Umur
Jenis golongan konsumen madu MTI berdasarkan umur dapat dibagi menjadi 4, yaitu 1) golongan I, dengan kisaran 20 – 30 tahun, 2) golongan II, dengan kisaran 31 – 41 tahun, dan 3) golongan III, dengan kisaran 42 – 52 tahun, 4) golongan IV, dengan kisaran 53 – 63 tahun. Berdasarkan data pada Tabel 3, konsumen Madu MTI sebagian besar berada di golongan I yaitu sebanyak 62,22 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen madu MTI berada di rentang usia yang masih muda dan dibawah rata – rata umur secara keseluruhan yaitu 32 tahun. Secara umum, keadaan tubuh pada usia muda mempunyai vigoritas yang tinggi. Namun aktivitas yang tinggi membuat konsumen madu MTI mengkonsumsi madu untuk menjaga stamina dan meningkatkan kebugaran tubuh. Data sebaran konsumen menurut umur dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Sebaran Responden Berdasarkan Umur
Jumlah Responden Persentase Umur (tahun) (orang) (%) 20 - 30 31 - 41 42 - 52 28 9 5 62,22 20,00 11,11 53 - 63 3 6,67 Total 45 100 Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempengaruhi kebutuhan konsumen dalam penggunaan produk. Kebutuhan yang berbeda antara pria dan wanita mengakibatkan perbedaan dalam tingkah laku pembelian dan jenis produk yang dibeli. Secara umum, energi yang dibutuhkan pria lebih besar daripada wanita, karena aktivitas pria lebih tinggi daripada wanita. Berdasarkan data yang diperoleh, konsumen pria dan wanita yang berkunjung ke Outlet Madu MTI memiliki jumlah yang tidak jauh berbeda. Hal ini dapat terlihat dari presentase pengunjung pria dan wanita memiliki proporsi yang hampir sama, yaitu 53,33 persen dan 46,67 persen. Hal ini dikarenakan, madu MTI tidak ada spesifikasi produk terhadap jenis kelamin tertentu. Oleh karena itu, madu MTI dapat dikonsumsi oleh pria maupun wanita. Data sebaran konsumen menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Sebaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jumlah Responden Persentase Jenis Kelamin (orang) (%) Pria 24 53,33 Wanita 21 46,67 Total 45 100 Alamat
Alamat merupakan wilayah tempat tinggal konsumen. Letak wilayah tempat tinggal konsumen akan mempengaruhi pola konsumsinya. Outlet Madu MTI yang lebih dekat dengan tempat tinggal konsumen relatif akan lebih sering dikunjungi karena lebih mudah diakses oleh konsumen. Hal ini berpengaruh terhadap pembelian konsumen terhadap suatu produk. Tempat tinggal konsumen yang datang ke Outlet Madu MTI mayoritas berasal dari Kota Depok yaitu sebesar 66,67 persen. Tingginya jumlah konsumen yang berasal dari Kota Depok dikarenakan lokasinya lebih dekat dibandingkan dengan kota – kota lain. Adanya konsumen yang berasal selain dari Kota Depok mengindikasikan bahwa madu MTI tidak hanya dikenal oleh penduduk Kota Depok, tetapi juga sudah dikenal oleh penduduk dari kota lain. Sebaran konsumen yang menjadi responden berdasarkan alamat dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Sebaran Responden Berdasarkan Alamat (Tempat Tinggal)
Jumlah Responden Persentase Alamat (orang) (%) Jakarta 7 15,56 Bogor 8 17,78 Depok 30 66,67 Total 45 100 Status Pernikahan
Status pernikahan konsumen dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku konsumen. Proses pengambilan keputusan yang terjadi pada konsumen yang sudah menikah cenderung memiliki unsur pengaruh dari pasangannya atau anggota keluarganya. Konsumen yang sudah menikah relatif lebih berhati-hati dan terencana dalam melakukan pembelian terhadap suatu produk. Konsumen yang belum menikah relatif lebih bebas dalam menentukan pilihan mengkonsumsi suatu produk. Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 6, konsumen madu MTI yang sudah
menikah memiliki persentase sebanyak 68,89 persen dan belum menikah dengan persentase sebanyak 31,11 persen.
