Tujuan dilakukannya determinasi tanaman adalah untuk mengetahui kebenaran tanaman yang digunakan di dalam suatu penelitian sehingga dapat menghindari kesalahan dalam pengambilan data (Azkiya, dan Nugraha, 2017).
Determinasi tanaman ciplukan (Physalis angulata L.) yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan di Departmen Biologi Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hasil determinasi tanaman menyatakan bahwa tanaman yang digunakan adalah benar-benar jenis Physalis angulata L (Lampiran 8).
Pembuatan Simplisia
Tanaman ciplukan yang diperoleh dari CV. Merapi Farma Herbal dicuci terlebih dahulu menggunakan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada tanaman, kemudian batang ciplukan dipisahkan dari bagian tanaman lainnya. Batang ciplukan yang telah dicuci bersih, ditiriskan hingga air pada batang ciplukan hilang dan dipotong kecil-kecil untuk memudahkan dalam proses pengeringan. Proses pengeringan batang ciplukan dilakukan dengan cara menyebarkan batang ciplukan secara merata di atas loyang oven yang telah diberi alas kertas kemudian dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 50oC dan suhu dipertahankan selama proses pengeringan. Proses pengeringan diperlukan untuk mempertahankan kualitas simplisia serta mengurangi resiko kontaminasi bakteri maupun jamur sehingga simplisia dapat disimpan dalam jangka waktu lebih lama (Luliana et al., 2017). Selanjutnya dilakukan penyerbukan terhadap simplisia yang telah kering dengan tujuan untuk memperbesar luas permukaan kontak antara
11
sampel dengan pelarut sehingga senyawa fitokimia dalam simplisia dapat terekstraksi secara optimal (Andriani et al., 2016).
Penetapan Kadar Air
Kadar air merupakan parameter untuk menetapkan residu air setelah proses pengeringan. Penetapan kadar air dilakukan untuk memberikan batasan maksimal atau rentang besarnya kandungan air dari suatu sampel. Pada penelitian ini, penetapan kadar air dilakukan dengan metode destilasi toluen. Penetapan kadar air dilakukan dengan cara melarutkan sebanyak 10 gram serbuk simplisia dengan pelarut toluen jenuh air sebanyak 200 mL di dalam alat uji toluen, kemudian dipanaskan selama 15 menit. Toluen yang digunakan dijenuhkan terlebih dahulu dengan air agar tidak mempengaruhi hasil penentuan kadar air sampel. Setelah lapisan air dan toluen memisah sempurna, volume air dibaca dan dihitung kadar air dalam %v/b (Ulfah et al., 2018).
Hasil dari penetapan kadar air dari serbuk simplisia batang ciplukan diperoleh 7,0% v/b, hal ini sudah sesuai dengan kriteria serbuk simplisia yang baik karena kadar air sesuai dengan yang dipersyaratkan yaitu <10%. Kadar air sangat mempengaruhi daya simpan dari suatu bahan. Semakin tinggi kadar air yang terkandung, dapat menyebabkan tumbuhnya mikroba yang dapat menurunkan stabilitas serta menyebabkan umur simpan bahan tersebut semakin pendek (Utami et al., 2017).
Pembuatan Ekstrak Etanol Batang Ciplukan (Physalis angulata L.)
Ekstrak batang ciplukan dibuat dengan metode maserasi dengan pelarut eetanol 70%. Maserasi merupakan metode ekstraksi yang mudah dilakukan dan peralatannya sederhana. Maserasi sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam yang tidak tahan panas. Proses maserasi akan menyebabkan pecahnya membran sel sehingga metabolit sekunder yang terdapat pada sitoplasma sampel akan larut ke dalam pelarut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan di luar sel, maka larutan terpekat akan didesak untuk keluar. Proses tersebut akan berlangsung terus-menerus hingga terjadi
12
keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Dwicahyani et al., 2018). Hasil maserasi kemudian diuapkan pelarutnya menggunakan rotary evaporator untuk memisahkan ekstrak dengan pelarut yang digunakan. Ekstrak yang didapatkan kemudian dipekatkan menggunakan oven dengan suhu 500C agar pelarut yang digunakan tidak tersisa di dalam ekstrak sehingga yang didapatkan hanyalah ekstrak kental batang ciplukan dengan senyawa-senyawa berkhasiat.
Ekstrak dinyatakan mencapai kekentalan apabila ekstrak telah mencapai bobot tetap yang ditunjukkan dengan adanya perbedaan antara dua penimbangan berturut-turut ekstrak seetelah pengeringan selama 1 jam dengan oven tidak lebih dari 0,25% atau tidak melebihi 0,05 mg dengan timbangan analitik (Farmakope Herbal Indonesia, 2008). Pada penelitian ini didapatkan ekstrak etanol batang ciplukan kental dengan bobot 19,5642 gram dengan rendemen ekstrak yaitu 39,0564 %.
