Hasil dari analisis sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan varietas dan konsentrasi pemberian garam NaCl berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Tabel 3 menunjukkakan bahwa interaksi antara varietas dengan pemberian garam NaCl berpengaruh nyata terhadap parameter: tinggi tanaman, jumlah daun, total luas daun, bobot basah akar, bobot kering akar, umur berbunga , umur panen, bobot basah buah, jumlah cabang, klorofil a, klorofil b, total klorofil ab. Interaksi antara varietas dengan perlakuan NaCl juga berbeda nyata.
Hasil analisis sidik ragam beberapa varietas cabai rawit (genotipe) dan konsentrasi pemberian NaCl (lingkungan) ditampilkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Sidik Ragam Gabungan Karakter Tanaman Cabai Rawit
Karakter KT Varietas KT Garam KT V*G
Tinggi Tanaman (cm) 38,46* 104,28* 10,75*
Jumlah daun (helai) 18,23* 137,88* 10,03*
Total luas daun (cm2) 46,65* 28,37* 3,11*
Bobot basah akar (g) 3,77* 7,33* 0,54*
Bobot kering akar (g) 1,79* 2,01* 0,15*
Umur berbunga (HST) 14,92* 140,71* 16,57*
Umur panen (HST) 21,67* 192,96* 21,84*
Bobot basah buah (g) 26,79* 18,37* 2,18*
Jumlah cabang 3,68* 23,40* 2,35*
Klorofil a (mg/l) 0,22* 2,41* 0,27*
Klorofil b (mg/l) 0,48* 3,99* 0,19*
Total klorofil ab (mg/l) 0,68* 7,07* 0,45*
Keterangan : * = Berpengaruh nyata pada taraf = 5 % ; KT =Kuadrat Tengah
Berdasarkan hasil analis sidik ragam gabungan (Lampiran 5–16) menunjukkan bahwa faktor genotipe, lingkungan, dan interaksi genotipe x lingkungan berpengaruh nyata pada karakter yang diamati.
Tinggi Tanaman (cm)
Berdasarkan analisis sidik ragam tinggi tanaman (Lampiran 5) dapat dilihat bahwa perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman. Rataan tinggi tanaman dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Tinggi Tanaman dengan Perlakuan Beberapa Varietas Cabai Rawit dan Konsentrasi NaCl Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris
yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman mati
Tabel 4 menunjukkan bahwa varietas Sigantung (V2) berbeda nyata dengan varietas Wijaya (V4), varietas Pedas (V1) dan varietas Cakra Hijau (V3);
varietas varietas Sigantung (V2) memiliki rataan tinggi tanaman (96,3) yang lebih tinggi dibanding varietas Pedas (V1), Cakra Hijau (V3) dan Wijaya (V4)
Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) memiliki rataan tinggi tanaman (43,9) yang lebih rendah dibandingkan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2), dan Wijaya (V4).
Varietas Pedas (V1) berbeda tidak nyata dengan varietas Cakra Hijau (V3).
Perlakuan NaCl 0 ppm (G0) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 2500 ppm (G1) sedangkan pada pemberian NaCl 7500 ppm (G3) berbeda nyata dengan perlakuan 0 ppm (G0).
Tabel 4 juga menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCl cenderung menghasilkan tinggi tanaman semakin pendek pada empat varietas cabai rawit yang diuji. Interaksi varietas Pedas (V1) dengan perlakuan NaCl 2500 ppm dan 5000 ppm tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0), 2500 ppm (V2G1), 5000 ppm (V2G2), 7500 ppm (V2G3) juga tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0), 2500 ppm (V3G1), 5000 ppm (V3G2), 7500 ppm (V3G3) juga tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) dan 2500 ppm (V4G1) tidak berbeda nyata, tetapi interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan 5000 ppm (V4G2) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0). Pada perlakuan interaksi V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3) (Lampiran 19).
Jumlah Daun (helai)
Berdasarkan analisis sidik ragam (Lampiran 6) diketahui bahwa perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun. Rataan jumlah daun dengan perlakuan varietas
cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 5.
