Hasil pengamatan jumlah serangga yang tertangkap menggunakan 3 jenis perangkap pada lahan pertanaman bawang merah (A. ascalonicum L.) dengan sprinkler adalah sebanyak 1847 ekor yang terdiri dari 7 ordo, dan 20 famili. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. Selanjutnya status fungsi dari serangga-serangga tersebut ada yang berfungsi sebagai hama, predator, parasitoid dan beberapa serangga yang tidak teridentifikasi status fungsinya.
Sebaliknya pada lahan pertanaman bawang merah yang tidak menggunakan sprinkler jumlah serangga yang tertangkap lebih banyak dari lahan yang menggunakan sprinkler yaitu sebanyak 2746 ekor terdiri dari 8 ordo, dan 18 famili dapat dilihat pada Tabel 1. Status fungsi dari serangga-serangga tersebut ada yang berfungsi sebagai hama, predator dan beberapa serangga yang tidak teridentifikasi status fungsinya. Tidak ditemukan adanya serangga dengan status fungsi parasitoid di lahan yang tidak menggunakan sprinkler.
19
19
Tabel 1. Jumlah dan status fungsi serangga yang tertangkap pada lahan dengan sprinkler dan tanpa sprinkler.
Keterangan: NI (Not Identified) = Tidak diketahui status fungsinya.
I = Pengamatan pertama, II = Pengamatan kedua, III = Pengamatan ketiga, IV = Pengamatan keempat, dan V = Pengamatan kelima.
Klasifikasi Dengan Sprinkler Tanpa Sprinkler Status Fungsi
Ordo Famili I II III IV V Total I II III IV V Total
20
Apabila dibandingkan jumlah serangga pada lahan pertanaman bawang merah yang menggunakan sprinkler lebih rendah yaitu 1847 ekor sedangkan pada lahan pertanaman tanpa sprinkler sebanyak 2746 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan sprinkler dapat mempengaruhi jumlah populasi serangga yang masuk kedalam areal pertanaman. Teknik siraman sprinkler menyebabkan perubahan kelembaban sehingga populasi serangga terganggu dimana serangga lebih menyukai habitat yang tidak menggunakan alat siraman sprinkler. Menurut Mustafa (2016) faktor keadaan lingkungan yang setiap waktu dapat berubah-ubah baik secara mendadak ataupun perlahan-lahan, sering kali menghambat populasi serangga. Penggunaan sprinkler dapat merubah kondisi kelembaban ekosistem sekitarnya. Sejati (2012) menyatakan bahwa kelembaban tanah, udara, dan ekosistem tempat hidup serangga merupakan faktor penting yang akan mempengaruhi penyebaran, perilaku dan perkembangan serangga.
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa status fungsi serangga pada pertanaman bawang merah dengan menggunakan sprinkler sangat beragam. Terdapat 13 famili serangga yang berfungsi sebagai hama, 3 famili serangga berfungsi sebagai parasitoid dan 1 famili serangga berfungsi sebagai predator serta 2 famili serangga yang tidak berpengaruh (tidak teridentifikasi). Sedangkan pada pertanaman bawang merah tanpa menggunakan sprinkler status fungsi serangga yang didapatkan tidak begitu beragam antara lain 12 famili yang berfungsi sebagai hama, 3 famili serangga berfungsi sebagai predator dan 2 famili serangga tidak berpengaruh.
Pada pertanaman yang menggunakan sprinkler terdapat beberapa famili parasitoid antara lain Braconidae, Ichneumonidae dan Encyrtidae sedangkan yang
21
tidak menggunakan sprinkler tidak terdapat parasitoid sama sekali. Hal ini disebabkan oleh penggunaan sprinkler menyebabkan pestisida yang diaplikasikan segera tercuci oleh air dari sprinkler dan menjadikan kondisi ekosistem disekitarnya lebih disukai oleh beberapa serangga khususnya parasitoid. Dalam penelitiannya Hendrival dan Abdul (2017) menyatakan bahwa aplikasi insektisida selama pertumbuhan tanaman kedelai berpengaruh buruk terhadap komposisi Hymenoptera parasitoid.
