BAB II URAIAN TEORITIS
HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil dan Pengamatan Wawancara
Peneliti melakukan penelitian terhadap mahasiswa minangkabau yang melanjutkan jenjang pendidikan strata satu di USU dengan menggunakan teknik snowball sampling. Peneliti berhenti pada informan kesepuluh karena data yang diperoleh sudah jenuh. Hal ini disebakan kareana data yang diberikan informan hampir rata-rata mempunyai kesamaan. Pelaksanaan dan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi dan wawancara yang berlangsung dari bulan September hingga Oktober 2012
Permohonan surat penelitian telah diurus dengan cara meminta persetujuan tertulis dari fakultas dan telah disampaikan kepada biro rektorat yang kemudian di lanjutkan ke Pusat Sistem Informasi USU (PSI USU). Sesuai dengan lokasi penelitian, peneliti melakukan observasi ke tiga fakultas yakni, FISIPOL, FIB dan FKM. Setelah itu peneliti mencari informasi yang lebih akurat tentang wadah mahasiswa minang berkumpul, ternyata disini peneliti menemukan Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol USU (IMIB USU) setelah mendapatkan bantuan dari beberapa teman di IMIB USU kemudian peneliti bertemu dengan ketua IMIB USU, setelah berbincang cukup lama peneliti menyampaikan maksud dan ketua IMIB USU mengajak ke acara temu ramah yang tidak terlalu formal, disanalah peneliti bertemu dengan informan yakni mahasiswa minang yang sedang berstudi di USU dari berbagai daerah di Sumatera Barat dan dari berbagai Fakultas. Pencarian informan cukup sulit karena kesedian informan serta karena informan masih merasa masih baru mengenal peneliti, walaupun peneliti juga menggunakan bahasa minangkabau. Setelah cukup meyakinkan para informan, peneliti mengumpulkan data dan membuat perjanjian tentang tanggal dan waktu observasi dan wawancara.
Proses wawancara dilakukan di berbagai tempat sesuai dengan keinginan informan dan mengikuti jadwal informan sendiri. Di setiap lokasi, peneliti juga selalu melakukan observasi, khususnya di rumah kost. Melalui wawancara, peneliti mendapatkan pengakuan tentang culture shock yang mereka alami ketika pertama kali sampai di Medan. Kemudian peneliti mendapatkan penguatan dan informasi tambahan melalui observasi langsung. Proses wawancara berlangsung sesuai dengan pedoman wawancara, yaitu dengan membiarkan informan bercerita untuk memperoleh informasi yang lebih banyak. Ketika melakukan wawancara, peneliti tidak hanya mendapatkan informasi tentang culture shock dalam hal interaksi komunikasi antarbudaya, tetapi juga dalam hal makanan, cuaca, lalu lintas dan sebagainya. Hal ini peneliti jadikan sebagai pelengkap informasi. Tujuan pembuatan karakteristik informan (usia, jenis kelamin, asal fakultas dan lama menetap) adalah untuk membantu peneliti menemukan sejumlah kemungkinan terkait hubungan karakteristik informan dengan culture shock yang dialami dan upaya yang dilakukan untuk mengatasinya. Untuk itu, peneliti harus menemukan temuan yang dapat dijadikan kesimpulan nantinya apa sebenarnya yang berpengaruh pada culture shock yang mereka alami.