Pengujian Fitokimia
Pengujian fitokimia dilakukan untuk memastikan bahwa di dalam ekstrak etanol batang ciplukan memiliki kandungan senyawa flavonoid. Pengujian flavonoid dilakukan secara kualitatif menggunakan pereaksi HCl dan logam magnesium. Tujuan penambahan logam Mg dan HCl adalah untuk mereduksi inti benzopiron yang terdapat dalam struktur flavonoid sehingga terbentuk garam flavilium yang berwarna merah atau jingga (Tandi et al., 2020). Hasil dari pengujian fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol batang ciplukan positif mengandung flavonoid yang ditunjukkan dengan adanya perubahan warna pada larutan menjadi berwarna kuning kemerahan (Lampiran 16).
Mekanisme reaksi setelah ekstrak yang mengandung flavonoid ditambahkan dengan pereaksi HCL dan logam magnesium adalah sebagai berikut:
13
Gambar 1. Reaksi flavonoid dengan HCl dan logam magnesium (Tandi et al., 2020).
Pembuatan Krim Ekstrak Etanol Batang Ciplukan (Physalis angulata L.) Ekstrak etanol batang ciplukan yang telah didapatkan dari proses sebelumnya selanjutnya dibuat menjadi krim ekstrak etanol batang ciplukan dengan tiga konsentrasi berbeda yaitu 0,5% ; 1,0% ; 2,0% b/b. Krim ekstrak etanol batang ciplukan dibuat dengan mencampurkan ekstrak dengan Biocream®.
Biocream® dipilih sebagai basis karena Biocream® tidak menunjukkan adanya efek antiinflamasi (Wulansari et al., 2018). Selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisik krim berupa uji organoleptis dan uji homogenitas untuk menilai kualitas sediaan krim yang dibuat. Pemeriksaan pada uji organoleptik meliputi bau, warna, dan tekstur yang diamati secara visual (Lumentut et al., 2020). Hasil uji organoleptik dari krim menunjukkan ketiga konsentrasi krim memiliki tekstur yang halus, berwarna kehijauan dan memiliki bau yang khas sesuai dengan ekstrak etanol batang ciplukan. Uji homogenitas krim memiliki tujuan untu memastikan apakah seluruh komponen dalam krim telah tercampur dengan baik atau tidak. Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butiran kasar (Lumentut et al., 2020). Hasil uji homogenitas dari krim ekstrak etanol batang ciplukan menunjukkan bahwa ketiga konsentrasi krim telah homogen yang ditunjukkan dengan adanya warna yang merata dan tidak terdapat butiran kasar.
14
Hasil Pengujian Aktivitas Antiinflamasi Ekstrak Etanol Batang Ciplukan Uji aktivitas antiinflamasi memiliki tujuan untuk mengetahui efek antiinflamasi dari krim ekstrak etanol batang ciplukan dengan beberapa konsentrasi yang berbeda, mengetahui konsentrasi optimum dari krim ekstrak etanol batang ciplukan yang dapat memberikan efek antiinflamasi, serta mengetahui persen penghambatan inflamasi dari krim ekstrak etanol batang ciplukan yang diberikan secara topikal. Aktivitas antiinflamasi ditunjukkan dengan adanya penurunan tebal lipat kulit punggung mencit setelah diinduksi dengan karagenin 4,5% secara subkutan yang kemudian diberikan krim ekstrak etanol batang ciplukan secara topikal. Pada penelitian ini digunakan kelompok kontrol negatif (karagenin), kelompok kontrol positif (Voltaren®) dan kelompok perlakuan yang diberikan krim ekstrak etanol batang ciplukan dengan tiga konsentrasi yang berbeda (konsentrasi 0,5% ; 1,0% ; dan 2,0% b/b). Kurva rata-rata selisih tebal lipat kulit punggung jam ke- 0 hingga jam ke-6 dari berbagai kelompok perlakuan ditunjukkan pada Gambar 2.
Gambar 2. Kurva Profil Rata-Rata Selisih Tebal Lipat Kulit Mencit 0,00
Rata-Rata Selisih Tebal Lipat Kulit (mm)
Waktu (Jam)
Karagenin Voltaren
Krim Ekstrak Konsentrasi 0,5% Krim Ekstrak Konsentrasi 1%
Krim Ekstrak Konsentrasi 2%
15
Selisih tebal lipat kulit punggung mencit diperoleh dengan cara menghitung nilai selisih tebal lipat kulit pada masing-masing kelompok perlakuan pada jam ke-1 hingga jam ke-6 terhadap tebal lipat kulit awal sebelum diinjeksi dengan karagenin 4,5%. Perhitungan selisih tebal lipat kulit digunakan untuk melihat besar inflamasi yang diperoleh. Berdasarkan hasil kurva pada gambar 2, dapat diketahui bahwa pada kelompok kontrol negatif memiliki peningkatan tebal edema paling tinggi dan pada kelompok kontrol positif memiliki peningkatan tebal edema paling rendah. Dari ketiga konsentrasi krim ekstrak etanol batang ciplukan, profil penurunan edema pada pemberian krim konsentrasi 2% paling tinggi dibandingkan dua konsentrasi krim ekstrak etanol batang ciplukan lainnya.