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman Mati
Tabel 5 menunjukkan bahwa varietas Sigantung (V2) berbeda nyata dengan varietas Pedas (V1), varietas Cakra Hijau (V3) dan varietas Wijaya (V4).
Perlakuan NaCl 0 ppm (G0) berbeda nyata dengan perlakuan 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3).
Tabel 5 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi garam NaCl menyebabkan jumlah daun yang cenderung semakin sedikit. Interaksi varietas Pedas (V1) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (V1G1) dan 5000 ppm (V1G2). Interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) dan 2500 ppm (V2G1) tidak berbeda nyata terhadap jumlah daun, sedangkan dengan perlakuan 7500 ppm (V2G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V3G2). Interaksi varietas Wijaya (V4) dengan
perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0), 2500 ppm (V4G1) dan 5000 ppm (V4G2) menunjukkan perbedaan yang nyata. Pada perlakuan interaksi V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman terganggu pertumbuhannya akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3) sehingga mengalami keguguran daun yang parah dan mati (Lampiran 20).
Gambar 1. Daun tanaman cabai rawit gugur pada cekaman 7500 ppm Total Luas Daun
Berdasarkan analisis sidik ragam (Lampiran 7) diketahui bahwa perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter total luas daun. Rataan total luas daun dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Total Luas Daun dengan Perlakuan Beberapa Varietas Cabai Rawit dan Konsentrasi NaCl
Rataan 35,5a 25,0b 21,6c 9,4d 22,9 Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris
yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman Mati
Tabel 6 menunjukkan bahwa varietas Sigantung (V2) menghasilkan rataan total luas daun (47,1) yang berbeda nyata dengan varietas Pedas (V1), Cakra Hijau (V3) dan Wijaya (V4). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0), 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3) berpengaruh nyata terhadap rataan total luas daun, peningkatan konsentrasi garam NaCl menyebabkan total luas daun semakin menurun
Tabel 6 menunjukkan bahwa interaksi varietas Pedas (V1) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (G1) dan 5000 ppm (G2). Interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) berbeda nyata dengan perlakuan 2500 ppm (V2G1), akan tetapi interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V2G2) menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dengan perlakuan 7500 ppm (V2G3). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0) berbeda nyata dengan perlakuan 2500 ppm (V3G1) dan 5000 ppm (V3G2), akan tetapi interaksi varietas Cakra Hijau (V3) perlakuan NaCl 2500 ppm (V3G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 5000 ppm (V3G2). Interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) berbeda nyata dengan perlakuan 2500 ppm (V4G1) dan 5000 ppm (V4G2), akan tetapi interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (V4G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V4G2). Pada interaksi
perlakuan V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Jumlah cabang
Berdasarkan analisis sidik ragam jumlah cabang (Lampiran 8) diketahui bahwa perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah cabang. Rataan jumlah cabang dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Jumlah Cabang dengan Perlakuan Beberapa Varietas Cabai Rawit dan Konsentrasi NaCl
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman mati
Tabel 7 menunjukkan bahwa varietas Sigantung berbeda nyata dengan varietas Pedas,varietas Cakra Hijau dan varietas Wijaya. Varietas Sigantung (V2) menghasilkan rataan jumlah cabang (20,3) yang lebih banyak dibandingkan varietas Pedas (V1), varietas Cakra Hijau (V3) dan varietas Wijaya (V4).
Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) menghasilkan rataan jumlah cabang (13,5) yang lebih sedikit dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), varietas Sigantung
(V2) dan varietas Wijaya (V4). Varietas Wijaya (V4) berbeda tidak nyata dengan varietas Pedas (V1) dan varietas Cakra Hijau (V3). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0) tidak berbeda nyata dengan NaCl 2500 ppm (G1), perlakuan NaCl 7500 ppm (G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (G0), NaCl 2500 ppm dan NaCl 5000 ppm.
