Kabupaten Blora merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah. Luas wilayah Kabupaten Blora adalah 182.058.037 ha atau sekitar 5,5% dari total luas wilayah di propinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Kabupaten Blora terletak pada 111,0160 – 111,3380 BT dan 6,5260 – 7,2480 LS. Berdasarkan topografinya, Kabupaten Blora terletak di atas ketinggian antara 25 -500 meter di atas permukaan laut dengan suhu diantara 27-330C dan curah hujan 1800 mm/tahun.
Perkembangan Inseminasi Buatan (IB) di Kabupaten Blora
Upaya meningkatkan produksi daging dalam negeri sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor daging melalui peningkatan produksi dan produktivitas sapi potong. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan populasi sapi potong adalah melalui teknologi inseminasi buatan (IB). Salah satu keuntungan dari penggunaan IB adalah dapat meningkatkan dan memperbaiki mutu genetik ternak sehingga dapat menghasilkan keturunan yang lebih baik dari tetuanya. Hal ini dikarenakan semen yang digunakan dalam pelaksanaan IB adalah dari pejantan bangsa sapi potong yang telah teruji keunggulan produktivitasnya.
Selama tahun 1994-1999 tercatat kenaikan populasi sapi potong sebesar 10,56% atau rata-rata 1,68% per tahun. Pedet dari sapi hasil IB memiliki nilai yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari harga pedet dari sapi hasil IB yang bernilai dua kali lipat daripada harga pedet dari sapi lokal sehingga mendorong perkembangan kegiatan IB di Kabupaten Blora yang terus meningkat. Program IB ini dapat berkembang apabila ditunjang dengan membuat pos IB sebanyak 26 buah dan menyiapkan tenaga inseminator 67 orang dari seluruh kecamatan di Kabupaten Blora, sehingga setiap kecamatan telah ada 1 sampai 2 pos IB dengan jumlah inseminator pada tiap pos IB rata-rata berkisar antara 2-3 orang (Widodo, 2000).
Masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan di Kabupaten Blora adalah kurangnya pencatatan (recording) terutama dari peternak terhadap reproduksi ternaknya. Bagi peternak sapi potong, aktivitas memelihara ternak merupakan pekerjaan sambilan setelah pekerjaan lainnya. Padahal apabila beternak ini ditangani secara sungguh-sungguh baik aspek pakan maupun reproduksinya, maka beternak
akan dapat dijadikan sebagai mata pencaharian utama bagi sebagian masyarakat di Kabupaten Blora.
Penampilan Produksi pada Bangsa Sapi Penelitian
Penampilan produksi pada bangsa sapi penelitian dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Penampilan Produksi pada Bangsa Sapi Penelitian
Bangsa Parameter yang Diukur
BrasPO LimPO SimPO PO Konsumsi Konsentrat
dalam BK (kg/ekor/hr) 4,86a 4,78a 4,78a 5,63b
Konversi Konsentrat 3,73a 4,47b 4,48b 7,80c
Jerami Padi Amofer ad libitum ad libitum ad libitum ad libitum
PBBH (kg/ekor/hr) 1,34a 1,14b 1,13b 0,67c Bobot Akhir (kg) 553,79a 529,31b 528,23b 474,01c LD (cm) 205,75a 193,60b 199,93ab 185,44b PB (cm) 143,85a 140,63a 130,89c 116,59b TP (cm) 149,72a 141,11b 141,44b 135,06b TLPE (cm) 2,30a 2,12b 2,10b 1,50c
Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan secara nyata (P<0,05) atau sangat nyata (P<0,01).
Dikoreksi terhadap rataan bobot badan awal bakalan 399,31 kg dan rataan lama penggemukan 122,68 hari.
LD = lingkar dada; PB = panjang badan; TP = tinggi pundak; PBBH = pertambahan bobot badan; TLPE = tebal lemak pangkal ekor.
Konsumsi Bahan Kering
Rataan konsumsi bahan kering konsentrat pada sapi Peranakan Ongole (PO) pada Tabel 2. memperlihatkan bahwa secara nyata (P<0,05) lebih tinggi (5,63 kg/ekor/hari) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Sedangkan rataan konsumsi konsentrat terendah (4,78 kg/ekor/hari) terdapat pada sapi Simmental x PO (SimPO) dan Limousin x PO (LimPO). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kemampuan ternak sapi PO untuk mengkonsumsi dalam bahan kering pada konsentrat berhubungan erat dengan kapasitas fisik lambung dan saluran pencernaan (Parakkasi, 1999). Perbedaan rataan konsumsi bahan kering diantara bangsa sapi memperlihatkan bahwa sapi PO lebih menyukai pakan konsentrat dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya (SimPO, LimPO dan BrasPO).
