FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERALIHAN USAHATANI PADI KE USAHATANI JERUK MANIS
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1. Karakteristik Responden
a. Umur
Umur adalah masa hidup seseorang yang dibedakan atas umur muda, umur dewasa dan umur tua. Pengukuran umur dengan menghitung masa hidupnya sejak lahir sampai saat penelitian dilakukan dan mempunyai satuan waktu. Berdasarkan hasil penelitian, umur responden bervariasi antara 28 tahun sampai dengan 57 tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Responden Menurut Umur
No Umur (tahun) Usahatani Jeruk Manis Usahatani Padi
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. 2. 3. Muda ( < 30 ) Sedang ( 30 – 40 ) Tua ( > 40 ) 1 6 15 4,55 27,27 68,18 -2 17 -10,53 89,47 Jumlah 22 100 19 100
Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012.
Pada tabel 1 jelas terlihat bahwa responden yang berumur lebih dari 40 tahun menempati proporsi terbanyak yaitu 15 responden (65,21 %) untuk petani jeruk manis dan 17 responden (89,47 %) untuk petani padi. Keadaan ini menunjukkan bahwa pada daerah penelitian, masyarakat yang berada pada kisaran umur tersebut sebagian besar adalah petani yang mempunyai potensi kerja yang besar dalam mengelola dan mengembangkan usahanya, berada pada usia yang cukup produktif serta berpengalaman dalam berusahatani, dikarenakan semakin tua usia maka semakin tambah pengalaman yang dimiliki oleh petani tersebut. Sedangkan untuk usia antara 30-40 tahun 6 responden untuk petani jeruk manis dan 2 responden untuk petani padi, usia ini tergolong sangat mudah dan sangat produktif karena memiliki tenaga yang cukup besar sebagai petani. Jumlahnya terbatas dikarenakan usia golongan ini dapat dikatakan masih baru dalam berusahatani dan sering mendapatkan lahan usaha dari warisan orang tuanya untuk berusaha serta pengalaman berusahataninya masih rendah namun memiliki semangat kerja yang tinggi.
b. Pendidikan
Pendidikan yang diperoleh petani dapat berupa pendidikan formal, informal dan non formal. Pendidikan formal berarti petani mengikuti jenjang pendidikan Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi yang telah diatur dalam suatu sistem pendidikan nasional. Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh dari pengetahuan, ketrampilan, sikap dan pendapat dari pengalaman-pengalaman. Pendidikan tidak terorganisasi dan sering tidak sistematis. Pendidikan non formal adalah pendidikan di luar jaringan pendidikan formal atau sekolah yang menyediakan tipe pengajaran yang dipilih untuk kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan tidak dibatasi oleh usia, tempat dan waktu pelaksanaannya, seperti program penyuluhan dan pelatihan.
Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan
No Tingkat Pendidikan Usahatani Jeruk Manis Usahatani Padi
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. 2. 3. SD SMP SMA 7 10 5 31,81 45,45 22,72 14 5 -73,68 26,32 -Jumlah 22 100 19 100
Tabel 2 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden tergolong rendah dimana tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah Sekolah Dasar (SD) sebanyak 7 orang (31,81%), tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 10 orang (45,45%) dan tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 5 orang (22,72 %) untuk petani jeruk manis sedangkan untuk petani padi pada pendidikan SD sebanyak 14 orang (73,68 %) dan SMP sebanyak 5 orang (26,32 %) sedangkan untuk SMA tidak ada.
Pada Tabel 2 di atas juga menunjukkan bahwa pendidikan petani jeruk manis lebih tinggi dari pendidikan petani padi, ini berarti bahwa petani jeruk manis lebih unggul dalam mengembangkan teknologi dan lebih cepat menerima inovasi baru serta dapat memilih dengan tepat jenis komoditi yang lebih menguntungkan, sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan berpengaruh terhadap peralihan komoditi usahatani dari padi ke jeruk manis pada lokasi penelitian.