Selanjutnya untuk melihat aktivitas antiinflamasi dari setiap kelompok perlakuan digunakan pengukuran AUC dan perhitungan persen penghambatan inflamasi.
Tabel I. Rata-rata AUC dan % Penghambatan inflamasi Kelompok Rata-Rata AUC ± SD
(mm.jam) Hasil perhitungan selisih tebal lipat kulit punggung mencit pada masing-masing kelompok selanjutnya dilakukan perhitungan nilai AUC total dan persen penghambatan inflamasi (%PI). Karena setiap hewan uji memiliki pola edema yang berbeda baik dalam suatu kelompok maupun antar kelompok, maka perhitungan %PI dilakukan berdasarkan nilai AUC. Hasil rata-rata AUC total dan
% PI tiap kelompok disajikan dalam Tabel II. Rata-rata nilai AUC total digunakan untuk menggambarkan besarnya inflamasi yang terjadi pada masing-masing kelompok tiap satuan waktu. Rata-rata %PI digunakan untuk menggambarkan
16
presentase kemampuan antiinflamasi dari masing-masing kelompok uji. Nilai AUC berbanding terbalik dengan nilai %PI. Semakin kecil nilai AUC maka inflamasi yang terjadi akan semakin berkurang sehingga %PI akan semakin besar.
Semakin besar nilai %PI maka semakin baik efek antiinflamasinya (Pramitaningastuti et al., 2017).
Berdasarkan Tabel II, kelompok kontrol negatif memiliki rata-rata nilai AUC paling besar dibandingkan dengan kelompok lain serta memiliki %PI dengan nilai -0,01 yang menunjukkan bahwa karagenin tidak memiliki aktivitas antiinflamasi. Hal ini sesuai dengan penelitian Sujono (2012) dimana karagenin dapat menginduksi adanya inflamasi dengan melepaskan mediator inflamasi seperti histamin, serotonin, bradikinin, dan prostaglandin. Hasil Rata-rata AUC total dari krim ekstrak etanol batang ciplukan dengan konsentrasi 0,5% ; 1,0% dan 2,0% secara berturut-turut yaitu 13,99 ± 0,58 ; 13,03 ± 2,31 ; dan 11,65 ± 1,81.
Rata-rata nilai AUC total tiap kelompok kemudian digunakan untuk menghitung nilai persen penghambatan inflamasi. Nilai rata-rata % Penghambatan Inflamasi dari krim ekstrak etanol batang ciplukan konsentrasi 0,5% ; 1,0% dan 2,0% secara berturut-turut yaitu 19,03 ± 3,19 ; 24,56 ± 12,89 ; dan 32,55 ± 10,00. Nilai AUC total dan persen penghambatan inflamasi yang didapatkan kemudian dianalisis lebih lanjut secara statistik untuk mempertegas efek antiinflamasi dari masing-masing kelompok perlakuan.
Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Saphiro-Wilk untuk menguji normalitas data. Berdasarkan uji tersebut didapatkan bahwa semua data terdistribusi normal yang dibuktikan dengan nilai p > 0,05.
Data yang terdistribusi normal selanjutnya dilakukan analisis statistik degan uji One Way ANOVA dengan taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan Uji Post Hoc Test Scheffe Test untuk melihat bermakna atau tidaknya suatu perbedaan antar kelompok perlakuan (Lampiran 15). Data dapat dikatakan berbeda bermakna atau berbeda secara signifikan apabila memiliki nilai p < 0,05. Hasil Uji Post Hoc Test dengan Scheffe Test dapat dilihat pada Tabel II.
17
Tabel II. Hasil Analisis Statistik Kontol
BB : Berbeda Bermakna (P<0,05) BTB : Berbeda Tidak Bermakna (P>0,05)
Berdasarkan Tabel II, kontrol positif dengan menggunakan Voltaren®
menunjukkan adanya perbedan yang bermakna dengan kontrol negatif karagenin.