Pemberian konsentrat pada ternak bertujuan untuk meningkatkan daya cerna pakan secara keseluruhan. Semakin banyak konsentrat yang dapat dicerna, berarti arus pakan dalam saluran pencernaan menjadi lebih cepat sehingga menyebabkan pengosongan rumen meningkat dan menimbulkan sensasi lapar pada ternak akibatnya memungkinkan ternak untuk menambah konsumsi pakan (Tillman et al., 1998).
Konversi Konsentrat
Tabel 2. memperlihatkan bahwa sapi BrasPO mempunyai rataan konversi konsentrat yang lebih baik (3,73) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Rataan konversi konsentrat pada sapi LimPO dan SimPO tidak memberikan pengaruh yang berbeda. Sedangkan rataan konversi konsentrat tertinggi terdapat pada sapi PO (7,80). Hal ini memperlihatkan bahwa sapi BrasPO mampu mengubah 3,73 kg konsentrat untuk menaikkan 1 kg bobot badan. Hal ini juga menunjukkan bahwa sapi BrasPO lebih efisien dalam mengubah jumlah konsentrat yang dikonsumsi untuk menaikkan 1 kg bobot badan dibandingkan dengan ketiga bangsa sapi lainnya.
Laju Pertumbuhan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bangsa-bangsa sapi hasil inseminasi buatan memberikan respon pertumbuhan yang berbeda terhadap sapi lokal pada penggemukan dengan menggunakan konsentrat dan jerami padi fermentasi. Rataan pertambahan bobot badan harian bangsa sapi lokal dan sapi hasil inseminasi buatan dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya pengaruh bangsa sapi secara nyata (P<0,05) terhadap pertambahan bobot badan harian.
Sapi Brahman x Angus x PO (BrasPO) memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat (1,34 kg/ekor/hari) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya (Simmental x PO (SimPO), Limousin x PO (LimPO), Peranakan Ongole (PO)). Sementara itu, SimPO dan LimPO memiliki laju pertumbuhan yang relatif sama dan PO mempunyai laju pertumbuhan yang paling rendah (0,67 kg/ekor/hari). Hasil analisis statistik pada Tabel 2. memperlihatkan bahwa angka rataan pertumbuhan bobot badan harian pada sapi PO pada penelitian ini lebih baik dibandingkan dengan pernyataan Agus et al. (2003) bahwa sapi PO jantan yang diberikan pakan jerami padi fermentasi
mempunyai rata-rata pertambahan bobot badan 0,43 kg/ekor/hari. Hal ini kemungkinan disebabkan dalam penelitian Agus et al. (2003) tidak menggunakan konsentrat dan hanya menggunakan pakan jerami padi fermentasi sedangkan dalam penelitian ini digunakan konsentrat dan jerami padi fermentasi sebagai pakan ternak.
400 420 440 460 480 500 520 540 560 580 1 bln 2 bln 3 bln 4 bln Lama Penggemukan Ra ta a n Bo b o t B a d a n BrasPO SimPO LimPO PO
Keterangan : BrasPO = Brahman x Angus x PO; SimPO = Simmental x PO; LimPO = Limousin x PO; PO = Peranakan Ongole
Gambar 5. Grafik Pengaruh Bangsa terhadap Rataan Bobot Badan pada Lama Penggemukan Selama ± 4 bulan
Bobot Akhir
Tabel 2. memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) diantara bangsa sapi pada rataan bobot akhir. Tabel tersebut memperlihatkan bahwa sapi Brahman x Angus x PO (BrasPO) mempunyai nilai rataan bobot akhir yang paling tinggi (553,79 kg) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Rataan bobot akhir pada sapi Limousin x PO (LimPO) dan Simmental x PO (SimPO) mempunyai nilai yang sama sedangkan rataan yang terendah (474,01 kg) terdapat pada sapi Peranakan Ongole (PO). Perbedaan nilai rataan bobot akhir pada bangsa sapi disebabkan adanya laju pertumbuhan yang berbeda pada setiap bangsa sapi.
