Dimana :
C : Banyaknya variabel (asosiasi) Ri : Jumlah baris jawaban ‘ya’ Cj : Jumlah kolom jawaban ‘ya’ N : Total besar
Nilai Q yang diperoleh akan dibandingkan dengan nilai X2 tabel dengan
sebesar 5% untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antar asosiasi. Atas dasar hasil analisis dilakukan perbandingan antara nilai Q dengan (pada tabel). Jika diperoleh nilai , maka Ho diterima, yang berarti semua asosiasi yang diuji saling berhubungan membentuk brand image dari suatu merek. Jika diperoleh nilai , dapat disimpulkan belum cukup bukti untuk menerima Ho. Jika nilai , dilanjutkan tahap pengujian ke tahap tiga dengan teknik yang sama sebagaimana telah dipaparkan. Jika nilai , maka pengujian dihentikan, yang berarti brand image suatu merek terbentuk dari asosiasi-asosiasi sisanya yang belum diuji dan asosiasi terakhir yang diuji.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Perusahaan Sejarah Serambi BotaniSB merupakan outlet IPB yang berlokasi di Mall Botani Square yang memiliki konsep sebagai outlet produk-produk IPB yang memenuhi standar “life style” dan juga “healthy cafe” dengan menggunakan produk produk IPB sebagai bahan baku utama. SB mulai beroperasi tanggal 7 Agustus 2009. SB dibentuk sebagai representasi hasil-hasil penelitian maupun inovasi civitas akademika IPB untuk dipasarkan dan dipromosikan serta dikomersialisasikan pada masyarakat umum sehingga manfaatnya dapat dirasakan semua pihak.
SB, pelopor toko dan kafe yang mengutamakan kualitas produk yang baik untuk kesehatan. Terjamin lebih alami, higienis dan bebas dari bahan-bahan kimia berbahaya bagi tubuh. Terjamin karena proses pembuatannya diawasi langsung oleh para ahli dan peneliti yang merupakan dosen-dosen Institut Pertanian Bogor yang ahli dibidangnya. SB merupakan toko yang menyajikan aneka produk-produk sehat, aman dan terjamin, karena aspek kesehatan dan keterjaminan menjadi prioritas.
Visi dan Misi Serambi Botani
SB memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran dan juga berpartisipasi langsung dalam mengedukasi masyarakat untuk hidup sehat secara alami dengan
13 produk-produk lokal Indonesia. Selain itu, SB juga ingin meningkatkan kesejahteraan para pemilik dan karyawan UKM di bawah bimbingan Institut Pertanian Bogor. SB ingin mempermudah masyarakat dalam menikmati produk-produk alami dengan menawarkan kemitraan strategis kepada pihak-pihak yang tertarik untuk mengelola gerai SB. Sehingga diharapkan dari berbagai usaha yang berkesinambungan, SB wujud nyata dalam memberikan sumbangsih dan manfaat positif yang nyata bagi civitas akademika IPB, para pemilik dan karyawan UKM, para petani dan masyarakat luas. Misi SB adalah :
1. Memberikan kontribusi/berbagi pengetahuan tentang produk-produk yang sehat dan alami kepada masyarakat.
2. Meningkatkan nilai tambah produk lokal.
3. Menjadi lokomotif bisnis bagi para UKM binaan IPB sehingga meningkatkan kesejahteraan para UKM dan karyawannya.
4. Menjadi rekanan bisnis yang memberikan profit bagi usaha franchise.
Segmenting, Targetting, Positioning Serambi Botani Bogor
Segmentasi SBB memiliki segmentasi demografis dan psikografis, yaitu masyarakat kota Bogor kelas menengah ke atas dengan gaya hidup sehat. Sedangkan target yang dituju adalah keluarga, mengutamakan ibu-ibu karena SBB melihat bahwa penentu keputusan utama dalam pembelian terletak pada ibu rumah tangga. Positioning SBB adalah gerai produk lokal yang sehat dan alami untuk edukasi gaya hidup sehat.
