Lokasi
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) terletak di Ketinggian 1,5 m dari permukaan laut Pantai Utara.Mempunyai lahan dengan luas 15 ha denga rincian 12 ha merupakan lahan pertambakan, sedangkan 3 halainnya merupakan lahan perumahan dan perkantoran.
Sepanjang pantainya sendiri merupakan tipe pantai berpasir hitam.Suasana sekitar lokasi adalah suasana laut dengan mayoritas tumbuhan disekitar lokasi adalah pohon bakau, sedangkan pekerjaan utama penduduk di sekitar umumnya bekerja sebagai petambak dan nelayan. Ketinggian tempat diatas permukaan laut sekitar 1,5 m dengan rentang suhu berkisar 24oC - 33oC dan pH air rata-rata 6 – 8.5, DO berkisar 3–4.5 mg/liter dan tingkat kecerahan 35 cm.
Sumber air dalam kegiatan budidaya, BPBAPL dalam mengairi areal pertambakan berasal dari saluran irigasi teknisi dengan debit air yang mengaliriareal pertambakan 50–100 liter/detik yang di pengaruhi oleh pasang surut lautPantai Utara dengan penggunaan pompa submersible,. Suplai air bersih berasaldari air tanah
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) terletak di Jl. Raya Cipucuk No. 13–15, Dusun Sukamulya, Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang dengan ketinggian 1–2 meter di atas permukaan laut (dpl) pada surut rata –rata terendah.
Sumberdaya Alam
Dari awal pembentukannya, instansi ini bernama Unit Pembinaan Budidaya Air Payau (UPBAP) mempunyai lahan dengan 15 ha dengan rincian 12 ha merupakan lahan pertambakan, sedangkan 3 ha lainnya merupakan lahan perumahan dan perkantoran.
Sejarah
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang merupakan salah satu Unit Pelaksanaan Teknis Dinas (UPTD) dilingkungan dinas Perikanan propins jawa barat. BPBAPL Karawang berdiri pada tahun 1975 dengan nama Unit Pembinaan Budida Air payau (UPBAP), Sebelum menjadi UPBAP Balai ini merupakan tambak dinas propinsi jawa barat yang di kelola oleh dinas perikanan kabupaten karawang.pada masa kepemimpinan Ir.Miftah tahun 1975 sampai kepemimpinan Ir.Tien Hindasah tahun 1998,Balai ini merupakan basis dari semua penyuluh di 5 kabupaten sejawa barat. Pada awal berdirinya,balai ini telah banyak mengalami pergantian kepemimpinan.UPBAP di awal berdirinya sampai menjadi balai di pimpin oleh 5 kepada Unit di
26
antaranya:Ir.Miftah tahun (1975-1980), Ir.Hery Hermawan (1984-1990) dan terakhir oleh Ir.Tien Hindasah (1990-1998).
Selanjutnya pada tahun 1998 UPBAP Berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau (BPBAP) yang dijabat oleh Tata Tamami,A.Pi dari tahun 1998 sampai tahun 2002. Pada tahun 2002 BPBAP berubah menjadi BPBPLAPU sesuai dengan keputusan Gubenur propinsi jawa barat Nomor 821.2/SK.860 G/Peg/2002 tanggal 2 juli 2002 tentang alih tugas/alih jabatan di lingkungan Dinas perikana dan Kelautan Propinsi, Maka BPBAP berubah menjadi Balai Pengembangan Budidaya Perikanan Laut,Air payau dan udang (BPBAPLAPU) dengan status Eselon III. Sebagai salah satu lembaga pengkajian,penerapan,dan pengembangan teknologi perikanan ikan laut air payau,maka BPBPPLAPU Karawang memiliki tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) yang telah di tetepkan melalui Surat Keputusan Gubenur Propinsi jawa barat nomor 45 tahun 2002 tentang tugas pokok,fungsi dan rincian tugas Unit Pelaksanaan Teknis Dinas di lingkungan Dinas Perikanan Propinsi jawa barat. Balai ini semenjak berubah menjadi BPBPLAPU sampai sekarang telah tiga kali mengalami pergantian kepemimpinan:Ir.Acmad Dermawan ,BA dari tahun 2002 sampai tahun 2005,selanjutnya di pimpin kembali oleh Tata Tamani,A.Pi (2005-2007) dan Dede Sunendar,A.Pi (2007-sekarang).pada awal tahun 2010 telah mengalami perubahan nomenclature yaitu dari BPBPLAPU Menjadi BPBAPL (Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut).
