Hasil pengamatan menunjukkan, terdapat interaksi antara perlakuan amoniasi dengan penambahan urea dan fermentasi dengan penambahan EM4 terhadap kandungan bahan kering substrat. Rataan kandungan bahan kering daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1.Rataan kandungan bahan kering daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4.
EM4(B)
Urea (A)
Rataan
3% (1) 4% (2) 5% (3)
2%(1) 21.96cd 23.54ab 20.83d 22.11
4% (2) 22.82bc 23.81ab 24.89a 23.84
Rataan 22.39 23.68 22.86
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjuk berbeda nyata (P<0,05)
Dari Tabel di atas terlihat bahwa kandungan bahan kering tertinggi terdapat pada dosis penambahan urea 5% dan EM4 4%, sedangkan kandungan bahan kering terendah terdapat pada dosis penambahan urea 5% dan EM4 2%. Pada penambahan urea 3% dan 4%, peningkatan dosis penambahan EM4 tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kandungan bahan kering substrat, namun peningkatan dosis EM4 pada tingkat pemberian urea 5% secara nyata (P<0,05) dapat mempertahankan kandungan bahan kering substrat.
Peningkatan level penggunan urea selama proses amoniasi menyebabkan terlarutnya bahan-bahan organik yang merupakan bagian dari bahan kering substrat, sehingga terjadi penurunan persentase bahan kering daun dan pelepah sawit.
Penurunan bahan kering juga disebabkan adanya penambahan air pada proses pelarutan urea dan sifat urea yang higroskopis (Jackson, 1977, Fardiaz, 1983 dan Imsya, 2006). Nurhaita dan Ruswendi (2012) melaporkan, perlakuan amoniasi dan silase secara nyata menurunkan kandungan bahan kering sebesar 13%, karena
terlarutnya sebagian fraksi yang soluble akibat terjadinya reaksi kimia pada proses amoniasi dan terjadinya effluent lose pada metabolisme sel selama proses ensilase.
Kandungan Protein Kasar
Kandungan protein kasar substrat menurun nyata (P<0,05) seiring dengan peningkatan dosis urea pada proses amoniasi, namun penambahan dosis EM4 tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kandungan protein kasar substrat (Tabel 2).
Rataan kandungan protein kasar daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rataan kandungan protein kasar daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4.
EM4 (B)
Urea (A)
Rataan
3% (1) 4% (2) 5% (3)
2%(1) 18.12 15.10 8.00 13.74
4% (2) 18.39 15.07 9.88 14.45
Rataan 18.26a 15.09b 8.94c
Keterangan : Superskrip yang berbeda dalam baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)
Hasil pengamatan di atas menunjukkan bahwa pemberian urea mengikuti pola kuadratik, dengan penambahan urea optimal 3%. Pemberian urea melebihi 3%
mulai menurunkan kandungan protein, diduga karena kemampuan fiksasi N ke dalam jaringan tanaman mulai menurun karena terjadi kejenuhan. Tingginya penggunaan urea juga dapat menjadi racun bagi mikroba selama proses fermentasi berlangsung.
Hal ini mengakibatkan turunnya populasi dan aktivitas mikroba yang berdampak pada turunnya kandungan protein mikroba dan aktivitas degradasi substrat (Imsya, 2006 dan Nurhaita dan Ruswendi, 2012).
Kandungan Serat Kasar
Hasil pengamatan menunjukkan, peningkatan dosis urea dan EM4 pada daun dan pelepah sawit belum mampu menurunkan kandungan serat kasar secara nyata (P<0,05). Namun demikian, penambahan urea 4% (A2) pada substrat memberikan
hasil terbaik terhadap degradasi serat kasar (Tabel 3). Rataan kandungan serat kasar daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rataan kandungan serat kasar daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4.
EM4 (B)
Urea (A)
Rataan
3% (1) 4% (2) 5% (3)
2%(1) 20.50 17.41 19.94 19.29
4% (2) 18.42 17.94 18.71 18.36
Rataan 19.46 17.68 19.33
Penurunan kandungan serat kasar pada perlakuan A2 kemungkinan disebabkan struktur serat kasar substrat yang telah relatif renggang, sehingga memudahkan penetrasi enzim selulase ke dalam substrat. Proses amoniasi berfungsi untuk merenggangkan ikatan serat dan memutuskan ikatan selulosa dengan lignin kemudian dapat didegradasi lebih lanjut dengan fermentasi (Komar, 1984). Namun demikian, peningkatan dosis urea hingga 5% justru menurunkan kemampuan degradasi serat kasar, diduga karena peningkatan dosis urea tidak seimbang dengan tersedianya sumber energi terlarut bagi mikroba sehingga populasi mikroba turun akibat keracunan amonia yang berdampak pada menurunnya aktivitas enzim selulase (Imsya, 2006).
