MONETARY SUPPORT
HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Koleksi isolat bakteri diambil dari borok pada bagian tubuh ikan kerapu, dan bagian sirip yang busuk. Isolasi dilakukan pada media penumbuh”tryptone soya agar‖ (TSA), media ―thiosulphate citrate bile salt sucrose agar‖ (TCBSA), kemudian diinkubasi pada suhu 25-280
C selama 24-48 jam. Pemurnian terhadap bakteri yang tumbuh dominan pada media TSA dan TCBSA dilakukan dengan menggunakan media ―marine agar‖ (MA). Hasil pemurnian bakteri ini selanjutnya digunakan sebagai bahan uji. Identifikasi isolat bakteri dilakukan berdasarkan acuan (Holt et al., 1994).
Isolasi Ulang Bakteri
Isolat bakteri uji dibiakkan dalam media MA yang diinkubasikan selama 24-48 jam pada suhu 260C, kemudian dipanen menggunakan air laut steril. Kepadatan bakteri 108 cfu/mL ditentukan berdasarkan McFarland “equivalence turbidity standard 1.0” setara dengan kepadatan bakteri 108 cfu/mL. Selanjutnya isolat bakteri tersebut digunakan sebagai bahan infeksi buatan dengan cara menyuntikkan intraperitoneal sebanyak 0,1 mL/individu. Ikan kontrol disuntik menggunakan NaCl fisiologis dengan dosis yang sama. Ikan uji yang digunakan adalah juvenil ikan kerapu bebek, ikan kerapu macan, dan ikan kerapu lumpur, bobot antara 8-19 gram, panjang total antara 5-9 cm masing-masing 10 ekor untuk setiap kelompok. Pengamatan dilakukan terhadap gejala klinis dan mortalitas ikan uji, dan melakukan isolasi ulang bakteri dari organ ginjal dan luka erosi.
Uji Sensitivitas terhadap Antibiotik
Dari isolat bakteri yang diperoleh dilakukan uji sensitivitas terhadap antibiotik dilakukan secara in-vitro. Bakteri uji dioleskan secara merata pada lempengan media agar, selanjutnya pada bagian permukaan diletakkan lempeng antibiotik yang sudah mengandung antibiotik yang akan diuji, yaitu eritromisin (15 g), ampisilin (10 g), klorampenikol (30 g), dan oksitetrasiklin (30 g), produksi Oxoid Unipath Limited, Besingstoke, Hampshire, UK. Kemudian diinkubasikan pada suhu 26 0C selama 24 jam. Tingkat sensitivitas ditentukan melalui pengukuran zona penghambatan yang diakibatkan oleh masing-masing antibiotik uji.
HASIL DAN PEMBAHASAN Isolasi dan Identifikasi Bakteri
Isolat bakteri dominan diisolasi dari luka erosi atau borok dan sirip busuk pada ikan kerapu bebek, ikan kerapu macan, dan ikan kerapu lumpur yang sakit, berasal dari keramba jaring apung di daerah Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Dari isolat dominan yang diperoleh selanjutnya diberi kode LG-1802, LG-2802, LG-3802, LG-4802, LG-5802, LG-6802, dan LG-7802, selanjutnya digunakan dalam penelitian ini (Tabel 1).
Tabel 1. Pertumbuhan bakteri yang diisolasi dari borok dan sirip busuk pada media tumbuh bakteri
Organ Media bakteri
TSA TCBSA
Borok + +
Sirip busuk + +
Tabel 1, menunjukkan bahwa isolat bakteri yang dimurnikan pada media MA adalah isolat yang tumbuh pada media TSA dan TCBSA. Pada media TSA hampir semua jenis bakteri tumbuh dan tidak spesifik untuk satu bakteri. Sedangkan pada media TCBSA bakteri yang tumbuh adalah spesifik untuk bakteri dari genus vibrio.
