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian antivirus Ribavirin pada konsentrasi 0, 10, 20, 30 dan 40 ppm tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dilihat dari persen hidup dan warnanya. Semua plbs anggrek D. Jayakarta dapat bertahan hidup (100%) dan pada umumnya tumbuh dengan baik dengan penampilan plbs yang berwarna hijau. Namun pada perlakuan 50 ppm ada satu ulangan yang menunjukan warna plbs hijau kecoklatan.

Tabel 4 Pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta pada subkultur 1 Pertumbuhan Plbs Konsentrasi Ribavirin (ppm) Ulangan Subkultur 1 % Hidup Rerata %Hidup

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

10

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

20

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

30

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

40

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

50

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

Seperti halnya pada subkultur pertama dan kedua, pada perlakuan pemberian antivirus Ribavirin di subkultur ketiga dalam beberapa taraf konsentrasi juga tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan plbs anggrek D.

Jayakarta. Pada tingkat konsentrasi 0, 10, dan 20 ppm, plbs tetap hidup 100 persen dan tumbuh dengan baik (Tabel 6). Namun pada perlakuan 30 ppm ada satu ulangan yang menunjukan warna plbs hijau kecoklatan, dan 2 ulangan pada perlakuan 40 ppm. Sedangkan pada perlakuan 50 ppm ada satu ulangan yang menunjukan coklat kehitaman. Terjadinya perubahan warna tersebut kemungkinan disebabkan oleh adanya fitotoksisitas oleh Ribavirin. Namun demikian, efek fitotoksisitas tersebut hanya terjadi pada sebagian ulangan saja, dan plbs pada sebagian besar ulangan lainnya menunjukkan pertumbuhan yang baik dan berwarna hijau.

Tabel 5 Pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta pada subkultur 2 Pertumbuhan Plbs Konsentrasi Ribavirin (ppm) Ulangan Subkultur 2 % Hidup Rerata %Hidup 0

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

10

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

20

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

30

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

40

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

50

1 Tumbuh baik, Hijau 100

83.33 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Hijau kecoklatan 50

Pengaruh perlakuan antivirus Ribavirin terhadap persen hidup plbs anggrek D. Jayakarta pada masing-masing subkultur dapat dilihat pada Tabel 7. Berdasarkan tabel tersebut dapat dikatakan bahwa perlakuan Ribavirin terlihat memberikan pengaruh sangat kecil jika dilihat dari warna dan persen hidupnya yang tidak 100% pada beberapa perlakuan, akan tetapi setelah dilakukan uji ANOVA menunjukan P value > 0.05 yang berarti perlakuan konsentrasi Ribavirin tidak mempengaruhi pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta. Karena hasil analisis tersebut, sebetulnya tidak perlu dilakukan uji lanjut untuk mengetahui uji beda nyata perlakuan, akan tetapi sengaja dilakukan pengujian dengan uji Duncan untuk membuktikan bahwa ternyata menunjukkan hasil tidak berbeda nyata untuk setiap perlakuan pada setiap subkultur yang artinya pemberian zat antivirus

Ribavirin tidak mempengaruhi pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta. Dan hasil ini dapat dilihat pada tabel 7.

Tabel 6 Pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta pada subkultur 3 Pertumbuhan Plbs Konsentrasi Ribavirin (ppm) Ulangan Subkultur 3 % Hidup Rerata %Hidup 0

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

10

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

20

1 Tumbuh baik, Hijau 100

100 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Tumbuh baik, Hijau 100

30

1 Tumbuh baik, Hijau 100

88.89 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Hijau kecoklatan 66.67

40

1 Tumbuh baik, Hijau 100

77.78 2 Hijau kecoklatan 66.67

3 Hijau kecoklatan 66.67

50

1 Tumbuh baik, Hijau 100

88.89 2 Tumbuh baik, Hijau 100

3 Coklat kehitaman 66.67

Hal ini disebabkan karena Ribavirin akan bekerja terhadap CyMV yang terdapat dalam plbs tanpa mengganggu pertumbuhannya. Dimana mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat kerja RNA polimerase pada virus sehingga sintesis RNA menjadi terhambat pula (Wu et al. 2003). Walaupun dari hasil penelitian tampak ada sebagian kecil ulangan perlakuan Ribavirin pada plbs anggrek D. Jayakarta yang menunjukan penurunan persen hidup menjadi 83.33 – 89.89% (Tabel 7), akan tetapi tetap masih menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan yang lainnya. Hal ini terjadi dimungkinkan karena ada beberapa plbs anggrek D. Jayakarta yang daya tahannya menurun dan tidak mampu beradaptasi dengan media yang mengandung Ribavirin, sehingga

memperlihatkan efek fitotoksiknya. Menurut Bertrand (2000) dalam McEvoy (2005) menyebutkan Ribavirin bersifat fitotoksik pada konsentrasi 100 ppm.

