• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik responden yang diamati dalam penelitian ini terdiri dari jenis pekerjaan, usia, luas lahan dan kepemilikan lahan. Mayoritas responden berusia 20-49 tahun yaitu sebanyak 38 orang (82,6%). Sebagian besar responden berprofesi sebagai petani 31 orang (67,4%) dan sisanya berprofesi sebagai pegawai BTNUK 3 orang (6,5%), buruh tani 7 orang (15,2%), pedagang 2 orang (4,4%), nelayan 3 orang (6,5%) dan tukang bengkel 1 orang (2,2).

Seluruh tanah yang berada di Kampung Cikawung Girang adalah tanah bersertifikat, kecuali tanah garapan warga yang berada di luar tanah kampung. Seluruh tanah di Kampung Legon Pakis adalah tanah BTNUK yang telah didiami warga sejak zaman Belanda sehingga warga menganggap bahwa tanah mereka adalah tanah warisan dari nenek moyang mereka. Sedangkan warga Kampung Kopi yang dipindahkan dari zona rimba ke tanah kampung yang sedianya bersertifikat tetapi kenyataannya warga harus mengurus sendiri jika ingin mendapatkan sertifikat. Dari keseluruhan lahan sawah dan kebun, sebagian besar adalah lahan warisan (65,15%), sisanya adalah lahan yang dibuka oleh warga di dalam zona rimba yaitu 7,5 ha (17,44%) dan lahan hasil pembelian seluas 7,48 ha (17,4%).

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Lokasi TNUK terletak di Kecamatan Cimanggu dan Sumur serta semenanjung Ujung Kulon dan beberapa pulau-pulau kecil, diantaranya adalah Pulau Panaitan, Peucang dan Handeuleum. Secara administratif TNUK termasuk ke dalam Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Sumur Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

TNUK dikelola berdasarkan sistem zonasi, yaitu zona inti, zona rimba, zona khusus dan zona tradisional (BTNUK, 2007). Desa-desa yang berada di Kecamatan Sumur dan Cimanggu merupakan desa yang menjadi kawasan penyangga TNUK. Kecamatan Sumur terdiri dari tujuh desa dan Kecamatan Cimanggu terdiri dari 12 desa. Beberapa kampung dalam desa-desa tersebut sejak

40

penetapan Ujung Kulon sebagai taman nasional dikategorikan ke dalam zona rimba, diantaranya adalah Kampung Legon Pakis dan Kampung Cikawung Girang yang berada di Desa Ujung Jaya Kecamatan Sumur dan Kampung Kopi yang terletak di Desa Kertajaya Kecamatan Sumur.

Kampung Legon Pakis berdiri di tengah-tengah ribuan perkebunan kelapa dan di kelilingi oleh sawah yang sangat subur, tidak heran jika setiap hari truk pengangkut buah kelapa membawa kelapa dan hasil bumi lainnya menuju berbagai kota. Berdiri di atas lahan seluas 228 ha, Kampung Legon Pakis berbatasan dengan Kampung Cikawung Girang dan Cikawung Seberang. Ketiga kampung tersebut beserta Sempur dan Taman Jaya Girang merupakan kampung yang berada di Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur.

Berdasarkan zonasi TNUK, Kampung Legon Pakis dikategorikan ke dalam zona khusus. Zona khusus adalah bagian dari zona inti yang diperlakukan secara khusus karena zona tersebut sudah menjadi kawasan permukiman sejak sebelum penetapan Ujung Kulon menjadi taman nasional. Pada tahun penetapan TNUK, yaitu pada tahun 1992 seluruh warga Kampung Legon Pakis direlokasi ke Pematang Laja Kecamatan Cigeulis. Namun warga kembali lagi ke Kampung Legon Pakis karena tidak menemukan kondisi yang diharapkan. Sampai saat ini, pihak BTNUK berusaha untuk merelokasi warga Kampung Legon Pakis karena menempati zona inti.

Kondisi Kampung Cikawung Girang sedikit berbeda dengan Kampung Legon Pakis, kampung ini berdiri di atas persawahan yang dialiri air sungai dari pegunungan yang tidak kering di musim kemarau. Tidak banyak pohon kelapa dan tanaman perkebunan lainnya di tengah kampung, tanaman tersebut ditanam oleh penduduk di areal perkebunan yang berada dalam zona rimba.

