• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peternakan Ternak Domba Sehat (TDS) Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor berada pada ketinggian 800 m dpl (diatas permukaan laut) dengan curah hujan rata-rata 2500 mm/ tahun. Suhu sekitarnya berkisar 18-19 0C. Bentuk topografi lahan yaitu landai sampai berbukit dengan kemiringan yang cukup beragam. Jenis tanah di daerah ini adalah jenis tanah latosol merah coklat dengan PH antara 5,5 sampai 6. luas lahan yang digunakan adalah 13,2 ha yang merupakan lahan yang di sewa dari STTP. 12,2 ha lahan tersebut digunakan sebagai lahan pastura dan 1 ha lainnya sebagai lahan kandang.

Sumber: Macromedia 2005

Gambar 2. Peta Letak Peternakan TDS

Konstruksi kandang berupa panggung yang terbuat dari bambu dan beratap genteng. Lantai kandang terbuat dari belahan bambu yang disusun dengan jarak 2-3 cm, bertujuan agar feses, air kencing, dan sisa pakan dapat jatuh kebawah kandang. Konstruksi kandang diatur secara horizontal, membujur dari arah barat ke selatan yang bertujuan agar sinar matahari dapat masuk merata dalam kandang.

Pakan yang di berikan ada dua jenis yaitu berupa konsentrat dan hijauan. Kebutuhan jumlah hijauan dan konsentrat yang diberikan tiap kandang disesuaikan dengan bobot, umur, jenis kelamin, dan status psikologis ternak seperti bunting dan menyusui sehingga jumlah pakan yang diberikan akan berbeda-beda. Pemberian

hijauan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore) berupa Rumput Gajah dan Rumput Raja yang berasal dari penanaman dari lahan pastura. Ketersediaan rumput didapatkan dari lahan sendiri seluas ±11 ha dengan produksi ±3,5 ton/ha/hari. Sedangkan konsentrat diberikan pada pagi hari setelah pengambilan sisa pakan dari sebelumnya. Konsentrat ini didatangkan dari PT Himpunan Saudara Bandung. Pencatatan pemberian pakan dilakukan setiap hari untuk tiap-tiap kandang.

Tabel 3. Kandungan Nutrisi Pakan di TDS per BK

Zat Rumput Gajah Rumput Raja Konsentrat

--- % --- Abu 9,36 10,77 14,06 Protein 12,37 12,53 21,59 Serat 43,79 40,29 15,09 Lemak kasar 1,81 1,83 12,79 Ca 0,24 0,41 1,25 P 0,44 0,37 0,98 BETN 32,67 34,59 36,47

Populasi ternak di TDS-DD Republika pada akhir Bulan Maret 2005 adalah 568 ekor dengan perincian 246 ekor induk yang terdiri dari 18 ekor pejantan dan 228 ekor induk betina dan 322 ekor anak yang terdiri dari 133 ekor anak jantan dan 189 ekor anak betina. Sistem perkawinan yang dilaksanakan di Peternakan TDS adalah sistem perkawinana alam yaitu dengan menempatkan seekeor domba pejantan yang terpilih untuk ditempatkan kedalam kandang koloni yang berisi betina yang siap kawin secara bersama-sama. Perbandingan pejantan dan betina di peternakan TDS adalah 1:10-15.

Pemeriksaan dan pengobatan penyakit di Peternakan TDS dilakukan jika terlihat adanya tanda-tanda atau gejala klinis yang ditemukan pada ternak tersebut. Apabila di temukan tanda-tanda seperti terserang penyakit, ternak tidak mau makan, lesu dan tanda-tanda lainnya, segera dilakukan tindakan pemeriksaan dan pengobatan. Pemeriksaan dilakukan pada pagi dan sore hari dikarenakan faktor cuaca. Pada pagi dan sore hari cuaca tidak terlalu panas sehingga memudahkan dalam proses pemeriksaan dan pengobatan.