Berdasarkan hasil penelitian ini plbs yang ditanam dalam media yang mengandung Ribavirin diketahui tidak terganggu pertumbuhannya. Sebelum perlakuan Ribavirin, subkultur pertama dan kedua deteksi dengan DAS-ELISA menunjukan CyMV masih menginfeksi plbs anggrek D. Jayakarta. Sedangkan pada subkultur ketiga yaitu setelah 3 x 18 hari diketahui plbs bebas CyMV 33.33 - 100%. Dari hasil komunikasi personal dengan Prof. Dr. drh. Maria Bintang, MS Protein virus tidak terdeteksi atau tidak reaktif lagi dengan antibodi yang digunakan dalam DAS-ELISA, hal ini disebabkan CyMV tidak dapat melakukan perbanyakan virusnya karena proses sintesis RNA-nya terhambat, yang menyebabkan lama kelamaan virus tersebut mati dan tidak aktif lagi. Protein virus tersebut akan didegradasi menjadi asam-asam amino pembentuknya dan akan menjadi bahan untuk pertumbuhan perkembangan sel tanaman (Lehninger 2004).

Tabel 7 Persen Hidup plbs anggrek D. Jayakarta pada setiap subkultur Perlakuan/

Konsentrasi Ribavirin (ppm)

% Hidup

subkultur 1 subkultur 2 subkultur 3

0 100 a 100 a 100 a 10 100 a 100 a 100 a 20 100 a 100 a 100 a 30 100 a 100 a 88.89 a 40 100 a 100 a 77.78 a 50 100 a 83.33 a 88.89 a

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf uji Duncan 5%

Analisis Pola Pita Protein CyMV pada Anggrek Dendrobium Dengan Elektroforesis Gel Komposit

Hasil analisis pita protein CyMV pada anggrek Dendrobium Jayakarta dengan metode Elektroforesis Gel Komposit menunjukkan adanya pita yang jelas untuk tanaman anggrek Dendrobium dan plbs anggrek D. Jayakarta yang sakit atau terinfeksi CyMV. Pita tersebut menunjukan adanya kandungan CyMV pada sampel tanaman dan plbs yang positif terinfeksi CyMV (Gambar 8).

Tebal tipisnya pita yang terbentuk berhubungan erat dengan kandungan virusnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil elektroforesis, pita pada lajur no. 1 yang berasal dari sampel tanaman anggrek Dendrobium positif terinfeksi CyMV lebih jelas dibandingkan pita pada lajur no. 3 yang berasal dari plbs anggrek D.

Jayakarta positif terinfeksi CyMV. Sedangkan untuk tanaman anggrek yang sehat atau tidak terinfeksi CyMV dan plbs hasil perlakuan zat antivirus Ribavirin 30 ppm menunjukkan tidak terbentuknya pita protein virus, hal ini berarti tanaman tersebut benar benar tidak terinfeksi CyMV dan plbs hasil perlakuan zat antivirus Ribavirin 30 ppm tersebut terbukti sudah terbebas dari CyMV. Hasil ini sesuai dengan eliminasi CyMV pada konsentrasi Ribavirin 30 ppm dengan uji DAS- ELISA menunjukkan persen bebas sebesar 100%. Hasil elektroforesis ini dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Hasil analisis pita protein CyMV dengan Elektroforesis Gel Komposit M = Marker; (1) Tanaman anggrek Dendrobium positif terinfeksi CyMV; (2) Tanaman anggrek Dendrobium negatif terinfeksi CyMV; (3) Plbs anggrek D.

Jayakarta positif terinfeksi CyMVdan (4) Plbs anggrek D. Jayakarta negatif/ bebas CyMV (hasil perlakuan zat antivirus Ribavirin 30 ppm)

Hasil analisis bobot molekul (BM) dari data yang diperoleh pada penelitian dengan metode Elektroforesis Gel Komposit menunjukkan bahwa bobot molekul protein CyMV pada tanaman anggrek Dendrobium positif terinfeksi CyMV adalah sekitar 28.85 kDa, sedangkan pada plbs anggrek D. Jayakarta positif

M 1 2 3 4

45 kDa

terinfeksi CyMV yang dipakai untuk perlakuan antivirus Ribavirin adalah sekitar 27.82 kDa (Tabel 9).

Bobot molekul tersebut diperoleh dari hasil estimasi kurva Log BM Marker

dengan Rm (Relative mobility) (Anderson et al. 1974, Plikaytis et al 1986) dimana nilai Rm diperoleh dari hasil bagi jarak pergerakan protein dari tempat awal dengan jarak pergerakan warna dari tempat awal (Boyer 2000). Hasil analisis BM CyMV dapat dilihat pada Tabel 8 dan 9 serta kurva estimasinya pada Gambar 9.