Bauran Pemasaran Serambi Botani Bogor
Setiap usaha atau bisnis harus mempersiapkan strategi bauran pemasarannya dengan baik agar dapat sukses di pasaran, adapun bauran pemasaran SBB adalah sebagai berikut :
a. Produk (Product)
Produk yang dijual di SB adalah produk herbal dan alami yang bebas dari bahan kimia dan merupakan hasil riset civitas akademika IPB. SB mengelompokan produk yang dijualnya dalam beberapa kategori, seperti herbal and medicine, personal care, healthy drink, healthy food, snack and drink, essential oil.
b. Tempat (Place)
Kantor SB terletak di Kompleks Agripark, Jalan Taman Kencana No. 3, Bogor. Produsen menyalurkan produknya ke kantor SB, produk didistribusikan ke gerai SB Bogor untuk dijual. Gerai SBB terletak di Mall Botani Square Lantai Dasar GF 14-15, Jalan Raya Pajajaran Bogor. Hingga saat ini gerai SB telah tersebar di beberapa mall, yaitu Gandaria City, Teras Kota, Kalibata City Square, Mall Artha Gading, Mall Alam Sutra, dan Mall Kasablanka.
c. Harga (Price)
Harga merupakan elemen yang penting dari bauran pemasaran, hal ini sensitif untuk sebuah bisnis, oleh karena itu proses penentuan harga tersebut perlu dipertimbangkan dengan matang. Harga produk SB bermacam-macam, yaitu bekisar antara Rp 7.000,00 hingga Rp 220.000,00,-
14
d. Promosi (Promotion)
Promosi yang dilakukan SB melalui beberapa media, yaitu lewat liputan khusus televisi dengan beberapa stasiun televisi swasta seperti Indosiar, Trans7, TransTv, ANTV, dan RCTI. Media lainnya yang digunakan untuk promosi yaitu melalui media cetak, yaitu koran kompas, brosur. Media sosial melalui web, facebook, hingga twitter. Promosi lewat penjualan langsung seperti mengikuti beberapa pameran-pameran dalam acara tertentu (membuka stand).
Pembahasan Penelitian
Karakteristik Konsumen Serambi Botani Bogor Jenis Kelamin
Konsumen SBB mayoritas adalah perempuan dengan persentase terbanyak, hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Penyebaran konsumen berdasarkan jenis kelamin
Hal ini dikarenakan produk yang dijual adalah kebanyakan produk yang sering digunakan oleh perempuan dibanding laki-laki. Selain itu, perempuan juga memegang peranan penting dalam keputusan pembelian kebutuhan rumah tangga dan konsumsi untuk keluarga, sehingga hal ini wajar bila konsumen SB Bogor mayoritas perempuan.
Usia
Persentase tertinggi usia konsumen SBB pada rentang 21-30 tahun, dan persentase terendah pada rentang usia dibawah 21 tahun. Hasil menunjukkan masa dewasa awal (21-40) merupakan konsumen dengan persentase kumulatif tertinggi, sebesar 55 persen, ini ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 5 Penyebaran konsumen berdasarkan usia 18% 82% Laki-Laki Perempuan 18% 33% 22% 27% <21 Tahun 21-30 Tahun 31-40 Tahun >40 Tahun
15 Hal ini dikarenakan masa pada usia tersebut adalah puncak pertumbuhan fisik yang prima dan usia tersehat dari populasi manusia secara keseluruhan (healthiest people in population) karena didukung oleh kebiasaan-kebiasaan positif yaitu pola hidup sehat.
Status Pernikahan
Persentase konsumen SBB berdasarkan status pernikahan dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6 Penyebaran konsumen berdasarkan Status Pernikahan
Sebanyak 51 persen konsumen SBB adalah dengan status belum menikah dan sisanya 49 persen menikah.
