Karakteristik petani sampel akan diuraikan dalam sub Bab ini meliputi data (1) Usia petani, (2) pendidikan, (3) pengalaman usaha tani, (4) Luas lahan garapan, (5) status pekerjaan. Dari hasil wawancara terhadap 50 sampel petani organik dan 50 sampel petani anorganik diperoleh karakterustik petani sampel di Kabupaten Bogor yang menggamarkan kondisi sosial ekonomi petani. Data keragaman umur dapat disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 menggambarkan bahwa 46 persen petani padi organik di Kabupaten Bogor beusia lebih dari 50 tahun. Sedangkan untuk petani anorganik sekitar 52 persen. Usia 50 tahun merupakan masa menjelang berakhirnya usia produktif. Kekuatan fisik dan produktivas kerja akan semakin menurun seiring dengan semakin bertambahnya umur. Jika ditinjau dari masing-masing kelompok petani, petani organik lebih banyak diusahakan oleh petani yang lebih muda yaitu 54 persen diusahakan oleh petani dengan usia kurang dari 50 tahun.
Tabel 3 Keragaman umur sampel petani padi organik dan anorganik di Kabupaten Bogor Tahun 2012
Umur Petani Organik Anorganik
(Tahun) Jumlah Prosentase (%) Jumlah Prosentase (%)
< 30 3 6 0 0
31-40 3 6 3 6
41-50 21 42 21 42
51-60 16 32 17 34
> 60 7 14 9 18
Sifat usahatani organik lebih banyak memerlukan waktu curahan tenaga kerja dibandingkan dengan usahatani anorganik merupakan salah satu sebab jumlah petani
organik lebih banyak diusahakan oleh mereka yang berusia lebih muda yaitu kelompok dibawah usia 50 tahun
Umur seseorang berpengaruh pada pola pikir yang lebih terbuka dan bisa menerima sesuatu yang bisa menerima sesuatu yang baru Petani muda akan brsifat lebih terbka dan berani menerima tantangan baru yang lebih menguntungkan dibandingkan dengan dengan melakukan pertanian yang sama sepanjang waktu. Lawal dan Oluyole (2008) mengatakan bahwa umur petani dapat dihubungkan denga kemampuan mengendalikan aplikasi teknk usahatani yang baru. Petani muda akan lebih bisa menerima sesuatu yang baru dibandingkan dengan petani berusia tua. Gambaran tingkat pendidikan petani dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Keragaman tingkat pendidikan sampel petani padi organik dan anorganik di Kabupaten Bogor Tahun 2012
Pendidikan Organik Anorganik
Jumlah Prosentase (%) Jumlah Prosentase (%)
SD 32 64 35 70
SLTP 14 28 12 24
SLTA 4 8 3 6
Usahatani padi di Kabupaten Bogor dilakukan oleh 67 persen petani dengan pendidikan setingkat sekolah dasar. Data ini menunjukkan bahwa petani di Kabupaten Bogor secara rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Tingkat pendidikan berpengaruh pada pengelolaan usahatani, terutmsa pada saat menentukan pilihan dan pengambilan keputusan dari berbagai alternatif pilihan teknologi yang ada. Ogada et al.
(2010) menyatakan bahwa peningkatan tingkat pendidikan mempengaruhi meningkatnya kemungkinan petani dalam mengadopsi suatu teknologi. Petani dengan pendidikan lebih tinggi dianggap lebih cakap dalam mencari dan mengolah akses informasi dan teknologi. Selain itu, petani dengan pendidikan yang lebih tinggi dimungkinkan untuk lebih terbuka dengan informasi. Gambaran pengalaman usahatani yang dimiliki petani dsajikan pada Tabel 5.
