• Tidak ada hasil yang ditemukan

Foto sampling:

2.3. Hasil dan Pembahasan 1. Iklim di Wilayah Penelitian

a. Arah dan Kecepatan Angin

Arah dan kecepatan angin di daerah penelitian berdasarkan data dari lapangan udara terdekat yaitu LANUD Atang Sanjaya Bogor, yang berjarak sekitar 30 km

dari lokasi penelitian dengan elevasi 164 m dari permukaan laut. Data lengkap arah dan kecepatan angin disajikan pada Lampiran 5. Pengamatan arah dan kecepatan angin selama sepuluh tahun terakhir diolah dengan program WR plot dari Lake Environment dan hasilnya disajikan dalam grafik bar bersama gambar bunga angin (wind rose) sehingga nampak arah dan kecepatan angin sebagaimana ditampilkan pada Gambar 4.

Arah angin dominan kabupaten Bogor adalah dari arah utara dan barat, dan sebagian kadang-kadang dari barat laut, barat daya dan dari selatan dalam frekuensi kejadian yang kecil. Nampak bahwa kecepatan angin di Bogor rata-rata rendah antara 0,5-2,1 m detik-1 (warna hitam) dan tertinggi mencapai 4-7 m detik-1 (warna kuning) pada Gambar 4 (b). Angin dengan kecepatan rendah (Calm) terjadi sebanyak 16,35 %. Frekuensi dominan angin dengan kecepatan >2,1 m detik-1

Tahun 1999 sampai tahun 2002 angin bertiup dari arah utara terjadi pada bulan-bulan Juni sampai bulan November (data arah dan kecepatan angin disajikan pada Lampiran 5). Bulan Desember sampai Mei angin bertiup dari arah barat. barat laut dan sedikit dari selatan. Tahun 2003 angin bertiup dari arah utara terjadi pada bulan Maret sampai Agustus, dan pada bulan September sampai Mei angin bertiup mencapai 80,8 % ditunjukkan pada Gambar 4 (a). Artinya daerah penelitian dapat dikatakan selalu terdapat angin yang bertiup kecepatan rendah.

Gambar 4. Distribusi kecepatan (a), dan arah angin (b) Kabupaten Bogor (sumber data: LANUD ATS Bogor 1999-2008).

(a)

Klas angin ( m det-1)

Kecepatan angin (m det-1) Th 1999-2008 U S B T (b) U = utara S = selatan B = barat T = timur Arah angin: dari

dari arah barat, barat laut dan sedikit dari arah barat daya. Tahun 2004-2007 angin bertiup dari arah barat, barat laut, dan barat daya terjadi hampir sepanjang tahun. kecuali bulan Juni dan November 2005 dan 2006 angin bertiup dari arah selatan. Pada tahun 2008 bulan April sampai Agustus angin bertiup dari arah timur ke barat. Suatu arah angin yang tidak pernah terjadi selama 8 tahun terkhir. Arah dan kecepatan angin ini akan menentukan sebaran polutan secara umum.

Tahun 2006 angin permukaan bertiup dari arah barat, barat laut, dan barat daya terjadi hampir sepanjang tahun, kecuali bulan Juni 2006 angin bertiup dari arah selatan ke utara. Pada tahun 2008 bulan April sampai Agustus angin bertiup dari arah timur ke barat. Perubahan arah dan kecepatan angin ini merupakan salah satu penyebab berubahnya curah hujan. Besarnya curah hujan akan berdampak kepada jumlah deposisi basah polutan udara ke bumi.

b. Curah Hujan

Curah hujan di wilayah penelitian khusunya pada musim penghujan antara bulan November sampai Februari tahun berikutnya ditunjukkan seperti pada Gambar 5. Stasiun Cibinong berada di wilayah penelitian sebelah barat sedangkan stasiun Cileungsi berada diluar daerah penelitian namun sangat dekat pada lokasi di sebelah timur. Pada bulan-bulan sampling air hujan curah hujan semakin menurun dari tahun 2006 sampai tahun 2009. Namun demikian umumnya curah hujan >200 mm kecuali tahun 2009.

.

Gambar 5. Curah hujan bulan Nopember-Februari dari tahun 2006 sampai 2009 di stasiun Cibinong dan stasiun Cileungsi Kabupaten Bogor (Sumber Data: BMG Bogor)

Pola distribusi curah hujan tahunan disajikan dalam bentuk peta isoplet curah hujan pada Gambar 6. Pada tahun 2006 curah hujan tahunan antara 3500-4000mm. Curah hujan menurun antara 1400-3000 mm pada tahun 2008, dan pada tahun 2009 sedikit meningkat menjadi antara 2600-3200 mm. Distribusi rata-rata curah hujan tahunan dari tahun 2003 sampai 2009 diperlihatkan pada Gambar 7.

