Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa sebagian besar usia responden adalah 20 – 30 tahun.
Tidak ada perbedaan umur secara signifikan pada keempat kelompok dengan p value 0,558 ( p value >
0,05).
Berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan data bahwa pada semua kelompok sebagian besar responden berpendidikan menengah dengan besaran pada kelompok pijat 72,7%,
pada kelompok aromaterapi 63,6%, pada kelompok pijat aromaterapi 81,8% dan kelompok kontrol 72,7%
dan tidak ada perbedaan signifikan pada semua kelompok dengan p value
= 0,643 ( p value > 0,05).
Produksi ASI sebelum perlakuan Berdasarkan tabel 1 rata- rata produksi ASI pada kelompok pijat didapatkan sebelum perlakuan adalah 93,18 ml dengan nilai minimum 72 ml dan nilai maksimum 109 ml, sedangkan pada kelompok kontrol rata- rata produksi ASI sebelum perlakuan adalah 96,55 ml, nilai minimum 72 ml, nilai maksimum 140 ml.
Produksi ASI sebelum diberikan perlakuan pada keempat kelompok adalah tidak ada perbedaan signifikan dengan p value = 0,380 (p value>0,05)
Tabel 1. Produksi ASI sebelum perlakuan
a Chi Square
Pengaruh Pijat Terhadap Produksi ASI Sebelum dan Sesudah Perlakuan
Berdasarkan tabel 2 didapatkan bahwa rata- rata Produksi ASI sebelum diberikan pijatan adalah 93,18 ml dan rata- rata sesudahdiberikanpijatadalah 172,18 ml, perbedaan rata- rata post dan pre adalah -79 ml dan nilai p value
= 0,000.
Rata-rata Produksi ASI sebelum perlakuan pada kelompok control adalah 96,55 ml dan rata-rata sesudah perlakuan adalah 131,82 ml, perbedaan
Mean Minimum – Maksimum
(ml) (ml)
Pijat 93,18 72 – 109 0,380a
Kontrol 96,55 72 – 140
Perlakuan P value
69 rata rata sesudah dan sebelum adalah
-35,27 ml dan nilaip value = 0,001.
Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan rata- rata Produksi ASI sebelum dan sesudah pada semua kelompok dengan rata- rata kenaikannya pada kelompok pijat 79 ml dan kelompok kontrol 35,27 ml.
Tabel 2. PerbandinganRata- Rata Produksi ASI pada kelompok pelakuan
Perbedaan Rata-Rata Selisih Produksi ASI Sebelum dan Sesudah Perlakuan Pada semua kelompok
Tidak terdapat perbedaan signifikan produksi ASI sebelum perlakuan pada kedua kelompok dengan p value = 0,646 (p value
>0,05).
Ada perbedaan signifikan produksi ASI setelah perlakuan pada semua kelompok dengan p value = 0,000 (p value < 0,005 )dan rata- rata perbedaannya 40,364 ml.
Gambar 1. Boxplot PerbandinganRata- RataProduksi ASI pada Sebelum dan
sesudahperlakuan
Tabel 3. PerbandinganRata-Rata Produksi ASI pada kelompok pelakuan dan kelompok kontrol
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pijat memberikan pengaruh terhadap Produksi ASI pada ibu postpartum primipara di Kota Semarang. Massage merupakan manipulasi dari struktur jaringan lunak yang dapat menenangkan serta mengurangi stress psikologis dengan meningkatkan hormon morphin endogen seperti endorphin, enkefalin dan dinorfin sekaligus menurunkan kadar hormon stress seperti hormon kortisol, norepinephrine dan dopamine (Best, 2008).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Patel U, dkk yang meneliti pengaruh pijat punggung terhadap laktasi. Dengan meneliti berat badan bayi sebelum dan sesudah menyusui didapatkan hasil bahwa setelah diberikan pijat rata- rata berat badan bayi setelah menyusu naik lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol.(Patel,2013).
Massage dapat memberikan sensasi relaks pada ibu dan melancarkan aliran syaraf serta saluran ASI kedua payudara (Perinasia, 2011).
Massage juga dapat memberikan kenyamanan dan membuat rileks ibu karena massage dapat merangsang pengeluaran hormone endorphin serta menstimulasi reflex oksitosin.