Permukiman Kampung Cikawung Girang terbelah menjadi dua bagian, satu bagian dikategorikan sebagai kawasan penyangga dan bagian lainnya dikategorikan ke dalam zona rimba. Bagi bagian yang terkategori ke dalam zona rimba, pihak BTNUK juga menerapkan kebijakan relokasi, sedangkan bagi bagian yang dikategorikan sebagai kawasan penyangga, BTNUK mengizinkan warga untuk menggarap tanah garapan yang berada dalam zona rimba. Namun sampai

saat ini BTNUK belum berhasil merelokasi warga karena warga mempunyai bukti kepemilikan yang sah atas lahan perkampungan dan lahan garapan.

Berbeda halnya dengan Kampung Kopi, kampung ini berada di Desa Kertajaya Kecamatan Sumur. Kampung ini terletak tepat di perbatasan Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu. Sedikit sama kondisinya dengan Kampung Cikawung Girang, kampung ini dahulunya terbelah menjadi dua, satu bagian permukiman berada di dalam zona rimba dan bagian lainnya berada dalam daerah penyangga. Pada tahun 2000 BTNUK berhasil merelokasi permukiman yang berada dalam zona rimba ke dalam daerah penyangga yang terletak di sebelah jalan. Di kampung ini, zona rimba dan kawasan penyangga dibatasi oleh jalan raya.

Zonasi dalam kawasan TNUK bisa dilihat dalam Gambar 3 berikut:

Gambar 3 Zonasi Balai Taman Nasional Ujung Kulon (Sumber: BTNUK, 2007) Sedangkan desa yang menjadi desa penyangga bisa dilihat dalam gambar berikut:

Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian

42

Gambar 4 Lokasi Penelitian (Sumber: BTNUK, 2007)

Mengingat status permukiman Kampung Legon Pakis yang berada di dalam zona inti yang diberi perlakuan khusus, sarana dan prasarana kampung berbeda dengan kampung atau desa yang berada dalam kawasan penyangga. Jalan kampung hanya berupa jalan tanah yang jika hujan turun menjadi becek. Penerangan pada malam hari menggunakan lampu yang menggunakan bahan bakar minyak tanah. Dalam satu kampung hanya terdapat satu televisi milik seorang juragan yang menyalurkan aliran listrik dari Cikawung Seberang. Tidak ada sarana pendidikan, kesehatan dan sarana umum lainnya. Tiga kampung ini berada dalam kawasan TNUK sejak adanya perubahan terbaru berkenaan tapal batas. Sebelum adanya perubahan, tiga kampung ini berada dalam kawasan penyangga. Perubahan tapal batas dilakukan pada tahun 1992, pada saat penetapan status TNUK.

Sebelum adanya perubahan tapal batas pada tahun 1992, tapal batas berada di ujung barat Desa Ujung Jaya berada di sungai Cihujan, sehingga Kampung

Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian

Legon Pakis maupun Kampung Cikawung Girang tidak termasuk dalam kawasan TNUK. Setelah adanya perubahan tapal batas, tapal batas bergeser keluar TNUK yaitu ke perbatasan antara Kampung Legon Pakis dan Cikawung Seberang.

Gambar 3 dan 4 menunjukkan bahwa dalam TNUK terdapat pembagian zonasi yang jelas. Gambar tersebut menunjukkan betapa dekatnya daerah penyangga yang didiami warga dengan zona rimba, padahal ketentuan-ketentuan dalam dua zona tersebut berbeda jauh. Jika daerah penyangga tidak terdapat larangan melakukan aktivitas budidaya, berbeda halnya dengan zona rimba, dalam zona rimba aktivitas budidaya termasuk yang dilarang. wilayah perbatasan langsung antara zona rimba dan daerah penyangga inilah yang menimbulkan gesekan antara warga yang berada dalam daerah penyangga dan petugas BTNUK. Padahal desa yang berada dalam daerah penyangga tidaklah sedikit, yaitu sebanyak 19 desa (Gambar 4).