Penyebaran Pola Warna Muka Domba Garut Pola Warna Muka Tetua Domba Garut

Penyebaran pola warna muka tetua domba Garut hasil penelitian di Peternakan Ternak Domba Sehat (TDS) disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Pola Warna Muka Tetua Domba Garut

Pejantan Induk no Warna

Jumlah Frek (%) Jumlah Frek (%)

1 Polos hitam 15 44.12 120 51.95

2 Polos putih 5 14.71 15 6.49

3 Polos coklat 0 0.00 1 0.43

Sub total 20 58.83 136 58.87

4 Belang hitam putih 13 38.25 86 37.23

5 Belang hitam coklat 1 2.94 4 1.73

6 Belang coklat putih 0 0.00 5 2.17

Sub total 14 41.17 95 41.13

Total 34 100 231 100

Berdasarkan Tabel 4. keragamanan tipe warna pada tetua jantan, pola polos (58.83%) lebih dominan dari pada pola belang (41.17%) begitu juga halnya dengan tetua betina, pola polos (58.87%) lebih dominan dari pola belang (41,13%). Tipe warna domba Garut diperkirakan akibat adanya aksi gen S yang mengontrol adanya tipe polos, dimana genotipe S- tidak akan menyebabkan belang dan gen ss akan menghasilkan pola belang yang disebut piebeld (Grifiths et al 1993). Pola polos pada domba Garut diduga berasal dari tetua domba Garut yaitu domba merino yang mempunyai pola polos putih dan domba Cape yang berwarna polos hitam. Devendra dan McLeroy (1982). Menyatakan bahwa domba Garut berasal dari persilangan antara domba Merino, Lokal dan Cape yang berasal dari Afrika Selatan.

Pola warna domba Garut di Peternakan TDS, sangat beragam mulai dari hitam polos, putih polos, sampai warna belang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Triwulaningsih et al (1981); Zulkarnaen (1992); Afnan (1994); Hendra (1998) yang

menyatakan bahwa pola warna domba Garut bervariasi dari putih, hitam, coklat dan warna campuran.

Gambar 3. Domba Jantan Belang Hitam Putih dan Polos Putih

Warna muka tetua jantan yang dominan adalah polos hitam (44,12 %) diikuti dengan belang hitam putih 38,23 %, polos putih 14,71 %, dan belang hitam coklat 2,94 %. Dari data diatas didapat bahwa pola warna hitam baik polos hitam maupun belang hitam putih sangat mendominasi pada tetua jantan yang jumlahnya hampir setengah dari populasi pejantan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurjannah (1998) pada domba Garut di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut yang memperoleh warna dasar kepala jantan dominan hitam (40,85%). Tetapi penelitian ini bertentangan dengan hasil penelitian oleh Sabrani et al (1982) pada domba Priangan di Kabupaten Garut yang memperoleh warna kepala putih dominan (50,4%) diikuti warna hitam (40,5%) dan coklat (9,1%) dan hasil penelitian Afnan (1994) pada domba Garut di Desa Sukaresmi yang mengatakan warna dasar terbanyak Domba Garut jantan adalah putih (15,64%) di ikuti hitam (7,72%) dan coklat (5,83%). Adanya preferensi (kesukaan) pada warna hitam menyebabkan populasi didominasi oleh warna hitam. Nurjannah (1998) menyatakan adanya seleksi sederhana untuk mendapatkan pejantan dan induk ke arah domba tangkas menyebabkan adanya dominasi warna hitam, dimana domba yang berwarna dasar kepala hitam memiliki kemampuan tangkas dan lebih disukai oleh masyarakat dari pada domba yang berwarna dasar kepala putih maupun coklat, hal ini menyebabkan sebagian besar tetua baik pejantan maupun induk berwarna hitam.

Pola warna muka induk di Peternakan TDS juga di domonasi oleh warna hitam yaitu polos hitam 51,95%, belang hitam putih 37,23%, polos putih 6,49%, belang coklat putih 2,17%, belang hitam coklat 1,73% dan polos coklat 0,43%. Hasil penelitian Hendra (1998), menyebutkan bahwa frekuensi tertinggi pola warna kepala

domba Garut betina di Kecamatan Cisurupan adalah hitam head belang putih (40,4%) diikuti hitam head polos (21,6%), dan putih head belang hitam (12,7%). Pola wana hitam (hitam head belang putih dan hitam head polos) yang melebihi setengah dari populasi menunjukkan adanya kecenderungan warna dasar kepala domba Garut adalah hitam sehingga bisa dikatakan bahwa domba Garut dikategorikan sebagai domba kepala hitam (Hendra, 1998).