Tabel 6. Sebaran Responden Berdasarkan Status Pernikahan
Status
Pernikahan Jumlah Responden (orang) Persentase (%)
Menikah 31 68,89
Belum menikah 14 31,11
Total 45 100
Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi nilai-nilai yang dianut, cara berpikir, cara pandang dan persepsi konsumen terhadap suatu masalah. Konsumen yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik relatif lebih responsif terhadap informasi. Pendidikan juga dapat mempengaruhi selera konsumen dalam memilih merek produk. Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 7, terlihat bahwa konsumen madu MTI yang paling banyak adalah konsumen yang telah menempuh pendidikan SMA sebanyak 55,56 persen. Sedangkan yang lainnya yaitu, pendidikan S1 sebanyak 28,89 persen, D3 sebanyak 8,89 persen, SMP sebanyak 4,44 persen dan S2 sebanyak 2,22 persen. Hal tersebut menunjukkan bahwa konsumen Madu MTI memiliki pendidikan yang cukup baik.
Tabel 7. Sebaran Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Jumlah Responden (orang) Persentase (%) SMP 2 4,44 SMA 25 55,56 D3 4 8,89 S1 S2 13 1 28,89 2,22 Total 45 100 Pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan oleh konsumen sangat mempengaruhi gaya hidup mereka dan merupakan dasar yang menentukan posisi di masyarakat. Sebagian besar konsumen madu MTI memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta sebanyak 62,22 persen. Sedangkan pekerjaan yang lainnya yaitu wiraswasta sebanyak 20 persen, pegawai negeri sebanyak 4,44 persen dan yang tidak bekerja sebanyak 13,33 persen. Dalam hal ini, yang termasuk dalam konsumen yang tidak bekerja yaitu mahasiswa dan ibu rumah tangga. Tingginya jumlah konsumen yang bekerja sebagai pegawai
swasta berkaitan erat dengan tingkat pendidikan konsumen. Tingkat pendidikan konsumen madu MTI yang kebanyakan lulusan SMA ini, sebagian besar bekerja pada posisi menengah kebawah. Secara faktual, sebagian besar konsumen madu MTI bekerja sebagai pekerja lapang di sektor swasta. Keterangan yang lebih lengkap disajikan dalam Tabel 8.
Tabel 8. Sebaran Responden Berdasarkan Pekerjaan
Pekerjaan Jumlah Responden
(orang) Persentase (%) Wiraswasta 9 20,00 Pegawai Negeri 2 4,44 Pegawai Swasta 28 62,22 Tidak Bekerja 6 13,33 Total 45 100 Pendapatan
Bagi konsumen yang sudah memiliki pekerjaan, pendapatan merupakan imbalan yang diterima oleh konsumen dari pekerjaan yang dilakukannya, sedangkan untuk konsumen yang menganggur, pendapatan bagi mereka merupakan jumlah uang yang diterima dari orang tua atau pasangan mereka. Pendapatan umumnya diterima oleh konsumen dalam bentuk uang. Pendapatan akan menentukan daya beli seseorang, yang selanjutnya akan mempengaruhi pola konsumsinya. Tabel 9 memperlihatkan bahwa pendapatan yang diperoleh mayoritas konsumen madu MTI adalah berkisar diantara Rp 600.000,00 hingga Rp 1.974.872,00 dengan persentase sebanyak 64,45 persen. Tingginya pendapatan konsumen yang berpendapatan pada kisaran tersebut, berkaitan erat dengan pekerjaan yang dilakukan konsumen. Pekerjaan konsumen madu MTI yang kebanyakan pegawai swasta, sebagian besar pendapatan yang diterima tidak melebihi dari Rp 2.000.000. Namun secara umum, pendapatan konsumen madu MTI diatas Upah Minimum Kota (UMK) Depok yaitu sebesar .
Tabel 9. Sebaran Responden Berdasarkan Pendapatan per Bulan
Pendapatan
per Bulan (Rp) Jumlah Responden (orang) Persentase (%)
600.000 – 1.974.872 29 64,45
1.974.873 – 3.349.745
3.349.746 – 4.724.618 9 2 20,00 4,44
4.724.619 – 6.099.491 5 11,11
Proses Keputusan Konsumen
Menurut Sumarwan (2003), perilaku konsumen berusaha memahami bagaimana konsumen mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa. Proses keputusan konsumen merupakan proses pemilihan produk barang maupun jasa yang dilakukan oleh konsumen dari berbagai alternatif yang ada untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Engel et. al. (1994), proses keputusan konsumen mempunyai langkah-langkah berikut : 1) pengenalan kebutuhan, 2) pencarian informasi, 3) evaluasi alternatif, 4) pembelian, dan 5) hasil.
