PT Perkebunan Nusantara (persero) di Indonesia adalah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang usaha perkebunan. PTPN mengusahakan tanaman perkebunan dengan komoditas kelapa sawit, karet, teh, dan kopi yang mencakup areal dan tanaman perkebunan, kebun bibit dan pemeliharaan tanaman menghasilkan, pengolahan komoditas menjadi bahan baku berbagai industri, pemasaran komoditas yang dihasilkan dan kegiatan pendukung lainnya. Tabel di bawah ini akan menampilkan gambaran umum PTPN di Indonesia.
13 Tabel 1
PTPN di Indonesia Tahun 2012
No. Nama Lokasi Komoditas Tahun berdiri
1 2 3 4 5 6 7 8 9 PTPN I PTPN II PTPN III PTPN IV PTPN V PTPN VI PTPN VII PTPN IX PTPN XIII
Langsa, Provinsi Aceh Tanjung morawa, Sumut Medan, Sumatra Utara Medan, Sumatra Utara Pekanbaru, Riau Jambi
Bandar Lampung Semarang, Jawa tengah Kalimantan
Kelapa sawit, Karet Kelapa sawit Kelapa sawit, Karet Kelapa sawit, Teh Kelapa sawit, Karet Kelapa Sawit, Teh Kelapa sawit, Karet, Teh Karet, Kopi, Teh
Kelapa sawit, Karet
1996 1996 1996 1996 1996 1996 1996 1996 1996
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa semua PT Perkebunan Nusantara (PTPN) merupakan perusahaan perkebunan yang telah berdiri sejak 18 tahun lalu yaitu pada tahun 1996. PTPN (persero) tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dengan mayoritas terletak di daerah Sumatra khususnya Sumatra utara. Dari ke empat lini produk tersebut tanaman kelapa sawit adalah komoditas terbesar yang diusahakaan PTPN di Indonesia.
Pengakuan aset biologis di PTPN
Aset biologis menurut IAS 41 dibagi atas aset biologis belum dewasa, aset biologis dewasa dan persediaan sedangkan menurut PTPN aset biologis dibagi atas aset tanaman semusim, tanaman belum menghasilkan, tanaman menghasilkan, dan persediaan.
Tabel 2
Perbandingan Pengakuan Aset Biologis Menurut IAS 41 dengan PTPN
IAS 41 PTPN Keterangan
Aset Biologis diakui sebagai Aset biologis belum dewasa, aset biologis dewasa, dan persediaan
Aset biologis terbagi atas Aset Tanaman Semusim (ATS), Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM ), dan Persediaan
Perbedaan terletak pada istilah aset biologis.
14
Pengklasifikasian aset biologis menurut PTPN dengan menurut IAS 41 secara umum sama, perbedaannya hanya terletak pada istilah aset biologis. Aset biologis tanaman perkebunan menurut IAS 41 diakui sebagai aset biologis belum dewasa dan aset biologis dewasa tetapi PTPN di Indonesia membagi aset biologisnya ke dalam 4 kategori besar yang terdiri dari Aset Tanaman Semusim (ATS), Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM), dan Persediaan.. Berikut ini dijelaskan pengakuan aset biologis menurut PTPN secara umum untuk keempat kategori tersebut.
Bagan 1
Pengakuan Aset Biologis Secara Umum di PTPN
Suatu aset yang diakui sebagai tanaman semusim adalah aset pembibitan berupa bibit untuk tanaman yang akan datang
Aset Tanaman Semusim (ATS) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Tanaman Menghasilkan (TM) Persediaan
Aset diakui sebagai TBM selama masa awal penanaman sampai memenuhi syarat diakui sebagai TM
Aset diakui sebagai TM apabila telah siap panen dan memenuhi syarat yang
ditentukan oleh pertumbuhan vegetatif dan berdasarkan taksiran manajemen
Aset yang diakui sebagai persediaan yaitu berupa hasil panen dan produk olahan
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Tidak semua PTPN mempunyai ke empat kategori tersebut, dimana hanya PTPN II dan PTPN IX yang memiliki aset biologis berupa ATS sedangkan tujuh PTPN lainnya hanya membagi aset biologisnya ke dalam tiga kategori yaitu TBM, TM, dan persediaan. PTPN yang memiliki pembibitan sendiri dapat menjual bibit tersebut ke PTPN lain dan mengakui bibit tersebut sebagai persediaan namun jika PTPN tersebut memiliki pembibitan yang selanjutnya ditanam ke areal perkebunannya sendiri maka bibit tersebut diakui sebagai ATS . PTPN yang tidak memiliki pembibitan sendiri dan membeli bibitnya dari PTPN lain akan mengakui bibit tersebut sebagai input bibit yang biaya perolehannya termasuk ke dalam TBM. Di dalam laporan keuangan ATS dikategorikan sebagai aset lancar, karena ATS yang dapat ditanam sendiri sebagai tanaman perkebunan atau dijual ke PTPN lain digunakan dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak tanggal awal pelaporan.