Tabel 7 juga menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi garam NaCl cenderung menyebabkan jumlah cabang semakin menurun. Interaksi varietas Pedas (V1) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0), 2500 ppm (V1G1) dan 5000 ppm (V1G2) tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (V2G1), 5000 ppm (V2G2) dan 7500 ppm (V2G3) juga tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0), 2500 ppm (V3G1) dan 5000 ppm (V3G2) tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V4G1), 2500 ppm (V4G1) dan 5000 ppm (V4G2) tidak berbeda nyata. Pada perlakuan interaksi V1G3, V3G3, V4G3 diperoleh tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Bobot Basah Akar
Berdasarkan analisis ragam bobot basah akar (Lampiran 9) terlihat bahwa perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter bobot basah akar. Rataan bobot basah akar dengan perlakuan varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.
Tabel 8. Bobot basah akar dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman mati
Tabel 8 menunjukkan bahwa varietas Sigantung berbeda nyata dengan varietas Pedas, varietas Sigantung, varietas Cakra Hijau dan varietas Wijaya.
.Varietas Sigantung (V2) menghasilkan rataan bobot basah akar (8,4) yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), varietas Cakra Hijau (V3), dan varietas Wijaya (V4). Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) menghasilkan rataan bobot basah akar (2,8) yang lebih sedikit dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Wijaya (V4). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl, 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3).
Tabel 8 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi garam NaCl cenderung menyebabkan bobot basah akar semakin rendah. Interaksi varietas Pedas (V1) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (V1G1), akan tetapi interaksi varietas Pedas (V1) dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V1G2) berbeda nyata dengan perlakuan 0 ppm (V1G0). Interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 2500
ppm (V2G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 5000 ppm (V2G2), akan tetapi interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 7500 ppm (V2G3). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (V3G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V3G2), akan tetapi interaksi varietas Cakra Hijau (V3) dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V3G2) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0). Interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 2500 ppm (V4G1), akan tetapi interaksi varietas Wijaya (V4) dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V4G2) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0). Pada interaksi perlakuan V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Gambar 2. Penampilan akar pada cekaman garam 7500 ppm
Bobot Kering Akar
Berdasarkan analisis ragam bobot kering akar (Lampiran 10) diketahui bahwa perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering akar. Rataan bobot kering akar dengan perlakuan varietas cabai dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Bobot Kering Akar dengan Perlakuan Beberapa Varietas Cabai Rawit
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman mati
Tabel 9 menunjukkan bahwa varietas Sigantung berbeda nyata dengan varietas Pedas, varietas Cakra Hijau, dan varietas Wijaya . Varietas Sigantung (V2) menghasilkan rataan bobot kering akar (3,4) yang lebih banyak dibandingkan varietas Pedas (V1), varietas Cakra Hijau (V3) dan varietas Wijaya (V4) Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) menghasilkan rataan bobot kering akar (0,7) lebih sedikit dibandingkan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Wijaya (V4). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0) berbeda nyata dengan perlakuan 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3).
Tabel 9 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi garam NaCl
cenderung menyebabkan bobot kering akar semakin rendah. Interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 2500 ppm (V1G1), akan tetapi interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 5000 ppm (V1G2) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0). Interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V2G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 5000 ppm (V2G2), akan tetapi interaksi varietas Sigantung (V2) dengan perlakuan NaCl 7500 ppm (V2G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) dan perlakuan NaCl 2500 ppm (V2G1) . Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V3G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 5000 ppm (V3G2), akan tetapi interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan NaCl 5000 ppm (V3G2) berbeda nyata dengan perlakuan 0 ppm (G0). Interaksi varietas Wijaya (V4) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V4G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 5000 ppm (V4G2), akan tetapi interaksi varietas Wijaya (V4) pada perlakuan NaCl 5000 ppm (V4G2) berbeda nyata dengan perlakuan 0 ppm (V4G0). Pada interaksi perlakuan V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Bobot Basah Buah
Berdasarkan analisis ragam gabungan (Lampiran 11) diketahui perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter bobot basah buah. Rataan bobot basah buah dengan perlakuan varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Bobot Basah Buah dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (0) : Tanaman mati
Tabel 10 menunjukkan bahwa varietas Sigantung (V2) menghasilkan rataan bobot basah buah (90,4) lebih banyak dibandingkan varietas Pedas (V1), varietas Cakra Hijau (V3) dan varietas Wijaya (V4). Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) menghasilkan rataan bobot basah buah (53,0) lebih sedikit dibandingkan varietas Pedas (V1), varietas Sigantung (V2), dan varietas Wijaya (V4). Perlakuann NaCl 0 ppm (G0), 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2), dan 7500 ppm menghasilkan bobot basah buah yang berbeda nyata.