Pengenalan Kebutuhan
Proses pengenalan kebutuhan diawali dengan persepsi konsumen terhadap perbedaan antara keadaan yang diinginkan dengan situasi yang terjadi. Perbedaan antara dua hal tersebut membangkitkan dan mengaktifkan proses pengambilan keputusan (Engel et. al., 1994).
Tujuan Mengkonsumsi Madu. Pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen
madu MTI dipengaruhi oleh tujuan tertentu diantaranya untuk pengobatan penyakit tertentu, pelengkap makanan atau minuman, dan untuk meningkatkan kebugaran tubuh. Menurut Tabel 10, tujuan yang paling mempengaruhi untuk mengkonsumsi madu adalah untuk meningkatkan kebugaran tubuh sebanyak 77,77 persen. Tingginya jumlah konsumen yang mengkonsumsi madu MTI untuk kebugaran tubuh berkaitan dengan umur konsumen yang mengkonsumsi madu. Umur yang berada pada kisaran 20 – 30 tahun sebagian besar menyatakan tujuan mengkonsumsi madu untuk meningkatkan kebugaran tubuh, karena pada usia tersebut memiliki aktivitas yang cukup tinggi. Secara ilmiah, madu mempunyai kandungan gula sederhana (monosakarida) yaitu fruktosa dan glukosa. Berbeda dengan gula yang hanya memiliki gula disakarida yaitu sukrosa. Gula monosakarida lebih mudah diserap oleh tubuh sehingga cepat menghasilkan energi. Selain itu, madu juga mengandung beberapa vitamin dan mineral. Oleh karena itu, madu dapat menjaga stamina dan meningkatkan kebugaran tubuh. Namun, konsumen madu MTI melihat madu sebagai obat yang sejak dahulu memiliki khasiat yang tinggi. Oleh karena itu, konsumen mengetahui khasiat madu bukan dari ilmu pengetahuan yang dimiliki melainkan pengetahuan turun – menurun dari orang lain.
Tabel 10. Tujuan Mengkonsumsi Madu
Tujuan Mengkonsumsi Madu Jumlah Responden
(orang) Persentase (%)
Pengobatan penyakit tertentu 8 17,78
Pelengkap makanan atau minuman 2 4,44
Meningkatkan kebugaran tubuh 35 77,78
Total 45 100
Alasan Mengkonsumsi Madu MTI. Konsumen madu MTI sebanyak 66,67 persen
menyatakan bahwa alasan mereka mengkonsumsi madu MTI dikarenakan keasliannya terjamin. Sedangkan alasan lainnya 15,56 persen Perusahaan Madu MTI merupakan binaan IPB, mudah didapat 8,89 persen dan 8,89 persen menyatakan rasa madu MTI enak, dan dapat potongan harga. Kepercayaan konsumen terhadap keaslian madu MTI, bukan berasal dari keaslian madunya, melainkan kepercayaan terhadap perusahaannya. Karena konsumen sendiri mengaku tidak dapat menguji keaslian madu MTI. Keterangan yang lebih lengkap disajikan dalam Tabel 11.
Tabel 11. Alasan Mengkonsumsi Madu MTI
Alasan Mengkonsumsi Madu Jumlah Responden (orang) Persentase (%) Keasliannya terjamin 30 66,67 Binaan IPB 7 15,56 Mudah didapat Lainnya 4 4 8,89 8,89 Total 45 100 Pencarian Informasi
Konsumen yang terdorong kebutuhannya memiliki kecenderungan untuk mencari informasi lebih lanjut. Pencarian informasi tersebut terdiri dari dua jenis, yaitu : (1) proses pencarian informasi yang terekam di dalam ingatan konsumen (pencarian internal) dan (2) pencarian informasi secara aktif yang dilakukan dengan mencari informasi dari segala sumber (pencarian eksternal) (Engel et. al., 1994).