Pekerjaan
Konsumen SBB sebesar 29 persen adalah berstatus pelajar/mahasiswa, dan pensiunan sebagai persentase terendah yaitu 3 persen, hal ini dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7 Penyebaran konsumen berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan berhubungan dengan kategori usia dengan kebiasaaan hidup sehat, hal ini didukung oleh kemandirian ekonomi dan kemandirian untuk membuat keputusan dalam pembelian produk untuk dikonsumsi.
Pendidikan Terakhir/Yang Sedang Dijalani
Sebesar 61 persen konsumen SBB adalah dengan pendidikan Sarjana, sementara Pasca Sarjana sebagai persentase terkecil, sebesar 10 persen. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 8.
49% 51% Menikah Belum Menikah 29% 18% 15% 15% 14% 3% 6% Pelajar/Mahasiswa PNS Pegawai Swasta Wiraswasta Ibu RT Pensiunan Lainnya
16
Gambar 8 Penyebaran konsumen berdasarkan pendidikan terakhir/yang sedang dijalani
Dilihat dari jumlah persentase tersebut, terlihat bahwa kalangan berpendidikan sudah menerapkan gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi produk lokal yang alami dan sehat.
Pendapatan/bulan
Pendapatan konsumen SBB dengan persentase tertinggi sebesar 26 persen ada pada rentang lebih dari Rp. 5.500.000,- dan dapat dilihat pada Gambar 9.
Gambar 9 Penyebaran konsumen berdasarkan pendapatan/bulan
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen SBB adalah memang mayoritas kalangan menengah ke atas dan sudah menerapkan gaya hidup sehat dengan pemilihan produk herbal dan alami untuk dikonsumsi.
Pengeluaran/bulan
Pengeluaran konsumen dengan persentase terbanyak adalah berada pada rentang lebih dari Rp. 3.000.000,- dapat dilihat pada Gambar 10.
15% 14% 61% 10% SMA Diploma Sarjana Pasca Sarjana/Sederajat 20% 13% 15% 12% 14% 26% Rp. 500.000, - Rp. 1.500.000, Rp. 1.500.001- Rp. 2.500.000, Rp. 2.500.001, - Rp.3.500.000, Rp. 3.500.001, - Rp. 4.500.000, Rp. 4.500.001, - Rp. 5.500.000, > Rp. 5.500.000,
17
Gambar 10 Penyebaran konsumen berdasarkan pengeluaran/bulan
Hal ini mengindikasi bahwa semakin tinggi pendapatan maka akan berbanding lurus dengan tingkat pengeluaran.
Media Informasi
Media yang menjadi sumber informasi bagi para konsumen SBB untuk mengetahui berbagai informasi terkait SBB dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Penyebaran media informasi Serambi Botani Bogor
Sebesar 50 persen jatuh pada pilihan lainnya, yaitu lokasi gerai SBB yang dinilai strategis dari pintu masuk mall Botani Square.
Lama Menjadi Konsumen
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana tingkatan brand awareness konsumen bila dikaitkan dengan lamanya menjadi konsumen di SBB, hal ini ditunjukkan pada Gambar 12.
20% 22% 12% 19% 27% Rp. 500.001, - Rp. 1.000.000, Rp. 1.000.001- Rp. 1.500.000, Rp. 1.500.001, - Rp. 2.000.000, Rp. 2.500.001, - Rp. 3.000.000, > Rp. 3.000.000 3% 4% 35% 1% 7% 50% elektronik cetak rekan kerja/teman/klg Internet Billboard Lainnya
18
Gambar 12 Penyebaran lamanya menjadi konsumen Serambi Botani Bogor Berdasarkan diagram di atas dapat dilihat bahwa sebesar 34 persen telah menjadi pelanggan SBB lebih dari 3 tahun sampai dengan sekarang. Sehingga hal ini akan berpengaruh pada hasil brand recognition dan brand unware.