Pola Warna Muka Domba Garut Pejantan Muda

Penyebaran pola warna muka pejantan muda hasil penelitian di Peternakan Ternak Domba Sehat (TDS) disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5. Pola Warna Muka Domba Garut Pejantan Muda

No Warna Jumlah (ekor) Frekuensi (%)

1 Polos hitam 16 26.23

2 Polos putih 6 9.84

3 Polos coklat 0 0.00

Sub Total 32 36.07

4 Belang hitam putih 37 70,65

5 Belang coklat putih 2 3,28

6 Belang hitam coklat 0 0,00

Sub Total 39 63,93

Jumlah 61 100

Pada domba Garut pejantan muda warna yang lebih banyak muncul adalah pola warna hitam baik polos hitam (26,23%) maupun warna belang hitam (70,63%). Warna muka hitam yang dominan merupakan merupakan warna muka yang umum ditemukan dalam populasi. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya seleksi domba Garut untuk tipe aduan yang umumnya memiliki warna hitam. Warna hitam seperti ini atau kombinasi dengan warna hitam adalah warna terbaik untuk tipe aduan.

Berdasarkan Tabel 5, pola penyebaran warna domba Garut pejantan muda yaitu 36,07% tipe polos dan 63,93% tipe belang. Hal ini berbeda dari tetua baik jantan maupun induk yang mempunyai tipe polos lebih dominan dari tipe belang. Adanya perbedaan pola warna tersebut karena para pejantan muda berasal dari luar peternakan TDS yang didatangkan sebagai replacement stock domba pejantan.

Pola Warna Muka Anak Domba Garut

Penyebaran pola warna muka anak domba Garut hasil penelitian di Peternakan Ternak Domba Sehat (TDS) disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Pola Warna Muka Anak Domba Garut

Jantan Betina No Warna

Jumlah Frek (%) Jumlah Frek (%)

1 Polos Hitam 70 52,63 64 44,76 2 Polos Putih 11 8,27 18 12,59 3 Polos Coklat 1 0,75 2 1,40 Sub total 82 61,65 84 58,75 4 Belang Hitam-Putih 45 33,84 57 37,06 5 Belang Hitam-Coklat 0 0.00 1 0,70

6 Belang coklat putih 6 4,51 5 3,50

Sub total 51 38,35 59 41,26

Total 133 100 143 100

Berdasarkan Tabel 6, pola warna muka anak jantan secara berurutan adalah polos hitam (52,6%), belang hitam putih (33,84%), polos putih (8,3%), belang coklat puith (6%) dan polos coklat (0,75%). Sedangkan untuk pola warna muka anak betina berturut-turut adalah polos hitam (44,8%) belang hitam putih (37,06%) polos putih (12,59%),belang coklat putih (3,5%) polos coklat (1,4%) dan belang hitam coklat (0,7%). Hal ini sesuai dengan penelitian Nurjannah (1998) bahwa warna kepala anak domba Garut di Kecamatan Cisururpan didominasi oleh warna hitam (80%) diikuti putih (18,6%) dan coklat (1,4%)

Pola warna muka anak domba Garut di Peternakan TDS beragam dari hitam putih coklat, atau kombinasi dari ketiga warna tersebut. Adanya dominasi warna polos hitam baik pada jantan (52,6%) maupun pada betina (44,76%) adalah karena populasi dari tetua baik jantan maupun betinanya di dominasi oleh warna hitam akibat dari seleksi sederhana untuk mendapatkan domba tangkas yang berwarna hitam. Upaya seleksi ini dilanjutkan dengan persilangan antara tetua yang berwarna hitam sehingga persilangan yang banyak terjadi adalah persilangan antara tetua yang berwarna hitam yang juga akan menghasilkan anak-anak domba yang berwarna

hitam. Begitu juga dengan warna coklat dan campuran warna coklat yang sangat jarang ditemukan dalam populasi karena adanya seleksi terhadap warna hitam. Tetua warna coklat yang jarang ditemukan, mengakibatkan persilangan antara sesama warna coklat jarang ditemukan sehingga pada keturunannya, warna coklat akan jarang ditemukan. Searle (1968) menambahkan salah satu lokus yang mempengaruhi pola warna domba adalah lokus B. Gen B akan berekspresi warna hitam sedangkan b akan berekspresi warna coklat.