Aktivitas Keseharian

Masyarakat di tiga kampung penelitian adalah masyarakat agraris, dimana kehidupannya berpusat pada kegiatan pertanian. Keunikan ketiga kampung ini adalah mereka bercocok tanam hanya pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau sawah diberakan. Pada musim hujan, warga bertanam padi sedangkan pada musim kemarau warga mengandalkan kehidupannya dari hasil kebun yang ditanami kopi, lada, pisang, dan lain-lain.

Nampak terasa bahwa semua warga ditiga kampung ini sangat menggantungkan kehidupan mereka kepada hasil bumi yang diperoleh dari kebun dan sawah yang berada dalam zona rimba. Untuk mencukupi kebutuhan makan misalnya, warga hanya mengkonsumsi hasil bumi mereka. Mereka tidak mendapatkan suplai bahan makanan dari para pedagang karena untuk mengakses dua kampung ini pedagang harus melewati jalan rusak yang tidak layak. Untuk memenuhi kebutuhan ikan, warga Kampung Cikawung Girang mengambilnya dari pesisir pantai Kampung Legon Pakis. Meskipun demikian hasil penelitian Tim Peneliti Sains (2007) menunjukkan tingginya hasil bumi Kampung Legon Pakis dan Kampung Cikawung Girang yang bisa dilihat dalam Tabel 2 berikut:

44

Tabel 2 Data produksi dan nilai penjualan komoditas Kampung Legon Pakis tahun 2007 Jenis Komoditas Volume Produksi per tahun Frekuensi Produksi per tahun Nilai Produksi per tahun (Rp) Keterangan

Gabah 320,8 ton 1-2 kali 705.760.000 Harga gabah Rp 2.200 per kg

Kelapa 752.840 buah 6 kali 376.420.000 Harga kelapa per butir Rp 500

Kopi 5.930 kg 1 kali 118.600.000 Harga Kopi Rp 20.000 per kg

Pete 26220 papan 1 kali 5.240.000 Harga pete Rp 20.000 per 100

papan

Melinjo 280 kg 1 kali 840.000 Harga Melinjo Rp 3000 per kg

Jengkol 161 kg 1 kali 322.000 Harga jengkol Rp 2000 per kg

Mahoni 20 papan 1 kali 400.000 Harga mahoni Rp 20.000 per

papan

Jumlah (bruto) 1.207.582.000

Sumber: Tim Peneliti SAINS (2007)

Tabel 3 Data produksi dan nilai penjualan komoditas Kampung Cikawung Girang tahun 2007 Jenis Komoditas Volume Produksi per tahun Frekuensi Produksi per tahun Nilai Produksi

per tahun (Rp) Keterangan

Gabah 183,100 ton 1-2 kali 250.800.000,- Harga gabah Rp 2.200 per kg

Kelapa 168.400 buah 6 kali 72.000.000,- Harga kelapa per butir Rp 500

Kopi 50 kg 1 kali 1000.000,- Harga Kopi Rp 20.000 per kg

Albasia 25 pohon 5-10 tahun 5000.000,- Harga Papan per Pohon Rp 200.000,-

Mangga 10 kg 1 kali 15000 Harga Mangga Rp 1500 per kg

Melinjo 10 kg 1 kali 30.000,- Harga Melinjo Rp 3000 per kg

Jengkol 161 kg 1 kali 322.000 Harga jengkol Rp 2000 per kg

Mahoni 1200 papan 1 kali 240.000.000 Harga mahoni Rp 20.000 per

papan

Bambu 20 pohon 1 200.000,- Harga Per pohon Rp 10.000,-

Jumlah (bruto) 569.367.000

Sumber: Tim Peneliti SAINS (2007)

Dalam menjalankan aktivitas keseharian, warga Kampung Legon Pakis mengikuti figur sentral kampung yaitu Abah Suhaya. Abah Suhaya membimbing warga dalam merencanakan tanaman apa yang ditanam pada musim tertentu, ia juga yang memimpin warga untuk memulai aktivitas bercocok tanam. Ia menjadi tempat bertanya dan tempat bercerita bagi warga mengenai kehidupan, termasuk mengenai konflik tapal batas antara warga dan BTNUK.