Parameter Tubuh
Parameter tubuh yang sering digunakan dalam menilai produktivitas antara lain tinggi badan, lingkar dada dan panjang badan (Blakely dan Bade, 1994). Parameter tubuh sapi dalam penelitian ini hanya digunakan untuk menduga ukuran kerangka tubuh sapi pada setiap bangsa. Rataan ukuran bagian tubuh (lingkar dada, panjang badan dan tinggi pundak) dapat dilihat pada Tabel 2. yang menyatakan bahwa sapi Brahman x Angus x PO (BrasPO) mempunyai nilai yang paling besar
pada parameter lingkar dada (205,75 cm), panjang badan (143,85 cm) dan tinggi pundak (149,72 cm) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh sapi BrasPO memiliki campuran darah tiga bangsa yaitu Brahman, Aberdeen Angus, Peranakan Ongole sehingga sapi BrasPO mempunyai tubuh lebih panjang, lebih tinggi, dan lingkar dada yang lebih besar. Tebal Lemak Pangkal Ekor
Tabel 2. menunjukkan bahwa rataan tebal lemak pangkal ekor (2,3 cm) pada sapi Brahman x Angus x PO (BrasPO) yang memiliki nilai yang paling besar dengan ketiga bangsa lainnya. Sementara itu, rataan tebal lemak pangkal ekor tidak berbeda antara Simmental x PO (SimPO) dan Limousin x PO (LimPO). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh bangsa sapi hasil inseminasi buatan khususnya sapi BrasPO dapat menyimpan lemak lebih besar dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Hal ini mungkin disebabkan oleh sapi BrasPO mempunyai sifat yang diturunkan dari tetuanya yaitu Angus yang mempunyai sifat dalam menyimpan lemak intramusculer. Selain itu, sapi ini mempunyai ukuran kerangka tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan sapi lokal (Peranakan Ongole) sehingga pada bobot potong yang sama, sapi BrasPO mempunyai nilai rataan tebal lemak yang paling tinggi pada pangkal ekor.
Parameter Karkas pada Bangsa Sapi Penelitian
Parameter karkas pada bangsa sapi penelitian dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Parameter Karkas pada Bangsa Sapi Penelitian
Bangsa Parameter yang Diukur
BrasPO LimPO SimPO PO
Bobot Potong (kg) 565,77a 540,69b 539,36b 486.9c
Bobot Karkas (kg) 303,75a 281,4b 284,6b 243,8b
Persentase Bobot Karkas (%) 56,95a 53,72b 53,96b 48,78c
TLP (cm) 1,75a 1,42b 1,48b 0,6c
Bobot Lemak PGJ (kg) 3,97a 3,24b 3,28b 2,54c
Butt Shape B B B C
Keterangan : Huruf superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) atau sangat nyata (P<0,01).
Dikoreksi terhadap rataan bobot badan potong 531,47 kg.
TLP = Tebal Lemak Punggung; Lemak PGJ = Lemak Pelvis, Ginjal dan -jantung.
Bobot Potong
Sapi dengan bobot potong yang lebih tinggi cenderung laju pertumbuhannya lebih cepat dan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 3. yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh bangsa sapi terhadap bobot potong. Dalam hal ini, Brahman x Angus x PO (BrasPO) memiliki rataan bobot potong yang paling besar (565,77 kg) dibandingkan ketiga bangsa lainnya (Simmental x PO (SimPO), Limousin x PO (LimPO), Peranakan Ongole (PO)). Hal ini kemungkinan disebabkan karena sapi BrasPO mempunyai laju pertumbuhan yang paling cepat dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya sehingga dalam mencapai bobot potong, sapi ini memiliki rataan bobot potong yang paling tinggi. Sapi PO mempunyai rataan bobot potong yang paling rendah (486,9 kg) karena sapi ini mempunyai ukuran kerangka tubuh yang kecil dan mempunyai laju pertumbuhan yang paling lambat dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya sehingga dalam mencapai bobot potong, sapi ini memiliki nilai rataan yang paling rendah. Hal ini juga didukung dengan hasil penelitian Vogt et al.(1962) bahwa sapi hasil persilangan dua bangsa mempunyai rata-rata bobot potong lebih tinggi dibandingkan dengan sapi hasil persilangan murni tetapi lebih kecil apabila dibandingkan dengan persilangan tiga bangsa.
Salah satu faktor yang mempengaruhi bobot potong diantaranya adalah kondisi bakalan dan lama penggemukan. Menurut Hapid (1998) bahwa adanya perbedaan bobot potong pada sapi Australian Commercial Cross dipengaruhi oleh kondisi bakalan dan lama penggemukan. Hal tersebut disebabkan oleh semakin bertambahnya deposisi lemak mengikuti bertambahnya lama penggemukan.