Adanya perbedaan yang signifikan antara kontrol positif Voltaren® dengan kontrol negatif karagenin menunjukkan bahwa model uji antiinflamasi yang dilakukan dalam penelitian ini sudah benar. Voltaren® yang digunakan dalam penelitian ini sebagai kontrol positif merupakan obat golongan NSAID dengan kandungan Natrium diklofenak yang telah diketahui dapat mengurangi inflamasi dengan mekanisme menghambat enzim siklooksigenase (COX), komponen awal pembentukan asam arakidonat, sehingga mengurangi pembentukan prostaglandin, tromboxan, dan prostacylin (Altman et al., 2015).
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perbandingan rata-rata nilai AUC dan persen penghambatan inflamasi dari kelompok perlakuan dengan krim ekstrak etanol batang ciplukan konsentrasi 0,5% dan 1,0% memiliki perbedaan yang tidak bermakna secara statistik dengan kelompok kontrol positif (nilai p>0,05), namun juga berbeda tidak bermakna dengan kontrol negatif karagenin (nilai p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa krim ekstrak etanol batang ciplukan konsentrasi 0,5% dan 1,0% belum memiliki aktivitas antiinflamasi. Hal ini mungkin diakibatkan oleh konsentrasi ekstrak etanol batang
18
ciplukan yang masih terlalu rendah. Kelompok perlakuan dengan krim ekstrak etanol batang ciplukan konsentrasi 2% secara statistik menunjukkan berbeda bermakna dengan kelompok kontrol negatif (nilai p<0,05) dan berbeda tidak bermakna dengan kelompok kontrol positif (p>0.05). Nilai rata-rata %PI kelompok perlakuan dengan krim ekstrak etanol batang ciplukan konsentrasi 2%
pada Tabel I juga menunjukkan bahwa pada konsentrasi 2,0% memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan konsentrasi 0,5% dan 1,0%. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi 2% merupakan konsentrasi optimum dari krim ekstrak etanol batang ciplukan dalam menghambat inflamasi karena pada konsentrasi 2%
mampu menurunkan tebal edema pada kulit punggung mencit secara signifikan terhadap kontrol negatif (nilai p<0,05) dan memiliki aktivitas antiinflamasi yang menyerupai dengan kontrol positif (nilai p>0,05).
Adanya aktivitas antiinflamasi dari krim ekstrak etanol batang ciplukan diduga akibat adanya kandungan senyawa fitokimia berupa flavonoid. Flavonoid merupakan salah satu senyawa yang dapat berperan sebagai antiinflamasi.
Menurut Audina et al. (2018) mekanisme kerja flavonoid sebagai antiinflamasi dapat melalui beberapa jalur seperti dengan penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase (COX) dan lipooksigenase, penghambatan akumulasi leukosit, penghambatan akumulasi leukosit, penghambatan degranulasi neutrofil, dan penghambatan histamin. Pada penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa pemberian krim ekstrak etanol dari buah matang ciplukan memiliki aktivitas antiinflamasi akibat adanya senyawa flavonoid (Puput, 2021). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak hanya kandungan flavonoid di dalam buah ciplukan matang saja yang dapat dimanfaatkan sebagai agen antiinflamasi, namun flavonoid pada batang ciplukan juga dapat di manfaatkan sebagai agen antiinflamasi mengingat pemberian krim ekstrak etanol batang ciplukan (Physalis angulata L.) secara topikal juga dapat memberikan efek antiinflamasi.
19 KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa krim ekstrak etanol batang ciplukan (Physalis angulata L.) konsentrasi 2% memiliki efek antiinflamasi topikal terhadap mencit jantan galur Swiss yang terinduksi dengan karagenin.
Krim ekstrak etanol batang ciplukan (Physalis angulata L.) konsentrasi 2%
memberikan aktivitas antiinflamasi dengan persen penghambatan antiinflamasi sebesar 32,55%. Krim ekstrak etanol batang ciplukan (Physalis angulata L.) dengan konsentrasi 0,5% dan 1,0% tidak menunjukkan adanya aktivitas antiinflamasi. Konsentrasi optimum dari krim ekstrak etanol batang ciplukan yang dapat menunjukkan efek antiinflammasi yaitu 2%
SARAN
Pada penelitian ini belum diketahui secara spesifik jenis mekanisme penghambatan inflamasi dari flavonoid yang terkandung dalam batang ciplukan.
Penelitian ini juga tidak diketahui apakah terdapat senyawa metabolit sekunder lain di dalam batang ciplukan yang mungkin memiliki aktivitas antiinflamasi.
Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui mekanisme flavonoid pada batang ciplukan dalam menghambat inflamasi serta untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder lain yang mungkin dapat berperan sebagai agen antiinflamasi. Selain itu, dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa konsentrasi optimum dari krim ekstrak etanol batang ciplukan yang dapat menunjukkan efek antiinflammasi adalah 2%, maka dari itu dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat aktivitas antiinflamasi dengan konsentrasi lebih tinggi dari 2%.
20