Gambar 6. Peta isopleth curah hujan di wilayah industri Cibinong Citeureup Kabupaten Bogor, tahun 2006, 2008, dan 2009. LS = Lintang Selatan, BT = Bujur Timur. industri Jl. TOL Jagorawi Jl. Raya Sungai Setu

Curah hujan annual tahun 2006 Stasiun Cuaca Wilayah Pednelitian Th 2008 -6,34 - -6,50 - -6,60 - -6,40 - LS 106,80 BT 106,90 107,00 Th 2009 106,80 106,90 107,00 BT

Gambar 7. Peta isopleth curah hujan rata-rata tahunan, tahun 2003-2009.

Gambar 8. Rata-rata curah hujan (CH) bulanan di Stasiun Cuaca Cibinong Bogor tahun 2003 sampai 2009 (error bar 10%).

Gambar 8 memperlihatkan rata-rata curah hujan bulanan di lokasi penelitian. Bulan Juni sampai September adalah bulan kering dengan curah hyujan < 200 mm.

106.60 106.65 106.70 106.75 106.80 106.85 106.90 106.95 107.00 107.05 107.10 -6.65 -6.60 -6.55 -6.50 -6.45 -6.40 -6.35

Isoplet rata-rata Curah Hujan tahunan (mm) Tahun 2003-2009

PETA PENELITIAN

WILAYAH INDUSTRI -CITEUREUP KABUPATEN

Jalan TOL jAGORAWI Area Industri Jalan Raya Sungai Set Wilayah penelitian Stasiun Cuaca U 2km

Klasifikasi Iklim di Wilayah Penelitian

Secara makro wilayah Indonesia mengalami dua musim karena pengaruh angin musim yaitu musim kering dan musim basah. Angin musim (monsoon) membawa hujan saat angin bertiup dari arah laut.

Wilayah penelitian meliputi luas area lebih kurang ±100 km2 atau ±10.000 ha. Pada area seluas ini terdapat lima setu (Setu Cikaret, Setu Gunung Putri, Setu Tlajung Udik, Setu Pemda Bogor, dan Setu Cibuntu) yang luas total mencapai ±30 ha. Bangunan-bangunan industri dan perumahan terdapat di wilayah ini. Suhu udara pada siang hari antara 30-33 oC.

Berdasarkan besarnya curah hujan suatu wilayah dapat dibagi atas bulan basah dengan curah hujan >200 mm, dan bulan kering dengan curah hujan <200 mm bulan-1

Gambar 9. Klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (1951).

. Bulan kering terjadi pada bulan Juni sampai September dan bulan basah antara bulan Oktober sampai Mei, puncaknya terjadi pada bulan Desember-Januari. Gambar 8 memperlihatkan curah hujan rata-rata bulanan dari tahun 2003 sampai 2009.

Berdasarkan klasifikasi menurut Oldeman bahwa bulan basah adalah bulan dengan total curah hujan kumulatif lebih dari 200 mm dan bulan kering <100 mm (Lakitan, 1994) maka wilayah penelitian merupakan wilayah yang selalu basah sepanjang tahun. Namun demikian terjadi bulan kering pada bulan Juni, Juli dan Agustus dengan curah hujan antara 100-200 mm. Zona iklim berdasarkan klasifikasi Schmidt-Ferguson yaitu nisbah bulan kering terhadap bulan basah

dengan nilai nisbah Q sebesar 33% sehingga termasuk kondisi iklim basah. Gambar 2.7 memperlihatkan diagram segitiga klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson. Berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering di wilayah penelitian termasuk zona iklim C.

2.3.2. Kualitas Udara

Kualitas udara di wilayah penelitian dipantau oleh berbagai sumber disajikan pada Tabel 2. Parameter penting kualitas udara yang berhubungan dengan hujan asam adalah kadar polutan gas SO2 dan NO2, selain itu juga kadar O3 (ozon), serta debu. Ozon adalah oksidan dengan adanya air akan mengubah gas SO2

menjadi ion sulfat (SO4=) dan mengubah gas NO2 menjadi ion nitrat (NO3-) pada pembentukan asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) dalam air hujan. Debu akan menyerap uap air dan kedua polutan gas tersebut sehingga sebaran akan berpengaruh terhadap sebaran hujan asam. Kadar polutan SO2 diberbagai lokasi nampak masih jauh dibawah baku mutu. Akan tetapi kadar polutan NO2 di beberapa lokasi telah melebihi baku mutu kualitas udara ambien menurut PP 41 tahun 1999.