Bobot Karkas dan Persentase Bobot Karkas
Bobot karkas dan persentase bobot karkas dipengaruhi oleh bangsa sapi, jenis kelamin, bobot potong, pakan dan konformasi. Bangsa sapi tipe besar memiliki bobot tubuh dan karkas yang besar pula. Beberapa faktor yang mempengaruhi bobot karkas diantaranya adalah perbedaan bangsa, tipe ternak, nutrisi (Muhibbah, 2007).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persentase bobot karkas diantaranya adalah pakan, umur dan bobot hidup, jenis kelamin, bangsa sapi dan konformasi (Willis dan Preston, 1982). Hasil pada Tabel 3. menunjukkan bahwa terdapat adanya pengaruh yang nyata (P<0,05) pada bangsa sapi terhadap bobot
karkas. Hal ini terlihat bahwa sapi BrangusPO mempunyai bobot karkas tertinggi (303,75 kg) dan persentase karkas yang paling tinggi (56,96%) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya, sedangkan bangsa sapi SimPO, LimPO, PO mempunyai nilai bobot karkas yang tidak berbeda.
Persentase bobot karkas pada sapi PO mempunyai nilai yang paling rendah (48,78%) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Namun, persentase bobot karkas pada sapi LimPO dan SimPO tidak memberikan pengaruh yang berbeda. Hal ini kemungkinan disebabkan karena kedua bangsa sapi ini mempunyai kesamaan diantaranya adalah merupakan hasil keturunan dari bangsa sapi Eropa sehingga tidak memberikan pengaruh yang berbeda diantara kedua bangsa tersebut.
Perbedaan bobot karkas dan persentase bobot karkas dapat dipengaruhi oleh bangsa sapi. Hal ini juga dinyatakan dalam hasil penelitian Brahmantiyo (1996) bahwa sapi Brahman Cross menghasilkan karkas yang lebih tinggi karena ukuran saluran pencernaan pada sapi tersebut relatif lebih kecil.
Tebal Lemak Punggung
Tabel 3. memperlihatkan bahwa rataan tebal lemak punggung pada sapi Brahman x Angus x PO (BrasPO) mempunyai nilai yang paling tinggi (1,75 cm) dan nilai TLP yang paling rendah (0,6 cm) terdapat pada sapi Peranakan Ongole. Hal ini kemungkinan disebabkan karena sapi BrasPO merupakan salah satu bangsa sapi yang bertipe medium sehingga pada bobot potong yang sama, BrasPO mengandung lebih banyak lemak pada saat penggemukan dibandingkan sapi tipe besar seperti Simmental x PO (SimPO), Limousin x PO (LimPO). Selain itu, sapi PO mempunyai ukuran kerangka tubuh yang paling kecil sehingga pada bobot potong yang sama, sapi ini mempunyai deposit lemak pada punggung yang paling rendah.
Bobot Lemak Pelvis, Ginjal dan Jantung
Tabel 3. menunjukkan bahwa rataan tertinggi bobot lemak pelvis, ginjal dan jantung (3,97 kg) terdapat pada sapi Brahman x Angus x PO (BrasPO) dibandingkan dengan ketiga bangsa lainnya. Selain itu, sapi BrasPO mempunyai lemak paling tinggi yang kemungkinan disebabkan oleh sapi tersebut merupakan hasil persilangan dari tiga bangsa yang dilihat dari laju pertumbuhan yang lebih cepat, berukuran tubuh yang besar sehingga dalam mencapai bobot potong yang sama, BrasPO dapat menyimpan lemaknya lebih banyak dibandingkan ketiga bangsa lainnya. Menurut
hasil penelitan Pleasants dan Barton (1997) menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara komponen karkas pada semua bangsa ternak dengan parameter lemak (lemak ginjal dan organ dalam serta lemak pada tulang rusuk ke-12) dan hubungan yang negatif antara parameter lemak dengan bobot tulang dan bobot daging.
Butt Shape
Hasil analisis pada Tabel 3. menunjukkan bahwa bangsa sapi hasil inseminasi buatan memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) terhadap parameter karkas sapi. Sapi Peranakan Ongole (PO) memiliki nilai butt shape yang paling rendah (C) dibandingkan dengan ketiga bangsa sapi lainnya. Sapi hasil inseminasi buatan (Simmentalx PO (SimPO), Limousin x PO (LimPO), Brahman x Angus x PO (BrasPO)) mempunyai nilai butt shape yang sama yaitu B.