c. Pengalaman Berusahatani
Tingkat pendidikan dan pengalaman yang tinggi akan membuat petani berhati-hati dalam mengembangkan usahanya dibandingkan dengan pendidikan dan pengalaman yang terbatas. Untuk lebih jelasnya pengalaman berusahatani dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Distribusi Responden Menurut Pengalaman Berusahatani
No Pengalaman
Berusahatani
Usahatani Jeruk Manis Usahatani Padi
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. 2. 3. Rendah ( < 4 ) Sedang ( 4 – 7 ) Tinggi ( > 7 ) 4 10 8 18,18 45,46 36,36 6 7 6 31,58 36,84 31,58 Jumlah 22 100 19 100
Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012
Tabel 3 menunjukkan bahwa pengalaman berusaha yang dimiliki oleh petani responden bervariasi yaitu, kurang 4 (empat) tahun sebanyak 4 orang dengan presentasenya 18,18 %, 4 sampai dengan 7 tahun sebanyak 10 orang dengan presentasenya sebesar 45,46 % dan lebih dari 7 tahun sebanyak 8 orang dengan presentasenya sebesar 36,36 % untuk petani jeruk manis, sedangkan untuk petani padi pengalaman berusahatani yang kurang dari 4 dan lebih dari 7 sama banyak yaitu 6 orang responden (31,58 %) dan untuk pengalaman berusahatani yang berkisar antara 4 sampai dengan 7 tahun sebanyak 7 orang responden (36,84 %). Berdasarkan Tabel 7 sebagian besar responden memiliki pengalaman berusaha berkisar antara 4 (empat) sampai 7 (tujuh) tahun. Ini berarti bahwa pekerjaan yang sedang mereka geluti yaitu sebagai petani jeruk manis dapat dikatakan cukup lama karena lebih rata-rata lama berusahatani lebih dari lima tahun dan mendatangkan keuntungan.
Dari pengalaman berusahatani pada tabel 3 di atas terlihat jelas bahwa petani jeruk manis lebih berpengalaman dari petani padi, hal ini disebabkan karena petani jeruk manis sudah cukup lama beralih komoditi dari yang awalnya merupakan petani padi, peralihan komoditi dari usahatani padi ke usahtani jeruk manis karena usahatani jeruk manis lebih menguntungkan dan produksinya selalu ada sejak tanaman jeruk manis ini mulai
berproduksi sedangkan padi harus menunggu 2-3 kali musim tanam dan panen dalam satu tahun sehingga petani lebih cendrung beralih ke komoditi jeruk manis.
d. Jumlah Beban Tanggungan
Petani yang sudah menikah dan dikaruniai anak akan berfungsi sebagai kepala keluarga dan sekaligus sebagai anggota keluarga. Sebagai kepala keluarga, petani harus bertanggung jawab terhadap pemenuhan kesejahteraan seluruh anggota keluarganya.
Tabel 4. Distribusi Responden Menurut Beban Tanggungan Keluarga
No Beban Tanggungan Usahatani Jeruk Manis Usahatani Padi
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. 2. 3. Rendah ( < 3 ) Sedang ( 3 – 5 ) Tinggi ( > 5 ) 2 17 3 9,09 77,27 13,64 4 11 4 21,05 57,90 21,05 Jumlah 22 100 19 100
Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012
Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa beban tanggungan responden sebagian besar berada pada kelompok 3 sampai 5 orang anggota keluarga, sebanyak 17 responden (73,91%) untuk usahatani jeruk manis dan untuk usahatani padi sebanyak 11 orang responden (57,90 %). Besarnya beban tanggungan keluarga membuat petani dalam hal ini selaku kepala keluarga lebih berusaha lagi untuk meningkatkan pendapatan usahatani agar kebutuhan keseluruhan anggota keluarga dapat terpenuhi. Apabila kebutuhan keluarga sudah ter-penuhi maka dapat dikatakan kesejahteraan petani semakin meningkat. Disamping itu jumlah beban tanggunan atau jumlah anggota keluarga petani yang semakin banyak dapat difungsikan sebagai tenaga kerja dalam keluarga selama kegiatan usahatani dijalankan, sehingga biaya pengeluaran untuk penggunaan tenaga kerja dapatkan diminimalisasikan selama anggota keluarga itu dipekerjakan di lahan usahatani.
Dilihat dari banyaknya anggota keluarga yang juga merupakan besar beban tang-gungan dalam rumahtangga petani, memberikan kesempatan petani untuk memberdayakan jumlah anggota keluarga sebagai tenaga kerja dalam berusahatani baik tenaga wanita maupun anak-anak yang merupakan anggota keluarga, juga mengharuskan petani untuk dapat meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi yang akhirnya akan meningkatankan pendapatan.