Analisis Brand Awareness
Analisis Top Of Mind
SBB adalah top of mind dibanding gerai lain, diikuti oleh beberapa gerai pesaing yaitu The Body Shop yang memperoleh persentase sebesar 16 persen supermarket sebesar 4 persen K-Link dan toko herbal masing-masing sebesar 2 persen sementara akar fresh, all fresh, herbal life, HPA, klinik sehat, melilea, propolis, tianshi, dan toko obat dengan perolehan persentase sebesar 1 persen.
Analisis Brand Recall
Lima gerai dengan persentase teratas untuk brand recall adalah The Body Shop dan Herbal Life sebesar 8.8 persen. K-Link, Propolis, dan Supermarket sebesar 6.3 persen. Hal ini mengindikasi siapa saja kompetitor SBB yang memungkinkan konsumen untuk beralih ke gerai merek lain tersebut.
Analisis Brand Recognition
Tidak ada yang harus dibantu untuk mengingat merek, karena sebesar 78 persen mengenal merek SBB dengan baik, dan 22 persen baru mengenal merek.
Analisis Brand Unware
Tidak ada seorangpun yang tidak mengenal merek SB, hal ini dikarenakan kuesioner ditujukan pada konsumen yang telah mengenal SB.
23% 16% 9% 10% 8% 34% 1-6 Bulan 6-12 Bulan 1,5 Tahun 2 Tahun 2,5 Tahun 3 Tahun - sekarang
19
Analisis Brand Association
Berdasarkan tes cochran yang telah dilakukan dengan menggunakan software SPSS 17. Perhitungan diberhentikan pada uji ke lima, karena Ho diterima, sesuai dengan ketentuan bila , maka pengujian dihentikan, yang berarti brand image suatu merek terbentuk dari asosiasi-asosiasi terakhir yang diuji. Hasil menunjukkan brand image SBB berdasarkan hasil perhitungan brand association adalah sebagai berikut:
a. Pelayanan karyawan yang ramah dan bersahabat.
Konsumen yang telah menjawab kuesioner menyatakan bahwa mereka dilayani dengan baik, komunikasi karyawan SBB ramah dan membantu mereka dalam memilih produk. Masukan yang diberikan konsumen terkait product knowledge yaitu ketika proses pemilihan produk hendaknya karyawan juga mempromosikan produk lain, sehingga ada peluang pembelian untuk produk lain.
b. Suasana gerai yang bersih dan nyaman.
Hal ini berkaitan dengan tata letak dan juga konsep gerai yang diusung oleh SBB membuat konsumen merasa nyaman, didukung oleh kebersihan yang senatias dijaga oleh karyawan yang berada dalam gerai SBB.
c. Gerai produk herbal (sehat dan alami).
Semua produk yang dijual oleh SB adalah produk sehat dan alami, serta bebas dari bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.
d. Mencerminkan edukasi gaya hidup sehat.
Hadirnya gerai SB adalah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat pentingnya membiasakan konsumsi produk herbal yang baik untuk kesehatan. e. Cita rasa, khasiat, kesegaran produk baik.
Image SB ini adalah salah satu hasil dari komitmen pihak SB dalam menjamin mutu dan kualitas produk untuk konsumen.
Analisis Perceived Quality
Hasil menunjukkan 13 atribut berada pada skala baik (3.40 – 4.20) dan 3 atribut lain berada pada skala cukup (2.60 -3.40) dilihat pada Gambar 13.