Tabel 2
Data Mahasiswa Minangkabau yang Menjadi Informan No. Nama Jenis
Kelamin (L/P)
Fakultas Angkatan Lama Menetap
Alamat
1 Salmi Hengki
L ISIPOL 2009 3 tahun Jl Wijaya
kesuma 2 M.Akmal
Nur
3 Winda Zulfi P Kesehatan Masyaraka t 209 3 tahun Jalan Dr. Sumarsono 33/25 4 Silmi Tresia P Ilmu Budaya
2010 2 tahun Jalan Jamin Ginting Gang Sarman No.7 5 Frezi
Widianing sih
P ISIPOL 2010 2 tahun Jalan Jamin
Ginting Gang Sarmin No. 45A 6 Gally Angga Ananta L Ilmu Budaya 2010 2 tahun Jalan Pembanguna n Gang Rejeki No.5B 7 Dilla Sepri Susanti
P ISIPOL 2011 1 tahun Jl Harmonika
no 70 P bulan 8 Putri Oktaviani P Kesehatan Masyaraka t 2011 1tahun Jl Zulkarnain No 16 9 Masria Umami P Kesehatan Masyaraka t
2011 1.5 tahun Jalan Prof. M. Yusuf No.15
10 Wahyu Eko Putra
L Ilmu
Budaya
2011 1.5 tahun Jalan Jamin ginting, Gang Kamboja No.27
Dan berikut hasil pengamatan dan wawancara dengan informan : Informan 1
Nama : Salmi Hengki
Usia : 21 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Fakultas : ISIPOL
Angkatan : 2009
Lama Menetap : 3 Tahun
Alamat Tempat Tinggal : Jl Bunga Wijaya Kesuma Pasar V Tanggal Wawancara : 24 september 2012
Salmi Hengki adalah informan yang pertama ditemui oleh peneliti yang sedang berada dirumah kontarakannya. Hengki adalah sosok yang bersahaja dan ramah ini terlihat dari raut wajah yang bersahabat dan cepat berinteraksi dengan lingkungan sekitar, terlihat ketika ia mengutarakan tentang karakter orang minang
“Satahu ki urang minag ko dikecekan kareh ndak loo doh, tapi urang minang ko lai capek baradaptasi jo urang lain atau jo lingkungannyo, dan labiah capek bersosialisasi, karakter urang minang ko labiah fleksibel”.
(Setahu ki orang minang dikatakan keras tidak juga,akan tetapi lebih cepat beradaptasi dengan orang lain atau dengan lingkungannya dan lebih cepat bersosialisasi, karakter orang minag lebih fleksibel).
Ketika pertama datang ke kota Medan Hengki tidak terlalu risih atau cemas jauh dari orang tua, karena ternyata dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas Hengki telah berpisah dengan orang tua dikarenakan sekolah yang bagus sangat jauh dari rumah, Hengki tinggal dibatujanjang kabupaten Solok dan ia bersekolah di kota Solok.
“Dek dari sekolah SD wk lah jauh juo dari urang gaek, SMP jo SMA, jadi ndak terlalu asing bagi wk untuak masuak sebuah lingkungan yang baru”
(Karena dari sekolah SD saya telah jauh dari rang tua, SMP dan SMA, jadi tidak terlalu asing bagi saya ketika masuk sebuah lingkungan baru).
Dalam hal bergaul Hengki ternyata tidak mempermasalahkan perbedaan etnis atau agama ia beranggapan etnis dan keyakinan adalah hak persoanal seseorang dan tidak terlalu penting untuk menjadi sebuah permasalahan, akan tetapi sebelum pergi ke kota Medan sempat terpikirkan bahwa orang medan adalah orang yang kasar dan dengan watak yang keras.
“Lai ado awak bagaul jo etnis lain katiko dikampus, jo urang batak, melayu, india bahkan cino pokoknyo sadoalahnyo, Cuma dek lingkungan wak urang padang mako labiah dakek wak ka urang padang. Dalam gambaran wk medan tu kota yang kareh dan urangnyo urang batak dan wk anggap urang batak ko urang nan terkenal kareh mangeceknyo, sebab waktu wk sma dulu ado urang batak dan urang batak tu kareh bukan dek kceknyo se, tapi prinsipnyo kareh juo”.
(saya juga bergaul dengan etnis lain ketika berada dikampus, sperti orang batak, melayu,india,cina intinya semua orang, akan tetapi karena dilingkungan tempat tinggal lebih banyak orang padang karena lebih dekat dengan orang padang.Dalam gambaran saya medan kota yang kers dan terkenal dengan orang batak seperti berbicara dengan nada yang tinggi dan prinsipel).
Banyak hal baru yang ditemui Hengki dikota Medan terlebih karena adanya perbedaan yang sangat jauh antara daerah asal dan Medan, ada beberapa kebiasaan yang tidak ia lihat ketika dikota Medan khususnya kepada hal yang bersifat pribadi, permaslahan pribadi lebih cepat menyebar ketika berada didaerah asal dibandingkan dimedan tuturnya.
“Perbedaan di kampuang jo medan, ko kalau dikampuang masalah-masalah pribadi lebih capek urang tahu sebab dikampuang tu buruak elok wak langsuang capek tahu urang mungkin dek wilayah nan ketek, beda jo medan ko individualisme urang labiah tinggi jadi urang dimedan ko ndak ka mau tahu jo masalah wak, paling katiko wak bagabuang dalam suatu komunitas atau kelompok lah urang mangko katahu, itu pun ndak kasado urang lo bisa tahu”.
(Perbedaan dikampung dan medan, jika dikampung masalah-masalah pribadi lebih cepat orang mengetahuinya, sebab dikampung baik dan salah langsung akan diketahui mungkin karena wilayah yang kecil, berbeda dengan medan individualisme lebih tinngi jadi orang medan tidak akan ikut mau tahu dengan masalah pribadi saya, kecuali ketika saya bergabung dalam suatu komunitas atau kelompok orang lain akan mengetahui permasalahan
saya , dan tidak semua orang didalam komunitas akan mengetahui hanya orang-orang terdekat).
Setiap individu pasti akan selalu memiliki permasalahan, apalagi ketika berada jauh dari keluarga dan teman dekat, begitu hal dengan Hengki. Ia juga memiliki masalah selama menjalani pendidikan dimedan, akan tetapi ia memiliki solusi ketika permasalahan tersebut muncul, seperti permasalahan dalam kuliah, cara bergaul dan bertanya kepada senior menurut ia adalah cara mengatasinya.
“Misalnyo waktu tu masalah makan, karano ado perkumpulan minang disitulah awak banyak batanyo dima tampek makan, tampek bali buku selain tu ado dari senior-senior di kampus atau di kost yang maagiah awak arahan.pokoknyo sadoalah tentang medan ko wak tahu dari komunitas mahasiswa minang dan senioren awak dikampus”.
(Seperti masalah makan, karena da perkumpulan mahasiswa minag disanalah saya banayak bertanya dimana tempat makan, tempat beli buku murah, selai itu juga bertanya kepda senior-senior dikampus atau kost yang memberi saya arahan)
Banyak hal baru yang menjadi pembelajaran bagi Hengki. Ia memaparkan mengahargai orang lain sangat penting jika kita juga ingin dihormati, begitulah cara ia mengatasi perbedaan budaya disekitar lingkungan baru.
“Pelajaran yang awak dapek, awak jadi lebih menghargai urang lain, sebab awak basobok jo urang-urang nan berbeda, dari situ awak bisa mancaliak baa gaya hidup urang, bantuaknyo ado alasan masing-masing setiap urang tu, baa kok anyo bersikap seperti nan awak caliak, dan katiko awak hargai urang lain, mako disitu lah awak akan dihargai urang lain disitulah muncul jiwa-jiwa toleransi awak terhadap urang lain”.
(Pelajaran yang saya dapatkan, syaa lebih menghargai orang lain, sebab saya berjumpa dengan orang yang berbeda, dari situ saya bisa melihat bagaimana gaya hidup orang lain, sepertinya ada alasan tersendiri mengapa orang bersikap seperti yang terlihat, dan karena itu saya menghargai orang lain, agar orang lain menghargai kita dan dari situlah muncul sikap toleransi terhadap perbedaan dengan orang lain).
Dipenghujung pertemuan Hengki memberikan saran jika ingin melanjutkan pendidikan diluar sumatera barat khususnya di kota Medan
“Yang partamo jaan malu-malu batanyo, jaan jadi uarang yang sok tahu wak katiko dinagari urang ko, apo lai nan baru bapisah jo urang gaek, itu biasonyo urang tu maraso masih barado dirumah dan itu sangat babahayo sebab ndak ado jaminan apo yang wak inginkan bisa terwujud.intinyo jaan pernah manyamoan diri dirumah dan dirantau urang ko”.