Tabel 5 Keragaman tingkat pengalaman usahatani sampel petani padi organik dan anorganik di Kabupaten Bogor Tahun 2012
Pengalaman Organik Anorganik
(tahun) Jumlah Prosentase (%) Jumlah Prosentase (%)
< 10 13 22 11 22
11-20 24 48 25 25
20-30 13 26 12 24
> 30 0 0 2 4
Pengalaman dalam usahatani padi sawah sangat beragam. Tabel 6 menunjukkan bahwa mayoritas petani sampel mempunyai pengalaman bertani tidak antara 0-20 tahun. Tidak terdapat beda antara pengalaman petani organik dengan anorganik. Menurut Sauer dan Zilberman (2009) pengalaman petani berpengaruh positif terhadap hasil adopsi suatu teknologi. Pada tahap awal petani akan melihat dan pada tahap berikutnya petani sedikit demi sedikit akan mencoba sambil terus mempelajari teknologi baru tersebut/ Data keragaman luas garapan tawah dapat dilihat pada Tabel 6
Tabel 6 Keragaman Luas lahan usahatani sampel petani padi organik dan anorganik di Kabupaten Bogor Tahun 2012
Luas lahan Organik Anorganik
(ha) Jumlah Prosentase (%) Jumlah Prosentase (%)
< 0,25 15 30 21 42
0,25-0,5 30 60 14 28
0,5-0,75 3 6 6 12
0,75-1 2 4 8 16
> 1 0 0 1 2
Data luas lahan di tabel 6 menunjukkan bahwa mayoritas petani memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar. Luas lahan yang dikuasai menggambarkan kemampuan modal finansial petani dalam melakukan usahatani. Luas lahan akan memberikan penerimaan yang besar pula, dan luas lahan yang digunakan dapat digunakan sebagai cermin tingkat kesejaheraan petani. Tetapi petani dengan lahan sempit akan lebih intensif mengelola usahataninya dbandingkan dengan petani dengan luas lahan yang lebih besar.
Ada beberapa peneliti yang menyatakan bahwa ada hubungan terbalik antar luas lahan dengan produktivitas yang dicapai. Penelitian yang dilakukan Carter (1984) disimpulkan bahwa pada usahatani dengan lahan sempit menggunakan lebih banyak input per hektar dibanding dengan usahatani skala besar. Tingkat tenaga kerja per hektar pada petani dengan usaha kecil 36 persen diatas tingkat optimum penggunaan tenaga kerja pada kondisi maksimum.
Analisis Faktor-faktor Produksi padi Organik
Ada perbedaan teknologi dalam pengelolaan padi organik dan anorganik. Perbedaan teknologi terdapat pada input yang digunakan oleh masing-masing petani. Ciri yang membedakan antara usahatani organik dan anorganik adalah pada penggunaan input pupuk kandang dan pestisida. Petani organik di Kabupaten Bogor, menggunakan pupuk kandang atau kompos dan sama sekali tidak menggunakan pestisida. Pupuk yang digunakan komposisinya lebih besar pupuk organik, seperti limbah dari kotoran sapi, sekam padi sisa panenan dan yang lain lain yang telah diolah. Petani organik masing menggunakan pupuk kimia berupa urea. Penggunaan pupuk urea dimaksudkan untuk membantu menjaga unsur hara tanah yang tidak dapat dipenuhi hanya dengan menggunakan pupuk kandang. Sudah disepakati bahwa penggunaan pupuk urea tidak melebihi dari 25 persen dari total penggunaan pupuk. Pemberantasan hama pada usahatani organik dilakukan dengan menggunakan pestisida nabati. Serangan hama jarang terjadi karena petani/kelompok tani menanam padi secara bergiliran/tidak serentak. Selain untuk mengurangi terjadinya serangan hama yang mungin akan meluas, penanaman yang tidak serentak ini bertujuan untuk menjaga agar harga beras organik tidak turun drastis saat panen raya.