15
TBM dan TM diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar karena bersifat jangka panjang yaitu mempunyai masa manfaat lebih dari 12 bulan. TBM direklasifikasi menjadi TM pada saat tanaman tersebut dianggap sudah mampu menghasilkan produk agrikultur. Jangka waktu tanaman dapat menghasilkan ditentukan oleh pertumbuhan vegetatif tanaman serta berdasarkan taksiran manajemen dengan ketentuan yang telah disepakati dan ditetapkan oleh manajemen perusahaan.Persediaan dikategorikan sebagai aset lancar. Persediaan yaitu produk agrikultur dari tanaman menghasilkan pada PTPN. Produk agrikultur tersebut setelah dipanen diakui sebagai persediaan untuk dijual atau dapat juga digunakan sebagai bahan baku dari proses produksi untuk menghasilkan produk baru berupa persediaan barang jadi. Menurut IAS 41 aset biologis didalam laporan keungan diakui sebagai aset biologis belum dewasa dan aset biologis dewasa yang diklasifikasikan berdasarkan umurnya. Aset biologis belum dewasa yang sudah memenuhi syarat diakui sebagai aset biologis dewasa direklasifikasi menjadi aset biologis dewasa. Selanjutnya produk agrikultur pada titik panen diakui sebagai persediaan. IAS 41 diterapkan pada produk agrikultur berupa hasil pertanian pada titik panen namun untuk pengolahan produk agrikultur menjadi persediaan barang jadi tidak diatur di dalam IAS 41 tetapi diatur sendiri di dalam IAS 2 inventory (IAS 41 paragraf 3) atau jika di Indonesia menggunakan PSAK 14 tentang persediaan. Jika pengakuan aset biologis menurut PTPN dihubungkan dengan IAS 41 maka Aset Tanaman Semusim (ATS) yang di dalam laporan keuangan disajikan sebagai aset lancar sama dengan aset biologis belum dewasa pada IAS 41 yang juga disajikan sebagai aset lancar, sedangkan TBM dan TM menurut PTPN yang disajikan sebagai aktiva tidak lancar sama dengan aset biologis dewasa menurut IAS 41 yang juga disajikan sebagai aset tidak lancar, sedangkan untuk persediaan sama-sama disajikan sebagai aset lancar. Perbedaannya PTPN mengakui aset biologis berupa hasil pengolahan persediaan pada titik panen menjadi barang jadi sedangkan IAS 41 hanya mengatur standar aset biologis sampai persediaan pada titik panen saja.