Gambar 13 Skala Semantic Differential
3,53 3,95 3,49 3,4 4,02 3,26 3,6 3,92 3,85 3,62 4,06 3,09 3,86 4,03 3,93 3,31 3 3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 3,6 3,7 3,8 3,9 4 4,1 Cukup (2,60-3,40) Baik (3,40-4,20) P O N M L K J I H G F E D C B A
20
Atribut SBB dengan nilai tertinggi yaitu 4.06 berada pada kualitas produk SBB, sementara untuk atribut dengan nilai terendah, yaitu 3.09 berada pada atribut brosur/iklan/informasi dari berbagai media sesuai dengan kenyataan produk di SB, hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Nilai rata-rata atribut perceived quality Serambi Botani Bogor
Atribut-Atribut
Nilai Rata-Rata a. Kontak dengan customer service SB (kemudahan dihubungi ketika ada
keluhan atau bertanya informasi) 3.53
b. Produk packaging (Tampilan fisik produk) 3.95
c. Tindakan karyawan SB dalam menangani keluhan 3.49
d. Respon karyawan/CS yang dihubungi atau ditemui ketika keluhan 3.4
e. Penampilan toko dan fasilitas fisik SB 4.02
f. Harga produk di SB 3.26
g. Pengetahuan karyawan terhadap produk 3.6
h. Kesopanan dan keramahan karyawan SB 3.92
i. Penampilan karyawan SB 3.85
j. Respon terhadap permintaan produk di SB 3.62
k. Kualitas produk SB 4.06
l. Brosur/Iklan/Informasi dari berbagai media sesuai dengan kenyataan
produk di SB 3.09
m. Keamanan konsumsi/jaminan kesehatan produk di SB 3.86
n. Ketepatan dalam nilai tagihan produk yang dibeli (Bill/Struk) 4.03
o. Inovasi produk SB 3.93
p. Hubungan/kedekatan SB dengan konsumen 3.31
Atribut yang berada pada kategori cukup, sebaiknya mendapatkan perhatian lebih dari pihak manajemen SB, yaitu Brosur/Iklan/Informasi dari berbagai media sesuai dengan kenyataan produk di SB. Penyebaran informasi harus ditingkatkan, dilihat dari hasil wawancara yang telah dilakukan kepada 100 konsumen, proses penyebaran informasi atau promosi melalui berbagai media dirasa belum cukup dan masih kurang sehingga beberapa responden bahkan menjawab tidak pernah melihat informasi lain tentang SB di media, selain karena datang ke mall Botani Square dan melihat toko secara tidak sengaja.
Atribut harga produk yang berada pada rentang cukup juga harus mendapat perhatian lebih, karena harga produk SBB masih dinilai konsumen pada kategori belum begitu terjangkau atau masih tegolong mahal, ini menyebabkan masih ada konsumen yang berpindah mencari merek lain untuk produk herbal, karena ditempat lain harganya lebih murah. Hal ini dapat di atasi dengan terus melakukan inovasi produk, karena dengan produk baru dapat menarik konsumen baru. Alternatif lainnya adalah dengan membuat pilihan kemasan dan variasi produk, misal jenis refill agar konsumen dapat lebih efisien dalam pembelian. Atribut hubungan/kedekatan SB dengan konsumen adalah hal yang juga harus menjadi perhatian pihak manajemen untuk menentukan strategi mempertahankan konsumen.
21
Analisis Brand Loyalty
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui dan melihat sejauh mana loyalitas konsumen terhadap merek gerai SBB, dimana hal ini akan menjadi bentuk platform dalam penentuan kekuatan merek.
Analisis Switcher
Berdasarkan hasil perhitungan switcher, diperoleh nilai 2.23. Dari 100 responden, konsumen yang sering dan selalu berpindah merek sebesar 3 persen. Sementara yang menjawab tidak pernah 31 persen, jarang 24 persen, dan kadang-kadang 39 persen. Angka ini menunjukkan bahwa switcher masih dalam persentase yang cukup rendah dibanding konsumen lain yang lebih loyal, dan informasi ini cukup baik untuk SBB.
Hasil dari wawancara langsung dengan responden, mayoritas menyatakan bahwa harga di SB tergolong tidak murah, sehingga ada indikasi bahwa mereka tertarik berpindah ke merek lain untuk membeli produk herbal yang lebih murah. Namun, yang menjawab kadang-kadang dan jarang dinilai cukup loyal, karena harga tidak begitu mempengaruhi keputusan pembelian mereka secara dominan, namun khasiat yang dirasakan adalah yang utama mempengaruhi.