Tabel 10 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi garam NaCl cenderung menyebabkan bobot basah buah semakin rendah. Interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V1G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 0 ppm (V1G0), akan tetapi interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 5000 ppm (V1G2) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0). Interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) berbeda tidak nyata dengan perlakuan 2500 ppm (V2G1) dan juga interaksi
varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V2G1) menghasilkan bobot basah buah yang berbeda tidak nyata pada perlakuan 5000 ppm (V2G2), akan tetapi interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 7500 ppm (V2G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V3G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 5000 ppm(V3G2), akan tetapi interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan 5000 ppm (V3G2) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0). Interaksi varietas Wijaya (V4) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0), 2500 ppm (V4G1), dan 5000 ppm (V4G2) berbeda nyata. Pada interaksi perlakuan V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Umur Berbunga
Berdasarkan analisis ragam gabungan (Lampiran 12) diketahui perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter umur berbunga. Rataan umur berbunga dengan perlakuan varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat secara lengkap pada lampiran 12. Salah satu mekanisme toleransi tanaman adalah dengan menunda waktu generatif hingga keadaan yang dibutuhkan untuk memasuki fase generatif tersebut tercapai. Rataan umur berbunga dengan perlakuan varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11. Umur Berbunga dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan
Tabel 11 menunjukkan bahwa varietas Cakra Hijau (V3) menghasilkan rataan waktu berbunga lebih cepat dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Wijaya (V4). Sedangkan varietas Wijaya (V4) menunjukkan bahwa rataan waktu berbunga yang relatif lebih lama dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Cakra Hijau (V3) Untuk perlakuan interaksi V1G3, V3G3, V4G3 menghasilkan tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Lampiran 12 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCl menghasilkan waktu berbunga yang bervariasi . Interaksi Varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) menghasilkan rataan umur berbunga 92,67
hst, perlakuan 2500 ppm (V1G1) menghasilkan rataan umur berbunga 93,33 hst, perlakuan 5000 ppm (V1G2) menghasilkan rataan umur berbunga 99,67 hst.
Interaksi Varietas Sigantung (V2) perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) menghasilkan rataan umur berbunga 93 hst, perlakuan 2500 ppm (V2G1) menghasilkan rataan umur berbunga 94 hst, perlakuan 5000 ppm (V2G2) menghasilkan rataan umur berbunga 97,33 hst, perlakuan 7500 ppm (V2G3) menghasilkan rataan umur berbunga 98,67 hst. Pada Varietas Cakra Hijau (V3) perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0) menghasilkan rataan umur berbunga 91,67 hst, perlakuan 2500 ppm (V3G1) menghasilkan rataan umur berbunga 92 hst, perlakuan 5000 ppm (V3G2) menghasilkan rataan umur berbunga 98,33 hst. Pada Varietas Wijaya (V4) perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) menghasilkan rataan umur berbunga 98,67 hst, perlakuan 2500 ppm (V4G1) menghasilkan rataan umur berbunga 105,33 hst, perlakuan 5000 ppm (V4G2) menghasilkan rataan umur berbunga 106,67 hst.
Untuk interaksi perlakuanV1G3, V3G3, V4G3 menghasilkan tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Umur Panen
Berdasarkan analisis ragam gabungan (Lampiran 13) diketahui perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter umur panen. Rataan umur panen dengan perlakuan varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara lengkap dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 12. Umur Panen dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan
Tabel 12 menunjukkan bahwa varietas Cakra Hijau (V3) menghasilkan rataan waktu panen lebih cepat dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Wijaya (V4). Sedangkan varietas Wijaya (V4) menunjukkan rataan waktu panen yang relatif lebih lama dibandingkan dengan varietas Pedas (V1), Cakra Hijau (V3) dan Wijaya (V4).