Deskripsi statatistik yang digunakan untuk menduga fungsi stochastic frontier
disajikan pada Tabel 7. Tabel 7 menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas padi organik sebesar 58,47 ku/ha gabah kering panen. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata produktivitas padi organik yang dicapai petani sampel lebih besar dibandingkan dengan rata-rata produktivitas padi anorganik yaitu sekitar 53,02 ku/ha
Tabel 7 Deskripsi penggunaan input per hektar sampel petani padi organikKabupaten Bogor tahun 2013
Variabel n Rata-rata Maksimum Minimum
Produktivitas (Ku) 50 58,47 60,00 54,10
Luas Lahan (Ha) 50 0,37 1,0 0,20
Benih Padi (Kg) 50 38,64 75,00 8,33
Urea (Kg) 50 61,88 83,33 33,33
NPK (Kg) 50 41,52 300,00 0.00001
TSP(Kg) 50 26,7 200,00 0,00001
Pupuk Kandang (Kg) 50 2319 6666,67 416,00
Tenaga Kerja (OH) 50 140 160,21 21,78
Rata-rata luas lahan yang dikelola petani seluas 0,37 hektar dengan pengelolaan terluas sebesar 1,2 ha dan terkecil 0,2 ha. Sedangkan rata-rata penggunaan benih sebanyak 38,64 kg/ha. Penggunaan pupuk urea rata-rata sebanyak 61,88 kg/ha dengan penggunaan maksimal sebanyak 100 kg. Selanjutnya penggunaan pupuk NPK dan TSP rata-rata sebesar 83 kg/ha dan 33 kg/ha. Rata-rata penggunaan pupuk kandang terbesar sebanyak 2319 kg/ha. Sedangkan rata-rata penggunaan tenaga kerja sebesar 140 OH
Hasil estimasi fungsi produksi Stochastic frontier menggunakan MLE pada Tabel 8 mengungkapkan bahwa faktor-faktor produksi seperti luas lahan yang dikelola petani berpengaruh terhadap jumlah produksi. Selain itu penggunaan pupuk baik itu pupuk urea, NPK, TSP maupun pupuk kandang juga memberikan pengaruh nyata pada produksi padi organik pada taraf α 0.01 dan 0,1. Sedangkan Jumlah tenaga kerja tidak memberikan pengaruh nyata dalam produksi.
Tabel 8 Pendugaan fungsi produksi dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) pada usahatani padi organik di Kabupaten Bogor, tahun 2013
Variabel Parameter Coefficient Standard-error t-ratio
Konstanta β0 4,41844 0,60080 7,35314 Luas Lahan β1 0,19221 0,08832 2,17261** Benih Padi β2 0,15891 0,16663 0,95366 Urea β3 0,308313 0,09084 3,39396* NPK β4 -0,01586 0,00947 -1,76493*** TSP β5 -0,03627 0,09636 -3,76461* Pupuk Kandang β6 0,22000 0,05492 4,00555* Tenaga Kerja β7 0,23134 1,51554 1,52647 Sigma squared 0,03137 0,00728 4,30689* Gamma 0,99999 0,17470 5,72399*
Keterangan : * = berpengaruh nyata pada taraf α 1% ** = berpengaruh nyata pada taraf α 5% *** = berpengaruh nyata pada taraf α 10%
Nilai sigma squared sebesar 0,03137 signifikan pada α = 0,01 menerangkan
bahwa terdapat pengaruh technical efficiency pada model. Nilai ini menggambarkan bahwa jumlah produksi padi organik yang dihasilkan petani di Kabupaten Bogor mempunyai variasi yang sama. Sementara itu, nilai gamma yang dihasilkan dari
estimasi ekonometrika sebesar 0,9999 dan nyata pada α =0,01. Hal ini menunjukkan bahwa 99,99 persen tingkat variasi jumlah produksi padi organik yang dihasilkan petani disebabkan oleh adanya faktor inefisiensi dalam proses produksi.
Dilihat dari koefisien luas lahan yang bernilai positif kurang dari 0,19221 (0<β<1) menunjukkan bahwa elastisitas lahan masih elastis. Artinya tiap ada kenaikan 10 persen lahan garapan, maka akan dapat meningkatkan hasil produksi sebesar 1,9 persen. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa luas lahan berpengaruh positif terhadap produksi padi organik (Hartawan, 2006) Implikasinya adalah, jika petani ingin meningkatkan jumlah produksi, maka luas lahan yang dikelola harus ditambah hal ini bertujuan agar pengelolaan menjadi lebih efisien. Penelitian yang dilakukan Tahir et al.
(2010) menyatakan bahwa apabila luas lahan yang digarap makin luas, maka ada kecenderungan untuk menggunakan input produksi dengan lebih efisien karena adanya keterbatasan modal usahatani.Fakta yang terjadi di lapangan, lahan yang dimiliki petani memang terbatas. Rata-rata petani hanya memiliki lahan sebesar 0,4 ha. Penambahan luas lahan tanam padi organik hanya dapat ditingkatkan jika petani bisa menyewa lahan lain. Kendala yang terjadi adalah bahwa lahan yang hendak disewa belum menerapkan pertanian organik di tahun-tahun sebelumnya.