Kriteria pengakuan untuk semua komoditas Aset biologis PTPN di Indonesia yang terdiri dari kelapa sawit, karet, teh, dan kopi akan dijelaskan pada bagan berikut:
16 Bagan 2
Pengakuan Komoditas Kelapa Sawit
-Pembibitan -Input bibit Aset Tanaman Semusim (ATS) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Tanaman Menghasilkan (TM) Persediaan
Masa awal penanaman sampai memenuhi syarat diakui sebagai TM
Umur 3-3,5 tahun, produksi Tandan Buah Segar (TBS) 4-6 ton, per hektar per tahun, atau antara 60-70% dari seluruh jumlah pohon per blok telah menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) dengan berat lebih besar atau sama dengan 3 kg
Hasil panen berupa Tandan Buah Segar (TBS) dan produk olahan seperti minyak sawit dan inti sawit
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Aset Tanaman Semusim (ATS) untuk PTPN yang memiliki pembibitan sendiri diakui sebagai pembibitan yang dapat dijual ke PTPN lain atau ditanam sendiri sebagai tanaman perkebunan. Untuk PTPN yang tidak memiliki pembibitan sendiri, maka PTPN tersebut membeli bibit dari perusahaan lain dan mengakui bibit tersebut sebagai input bibit yang biaya perolehannya dihitung termasuk ke dalam biaya perolehan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
Pembibitan kelapa sawit berasal dari biji yang disemaikan hingga berkecambah, ketika masih berupa bibit tanaman kelapa sawit diakui sebagai ATS. Setelah ditanam ke areal perkebunan tanaman tersebut diakui sebagai TBM sampai memenuhi syarat sebagai TM. Syarat-syarat tanaman kelapa sawit dikategorikan sebagai TM yaitu jika umur tanamannya, persentase produksi Tanaman Belum Menghasilkan (TBS), dan berat rata-rata TBS telah sesuai dengan taksiran manajemen perusahaan. Ketika tanaman kelapa sawit telah memenuhi syarat tersebut dan dinilai mampu menghasilkan produk agrikultur maka akan diakui sebagai TM. Hasil dari tanaman kelapa sawit berupa produk agrikultur yaitu berupa Tandan Buah Segar (TBS). TBS diakui sebagai persediaan bahan baku yang nantinya akan digunakan dalam proses produksi untuk memproduksi minyak sawit serta inti sawit. TBS yang merupakan persediaan bahan baku selanjutnya diolah menjadi minyak sawit dan inti sawit,
17
kemudian inti sawit disaring menjadi lebih jernih lagi yang selanjutnya digunakan sebagai minyak goreng.
Bagan 3
Pengakuan Komoditas Karet
-Pembibitan -Input bibit Aset Tanaman Semusim (ATS) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Tanaman Menghasilkan (TM) Persediaan
Masa awal penanaman sampai memenuhi syarat diakui sebagai TM
Umur 5-6 tahun, 60% dari seluruh pohon per blok sudah dapat dideres dan
mempunyai ukuran lilit batang lebih besar dari 45 cm dari pertautan okulasi
Hasil panen berupa getah dan produk olahannya berupa karet kering
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Komoditas karet dikembangbiakkan dengan okulasi, yaitu mengembangbiakkan tumbuhan dengan cara menempelkan sepotong kulit pohon yang bermata tunas dari batang suatu tanaman ke tanaman lain. Ketika bibit tanaman karet tersebut ditanam ke areal perkebunan, maka tanaman karet dinyatakan sebgai TBM. Setelah memenuhi syarat yang ditentukan manajemen perusahaan untuk dapat menghasilkan produk agrikultur yakni mencakup syarat umur tanaman, persentase kemampuan, dan ukuran lilit batang tanaman karet, maka tanaman karet tersebut direklasifikasi menjadi TM. Produk agrikultur berupa getah karet dinyatakan sebagai persediaan bahan baku yang kemudian diolah menjadi karet kering dan diakui sebagai persediaan barang jadi.
18 Bagan 4
Pengakuan Komoditas Teh
-Pembibitan -Input bibit Aset Tanaman Semusim (ATS) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Tanaman Menghasilkan (TM) Persediaan
Masa awal penanaman sampai memenuhi syarat diakui sebagai TM
Hasil panen berupa daun teh basah dan produk olahannya berupa teh jadi Umur 3-4 tahun,
pertumbuhan daun yang telah saling bertemu antar satu pokok dengan pokok lainnya mencapai 70%, dan 60% daun dari seluruh jumlah pohon per blok telah dapat dipetik
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Bibit tanaman teh bisa dari biji teh dan bisa juga dengan stek. Ketika telah ditanam ke areal bibit tersebut diakui sebagai TBM sampai dinilai mampu untuk menghasilkan daun teh. Tanaman karet dinilai mampu menghasilkan produk agrikultur apabila umur tanaman, pertumbuhan daun, dan persentase daun yang dapat dipetik telah memenuhi syarat yang ditentukan manjemen perusahaan Ketika telah memenuhi syarat tersebut dan mampu menghasilkan daun teh basah tanaman teh diakui sebagai TM. Produk agrikultur berupa daun teh basah diakui sebagai persediaan bahan baku yang selanjutnya diolah menjadi teh kering yang akhirnya diakui sebagai persediaan barang jadi.