Tabel 12 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCl menghasilkan waktu panen yang bervariasi. Interaksi Varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) menghasilkan rataan umur panen 127,67 hst, perlakuan 2500 ppm (V1G1) menghasilkan rataan umur panen 128 hst, perlakuan 5000 ppm (V1G2) menghasilkan rataan umur panen 128,67 hst. Pada
Varietas Sigantung (V2) perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) menghasilkan rataan umur panen 129 hst, perlakuan 2500 ppm (V2G1) menghasilkan rataan umur panen 130 hst, perlakuan 5000 ppm (V2G2) menghasilkan rataan umur panen 130 hst, perlakuan 7500 ppm (V2G3) menghasilkan rataan umur panen 131,33 hst. Pada Varietas Cakra Hijau (V3) perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0) menghasilkan rataan umur panen 128 hst, perlakuan 2500 ppm (V3G1) menghasilkan rataan umur panen 128 hst, perlakuan 5000 ppm (V3G2) menghasilkan rataan umur panen 128,67 hst. Pada Varietas Wijaya (V4) perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) menghasilkan rataan umur panen 133,67 hst, perlakuan 2500 ppm (V4G1) menghasilkan rataan umur panen 133,67 hst, perlakuan 5000 ppm (V4G2) menghasilkan rataan umur panen 134 hst. Pada interaksi perlakuan V1G3, V3G3, V4G3 menunjukkan bahwa tanaman mati akibat pemberian NaCl 7500 ppm (G3).
Kandungan Klorofil A, Indeks Klorofil B dan Indeks Total Klorofil AB Berdasarkan analisis ragam gabungan (Lampiran 14-16) diketahui perlakuan varietas, konsentrasi NaCl dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap parameter klorofil a, klorofil b, dan total klorofil ab. Rataan klorofil dengan perlakuan varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl secara dapat dilihat pada Tabel 13, Tabel 14, Tabel 15.
Tabel 13. Kandungan Klorofil A dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit
Tabel 14. Kandungan Klorofil B dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl
Tabel 15. Kandungan Total klorofil AB dengan perlakuan beberapa varietas cabai rawit dan konsentrasi NaCl
Varietas
Keterangan: Angka yang diikuti notasi huruf yang berbeda pada kolom dan baris yang sama adalah berbeda nyata berdasarkan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf 5%. (-) : Tanaman mati
Varietas Pedas (V1) memiliki indeks klorofil A (3,1) yang lebih tinggi dibandingkan varietas Sigantung (V2), Cakra Hijau (V3), dan varietas Wijaya (V4).
Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) memiliki indeks klorofil A (1,5) yang lebih rendah dibandingkan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2), dan Wijaya (V4).
Varietas Pedas (V1) menunjukkan rataan indeks klorofil A yang berbeda tidak nyata dengan varietas Wijaya (V4). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0), 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3) menghasilkan rataan indeks klorofil A yang berbeda nyata.
Tabel 13 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCl menghasilkan Indeks klorofil A yang mengalami penurunan indeks klorofil. Interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V1G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V1G2), sedangkan interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan 7500 ppm (V1G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (G0).
Interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 2500 ppm (V2G1),akan tetapi interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 7500 ppm (V2G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan NaCl 2500 ppm (V3G1) berbeda tidak nyata dengan perlakuan NaCl 5000 ppm (V3G2), sedangkan interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan 7500 ppm (V3G3) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0). Interaksi varietas Wijaya (V4) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0), 2500 ppm (V4G1), 5000 ppm (V4G2) dan 7500 ppm (V4G3) berbeda nyata.
Tabel 14 menunjukkan bahwa pemberian perlakuan NaCl cenderung menurunkan indeks klorofil B. Varietas Pedas (V1) memiliki indeks klorofil B (4,8) yang lebih tinggi dibandingkan varietas Sigantung (V2), Cakra Hijau (V3) dan
Wijaya (V4). Sedangkan varietas Cakra Hijau (V3) memiliki indeks klorofil B (2,2) yang lebih rendah dibandingkan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Wijaya (V4). Varietas Pedas (V1) menunjukkan rataan indeks klorofil B yang berbeda tidak nyata dengan varietas Wijaya (V4). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0), 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3) menghasilkan rataan indeks klorofil B yang berbeda nyata. Interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 7500 ppm (V1G3). Interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 7500 ppm (V2G3). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0) berbeda nyata dengan perlakuan 7500 ppm (V3G3) sedangkan perlakuan 2500 ppm (V3G1) dan 5000 ppm (V3G2) tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Wijaya (V4) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) berbeda nyata dengan perlakuan 7500 ppm (V4G3) sedangkan perlakuan 2500 ppm (V4G1) dan 5000 ppm (V4G2) tidak berbeda nyata.