Pihak yang Pertama Kali Memberi Informasi Tentang Madu MTI. Pihak yang
pertama kali memberi informasi tentang madu MTI merupakan sumber informasi bagi konsumen mengenai madu MTI. Sumber informasi yang didapat oleh konsumen madu MTI cukup beragam. Pihak yang menjadi sumber informasi bagi konsumen diantaranya adalah teman (35,56 persen), brosur (20,00 persen), keluarga (14 persen), majalah (8,89 persen), koran (2,22 persen), dan lainnya (20,00 persen) tahu
sendiri, dan informasi dari outlet. Hal ini menunjukkan kebanyakan informasi yang didapat melalui lisan yaitu melalui teman dan keluarga. Informasi lisan ini didapat dari konsumen yang membeli atau mengkonsumsi madu MTI. Baik buruknya informasi yang disampaikan tergantung kepuasan konsumen terhadap kualitas produk dan pelayanan madu MTI. Oleh karena itu, perusahaan dapat mempromosikan madu MTI melalui informasi lisan dengan cara meningkatkan kualitas produk dan pelayanannya. Konsumen yang merasa puas biasanya akan menyampaikan informasi kepada orang lain. Keterangan lebih rinci dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Sumber Informasi Tentang Madu MTI
Sumber Informasi Jumlah Responden
(orang) Persentase (%) Keluarga 6 13,33 Teman 16 35,56 Brosur Koran Majalah Lainnya 9 1 4 9 20,00 2,22 8,89 20,00 Total 45 100
Bentuk Promosi Madu MTI yang Disukai. Bentuk promosi yang dilakukan oleh
Perusahaan Madu MTI terdiri dari iklan di koran, iklan di majalah, brosur, dan potongan harga. Bentuk promosi madu MTI yang disukai oleh konsumen adalah iklan di majalah dengan persentase sebesar 37,78 persen. Selain itu, penggunaan brosur disukai konsumen sebesar 31,11 persen, potongan harga sebesar 24,44 persen dan iklan di koran sebesar 6,67 persen. Ini menunjukkan pengaruh iklan di majalah mempengaruhi konsumen sangat besar, karena iklan di majalah mempunyai visualisasi yang baik dan komunikatif. Namun, promosi melalui media tulisan tidak seefektif media lisan. Oleh karena itu, perusahaan sebaiknya perlu mempertimbangkan apabila ingin meningkatkan promosi melalui media tulisan. Keterangan lebih rinci dapat dilihat di Tabel 13.
Tabel 13. Bentuk Promosi Madu MTI yang Paling Disukai
Bentuk Promosi Jumlah Responden
(orang) Persentase (%) Koran 3 6,67 Majalah 17 37,78 Brosur 14 31,11 Potongan harga 11 24,44 Total 45 100
Evaluasi Alternatif
Konsumen yang sudah mendapatkan informasi mengenai pilihan produk untuk memenuhi kebutuhannya akan memproses informasi tersebut untuk membuat keputusan. Keputusan dibuat dengan cara mengevaluasi pilihan berkenaan dengan manfaat yang diharapkan dan menyempitkan pilihan hingga alternatif yang dipilih (Engel et al., 1994).
Merek Madu Lain yang Dikonsumsi dalam Satu Bulan Terakhir. Pernyataan ini
digunakan untuk mengevaluasi alternatif konsumen dalam memilih merek madu yang akan dikonsumsi. Sebagian besar responden yang diwawancarai menyatakan tidak pernah mengkonsumsi madu merek lain satu bulan terakhir. Adapun hanya beberapa konsumen yang pernah mengkonsumsi madu selain madu MTI dengan merek tertentu. Madu Pramuka merupakan merek madu yang paling banyak dikonsumsi selain madu MTI diantara merek – merek madu yang lain. Selain berada di Kota Depok, Apiari Pramuka juga merupakan perusahaan yang sudah lama berdiri, sehingga sudah dikenal lama oleh konsumen madu MTI. Adapun merek – merek yang lainnya, diantaranya Madu Sukatani, Maduqu, Madu Nusantara dan Madurasa. Konsumen memilih madu MTI karena kepercayaannya terhadap perusahaan madu MTI. Sesuai Tabel 11, konsumen memilih madu MTI karena perusahaan menjamin keaslian madunya. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Merek Madu Lain yang Dikonsumsi dalam Satu Bulan Terakhir
Merek Madu Jumlah Responden
(orang) Persentase (%) Madu Pramuka 10 22,22 Madu Sukatani 2 4,44 Maduqu Madu Nusantara Madurasa 3 1 1 2,22 2,22 2,22 Tidak Ada 30 66,67 Total 45 100 Keputusan Pembelian
Tahap selanjutnya setelah konsumen melakukan evaluasi terhadap berbagai alternatif yang didapatkan, konsumen akan membentuk nilai pembelian dan biasanya memilih produk yang disukainya atau pengganti yang dapat diterima bila perlu (Engel et al., 1994). Menurut Sumarwan (2003), setelah konsumen membeli atau
memperoleh produk dan jasa, biasanya akan diikuti oleh proses konsumsi atau penggunaan produk.