Mean pre Mean post Mean
(ml) (ml) post – pre
(ml)
Pijat 93,18 172,18 -79,00 11,54 0,000
Kontrol 96,55 131,82 -35,27 23,82 0,001
Kelompok
SD P value Produksi ASI
Mean ±
SD Mean Mean ±
SD Mean
Min-maks different
Min-maks Different
(ml) (ml)
93,18
±12,18
172,18
±12,40
72 – 109 156 –
192 96,55 ±
20,55
131,82 ± 25,34
72 – 140 98 – 176
Pijat 0,646 -3,364 0,000d 40,364
Kontrol Kelompok
Produksi ASI Sebelum perlakuan (Pre)
N = 22
Produksi ASI Sesudah perlakuan (Post )
N = 22
P value P value
70 Oksitosin merangsang refleks let
down (mengalirkan) sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus laktiferus payudarake duktus yang terdapat pada putting (Saleha, 2009).
Produksi ASI sebelum perlakuan pada keempat kelompok didapatkan data tidak ada perbedaan signifikan (pvalue=0,073), sedangkan setelah perlakuan terdapat perbedaan yang signifikan (p value = 0,010).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kenaikan produksi ASI terdapat pada semua kelompok baik kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa dalam kondisi normal, pada hari pertama dan kedua sejak bayi lahir, air susu yang di hasilkan sekitar 50 -100 ml sehari. Jumlahnya pun meningkat hingga 500 ml pada minggu kedua.
Produksi ASI semakin efektif dan terus-menerus meningkat pada 10-14 hari setelah melahirkan. (Prasetyono, 2009).
Dengan diberikan pijat maka produksi ASI mengalami kenaikan lebih besar daripada kelompok kontrol.
Sesuai dengan teori bahwa usaha untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu setelah melahirkan selain dengan memeras ASI, dapat dilakukan juga dengan melakukan perawatan atau pemijatan payudara, membersihkan puting, sering menyusui bayi meskipun ASI belum keluar, menyusui dini dan teratur serta pijat oksitosin.
(Biancuzzo, 2003; Walker, 2006).
Produksi ASI juga dipengaruhi oleh faktor yang lain seperti status gizi, Body Mass Indeks (BMI), penyakit, kontrasepsi, psikologi, rokok, alkohol, umur kehamilan, berat bayi, perilaku menyusui, factor social budaya dan obat/ makanan perangsang ASI (Arifin, 2004; Britton, 2009;
Andersen, 1982;Mennella, 2015;
Colin, 2002)
Penyakit, kontrasepsi, rokok, alkohol, umur kehamilan, berat bayi, dan obat/ makanan perangsang ASI dalam penelitian ini sudah termasuk dalam kriteria inklusi.
Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi produksi ASI diatas maka dimungkinkan bahwa kenaikan produksi ASI pada kelompok intervensi adalah karena pengaruh perlakuan yang diberikan.
Adapun keterbatasan penelitian ini adalah variabel pengganggu yang mempengaruhi produksi ASI tidak semuanya dapat dikendalikan seperti status gizi, psikologi, dan dukungan social budaya.
IV. Simpulan
Ada pengaruh pijat terhadap produksi ASI pada ibu postpartum primipara dengan p value = 0,000 dan ada perbedaan produksi ASI pada ibu postpartum primipara yang mendapatkan perlakuan pijat, dan kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan dengan p value = 0,000.
Saran yang dapat diberikan adalah ibu postpartum mendapatkan pelayanan pijat pada awal postpartum untuk meningkatkan produksi ASI, penelitian selanjutnya tentang pengaruh pijat terhadap produksi ASI mampu mengendalikan faktor- factor pengganggu status gizi, psikologi dan dukungan social budaya.
71 Daftar Pustaka
Ahluwalia IB, Morrow B, Hsia J. 2005.
Why do women stop
breastfeeding? Findings from the Pregnancy Risk Assessment and Monitoring System. Pediatrics.
116(6); 1408–12.
Andersen, A.N., C. Lund-Andersen, J.F. Larsen, N.J. Christensen, J.J.
Legros, F. Louis, H. Angelo, and J. Molin. 1982. Suppressed prolactin but normal neurophysin levels in cigarette smoking breastfeeding women. Clin.
Endocrinol.17; 363-368.
Arifin, Siregar. 2004. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor- faktor Yang Mempengaruhinya.
Best, T. M., R. Hunter, A.Wilcox and F. Haq.2008. Effectiveness of sports massage for recovery of skeletal muscle from strenuous exercise. Clinical Journal of Sport Medicine.18(5); 446
Biancuzzo, M. 2003. Breastfeeding the newborn: Clinical strategies for nurses. St. Louis. Journal of Perinatal & Neonatal Nursing. 17;
89- 90
Britton C, McCormick FM, Renfrew MJ, Wade a, King SE. 2009.