Tabel 2. Rangkuman rata-rata hasil pengukuran kualitas udara tahun 2009 ( semua satuan dalam µg m-3

No. ) Lokasi SO2 CO2 NO2 Debu O3 1 Narogong 1) 2) 23,98 602,38 26,12 118,90 14,80 2 Pt. Tol G Putri2) 30,00 574 101 315,74 5,13 3 Pt. Tol Citrp2) 30,96 679,17 36,44 249,50 7,01 4 Ps Citeureup 2) 20,00 541,25 85,11 285,69 13,20 5 Jl. Pancasila2) 42,17 597,17 28,16 244,33 16,95 6 Tari kolot2) 18,41 606,17 2,46 200,38 58,74

7 Depan ITC Cibinong 2) 90,00 559,50 700,00 73,22 27,14 8 Dpn Ps. Cibinong 2) 70,67 577,00 709,3 166,16 10,23

9 Desa Lulut3) 16,31 2,29 18,78 22,98 112,00

10 Hambalang, ds Tapos 3) 15,00 2,18 16,34 17,12 92,00 11 Jln. Sainembah Sukahati 3) 94,90 700,00 1,41 176,52 49,21 Baku mutu udara ambient PP 41

tahun 1999 waktu pengukuran 1 jam 900 - 400 230 235 Sumber data: 1) PT Holchim 2) Dinas Tataruang dan Lingkungan Hidup Bogor,

3)

2.3.3. Keasaman Air Hujan

Data dan posisi sampling disesuaikan sehingga memperlihatkan suatu data seri yang dapat digunakan untuk melihat kecenderungan perubahan kualitas air hujan. Tabel 3 memperlihatkan data rata-rata pH air hujan dari tahun 1999 sampai 2009. Nampak bahwa hanya terdapat dua lokasi sampling yang memilki pH>5,6 yaitu di Wanaherang dan Narogong. Kriteria hujan asam menurut Manahan (2005) adalah hujan dengan pH<5,6, nilai pH ini didasarkan kepada kesetimbangan kelarutan gas karbon dioksida (CO2) dalam air hujan dengan asumsi konsentrasi ambient gas CO2

di atmosfir sebesar 300 ppm. Kadar CO2 ambient berdasarkan di beberapa lokasi menunjukkan sekitar 600-700 µg m-3

Sumber data:

(DTRLH, 2009).

Berdasarkan data Tabel 3 dapat dikatakan bahwa sebagian daerah di wilayah penelitian telah terjadi hujan asam dengan intensitas sedang (pH antara 5,0-5,6) dan sebagian daerah lagi mengalami intensitas tinggi (pH<5,0). Secara keseluruhan di wilayah penelitian dapat dikatakan telah mengalami hujan asam. Kecuali sampel dari Narogong (pH 8,23). Tingginya pH air hujan di daerah Narogong dimungkinkan karena dekat dengan pertambangan kapur.

1)

Sutanto et al., 1999 2) Iryani 2001, *) data primer Tabel 3. Data rata-rata pH air hujan di wilayah penelitian

Lokasi sampling 19991) 20012) 2006*) 2008*) 2009*)

Kr.Asem Barat AH1 5,40 4,48 - 4,36 3,65

Puspasari AH2 4,92 4,64 - - 4,66

Kranggan AH3 5,42 5,5 - 5,40 5,3

Kr.Asem Timur AH4 4,49 - 5,03 - 5,72

Puspanegara AH5 5,5 4,61 4,45 4,70 4,24

Gn. Putri AH6 5,07 4,77 5,29 5,14 5,30

Tlajung Udik AH7 5,39 5,95 - - -

Citeureup AH8 4,54 4,95 4,45 5,35 4,83

Wanaherang AH9 4,94 4,16 5,66 - -

Cibinong AH10 5,09 4,51 4,95 - 4,15

Cirimekar AH11 - - 4,95 5,35 -

Jl. Baru Sentul AH12 - - 5,02 5,28 5,19

Tajur Ctrp AH13 - - 4,95 - 5,64

GBJ AH14 - - 5,06 5,63 5,9

Narongong AH15 - - 5,63 4,72 8,23

Dokumen terkait