Perencanaan untuk memutuskan Pembelian Madu MTI. Berdasarkan data pada
Tabel 15, konsumen madu MTI sebanyak 75,56 persen menyatakan bahwa konsumen merencanakan terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian, sedangkan 24,44 persen menyatakan tidak merencanakan sebelum melakukan pembelian. Konsumen yang melakukan perencanaan terlebih dahulu biasanya ketersediaan madu di rumahnya habis. Selain itu, biasanya didorong atas kebutuhan yang mendesak memerlukan madu tertentu untuk mengobati penyakit. Sedangkan konsumen yang tidak merencanakan terlebih dahulu biasanya hanya sebatas mencoba madu MTI jenis lain.
Tabel 15. Perencanaan untuk Memutuskan Pembelian Madu MTI
Perencanaan Jumlah Responden
(orang) Persentase (%)
Direncanakan 34 75,56
Tidak Direncanakan 11 24,44
Total 45 100
Waktu untuk Mengunjungi Outlet madu MTI. Waktu kunjungan konsumen madu
MTI cukup beragam. Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 18, sebanyak 68,89 persen konsumen menjawab tidak menentu dan sebanyak 20,00 persen konsumen membeli madu pada saat hari libur. Konsumen yang datang pada saat sebelum berangkat ke kantor atau pulang dari kantor berasal dari pegawai swasta yang pada saat berangkat atau pulang melewati outlet madu. Persentase membeli madu pada saat sebelum berangkat ke kantor sebanyak 2,22 persen. Sedangkan pada saat pulang dari kantor sebanyak 8,89 persen. Waktu pembelian madu menunjukkan konsumen membeli berdasarkan kebutuhan. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Waktu untuk Mengunjungi Outlet madu MTI
Waktu Jumlah Responden
(orang) Persentase (%)
Sebelum Berangkat ke Kantor 1 2,22
Pulang dari Kantor 4 8,89
Hari Libur Tidak Tentu 9 31 20,00 68,89 Total 45 100
Frekuensi Pembelian Madu MTI dalam Satu Bulan. Frekuensi pembelian madu
dalam sebulan adalah jumlah rata – rata kunjungan untuk membeli madu MTI dalam satu bulan. Berdasarkan data yang terdapat pada Tabel 17, sebagian besar konsumen madu MTI melakukan kunjungan ke outlet sebanyak 1 kali dengan persentase sebesar 64,44 persen. Konsumen yang melakukan kunjungan sebanyak 2 kali dalam sebulan sebesar 24,44 persen. Sedangkan konsumen yang melakukan kunjungan 3 kali dalam sebulan sebesar 4,44 persen, dan yang melakukan kunjungan sebanyak 4 kali dalam sebulan sebesar 6,67 persen. Mereka selalu mengunjungi karena percaya terhadap perusahaan menjamin keaslian madu MTI. Frekuensi pembelian yang dilakukan konsumen berdasarkan kebutuhan konsumen dalam satu bulan.
Tabel 17. Frekuensi Pembelian Madu MTI dalam Satu Bulan
Frekuensi
(Kali) Jumlah Responden (orang) Persentase (%)
1 29 64,44 2 11 24,44 3 4 2 3 4,44 6,67 Total 45 100
Ukuran Kemasan Madu yang Biasa Dibeli Konsumen. Ukuran kemasan madu
MTI yang paling banyak dikonsumsi konsumen yaitu 350 ml sebanyak 48,89 persen, karena ukuran tersebut mempunyai volume madu yang cukup dengan harga terjangkau. Sedangkan ukuran yang lainnya diantaranya ukuran 150 ml sebanyak 15,56 persen, 200 ml sebanyak 8,89 persen, 300 ml sebanyak 2,22 persen, 600 ml sebanyak 22,22 persen, dan ukuran 3 kilogram sebanyak 2,22 persen. Keterangan yang lebih lengkap disajikan dalam Tabel 18.