Support for breastfeeding mothers ( Review ). Library (Lond) [Internet].1(4):1–101. Available from:
http://www.mrw.interscience.wile y.com/cochrane/clsysrev/articles/
CD001141/frame.html
Colin WB, Scott JA. 2002.
Breastfeeding: reasons for starting, reasons for stopping and problems along the way.
Breastfeed Rev [Internet]. [cited 2015 May 7];10(2):13–9.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pub med/12227559
Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Profil Kesehatan Kota Semarang Tahun 2013.
Jamilah. 2014. Efektifitas Kombinasi Pijat Oksitosin Tehnik Efflurage dan aromaterapi Rose Terhadap kadar Hormon Prolaktin Ibu Postpartum Normal di wilayah puskesmas Dawe Kudus Tahun 2013( Tesis).
Lawrence R.A.1997. Review of the Medical Benefits and Contraindications to Breastfeeding in the United States.
Arlington, VA: Maternal and Child Health Bureau
Mennella J. Alcohol’ s Effect on Lactation [Internet]. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism. [cited 2015 May 7].
Available from:
http://pubs.niaaa.nih.gov/publicati ons/arh25-3/230-234.htm
Morhenn V, Beavin LE, Zak PJ. 2012.
Massage increases oxytocin and reduces adrenocorticotropin hormone in humans. Altern Ther Health Med. 18(6); 11–8.
Patel U, Ds G. 2013. Effect of back Massage on Lactation among Postnatal Mothers. Int J Med Res 1(1); 5–13.
PeraturanPemerintahRepublik
Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 tentangPemberian ASI Eksklusif Perinasia. 2011. Buku Panduan
Manajemen Laktasi. Jakarta
Prasetyono, Dwi Sunar. 2009. ASI Eksklusif. DIVA Press. Jogjakarta Saleha, Siti. 2009. Asuhan KebidananPada Masa Nifas.
Salemba Medika. Jakarta
Sinclair, constance. 2010. Buku Saku Kebidanan. EGC. Jakarta.; 396
72 Walker, Marsha. 2006. Breastfeeding
Management for the Clinician:
Using the Evidence.London.Jones and Bartlett Publishers.; 278 – 280
.
73 EFEKTIVITAS PEMBERIAN TEKNIK MASSAGE EFFLEURAGE DAN
TEKNIK MASSAGE CONTERPRESSURE TERHADAP RASA NYERI PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA
DI LANGSA TAHUN 2017 Ellysusilawati1)
E-mail address: [email protected]
ABSTRACT
Labor pain is a manifestation of contractions of the uterine muscles. Pain in childbirth if left untreated will increase anxiety, tensionand stress. Increased consumption of body glucose in maternity mothers who experience stress causes fatigue and catecholamine secretion that inhibits uterine contractions, which causes prolonged labor which ultimately causes anxiety in the mother, increased pain and prolonged stress.
Massage can be used during labor and may be an effective pain reliever. The common massage technique is effleurage and Conterpressure.
The aim this studyto determine the effectiveness of providing Effleurage Massage and Conterpressure Massage techniques in Active Phase Pain Reduction during normal labor in Primigravida mother at Eva Repelitamidwifery practice and Rusmalanitamidwifery practice Langsa City. Design of this study was quasi experimental design with posttest only control group design in the form of pain scaling in the first stage of active labor, conducted at Eva Repelita, Am.Keb midwifery practice and Rusmalanita Am.Keb midwifery practice in February to April 2017 Langsa City. The sample in this study were mothers, whom divided into two groups numbered 16 people, thus the total sample was 32 people. Data analysis techniques used are Univariate and Bivariate analysis using Paired T-Test
The result of this study the mean pain scale in active phase of normal labor in Primigravida mothers, with Effleurage Massage Technique was 2 with SD 2.44 deviation, while the mean pain scale with Massage Conterpressure technique is 6 with SD 6.36 deviation. While the results of the Statistical Test using Paired T-test obtained P value of 0,000, that the Effleurage Massage technique was more effective than the Conterpressure Massage technique in reducing labor pain during active phase. Conclusions: It can be concluded that Effleurage Massage technique was more effective than Conterpressure Massage technique in reducing labor pain during the active phase.