Dengan berpedoman kepada Holt et al. (1994) isolat bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 diidentifikasikan sebagai genus vibrio. Tabel 2 menunjukkan karakter dari isolat tersebut antara lain gram negatif, sitokrom oksidase positif, dan sensitif terhadap agen vibrio statik 0/129 150 mg. Bakteri vibrio dapat bersifat patogen terhadap ikan, seperti Vibrio harveyi yang ditemukan sebagai penyebab penyakit mata pada ikan bandeng, Chanos chanos di Filipina (Muroga et al., 1984), kasus infeksi mata ikan common snook, Centropomus undecemalis (Kraxberger et al., 1990).
Gambar 1. Penyakit borok pada ikan kerapu
Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali kasus penyakit borok pada ikan kerapu merupakan salah satu penyakit penting pada budidaya ikan kerapu di dalam keramba jaring apung. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian masal seperti halnya infeksi iridovirus. Sampai sekarang penyakit ini ditemukan pada calon induk kerapu lumpur dan fingerling kerapu macan. Pada fingerling kerapu macan, penyakit ini terjadi 1 minggu setelah ikan dipelihara di dalam keramba jaring apung. Mortalitas dari masing-masing kasus dapat mencapai 10-20% meskipun telah diterapi dengan antibiotik. Pada kasus penyakit borok pada ikan kerapu (Gambar 1), ikan yang mengalami kematian secara akut memperlihatkan beberapa gejala eksternal, sedangkan pada kasus kronis terlihat pembengkakan atau luka-luka kemerahan yang merupakan ciri khas yang dapat diamati pada permukaan tubuh. Bakteri penyebab infeksi ini termasuk ke dalam genus Vibrio dan di Gondol telah diidentifikasi sebagai Vibrio alginolyticus (Koesharyani et al., 2001).
Kasus penyakit sirip busuk pada ikan kerapu, penyebab utama adalah jenis bakteri Flexibacter yang menyerang ikan kerapu bebek. Pada ikan kerapu bebek yang dibudidayakan di panti benih sering
ditemukan adanya sirip busuk dengan luka kemerahan (Gambar 2). Dari luka-luka ini, satu jenis bakteri telah diisolasi dan diidentifikasikan sebagai bakteri Flexibacter maritimus. Meskipun bakteri ini bukan penyebab dari sistemik septikemia, jika pengobatan tidak dilakukan, maka kondisi ikan akan semakin buruk dengan infeksi sekunder oleh vibrio (Koesharyani et al., 2001; Johnny & Roza, 2002; Johnny & Prisdiminggo, 2002).
Dalam percobaan ini bakteri Flexibacter maritimus sebagai infeksi primer tidak dapat diisolasi dan diidentifikasi, diduga bakteri vibrio sebagai infeksi sekunder sudah sangat dominan. Kasus sirip busuk pada ikan kerapu menunjukkan bakteri vibrio hanya berperan dalam infeksi sekunder yang dapat timbul setiap waktu tergantung pada faktor lingkungan serta faktor lainnya (Saeed, 1995).
Bakteri vibrio diketahui sebagai bakteri oportunistik dan merupakan bakteri yang sangat ganas dan berbahaya pada budidaya ikan kerapu karena dapat bertindak sebagai patogen primer dan sekunder. Sebagai patogen primer bakteri masuk tubuh ikan melalui kontak langsung, sedangkan sebagai patogen sekunder bakteri menginfeksi ikan yang telah terserang penyakit lain, misalnya oleh parasit (Post, 1987). Ikan kerapu di alam merupakan ikan karang dengan habitat asli di daerah terumbu karang di laut dalam yang jernih dan bersih. Berkembangnya bakteri vibrio di suatu perairan merupakan indikator perairan yang kurang menguntungkan bagi ikan dengan kandungan nutrien yang tinggi (Andrews et al., 1988).