Analisis Aspek‐Aspek Non Finansial Analisis Aspek Pasar
Aspek pasar merupakan aspek yang sangat penting dalam studi kelayakan bisnis. Aspek-aspek yang lain tidak akan berarti jika aspek pasar diabaikan dan perkembangan perikanan dewasa ini lebih berfokus pada kemampuan pasar dalam menyerap produk yang dihasilkan. (tidak seperti dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap I di mana pertanian lebih fokus kepada peningkatan produksi pertanian). Berikut adalah analisis lebih lanjut mengenai aspek pasar pada komoditi kepiting soka.
Potensi Pasar
Kepiting soka memiliki potensi bisnis yang cukup cerah saat ini, hal ini dapat dilihat dari segi permintaan. Para konsumen kepiting soka ini adalah restoran seafood, pedagang pengumpul, perusahaan pengolahan dan eksportir. Untuk beberapa restoran, setiap restorannya permintaanya rata-rata 50 kg/minggu, sedangkan perusahaan pengolahan dapat menyerap kepiting soka berapa pun banyaknya bahkan selama ini perusahaan pengolahan masih mengalami kekurang pasokan untuk kepiting. Konsumen utama Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang adalah restoran seafood dan perusahaan pengolahan. Konsumen tersebut berasal dari daerah Kabupaten Karawang maupun dari daerah luar Kabupaten Karawang, seperti Jakarta, Cikarang, dan bahkan dari Bogor Berdasarkan pengalaman balai sendiri, selama ini hasil produksi yang dijual oleh terserap semua oleh konsumen, bahkan selama ini BPBAPL masih belum mampu memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi karena masih kekurangan produk.
27 Target Pasar
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang melakukan target pasar produk kepiting soka mereka adalah adalah restoran-restoran seafood di sekitar Karawang dan Jakarta serta perusahaan pengolahan ikan, namun Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang lebih mengutamakan restoran-restoran seafood karena harga di restoran-restoran lebih mahal dan tidak banyak menuntut kreteria dari produk. Pemasaran
a) Produk
Produk yang dipasarkan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang adalah kepiting soka dengan ukuran 100-130 gram/ekor. Dalam penjualan kepiting soka ini, yang paling diminati oleh konsumen adalah kepiting yang sehat dan sudah mencapai ukuran kepiting konsumsi pada umumnya yaitu 100-130 gram/ekor.
b) Harga
Pihak balai akan mengetahui pendapatan yang diterima dengan melakukan penetapan harga jual. Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang menetapkan harga jual untuk kepiting soka ukuran 100-130 gram/ekor dengan harga Rp 60.000/kg. Penetapan harga yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang merupakan harga yang sesuai dengan harga di pasaran. c) Promosi
Promosi yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang adalah dengan menawarkan langsung kepada restoran-restoran seafood dan perusahaan pengolahan ikan. Selain dengan menewarkan langsung kepada konsumen, biasanya para calon pembeli datang langsung ke lokasi budidaya dan sebagian minta diantarkan ke lokasi tempat pembeli.
d) Distribusi
Sejauh ini Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang menjual hasil produksinya kepada restoran dan perusahaan pengolahan ikan. Distribusi dari balai ke restoran dan perusahaan pengolahan dilakukan sendiri tanpa melewati prantara.
Hasil Analisis pasar
Berdasarkan analisis potensi pasar jumlah permintaan masih jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah penawaran kepiting soka. Dapat disimpulkan bahwa budidaya kepiting soka yang dijalankan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang ini layak untuk diusahakan. Dengan besarnya jumlah permintaan dibandingkan produk yang ditawarkan maka memberikan ruang untuk produk (kepiting soka) yang dihasilkan Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang terserap semua oleh pasar bahkan Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang dapat meningkatkan produksinya.