Pengakuan masyarakat atas kepemimpinan non formal Abah Suhaya didasarkan pada keyakinan warga bahwa Abah Suhaya adalah titisan dari Abah Pelen. Abah Pelen merupakan tokoh yang merintis pembukaan Kampung Legon Pakis. Dikarenakan pengetahuan Abah Suhaya yang sangat mendalam mengenai sejarah Ujung Kulon, terlebih Kampung Legon Pakis dan Desa Ujung Jaya maka Abah Suhaya tidak hanya menjadi figur sentral di Kampung Legon Pakis tetapi Abah Suhaya juga ditokohkan oleh warga Kecamatan Sumur. Bahkan ia dijadikan sebagai Ketua Serikat Tani Ujung Kulon oleh 19 warga desa yang termasuk dalam kawasan penyangga.

Pengetahuan Responden mengenai Kelembagaan

Transparansi

Salah satu prinsip transparansi adalah menjamin akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang perencanaan dan pelaksanaan kebijakan. Melalui prinsip inilah semua pihak yang terlibat dalam penyelesaian konflik berhak mengetahui rencana dan pelaksanaan konflik yang dilakukan oleh pihak lainnya. Dalam penelitian ini, pengertian transparansi adalah pengetahuan responden mengenai rencana dan pelaksanaan penyelesaian konflik yang dilakukan oleh RT, RW, Desa, BPD, Tokoh Masyarakat, BTNUK, Kecamatan, DPRD, BPN dan LSM.

Tabel 4 memperlihatkan bahwa rataan skor dari responden untuk perencanaan dan penyelesaian konflik yang dilakukan oleh kelembagaan RW, BPD, Desa, tokoh masyarakat dan BTNUK berkisar dari 1,60 sampai 1,86 untuk perencanaan dan 1,60 sampai 1,90 untuk pelaksanaan penyelesaian konflik. Hal ini menunjukkan bahwa responden tidak mengetahui perencanaan maupun pelaksanaan penyelesaian konflik yang disusun dan dilakukan oleh kelembagaan tersebut.

Rataan skor untuk RT, LSM, BPN dan DPRD berkisar dari 1,18 sampai 1,36 untuk perencanaan penyelesaian konflik, untuk pelaksanaan penyelesaian konflik rataan skor semua kelembagaan tersebut adalah 1,36. Hal ini

46

menunjukkan bahwa responden sangat tidak mengetahui perencanaan dan pelaksanaan konflik yang disusun dan dilakukan oleh kelembagaan tersebut.

Tabel 4 Skor pengetahuan responden mengenai perencanaan dan pelaksanaan penyelesaian konflik

Kelembagaan Transparansi dalam Penyelesaian Konflik

Perencanaan (Rataan Skor) Pelaksanaan (Rataan Skor)

RT 1,18 1,36 RW 1,71 1,76 BPD 1,76 1,76 Desa 1,67 1,67 Tomas 1,71 1,71 Kecamatan 1,60 1,60 LSM 1,36 1,36 BPN 1,36 1,36 DPRD 1,36 1,36 BTNUK 1,86 1,90

Keterangan: Rataan skor 1 – 1,75 = sangat tidak tahu Rataan skor 1,76 – 2,50 = tidak tahu Rataan skor 2,51 – 3,25 = tahu Rataan skor 3,26 – 4,00 = sangat tahu

Tabel 4 menunjukkan responden cenderung tidak tahu dan sangat tidak tahu tentang transparansi kelembagaan yang ada. Dari semua kelembagaan, nampak bahwa kelembagaan yang mempunyai rataan skor tertinggi adalah BTNUK, sedangkan kelembagaan yang mempunyai rataan skor terendah adalah RT.