Penggunaan pupuk anorganik masih dilakukan para petani padi organik di Kabupaten Bogor ini. Pupuk Urea, TSP dan NPK masih digunakan oleh petani. Pupuk kimia seperti NPK TSP dan Urea memang masih digunakan untuk menghindari penurunan produksi secara drastis. Penggunaan pupuk anorganik ini dikombinasi antara Urea dengan TSP atau Urea dengan NPK. Namun, demikian, yang terjadi di lapangan penggunaan pupuk kimia tidak lebih dari 25 persen dari total penggunaan pupuk. Hal ini dilakukan agar residu kimia yang terkandung didalam padi organik tidak telalu banyak. Elastisitas penggunaan pupuk urea terhadap hasil produksi sebesar sebesar 0,308313 berarti peningkatan 10 persen penggunaan urea akan meningkatkan produksi sebesar 3,08 persen. Nilai elastisitas urea masih bernilai positif antara nol sampai dengan satu. Sehingga pemupukan dengan urea masih bisa dilakukan sampai dengan batas tertentu yang dianjurkan. Elastisitas penggunaan pupuk NPK terhadap hasil produksi sebesar sebesar -0,01586 berarti peningkatan 10 persen penggunaan NPK akan menurunkan produksi sebesar 0,15 persen. Secara teori, penambahan pupuk akan dapat meningkatkan produksi, namun hal ini tidak terjadi di lokasi penelitian. Rata-rata penggunaan pupuk NPK per hektar adalah sebesar 41,52 kg seperti tersaji pada Tabel 7. Sesuai anjuran pemerintah, penggunaan NPK untuk padi sawah adalah sebanyak 100 kg per hektar, namun demikian yang terjadi di lapangan penambahan pupuk NPK malah akan menurunkan hasil produksi. Ada kemungkinan kandungan unsur N, P dan K sudah terpenuhi dengan adanyapemberian pupuk kandang, sehingga penambahan unsur N, P dan K yang berasal dari sintetis malah akan membuat kondisi tanah menjadi jenuh dengan unsur tersebut, sehingga yang terjadi tingkat produksi malah menurun.
Elastisitas penggunaan input pupuk kandang dalam usahatani organik sebesar 0,22000 ini artinya peningkatan 10 persen penggunaan pupuk kandang akan meningkatkan produksi sebesar 2,20 persen. Respon kesuburan tanaman padi terhadap pemupukan dengan pupuk organik akan lebih lambat jika dibanding apabila dilakukan dengan pemupukan kimia. Pupuk organik memiliki sifat efek yang menyuburkan dalam
jangka waktu yang lama, oleh karena itu seharusnya penggunaan pupuk organik makin lama makin dikurangi dosisnya, karena struktur tanah yang membaik. Kebutuha minimal pupuk kandang tiap satu hektar adalah 1 tonsedangkan jika lahan yang digunakan adalah lahan baru yang ditanami organik, maka diperlukan penambahan unsur hara alami dari pupuk kandang lebih banyak yaitu sekitar 5 ton per hektarnya, setelah penggunaan selama 3 tahun maka dosis penggunaan pupk kandang dapat dikurangi hingga menjadi 3 ton per hektar (Andoko, 2007). Rata-rata penggunaan pupuk kandang di lapangan sebesar 2,319 ton per hektar. Penambahan pupuk kandang masih bisa dilakukan mengingat elastisitasnya masih positif dan kurang dari satu.
Penggunaan pupuk organik juga bersifat risk increasing, artinya pupuk organik berperan meningkatkan risiko dari usahatani padi organik. Pupuk organik pada umumnya digunakan petani mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang dimiliki ileh pupuk organik seperti yag dipaparka Andoko (2007) adalah: (1) memperbaiki struktur tanah, (2) memperbaiki daya ikat air pada tanah, (3) memperbaiki daya ikat tanah terhadap unsur hara, (4) mengandung unsur hara lengkap, tetapi dalam jumlah yang sedikit. Selain kelebihan pupuk organik yang tersebut diatas, menurut Sutanto (2002) pupuk organik juga mempunyai kelemahan diantaranya adalah (1) kandungan unsur hara yang rendah, (2) menyediakan unsur hara dalam jumlah yang sangat terbatas, (3) penyediaan hara terjadi sangat lambat, kandungan unsur hara yang lengkap tetapi dalam jumlah yang sedikit.