(Yang pertama jangan malu-malu bertanya, jangan jadi orang yang sok tahu kita ketika ditempat lain, apalagi berpisah dengan orang tua, biasanya orang masih merasa masih bagaikan dirumah sendiri dan itu sangat berbahaya sebab tidak ada jaminan apa yang kita
inginkan akan semua terwujud. Intinya jangan pernah menyamakan dirumah dan di negeri orang).
Kesimpulan
Hengki mengalami culture yang tidak terlalu sulit, karena ia telah terbiasa dengan lingkungan baru dan cepat beradaptasi, akan tetapi kebiasaan yang menyangkut persoalan masalah pribadi sangat berbanding terbalik antara masyarakat kota medan dan didaerah asal, dengan kepribadian yang terbuka hengki lebih cepat menerima kebudayaan dari orang lain dan penghargaan terhadap perbedaan budaya-budaya lain menjadi kunci baginya ketika menghadapi karakter orang-orang dikota Medan. Komunikasi antar budaya menjadi peranan bagi hengki untuk memahami makna-makna dibalik perkataan yang keras seperti streotype yang telah terbayangkan ketika belum mencapai kota Medan.
Informan 1
Nama : M. Akmal Nur
Usia : 21 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Fakultas : ISIPOL
Angkatan : 2009
Lama Menetap : 3 Tahun
Alamat Tempat Tinggal : Jl dr Mansyur Tanggal Wawancara : 28 september 2012
Informan berikut adalah seorang anak nagari minangkabau yang bersal dari daerah Kamang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Peneliti menemui Akmal atau lebih dikenal oleh teman-teman sejawatnya dengan panggilan datuak, di salah satu toko retail outdoor yang bernama eiger, Akmal juga seorang petualang yang sangat menggemari dunia outdoor atau pecinta alam ia tergabung didalam salah satu mahasiswa pecinta alam (mapala) unit kegiatan
mahasiswa Korps Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Sumatera Utara (KOMPAS USU). Peneliti langsung bertanya mengapa akmal dipanggil datuak, karena menerut dan sepengetahuan peneliti datuak adalah gelar ketua suku yang sangat bertuah didaerah minangkabau. dan akmal pun menjawab
“Waktu ado penyambutan mahasiswa baru dari komunitas atau organisasi urang minang, jadi disitu ado pemilihan datuak jo bundo, kebetulan lah awak nan tapiliah sajak itulah kanti-kanti maimbau awak datuak”
(Sewaktu ada penyambutan mahasiswa baru dari komunitas atau organisasi orang minang, jadi ketika dalam acara diadakan pemilihan datuak dan bundo, kebetulan saya yang terpilih sejak itulah teman-teman memanggil saya datuak)
Setelah mendengar jawaban tersebut agar lebih akrab peneliti memanggil akmal dengan datuak, informan tidak keberatan. Akmal dahulu sewaktu masa SMP dan SMA melalui massa di pondok Pesantern IV Angkek Canduang akan tetapi karena ada suatu permasalahan yang melibatkan akamal ia pindah sekolah ketika akan naik kelas tiga SMA, namun dasar agama cukup kuat tertanam dalam diri akmal.datuak berinteraksi seperti orang-orang biasa lainnya, ia sosok pribadi yang cukup terbuka terhadap lingkungan sekitar.
“Buliah di kecekan biaso-biasosenyo kebetulan pas baru bana tibo dimedan ko awak tingga samo mak tuo wak, jadi ndak kontras bana lah rasonyo dirumah jo dimedan, pas dikost patangtu interaksi ndak bitulah bana doh, sebab wak baduo se jo bang zulfikar nan muslim jadi sekedar say helo senyo,Cuma dek lah cukuik lamo cukuik akrab juo jadinyo tapi sabateh kawan se”
(Boleh dikatakan biasa-biasa saja, kebetulan pertama kali datang ke Medan saya tinggal untuk sementara dirumah tante, jadi tidak terasa perbedaan anatara dirumah dan dimedan, waktu kost tidak juga terlalu berinteraksi, seaba saya dan bag Zulfikar yang hanya
muslim jadi dengan penghuni kost lain hanya sekdar say hello, akan tetapi cukup akrab sebagai teman)
Perbedaan agama cukup menjadi masalah dan halangan ketika akmal berinteraksi ketika baru tinggal dirumah kost-kosan, sampai akhirnya akmal sekarang tinggal dan sekaligus bekerja ditoko retail outdoor.