Kenyataan bahwa BTNUK mempunyai rataan skor tertinggi adalah karena secara kelembagaan, BTNUK menempati hirarki tertinggi yang mempunyai otoritas terbesar dalam penyelesaian konflik. Otoritas tersebut meniscayakan BTNUK untuk memproduksi gagasan-gagasan penyelesaian konflik yang kemudian disosialisasikan kepada kelembagaan yang secara hirarkis lebih rendah dibanding BTNUK. Besarnya otoritas tersebut juga meniscayakan BTNUK untuk menyebarkan gagasan tersebut secara luas kepada masyarakat melalui kelembagaan yang secara hirarkis lebih rendah. Karena gagasan tersebut adalah gagasan dari BTNUK, jadi meskipun gagasan tersebut yang menyampaikan adalah RT, namun masyarakat mengetahuinya sebagai gagasan dari BTNUK.

Di sisi lain, kelembagaan yang mempunyai rataan skor terendah adalah RT. Hal tersebut disebabkan karena RT hanya menyampaikan rencana dan pelaksanaan penyelesaian konflik dari kelembagaan lainnya. Dalam kasus

Kampung Legon Pakis misalnya, RT nampak tidak mempunyai rencana penyelesaian konflik karena RT manut dengan tokoh masyarakat.

Secara umum, kecenderungan responden tersebut bisa dikarenakan dua hal, yang pertama terkait dengan aspek intern kelembagaan dan yang kedua terkait dengan aspek komunikasi. Secara internal, kelembagaan-kelembagaan formal maupun nonformal pada dasarnya tidak mempunyai rencana yang pasti untuk menyelesaikan konflik.

Ditinjau dari aspek saluran komunikasi penyelesaian konflik, kelembagaan tertinggi yang mempunyai wewenang khusus dalam kawasan TNUK adalah BTNUK. Dalam pelaksanaan wewenang tersebut, BTNUK berkoordinasi dengan penguasa administratif kawasan TNUK yaitu DPRD Kabupaten Pandeglang yang juga mewakili Pemerintah Daerah Pandeglang. BTNUK juga berkoordinasi dengan Kecamatan Sumur dan Cimanggu yang juga penguasa administratif TNUK, BPN Pandeglang karena konflik dalam TNUK terkait erat dengan sengketa agraria dan LSM.

Setelah dikoordinasikan dengan kelembagaan di atas, BTNUK mensosialisasikannya kepada kepala desa. Oleh kepala desa informasi tersebut kemudian diteruskan kepada BPD, RW, RT dan tokoh masyarakat. Berikut ini adalah skema saluran informasi penyelesaian konflik di TNUK:

Gambar 3 Skema Saluran Informasi Penyelesaian Konflik di TNUK

Dari skema di atas, dapat dimengerti jika kelembagaan yang mempunyai rataan skor terendah adalah RT. Dalam perjalanan komunikasi dari hirarki teratas

BTNUK DPRD LSM BPN Kecamatan Desa BPD RW RT Tokoh Masyarakat

48

sampai RT dapat dipastikan ada bias informasi, oleh karena itu informasi yang sampai di RT belum tentu sama dengan informasi pada BTNUK. Oleh karena itu pula meskipun RT adalah kelembagaan yang paling mudah diakses oleh masyarakat, namun RT tidak mampu memberikan keterangan yang memadai mengenai perencanaan dan pelaksanaan penyelesesaian konflik.

Temuan di atas relevan dengan temuan Dharmawan (2006) dalam studi mengenai pemerintahan desa. Dharmawan menemukan bahwa aparat desa dan warga desa umumnya menghadapi kemiskinan dalam menggagas inisiatif-inisiatif perubahan yang bernas atau asli atau otentik sesuai dengan potensi, persoalan serta kebutuhan di tingkat lokalitas. Kemiskinan stok-gagasan tersebut telah menyebabkan dampak bolak-balik terhadap kelembagaan pemerintahan desa berupa ketidakberdayaan untuk berperan sebagai “mesin perubahan sosial”.

Kemiskinan stok gagasan tersebut terlihat dari ketergantungan aparat desa terhadap pihak-pihak yang mempunyai kewenangan. Dharmawan (2006) mendeskripsikan hal tersebut sebagai meningkatnya derajat ketergantungan struktural pemerintahan desa (lokalitas desa) terhadap otoritas pemerintahan “atas-desa” yang semakin hari semakin menguat. Tokoh masyarakat, RT, BPD dan desa berharap bisa bermusyawarah dengan pihak-pihak tersebut untuk merumuskan kesepakatan yang mengakomodir kepentingan pihak yang terkait dengan TNUK.