Keywords: Massage Effleurage; Massage Conterpressure; Labor pain
1) Poltekkes Kemenkes Riau
I. Pendahuluan
Kemajuan persalinan pada kala I fase aktif merupakan saat yang paling melelahkan, berat, dan kebanyakan ibu mulai merasakan sakit atau nyeri, dalam fase ini kebanyakan ibu
merasakan sakit yang hebat karena kegiatan rahim mulai lebih aktif. Pada fase ini kontraksi semakin lama, semakin kuat, dan semakin sering yang dapat menimbulkan kecemasan.
Kecemasan pada ibu bersalin kala I
74 bisa berdampak meningkatnya sekresi
adrenalin. Salah satu efek adrenalin adalah kontraksi pembuluh darah sehingga suplai oksigen ke janin menurun. Penurunan aliran darah juga menyebabkan melemahnya kontraksi rahim dan berakibat memanjangnya proses persalinan hingga dapat menyebabkan persalinan lama.Dalam hal ini peranan petugas kesehatan tidak kalah penting dalam memberikan bantuan dan dukungan pada ibu agar seluruh rangkaian proses persalinan berlangsung dengan aman baik bagi ibu maupun bagi bayi yang dilahirkan
(Sumarah, 2009).
Nyeri pada persalinan apabila tidak diatasi maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stress.
Peningkatan konsumsi glukosa tubuh pada ibu bersalin yang mengalami stress menyebabkan kelelahan dan sekresi katekolamin yang menghambat kontraksi uterus, hal tersebut menyebabkan persalinan lama yang akhirnya menyebabkan cemas pada ibu, peningkatan nyeri dan stress berkepanjangan. Massage (pijatan) dapat digunakan selama persalinan dan mungkin merupakan tindakan pereda nyeri yang efektif. Teknik massage yang umum dilakukan adalah effleurage (bentuk massage dengan menggunakan telapak tangan yang memberi tekanan lembut ke atas permukaan tubuh dengan arah sirkular secara berulang)danConterpressure (teknik pijatan kuat dengan cara meletakkan tumit tangan atau juga menggunakan bola tennis, tekanan dapat diberikan dalam gerakan lurus atau lingkaran kecil). Menggosok bagian tubuh apapun, bahkan diantara kontraksi, mungkin dapat berperan untuk meredakan nyeri. Ini tidak hanya mendorong relaksasi, tetapi percobaan
dengan stimulasi kutaneus memperlihatkan bahwa tindakan ini dapat bermanfaat dalam waktu lama setelah penggunaannya(Reader, 2001).
Peranan Massage Effleurage dan Conterpressure Stimulasi kulit dengan kedua teknik ini menghasilkan impuls yang di kirim lewat serabut saraf besar yang berada dipermukaan kulit, serabut saraf besar ini akan menutup gerbang pesan nyeri sehingga otak tidak menerima pesan nyeri karena sudah di blokir oleh stimulasi kulit dan dengan kedua teknik massage ini dapat mengaktifkan senyawa endhorpin yang berada di sinaps sel-sel saraf tulang belakang dan otak, sehingga tranmisi dari pesan nyeri dapat dihambat, akibatnya persepsi nyeri akan berubah. Selain meredakan nyeri, teknik ini juga dapat mengurangi ketegangan otot dan meningkatkan sirkulasi darah diarea yang terasa nyeri(Yuliatun, 2008)
Upaya-upaya
untukmenanggulangi nyeri pada persalinan telah dilakukan berbagai cara nonfarmakologis dan
farmakologis. Metode
nonfarmakologis antara lain distraksi, teknik relaksasi, hipnotis, serta mengurangi persepsi nyeri dan farmakologis yaitu dengan penggunaan obat analgetik. Pengendalian nonfarmakologis lebih murah, simpel, efektif dan tanpa efek merugikan.
Metode ini juga dapat meningkatkan kepuasan selama persalinan karena ibu dapat mengontrol perasaan dan kekuatannya (Asmadi, 2009).
Bersamaan dengan nyeri persalinan yang dirasakan oleh ibu-ibu yang akan bersalin dilakukan berbagai cara untuk menanggulangi nyeri pada persalinan yaitu salah satunya dengan menggunakan teknik massage pada
75 punggung bawah, sehingga peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana gambaran pemberian massageterhadap pengurangan nyeri persalinan normal kala 1 fase aktif(Asmadi, 2009).
II. Metode Penelitian
Rancangan penelitian ini adalah quasi experimental design dengan the posttest only control group design.
