Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, lama usaha, dan tenaga kerja terlibat.
Jenis Kelamin
Pemasaran ayam broiler melibatkan berbagai lembaga pemasaran mulai dari pedagang pengecer, pedagang pemotong, hingga tingkat pedagang pengumpul. Jenis kelamin setiap lembaga pemasaran bervariasi seperti terlihat pada Tabel 11.
Tabel 11 menunjukkan bahwa pedagang pengecer sebesar 55,56 % perempuan dan sebesar 44,44 % berjenis kelamin laki-laki. Pada pedagang pemotong sebagian besar berjenis kelamin laki-laki sebesar 66,67 % dan berjenis kelamin perempuan sebesar 33,33 %. Adanya perempuan sebagai pedagang pemotong menunjukkan bahwa perempuan dapat melakukan usaha di bidang pemotongan ayam. Pedagang pengumpul semuanya berjenis kelamin laki-laki. Hal ini berkaitan dengan aktivitas fisik yang berat seperti pada proses pengangkutan.
Tabel 11. Jenis Kelamin Responden
Pedagang Pengecer Pemotong Pengumpul Jenis Kelamin
Orang % Orang % Orang %
Laki-laki 4 44,44 2 66,67 4 100
Perempuan 5 55,56 1 33,33 -
-Jumlah 9 100,00 3 100,00 4 100
Usia
Sebaran usia responden berkisar antara 22 tahun sampai dengan 54 tahun. Tabel 12 menunjukkan bahwa responden terbanyak berada pada usia antara 22 tahun sampai 32 tahun sebanyak 7 orang (43,75 %), sedangkan responden yang berusia antara 44 tahun sampai 54 tahun sebanyak 3 orang (18,75 %). Hal ini menunjukkan bahwa responden berada pada usia produktif.
Tabel 12. Usia Responden
Usia (tahun) Orang %
22-32 7 43,75
33-43 6 37,50
44-54 3 18,75
Jumlah 16 100,00
Pendidikan
Tingkat pendidikan pada setiap lembaga pemasaran bermacam-macam, dari yang hanya berpendidikan SD/sederajat hingga ada yang berpendidikan sampai jenjang Perguruan Tinggi (PT). Tabel 13 menunjukkan bahwa pada pedagang pengecer terbanyak memiliki tingkat pendidikan SMU/sederajat (44,45 %), SD/sederajat (33,33 %), dan SLTP/sederajat (22,22 %). Pada pedagang pemotong tingkat pendidikan responden tersebar merata pada tingkat SD/sederajat, SLTP/sederajat, dan SMU/sederajat. Pada pedagang pengumpul sebagian besar responden berpendidikan SMU/sederajat sebesar 50 %, SLTP/sederajat dan perguruan tinggi masing-masing sebesar 25 %. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku pemasaran ayam broiler memiliki tingkat pendidikan yang tinggi.
Tabel 13. Pendidikan Responden
Pedagang Pengecer Pemotong Pengumpul Pendidikan
Orang % Orang % Orang %
SD/sederajat 3 33,33 1 33,33 - -SLTP/sederajat 2 22,22 1 33,33 1 25 SMU/sederajat 4 44,45 1 33,34 2 50 PT - - - - 1 25 Jumlah 9 100,00 3 100,00 4 100 Lama Usaha
Lama usaha pemasaran ayam broiler berkisar antara 2 tahun sampai dengan 34 tahun. Tabel 14 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (56,25 %) yaitu sebanyak 9 orang memiliki lama usaha 2 tahun sampai 12 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usaha pemasaran ayam broiler yang dilakukan responden secara umum masih tergolong baru.