Sejalan dengan hal tersebut maka petani akan mempertimbangkan jenis komoditi yang akan diusahakan, walaupun dengan luas lahan yang dimiliki oleh petani sama, dimana hanya terjadi peralihan komoditi dari padi ke jeruk manis dengan luasan areal tanam sama besar, inipun terjadi karena usahatani jeruk manis menghasilkan keuntungan yang lebih dari usahatani padi, sehingga petani yang berpikir secara rasional mengambil keputusan untuk beralih dari usahatani padi. selain itu penggunaan tenaga kerja dalam rumah tangga lebih banyak membawa keuntungan bagi petani karena dapat menghemat biaya tenaga kerja sewa atau tenaga kerja diluar rumah tangga petani.
e. Pendapatan
Pendapatan merupakan hasil bersih yang diperoleh petani dalam satuan rupiah, dimana pendapatan diperoleh dari selisih antara semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses usahatani dalam suatu periode musim tanam dengan penerimaan yang didapat petani. Adapun penerimaan yang diperoleh dari perkalian jumlah produksi dalam satuan tertentu dengan harga jual yang berlaku dipasaran. Pendapatan petani responden dalam penilitian disajikan dalam tabel berikut ini.
Tabel 5. Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendapatan
No Tingkat Pendapatan (Rp)
Usahatani Jeruk Manis Usahatani Padi
Jumlah Persentase Jumlah Persentase
1. 2. 3. Rendah < 2000000 Cukup <2000000-3000000 Tinggi > 3000000 -2 20 -9,09 90,91 5 1 13 26,32 5,26 68,42 Jumlah 22 100 19 100
Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012
Dari Tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa pendapatan petani jeruk manis lebih dari cukup karena semua responden memperoleh pendapatan lebih dari dua juta rupiah sedangkan untuk petani padi masih ada lima responden yang pendapatannya kurang dari dua juta rupiah. Hal ini sejalan dengan upah minimum regional untuk daerah papua yaitu sebesar dua juta rupiah setiap bulannya. Sedangkan untuk usahatani padi dalam satu musim tanam memerlukan waktu antar tiga sampai empat bulan, sedangkan usahatani jeruk manis dapat diproduksi setiap saatnya sesuai dengan perawatan dan penggunaan pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman jeruk manis. Perbedaan inilah yang menyebabkan petani padi beralih komoditi ke usahatani jeruk manis.
f. Sosial Budaya
Keadaan sosial dalam masyarakat dapat terjadi perubahan atau yang disebut dengan perubahan sosial (social change). Hal ini mudah dimengerti, sebab Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat. Dan masyarakat dalam kenyataannya selalu mengalami perubahan (Raharjo, 2004:190). Perubahan sosial tidak hanya berkait dengan luasan cukupan perubahan, melainkan juga berkaitan dengan dimensi-dimensi lainnya seperti irama (evolusi dan revolusi), besaran pengaruh (besar dan kecil), dan kesengajaan dalam proses perubahan (dikehendaki/direncanakan /intended/planned change dan tidak dikehendaki/tidak direncanakan/unintended/ned change).
Sosial kehidupan masyarakat petani atau masyarakat pedesaan selalu berkaitan dengan budaya atau kaidah-kaidah yang berlaku dalam kehidupan masyarakat tersebut. Karenanya selalu ada tingkatan-tingkatan sosial atau pelapisan sosial, sering juga disebut
dengan stratifikasi sosial. Manusia memiliki nilai atau harga, keberadaan nilai ini selalu mengandung kelangkaan, tidak mudah didapat. Siapa yang memperoleh lebih banyak hal yang bernilai semakin terpandang dan tinggi kedudukannya (Raharjo, 2004; 104). Secara umum hal-hal yang mengandung nilai berkaitan dengan harta/kekayaan, jenis mata pencaharian, pengetahuan/pendidikan, keturunan, keagamaan, dan dalam masyarakat yang masih bersahaja juga unsur-unsur biologis (usia, jenis kelamin).
Keberadaan masyarakat tani penginginkan status sosialnya meningkat melalui jenis usahatani yang dapat menghasilkan produksi lebih dari usahatani lainnya, sejalan dengan itu pada lokasi penelitian terlihat bahwa komoditi jeruk manis memiliki keuntungan/ pendapatan yang lebih dari komoditi usahatani lainnya, sehingga dorongan yang kuat untuk memperoleh pendapatan yang tinggi dapat meningkatkan status sosial di masyarakat pedesaan sangatlah besar sehingga status sosial ini juga dapat mempengaruhi peralihan jenis komoditi usahatani ke jeruk manis.
1.2.# Analisis Pendapatan Dan Kelayakan Usahatani Jeruk Manis Dan Usahatani Padi
Analisis pendapatan dalam usahatani diperlukan untuk mengetahui selisih hasil produksi yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan selama satu periode tertentu. Untuk dapat menganalisa pendapatan dari petani jeruk manis sebelumnya harus diketahui komponen pengeluaran atau biaya dalam jangka waktu tertentu harus dihitung. Adapun biaya yang dikeluarkan petani jeruk manis dalam proses produksi meliputi biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost).