Penelitian dilaksanakandi BPM Eva Repelita, Am.Keb dan BPM Rusmalanita Am.Keb pada bulan Februari s/d April tahun 2017 Kota Langsa.Sampel penelitian ini adalah Ibu bersalin berjumlah 32 orang yang dibagi dalam 2 kelompok perlakuan : Dilakukan pemberian teknik massage effleurageselama 20 menitdan dilakukan di BPM Eva Repelita, Am.KebKota Langsa, kontrol : Dilakukan pemberian teknik massage Conterpressureselama 20 menitdi BPM Rusmalanita, Am.KebKota Langsa.
Teknik analisa data yang digunakan adalah : uji statistik dengan SPSS untuk mencari efektivitas pemberian teknik massage effleurage dan massage conterpressure terhadap pengurangan rasa nyeri persalinan normal kala I fase aktif pada ibu primigravida. Adapun uji yang akan digunakan adalah :Analisis univariat dan analisis bivariate menggunakan uji paired t-test.
III. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Kelompok Perlakuan Teknik Massage Effleurage Untuk Pengurangan Rasa Nyeri Persalinan Normal Kala I fase Aktif Pada Ibu
Primigravida di BPM Eva Repelita, Am.Keb
Pengurangan rasa nyeri persalinan normal kala I fase aktif
dengan teknik massage
effleurage,mayoritasibu merasakan nyeri persalinandengan skala nyeriberada di grade 2 sebanyak ( 31,3%) responden.
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Responden Kelompok Kontrol Teknik Massage Conterpressure Untuk Pengurangan Rasa Nyeri Persalinan Normal Kala I fase Aktif Pada Ibu Primigravida di BPM Rusmalanita Am.Keb
Pengurangan rasa nyeri persalinan normal kala I fase aktif dengan teknik massage Conterpressure, mayoritas ibu merasakan nyeri persalinan dengan skala nyeri berada pada grade 6 sebanyak (43,8%) responden.
No Perlakuan Teknik Massage Effleurage Untuk Pengurangan Rasa Nyeri Persalinan Normal Kala I fase Aktif
F %
1 2 3 4 5
1 2 3 4 5
4 5 4 2 1
25 31,3 25 12,5 3,6
total 16 100
No Perlakuan Teknik Massage Effleurage Untuk Pengurangan Rasa Nyeri
Persalinan Normal Kala I fase Aktif
F %
1 2 3 4
5 6 7 8
2 7 6 1
12,5 43,8 37,5 6,3
total 16 100
76 Tabel 3. HubunganEfektivitas
Pemberian Teknik Massage Effleurage dan Massage Conterpressure Terhadap Pengurangan Rasa Nyeri Persalinan Normal Kala I fase Aktif Pada Ibu Primigravida di BPM Eva Repelita, Am.Keb dan BPM Rusmalanita Am.Keb Kota Langsa Tahun 2017
Berdasarkan tabel 3, dari 16 responden (Teknik Massage Effleurage dan Massage Conterpressure) yang terdapat di BPM Eva Repelita, Am.Keb dan BPM Rusmalanita Am.Keb Kota Langsa menunjukkan rata-rata skala nyeri persalinan normal fase aktif pada ibu Primigravida, dengan Teknik Massage Effleurage adalah 2 dengan Std. deviasi 2,44, sedangkan rata-rata skala nyeri persalinan dengan Massage Conterpressure adalah 6 dengan Std.
deviasi 6,36. Sedangkan hasil Uji Statistik mengunakan Paired T-test didapatkan nilai P value 0,000 maka bahwa tehnik Massage Effleurage lebih efektif dari pada tehnik Massage Conterpressure dalam mengurangi nyeri persalinan normal kala I fase aktif.
Massage (pijatan) cara lembut membantu ibu merasa lebih segar, rileks, dan nyaman selama persalinan, sebuah penelitian menyebutkan, ibu
yang dipijat 20 menit setiap jam selama tahapan persalinan akan lebih bebas dari rasa sakit. Hal itu terjadi karena pijat merangsang tubuh melepaskan endorphin yang merupakan pereda sakit alami.
Endorphin juga dapat menciptakan perasaan nyaman dan enak. Dalam persalinan, pijat juga membuat ibu merasa lebih dekat dengan orang yang merawatnya. Sentuhan seseorang yang peduli dan ingin menolong merupakan sumber kekuatan saat ibu sakit, lelah, dan kuat. Banyak bagian tubuhibu bersalin yang dapat dipijat, seperti kepala, leher, punggung, dan tungkai.