26 Tabel 14. Lama Usaha Responden
Lama Usaha (tahun) Orang %
2-12 9 56,25
13-23 3 18,75
24-34 4 25,00
Jumlah 16 100,00
Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang digunakan oleh lembaga pemasaran merupakan tenaga kerja langsung. Tenaga kerja yang dimiliki responden berkisar antara 1 orang sampai dengan 21 orang. Tabel 15 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (81,25 %) memiliki tenaga kerja sebanyak 1 orang sampai dengan 7 orang, sedangkan sebagian kecil responden (6,25 %) memiliki tenaga kerja sebanyak 15 orang sampai dengan 21 orang. Rendahnya jumlah tenaga kerja yang dimiliki oleh setiap lembaga pemasaran berhubungan dengan biaya upah yang harus dikeluarkan. Tenaga kerja responden dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15. Tenaga Kerja Responden
Tenaga Kerja (orang) Orang %
1-7 13 81,25
8-14 2 12,50
15-21 1 6,25
Jumlah 16 100,00
Lembaga-Lembaga Pemasaran
Pemasaran dilihat dari penerapan teori pasar dan distribusi menimbulkan pengkajian pemasaran dari beberapa pendekatan, yaitu pendekatan kelembagaan, pendekatan fungsi, dan pendekatan barang (Assauri, 2007). Pemasaran ayam broiler dari pendekatan kelembagaan dapat dilihat dari berbagai mata rantai distribusi, seperti pedagang pengecer, pedagang pemotong, dan pedagang pengumpul.
Pedagang Pengecer
Pedagang pengecer terbagi atas 2 jenis berdasarkan input yang diperolehnya, yaitu pedagang pengecer input karkas dan pedagang pengecer input ayam hidup. Pedagang pengecer input karkas membeli ayam dalam bentuk karkas dari pedagang pemotong, sedangkan pedagang pengecer input ayam hidup membeli ayam dari
pedagang pengumpul. Pedagang pengecer dapat memperoleh ayam broiler dengan berlangganan atau mendatangi langsung pedagang pengumpul atau pedagang pemotong. Pedagang pengecer dengan sistem berlangganan bisa mendapatkan layanan antar ke pasar tempat mereka berjualan.
Pasar Kramat Jati yang merupakan pasar kota atau pasar besar dan Pasar Jambul yang merupakan pasar lingkungan atau pasar kecil semua pedagang pengecer membeli ayam broiler dalam keadaan hidup dan melakukan pemotongan sendiri di pasar tempat mereka berjualan. Harga rata-rata yang diterima pedagang pengecer input ayam hidup dari pedagang pengumpul yaitu Rp 12.834,64 per ekor ayam hidup. Pedagang pengecer input ayam hidup menjual karkas beserta kepala dan kaki dengan harga jual rata-rata Rp 16.321,43 per ekor.
Pasar Cibubur yang merupakan pasar wilayah atau pasar sedang, sebagian besar pedagang pengecer membeli ayam broiler dalam bentuk karkas dari pedagang pemotong. Hal ini disebabkan pada pasar sedang melarang ayam hidup berada di dalam pasar. Sebagian kecil pedagang pengecer yang membeli ayam dalam keadaan hidup melakukan pemotongan di rumah masing-masing. Harga rata-rata yang diterima pedagang pengecer input karkas dari pedagang pemotong yaitu Rp 14.265,00 per ekor karkas beserta jeroan, kepala, dan kaki. Pedagang pengecer input karkas menjual karkas beserta kepala dan kaki dengan harga jual rata-rata Rp 16.650,00 per ekor.
Hasil sampingan berupa jeroan seperti hati ampela dan usus dijual terpisah. Hati ampela dijual dengan harga rata-rata sebesar Rp 1.250,00 per pasang, sedangkan usus dijual dengan harga rata-rata Rp 7.444,44 per kilogram usus atau Rp 268,90 per ekor ayam broiler.
Pedagang pengecer melakukan penjualan karkas ayam broiler di pasar-pasar tradisional. Pedagang pengecer menjual karkas ayam kepada pembeli yang biasanya merupakan konsumen lembaga seperti pedagang ayam keliling, pedagang sate ayam, pedagang pecel ayam, pedagang ayam bakar, pedagang ayam goreng, rumah makan, dan konsumen rumah tangga.
Pedagang Pemotong
Pedagang pemotong memperoleh ayam dari pedagang pengumpul atau peternak. Pedagang pemotong membeli ayam dengan berlangganan atau mendatangi
28 langsung pedagang pengumpul atau peternak. Pedagang pemotong dengan sistem berlangganan bisa mendapatkan layanan antar ke tempat mereka berjualan. Harga rata-rata yang diterima pedagang pemotong dari pedagang pengumpul sebesar Rp 12.831,67 per ekor ayam hidup.
