TINJAUAN PUSTAKA
HASIL DAN PEMBAHASAN Energi Tercerna
Energi Tercerna dapat diartikan sejumlah energi dalam ransum yang dikonsumsi dikurangi energi yang diekskresikan melalui feses. Rataan konsumsi bahan kering, konsumsi energi, energi feses dan energi tercerna dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Konsumsi Bahan Kering, Konsumsi Energi, Energi Feses dan Energi Tercerna
Perlakuan * Peubah
RK RUJ RU RM
Kons BK (g/e/hr) 54,04 ± 6,15 47,58± 3,70 47,29± 9,03 49,33 ± 3,63
Kons. Energi (kkal/kg
BB0.75/ hr) 200,35± 12,59 203,68± 20,28 220,66± 20,84 199,6± 6,01
Energi Feses (kkal/kg
BB0.75/ hr) 18,59
b ± 2,94 39,98a ± 7,18 41,12a ± 6,35 46,15a±4,4 Energi Tercerna
(kkal/kg BB0.75/ hr) 181,76± 12,7 163,70± 23,1 179,54± 19,9 153,5± 8,7
Energi Tercerna (%) 91a± 1,55 80b± 4,76 81b± 3,04 76,8c±2,5
Keterangan : Superskrip dengan huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan sangat berbeda nyata (p<0,01).
* RK : Ransum komersil ; RUJ : Ransum pellet biomasa ubi jalar ; RU : RUJ + 0,5% urea ; RM : RUJ + 0,5% DL-Methionin
Konsumsi Bahan Kering
Uji sidik ragam menunjukkan bahwa semua ransum biomassa ubi jalar baik yang disuplementasi 0,5 % urea maupun 0,5 % methionin tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rataan konsumsi bahan kering. Hal tersebut menggambarkan bahwa ransum perlakuan memiliki palatabilitas yang sama dibandingkan dengan ransum komersil. Disamping itu, ransum perlakuan biomassa ubi jalar memiliki bau dan rasa manis sehingga tingkat palatabilitas ransum meningkat. Palatabilitas merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat konsumsi ransum (Church, 1991).
Konsumsi Energi
Konsumsi energi ransum pada ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % urea tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya yaitu sebesar
pada perlakuan ransum biomassa ubi jalar yamg disuplementasi 0,5 %
Dl-Methionin yaitu sebesar 199,6 kkal/kg BB0,75/hari.
Uji sidik ragam menunjukkan bahwamasing-masing perlakuan menghasilkan
konsumsi energi yang tidak berbeda nyata, hal tersebut disebabkan karena konsumsi bahan kering dari masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata dengan kisaran 49,56 g/ekor/hari dan kandungan energi dari masing-masing perlakuan relatif sama. Menurut Fekete (1984) semakin tinggi konsumsi bahan kering maka semakin tinggi konsumsi energi yang diperoleh, dan kandungan energi dalam ransum mempengaruhi konsumsi ransum dimana pada ransum yang kandungan energinya rendah, kelinci akan mengkonsumsi ransum lebih banyak dibandingkan dengan ransum yang mengandung energi tinggi.
Energi Feses
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa semua ransum biomassa ubi jalar
baik yang disuplementasi 0,5 % urea maupun 0,5 % methionin memberikan
pengaruh yang sangat nyata (p<0,01) terhadap rataan energi yang dikeluarkan melalui feses. Uji kontras ortogonal memperlihatkan bahwa rataan energi feses perlakuan ransum komersil sangat nyata (p<0,01) lebih rendah dibandingkan dengan rataan energi feses pada semua perlakuan ransum biomassa ubi jalar baik yang disuplementasi 0,5 % urea maupun 0,5 % methionin. Tingginya energi yang dikeluarkan melalui feses tersebut disebabkan karena ketiga ransum tersebut disusun dari hijauan yaitu biomassa ubi jalar (umbi, batang dan daun ubi jalar) yang fraksi serat kasarnya jauh lebih tinggi dibandingkan pada perlakuan ransum komersil yang bahannya terdiri atas bungkil-bungkilan dan biji-bijian.
Sesuai dengan yang dilaporkan oleh Devendra (1978) bahwa makanan yang mengandung hijauan, dedaunan dan rambanan akan meningkatkan jumlah energi yang dikeluarkan melalui feses. Disamping itu, tingginya kandungan selulosa dan lignin di dalam ransum, akan meningkatkan pengeluaran energi melalui feses.