Kepala BTNUK menuturkan beberapa langkah penyelesaian konflik, diantaranya adalah rencana untuk membangun saluran irigasi di kawasan penyangga, perencanaan ekowisata berbasis masyarakat, pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pemberian modal kepada kelompok-kelompok sasaran, dan rencana untuk menindak tegas para pelaku illegal logging di zona inti dan zona pemanfaatan. Hanya saja rencana pihak BTNUK tersebut tidak banyak diketahui masyarakat.

Sementara itu, kelembagaan nonformal yang sedianya diduga menjalankan fungsi sebagai ajang penyelesaian konflik ternyata tidak terbukti. Pada tahap uji validasi dan reliabilitas kuesioner, ditemukan bahwa peubah yang dikategorikan sebagai kelembagaan nonformal yaitu pengajian bapak-bapak atau ibu-ibu, perkumpulan masjid dan perkumpulan menjelang maghrib tidak menjalankan

fungsi sebagai ajang penyelesaian konflik. Kelembagaan tersebut hanya menjalankan fungsi edukasi spiritual. Satu-satunya kelembagaan nonformal yang menjalankan fungsi penyelesaian konflik adalah seorang tokoh masyarakat dan ini hanya terjadi di Kampung Legon Pakis.

Dari diskusi mendalam dengan ketua RT, diketahui bahwa RT patuh dengan tokoh masyarakat, sehingga ketika ditanyakan mengenai rencana penyelesaian konflik ketua RT menyarankan untuk bertanya langsung ke tokoh masyarakat saja. Dari diskusi dengan responden lainnya diperoleh informasi bahwa pada dasarnya ketua RT memang tidak mempunyai rencana penyelesaian konflik.

Hasil diskusi mendalam dengan responden, diperoleh informasi bahwa terdapat beberapa LSM yang pernah membantu masyarakat untuk menyelesaikan konflik, LSM tersebut adalah Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI) dan Sajogyo Institut (SAINS). Namun karena LSM tersebut datang secara temporer, maka masyarakat tidak mengetahui rencana dan pelaksanaan penyelesaian konflik yang dilaksanakan oleh LSM tersebut.

Kelembagaan formal lainnya seperti DPRD dan BPN juga tidak pernah menyampaikan perencanaan penyelesaian konflik dikarenakan tidak mempunyai akses langsung ke masyarakat walaupun kelembagaan tersebut mempunyai rencana penyelesaian konflik. Hal tersebut diketahui dari draft raperda daerah penyangga yang sedang dibahas di DPRD, dimana BPN dan BTNUK adalah pihak yang turut membahas raperda tersebut.

Akuntabilitas

Sumber dana penyelesaian konflik berkaitan dengan independensi kelembagaan dalam mengambil suatu keputusan. Dalam prinsip tata pemerintahan yang baik, kelembagaan harus mempertanggunggugatkan setiap keputusan yang diambil, termasuk memutuskan sumber dana untuk operasionalisasi kelembagaan. Dalam prinsip tersebut, setiap orang berhak memperoleh informasi mengenai sumber dana kelembagaan. Berikut ini adalah analisis data mengenai pengetahuan responden mengenai sumber dana dan pengelolaan dana penyelesaian konflik kelembagaan yang diteliti:

50

Tabel 5 Skor pengetahuan responden mengenai sumber dana dan pengelolaan dana penyelesaian konflik

Kelembagaan Akuntabilitas dalam Penyelesaian Konflik

Sumber Dana (Rataan Skor) Pengelolaan Dana (Rataan Skor)

RT 1,36 1,40 RW 1,60 1,55 BPD 1,62 1,55 Desa 1,60 1,55 Tomas 1,62 1,55 Kecamatan 1,62 1,57 LSM 1,40 1,40 BPN 1,40 1,40 DPRD 1,40 1,40 BTNUK 1,74 1,62

Keterangan: Rataan skor 1 – 1,75 = sangat tidak tahu Rataan skor 1,76 – 2,50 = tidak tahu Rataan skor 2,51 – 3,25 = tahu Rataan skor 3,26 – 4,00 = sangat tahu

Tabel 5 memperlihatkan bahwa rataan skor dari responden untuk sumber dana dan pengelolaan dana penyelesaian konflik pada kelembagaan yang terkait menunjukkan rataan skor yang berkisar 1,36 sampai 1,74 untuk sumber dana dan 1,40 sampai 1,62 untuk pengelolaan dana penyelesaian konflik. Hal ini menunjukkan bahwa responden tidak mengetahui sumber dana maupun pengelolaan dana penyelesaian konflik pada kelembagaan terkait.