Tipe warna pada anak jantan domba Garut tipe polos (61,65%) masih mendominasi dibandingkan tipe belang (38,35%) begitu pula pada anak betina domba Garut, tipe warna polos lebih mendominasi (58,75%) dari pada warna belang (41,26%). Hal ini diduga karena adanya gen pengontrol tipe Polos S yang lebih dominan dari gen pengontrol tipe belang s. Selain itu jika dilihat dari tetuanya yang mempunyai tipe polos yang lebih banyak dari tipe belang, hal ini juga menyebabkan pada anak domba baik jantan maupun betina mempunyia tipe polos (polos) yang lebih dominan dari tipe belang (belang).

Gambar 4. Anak Domba Polos Putih dan Polos Hitam

Pola Pewarisan Warna Muka Persilangan antara Polos Hitam dengan Polos Hitam

Persilangan antara sesama tetua polos hitam ditemukan empat kasus pewarisan warna anak diantaranya polos hitam, polos putih, belang hitam putih dan belang coklat putih masing-masing sebesar 64,10%; 17,95%;13,39% dan 2,56 %. Pola pewarisan warna muka dan pendugaan genotipe persilangan domba Garut muka polos hitam dengan polos hitam berdasarkan Uji Chi Kuadrat disajikan dalam Tabel 7.

Tabel 7. Hasil Uji Chi Kuadrat Pesilangan antara Tetua Polos Hitam dengan Polos Hitam Bergenotipe (Bb Cc Ss ii x Bb Cc Ss ii)

Jumlah X2 tabel

Kemungkinan Genotipe

Keturunannya Observasi Harapan

X2 hit 5% 1% • Polos hitam B_C_S_ii 25 16,45 17.64 9,49 13,28 • Polos putih -- cc -- -- 7 4,27 • Polos coklat bb C_ S_ ii 0 9,75

• Belang hitam putih B_ C_ ss ii

6 3,66 • Belang coklat putih

bb C_ ss ii

1 0,61

Berdasarkan hasil analisis genotipe keturunannya, maka dapat diduga tetuanya memiliki genotipe Bb Cc Ss ii (polos hitam). Pendugaan genotipe persilangannya sebagai berikut:

B_ C_ S_ -ii. X B_ C_ S_ ii. Keturunannya:

I. B_ C_ S_ ii (Polos hitam) II. -- cc -- -- (Polos putih) III. bb C_ S_ ii (Polos coklat)

IV. B_ C_ ss ii (Belang hitam putih) V. bb C_ ss ii (Belang coklat putih)

Hasil persilangan tetua genotipe B_ C_ S_ ii x B_ C_ S_ ii didapatkan lima kelompok warna anak yaitu warna polos hitam, polos putih, belang hitam putih dan belang coklat putih. Warna polos hitam diturunkan dari kedua tetuanya

yang sama-sama memiliki genotipe polos hitam. Tetua masing-masing berkontribusi memberikan gamet polos hitam pada proses pembuahan atau fertilisasi. Menurut Noor (2004), selama poses meiosis pada spermatogenesis dan oogenesis gen-gen bersegregasi ke dalam gamet. Dalam proses pembuahan gamet jantan dan betina bersatu menjadi zigot. Selanjutnya gen-gen akan berpasangan kembali. Proses rekomendasi ini menghasilkan satu atau lebih genotipe tergantung pada gen-gen yang dibawa oleh gamet.

Warna kedua adalah polos putih (-- cc -- --) . Warna ini muncul karena tidak munculnya gen pengontrol pembentuk warna (C) dan atau adanya gen I (inhibitor) yang merupakan aksi gen epistasis dominan. Sponenberg (1997) menerangkan bahwa lokus albino pada domba merupakan alel yang bersifat resesif akibat mutasi sehingga menghalangi pembentukan faeomelanin (pigmen coklat) dan eumelanin (pigmen hitam) pada wool, rambut mata dan kulit. Warna ketiga adalah belang hitam putih (B_ C_ ss ii). Warna ini muncul karena adanya gen S dalam keadaan resesif (ss) yang menyebabkan warna belang (spotted). Hal ini sesuai sesuai dengan Searle (1968), salah satu lokus yang mempengaruhi pola warna pada domba adalah S series. Gen S dalam keadaan homozigot dominan dan heterozigot akan berpola polos sedangkan dalam keadaan resesif akan berpola belang.