Kandungan Abu
Wibowo (2010) menyatakan, kandungan abu umumnya berbanding lurus dengan kadar serat kasar suatu bahan pakan, karena dinding sel tanaman tersusun oleh sejumlah mineral, yang dalam analisis proksimat dibaca sebagai kadar abu.
Rataan kandungan serat kasar daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4 dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan kandungan abu daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4.
EM4 (B)
Urea (A)
Rataan
3% (1) 4% (2) 5% (3)
2%(1) 11.94 14.72 12.73 13.13
4% (2) 12.45 12.66 12.91 12.69
Rataan 12.19 13.69 12.82
Dari segi nutrisi kandungan abu tidak begitu penting, namun dalam analisis proksimat data abu diperlukan untuk menghitung atau mengukur nilai BETN (bahan ekstrak tanpa N)( Pond et al., 1995).
Koefisien Cerna In Vitro
Hasil pengamatan memperlihatkan, penambahan dosis urea hingga 5% secara nyata (P<0,05) meningkatkan koefisien cerna bahan kering (KCBK) dan bahan organik (KCBO) substrat daun dan pelepah sawit (Tabel 5). Rataan kofisien cerna in vitro bahan kering dan bahan organik daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4 dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Rataan KCBK dan KCBO in vitro daun dan pelepah sawit yang diamoniasi dan difermentasi menggunakan EM4.
Koefisien Cerna Bahan Kering
EM(B)
Urea (A)
Rataan
3% (1) 4% (2) 5% (3)
2%(1) 30.54 27.84 33.94 30.78
4%(2) 33.64 27.26 36.71 32.64
Rataan 32.11a 27.55b 35.46a
Koefisien Cerna Bahan Organik
EM4 (B)
Urea (A)
Rataan
3% (1) 4% (2) 5% (3)
2%(1) 38.74 34.00 40.65 37.79
4% (2) 40.34 33.39 45.01 39.58
Rataan 39.54ab 33.70b 42.83a
Keterangan: Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).
Peningkatan KCBK dan KCBO pada penambahan urea 5% diduga karena pemberian urea dalam dosis yang lebih tinggi mempercepat pemecahan dinding sel, sehingga akses mikroba dari EM4 terhadap bahan organik lebih mudah. Selain itu urea yang tersisa pada proses amoniasi campuran daun dan pelepah sawit menjadi sumber N yang diperlukan untuk pertumbuhan dan aktivitas mikroba rumen secara in vitro. Kondisi ini sesuai dengan pendapat Ismartoyo et al. (2011), yang menyatakan sumber energi untuk pertumbuhan mikroba pada saat fermentasi dapat berupa sumber karbon, nitrogen, mineral, protein, dan air. Sedangkan rendahnya KCBK dan KCBO pada perlakuan A2 kemungkinan berkaitan erat dengan masih tingginya kandungan serat kasar substrat akibat proses fermentasi yang kurang efektif.
Pada penelitian ini, nilai KCBO berbanding lurus dengan nilai KCBK karena bahan organik merupakan bagian dari bahan kering, sehingga meningkatnya nilai KCBO juga berkonstribusi terhadap peningkatan nilai KCBK. Hal ini sesuai dengan pendapat Parakkasi (1995) yang menyatakan, kecernaan bahan organik erat
kaitannya dengan kecernaan bahan kering, karena sebagian dari bahan kering terdiri atas bahan organik dan anorganik. Penurunan kecernaan bahan kering akan mengakibatkan menurunnya kecernaan bahan organik, demikian juga sebaliknya.Turunnya kandungan bahan organik pada proses fermentasi akibat terjadi perombakan bahan organik (terutama karbohidrat) yang dijadikan sebagai sumber energi bagi pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme (Fardiaz, 1992).
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan, peningkatan dosis urea dan EM4 pada pengolahan daun dan pelepah sawit secara amoniasi dan fermentasi belum mampu menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kadar protein kasar substrat sebagai indikator peningkatan kualitas bahan pakan. Peningkatan dosis urea bahkan menurunkan kandungan protein kasar secara nyata (P<0,05) akibat penurunan populasi dan aktivitas mikroba karena terjadinya keracunan amonia.