Pedagang pemotong yang telah memperoleh ayam dari pedagang pengumpul atau peternak kemudian melakukan proses pemotongan dari ayam hidup menjadi karkas yang siap untuk dijual. Harga jual rata-rata sebesar Rp 14.330,00 per ekor karkas beserta jeroan, kepala, dan kaki. Pembeli yang membeli karkas ayam kepada pedagang pemotong merupakan pedagang pengecer, pelaku usaha ayam berbumbu, pengelola rumah makan, pedagang ayam goreng, pedagang sate, dan penjual ayam keliling.
Pedagang Pengumpul
Pedagang pengumpul memperoleh ayam dari peternak. Pedagang pengumpul membeli ayam dengan mendatangi langsung peternak atau diantar ke lokasi pedagang pengumpul. Pedagang pengumpul harus menstransfer sejumlah uang ke pihak peternak dan mengirim bukti pembayaran tersebut ke nomor faksimili peternak untuk memperoleh Delivery Order (DO), kemudian peternak mengirimkan bukti Delivery Order (DO) ke nomor faksimili pengumpul. Selanjutnya pedagang pengumpul mendatangi peternak untuk mengambil ayam broiler yang telah dibeli. Pembelian juga dapat dilakukan secara tunai untuk melakukan transaksi jual beli. Harga rata-rata yang diterima pedagang pengumpul dari peternak sebesar Rp 12.471,25 per ekor ayam hidup.
Pedagang pengumpul yang telah mendapatkan ayam kemudian melakukan penjualan. Pedagang pengumpul melakukan penjualan dalam bentuk ayam hidup kepada pelanggan dan bukan pelanggan. Harga jual rata-rata sebesar Rp 12.900,00 per ekor ayam hidup. Pembeli biasanya merupakan pedagang pengecer, pengelola rumah makan, dan pedagang ayam goreng.
Saluran Pemasaran
Pemasaran ayam broiler melibatkan berbagai lembaga pemasaran yaitu pedagang pengecer, pedagang pemotong, dan pedagang pengumpul. Lembaga-lembaga pemasaran ayam broiler saling berhubungan membentuk suatu saluran
pemasaran. Saluran pemasaran ayam broiler di wilayah Jakarta Timur ada 8 macam, yaitu :
1. Peternak pedagang pemotong pedagang pengecer input karkas konsumen lembaga konsumen rumah tangga
2. Peternak pedagang pemotong pedagang pengecer input karkas konsumen rumah tangga
3. Peternak pedagang pemotong konsumen lembaga konsumen rumah tangga
4. Peternak pedagang pengumpul pedagang pemotong pedagang pengecer input karkas konsumen lembaga konsumen rumah tangga 5. Peternak pedagang pengumpul pedagang pemotong pedagang
pengecer input karkas konsumen rumah tangga
6. Peternak pedagang pengumpul pedagang pengecer input ayam hidup konsumen lembaga konsumen rumah tangga
7. Peternak pedagang pengumpul pedagang pengecer input ayam hidup konsumen rumah tangga
8. Peternak pedagang pengumpul konsumen lembaga konsumen rumah tangga
Keterangan : Ayam hidup Produk karkas
Saluran pemasaran ayam broiler ditelusuri mengikuti rantai pemasaran mulai dari pedagang pengecer, selanjutnya ke pedagang pemotong dan pedagang pengumpul. Saluran pemasaran ayam broiler di wilayah Jakarta Timur dapat dilihat pada Gambar 4.
30 Keterangan : persentase menyatakan besarnya ayam broiler yang disalurkan oleh
masing-masing lembaga pemasaran ayam hidup
produk karkas batasan penelitian Skala 124.300 ekor per hari
Bobot ayam broiler hidup 1,24 kg/ekor
Gambar 4. Saluran Pemasaran Ayam Broiler di Wilayah Jakarta Timur
Persentase masing-masing pola saluran pemasaran dibuat berdasarkan data Suku Dinas Peternakan Kota Jakarta Timur mengenai volume penjualan ayam broiler tiap hari di Kota Jakarta Timur, yakni sebanyak 124.300 ekor per hari dengan bobot rata-rata ayam broiler hidup sebesar 1,24 kg per ekor.