Dari kedua petak lahan pertanaman bawang merah yang menggunakan sprinkler dan tidak menggunakan sprinkler dapat disimpulkan status fungsi serangga yang paling banyak ditemukan adalah hama. Hal ini dikarenakan hanya terdapat tanaman bawang merah di lapangan, teknik monokultur ini mempercepat perkembangan populasi hama pada pertanaman. Sesuai dengan pernyataan Susniahti et al. (2005) menyataan pada ekosistem pertanian, terutama yang monokultur makanan serangga relatif tidak terbatas sehingga populasi hama bertambah dengan cepat tanpa dapat diimbangi oleh musuh alaminya. Dan akibat dari jumlah serangga hama yang lebih banyak adalah kerusakan yang merugikan secara ekonomi.
Areal pertanaman tanpa sprinkler memiliki jumlah populasi hama yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertanaman yang menggunakan sprinkler. Hal ini disebabkan oleh populasi musuh alami dan parasitoid yang jauh lebih rendah daripada populasi hama. Salah satu faktor fisik seperti penggunaan sprinkler dapat mempengaruhi populasi serangga. Menurut Agustinawati et al. (2016)perubahan populasi serangga hama dan musuh alami dapat dipengaruhi oleh faktor makanan, fisik dan hayati yang mempengaruhi semua kegiatan serangga. Ketiga faktor ini
22
bekerja dan bertindak bersama-sama dalam mempengaruhi kehidupan serangga (Mustafa, 2016).
Dari Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa hama yang mendominasi pada lahan yang menggunakan sprinkler adalah Ordo Homoptera yaitu Famili Aphididae. Pada setiap pengamatan jumlah serangga berturut-turut adalah 12, 63, 104, 120 dan 21, dengan total yang tertangkap adalah 320 ekor.
Sedangkan hama dominan yang tertangkap pada pertanaman bawang merah tanpa sprinkler adalah Ordo Homoptera yaitu Famili Aphididae dengan jumlah serangga tertangkap pada setiap pengamatan berturut-turut adalah 94, 73, 120, 182 dan 117. Total keseluruhan Aphididae yang tertangkap adalah 586 ekor.
Dari kedua lahan pertanaman bawang merah di desa Paropo ditemukan hama yang mendominasi yaitu Ordo Homoptera, Famili Aphididae. Jumlah populasi hama ini pada lahan dengan sprinkler yaitu 320 lebih rendah dari yang tertangkap pada lahan tanpa sprinkler yaitu 586. Penggunaan sprinkler menekan persebaran hama melalui percikan air yang keluar dari sprinkler. Berdasarkan Inayati dan Marwoto (2014) rata-rata intensitas serangan kutu kebul (Bemisia tabaci) pada petak dengan pengairan sprinkler lebih rendah dibanding petak pengairan dengan irigasi. Hal ini dikarenakan percikan air dari sprinkler menyebabkan kutu kebul tidak dapat bertahan lama pada daun.
Nilai kerapatan mutlak (KM), kerapatan relatif (KR), frekuensi mutlak (FM), frekuensi relatif (FR) pada lahan dengan sprinkler dan tanpa sprinkler.
Hasil pengamatan terhadap nilai kerapatan mutlak (KM) pada lahan dengan sprinkler yaitu 1847, dengan nilai kerapatan mutlak tertinggi pada Hymenoptera (Formicidae) yaitu 376 dengan kerapatan relatif (KR) 20,357% dan nilai kerapatan mutlak terendah pada Hymenoptera (Ichneumonidae) yaitu 1
23
dengan nilai kerapatan relatif (KR) 0,054% (Tabel 2). Menurut Clarisa dan Hikmat (2016) kelimpahan tertinggi serangga menunjukkan bahwa spesies ini memiliki populasi tertinggi dibandingkan spesies lainnya.
Tabel 2. Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak, frekuensi relatif serangga yang tertangkap pada lahan dengan sprinkler
Klasifikasi
Pada lahan dengan sprinkler frekuensi mutlak tertinggi yaitu Diptera (Tephritidae, Chironomidae, Cecidmyiidae, Tachinidae dan Muscidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera (Aradidae) dan Homoptera (Cicadellidae dan Aphididae) masing-masing 5 dengan nilai frekuensi relatif (FR) 6,410 %.