Sesuai dengan pernyataan Tillman et al. (1991) yang menyatakan semakin tinggi
kadar selulosa dan lignin yang terkandung dalam ransum maka akan menyebabkan semakin tinggi energi yang dikeluarkan melalui feses. Hasil persentase energi yang dikeluarkan melalui feses terhadap konsumsi energinya dari masing-masing perlakuan sebagai berikut 9,3; 19,6; 18,6; 23,1%,
sedangkan yang dilaporkan oleh Haresign dan Cole (1989) bahwa energi yang hilang melalui feses umumnya berkisar antara 25-45% dari konsumsi energi pada kelinci. Hal tersebut mengindikasikan bahwa energi yang terkandung dalam ransum penelitian dapat dicerna oleh kelinci percobaan cukup baik.
Energi Tercerna
Rataan energi tercerna ransum komersil, ransum biomassa ubi jalar, ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % urea atau suplementasi 0,5 % Dl-methionin masing-masing yaitu sebesar : 181,76; 163,70; 179,54 dan 153,5
kkal/kg BB0.75/hari. Ransum penelitian ini telah memenuhi syarat kebutuhan
energi tercerna untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok kelinci, seperti yang
dilaporkan oleh Parigi-Bini et al. (1992) bahwa kebutuhan energi tercerna untuk
memenuhi kebutuhan hidup pokok kelinci sebesar 112,32 kkal/kg BB0.75/ hari.
Hasil sidik ragam rataan energi tercerna (kkal/kg BB0.75/hari) masing-masing
perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0,05). Hal tersebut menunjukkan bahwa energi yang dapat dicerna pada masing-masing perlakuan relatif sama.
Uji kontras ortogonal memperlihatkan bahwa rataan energi tercerna (%) ransum komersil sangat nyata (p<0,01) lebih tinggi dibandingkan dengan rataan energi tercerna (%) pada semua ransum biomassa ubi jalar. Hal tersebut disebabkan oleh komposisi jenis bahan baku penyusun ransum komersil diantaranya bungkil kedelai dan biji-bijian yang memiliki tingkat kecernaan tinggi.. Di samping itu rendahnya energi yang dapat dicerna (%) oleh kelinci pada semua perlakuan ransum biomassa ubi jalar disebabkan oleh tingginya kandungan ADF (Acid Detergent Fiber) pada semua ransom tersebut. Semakin tinggi kandungan ADF (Acid Detergent Fiber) suatu bahan menunjukkan bahwa kandungan lignin dan silika akan semakin tinggi sehingga pada akhirnya akan menurunkan kecernaan. Seperti yang dinyatakan oleh Parakkasi (1999), tingginya kandungan ADF (Acid Detergent Fiber) akan menurunkan kecernaan. Lebih lanjut Arora (1989), menyatakan bahwa kandungan lignin yang tinggi dapat membentuk ikatan hidrogen yang membatasi aktivitas selulase sehingga menurunkan kecernaan
Rataan energi tercerna (%) dari ransum biomassa ubi jalar baik yang disuplementasi 0,5 % urea maupun yang tidak disuplementasi nyata lebih tinggi (p<0,05) dari ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % Dl-methionin, diduga karena ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi oleh urea menghasilkan amonia sebagai sumber bahan baku pembentuk protein mikroba yang dapat meningkatkan aktifitas mikroba untuk lebih aktif merombak fraksi serat kasar di sekum dengan cara fermentasi untuk membentuk asam amino, asam lemak terbang dan energi. Menurut Anggorodi (1995), karbohidrat seperti selulosa dan hemiselulosa difermentasi pada sekum menjadi asam-asam lemak terbang (VFA).
Selanjutnya Cheeke (1987) menyatakan bahwa sekum merupakan lokasi utama hidrolisa urea dalam saluran pencernaan kelinci. Lebih lanjut Mc. Donald
et al (1995) menyatakan bahwa sekum merupakan tempat pembentukan dan penyerapan VFA, methan dan gas lainnya serta tempat pembentukan protein mikroba dari NPN (urea), sedangkan ransum yang disuplementasi dengan methionin tidak efektif digunakan oleh mikroba karena methionin merupakan asam amino essensial sehingga terlebih dahulu diserap oleh usus untuk pembentukan komponen tubuh ternak. Hal tersebut dapat dilihat dari pertambahan bobot badan yang dihasilkan oleh ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % Dl-methionin sebesar 18,25 g/ekor/hari dibandingkan dengan pertambahan bobot badan ransum yang menggunakan biomassa ubi jalar dan ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % urea masing-masing sebesar 14,36 dan 15,00 g/ekor/hari (Mulyati, 2004). Hasil ini juga sesuai dengan
penelitian Sanchez et al. (1984) memperlihatkan bahwa penambahan methionin
dalam ransum kelinci cenderung meningkatkan rataan konsumsi ransum dan menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi jika dibandingkan ransum tanpa penambahan methionin.