Pedagang pengecer yang diteliti berada di Pasar Kramat Jati, Pasar Cibubur, dan Pasar Jambul. Pedagang pengecer terbagi atas 2 jenis berdasarkan input yang diperolehnya, yaitu pedagang pengecer input ayam hidup dan pedagang pengecer input karkas. Pedagang pengecer input ayam hidup maupun pedagang pengecer input karkas melakukan penjualan ayam dalam bentuk karkas kepada konsumen lembaga seperti pedagang ayam keliling, pedagang sate ayam, pedagang pecel ayam, pedagang ayam bakar, pedagang ayam goreng, rumah makan, dan konsumen rumah tangga. 4,08 % 38,89 % 13,25 % 7,41 % 25,64 % 27,77 % 3,33 % 82,67 % 33,34 % 25,93 % Pedagang Pengumpul Pedagang Pemotong Konsumen Lembaga Konsumen Rumah Tangga Pedagang Pengecer
Input Ayam Hidup Pedagang Pengecer Input Karkas Peternak Jakarta Luar Jakarta
Pedagang pengecer input ayam hidup membeli ayam dari pedagang pengumpul sebanyak 48.340 ekor (38,89 %), sedangkan pedagang pengecer input karkas membeli ayam dalam bentuk karkas dari pedagang pemotong sebanyak 9.211 ekor (7,41 %). Pedagang pengecer input ayam hidup menjual ayam dalam bentuk karkas kepada konsumen lembaga dan konsumen rumah tangga masing-masing sebanyak 31.871 ekor (25,64 %) dan 16.470 ekor (13,25 %). Pedagang pengecer input karkas menjual karkas ayam broiler kepada konsumen lembaga sebanyak 4.139 ekor (3,33 %), sedangkan kepada konsumen rumah tangga sebanyak 5.071 ekor (4,08 %).
Pedagang pemotong yang diteliti berada di daerah Cibubur dan Kalimalang berdasarkan mata rantai yang ditelusuri melalui pedagang pengecer dengan input karkas. Pedagang pemotong memperoleh ayam hidup dari pedagang pengumpul dan peternak. Pedagang pemotong memperoleh ayam hidup dari pedagang pengumpul sebanyak 41.442 ekor (33,34 %). Pedagang pemotong sebagian kecil menyalurkan ayam dalam bentuk karkas kepada pedagang pengecer dengan input karkas sebanyak 9.211 ekor (7,41 %). Hal ini dikarenakan sedikitnya jumlah pedagang pengecer yang membeli ayam dalam bentuk karkas.
Pedagang pengumpul yang diteliti berada di daerah Kalimalang, Cipayung, dan Kramat Jati berdasarkan mata rantai yang ditelusuri melalui pedagang pengecer dengan input ayam hidup dan pedagang pemotong. Pedagang pengumpul memperoleh ayam hidup dari peternak. Pedagang pengumpul menyalurkan ayam hidup terbanyak kepada pedagang pengecer dengan input ayam hidup sebanyak 48.340 ekor (38,89 %). Hal ini dikarenakan banyaknya pedagang pengecer yang membeli ayam dalam keadaan hidup. Pedagang pengumpul memperoleh ayam broiler dari peternak karena harga yang ditawarkan peternak lebih baik daripada harga yang ditawarkan oleh lembaga pemasaran lainnya.
Saluran pemasaran dengan distribusi ayam broiler terbesar terdapat pada saluran keenam yaitu saluran dari peternak ke pedagang pengumpul kemudian ke pedagang pengecer dengan input ayam hidup lalu ke konsumen lembaga menuju ke konsumen rumah tangga.
Konsumen lembaga merupakan pedagang ayam keliling, pedagang sate ayam, pedagang pecel ayam, pedagang ayam bakar, pedagang ayam goreng, pelaku
32 usaha ayam berbumbu, dan rumah makan. Konsumen lembaga menyalurkan semua produk karkas yang telah diolah kepada konsumen rumah tangga sesuai dengan jenis usahanya yaitu sebanyak 102.759 ekor (82,67 %). Konsumen lembaga membeli ayam broiler dari pedagang pengumpul, pedagang pemotong atau pedagang pengecer. Adanya perbedaan sumber ayam broiler pada konsumen lembaga disebabkan oleh perbedaan harga dan lokasi.