Tabel 15 menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi NaCl cenderung menghasilkan total indeks klorofil AB yang mengalami penurunan. Varietas Pedas (V1) memiliki rataan indeks total klorofil AB (4,0) yang lebih tinggi dibandingkan varietas Sigantung (V2), Cakra Hijau (V3) dan Wijaya (V4) Sedangkan varietas Cakra Hijau memiliki rataan indeks total klorofil AB (1,9) yang lebih rendah dibandingkan varietas Pedas (V1), Sigantung (V2) dan Wijaya (V4). Perlakuan NaCl 0 ppm (G0), 2500 ppm (G1), 5000 ppm (G2) dan 7500 ppm (G3) menghasilkan rataan indeks klorofil AB yang berbeda nyata. Interaksi varietas Pedas (V1) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V1G0) berbeda nyata dengan perlakuan
NaCl 7500 ppm (V1G3). Interaksi varietas Sigantung (V2) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V2G0) berbeda nyata dengan perlakuan NaCl 7500 ppm (V2G3). Interaksi varietas Cakra Hijau (V3) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V3G0) berbeda nyata dengan perlakuan 7500 ppm (V3G3) sedangkan perlakuan 2500 ppm (V3G1) dan 5000 ppm (V3G2) tidak berbeda nyata. Interaksi varietas Wijaya (V4) pada perlakuan NaCl 0 ppm (V4G0) berbeda nyata dengan perlakuan 7500 ppm (G3) Indeks Sensitivitas Cekaman (ISC) Cabai Rawit terhadap Cekaman Salinitas
Berdasarkan hasil penelitian beberapa varietas cabai rawit yang diuji varietas Sigantung (V2) dapat tumbuh normal pada perlakuan cekaman 7500 ppm NaCl sedangkan varietas Pedas (V1),varietas Cakra Hijau (V3) dan varietas Wijaya (V4) tidak dapat tumbuh normal serta mengalami perubahan warna daun dan korontokan daun parah sehingga tanaman mati pada perlakuan cekaman 7500 ppm NaCl. Hasil perhitungan indeks sensivitas cekaman dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Pemilihan genotipe cabai rawit toleran, agak toleran dan rentan salinitas berdasarkan nilai indeks sensivitas cekaman Ubg= Umur berbunga, Up= Umur panen, KlA= Klorofil A, KlB= Klorofil B, KAB= Klorofil total AB, Tanaman dikatakan toleran jika ISC < 0.95, moderat jika 0.95 < ISC< 1.10 , dan rentan/peka jika ISC > 1,10 (Fisher dan Maurer, 1978)
Berdasarkan perhitungan indeks sensitivitas cekaman dengan membandingkan data semua karakter pengamatan varietas Sigantung (V2) diduga
toleran terhadap cekaman salinitas 7500 ppm. Nilai 0,35 menunjukkan bahwa varietas Sigantung termasuk dalam kategori toleran terhadap salinitas. Sedangkan untuk varietas Pedas, Cakra Hijau dan Wijaya termasuk dalam kategori Peka/rentan terhadap salinitas.
Berdasarkan hasil penelitian Adelia (2017) menyatakan bahwa varietas Pedas, cakra hijau dan sigantung dapat tumbuh normal pada cekaman salinitas 10.000 ppm. Perhitungan indeks sensivitas varietas tersebut diperoleh dari karakter amatan tinggi planlet dan panjang akar secara in vitro. Namun setelah dilakukan penelitian lanjutan di Rumah kaca, hanya didapat 1 varietas yang toleran yaitu varietas sigantung pada salinitas 7500 ppm sedangkan varietas pedas, cakra hijau dan wijaya adalah varietas yang peka/rentan terhadap salinitas 7500 ppm. Perhitungan indeks sensivitas varietas tersebut diperoleh dari rata-rata semua indeks sensivitas karakter pengamatan. Hasil penelitian secara in vitro dan rumah kaca bahkan di lapangan pun bisa berbeda karna dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu variasi suhu, nutrisi, kelembaban, patogen tanaman, jenis tanah, pH tanah, dan struktur tanah.