Analisis Aspek Teknis
Aspek lain yang sangat penting selain aspek pasar adalah aspek teknis. Hal ini disebabkan karena melalaikan perencanaan produksi (aspek teknis) dapat menimbulkan kesulitan bahkan kegagalan dalam pelaksanaan suatu gagasan
28
usaha. Aspek teknis yang dikaji dalam budidaya kepiting soka meliputi lokasi usaha, proses produksi, dan ketepatan teknologi yang digunakan. Berikut adalah hasil analisis pada tiap kriteria aspek teknis.
Lokasi Usaha
Usaha pembesaran kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang terdapat di Jl. Raya Cipucuk No. 13, Desa Pusaka Jaya Utara Kec. Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Pemilihan lokasi ini berdasarkan beberapa alasan diantaranya :
1) Ketersediaan Bahan Baku
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang dalam melakukan usahanya mendapatkan pengadaan sarana produksinya diperoleh dari Jawa Barat. Bahan baku utama yang digunakan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang berupa benih kepiting pakan dan rucah, untuk harga benih kepiting Rp 16.000/kg. Pengadaan sarana produksi yang berasal dari Karawang adalah diantaranya pengadaan ikan rucah, pipa, keranjang pompa, bambu dan plastik.
2) Listrik, Air dan Kondisi Alam
Tenaga listrik yang digunakan untuk kegiatan produksi kepiting soka sudah menjangkau lokasi usaha. Sehingga untuk penggunaan listrik tidak ada masalah. Tenaga listrik untuk usaha ini berasal dari PLN dan jika terjadi gangguan listrik maka antisipasi dengan menggunakan genset.
Sementara untuk ketersediaan air dalam kegiatan kepiting soka sangat melimpah di sekitar lokasi usaha. Pada kegiatan pembesaran kepiting soka, air yang digunakan adalah air laut. Kualitas air yang memenuhi persyaratan untuk usaha pembesaran kepiting soka yaitu salinitas 25-30 ppt, pH 6,5- 8,5. Kegiatan pembesaran tidak dapat dilakukan dengan pH di bawah 6 karena kepiting akan mengalami stres serta pertumbuhan akan melambat dan dapat mengakibatkan kematian. Kondisi iklim di daerah unit usaha sendiri cukup mendukung untuk dilakukan usaha pembesaran kepiting soka. Suhu untuk kegiatan pembesaran kepiting soka berkisar 29-35ºC.
3) Suplai Tenaga Kerja
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang dikelola oleh satu penanggung jawab produksi dan 4 orang karyawan tetap bagian produksi. Tenaga kerja di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Karyawan yang bekerja di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang berasal dari penduduk sekitar didirikannya usaha pembesaran kepiting soka.
4) Fasilitas Transportasi
Lokasi usaha Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang terletak diperkampungan namun telah memiliki fasilitas jalan aspal. Untuk alat transpotasi tersedia ojek dan angkutan umum. Lokasi Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang terletak di Jl. Raya Cipucuk dan tidak sulit untuk diakses.
Proses Produksi
Proses produksi yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang hanya terfokus pada kegiatan pembesaran
29 saja. Setelah kepiting molting langsung dipanen kemudian kepiting yang dipanen dijual.
Kegiatan Pembesaran Kepiting Soka
Usaha pembesaran kepiting soka, kegiatan yang dilakukan adalah pemilihan lokasi, persiapan tambak, pendisainan dan konstruksi keranjang (basket), pengadaan dan penebaran benih, pemeliharaan dan pemberian pakan, panen dan pasca panen. Tahapan kegiatan pembesaran kepiting soka yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan Lokasi
Lokasi budidaya pada petak A.1.1 berupa tambak yang memenuhi berbagai persyaratan teknis. Pemilihan lokasi tersebut perlu mempertimbangkan hal– hal sbb:
Bebas daripengaruh banjir;
Kualitas air memadai: salinitas 25-30 ppt, pH 6,5- 8,5 dan bebas dari pencemaran;
Mudah dijangkau dan dekat dengan tempat tinggal/Penampungan;
Ketinggian air 70 – 120 cm
Gambar 5 Denah Lokasi Petak Budidaya Kepiting Soka 2. Persiapan Tambak
Proses persiapan tambak yang dilakukan meliputi kegiatan perbaikan kontruksi tambak, pengeringan dan pengangkatan lumpur dasar tambak, penebaran kapur, pemasangan skala air/ papan komoditas, pemasangan saringan air pada pipa pemasukan, pemasangan jalan inspeksi, pemasangan instalasi listrik dan air. Persiapan tambak dalam kegiatan budidaya kepiting soka untuk memperbaiki konstruksi tambak yang telah rusak seperti adanya kebocoran pada tambak, selanjutnya untuk menguraikan bahan organik atau sisa – sisa pakan yang menumpuk pada dasar tambak, mengoksidasi asam sulfat atau hydrogen sulfida (H2S) yang berada di dasar tambak, meningkatkan derajat keasaman (pH) tanah, memberantas hama, kompetitor maupun pengganggu.