Hasil penelitian Indrawasih (2008) mengenai analisis nilai tambah pemasaran ayam broiler di pasar tradisional Kota Jakarta Selatan, volume penjualan ayam broiler tiap hari di Kota Jakarta Selatan yaitu sebanyak 70.000 ekor. Sampel pedagang pengecer diambil di Pasar Minggu, Pasar Tebet Barat, dan Pasar Warung Buncit. Sampel pemotong diambil di daerah Cempaka Putih dan Jatinegara, sedangkan pengumpul diambil di daerah Pasar Minggu dan Asam Baris.
Analisis Nilai Tambah
Kegiatan pemasaran ayam broiler yang dilakukan oleh setiap lembaga pemasaran memberikan nilai tambah dari komoditi tersebut. Analisis nilai tambah dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai tambah pemasaran dari ayam broiler hidup hingga menjadi karkas. Analisis ini juga melihat distribusi marjin yang diperoleh dari pemanfaatan faktor-faktor produksi yang digunakan dalam aktivitas pemasaran dengan menggunakan metode Hayami et al. (1987). Analisis nilai tambah terdiri dari beberapa komponen utama pembentuk biaya produksi meliputi bahan baku, sumbangan input lain, tenaga kerja, dan keuntungan untuk masing-masing komponen utama yang digunakan.
Analisis nilai tambah dilakukan selama dua bulan yaitu pada pertengahan bulan November 2007 sampai dengan pertengahan bulan Januari 2008. Dasar perhitungan analisis nilai tambah menggunakan perhitungan per ekor input ayam broiler.
Input utama merupakan rata-rata ayam broiler yang terjual setiap harinya pada masing-masing lembaga pemasaran. Input utama terendah dimiliki oleh pedagang pengecer dengan input ayam hidup sebesar 100 ekor per hari, sedangkan input utama terbesar dimiliki oleh pedagang pengumpul sebesar 2.344 ekor per hari. Hal ini berkaitan dengan kemampuan masing-masing lembaga usaha dalam
melakukan penjualan ayam broiler. Analisis nilai tambah pada lembaga-lembaga pemasaran di wilayah Jakarta Timur dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16. Perhitungan Rata-Rata Nilai Tambah Pemasaran Ayam Broiler Pada Lembaga-Lembaga Pemasaran
Variabel Nilai Tambah Pedagang
Pengecer IH Pengecer IKPedagang PemotongPedagang PengumpulPedagang I. Output, Input, Harga :
1. Output (ekor/hari) 100,00 128,00 1.267,00 2.344,00 2. Input utama (ekor/hari) 100,00 128,00 1.267,00 2.344,00 3. Input tenaga kerja (HKP/hari) 0,91 0,80 0,91 0,84 4. Faktor Konversi 1,00 1,00 1,00 1,00 5. Koefisien tenaga kerja (HKP/ekor) 0,0091 0,0063 0,0007 0,0004 6. Harga output (Rp/ekor) 17.864,18 18.085,44 14.330,00 12.900,00 7. Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/HKP) 16.661,23 18.750,00 47.491,26 53.452,38 II. Pendapatan dan Keutungan :
8. Harga input utama (Rp/ekor) 12.834,64 14.265,00 12.831,67 12.471,25 9. Sumbangan input lain (Rp/ekor) 174,23 133,01 296,40 121,46 10. Nilai output (Rp/ekor) 17.864,18 18.085,44 14.330,00 12.900,00 11 a. Nilai tambah (Rp/ekor) 4.855,31 3.687,43 1.201,93 307,29 b. Rasio nilai tambah (%) 27,18 20,39 8,39 2,38 12 a. Pendapatan tenaga kerja (Rp/ekor) 151,62 117,19 34,11 19,16 b. Bagian tenaga kerja (%) 3,12 3,18 2,84 6,23 13 a. Keuntungan (Rp/ekor) 4.703,69 3.570,24 1.167,82 288,13 b. Tingkat keuntungan (%) 26,33 19,74 8,15 2,23 III. Balas Jasa dari Masing-Masing Faktor Produksi :
14. Marjin (Rp/ekor) 5.029,54 3.820,44 1.498,33 428,75 a. Pendapatan tenaga kerja (%) 3,02 3,07 2,28 4,47 b. Sumbangan input lain (%) 3,46 3,48 19,78 28,33 c. Keuntungan perusahaan (%) 93,52 93,45 77,94 67,20
Keterangan : IH = Input Hidup IK = Input Karkas
Nilai faktor konversi diperoleh dari pembagian jumlah output yang dijual dengan jumlah input yang dibeli setiap harinya. Nilai faktor konversi pemasaran ayam broiler pada setiap lembaga pemasaran bernilai 1,00. Artinya, dengan satu ekor input menghasilkan 1,00 ekor output ayam broiler. Perhitungan nilai faktor konversi yang dihasilkan pada setiap lembaga pemasaran ayam broiler bernilai sama karena
34 input bahan baku utama dan output ayam broiler yang dihasilkan sama yaitu dalam satuan ekor.