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah penggunaannya berpengaruh terhadap produksi yang dihasilkan, yang meliputi biaya pupuk (Urea, Phonska, Gandasil B dan D, ZA, Organik dan TSP), obat-obatan, dan tenaga kerja. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah penggunaannya tidak berpengaruh secara langsung terhadap produksi yang diha-silkan yang meliputi biaya penyusutan alat dan sewa peralatan.
a. Analisis Pendapatan Usahatani Jeruk Manis dan Usahatani Padi
Analiss pendapatan usahatani jeruk dan padi pada lokasi penelitian dilakukan berdasaran data yang diperoleh dari petani responden sebanyak 22 orang untuk usahatani jeruk manis dan 19 orang untuk usahatani padi. Pendapatan ini akan dihitung berdasarkan satuan hektar dan dalam jangka waktu satu tahun dalam berproduksi sehingga dapat diketahui produktivitas usahatani jeruk manis dan padi dengan perolehan pendapatan dalam setahun.
Penerimaan usahatani diperoleh dari hasil kali jumlah produksi dengan harga produk yang diterima oleh responden, sedangkan pendapatan diperoleh dari selisih antara penerimaan dengan total biaya usahatani yang dikeluarkan. Berikut disajikan analisis pendapatan petani jeruk manis selama satu siklus produksi sebagai berikut;
Tabel 6. Analisis Pendapatan Usahatani Jeruk Manis di Kampung Wadio Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire, 2012
Uraian (rata-rata/1,2 ha)Jumlah Produktivitas (1ha)Jumlah
A. Penerimaan (1). Produksi (kg) 5132,174 kg 4.276,81 kg (2). Penerimaan (Rp) Rp 15.396.522 Rp 12.830.435 B. Pengeluaran (1). Pupuk (Rp) Rp 1.574.347,83 Rp 1.311.956,53 (2). Pestisida (Rp) Rp 926.521,74 Rp 772.101,45 (3). Tenaga Kerja (Rp) Rp 4.197.173,91 Rp 3.497.644,93 (4). Penyusutan Alat (Rp) Rp 36.712,91 Rp 30.594,09 Total Pengeluaran (Rp) Rp 6.734.756,4 Rp 5.612.297 C. Pendapatan (Rp) Rp 8.661.765,3 Rp 7.218.138 D. R/C Ratio 2,29 2.29 E. B/C Ratio 1,29 1,29
Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012
Selanjutnya analisis pendapatan usahatani jeruk diatas merupakan satu kali mu-sim panen sedangkan hasil survey di lokasi penelitian menunjukkan bahwa dalam satu tahun terjadi empat kali musim panen sesuai dengan masa tunggu buah jeruk manis dari awal berbuah sampai proses panen. Sehingga hasil pendapatan yang diperoleh da-lam perhitungan tersebut selanjutnya akan dikalikan dengan empat pada luasan lahan usahatani jeruk manis dalam satuan hektar. Hal inipun akan diperlakukan untuk jenis usahatani padi dimana akan dihitung dalam berapa musim tanam dalam setahun. Hasil analisis pendapatan usahatani padi pada daerah penelitian disajikan dalam bentuk tabel berikut ini.
Tabel 7. Analisis Pendapatan Usahatani Padi di Kampung Wadio Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire, 2012
Uraian (rata-rata/0,91 ha)Jumlah Produktivitas (1ha)Jumlah
A. Penerimaan (1). Produksi (kg) 1.861,63 kg 2.045,75 kg (2). Penerimaan (Rp) Rp 9.308.150 Rp 10.228.750 B. Pengeluaran (1). Pupuk (Rp) Rp 441.578,95 Rp 485.251,59 (2). Pestisida (Rp) Rp 188.473,68 Rp 207.113,93 (3). Tenaga Kerja (Rp) Rp 4.164.736,84 Rp 4.576.633,89 Total Pengeluaran (Rp) Rp 4.912.684,21 Rp 5.268.999,41
C. Pendapatan (Rp) Rp 4.436.894,74 Rp 4.959.750,59
D. R/C Ratio 1,90 1,94
E. B/C Ratio 0,90 0,94
Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012
Pada Tabel 6 dan Tabel 7 di atas merupakan analisis usahatani jeruk manis dan analisis uasahatani padi yang mana masih dalam satu kali siklus produksi dalam rata-rata luasan areal tanam dan produktifitas, sedangkan informasi yang diperoleh dilokasi penelitian dalam setahun untuk jeruk manis terdapat empat kali proses pemanenan dan untuk usahatani padi dalam setahun terdapat tiga kali musim tanam. Selanjutnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini yang merupakan produksi dan pendapatan dari usahatani jeruk manis dan padi dalam setahun dan satuan hektar.