Sedangkan nilai FM terendah yaitu Hymenoptera (Ichneumonidae dan Encyrtidae) masing-masing sebanyak 1 dengan nilai FR 1,282% (Tabel 2).
Frekuensi mutlak menunjukkan jumlah kemunculan serangga dalam suatu areal. Keberadaan serangga dalam suatu ekosistem dapat berubah-ubah. Gulo et
24
al. (2014) menyatakan ketersediaan sumber nutrisi bagi serangga, juga kondisi lingkungan atau kelembaban yang sesuai dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan serangga tersebut.
Selanjutnya nilai kerapatan mutlak (KM) pada lahan tanpa sprinkler yaitu 2746, dengan nilai kerapatan mutlak tertinggi pada Homoptera (Aphididae) yaitu 586 dengan kerapatan relatif (KR) 21,340% dan nilai kerapatan mutlak terendah pada Lepidoptera (Arctiidae, Pieridae dan Nymphalidae) masing-masing 3 dengan nilai kerapatan relatif (KR) 0,109% selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Rosalyn (2007) menyatakan bahwa besarnya nilai KM menunjukkan banyaknya jumlah dan jenis serangga yang terdapat dalam habitat. Semakin banyak jumlah dan jenis serangga yang terdapat dalam habitat.
Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai frekuensi mutlak (FM) tertinggi yaitu Diptera (Tephritidae, Chironomidae, Agromyzidae, Cecidmyiidae, Tachinidae dan Muscidae), Hymenoptera (Formicidae), Hemiptera (Aradidae) dan Homoptera (Cicadellidae dan Aphididae) masing-masing 5 dengan nilai frekuensi relatif 6,579% . Sedangkan nilai FM terendah yaitu Lepidoptera (Arctiidae) yaitu 1 dengan nilai frekuensi relatif (FR) 1,316%. Keberadaan dan kepadatan populasi arthropoda berhubungan erat dengan faktor lingkungannya (Heriza et al., 2016),
25
Tabel 3. Nilai kerapatan mutlak, kerapatan relatif, frekuensi mutlak, frekuensi relatif serangga yang tertangkap pada lahan tanpa sprinkler
Klasifikasi
Nilai indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman jenis dan indeks kemerataan jenis serangga pada lahan sprinkler dan tanpa sprinkler.
Adapun hasil pengamatan nilai indeks kekayaan jenis (R) sesuai indeks Margalef pada lahan pertanaman bawang merah dengan sprinkler yaitu 242,644 sedangkan pada lahan tanpa sprinkler yaitu 344,409 (Tabel 4). Hal ini menunjukkan bahwa kondisi ekosistem pada lahan tanpa sprinkler memiliki indeks kekayaan jenis yang lebih tinggi dari pada lahan yang menggunakan sprinkler. Keadaan ekosistem yang terlalu lembab dapat mempengaruhi keberadaan serangga dan pergerakannya. Menurut Pradhana et al. (2014) Nilai tingkat kekayaan jenis ini juga dipengaruhi oleh keadaan ekosistem pertanian yang sangat bersifat homogen. Keadaan agroekosistem tidak stabil dan selalu berubah karena tindakan manusia untuk mengolah dan mengelola ekosistem untuk
26
kepentingannya. Dalam keadaan demikian di ekosistem sangat mudah terjadi peningkatan populasi hama dalam Saragih (2008).
Pada Tabel 4 dapat dilihat nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) di lahan pertanaman bawang dengan sprinkler yaitu 2,286 dan pada lahan tanpa sprinkler yaitu 2,243. Sesuai skala indeks keanekaragaman Shanon-Weiner kedua nilai tersebut termasuk dalam kategori sedang. Menurut Wardani et al. (2015) keanekaragaman sedang menunjukkan bahwa kestabilan ekosistem tergolong sedang. Tingkat kestabilan ekosistem dipengaruhi oleh kompleksitas biota yang menyusun rantai makanan maupun jaring-jaring makanan dalam suatu ekosistem.