Koefisien tenaga kerja pada lembaga pemasaran ayam broiler dihitung berdasarkan Harian Kerja Pria (HKP) dengan membagi jumlah jam kerja dengan hari kerja (satu hari kerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah 8 jam) dan dikalikan dengan faktor konversi 1 untuk laki-laki dan 0,8 untuk tenaga kerja perempuan.
Koefisien tenaga kerja pada pedagang pengecer dengan input ayam hidup diperoleh sebesar 0,0091 HKP per ekor, berarti waktu yang diperlukan untuk mengolah 1 ekor ayam broiler dari ayam hidup hingga menjadi karkas dan kemudian dijual sebanyak 0,0728 jam per ekor atau 4,37 menit per ekor. Koefisien tenaga kerja pada pedagang pengecer dengan input karkas diperoleh sebesar 0,0063 HKP per ekor, berarti waktu yang diperlukan untuk menjual 1 ekor ayam broiler sebanyak 0,0504 jam per ekor atau 3,02 menit per ekor.
Koefisien tenaga kerja pedagang pengecer dengan input ayam hidup lebih besar daripada pedagang pengecer dengan input karkas. Hal ini disebabkan pedagang pengecer dengan input ayam hidup harus terlebih dahulu mengolah ayam broiler dari keadaan hidup hingga menjadi karkas yang siap untuk dijual, sehingga waktu yang diperlukan lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk menjual satu ekor ayam broiler. Perbedaan lamanya waktu yang dibutuhkan berhubungan dengan aktivitas yang dilakukan oleh masing-masing lembaga pemasaran.
Harga output merupakan harga rata-rata penjualan ayam broiler per ekor, baik dalam keadaan hidup maupun dalam bentuk karkas. Pada pedagang pengecer dengan input ayam hidup, harga output sebesar Rp 17.864,18 per ekor, sedangkan harga output pada pedagang pengecer dengan input karkas sebesar Rp 18.085,44 per ekor. Harga output pada pedagang pengecer yang menggunakan input ayam hidup lebih murah daripada pedagang pengecer yang menggunakan input karkas. Hal ini terjadi karena harga input yang diterima pedagang pengecer dengan input ayam hidup lebih murah dibandingkan dengan harga input yang diterima pedagang pengecer dengan input karkas, sehingga harga outputnya bisa lebih murah.
Nilai sumbangan input lain merupakan pembagian total sumbangan input lain dengan jumlah input yang digunakan. Sumbangan input lain pada pedagang pengecer
dengan input ayam hidup sebesar Rp 174,23 per ekor dan pada pedagang pengecer dengan input karkas sebesar Rp 133,01 per ekor. Input lain ini terdiri dari biaya retribusi, biaya sewa tempat, biaya listrik, biaya air, dan biaya transportasi. Sumbangan input lain pada pedagang pemotong sebesar Rp 296,40 per ekor ayam hidup. Input lain ini terdiri dari biaya sewa tempat, biaya listrik, biaya minyak tanah, dan biaya transportasi. Sumbangan input lain pada pedagang pengumpul sebesar Rp 121,46 per ekor ayam hidup. Input lain ini terdiri dari biaya sewa tempat, listrik dan air, serta transportasi. Perbedaan besarnya sumbangan input lain dipengaruhi oleh jumlah input dan jenis biaya yang dibebankan kepada setiap lembaga pemasaran.
Nilai tambah diperoleh dari pengurangan nilai output dengan harga input utama dan sumbangan input lain. Nilai tambah pada pedagang pengecer dengan input ayam hidup sebesar Rp 4.855,31 per ekor. Nilai tambah pada pedagang pengecer dengan input karkas sebesar Rp 3.687,43 per ekor. Nilai tambah pada pedagang pemotong sebesar Rp 1.201,93 per ekor dan pada pedagang pengumpul sebesar Rp 307,29 per ekor.