Tabel 8. Analisis Pendapatan Usahatani Jeruk Manis dan Padi dalam Setahun di Kampung Wadio Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire, 2012
Jenis Usahatani Produksi (ha/tahun) Harga Jual Total Penerimaan Total Pengeluaran Pendapatan (ha/tahun) Jeruk Manis 17.107,24 3.000 51.321.720 22.449.188 28.872.532 Padi 6.137,25 5.000 30.686.250 15.806.998,23 14.879.251,77 Sumber Data : Data Primer Olahan Tahun 2012
Berdasarkan Tabel 8 di atas terlihat jelas bahwa setelah dilakukan analisis pendapatan terhadap kedua komoditi usahatani jeruk manis dan padi dalam satuan hektar yang sama selama satu tahun terdapat perbedaan yang sangat menyolok, dimana pendapatan untuk usahatani jeruk manis sebesar Rp 28.872.532/ha dan untuk pendapatan usahatani padi sebesar Rp 14.879.251,77/ha. Melalui analisis pendapatan antara kedua komoditi ini maka dapat dikatakan bahwa pendapatan dari usahatani jeruk manis yang tinggi ini sangat mempengaruhi petani untuk beralih usahatani dari padi ke usahatani jeruk manis.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada kampung Wadio Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire ternyata bahwa faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap peralihan usahatani padi ke usahatani jeruk manis yaitu faktor pendapatan. Hal ini di-sebabkan petani pada lokasi penelitian telah mengadopsi cara bercocok tanam yang intensif dengan mengoptimalkan faktor produksi yang dimiliki serta bertindak secara rasional karena pemilihan jenis usahatani yang menguntungkan lebih diminati oleh petani pada lokasi penelitian.
b. Analisis Kelayakan Usahatani Jeruk Manis dan Usahatani Padi
Analisis kelayakan usahatani adalah suatu ukuran untuk mengetahui apakah suatu usaha yang dilakukan layak atau tidak untuk dapat dikembangkan. Penilaian ter-hadap kelayakan suatu usaha atau investasi dilakukan dengan membandingkan semua penerimaan yang diperoleh akibat investasi tersebut dengan semua pengeluaran yang harus dikorbankan selama proses investasi dilakukan.
Baik penerimaan maupun pengeluaran dinyatakan dalam bentuk uang agar dapat dibandingkan dan dihitung pada waktu yang sama. Dalam analisis ini akan dikembalikan pada nilai kini (present value), karena baik penerimaan maupun pengeluaran berjalan bertahap, maka terjadi arus pengeluaran dan penerimaan yang dinyatakan dalam bentuk arus tunai/cash flow (Hernanto. F. 1996).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukakan terhadap petani jeruk manis di kampung Wadio Distrik Nabire Barat Kabupaten Nabire, menunjukkan bahwa nilai R/C ratio lebih dari satu. Ini berarti bahwa usahatani jeruk manis menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
Selanjutnya tingkat R/C ratio sebesar 2,29 untuk usatani jeruk manis (tabel 10), yang berarti jika penerimaan usahatani meningkat sebesar Rp. 229 untuk setiap pe-ningkatan pengeluaran biaya usahatani sebesar Rp. 100,- yang artinya setiap Rp.100,- yang diinvestasikan petani jeruk manis akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 229. Soekartawi, 2005 mengemukakan bahwa kriteria keuntungan dengan indikator R/C>1 dianggap menguntungkan dan layak diusahakan. Berdasarkan pendapat inilah maka dengan nilai R/C rasio sebesar 2,29 ini, mengindikasikan bahwa usahatani jeruk manis pada lokasi penelitian layak untuk diusahakan, karena mendatangkan keuntungan bagi petani.
Untuk usahatani padi dimana R/C ratio sebesar 1,94 (tabel 11) menunjukkan bahwa jika peningkatan pengeluaran atau penambahan investasi petani padi sebesar Rp 100,- akan menambah perolehan pendapatan atau keuntungan sebesar Rp 194,- dan berdasarkan kriteria penilaian kelayakan usahatani maka usahatani padi ini layak diusahakan.
Berdasarkan analisis kelayakan usahatani dari kedua jenis komoditi ini terlihat jelas bahwa jeruk manis dan padi sama-sama layak untuk diusahakan, namun usahatani jeruk manis lebih layak untuk diusahakan dan lebih menguntungkan dari pada usahatani padi.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN