• Tidak ada hasil yang ditemukan

4 Gambar 1 Skema pemikiran kerangka penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden

Rata-rata usia responden petani kebun campuran adalah 52,03 tahun, sedangkan responden non petani kebun campuran sebesar 41,83 tahun. Distribusi responden berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9 Distribusi responden berdasarkan kelompok umur Kelompok Umur (thn) Jumlah Responden Petani Kebun Campuran Persentase (%) Non Petani Kebun Campuran Persentase (%) 24-30 1 3,33 6 20,00 31-35 2 6,67 5 16,67 36-40 1 3,33 6 20,00 41-45 6 20,00 3 10,00 46-50 6 20,00 0 0,00 51-55 4 13,33 5 16,67 56-60 2 6,67 3 10,00 61-65 2 6,67 1 3,33 66-70 3 10,00 1 3,33 71-75 1 3,33 0 0,00 >75 2 6,67 0 0,00 Jumlah 30 100,00 30 100,00

Bakir dan Maning dalam Widiarso (2005) menyatakan bahwa umur produktif untuk bekerja di negara-negara berkembang umumnya adalah 15-55 thn. Jadi dapat dikatakan bahwa sebagian besar umur responden di desa penelitian masih termasuk dalam umur produktif. Umur mempengaruhi kemampuan kerja seseorang, karena kemampuan kerja produktif akan terus menurun dengan semakin lanjutnya usia seseorang.

Sebagian besar tingkat pendidikan responden adalah Sekolah Dasar (SD). Responden petani kebun campuran sebanyak 16 orang (53,33%) dan responden non petani kebun campuran sebanyak 12 orang (40%) memiliki tingkat pendidikan hanya sampai sekolah dasar atau sekolah rakyat. Secara keseluruhan tingkat pendidikan responden non petani kebun campuran lebih tinggi

dibandingkan responden petani kebun campuran. Tabel 10 menunjukkan bahwa 60% responden non petani kebun campuran melanjutkan ke jenjang yang yang lebih tinggi sedangkan responden petani kebun campuran hanya 36,67% yang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena masih langkanya sarana pendidikan yang lebih tinggi di daerah tersebut dan kurangnya kesadaran petani akan pentingnya pendidikan. Tingkat pendidikan responden petani kebun campuran yang rendah menyebabkan mereka sulit mencari lapangan kerja, khususnya sektor formal yang umumnya menuntut pendidikan formal (ijazah) serta keterampilan tertentu.

Tabel 10 Distribusi responden menurut tingkat pendidikan

Tingkat Pendidikan Jumlah Responden Petani Kebun Campuran Persentase (%) Non Petani Kebun Campuran Persentase (%) Tidak sekolah 2 6,67 0 0,00 Tidak tamat SD 1 3,33 0 0,00 SD 16 53,33 12 40,00 SMP 2 6,67 2 6,67 SMA 5 16,67 11 36,67 Perguruan Tinggi 4 13,33 5 16,67 Total 30 100,00 30 100,00

Tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam pola berfikir. Tentu saja semakin tinggi tingkat pendidikan semakin matang dalam mengambil keputusan. Soeharjo dan Patong (1973) menyatakan bahwa pendidikan pada umumnya akan mempengaruhi cara dan pola pikir petani. Pendidikan yang relatif tinggi dan umur yang muda menyebabkan petani lebih dinamis.

Pendidikan juga berpengaruh terhadap tingkat kemampuan menyerap informasi tentang lingkungan sekitarnya. Pengetahuan ini selanjutnya akan berpengaruh terhadap persepsi mereka terhadap keberadaan kebun campuran dan manfaatnya. Tingkat pengetahuan masyarakat terukur dari tingkat pengetahuan terhadap keberadaan, fungsi, manfaat dan dampak ekologis kebun campuran.

Sebagian besar responden petani kebun campuran memiliki tingkat pengetahuan sedang (53,33%), sedangkan sebagian besar responden non petani kebun campuran memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi (66,67%). Data dan jumlah responden berdasarkan tingkat pengetahuan secara ringkas disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 Distribusi responden menurut tingkat pengetahuan

Tingkat Pengetahuan Jumlah Responden Petani Kebun Campuran Persentase (%) Non Petani Kebun Campuran Presentase (%) Tinggi (75-55) 14 46,67 20 66,67 Sedang (35-54) 16 53,33 10 33,33 Rendah (15-34) 0 0,00 0 0,00 Total 30 100,00 30 100,00

Tabel 12 Distribusi responden berdasarkan mata pencaharian

Mata Pencaharian Jumlah Responden Petani Kebun Campuran Persentase (%) Non Petani Kebun Campuran Presentase (%) Petani 25 83,33 0 0,00 Peternak 0 0,00 1 3,33 Buruh tani 0 0,00 4 13,33 Kuli 1 33,33 2 6,67 Polisi 0 0,00 1 3,33 Pensiunan 0 0,00 2 6,67 Supir 0 0,00 1 3,33 Mantri 0 0,00 1 3,33 Wiraswasta/pedagang 2 6,67 9 30,00 Pegawai swasta 1 3,33 5 16,67 PNS 1 3,33 4 13,33 Total 30 100,00 30 100,00

Tabel 12 menunjukkan data distribusi responden berdasarkan mata pencaharian. Berdasarkan tabel diketahui bahwa mata pencaharian responden petani kebun campuran pada umumnya adalah bertani (83,33%). Sedangkan bagi

responden non petani kebun campuran, mata pencaharian sangat bervariasi dengan dominasi sebesar 30% sebagai wiraswasta/pedagang.

Dari sektor mata pencaharian (Tabel 12) diketahui bahwa pendapatan responden di Desa Babakan berasal dari 2 sumber kegiatan yaitu kegiatan usahatani (sawah, kebun campuran dan pekarangan) dan kegiatan non usahatani (bukan kegiatan bertani). Bagi responden petani kebun campuran, pada umumnya pendapatan diperoleh dari kegiatan usaha tani dan non usahatani, sedangkan sebagian besar pendapatan responden non petani kebun campuran berasal dari kegiatan non usahatani.

Tabel 13 Distribusi responden berdasarkan tingkat pendapatan

Tingkat Pendapatan (Rp/bln) Jumlah Responden Petani Kebun Campuran Persentase (%) Non Petani Kebun Campuran Persentase (%) <1.000.000 11 36,67 10 33,33 1.000.000-3.000.000 14 46,67 17 56,67 >3.000.000 5 16,67 3 10,00 Total 30 100,00 30 100,00

Rata-rata tingkat pendapatan keluarga responden Desa Babakan sebesar Rp 1.000.000–3.000.00 per bulan dengan responden petani kebun campuran sebesar 46,67% dan responden non petani kebun campuran sebesar 56,67%. Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa kedua kelompok responden ini memiliki tingkat pendapatan yang tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan adanya kemerataan pendapatan walaupun pada dasarnya mata pencaharian kedua kelompok ini berbeda.

Sebagian besar responden memiliki jumlah anggota keluarga rata-rata 3 orang. Distribusi berdasarkan jumlah anggota keluarga disajikan dalam Tabel 14.

Tabel 14 Distribusi responden berdasarkan jumlah anggota keluarga Jumlah Anggota Keluarga Jumlah Responden Petani Kebun Campuran Persentase (%) Non Petani Kebun Campuran Presentase (%) 0 0 0,00 1 3,33 1 4 13,33 2 6,67 2 4 13,33 10 33,33 3 10 33,33 7 23,33 4 7 23,33 5 16,67 5 3 10,00 2 6,67 6 0 0,00 2 6,67 7 2 6,67 1 3,33 Total 30 100,00 30 100,00

Besar kecilnya keluarga akan sangat mempengaruhi pendapatan rumah tangga karena besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga lebih banyak sehingga dituntut pemasukan yang lebih tinggi. Pengeluaran yang dikeluarkan biasanya hanya sebatas memenuhi kebutuhan pokok saja. Belum lagi memperhitungkan kebutuhan lain yang jarang diperhitungkan dengan biaya seperti konsumsi air sehari-hari.

Persepsi Masyarakat Terhadap Kebun Campuran

Kebun campuran yang diusahakan di Desa Babakan merupakan tradisi bertani yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat menganggap bahwa tradisi bertani ini merupakan warisan nenek moyang yang perlu dipertahankan, sehingga keberadaannya harus tetap dijaga dan dipertahankan untuk generasi selanjutnya sebagai warisan untuk anak cucu. Tidak hanya mewariskan lahan berupa kebun campuran tetapi juga mewariskan pengalaman dan pengetahuan bertanam untuk anak cucu. Umur kebun campuran yang telah berjalan dari generasi ke generasi ini memberikan rasa memiliki yang tinggi bagi si pemilik dan masyarakat.

Di lain pihak tidak dapat dipungkiri kebun campuran di Desa Babakan merupakan asset utama ekonomi masyarakat. Bagi masyarakat, kebun campuran memiliki arti ekonomi penting dengan memberikan sumbangan yang besar bagi

perekonomian daerah setempat dan menjamin kesejahteraan sebagian besar rumah tangga. Manfaat ekonomi kebun campuran sangat memiliki arti penting bagi rumah tangga yang menerapkannnya.

Alasan utama yang mendasari keputusan rumah tangga petani untuk menerapkan kebun campuran adalah keuntungan finansial dari hasilnya. Keanekaragaman jenis tanaman dengan periode panen yang beragam dan frekuensi panen kebun campuran yang relatif kontinu memberikan sumber pemasukan yang lebih besar dibandingkan lahan monokultur. Walaupun kuantitas hasil kebun sedikit namun jika dikumulatifkan hasil dari banyak sumber ini akan sangat besar. Selain itu, keragaman tanaman melindungi petani dari ancaman kegagalan panen salah satu jenis tanaman atau risiko perkembangan pasar yang sulit diperkirakan.

Bagi responden yang memiliki kebun campuran, keberadaan kebun dapat memberikan jaminan bagi kelangsungan hidup mereka baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun yang bersifat mendesak melalui kontribusi pendapatan dan pemenuhan kebutuhan pangan sepanjang tahun yang dapat dikonsumsi sendiri atau dijual. Selain itu kebun dianggap sebagai suatu investasi jangka panjang untuk tabungan hidup bekal di hari tua. Produksi kebun campuran yang relatif kontinu dan perawatan yang minim membuat mereka merasa aman karena tidak akan tergantung pada orang lain di masa tua mereka.

Selain sebagai asset ekonomi, kebun campuran mempunyai arti penting lain bagi masyarakat yang dapat dilihat dari segi ekologi. Penampakan fisik dan komposisi kebun campuran yang didominasi tanaman kehutanan (buah-buahan dan kayu) menjadikannya sebagai suatu ekosistem yang mirip dengan ekosistem hutan sehingga kebun campuran dianggap lebih mampu melaksanakan fungsi-fungsi ekologis hutan dibandingkan dengan lahan monokultur yang hanya ditanami oleh jenis tanaman pertanian.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan kebun campuran dari segi ekologis dapat terlihat dari argumen-argumen mengenai pentingnya keberadaan kebun campuran yang dikemukakan diantaranya mencegah bencana alam seperti longsor dan banjir, mencegah terjadinya erosi tanah, menjaga kesuburan tanah, mendukung ketersediaan air serta perannya sebagai sumber

oksigen dan penyejuk bagi lingkungan sekitar. Bahkan beberapa orang memberikan ilustrasi tentang keadaan udara di desanya yaitu ketika kebun campuran diubah menjadi tegalan, lingkungan terasa gersang dengan udara yang sangat panas (tidak sejuk). Ilustrasi lain yang diberikan adalah ketika kebun campuran yang didominasi tanaman kehutanan di sekitar mata air ditebang, kuantitas dan kualitas air mengalami penurunan. Secara umum bagi masyarakat keberadaan kebun campuran menjadi salah satu usaha mereka untuk melestarikan alam dan lingkungan di sekitarnya.

Gambar 6 Kebun campuran masyarakat Desa Babakan

Pada Gambar 6 dapat dilihat bentuk dan keanekaragaman jenis tanaman yang terdapat pada kebun campuran. Keanekaragaman jenis tanaman yang terdapat pada kebun campuran mempunyai segi keindahan dibandingkan lahan monokoltur. Masyarakat menyatakan bahwa kebun campuran lebih enak dipandang, selain itu keanekaragaman jenis tanaman menjadikan kebun campuran sebagai sarana untuk memelihara jenis-jenis tanaman sekaligus sebagai sarana pengetahuan dan sumber penelitian bagi orang lain.

Kebun campuran juga memberikan nilai sosial yang sangat besar artinya dalam kehidupan sosial dan tumbuhnya rasa kekeluargaan yang ada di pedesaan. Hasil dari kebun campuran dapat membantu tetangga yang sedang dalam kesusahan. Beberapa responden yang bukan petani kebun campuran menyatakan bahwa keberadaan kebun campuran ikut dirasakan oleh mereka. Beberapa dari mereka ada yang bekerja sebagai buruh tani di kebun tetangganya, tidak jarang

juga mereka ikut merasakan hasil kebun baik itu diberi secara gratis atau membeli dengan harga yang lebih murah. Keanekaragaman jenis tanaman pada kebun campuran mampu memberikan peluang yang lebih besar untuk mewujudkan fungsi sosial tersebut dan biasanya hasil yang diperoleh lebih ditujukan untuk kepentingan ekonomi.

Tidak hanya itu, kebun campuran di Desa Babakan seringkali digunakan sebagai tempat bermain anak-anak, bahkan sebagai sarana refreshing bersama (ngarumpul) dengan mengadakan acara liwetan (makan bersama) yang dihadiri oleh 2-3 keluarga. Acara ini tidak terbatas bagi yang memiliki kebun, masyarakat yang tidak memiliki kebun pun dapat melakukannya, biasanya pemilik kebun mengijinkan untuk menggunakan kebunnya.

Manfaat-manfaat kebun campuran yang dirasakan masyarakat tersebut melatarbelakangi keinginan mereka untuk tetap melestarikan kebun campuran di masa yang akan datang sehingga keberadaan kebun campuran tersebut harus tetap dijaga dan dipertahankan. Tujuan dan orientasi pengusahaan kebun campuran tidak terfokus pada kepentingan ekonomi semata, melainkan ada orientasi lain yang menjadi harapan masyarakat baik pemilik maupun bukan pemilik kebun campuran.

Nilai Guna Langsung Kebun Campuran

Nilai guna langsung kebun campuran berupa nilai produksi dikaji melalui 30 responden yang memiliki lahan kebun campuran (petani kebun campuran) di Desa Babakan. Nilai produksi kebun campuran diukur melalui pemanfaatan produk yang berasal dari tanaman kehutanan (tanaman buah, tanaman kayu) dan tanaman pertanian yang terdapat dalam lahan kebun campuran.

Skala Usahatani

Penguasaan lahan petani di desa penelitian diukur dengan menggunakan luasan lahan yang dimiliki responden petani kebun campuran. Luas lahan usahatani yang dikelola berkisar antara 0,04 – 2,7 Ha. Status kepemilikan lahan pada umumnya merupakan lahan milik sendiri atau tanah milik baik itu yang diperoleh dari warisan orang tua atau membeli dari orang lain. Rata-rata

kepemilikan lahan untuk lahan milik adalah 0,49 ha. Penggunaan lahan berupa sawah 20,33% dan 79,67% kebun campuran.

Luasan lahan kebun campuran sendiri berkisar antara 0,04 sampai 2 Ha Kisaran dari rentangan ini menunjukkan keragaman skala usahatani kebun campuran yang ada. Semakin luas lahan yang dikelola maka dapat dikatakan semakin besar skala usahatani kebun campuran tersebut. Skala lahan yang luas biasanya ditanam dengan berbagai jenis tanaman. Semakin luas lahan semakin banyak jenis tanaman yang terdapat didalamnya. Data skala usahatani kebun campuran responden petani kebun campuran dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Distribusi responden berdasarkan skala usahatani kebun campuran Kelas Luas Lahan Luas Lahan

Rata-rata (ha) Jumlah Responden Orang Persentase (%) I (< 0,25 ha) 0,11 13 43,33 II (0,25-0,5 ha) 0,41 11 36,67 III (> 0,5 ha) 0,95 6 20,00 Total 30 100

Pengelolaan Kebun Campuran

Komposisi dan Komponen Kebun Campuran

Dari hasil risalah pada 30 petak kebun campuran responden diketahui terdapat 33 jenis tanaman kehutanan dengan 14 jenis yang dimanfaatkan kayunya dan 19 jenis yang dimanfaatkan buahnya serta 17 jenis tanaman pertanian. Adapun rata-rata luasan lahan dari 30 orang responden adalah 3.873m². Jenis-jenis tanaman kebun campuran Desa Babakan secara lengkap dapa dilihat pada lampiran 4.

Tabel 16 Rata-rata jumlah komposisi jenis tanaman pada kebun campuran

Kelas Luas Lahan

Jumlah Komposisi Jenis Tanaman

Jumlah Kehutanan Pertanian Kayu Buah I 11 9 10 30 II 11 12 12 35 II 12 17 15 44 Rata-rata 11 13 12 36 (%) 31,19 35,19 34,26 100

Tanaman kehutanan dengan jenis tanaman buah (35,19%) merupakan komponen yang penting dalam kebun campuran. Bila dilihat dari aspek teknis pembudidayaan, tanaman buah mudah ditanam, mudah dipelihara dan terbukti memiliki tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap hama dan penyakit. Dari aspek ekonomis tanaman buah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pendapatan pemiliknya, usia produktif yang relatif pendek serta periode panen yang juga pendek sehingga dalam setahun pemanenan dapat dilakukan secara kontinu.

Tabel 17 Jenis tanaman buah yang banyak dibudidayakan oleh responden

No Jenis Pemilik % 1 Manggis 29 96,66 2 Durian 23 76,66 3 Melinjo 23 76,66 4 Pala 21 70,00 5 Petai 20 66,66

Di daerah ini tanaman buah yang paling cocok ditanam adalah manggis yang memang merupakan sumber mata pencaharian utama di Desa Babakan. Hal ini terbukti karena jenis tanaman buah yang paling banyak ditanam adalah manggis (Garcinia mangostana) yang ditanam oleh 29 orang (96,66%). Tanaman manggis merupakan tanaman yang paling digemari, petani beranggapan kondisi iklim dan tanah daerah mereka sangat mendukung pertumbuhan buah manggis sehingga produktivitasnya sangat baik dengan kuantitas dan kualitas tinggi. Bibit manggis sangat mudah didapat dari lingkungan desa mereka mengingat pohon induk manggis yang banyak dibudidayakan berasal dari salah satu kebun campuran yang berada di Desa Babakan. Manggis yang berasal dari kebun campuran Desa Babakan telah menjadi ciri khas daerah dan merupakan primadona untuk ekspor.

Sedangkan untuk jenis tanaman kehutanan penghasil kayu yang menjadi primadona di Desa Babakan adalah sengon. Semua responden (100%) memilih untuk membudidayakan tanaman kayu dengan jenis sengon. Jenis ini dipilih karena merupakan fast-growing species (cepat tumbuh), bibitnya mudah didapat,

serta relatif mudah dalam pemasarannya. Tanaman kayu sangat bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan yang bersifat mendadak.

Tabel 18 Jenis tanaman kehutanan yang banyak dibudidayakan oleh responden

No Jenis Pemilik % 1 Sengon 30 100,00 2 Kayu manis 19 63,33 3 Suren 17 56,66 4 Puspa 15 50,00 5 Janitri 15 50,00

Jenis tanaman pertanian yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat adalah pisang yang ditanam oleh 28 orang (93,33%) dan teh yang ditanam oleh 27 orang (90%). Tanaman ini sengaja ditanam untuk menambah keragaman isi kebun sekaligus sebagai sumber penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Produksi keduanya cukup tinggi dan tidak mengganggu terhadap perkembangan pohon manggis. Selain itu, pisang dan teh merupakan komoditi yang banyak dicari pembeli sehingga tidak akan mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Tabel 19 Jenis tanaman pertanian yang banyak dibudidayakan oleh responden

No Jenis Pemilik % 1 Pisang 28 93,33 2 Teh 27 90,00 3 Cengkeh 26 86,66 4 Singkong 24 80,00 5 Kopi 16 53,33

Pengadaan Bibit dan Penanaman

Petani di Desa Babakan biasanya memperoleh bibit yang akan ditanam di kebunnya melalui beberapa cara diantaranya berasal dari petani lain baik pemberian atau meminta, pemberian pemerintah, membeli, menemukan di lingkungan sekitar dan ada pula bibit yang berasal dari kebun sendiri. Beberapa responden bahkan memiliki persemaian sendiri. Upaya-upaya rekayasa untuk

mendapatkan bibit unggul masih dilakukan dengan cara-cara sederhana seperti cangkokan, stek dan sambung.

Pada umumnya petani menanam jenis tanaman apapun asal tanaman tersebut bisa tumbuh dan menambah keanekaragaman jenis tanaman di kebun mereka. Penanaman dilakukan pada lahan yang masih terlihat kosong, mereka tidak mempertimbangkan apakah jenis yang ditanam berakibat buruk pada tanaman yang telah ada sebelumnya.

Pengetahuan bertanam petani mengenai jarak tanam sudah didapat dari pengalaman bertani yang diwariskan, ini dapat dilihat dari adanya jarak tanam yang teratur untuk beberapa tanaman pokok seperti manggis, sengon, teh, pisang, dan cengkeh. Penanaman pohon manggis sudah teratur dengan jarak tanam 10 x 10 m, sengon 2 x 3 m, teh 1 x 1 m, pisang 4 x 4 m dan cengkeh 7x 7 m. Sedangkan tanaman lain biasanya ditanam pada lahan yang dianggap masih kosong dengan jarak yang tidak teratur. Penanaman tanaman kehutanan diantara tanaman manggis bersama dengan cengkeh atau pada bagian lahan yang curam untuk mengurangi longsor. Jarang ditemui petani responden yang kebunnya benar-benar tidak teratur (sama sekali tidak menggunakan jarak tanam).

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman yang biasa dilakukan petani kebun campuran di Desa Babakan adalah penyiangan, pemupukan, penyulaman dan pemberantasan hama penyakit.

Penyiangan yang dikenal dengan istilah ngored adalah kegiatan pemeliharaan kebun yang dilakukan secara rutin oleh semua responden dengan frekuensi 3 sampai 4 kali dalam setahun, hal ini tergantung kondisi kebun. Pembersihan kebun dari tumbuhan bawah secara selektif dilakukan untuk mengurangi atau membatasi perkembangan tumbuhan liar yang tidak dikehendaki sehingga dapat memberikan ruang tumbuh dan kesempatan memperoleh nutrisi yang lebih besar bagi tanaman budidaya.

Dalam satu kali kegiatan untuk lahan seluas 0,5 ha, rata-rata dilakukan selama 4 hari oleh 2 orang tenaga kerja. Dengan biaya rata-rata untuk satu kali penyiangan Rp 150.000. Penyiangan dilakukan oleh pemilik kebun dengan melibatkan anggota keluarga maupun jasa tenaga orang lain, yang menggunakan

tenaga upah dengan upah Rp 15.000 – Rp 20.000 per hari. Untuk penyiangan sendiri alat yang digunakan berupa arit atau parang atau menggunakan bahan kimia yaitu ”round up”.

Untuk kegiatan pemupukan tidak semua responden melakukannya. Sebanyak 12 orang petani yang tidak melakukan pemupukan menyatakan bahwa hasilnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan pemupukan bahkan terkadang hasilnya lebih bagus tanpa pemupukan, mereka lebih percaya bahwa tanah dan cuaca yang lebih memiliki pengaruh terhadap keberhasilan tanaman terutama manggis. Beberapa responden beranggapan bahwa pembusukan serasah-serasah daun yang berjatuhan sudah cukup untuk memberikan tambahan hara bagi perkembangan kesuburan tanah tersebut.