Nilai tambah terbesar terdapat pada pedagang pengecer dan nilai tambah terkecil terdapat pada pedagang pengumpul. Perbedaan nilai tambah ini disebabkan oleh perlakuan yang berbeda terhadap ayam broiler pada setiap lembaga pemasaran. Pada pedagang pengecer output berupa karkas dengan hati, ampela, jantung, dan usus yang dijual terpisah. Pada pedagang pemotong output berupa karkas isi dengan hati, ampela, jantung, dan usus yang telah dibersihkan, sedangkan pedagang pengumpul menjual ayam broiler dalam keadaan hidup.
Hasil penelitian Indrawasih (2008), tentang analisis nilai tambah pemasaran ayam broiler di pasar tradisional Kota Jakarta Selatan, nilai tambah terbesar terdapat pada pedagang pengecer pemotong sebesar Rp 3.397,73 per ekor atau 33,14 % dari total nilai tambah yang diciptakan. Hal ini dikarenakan pada pedagang pengecer pemotong perbedaan antara nilai output dan harga input relatif besar, sehingga menciptakan nilai tambah yang cukup besar.
Hasil penelitian Wiradisastra (2008), tentang analisis nilai tambah pemasaran ayam broiler (kasus pedagang pemotong di Pasar Baru Kota Bogor), nilai tambah terbesar dimiliki oleh pedagang pemotong kecil sebesar Rp 8.023,56 per ekor. Hal ini
36 dikarenakan saluran pemasaran ayam broiler yang dilalui oleh pedagang pemotong kecil lebih sedikit dan biaya sumbangan input lain lebih kecil dibandingkan dengan pedagang pemotong besar.
Distribusi Nilai Tambah Terhadap
Pendapatan Tenaga Kerja dan Keuntungan
Nilai tambah merupakan selisih antara nilai output dengan harga input dan sumbangan input lain. Nilai tambah terbesar terdapat pada pedagang pengecer dengan input ayam hidup sebesar Rp 4.855,31 per ekor atau 27,18 % dari nilai outputnya. Artinya setiap Rp 100,00 per ekor akan mengalami pertambahan nilai Rp 27,18 per ekor dari nilai outputnya, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 4.703,69 per ekor atau 96,88 % dari nilai tambah. Distribusi nilai tambah dapat dilihat pada Gambar 5.
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Pedagang Pengecer IH Pedagang Pengecer IK Pedagang Pemotong Pedagang Pengumpul Rp/ekor
Pendapatan TK Nilai tambah Keuntungan
Keterangan : Pengecer IH = Pengecer dengan input hidup Pengecer IK = Pengecer dengan input karkas Gambar 5. Distribusi Nilai Tambah
151,62 117,19 34,11 19,16 4.703,69 3.570,24 1.167,82 288,13 4.855,31 3.687,43 1.201,93 307,29
Nilai tambah terkecil terdapat pada pengumpul sebesar Rp 307,29 per ekor atau 2,38 % dari nilai outputnya. Artinya setiap Rp 100,00 per ekor akan mengalami pertambahan nilai Rp 2,38 per ekor dari nilai outputnya, sedangkan keuntungan yang diperoleh dari setiap ekor sebesar Rp 288,13 atau 93,76 % dari nilai tambah.
Pendapatan tenaga kerja diperoleh dari koefisien tenaga kerja dikalikan dengan upah rata-rata tenaga kerja per HKP. Pendapatan tenaga kerja terbesar terdapat pada pedagang pengecer dengan input ayam hidup sebesar Rp 151,62 per ekor atau 3,12 % dari nilai tambah pemasaran ayam broiler. Pendapatan tenaga kerja terkecil terdapat pada pedagang pengumpul sebesar Rp 19,16 per ekor atau 6,24 % dari nilai tambah pemasaran ayam broiler. Pendapatan tenaga kerja ini diberikan atas keseluruhan proses penjualan setiap satu ekor ayam yang dilakukan oleh pedagang pengumpul.
Perbedaan besarnya bagian tenaga kerja ini dipengaruhi oleh koefisien tenaga