19 Bagan 5
Pengakuan Komoditas Kopi
-Pembibitan -Input bibit Aset Tanaman Semusim (ATS) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) Tanaman Menghasilkan (TM) Persediaan
Masa awal penanaman sampai memenuhi syarat diakui sebagai TM
Hasil panen berupa buah kopi. dan produk olahannya berupa kopi jadi Aset diakui sebagai
TM apabila telah memasuki tahun keempat
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Pembibitan kopi yaitu berasal dari biji kopi. ketika bibit siap tanam dan disebar kse areal perkebunan, kopi tersebut diakui sebagai TBM. Ketika umur tanaman telah memasuki tahun keempat makan tanaman kopi dinilai telah mampu menghasilkan buah kopi, makat diakui sebagai TM. Hasil panen berupa buah kopi dinyatakan sebagai persediaan bahan baku yang selanjutnya diolah menjadi persediaan barang jadi berupa kopi jadi. Pengakuan aset biologis PTPN di Indonesia menerapkan standar yang berbeda di setiap kriteria. Untuk TBM dan TM, PTPN menggunakan PSAK 16 tentang aset tetap sebagai standarnya yakni menggunakan biaya perolehan serta mengakui adanya penyusutan, dan untuk persediaan perusahaan menggunakan PSAK 14 atau IAS 2 sebagai standarnya yaitu dapat memilih mana yang paling rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi neto. Pengakuan TM di beberapa PTPN bervariasi, ada kemungkinan hal tersebut disebabkan lokasi, letak geografis, dan cuaca di setiap perusahaan perkebunan.
Karena TM dinilai mampu memberikan kontribusi manfaat ke dalam perusahaan yakni berupa kemampuan untuk menghasilkan produk agrikultur, maka perlu diadakan pengakuan terhadap pemakaian manfaat tersebut ke dalam setiap periode dimana manfaat tersebut dipakai. Cara untuk mengakui pemakaian manfaat dari tanaman telah menghasilkan adalah dengan menghitung penyusutan terhadap nilai tanaman perkebunan. Penyusutan tanaman perkebunan dimulai sejak TBM direklasifikasi ke TM. Dengan adanya penyusutan tanaman perkebunan berupa TM maka PTPN mengakui adanya pengurangan aset sebagai hasil dari penyusutan umur ekonomis aset tanaman perkebunan. Metode penyusutan tanaman perkebunan telah disesuaikan berdasarkan pedoman akuntansi Badan Usaha Milik Negara
20
(BUMN) perkebunan yang penerapannya telah diberlakukan untuk BUMN perkebunan sejak tanggal 1 Januari 2009 berdasarkan surat dari Kementerian Negara BUMN Nomor :S-206/D4.MBU/2008 tanggal 7 Oktober 2008.
Penyusutan dihitung berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tanaman dengan menggunakan metode garis lurus yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Tabel 3
Penyusutan Aset Biologis PTPN di Indonesia
Komoditas Umur ekonomis Tarif penyusutan per tahun
Kelapa sawit Karet Teh Kopi 25 tahun 25 tahun 50 tahun 40 tahun 4% 4% 2% 2,5%
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Dari tabel diketahui bahwa tanaman teh memiliki umur ekonomis yang paling tinggi, kemudian diikuti kopi dengan umur ekonomis 40 tahun, dan yang memiliki umur ekonomis paling sedikit yaitu tanaman kelapa sawit dan karet yakni 25 tahun. Tarif penyusutan aset biologis telah sesuai dengan pedoman akuntansi BUMN perkebunan yang menggunakan metode garis lurus dalam menghitung penyusutannya. Dengan metode garis lurus PTPN membagi manfaat ekonomi dari tanaman telah menghasilkan sama besar setiap periodenya sampai dengan masa manfaat dari tanaman telah menghasilkan dapat digunakan. Semakin tinggi umur ekonomis suatu tanaman perkebunan maka semakin kecil tarif penyusutannya. Menurut IAS 41 bagi perusahaan yang melakukan penilaian terhadap aset biologis menggunakan nilai wajar, seharusnya tidak mengakui adanya akumulasi penyusutan, kecuali ketika nilai wajar tidak dapat ditentukan maka perusahaan menilai aset biologis dengan biaya perolehan sehingga penyusutan tetap diakui dan metode serta tarif penyusutannya sesuai dengan kebijakan perusahaan. Adanya pengakuan penyusutan aset biologis pada perusahaan berdampak pada penurunan laba rugi pada tahun berjalan, sedangkan menurut IAS 41 yang tidak mengakui adanya penyusutan, maka pada laporan laba/rugi tidak ada beban depresiasi yang berakibat adanya kenaikan pada laporan laba/rugi.