Penyakit yang disebabkan oleh vibrio juga merupakan masalah yang sangat serius dan umum menyerang ikan-ikan budidaya laut dan payau. Penularannya dapat melalui air atau kontak langsung antar ikan dan menyebar sangat cepat pada ikan-ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi. Bakteri vibrio yang menginfeksi ikan kerapu stadia juvenil selain lemah, berwarna kusam kehitaman, dan produksi lendir berlebihan. Pada tingkat parah, sirip punggung dan sirip ekor gripis dengan permukaan kulit menghitam seperti terbakar (Schubert, 1987).
Isolasi Ulang Bakteri
Isolat LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 dilakukan uji patogenisitas bakteri terhadap ikan kerapu sehat. Dari hasil pengamatan ternyata bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 pada kepadatan 108 cfu/ml dalam 24 jam setelah penyuntikan secara intra muscular memperlihatkan gejala klinis luka kemerahan pada tempat penyuntikan. Hasil isolasi ulang bakteri dari organ ginjal dan luka pada lokasi penyuntikan ikan uji ternyata didapat bakteri jenis yang sama. Adanya bakteri yang sama pada ginjal membuktikan bahwa ginjal mempunyai fungsi retikulo-endotelial, yaitu kemampuan suatu organ untuk menyerap bakteri dari darah, dimana akumulasi bakteri yang diinjeksikan secara intramuskular lebih banyak ditemukan pada organ ginjal dan limpa daripada dalam organ hati (Saeed, 1995).
Tabel 2. Karakteristik dari bakteri isolat LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 yang diisolasi dari borok dan sirip busuk ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis, ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus, dan ikan kerapu Lumpur, Epinephelus coioides.
Karakteristik Isolat LG-2802, LG-5802 dan LG-7802
Holt et al. (1994)
Isolasi ulang dari ginjal dan luka erosi Pewarnaan Gram - - - Sitokrom oksidase + + + Katalase + Nt + Cahaya - D - Gerakan D D D
Pertumbuhan pada TCBSA Y Y/G Y
Pertumbuhan pada NaCl :
0 % - - - 3 % + + + 6 % + + + 10 % - Nt - L - Arginin - D - L - Lysin + D + L - Ornithin + D +
Hugh - Leifson (O-F) F F F
Peka terhadap 150 mg agen vibriotik 0/129
S S S
Sumber : Holt et al. (1994)
Sensitivitas Bakteri terhadap Antibiotik
Pengujian dilakukan dengan menggunakan lempeng antibiotik untuk mengetahui jenis antibiotik yang dapat digunakan sebagai alternatif pengendalian infeksi bakteri baik melalui pakan maupun perendaman. Tabel 3 menunjukkan bahwa bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 sensitif terhadap antibiotik kloramfenikol (30 g) dan oksitetrasiklin (30 g) dan tahan terhadap antibiotik ampisilin (10
g) dan eritromisin (15 g) yaitu dengan melihat diameter zona penghambatannya.
Daya hambat antibiotik kloramfenikol terlihat lebih tinggi, akan tetapi untuk upaya pengendalian infeksi bakteri vibrio tidak dapat diaplikasikan, karena antibiotik tersebut berbahaya bagi manusia serta dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri. Koesharyani et al., (2001) menyatakan bahwa pengendalian infeksi bakteri seperti penyakit finrot efektif menggunakan nifurpirinol 10,0% dengan dosis 1-2 ppm selama 24 jam. Namun terhadap ikan kerapu macan yang telah kehilangan sirip ekor tidak dapat disembuhkan.
Tabel 3. Sensitivitas bakteri LG-2802, LG-5802 dan LG-7802 terhadap beberapa antibiotik secara invitro
Jenis Lempeng Antibiotik Konsentrasi Zona Penghambatan
Eritromisin 15 g 12 mm
Ampisilin 10 g 8 mm
Kloramfenikol 30 g 39 mm
Oksitetrasiklin 30 g 33 mm
KESIMPULAN
Bakteri penyebab penyakit borok dan sirip busuk pada ikan kerapu di dalam keramba jaring apung adalah bakteri dari genus Vibrio sp.