Analisis Faktor-faktor Produksi Padi Anorganik
Propinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil beras nasional yang cukup besar. Rata-rata tiap tahun propinsi Jawa Barat bisa memproduksi 9,8 Ton dengan rata-rata produktivitas 5,3 ton pe hektar. Besarnya produksi padi ini sangat dipengaruhi oleh besarnya penggunaan faktor produksi pada tiap musim tanam. Pada tabel berikut akan dijelaskan deskripsi dari produksi padi serta pemanfaatan faktor- faktor produksi yaitu luas lahan, benih, Urea, NPK, TSP ZPT Pestisida dan tenaga kerja Dari tabel 9 diketahui produktivitas rata-rata petani anorganik di Kabupaten Bogor sebesar 52,02 kg/ha. Produktivitas sebesar itu dapat tercapai saat faktor-faktor produksi yang digunakan seperti benih 25,15 kg/ha, urea 106,717 kg/ha, TSP 42,42 kg/ha, ZPT 0,29 kg/kg, Pestisida 2,73 kg/ha serta tenaga kerja 66,68 OH
Tabel 9 Deskripsi penggunaan input per hektar sampel petani padi anorganikKabupaten Bogor tahun 2013
Variabel Rata-rata Maksimum Minimum
Rata-rata Produksi (Ku) 52,02 60,00 45,00
Luas Lahan (Ha) 0,51 1,25 0,1
Benih (Kg) 25,15 32,6 25 Urea (Kg) 106,717 360 62,5 NPK (Kg) 298 400 100 TSP (Kg) 42,42 800 0 ZPT (Kg) 0,29 2 0 Pestisida (Kg) 2,73 20 2
Hasil estimasi fungsi produksi Stochastic frontier menggunakan MLE pada Tabel 10 menggungkapkan bahwa faktor-faktor produksi seperti luas lahan yang dikelola petani berpengaruh terhadap jumlah produksi. Faktor-faktor produksi yang berpengaruh nyata terhadap produksi padi anorganik antara lain Luas lahan, benih, urea, NPK, TSP, ZPT, serta tenaga kerja dengan taraf nyata 1 persen.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, variabel luas lahan memiliki nilai koefisien sebesar 0,198. Ini dapat diartikan bahwa penambahan luas lahan sebesar 1 persen akan dapat meningkatkan jumlah produksi sebesar 1,41 persen Hal ini sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan S Piya (2012) yang mngatakan bahwa luas lahan berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan hasil produksi padi anorganik. Secara umum apabila petani memambah luas lahan garapan, maka akan dapat meningkatkan hasil produksi padi. Rata-rata luas lahan yang dimiliki petani adalah 0,5 ha. Rata-rata luas lahan petani di kabupten Bogor ini masih lebih besar daripada rata-rata kepemilikan lahan.