Tabel 18. Ukuran Kemasan Madu yang Biasa Dibeli Konsumen
Ukuran Kemasan Jumlah Responden
(orang) Persentase (%) 150 ml 7 15,56 200 ml 4 8,89 300 ml 350 ml 600 ml 3 kg 1 22 10 1 2,22 48,89 22,22 2,22 Total 45 100
Jenis Madu MTI yang Biasa Dikonsumsi. Jenis madu di Perusahaan MTI terdapat
diantaranya Madu Kapuk Randu, Madu Rambutan, Madu Multiflora, Madu Hutan, Madu Jambu Mete, Madu Kaliandra, Madu Durian, Madu Kopi, Madu Mangga, Madu Kelengkeng, Madu Super, Madu Super Spesial, Madu Herbal Plus, Madu Karet, Madu Royal Jelly, Madu Mahoni, Madu Pollen, dan Madu Anak-anak (Honey Kids). Sebagian besar konsumen terbiasa mengkonsumsi Madu Super sebanyak 22,22 persen. Menurut konsumen Madu Super merupakan madu yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Selain itu, kandungan royal jelly dan bee pollen membuat madu jenis ini memiliki nilai tambah bagi konsumen. Sedangkan jenis madu lainnya yang biasa dikonsumsi adalah Madu Kapuk Randu sebanyak 20,00 persen, madu Rambutan sebanyak 17,78 persen, Madu Super Spesial sebanyak 15,56 persen, Madu Herbal Plus sebanyak 13,33 persen, Madu Hutan sebanyak 4,44 persen, Madu Kaliandra sebanyak 4,44 persen, dan Madu Kelengkeng sebanyak 2,22 persen. Madu Kapuk Randu merupakan madu yang paling murah harganya dibandingkan dengan jenis madu MTI lainnya. Madu Rambutan selain termasuk madu yang harganya murah, kebanyakn konsumen membeli jenis madu ini untuk mengobati penyakit maag. Sedangkan menurut konsumen, Madu Super Spesial hampir sama dengan Madu Super . Namun aroma Madu Super Spesial mempunyai bau herbal daripada Madu Super. Karena Madu Super Spesial mangandung rempah – rempah yang baunya yang kurang disukai konsumen. Sedangkan Madu Herbal Plus, selain harganya paling mahal, madu jenis inipun mempunyai bau herbal yang tajam. Keterangan yang lebih lengkap disajikan dalam Tabel 19.
Tabel 19. Jenis Madu MTI yang biasa Dikonsumsi
Jenis Madu Jumlah Responden
(orang) Persentase (%)
Madu Super 10 22,22
Madu Kapuk Randu 9 20,00
Madu Rambutan Madu Super Spesial Madu Herbal Plus Madu Hutan Madu Kaliandra Madu Kelengkeng 8 7 6 2 2 1 17,78 15,56 13,33 4,44 4,44 2,22 Total 45 100
Pengeluaran yang Dikeluarkan untuk Membeli Madu MTI Tiap Satu Kali Kunjungan. Pegeluaran yang dikeluarkan untuk membeli madu MTI tiap satu kali
kegiatan konsumsi dalam satu kali kunjungan di Outlet Madu MTI. Mayoritas konsumen madu MTI mengeluarkan uang sebesar Rp 17.500 hingga Rp 53.680 dalam satu kali kunjungan dengan persentase 66,67 persen. Pembelian dalam jumlah uang yang dikeluarkan terdiri dari beberapa ukuran kemasan. Ukuran kemasan yang dibeli dalam jumlah uang yang dikeluarkan antara Rp 17.500 hingga Rp 53.680 terdiri dari ukuran 150 ml, 200 ml, 300 ml, dan 350 ml. Sedangkan untuk besar pengeluaran sebesar Rp 53.700 hingga Rp 126.080, mencakup 150 ml, 200 ml, 300 ml, 350 ml, dan 600 ml. Berbeda dengan besar pengeluaran konsumen antara Rp 126.100 hingga Rp 162.280, ukuran kemasan yang dibeli mencakup semua ukuran kemasan madu MTI yaitu 150 ml, 200 ml, 300 ml, 350 ml, 600 ml, dan 3 kg. Mayoritas pengeluaran tiap satu kali kunjungan yang berkisar Rp 17.500 – Rp 53.680 dikarenakan kebanyakan ukuran kemasan madu MTI yang dibeli berukuran 350 ml. Harga jenis madu yang berukuran 350 ml berkisar Rp 27.500 – Rp 40.000. Selain itu, pendapatan konsumen sangat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Pengeluaran yang Dikeluarkan untuk Membeli Madu MTI Tiap Satu Kali Kunjungan