“Partamokan ado senior wak di KOMPAS USU, sebelum tu wak alun tahu jo senior tu lai, wak masuak kompas awal 2011, disitulah wak kenal jo pemilik kadai ko, tu kalo ndak salah sabulan sudatu di telpon no wak, keceknyo dek ndak ado nan manjago kadai ko ditawarannyo wak, tu wak pikia-pikia ado untuangnyo, selain wak bagaji, tampek tingga gae perai ndak mambayia, tu nan pasti wak lai suko pulo manggaleh”.
(Pertama ada senior saya di KOMPAS USU, sebelumnya saya belum tahu dengan senior. Saya masuk KOMPAS USU awal tahun 2011, disanalah saya kenal dengan pemilik toko ini, kalo tidak salah satu bulan datang panggilan dan ditawari untuk menjaga toko dan sekalian tinngal disini lumayan tempat tinggal gratis,dan saya juga suka berdagang).
Setelah cukup bercerita mengenai kegiatan sehari-hari, informan tidak terganngu menjalani dua kegiatan, selain kuliah dan berdagang, selanjutnya peneliti mulai membuat perbandingan atau perbedaan pada tahap dirumah dan dimedan, dan berikut penuturan dari informan. Serta tanggapan akmal ketika melihat cara bergaul anak muda dikota Medan.
“Baa ka baa lasuah dikampuang, tapi disiko namonyo manusia awak sabagai urang minang marantau istilahnyo untuak anak mudo harago mati kalau ndak ado usaho dikampuang ancak marantau wak lai. Jadi untuangnyo disiko manambah wawasan wak yang partamo pasti kuliah, karajo dan dapek pangalaman nan baru”
(Bagaimanapun dikampung lebih baik, tapi disini namanya manusia sebagai orang minag marantau istilahnya bagi anak muda adalah harga mati jika tidak ada usaha dikampung lebih baik saya merantau. Jadi kelebihannya pertama menambah wawasan dari kuliah dan kerja mendapat pengalaman baru)
“Kalau dari segi pergaulan ndak lo doh, sebab dulu wak lai juo pai marantau ka kota Gadang atau metro politan Cuma tu lah walaupun kota gadang tapi insfrasrukturnyo banyak nan ndak layak pakai caliak lah angkotnyo jalannyo bedo jauh lah jo bukittinggi”.
(Dari segi pergaulan tidak terlalu mengejutkan, sebab dahulu saya juga telah merantau ke kota besar atau metropolitan, Cuma terkejut melihat angkutan umum dan jalan yang semberaut dikota medan)
Dalam perkulihaan ternyata informan tidak terlalu mengalami kendala, akan tetapi ia menyesalkan tidak adanya keahlian yang lebih spesifik ketika tamat dari FISIP, berikut ini pendapat akamal.
“Ado tapi ndak bitulah bana doh,Cumo tu lah kalo awak anak fisip ko memang harus berorganisasi kalo maarokkan dari dosen se ndak kaado dohh, mencari keahlian wak yang lain memang harus diorganisasi, po lai nantik untuak dunia kerja fisip ko masih ngambang, di awang-awang mangko no wak butuh keahlian lain untuak manunjang wak nantik mode awak jurusan administrasi negara kan ndak harus karajo dipemerintahan mungkin se diwirausaha”.
(Tidak ada keahlian yang menunjang ketika tamat dari FISIPOL kalau diharapkan pekerjaan dari pemerintah itu mustahil mungkin wirausaha juga jalan yang cukup bagus)
Masuk kedalam multikultural, kebiasaan-kebiaasaan masyarakat kota Medan akmal memiliki statement tersendiri dan kesulitan bahasa juga dialami oleh akmal.