Variabel benih berkorelasi negatif dengan nilai koefisien 0,38640. Ini berarti bahwa jika benih yang dipakai diperbanyak 10 persen maka akan dapat menurunkan tingkat produksi sebesar 3,86 persen. Penggunaan benih di oleh petani melebihi batas ambang yang dianjurkan, sehingga penambahan jumalah benih utuk produksi tidak akan berpengaruh pada peningkatan hasil produksi, hal ini sesuai dengan hukum law of deminishing return. Input benih dapat menimbulkan resiko, artinya jika input benih terus ditambah atau dinaikkan penggunaannya maka akan memperbesar resiko produksi atau sebalikny, jika input benih dikurangi makan akan dapat memperkecil variasi terhadap produksi. Rata-rata petani di Kabupaten Bogor menggunakan penih dari hasil pembibitan, hal ini tentu saja sangat berpengaruh pada jumlah produksi yang dihasilkan
Tabel 10 Pendugaan fungsi produksi dengan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) pada usahatani padi anorganik di Kabupaten Bogor, tahun 2013 Variabel Parameter Coefficient Standard-error t-ratio
Konstanta β0 10,30481 0,41257 24,97707
Luas Lahan (ha) β1 1,41076 0,07988 17,65913*
Benih Padi (kg) β2 -0,38640 0,03018 -12,80236* Urea (kg) β3 -0,00550 0,00233 2,35532* NPK(kg) β4 -0,00543 0,05205 -0,10448 TSP (kg) β5 -0,00003 0,00160 -0,01890 ZPT (kg) β6 -0,03855 0.04867 -0,79203 Pestisida (kg) β7 0,03599 0,02038 1,77444*** Tenaga Kerja (OH) β8 -0,07895 0,02599 -3,03770* Sigma squared 0,001892 0,00055 3,39515*
Gamma 0.39642 0,28112 1,41011
Keterangan : * = berpengaruh nyata pada taraf α 1% ** = berpengaruh nyata pada taraf α 5% *** = berpengaruh nyata pada taraf α 10%
Variabel Urea berkorelasi negatif dengan nilai koefisien 0,00550. Ini berarti bahwa jika urea yang dipakai diperbanyak 10 persen maka akan dapat menurunkan tingkat produksi sebesar 0,05 persen. Variabel urea mempunyai nilai elastisitas yang kecil. Itu berati bahwa penambahan urea yang dilakukan untuk menurunkan jumlah produksi akan berpengaruh terhadap peningkatan hasil produksi meskipun peningkatannya relatif kecil. Jumlah pemakaian input pupuk kimia yang dilakukan oleh petani anorganik telah berlebih dan melebihi dosis pemakaian. Akibat dari pemakaian pupuk kimia urea ataupun pupuk kimia yang lain secara berlebih pada tahun-tahun sebelumnya, maka mengakibatkan penambahan pupuk urea tidak mampu lagi meningkatkan produktivitasnya. Hal lain yang dapat menjelaskan hubungan negatif antara produktivitas dengan penggunaan pupuk adalah petani padi anorganik tidak menggunakan pupuk organik secara terus menerus pada setiap musim tanam, sehinga efek menyuburkan terhadap tanaman belum berpengaruh karena terkait dengan efek pupuk organik, dimana kesuburan tanah akan terjadi dalam kurun waktu yang lebih lama dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia dan diperlukan dalam jumlah yang besar.
Input pestisida berkorelasi positif dengan nilai koefisien 0,03599. Ini berarti bahwa jika benih yang dipakai diperbanyak 10% maka akan dapat meningkatkan jumlah produksi sebesar 0,35 persen. Penggunaan pestisida masih mampu menekan berbagai serangan hama dan pennyakit, sehingga peningkatan penggunaan pestisida pada petani anorganik di Kabupaten Bogor akan berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas. Hasil analisis ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rubinos et al.
(2007) yang menyatakan bahwa input pestisida berpengaruh positif terhadap produktivitas padi anorganik, sehingga untuk meningkatkan produksi, bisa dilakukan dengan menambahkan penggunaan pestisida. Villano et al (2005) menyatakan bahwa peningkatan pemakaian pestisida pada usahatani padi di Filiphina akan meningkatkan produksi. Berbeda dengan hasil analisis Hartoyo et al. (2004) yang menyatakan bahwa input pestisida yang digunakan petani di Cisarua mempunyai pengaruh negatif terhadap produksi padi. Haroyo et al. (2004) menjelaskan bahwa koefisien yang bertanda negatif bukan berarti bahwa pemakaian pestisida sudah berlebihan, tapi hal tersebut disebabkan karena pola pemberantasan hama yang dilakukan petani bersifat kuratif yaitu petani melakukan tindakan penanggulanganhama setelah ada serangan.