Persentase Penurunan Hasil terhadap Cekaman Salinitas
Berdasarkan hasil penelitian dari beberapa varietas cabai rawit yang diuji varietas Sigantung (V2) mampu bertahan hidup dan menghasilkan produksi pada kondisi cekaman salinitas 7500 ppm NaCl selanjutnya untuk hasil persentase penurunan (%) varietas sigantung dapat dilihat dalam Tabel 17.
Tabel 17. Persentase penurunan hasil varietas sigantung terhadap salinitas pada kondisi cekaman 7500 ppm
Varietas ISC Nilai PPH (%)
Sigantung 0,45 25,20
Berdasarkan data diatas dapat diketahui bahwa varietas sigantung toleran terhadap cekaman salinitas apabila dilihat dari parameter berat basah buah. Nilai persentase hasil penurunan dari varietas sigantung mencapai 25,20%.
Pembahasan
Pengaruh Beberapa Varietas Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) terhadap Ketahanan di Kondisi Cekaman Salinitas
Hasil sidik ragam pada seluruh variabel yang dimati, diketahui bahwa perlakuan beberapa varietas cabai rawit yang ditanam berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Hal ini disebabkan akibat adanya pengaruh genetik dan lingkungan sehingga terdapat respon yang berbeda dari masing-masing varietas. Respon yang diberikan dapat terlihat dari penampilan morfologis dan terganggunya proses pertumbuhan Cabai, dijelaskan dalam Mamahit (2015) Proses pertumbuhan dan perkembangan ditentukan oleh interaksi antara faktor internal (gen dan hormon) dan faktor eksternal (lingkungan) misalnya suhu, oksigen, cahaya, dan kelembaban. Cabai termasuk tanaman yang mengalami kerusakan akibat perubahan iklim yang ekstrim.
Dari hasil pengelompokan varietas berdasarkan tingkat ketahanan terhadap salinitas menunjukkan hasil yang berbeda. Varietas Sigantung (V2) merupakan varietas yang relatif toleran terhadap salinitas. Varietas sigantung memiliki rataan data tertinggi untuk hampir semua karakter pengamatan yaitu, tinggi tanaman,
jumlah daun, total luas daun, jumlah cabang, bobot basah akar, bobot kering akar, bobot basah buah, umur berbunga, umur panen dan varietas sigantung (V2) memiliki rataan terendah untuk karakter pengamatan indeks klorofil ab. Hal ini diduga bahwa varietas sigantung (V2) mempunyai karakter yang unggul seperti karakter agramonomi yang tinggi dibandingkan beberapa varietas lainnya sebagaimana dijelaskan deskripsi produk benih cabai rawit varietas Sigantung dikeluarkan oleh Keputusan Mentri Pertanian tahun 2015 bahwa cabai rawit Sigantung memiliki ketahanan terhadap hama trips dan penyakit antraknose, toleran layu, dengan daerah adaptasi dataran rendah sampai dataran tinggi dengan potensi hasil 1,2 -1,5 kg/tanaman menunjukkan varietas Sigantung memiliki daerah adaptasi yang luas.
Cekaman salinitas pada beberapa varietas cabai rawit memberi pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan tanaman tergantung dari varietas tanaman. Bobot akar dan bobot buah dapat mengalami peningkatan dan penurunan hasil dibandingkan kondisi optimum. Varietas Sigantung memiliki rataan bobot akar dan
Cekaman salinitas pada beberapa varietas cabai rawit memberi pengaruh yang berbeda pada pertumbuhan tanaman tergantung dari varietas tanaman. Bobot akar dan bobot buah dapat mengalami peningkatan dan penurunan hasil dibandingkan kondisi optimum. Varietas Sigantung memiliki rataan bobot akar dan