Sebaliknya, pemberian urea 5% pada perlakuan amoniasi campuran daun dan pelepah sawit mampu meningkatkan nilai KCBK dan KCBO, meskipun peningkatan dosis EM4 pada fermentasi campuran daun dan pelepah sawit amoniasi belum mampu meningkatkan nilai KCBK dan KCBO secara signifikan.
DAFTAR PUSTAKA
Abu Hassan, O, Ishida M, Shukri IM, and Tajuddin ZA. Oil-palm fronds as a roughage feed source for ruminants in Malasyia. 2013.
http://www.fao.org/prods/gap/database/gap/files/1280 OIL PALM FRONDS RUMINANTS IN MALASYIA.PDF. Diakses tanggal 22 Maret 2013. Pages.
1-8.
AOAC, 1990. Officials Methods of Analysis. 15th ed. Association of Official Analytic Chemists. Arlington, VA.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2012. Luas areal kelapa sawit menurut Provinsi di Indonesia.http://www.deptan.go.id/infoeksekutif/bun/BUNasem2012/Areal Kelapa Sawit.pdf. Diakses tanggal 6 Februari 2014.
Fardiaz S. 1992. Analisa Mikrobiologi Pangan. PT. Raja Grafindo Persada.
Kerjasama dengan Pusat Antar Universitas. Pangan dan Gizi IPB. Bogor.
Fardiaz, S. 1983. Fisiologi Fermentasi. Pusat Antar Universitas. Pangan dan Gizi.
IPB, Bogor.
Hastuti D, Shofia NA, dan Baginda IM. 2011. Pengaruh perlakuan teknologi amofer (amoniasi fermentasi) pada limbah tongkol jagung sebagai alternative pakan berkualitas ternak ruminansia. Jurnal Mediagro. Vol.7.No. 1: Hal 55-65.
Imsya A. 2006. Level penggunaan urea dalam amoniasi pelepah sawit terhadap kandungan bahan kering, protein kasar, neutral detergent fiber (NDF) dan Acid Detergent Fiber (ADF). Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Fakultas Pertanian Unsri, Indralaya. Hal: 226-234.
Ismartoyo, Syahriani S, Asmuddin N. 2011. Ilmu Nutrisi Ruminansia. Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Jackson MG. 1977. Rice straw as livestock feed. In: The World Animal Nutrition.
Selected articles from anim. Review. Food Agricultural Organization of the United Nation. Rome.
Komar. 1984. Teknologi Pengolahan Jerami Sebagai Makanan Ternak. Yayasan Dian Grahita, Bandung.
Nurhaita dan Ruswendi. 2012. Efek beberapa metoda pengolahan limbah dan kelapa sawit terhadap kandungan gizi dan kecernaan in vitro. Seminar Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi Mendukung Empat Sukses Kementrian Pertanian Prov. Bengkulu, Bengkulu. Balitbang Pertanian Kementrian Pertanian.
Parakkasi A. 1995. Ilmu Makanan dan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia, Jakarta.
Pond WG, Church DC, and Pond KR. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4th ed. John Willey and Sons, Canada.
Rahman MM, Lourenco M, Hassim HA, Boars JJP, Sonnenberg ASM, Cone JW, De Boever J, and Fievez V. 2011. Improving ruminal degradability of oil palm fronds using white rot fungi. Anim. Feed. Sci. and Tech. Vol. 169, Issues 3-4.
Pages. 157-166.
Sianipar J, Batubara LP dan Tarigan A. 2004. Analisa potensi ekonomi limbah dan hasil ikutan perkebunan kelapa sawit sebagai pakan kambing potong.
Prosiding Lokakarya Nasional Kambing Potong. Puslitbang Peternakan. Hal:
201-207.
Soejono M. 1996. Analisis dn Evaluasi Pakan. Petunjuk Laboratorium. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.
Steel RGD dan Torrie JH. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Terjemahan PT. Gramedia, Jakarta.
Tilley JMA and Terry RA. 1963. A two-stage technique for the in vitro digestion of forage crops. Volume 18, Issue 2;79-175.
Wibowo AH. 2010. Pendugaan nutrient dedak padi berdasarkan karakteristik sifat fisik. Tesis. Sekolah Pasca Sarjana Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
Draft artikel jurnal
EVALUASI NILAI NUTRISI DAN KECERNAAN IN VITRO PELEPAH