Tabel 5 menunjukkan bahwa kelembagaan yang mempunyai rataan skor tertinggi (1,74) adalah BTNUK. Sedangkan kelembagaan yang mempunyai rataan skor terendah adalah RT (1,36). Hal tersebut dikarenakan responden mengetahui bahwa BTNUK mempunyai sumber dana penyelesaian konflik yang pasti, yaitu pemerintah. Sedangkan untuk RT, responden mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui dari mana RT memperoleh dana penyelesaian konflik. Responden hanya mengetahui bahwa RT tidak memperoleh dana dari siapapun. Upaya penyelesaian konflik yang dilakukan RT hanya semata untuk mengabdi kepada masyarakat, tanpa imbalan apapun.

Hasil diskusi mendalam dengan informan, diperoleh informasi bahwa pada dasarnya RT tidak mendapatkan dana dari siapapun, kelembagaan tersebut menggunakan uang pribadinya dalam keterlibatannya dalam penyelesaian konflik. Dikarenakan uang tersebut adalah uang pribadi, maka kelembagaan tersebut juga

mengelolanya secara pribadi dan tidak mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat luas.

Kelembagaan formal seperti RT, RW, BPD dan Desa serta kelembagaan non formal yaitu tokoh masyarakat pada dasarnya memang tidak pernah menyampaikan secara terbuka mengenai sumber dana penyelesaian konflik kepada masyarakat luas. Dari hasil diskusi mendalam dengan para responden, responden menyatakan bahwa pada dasarnya RT, RW, BPD, Desa dan tokoh masyarakat tidak mempunyai anggaran dan pengelolaan khusus untuk dana penyelesaian konflik, karena kelembagaan tersebut menggunakan uang pribadi.

Kelembagaan formal lainnya seperti DPRD dan BPN juga tidak pernah menyampaikan sumber dana dan pengelolaan dana penyelesaian konflik. Dari diskusi mendalam dengan responden, terungkap bahwa sebagai kelembagaan formal pemerintah, maka kelembagaan tersebut memperoleh dana dari pemerintah dan mengelolanya sesuai standar yang berlaku dalam pemerintahan.

Persepsi Tindakan Komunikasi Responden dalam Penyelesaian Konflik Prosedur penyelesaian konflik yang terbaik adalah dengan maksimalisasi argumentasi secara rasional. Maksimalisasi argumentasi adalah melalui tindakan komunikatif. Proses penyampaian argumen merupakan suatu tindakan komunikasi. Dalam penelitian ini, tindakan komunikasi yang dianggap paling mendasar dalam penyampaian argumen adalah tindakan bertanya, berdiskusi dan mendapatkan informasi. Tindakan bertanya dan mendapatkan informasi merupakan tindakan komunikasi satu arah, tetapi jika keduanya digabungkan dalam waktu yang sama maka akan menjadi komunikasi dua arah. Komunikasi dua arah juga bisa terlihat dalam suatu proses diskusi.

Tabel 6 memperlihatkan bahwa rataan skor tindakan responden untuk bertanya dan berdiskusi mengenai penyelesaian konflik kepada mayoritas kelembagaan yang terkait menunjukkan rataan skor yang berkisar dibawah 1,75, kecuali kepada BPD yaitu 1,91 untuk tindakan bertanya dan 2,05 untuk tindakan berdiskusi. Hal ini menunjukkan bahwa responden tidak pernah bertanya dan berdiskusi mengenai penyelesaian konflik kepada pada kelembagaan selain BPD.

52

Kepada BPD, responden terkategori jarang bertanya dan berdiskusi mengenai penyelesaian konflik.

Dokumen terkait