Input tenaga kerja berkorelasi negatif dengan nilai koefisien 0,07895. Ini berarti bahwa jika benih yang dipakai diperbanyak 10 persen maka akan dapat menurunkan tingkat produksi sebesar 0,07 persen. Penambahan input tenaga kerja dalam produksi padi anorganik justru akan dapat menurunkan produktivitas. Ini terjadi karena tingkat pemakaian tenaga kerja pada rata-rata petani anorganik di Kabupaten Bogor lebih sedikit dari pertanian organik. Usaha tani anorganik bersifat padat modal, lebih sedikit memerlukan curahan tenaga kerja dibanding dengan usahatani organik. Pada usaha tani anorganik, sebagian besar curahan tenaga kerja terjadi pada saat olah tanah dan panen. Hasil anaisis ini berlawaan dengan analisis yang dilakukan Rubinos et al. (2007) dan Hartoyo et al.(2004) yang menyatakan bahwa penggunaan input tenaga kerja pada usaha tani di Magsaysay berpengaruh postif terhadap hasil produksi. Penambahan jumlah tenaga kerja akan diikuti dengan meningatnya output. Hartoyo et al.(2004) menyatakan bahwa input tenaga kerja mempunyai pengaruh positif terhadap produksi padi dan mempunyai elastisitas yang paling tinggi terutama pada saat terjadinya kesullitan mencari tenaga buruh tani di desa. Disamping itu juga kesulitan mencari
tenaga buruh tani menurutnya disebabkan karena para pemuda desa lebih tertarik bekerja sebagai buruh di sektor non pertanian
Analisis Efisiensi Padi Organik
Tingkat efisiensi teknis usahatani padi organik di daerah penelitian paling rendah adalah 0,39107598 dan paling tinggi adalah 0,94002266, dengan rata-rata tingkat efisiensi teknis usahatani padi organik sebesar 0,61642615. Rata-rata tingkat efisiensi teknis sebesar 0,61642615, berarti bahwa rata-rata petani telah mencapai 61,64 persen dari potensial produksi yang diperoleh dari kombinasi input produksi yang dikorbankan. Namun demikian berarti juga bahwa masih ada peluang besar bagi petani untuk meningkatkan produksi padi organik di daerah penelitian sebesar 38,38 persen. Sebaran tingkat efisiensi teknis usahatani padi organik disajikan pada Tabel 11.
Berdasarkan Tabel 11 terlihat bahwa 16 persen petani atau sekitar 8 orang telah mencapai efisiensi teknisnya lebih besar dari 70 persen. Perbedaan tingkat efisiensi teknis yang dicapai petani mengindikasikan bahwa tingkat penguasaan dan penerapan teknologi yang berbeda–beda. Tingkat penguasaan teknologi yang berbeda-beda dari petani disebabkan oleh faktor intern dalam diri petani seperti pendidikan, umur, pengalaman berusahatani, jumlah keluarga yang terlibat dan status usahatani.
Tabel 11 Sebaran petani berdasarkan tingkat efisiensi teknis usahatani padi organik Tingkat Efisiensi Jumlah Petani Persentase (%)
< 0,50 5 10 0,51-0,60 33 66 0,61-0,70 4 8 0,71-0,80 2 4 0,81-0,90 5 10 >0,90 1 2 Total 50 100
Hasil estimasi fungsi inefisiensi teknis (Tabel 12), menunjukkan bahwa tidak semua variabel penentu inefisiensi berpengaruh terhadap produksi. Variabel yang diteliti yaitu variabel pendidikan, umur, pengalaman berusahatani, jumlah keluarga yang terlibat dan status usahatani. Koefisien status kepemilikan lahan petani responden terhadap tingkat inefisiensi teknis sebesar 0,14571 dan signifikan secara
statistik pada taraf α = 0,01. Status kepemilikan lahan memiliki korelasi positif dan
berpengaruh nyata terhadap tingkat inefisiensi teknis. Hal ini menunjukkan bahwa status kepemillikan lahan dapat meningkatkan inefisiensi teknis atau dengan kata lain akan menurunkan produksi. Bagi pemilik lahan tingkat efisiensi akan lebih rendah jika dibanding dengan petani yang tidak memiliki lahan. Keadaan ini berkaitan dengan motivasi petani dalam memperoleh hasil (produksi). Diduga petani yang tidak memiliki lahan akan lebih termotivasi untuk bisa memproduksi lebih banyak dengan menerapkan teknologi yang mungkin diperoleh dari kegiatan penyuluhan.
Tabel 12 Pendugaan fungsi inefisiensi produksi sampel petani padi organik di