Analisis Habitual Buyer
Berdasarkan hasil perhitungan habitual buyer, diperoleh nilai 4.01 yang berada pada kategori baik. Dari 100 responden, habitual buyer sebesar 85 persen dengan persentase setuju 68 persen dan sangat setuju 17 persen, sedangkan untuk netral sebesar 14 persen dan tidak setuju 1 persen.
Dilihat dari persentase tersebut, dapat dikatakan bahwa konsumen yang merupakan habitual buyer menyatakan bahwa keputusan untuk mengkonsumsi produk di SBB karena faktor kebiasaan dan belum begitu mempunyai keinginan untuk berpindah ke merek lain karena sudah terbiasa dengan SBB.
Analisis Satisfied Buyer
Berdasarkan perhitungan satisfied buyer, diperoleh nilai 3.79 yang berada pada kategori baik. Persentase satisfied buyer dengan jawaban puas sebesar 59 persen dan sangat puas sebesar 10 persen sehingga jumlah satisfied buyer adalah 69 persen dari 100 responden. Sementara 31 persen menjawab cukup puas.
Persentase di atas menunjukkan bahwa secara umum konsumen merasa puas dan belum ada cukup alasan untuk mereka berpindah ke merek lain, kecuali ada faktor yang sangat kuat mempengaruhi hal ini. Responden yang telah diwawancara dan memberikan jawaban cukup puas, rata-rata merasa kurang puas terhadap stock produk yang ingin mereka beli, karena dianggap cukup sering produk tidak ready stock.
Analisis Liking The Brand
Berdasarkan perhitungan liking the brand, diperoleh nilai 3.71 yang berada pada kategori baik, dimana persentase suka sebesar 51 persen dan 10 persen untuk sangat suka. Sedangkan yang menjawab biasa saja sebesar 39 persen. Secara umum konsumen suka akan merek SBB. Untuk konsumen yang menjawab biasa
22
committed buyer 13 % liking the brand
24 % satisfied buyer 27 % habitual buyer 34 % switcher 2 %
saja ketika wawancara adalah dikarenakan masih ada beberapa hal yang belum bisa dipenuhi oleh pihak SB atas harapan dan ekspektasi konsumen tersebut.
Analisis Committed Buyer
Berdasarkan perhitungan committed buyer, diperoleh nilai 3.03 yang masuk pada kategori cukup, dengan persentase sering 26 persen dan selalu 6 persen. Sementara untuk kadang-kadang 45 persen, jarang 11 persen dan tidak pernah 12 persen. Hal ini mengindikasi bahwa belum cukup ikatan emosional konsumen terhadap merek, sehingga word of mouth belum cukup tercipta untuk dapat menarik pelanggan baru. Bahkan sekedar merekomendasikan kepada orang lain hingga dapat mempengaruhi untuk membeli produk di SBB.
Piramida Brand Loyalty
Berdasarkan piramida brand loyalty dapat dilihat bahwa loyalitas konsumen SBB hanya berada pada posisi habitual buyer dengan persentase terbesar, yaitu 34 persen. Hal ini ditunjukkan pada Gambar 14.
Gambar 14 Piramida Brand Loyalty Serambi Botani Bogor
Mayoritas konsumen SBB hanya pada tahap kebiasaan membeli produk di sana dan masih ada kemungkinan untuk tidak loyal. Hal ini adalah bentuk evaluasi untuk pihak Manajemen SB, karena konsumen ternyata belum benar-benar komitmen terhadap SBB. Sedangkan satisfied buyer sebesar 27 persen untuk konsumen yang puas terhadap SBB. Liking the brand berada pada posisi ke tiga dalam tingkatan loyalitas konsumen dengan persentase 24 persen untuk konsumen yang suka merek SBB.