3. Pendisainan dan Konstruksi karamba
Lokasi budidaya
Petak A.1.1
Saluran air pemasukan rumah Petak
A.1.2
30
Setelah dilakukan pengisian air kemudian dilakukan pemasangan rakit kontruksi karamba. karamba untuk pemiliharaan kepiting terbuat dari plastik dengan ukuran panjang 25cm x 10cm. untuk menempatkan keranjang digunakan rakit yang terbuat dari rangkaian bambu dan paralon yang telah dirangkai.
Rangkaian karamba dimasukan didalam bambu yang sudah dirangkai. Satu rangkai bambu atau getek dapat memuat 76 basket untuk pemeliharaan kepiting. Sedangkan satu rakit dibuat dengan rangkaian bambu sebanyak 3 buah jadi dalam satu rakit terdapat 228 keranjang basket.
4. Pengadaan dan Penebaran Benih
Kepiting yang akan di tebar diperoleh dari hasil penangkapan di alam atau dari hasil budidaya pembesaran tradisional di tambak. Kepiting yang ditebar dengan bobot minimal 60 gram dan maksimal 100 gr. Benih kepiting berasal dari daerah pamanukan Subang. Proses pemilihan kepiting yang baik dengan cara melihat secara visual bagian kepiting secara lengkap dan utuh, diusahakan kepiting yang tidak lembek/baru molting, kepiting yang memilki ukuran lebih besar dipisahkan karena akan lama untuk dijadikan soka.
Penempatan Kepiting bibit yang telah disortir kedalam keranjang yang tersedian dengan ketentuan 1(satu) bibit kepiting diletakan kedalam setiap 1(satu) keranjang. Tali yang mengikat pada kepiting dibuka lalu memasukan kepiting dalam keranjang kemudian keranjang diikat agar kepiting tidak lepas. 5. Pemeliharaan dan Pemberian Pakan
Pemberian pakan berupa ikan segar (ikan rucah) sebanyak 5-10% BB/hari dengan frekuensi pemberian 1 kali/hari pada sore hari. Sebelum pakan diberikan dicuci bersihkan dahulu kemudian dialakukan pemotongan pakan. Pakan segar yang diberikan berupa ikan layur tidak terlalu banyak kerana pemberian berlebih akan mengakibatkan pembusukan dalam keranjang apabila pakan tidak dimakan. Pemberian pakan kepiting langsung diberikan pada kepiting. Selama pemeliharaan pengecekan kulaitas air tetep dijaga agar salinitas air tidak terjadi fluktuasi yang tinggi sehingga daya hidup kepiting akan bertahan lebih lama. Pemeliharaan antara 1-2 bulan tergantung pada tingkat molting kepiting.
31 Pemeliharaan kepiting dilakukan pengontrolan dan pembersihan kepiting dari lumut yang menempel, proses pembersihan dilakukan 3 kali sehari atau dapat dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya lumut yang menempel.
6. Panen
Panen dilakukan secara selektif yaitu memilih kepiting yang telah melakukan molting kemudian diangkat dan dipisahkan. Kepiting yang telah molting dicatat berapa per harinya kepiting yang telah jadi soka. Kepiting yang telah molting memiliki tubuh yang sangat lunak sehingga harus hati– hati dalam mengangkatnya.