Tetapi ada juga petani yang melakukan pemupukan dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas kebun. Bahan-bahan yang diberikan biasanya adalah pupuk kimia dan pupuk kandang. Sebagian besar petani memilih menggunakan pupuk kandang untuk kebun campurannya karena harganya lebih murah dan lebih mudah untuk mendapatkannya. Jenis pupuk kimia sangat jarang digunakan karena pada satuan berat yang sama harganya relatif lebih mahal dibandingkan pupuk kandang. Pupuk kimia yang biasa digunakan urea, TSP, NPK dan KCL.

Pemupukan pada pohon manggis pada umumnya menggunakan pupuk kandang karena adanya permintaan eksportir untuk manggis organik tanpa adanya bahan kimia. Dalam setahun hanya dilakukan satu sampai dua kali setahun, sebelum dan sesudah panen manggis untuk mempertahankan produktivitas. Untuk satu pohon manggis dibutuhkan dua karung pupuk kandang atau sekitar 40 kg dengan harga 2.500/karung, namun seringkali para petani mendapatkannya secara cuma-cuma dari tetangga yang memiliki kandang.

Untuk kegiatan pemberantasan hama dan penyakit tidak terlalu mendapat perhatian dari pemilik kebun. Penanaman tanaman dengan variasi yang beragam, menurut mereka mampu mengurangi peluang terjangkitnya tanaman oleh hama dan penyakit yang menyerang seluruh tanaman dalam jumlah besar. Walaupun begitu mereka tetap menggunakan obat pemberantas hama ”decis” yang dapat digunakan sewaktu-waktu. Penggunaan ”decis” pada umumnya diperuntukkan untuk memberantas hama berupa ulat pada tanaman teh. Pada tanaman manggis,

hama yang banyak yang menyerang adalah tupai, untuk mengatasinya petani biasa menggunakan senapan untuk sekedar menakuti.

Penyulaman adalah kegiatan penggantian tanaman yang mati atau rusak dengan bibit yang baru. Kegiatan penyulaman umumnya dilakukan pada semua tanaman yang terdapat pada kebun campuran dengan maksud untuk tetap mempertahankan produktivitas kebun campuran.

Pemanenan

Adanya berbagai macam tanaman yang mengisi kebun campuran dengan tingkat produktivitas, usia tanaman, waktu penanaman serta periode panen yang berbeda menyebabkan kegiatan pemungutan hasil yang dilakukan oleh para responden petani tidak dilakukan secara bersamaan.

Periode panen tanaman buah-buahan sangat dipengaruhi kondisi musim dan cuaca terlebih untuk tanaman lokal seperti manggis. Menurut responden, panen buah-buahan akan besar bila musim kemarau panjang tiba. Sementara itu tanaman pertanian periode panennya lebih pendek sehingga dapat berproduksi sepanjang tahun. Tanaman kehutanan mempunyai periode panen yang panjang dan biasanya dipanen bila dirasakan perlu atau adanya kebutuhan mendesak. Periode panen produk kebun campuran dapat dilihat pada kalender panen kebun campuran (Tabel 21).

Pemanenan manggis merupakan kegiatan pemanenan yang paling utama dan menyerap tenaga kerja yang paling besar, biasanya dilakukan pada bulan September sampai Januari, namun bila musim hujan panjang biasanya produksinya sangat rendah bahkan ada beberapa tanaman yang tidak berbuah sama sekali.

Dibandingkan dengan tanaman kehutanan dan tanaman pertanian, tanaman buah memiliki produktifitas yang tinggi terutama manggis. Tanaman manggis memiliki rata-rata unit panen tertinggi dengan 834,76 kg/panen atau sekitar 0,8 ton/tahun. Beberapa responden beranggapan produktifitas tanaman manggis yang tinggi ini disebabkan oleh keadaan tanah dan iklim Desa Babakan yang sangat mendukung perkembangan manggis sehingga tidak hanya kuantitas yang baik tapi juga kualitasnya. Tabel 20 menunjukkan rata-rata unit produksi per panen

komoditas kebun campuran dari jenis-jenis tanaman yang paling banyak dibudidayakan.

Tabel 20 Rata-rata unit produksi/panen jenis tanaman kebun campuran yang banyak dibudidayakan responden

Komoditas Unit Rata-rata

Dokumen terkait