21 Pengukuran Aset Biologis di PTPN
Pengukuran aset biologis PTPN di Indonesia untuk semua komoditas sama sesuai dengan kriterianya yaitu sebagai berikut:
a) Aset Tanaman Semusim (ATS) dinyatakan sebesar biaya yang berhubungan dengan input bibit, tenaga kerja langsung dan biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dan tidak langsung. Biaya penyisipan suatu aset tanaman dalam areal pembibitan diakui sebagai penambah jumlah tercatat aset tanaman semusim. Penyusutan aset tanaman semusim dimulai ketika bibit ditanam menjadi tanaman siap panen. Jumlah penyusutan adalah sebesar jumlah yang dapat disusutkan dengan metode garis lurus tanpa dikurangi nilai residu. Entitas melakukan review atas umur manfaat dan metode penyusutan aset tanaman semusim secara periodik.
b) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dinyatakan sebesar biaya perolehan, terdiri dari biaya langsung seperti biaya-biaya pembibitan, persiapan lahan, penanaman, pemupukan, dan pemeliharaan atas TBM serta biaya tidak langsung seperti biaya kapitalisasi biaya bunga pinjaman dan kerugian selisih kurs pinjaman dalam mata uang asing selama masa TBM.
c) Tanaman Menghasilkan (TM) Diukur berdasarkan nilai yang telah direklasifikasi dari TBM ke akun tanaman telah menghasilkan pada saat tanaman tersebut mulai menghasilkan. Jangka waktu suatu tanaman dinyatakan mulai menghasilkan ditentukan oleh pertumbuhan vegetatif dan berdasarkan taksiran manajemen.
d) Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara harga perolehan dan nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value). Biaya persediaan hasil jadi terdiri dari semua biaya yang dikeluarkan untuk TM seperti biaya pemupukan, biaya pemeliharaan dan biaya panen, serta biaya pengolahan termasuk biaya olah lanjut dan biaya umum (biaya tidak langsung) yang timbul di kebun dan pabrik. Keseluruhan biaya tersebut diperhitungkan dengan nilai persediaan pada awal periode dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang untuk menentukan harga perolehan persediaan hasil jadi. Nilai realisasi bersih adalah estimasi harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan biaya penjualan.
22 Tabel 4
Perbandingan Pengukuran Aset Biologis Menurut IAS 41 dengan PTPN
IAS 41 PTPN Keterangan
Aset biologis berupa aset biologis belum dewasa dan aset biologis dewasa diukur sebesar nilai wajar dikurangi taksiran biaya untuk menjual
Tidak mengukur atau menghitung penyusutan
Aset Biologis berupa ATS, TBM, dan TM diukur sebesar harga perolehan dikurangi akumulasi penyusutan sedangkan aset biologis berupa persediaan diukur sebesar nilai yang lebih rendah antara harga perolehan dan nilai realisasi bersih
Mengukur atau menghitung penyusutan ketika aset biologis telah dikategorikan sebagai TM
Tidak sesuai
Tidak sesuai
Sumber: Data sekunder diolah, 2014.
Berbeda dengan pengukuran aset biologis menurut PTPN, aset biologis menurut lingkup IAS 41 harus diukur pada pengakuan awal dan pada tanggal pelaporan berikutnya pada nilai wajar berbasis harga pasar aktif setelah dikurangi dengan taksiran biaya untuk menjual, kecuali nilai wajar tidak dapat diukur secara andal. Harga pasar aktif menurut IAS 41 sulit diketahui. Misalnya untuk komoditas kelapa sawit harga pasar dapat diketahui bila manakala terdapat kebun kelapa sawit yang akan dijual. Menurut Riyadi (2010) disebutkan contoh pada tahun 2008 harga yang ditawarkan untuk kebun kelapa sawit di Sumatera Selatan seluas 2.000 hektar dengan tahun tanam 2004 dan 2005 ditawarkan dengan harga Rp42.000.000,- per hektar dan 5.000 hektar lahan kosong siap tanam ditawarkan dengan harga Rp12.000.000,- per hektar. Harga pasar kelapa sawit sulit ditentukan karena sangat bervariasinya kondisi satu kebun kelapa sawit dengan kebun kelapa sawit lainnya karena disebabkan perbedaan wilayah, kondisi tanah, letak kebun dan skala luasnya kebun. Akibatnya nilai wajar tidak dapat ditentukan dengan andal apabila menggunakan harga pasar paling kini. Ketika nilai wajar tidak dapat ditentukan maka perusahaan dianjurkan menggunakan biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi penurunan nilai, tetapi apabila di kemudian hari nilai wajar dapat ditentukan maka tanaman perkebunan yang telah dinilai menggunakan biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi penurunan nilai tersebut harus dinilai kembali menggunakan nilai wajar dikurangi taksiran biaya untuk menjual (IAS 41 paragraf 30).