Berdasarkan hasil elektroforesis diketahui pada kolom Marker terdapat lima pita potein yang tampak. Kelima pita Marker yang tampak memiliki bobot molekul 45 kDa, 35 kDa, 25 kDa, 18.4 kDa dan 14.4 kDa (Tabel 8). Nilai bobot molekul Marker yang dipakai berasal dari protein Ovalbumin (Chicken egg white), Lactate dehydrogenase (porcine muscle), REase Bsp 9 8 1 (E. Coli), β -

Lactoglobulin (Bovine milk), Lysozyme (Chicken egg white) (Fermentas 2004, 2005).

Tabel 8 Nilai Rm (x) dan Log BM Marker hasil elektroforesis BM Marker Log BM Jarak Pita pada

Gel (mm) Panjang gel (mm) Rm 45 1.6532125 56 85 0.66 35 1.544068 60 85 0.71 25 1.39794 63 85 0.74 18.4 1.2648178 68 85 0.80 14.4 1.1583625 72 85 0.85

Hasil analisis dengan Elektroforesis Gel Komposit menunjukan bahwa bobot molekul CyMV dari tanaman anggrek Dendrobium dan plbs anggrek D.

Jayakarta yang positif terinfeksi CyMV diestimasi sekitar 28 kDa (Tabel 9). Hasil ini dapat diartikan bahwa pita protein yang tampak diduga sebagai bobot molekul protein Cymbidium mosaic virus.

Berdasarkan kriteria International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV), virus tersebut termasuk CyMV dilihat dari bobot molekulnya. Hasil ini bersesuaian dengan penelitian Moreira et al. (1998) yang melaporkan bahwa bobot molekul CyMV yang menginfeksi tanaman anggrek Phaius tankerville

Gambar 9 Kurva estimasi Rm dengan Log BM Marker

Begitu pula dengan yang dilaporkan Khalimi (2008) dimana bobot molekul CyMV yang menginfeksi daun tanaman N. benthamiana dengan metode SDS- PAGE juga menunjukan hasil sekitar 28 kDa. Sedangkan hasil penelitian yang lain, seperti yang dilaporkan Miin (2005) dan Han et al. (1999) bahwa bobot molekul CyMV yang menginfeksi tanaman anggrek di Malaysia dan Korea diestimasi sekitar 27.64 kDa. Serta hasil penelitian Gara et al. (1996) yang menuliskan bahwa bobot molekul CyMV yang menginfeksi anggrek Vanda

adalah 27.8 kDa.

Tabel 9 Hasil analisis pita protein positif terinfeksi CyMV pada sampel tanaman dan plbs anggrek Dendrobium

Sampel Jarak pita pada gel (mm) Panjang gel (mm) Rm Log BM BM Tanaman anggrek (+) terinfeksi CyMV 62 85 0.73 1.46 28.85 Plbs anggrek (+) terinfeksi CyMV 62.5 85 0.74 1.44 27.82 y = -2,680x + 3,415 R² = 0,99 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 1,4 1,6 1,8 - 0,50 1,00 Rm Log BM

SIMPULAN

Protocorm like bodies (plbs) anggrek Dendrobium Jayakarta yang digunakan untuk perlakuan eliminasi Cymbidium mosaic virus menggunakan zat antivirus Ribavirin positif terinfeksi CyMV. Konsentrasi optimum Ribavirin paling baik untuk eliminasi CyMV pada plbs anggrek D. Jayakarta sebesar 30 ppm setelah dilakukan tiga kali subkultur (masing-masing subkultur dilakukan selama 18 hari) dengan plbs bebas CyMV 100%. Konsentrasi optimum Ribavirin 30 ppm tidak mengganggu pertumbuhan plbs anggrek D. Jayakarta. Analisis pita protein CyMV pada tanaman anggrek Dendrobium dan plbs anggrek D. Jayakarta dapat dilakukan dengan menggunakan metode Elektroforesis Gel Komposit. Tanaman anggrek Dendrobium dan plbs anggrek D. Jayakarta yang sakit atau positif terinfeksi CyMV memiliki pita protein dengan ukuran BM sekitar 28 kDa. Tanaman anggrek Dendrobium yang sehat maupun plbs anggrek D. Jayakarta yang telah bebas CyMV hasil perlakuan zat antivirus Ribavirin 30 ppm tidak memiliki pita protein dengan ukuran BM sekitar 28 kDa.

SARAN

Eliminasi CyMV pada plbs anggrek Dendrobium dapat menggunakan zat antivirus Ribavirin 30 ppm. Deteksi dan analisis protein CyMV pada tanaman anggrek maupun plbs anggrek Dendrobium dapat menggunakan teknik Elektroforesis Gel Komposit. Plbs anggrek D. Jayakarta yang telah bebas CyMV dapat diperbanyak untuk penyediaan benih anggrek Dendrobium Jayakarta bebas CyMV.

Dokumen terkait