Untuk membuat konsumen dapat loyal dan komit terhadap merek yaitu pada top posisi atau committed buyer adalah dengan meningkatkan persentase posisi loyalitas konsumen, yaitu posisi satisfied buyer dan liking the brand. Untuk meningkatkan hal ini maka, dibutuhkan strategi yang baik dan benar agar berimplikasi positif terhadap keberlangsungsan bisnis dan dapat meningkatkan profit perusahaan.
23 Implikasi Manajerial
Hasil analisis brand equity SBB dilihat dari pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya memberikan beberapa informasi terkait persepsi pelanggan mengenai merek gerai SBB, dan hal ini dapat menjadi rekomendasi bagi pihak Manajemen SBB dalam merencanakan strategi yang tepat untuk bersaing unggul di tengah meningkatnya atmosfer persaingan gerai produk herbal (sehat dan alami).
Dilihat dari piramida loyalitas konsumen SBB, menunjukkan bahwa konsumen yang memiliki komitmen kuat terhadap merek SBB masih sangat sedikit, hal ini adalah bentuk dari beberapa elemen yang saling mempengaruhi, seperti brand image SBB yang dinilai konsumen masih tergolong produk dengan harga premium (relatif mahal), sedangkan bila dihubungkan dengan visi dan misi SB yaitu gerai yang ingin memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, sementara faktanya adalah tidak semua golongan masyarakat dapat menikmati produk SBB.
Terkait dengan brand image yang ternyata di benak konsumen, salah satunya adalah SBB bukan merupakan gerai yang dikenal, hal ini berkaitan dengan beberapa atribut perceived quality yang masih perlu ditingkatkan, seperti promosi yang di nilai masih sangat kurang dan minim. Media sosial adalah sebuah media yang dapat digunakan untuk mempromosikan SB secara luas, sehingga netizen (para pengguna internet) dapat lebih sadar keberadaan SB, karena di zaman teknologi yang sudah semakin canggih, promosi melalui facebook dan twitter dapat dilakukan secara free. Hal ini didukung juga oleh banyaknya jumlah pengguna media sosial di Indonesia berdasarkan survei majalah the marketeers, dengan facebook pada posisi 2 dunia dan posisi 3 dunia untuk twitter. Promosi melalui media sosial dapat menciptakan efek domino kepada masyarakat, yang berujung pada word of mouth dari netizen (pengguna internet) kepada citizen (masyarakat luas) demikian dinyatakan oleh pernyataan Hermawan Kertajaya dalam bukunya “New Wave Marketing”.
Sebaiknya program untuk pelanggan yang loyal serta untuk menarik pelanggan baru segera dilakukan, seperti promo-promo menarik, mengadakan event marketing (festival produk herbal), ataupun bentuk promosi lainnya. Hermawan Kertajaya juga menyatakan bahwa salah satu cara yang efektif dalam menyampaikan pesan sebuah brand adalah dengan mengajak konsumen lama dan konsumen potensial dalam sebuah event. Event marketing juga efektif untuk meningkatkan product image serta meningkatkan penjualan, berkomunikasi dengan target pasar, menambah jumlah pelanggan baru, serta meningkatkan loyalitas pelanggan. Event marketing menunjang keberhasilan media promosi, memperkenalkan produk, dan merupakan cara ampuh untuk mendekatkan diri dengan konsumen.
Promosi melalui sistem member card. Free produk dan kantong batik edukasi go green. Seminar gratis (edukasi gaya hidup sehat “back to nature”), special gift untuk konsumen yang berulang tahun, promo khusus/discount untuk member, bulan tertentu spesial gimik untuk pelanggan setia, promosi prioritas member card, serta kunjungan lapang untuk melihat proses produksi dan operasi produk yang dijual di SB (wisata sekaligus edukasi). Langkah tersebut diharapkan