Gambar 7 Kepiting yang Siap Panen
Cara pemanenan kepiting dari keramba dengan melakukan pengecekan 3 jam sekali. Waktu pengecekan kepiting pada pagi hari pukul 6, siang pukul 12, sore pukul 6 dan malam hari pukul 12. Kepiting yang sudah terlihat molting ditandai dengan adanya 2 cangkang dalam keranjang. Kepiting yang sudah jadi soka diambil kemudian dikumpulkan dalam wadah baskom direndam dengan air tawar/ sebelum masuk freezer kepiting dibasahi dengan kain lembut.
Kepiting yang yang telah melakukan molting dikumpulkan pada satu wadah atau dibekukan menggunakan freezer atau dalam lemari pendingin sebelumnya kepiting dimasukan terlebih dahulu kedalam plastik. Kepiting yang telah beku kemudian dikumpulkan sampai cukup untuk dijual.
32
7. Pasca Panen
Proses pasca panen atau pendistribusian kepiting dilakukan setelah kepiting yang telah molting dikumpulkan dan telah cukup banyak untuk dilakukan penjualan. Hal pertama yang dilakukan yaitu mempersiapkan
sterofoam yang telah dialasi oleh koran agar suhu didalam tetap terjaga. Kemudian dilakukan penimbangan kepiting yang akan dijual hal ini diperlukan sebagai pembanding dengan hasil timbangan di tempat penjual.
Gambar 9 Penimbangan Kepiting Soka
Hasil uraian aspek teknis di atas menunjukkan bahwa secara umum yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang layak untuk dijalankan dan dikembangkan karena usaha pembesaran kepiting ini dapat meningkatkan hasil produksi kepiting soka dan meningkatkan hasil jual.
Aspek Manajemen dan Hukum
Aspek manajemen pada dasarnya menilai para pengelola usaha dan struktur organisasi yang ada. Aspek ini meneliti sistem manajerial suatu usaha. Struktur organisasi digolongkan menjadi empat macam yaitu sistem lini, fungsional, divisional, dan matriks. Sistem lini biasanya terdapat pada perusahaan kecil dengan skala industri rumah tangga. Demikian pula dengan struktur organisasi di usaha pembesaran kepiting soka yang dimiliki oleh balai pengembangan budidaya air payau dan laut (BPBAPL) karawang termasuk dalam organisasi lini dan masih tergolong sederhana. Usaha pembesaran ini dibangun oleh kepala balai dan sekaligus sebagai. Tetapi penanggung jawab produksi dipegang oleh ketua pelaksana yang dibantu oleh tiga orang karyawan yang bertanggungjawab dalam pemeliharaan. Dimulai dari penebaran benih, memberi pakan dan memelihara hingga siap dipanen. Karyawan diberi tempat tinggal yang dekat dengan usaha pembesaran sehingga memudahkan untuk menjaga usaha agar tetap baik. Karyawan bekerja dari pagi samapi sore, dan mendapat gaji setiap bulan dan akan mendapatkan bonus apabila mencapai target ketika panen.
Usaha pembesaran kepiting soka ini belum memiliki badan hukum yang resmi dari pemerintah setempat namun usaha ini dibawah naungan oleh Balai
33 Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang Modal yang digunakan untuk menjalankan kegiatan usaha pembesaran ikan ini seluruhnya berasal dari pemerintah daerah Jawa Barat. Usaha ini dapat digolongkan dalam usaha perorangan karena modal usaha yang digunakan berasal dari satu sumber. Analisis Aspek Sosial
Usaha pembesaran kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang memiliki peran penting terhadap kehidupan sosial masyarakat sekitar. Kegiatan pembesaran memberikan kesempatan kerja bagi penduduk sekitar lokasi pembesaran, sehingga dapat mengurangi tingkat pengangguran dan meningkatkan taraf pendapatan masyarakat di sekitar lokasi. Penyerapan tenaga kerja tidak terlalu mempermasalahkah tingkat pendidikan akan tetapi kemauan dari pekerja untuk belajar dan jujur terhadap unit usaha. Dilihat dari aspek sosial, usaha pembesaran kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang layak untuk dijalankan karena kegiatan usaha ini juga dapat membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Aspek Lingkungan
Usaha ini tidak memberikan dampak buruk bagi masyarakat sekitar. Hal ini karena buangan atau limbah dari kegiatan usaha hanya berupa air bekas pemeliharaan yang dibuang kedalam selokan sehingga air tersebut tidak mencemari lingkungan dan tidak merugikan masyarakat sekitar. Dilihat dari aspek Lingkungan usaha Usaha pembesaran kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang layak untuk dijalankan karena tidak menimbulkan limbah yang dapat mengganggu lingkungan sekitar.
Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan usaha pembesarasan kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang dilakukan untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang layak dan menguntungkan secara finansial. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria-kriteria penilaian investasi yang terdiri; NPV, IRR, Net B/C rasio, dan Payback period. Untuk menganalisis empat kriteria tersebut, digunakan arus kas untuk mengetahui besarnya manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan oleh
Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang
selama umur proyek yaitu 10 tahun. Penentuan umur proyek tersebut berdasarkan umur ekonomis dari bangunan, dan tambak, karena merupakan aset yang paling penting untuk usaha pembesaran kepeiting soka.
Arus Manfaat (Inflow)
Dalam sebuah cash flow, inflow merupakan segala sesuatu yang dapat meningkatkan pendapatan sebuah usaha. Manfaat atau inflow dari usaha pembesaran kepiting soka yaitu penjualan kepiting soka ukuran konsumsi dan nilai sisa.
a. Pendapatan
Penerimaan dalam kegiatan pembesaran kepiting pembesarasan kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang
34
dihasilkan dari jumlah penjualan kepiting ukuran konsumsi dengan harga jual Rp 55.000/kg. Pembesaran kepiting soka dilakukan sebanyak 5 kali per tahun.
Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan pada usaha pembesaran kepiting soka Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang ada 3 tambak yang digunakan untuk pembesaran. Untuk target produksi panen pada pembesaran kepiting soka di Balai Pengembangan Budidaya Air Payau dan Laut (BPBAPL) Karawang adalah sekitar 585 kg per siklusdari 3 tambak yang dioprasikan dan dalam setahun mampu menghasilkan 2.925 kg dengan SR 70%. Harga jual kepiting soka ukuran konsumsi rata-rata adalah Rp 60.000 per kilogram. Harga jual tersebut diasumsikan konstan dari tahun ke-1 sampai dengan tahun ke-3 dengan tingkat harga Rp 60.000 per kilogramnya. Sedangkan produksi capit kepiting yang dihasilkan 100,8 kg per siklusnya dan dalam setahun dapat menghasilkan 504 kg per tahunnya dengan harga Rp 10.000/kg
b. Nilai Sisa (Salvage Value)
Nilai sisa adalah nilai barang atau peralatan yang tidak habis selama usaha berjalan. Nilai sisa dihitung diakhir usaha, dan dimasukan ke dalam komponen
inflow. Nilai sisa yang terdapat dalam usaha pembesran kepiting soka dapat menjadi tambahan manfaat bagi usaha tersebut. Arus penerimaan yang berasal dari nilai sisa dihitung berdasarkan nilai dari investasi peralatan yang masih tersisa pada akhir umur usaha. Peralatan yang masih memiliki nilai sisa pada akhir umur usaha (pada tahun kesepuluh) adalah (Tabel 3).
Tabel 3 Nilai Nilai Sisa Investasi Usaha Pembesran Kepiting Soka
Uraian Umur Ekonomis Nilai Sisa
Pompa Submersibel 2 250.000
PVC 2 inchi 2 60.000
Freezer 5 5.000.000
Rumah Jaga 10 10.000.000
Total 15.310.000
Outflow (Arus Pengeluaran)
Outflow adalah aliran kas yang dikeluarkan oleh usaha. Outflow
pembesaran kepiting soka dikelompokkan menjadi dua macam bentuk biaya yaitu biaya investasi dan biaya operasional.
a. Biaya Investasi
Biaya investasi merupakan biaya awal yang dikeluarkan saat menjalankan usaha yaitu pada tahun pertama usaha, dimana jumlahnya relatif besar dan tidak habis dalam satu kali periode produksi. Biaya investasi ditanamkan atau