Saat memijat, pemijat harus memerhatikan respons ibu, apakah tekanan yang diberikan sudah tepat
(Yuliatun, 2008).
Teknik Effleurage Merupakan teknik pijatan dengan menggunakan telapak jari tangan dengan pola gerakan melingkar pada pinggang bagian bawah.
Teknik effleurage massagediatas dapat menurunkan nyeripersalinan kala 1 fase aktif bila dilakukan dengan benar, yaitu dilakukan setiap adanya kontraksi dan dilakukan selama ±20 menit. Ibu bersalin mengatakan bahwa nyeri pada pinggang bagian bawah berkurang setelah dilakukan pijatan tersebut.
Penelitian ini tidak senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Faradilah dengan judul efektifitas pemberian Effleurage dan Abdominal Lifting dengan relaksasi nafas dalam terhadap penurunan nyeri persalinan kala I di Klinik Bidan Indriani Semarang. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental dengan pretest-posttest design. Sampel pada penelitian ini adalah ibu bersalin di Klinik Bidan Indri Semarang yang ditetapkan secara purposive random sampling. Hasil analisis uji statistic
Karaktristik
(Variabel ) Mean SD P value
Teknik Pengurangan Rasa Nyeri
Teknik Massage Effleurage
Teknik Massage Conterpressu re
2,44
6,36
1,209
0,806
0,000 N =16
77 dengan menggunakan uji Mann-
Whitney didapatkan hasil untuk nilai ρ
= 0,031 < α 0,05. Artinya kedua upaya penurunan nyeri tersebut sama- sama efektif untuk menurunkan nyeri persalinan kala I tetapi diantara keduanya lebih efektif relaksasi nafas dalam dibandingkan Effleurage dan Abdominal Lifting dengan hasil mean 4,85> 4,30 (Noor, 2013).
Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardani dan Herlina dengan judul efektifitas masase effleurage dan masase counterpressure terhadap penurunan nyeri persalinan. Rancangan penelitian ini menggunakan quasi eksperiment dengan rancangan pre test – post test kontrol group design.
Pengukuran dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Penelitian ini dilakukan di BPM yang masuk wilayah kerja Desa Sooko Kabupaten Mojokerto. Dari hasil uji t-test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,078 dengan nilai korelasi sebesar 0,487 yang berarti terapi massage effleurage tidak efektif untuk meredakan nyeri persalinan. Dari hasil uji ttest dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,023 dengan nilai korelasi sebesar 0,602 yang berarti terapi massage counterpressure efektif untuk meredakan nyeri persalinan. Terapi massase counterpressure (sig : 0,001) lebih efektif digunakan sebagai terapi nonfarmakologis untuk meredakan nyeri persalinan dibandingkan dengan terapi massase effleurage (sig : 0,003).
IV. Simpulan
Berdasarkan analisis bivariat dari 16 responden (Teknik Massage Effleurage dan Massage
Conterpressure) yang terdapat di BPM Eva Repelita, Am.Keb dan BPM Rusmalanita Am.Keb Kota Langsa menunjukkanrata-rata skala nyeri persalinan normal fase aktif pada ibu Primigravida , dengan Teknik Massage Effleurage adalah 2 dengan Std.
deviasi 2,44, sedangkan rata-rata skala nyeri persalinan dengan Massage Conterpressure adalah 6 dengan Std.
deviasi 6,36. Sedangkan hasil Uji Statistik mengunakan Paired T-test didapatkan nilai P value 0,000maka dapat disimpulkan bahwa tehnik Massage Effleurage lebih efektif dari pada tehnik Massage Conterpressure dalam mengurangi nyeri persalinan normal kala I fase aktif
Diharapkan penelitian ini sebagai bahan masukan bagi pelayanan kebidanan(bidan) untuk dapat menerapkan terapi nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri persalinan.
Dikarenakan secara tidak langsung akan membantu ibu bersalin dalam mengatasi nyeri persalinan dan menekan terjadinya resiko komplikasi akibat persalinan yang terjadi.
Daftar Pustaka
Asmadi. 2009. Konsep danAplikasi Kebutuhan Dasar Klien, jil.1-Jakarta : Salemba Medika
Asrinah, Putri, Sulistyorini, Muflihah, Sari, 2010. Asuhan Kebidanan Masa Persalinan. Graha Ilmu, yogyakarta.
Depkes RI. 2008. Asuhan Persalinan Normal, JNPK-KR, Jakarta.