Begitu juga dengan pengukuran persediaan yang merupakan hasil pertanian menurut IAS 41 diukur pada nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual pada titik panen. Menurut
23
PTPN pada saat TBM direklasifikasi ke TM yang diukur dengan akumulasi biaya perolehan sebelumnya PTPN tidak mengakui adanya keuntungan maupun kerugian. Namun menurut IAS 41 apabila pada saat dilakukan pengukuran pada suatu periode terdapat kenaikan atau penurunan pada nilai wajar maka harus diakui sebagai keuntungan atau kerugian dan dimasukkan kedalam laporan laba rugi (IAS 41 paragraf 28). Pada PTPN harga perolehan dari aset biologis diperoleh dari biaya-biaya yang dikapitalisasi ke dalam aset biologis, tetapi menurut IAS 41 semua biaya yang berkaitan dengan aset biologis yang diukur pada nilai wajar contohnya biaya pemupukan dan pemeliharaan diakui sebagai beban pada saat terjadinya, selain biaya untuk membeli aset biologis yaitu biaya pembibitan atau biaya untuk membeli bibit.
Penyajian dan Pengungkapan Aset Biologis di PTPN
Di dalam laporan posisi keuangan PTPN aset biologis berupa Aset Tanaman Semusim (ATS) dan persediaan disajikan sebagai komponen aset lancar sedangkan aset biologis berupa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan Tanaman Menghasilkan (TM) disajikan sebagai aktiva tidak lancar. Menurut IAS 41, di dalam laporan keuangan, aset biologis belum dewasa disajikan sebagai aktiva lancar dan aset biologis dewasa disajikan sebagai aktiva tidak lancar, sedangkan persediaan pada titik panen disajikan pada aset lancar. Secara umum penyajian aset biologis pada aktivitas agrikultur menurut PTPN dan menurut IAS 41 adalah sama, perbedaannya terletak pada jenis aset biologis yang diungkapkan. Pada PTPN di Indonesia dan juga menurut IAS 41 suatu perusahaan yang bergerak di bidang agrikultur harus menyajikan daftar rekonsiliasi perubahan dalam nilai tercatat pada aset biologis di antara awal dan akhir periode berjalan.
Pada PTPN di Indonesia perusahaan tidak hanya mengungkapkan aset biologis pada aktivitas agrikultur sampai titik panen saja, tetapi juga menyajikan produk olahan dari hasil pada titik panen. Contohnya pada kelapa sawit yaitu berupa Tandan Buah Segar (TBS) yang kemudian diolah menjadi minyak sawit dan inti sawit, kemudian inti sawit diolah menjadi minyak inti sawit yang lebih jernih dan selanjutnya digunakan sebagai minyak goreng. Namun menurut IAS 41 perusahaan hanya mengatur perlakuan akuntansi dan pengungkapan yang berhubungan dengan kegiatan pertanian sampai pada titik panen saja, pengolahan persediaan pada titik panen menjadi barang jadi diatur sendiri dalam IAS 2 atau PSAK 14 mengenai pesediaan.
24
Pengungkapan aset biologis menurut PTPN dengan IAS 42 memiliki persamaan serta perbedaan dalam beberapa hal. Perbandingan pengungkapan aset biologis menurut PTPN dengan IAS 41 ditampilkan pada tabel berikut:
Tabel 5
Perbandingan Pengungkapan Aset Biologis Menurut IAS 41 dengan PTPN
IAS 41 PTPN Keterangan
- IAS 41 mengungkapkan jenis dan jumlah aset biologis
- IAS 41 hanya mengatur perlakuan akuntansi dan hanya mengungkapkan aset biologis yang berhubungan dengan kegiatan pertanian. Untuk pengolahan ghasil panen menjadi produk jadi