Pengeluaran dalam Satu Kali Kunjungan
(Rupiah) Jumlah Responden (orang) Persentase (%)
17.500 – 53.680 30 66,67 53.700 – 89.880 89.900 – 126.080 10 1 22,22 2,22 126.100 – 162.280 4 8,89 Total 45 100
Lamanya Konsumen Mengkonsumsi Madu MTI. Lamanya konsumen
mengkonsumsi madu MTI merupakan salah satu bentuk konsistensi konsumen dalam mengkonsumsi madu MTI. Konsumen madu MTI sebagian besar telah mengkonsumsi madu MTI selama 1 sampai 12 bulan dengan persentase sebanyak 86,67 persen. Sedangkan yang lainnya, konsumen sudah cukup lama mengkonsumsi madu MTI, yaitu selama 13 sampai 24 bulan sebanyak 8,89 persen dan 25 sampai 36 bulan sebanyak 4,44 persen. Hal ini menunjukkan, bahwa konsumen madu MTI sebagian besar terbilang masih baru. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 21.
Tabel 21. Berapa Lama Konsumen Mengkonsumsi Madu MTI
Lama
(Bulan) Jumlah Responden (orang) Persentase (%)
1 – 12 39 86,67
13 – 24 4 8,89
25 – 36 2 4,44
Total 45 100
Pihak yang Biasa Diajak Mengkonsumsi Madu MTI. Pihak yang biasa diajak
mengkonsumsi madu MTI oleh konsumen adalah keluarga sebanyak 77,78 persen, dikonsumsi sendiri sebanyak 20,00 persen, dan dikonsumsi bersama teman sebanyak 2,22 persen. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar responden sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya. Selain itu, tujuan mengkonsumsi akan mempengaruhi pihak yang diajak. Sebagian besar madu MTI dikonsumsi untuk meningkatkan kebugaran tubuh, sehingga madu MTI jenis apapun bisa dikonsumsi oleh siapa saja. Keterangan lebih rinci dapat dilihat di Tabel 22.
Tabel 22. Pihak yang Biasa Diajak Mengkonsumsi Madu MTI
Pihak yang Diajak Jumlah Responden
(orang) Persentase (%)
Tidak Ada (Sendiri) 9 20,00
Keluarga 35 77,78
Teman 1 2,22
Total 45 100
Hasil (Perilaku Setelah Pembelian)
Konsumen yang sudah melakukan pembelian terhadap suatu produk akan menilai dan merasakan kemanfaatan dari produk yang sudah dibelinya. Konsumen akan melakukan evaluasi untuk mengetahui manfaat alternatif yang dipilih apakah sudah memenuhi kebutuhan dan harapannya sesudah digunakan. Konsumen akan mengalami kepuasan atau ketidakpuasan. Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan oleh konsumen tersebut nantinya akan menentukan tindakan sesudah pembelian yang dilakukan oleh konsumen (Engel et al., 1994). Menurut Sumarwan (2003), konsumen akan memiliki harapan mengenai bagaimana produk tersebut seharusnya berfungsi (performance expectation), harapan tersebut adalah standar kualitas yang akan dibandingkan dengan fungsi atau kualitas produk yang sesungguhnya dirasakan konsumen.
Efek yang Dirasakan Setelah Mengkonsumsi Madu. Sebagian besar konsumen
madu merasakan daya tahan tubuhnya meningkat setelah mengkonsumsi madu MTI dengan persentase sebanyak 73,33 persen. Kemudian disusul dengan konsumen yang merasakan penyakitnya tersembuhkan sebanyak 17,78 persen, nafsu makan bertambah sebanyak 4,44 persen, dan menganggap biasa saja sebanyak 4,44 persen. Berdasarkan perhitungan, tingkat kesesuaian tujuan mengkonsumsi madu untuk meningkatkan daya tahan tubuh sebesar 94,28 persen, artinya sebagian besar telah terpenuhi sesuai dengan tujuannya. Sedangkan tingkat kesesuaian tujuan mengkonsumsi madu untuk pengobatan penyakit tertentu sebesar 100 persen, artinya