SARAN
Upaya pengendalian penyakit borok dan sirip busuk pada ikan kerapu tidak disarankan menggunakan antibiotik kloramfenikol, karena mempunyai efek negatif pada manusia dan dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten. Sebagai alternatif, disarankan menggunakan Nifurpirinol 10% dengan dosis 1-2 ppm selama 24 jam.
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. 2001. Pembesaran Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Karamba Jaring Apung. (In) Aliah et al., (Eds) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu, Jakarta, 28-29 Agustus 2001. Hal. 141-148.
Andrews, C., A. Exell and N. Carrington. 1988. The Manual of Fish Health. Salamander Books Limited. London. New York. 208pp.
Holt, J.G., N.R. Krieg, P.H.A. Sneath, J.T. Staley and S.T. Williams. 1994. Bergey‘s Manual of Determinative Bacteriology. Ninth Edition. Williams & Wilkins. Baltimore. USA. pp.
Johnny, F. dan D. Roza. 2002. Kejadian Penyakit pada Budidaya Ikan Kerapu dan Upaya Pengendaliannya. Laporan Hasil Penelitian Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali. 14 hal.
Johnny, F., dan Prisdiminggo. 2002. Studi Kasus Penyakit Fin Rot Pada Ikan Kerapu Macan, Epinephelus Fuscoguttatus Di Karamba Jaring Apung Teluk Ekas, Desa Batunampar, Lombok Timur, NTB. Laporan Hasil Penelitian Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali. 9 hal.
Kraxberger-Beatty, T., D.J. Mc. Garey, H.J. Grier and D.V. Lim. 1990. Vibrio harveyi an Opportunistic Pathogen of Common Snook, Centropomus undecimalis (Bloch), Held in Captivity. Journal Fish Diseases. 13:557-560.
Koesharyani, I. and Zafran. 1997. Studi Tentang Penyakit Bacterial Pada Ikan Kerapu. Jur. Pen. Perikanan Indonesia. III(4):35-39.
Muroga, K., Gilda Lio-Po, C. Pitogo and R. Imada. 1984. Vibrio sp. isolated from Milkfish (Chanos chanos) With Opaque Eyes. Fish Pathology. 19(2):81-87.
Post, G. 1987. Texbook of Fish Health. T.F.H. Publications Inc. USA. 288 pp.
Saeed, O. 1995. Association of Vibrio harveyi With Mortalities in Cultured Marine Fish in Kuwait. Aquaculture. 136:21-29.
Schubert, G. 1987. Fish Diseases a Complete Introduction. T.F.H. Publications Inc. USA. 125 pp.
Subiyanto, I. Adisuko, S. Anwar, N. Yustiningsih, S. Prayitno, dan P. Sumardika. 2001. Pengkajian dan Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Nasional. (In) Aliah et al., (Eds) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu, Jakarta, 28-29 Agustus 2001. Hal. 61-67.
Wijayati, A. dan I.S. Djunaidah. 2001. Identifikasi Patogen Ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) Pada Berbagai Stadia Pemeliharaan. (In) Aliah et al., (Eds) Prosiding Lokakarya Nasional Pengembangan Agribisnis Kerapu, Jakarta, 28-29 Agustus 2001. Hal. 81-88.
Zafran, D. Roza, I. Koesharyani, F. Johnny and K. Yuasa. 1998. Marine Fish and Crustaceans Diseases in Indonesia In Manual for Fish Diseases Diagnosis (Ed. by K. Sugama, H. Ikenoue and K. Hatai). 44 p. Gondol Research Station for Coastal Fisheries, CRIFI and Japan International Cooperation Agency.
KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI PARASIT PADA IKAN KERAPU