Indeks kemerataan jenis pada lahan pertanaman dengan sprinkler yaitu 0,410 lebih rendah daripada lahan tanpa sprinkler sebanyak 0,931. Hal ini menunjukkan kondisi kelembaban suatu lingkungan abiotik akan mempengaruhi kemerataan jenis serangga dalam lingkungan tersebut. Kondisi yang berubah-ubah menyebabkan pergerakan serangga tidak merata (Tabel 4).
Tabel 4. Nilai indeks kekayaan jenis, indeks keanekaragaman jenis dan indeks kemerataan jenis yang tertangkap pada lahan sprinkler dan tanpa sprinkler.
Peubah Amatan Perlakuan
Sprinkler Non Sprinkler
Indeks Kekayaan Jenis (R) 242,644 344,409
Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) 2,286 2,243
Indeks Kemerataan Jenis (E) 0,410 0,931
27
Keanekaragaman Serangga Pada Lahan yang Menggunakan Sprinkler dan Tanpa Sprinkler
Pada lahan pertanaman bawang merah yang menggunakan sprinkler ditemukan berbagai jenis serangga dengan status fungsi yang berbeda yaitu hama, parasitoid, predator dan serangga biasa, sedangkan pada lahan yang tidak menggunakan sprinkler tidak adanya di temukan serangga dengan status fungsi parasitoid. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan sprinkler mampu meningkatkan kehadiran parasitoid. Menurut Rizali et al. (2002) populasi setiap organisme pada ekosistem tidak pernah sama dari waktu kewaktu lainnya, tetapi naik turun. Demikian pula ekosistem yang terbentuk dari populasi serta lingkungan fisiknya senantiasa berubah dan bertumbuh sepanjang waktu.
Serangga dari ordo Homoptera yaitu famili Aphididae merupakan hama yang paling dominan di kedua petak lahan pengamatan yang menggunakan sprinkler maupun tidak. Masing-masing lahan memiliki jumlah yang berbeda yaitu 320 pada lahan sprinkler dan 586 pada lahan tanpa sprinkler. Populasi hama famili Aphididae ini lebih tinggi pada lahan tanpa sprinkler. Menurut penelitian Inayati dan Marwoto (2014) rata-rata intensitas serangan kutu kebul pada petak dengan pengairan sprinkler lebih rendah dibanding petak pengairan dengan irigasi. Hal ini dikarenakan percikan air dari sprinkler menyebabkan kutu kebul tidak dapat bertahan lama pada daun.
Kemerataan serangga pada kedua petak pertanaman bawang merah di desa Paropo yang menggunakan sprinkler dan tidak menggunakan sprinkler tergolong cukup melimpah. Hal ini menggambarkan keadaan ekosistem diareal pertanaman bawang merah di desa Paropo sudah baik. Odum (1993) menyatakan bahwa nilai kemerataan (E) berkisar antara 0 dan 1 yang mana nilai 1 menggambarkan suatu
28
keadaan dimana semua spesies cukup melimpah. Makin tinggi nilai indeks kemerataan E keadaan ekosistem akan lebih baik. Serangga sangat dibutukan dalam pertumbuhan tanaman bawang. Penyerbukan oleh serangga dibutuhkan banyak jenis tanaman yang menyerbuk silang terutama produksi benih hibrida seperti bawang merah (Sajjad et al., 2008).
Indeks keanekaragaman serangga pada pertanaman bawang merah di desa Paropo dengan menggunakan sprinkler dan yang tidak menggunakan sprinkler keduanya tergolong dalam kategori sedang. Kategori demikian menunjukkan bahwa ekosistem berada pada keadaan cukup seimbang, sehingga penggunaan sprinkler tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap indeks keanekaragaman serangga hal ini sesuai dengan literatur Mustafa (2016), ekosistem yang alami memiliki keanekaragaman yang tinggi dibandingkan ekosistem pertanian. Indeks keanekaragaman cenderung tinggi pada komunitas yang lebih lama dan cenderung rendah pada komunitas yang baru dibentuk.
Semakin heterogen suatu lingkungan fisik, maka semakin kompleks komunitas fauna disuatu tempat tersebut dan semakin tinggi keragaman jenisnya.Disamping itu umur tanaman pada kedua areal tersebut tidak berbeda jauh, sehingga hal ini menyebabkan kondisi kedua areal yang diperbandingkan relatif sama Tambunan et al. (2013).
29