Energi Termetabolis
Energi termetabolis adalah energi tercerna dikurangi energi yang hilang melalui urin. Energi yang keluar melalui urin tersebut merupakan sisa zat makanan dan katabolisme endogenous ( Crampton dan Harris, 1969; Mc. Donald
et al, 1995). Nilai rataan energi termetabolis selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan Energi Urin dan Energi Termetabolis
Peubah Perlakuan * RK RUJ RU RM E.Urin (kkal/kg BB0.75/hr) 0,96 ± 0,98 1,64 ± 1,57 2,77 ± 0,85 2,23± 0,49 E. Termetabolis (kkal/kg BB0.75/hr) 180,8 ± 12,93 162,06 ± 22,7 176,76 ± 19,97 151,28 ± 8,39 E.Termetabolis (%) 90,2a ±2,00 79,3b ±4,25 80,0b ±3,23 75,0c ±2,85
Keterangan : Superskrip dengan huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan sangat berbeda nyata (p<0,01).
* RK : Ransum komersil ; RUJ : Ransum pellet biomasa ubi jalar ; RU : RUJ + 0,5% urea ; RM : RUJ + 0,5% Dl-Methionin
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan
perbedaan yang nyata terhadap rataan energi urin (kkal/kg BB0,75/hr) dan energi
termetabolis (kkal/kg BB0,75/hr) pada kelinci.
Persentase Energi Termetabolis
Uji kontras ortogonal memperlihatkan bahwa rataan persentase energi
termetabolis pada semua ransum biomassa ubi jalar baik yang disuplementasi 0,5
% urea dan 0,5 % methionin sangat nyata (p<0,01) lebih rendah, dibandingkan dengan rataan energi termetabolis pada kelinci yang diberi perlakuan ransum komersil. Hal tersebut diduga disebabkan oleh tingginya kecernaan energi yang terkandung dalam ransum komersil, hal ini sesuai dengan Blaxter (1969) bahwa energi termetabolis adalah jumlah energi yang dapat dimanfaatkan oleh sel tubuh yang berasal dari energi yang tercerna.
Tingginya fraksi serat kasar yang terkandung dalam ransum akan menurunkan jumlah energi yang termetabolis dan pada akhirnya akan mengakibatkan rendahnya energi yang dapat dimetabolisasi. Pernyataan tersebut
sesuai dengan θrskov dan McDonald (1979) yang menyatakan bahwa energi
termetabolis semakin menurun dengan semakin meningkatnya serat kasar yang terkandung dalam ransum.
Rataan energi termetabolis (%) pada kelinci yang diberikan ransum biomassa ubi jalar tidak berbeda nyata dengan ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % urea, namun nyata lebih tinggi (p<0,05) dibandingkan
dengan rataan energi termetabolis (%) kelinci yang mendapatkan ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % Dl-methionin.
Rataan energi termetabolis (%) pada kelinci yang diberi perlakuan ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi 0,5 % urea nyata lebih tinggi
dibandingkan dengan perlakuan ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi
0,5 % Dl-Methionin.
Penambahan methionin tidak mempengaruhi tingkat energi termetabolis (%) pada kelinci karena kemungkinan Dl-methionin yang ditambahkan dalam ransum, akan diserap dan dimanfaatkan secara langsung untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh kelinci, sesuai dengan pernyataan Cheeke (1987) bahwa asam amino yang terlarut dalam cairan usus halus akan diserap oleh villi dinding usus dan disalurkan ke bagian-bagian tubuh, kemudian diserap untuk digunakan pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh. Menurut Smith dan Mangkowidjojo (1988) bahwa asam amino lisin dan methionin adalah asam amino esensial yang paling penting dan umumnya defisien dalam ransum kelinci. Sedangkan urea yang ditambahkan dalam ransum biomassa ubi jalar akan dimanfaatkan bakteri ureolitik dalam sekum untuk membentuk protein mikroba. Adapun pembentukan protein mikroba yang berasal dari NPN membutuhkan energi yang mudah tercerna. Sesuai dengan yang dilaporkan oleh Ørskov dan Mc Donald (1979) mengemukakan bahwa pembentukan protein mikroba dari nitrogen (urea) membutuhkan pati sebagai kerangka karbon. Pati merupakan sumber karbohidrat yang mudah tercerna. Pada kelinci penguraian urea sebagai sumber nitrogen untuk pembentukkan protein terjadi di sekum, kelinci memiliki mekanisme khusus dalam kolon dan sekum yaitu pencernaan dengan bantuan mikroba (Church, 1991).
KESIMPULAN
1. Suplementasi urea 0.5 % pada ransum pellet biomassa ubi jalar cenderung memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap kecernaan energi dan energi termetabolis dibandingkan dengan suplementasi 0,5 % Dl-methionin
2. Ransum biomassa ubi jalar yang disuplementasi urea atau Dl-methionin
dapat dijadikan sebagai sumber pakan alternatif untuk kelinci. SARAN
Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan mengkombinasikan penggunaan urea dan Dl-methionin dalam ransum pelet biomassa ubi jalar.