“Kalau bahaso lai lah tapi ndak lamo bana lo doh, kalo soal budaya dikota medan ko ndak jaleh se, istilahnyo kama angin baambuih kakian lo baliang-baliang baputa, apo nan trend itu lo diikuti ado nan iko, iko lo baikuikan, ado nan baru langsuang lo batuka,
kebanyakan ndak baprinsip lah mulai dari bapakain sampai caro mangecek, kini k-pop bisuak ntah apo lolai. Mungkin dek dimedan ko majemuk multi etnis multi agamo jadi panutan tu ndak jaleh se, kalau dikampuang kan ado datuak atau nan tuo jaleh ka jadi panutan.”
(Ada kendala bahasa, ketika diawal-awal berkomunikasi, namun kendala tersebut dapat diatasi dalm waktu yang tidak lama, budaya kota medan tidak jelas, istilahnya kemana angin berhembus kesana arah baling-baling menghadap, setiap yang baru selalu ditiru dan kebanyakan tidak berprinsip mulai dari cara berpakain, cara berbicara, sekarang k-pop (korea pop) besaok natah apa lagi, mungkin karena medan majemuk multi etnis, multi agama, jadi tidak ada yang menjadi panutan, beda dengan di kampung ada panutan seperti datuak atau orang tua pastinya).
Akamal sosok yang berprinsip dan cukup teguh memegang sandi-sandi nilai budaya minangkabau tercermin dari filosofi hidup yang dipegangnya, banyak hal-hal yang membuat peneliti cukup terkejut dengan peneturan akmal yang dalam maknanya.
”Dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang, ingek dahan kamaimpok ingek ranting ka malantiang, kalau sasek diujuang jalan babaliak kapangka jalan”.mungkin tu bahubuangan jo kahidupan awak jo agamo yang awak jalani,seandainyo awak baa-baa, awak lupo atau cilako jo kehidupan wak surang pasti karano awak surang bukan karano urang lain nan maksud wak tu kalo wak lah terlalu jauh maninggaan agamo ingek-ingek lah baliak, baliak lah kapangka.
(Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, ingat dahan akan menghimpit, ingat ranting akan terpelintir, mungkin itu berhubungan dengan kehidupan yang saya jalani, seandainya ada masalah atau saya lupa dan celaka, maka pasti karena ulah diri sendiri,
maksudnya mungkin kita terlalu jauh dari agama , maka ingat kembali balik lah keasal yaitu agama).
Pemahaman yang telah didapatkan oleh akmal telah menjadi bekal untuk menempuh pendidikan dan jauh dari orang tua, rasa horma dan harga menghargai menjadi kunci utama dalam menempuh saat-saat melanjutkan hidup di negeri orang. Peneliti menanyakan tentang pemahaman atau pelajaran dan pengalaman yang telah didapatkan oleh akmal
“Ado da, mode ko wak pahami da ibaratnyo” “elok-elok jo tampuo basarang randah”..
“Tampuo tu labah, biasonyo labah tu kan basarang tinggi-tinggi bantuak diateh batang karambia, kalaunyo basarang randah pasti ado panjagonyo dibawah kok ula nan basarang atau pinyangek nan baracun, artinyo dalam wak bersosialisasi di masyarakat yaitu urang nan marandah bukan urang sok tu pasti ado kalabihannyo ado palinduangnyo, ado ilmunyo, ilmu disiko ado ilmu agamonyo, walupun wak sapele mancaliak urang tu tapi kalu dimato tuhan tinggi derajat urang tu. Ndak baa wak hormat ka urang mode tu dari pado urang nan dari lua tampang covernyo rancak tapi nyo sombong”. “salah urang mangko salah awak, salah awak mangko nampak salah urang, dek awak nan salah mangko nampak urang tu nan salah”.
(Maksudnya adalah dimana tawon bersarang rendah maka dibawahnya pasti ada penjaganya ada ular atau binatang beracun lainya, makna di balik itu adalah tidak semua orang yang merendah diri adalah orang yang rendah, dibalik kerendahannya pasti ia memiliki pegangan ilmu pengetahuan serta pengetahuan agama yang baik, ketika kita melihat kesalahan orang alain, lihatlah terlebih dahulu kesalahan kita, maka kesalahan orang lain