Warna belang coklat putih (bb Cc ss ii). Warna ini muncul diduga berasal dari kedua tetua hitam yang mempunyai gen B dalam keadaan heterozigot (Bb). Warna coklat akan muncul pada kelompok genotipe dalam keadaan homozigot resesif (bb). Menurut Noor (2004), Gen-gen pada lokus B akan menentukan apakah eumelanin akan menjadi hitam (B_) atau coklat (bb). Gen B akan berekspresi warna hitam sedangkan alel b akan berekspresi warna coklat (Searle, 1968).

Hasil uji Chi-Kuadrat persilangan antara tetua sesama muka polos hitam sangat menyimpang dari rasio harapan (P<0.01). Penyimpangan persilangan tersebut diduga karena jumlah observasi (pengamatan) yang terlalu sedikit, sehingga ada kemungkinan tidak munculnya pola warna tertentu. adanya gen lain yang mengontrol sifat warna muka pada domba juga merupakan faktor yang menyebabkan hasil pengamatan sangat menyimpang dari rasio harapan.

Persilangan antara Polos Hitam dengan Polos putih

Persilangan domba muka polos hitam dengan domba muka polos putih menghasilkan tiga kelompok warna pada anak. Sebesar 77,78% anaknya berwarna polos hitam, 11,11 % berwarna polos putih dan 11,11% berwarna belang coklat putih. Pola pewarisan warna muka dan pendugaan genotipe dari persilangan antara domba Garut polos hitam dengan polos putih berdasarkan Uji Chi Kuadrat disajikan dalam Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Uji Chi Kuadrat Pesilangan antara Tetua Polos Hitam dengan Polos Putih Bergenotipe (BB Cc Ss ii x BB cc Ss ii)

Jumlah X2 tabel

Kemungkinan Genotipe

Keturunannya Observasi Harapan

X2 hit 5% 1% • Polos hitam BB Cc S_ii 14 6,75 13,25 5,99 9,21 • Polos putih • BB cc SS ii 2 9 • Belang hitam putih

BB Cc ss ii

2 2,25

Hasil analisis genotipe menunjukkan bahwa tetua domba yang berwarna polos hitam mempunyai genotipe BB Cc Ss ii sedangkan induknya yang berwarna polos putih memiliki genotipe BB cc Ss ii. Hal ini didapat dari analsis sebagai berikut :

B_ C_ S_ ii X -- cc -- -- Keturunannya:

I. B_ C_ S_ ii (Polos hitam) II. -- cc -- -- (Polos putih)

III. B_ C_ ss ii. (Belang hitam putih)

Persilangan antara tetua bergenotipe (BB Cc SS ii x BB cc SS ii) menghasilkan tiga kelompok warna pada anaknya yaitu polos hitam, polos putih dan belang hitam putih. Warna polos hitam pada kelompok anak pertama diduga berasal dari kedua tetua yang mempunyai gen B dalam keadaan homozigot (BB), walaupun pada salah satu tetuanya, gen B tidak berekspresi warna hitam karena aksi gen (cc) sehingga warna muncul pada salah satu tetuanya adalah putih. Menurut Searle (1968), salah satu lokus yang mempengaruhi warna pada domba adalah B series. Gen B_ akan berekspresi hitam dan b akan berekspresi coklat.

Warna kedua adalah polos putih. Warna ini muncul karena tidak munculnya gen pengontrol pembentuk warna (C) dan atau adanya gen I (inhibitor) yang merupakan aksi gen epistasis domiman. Menurut Searle (1968), C series adalah salah satu lokus yang telah diketahui mempengaruhi variasi warna pada domba dan babi. Menurut Noor (2004), warna putih dapat di sebabkan karena ketidak munculan gen C sehingga produksi tyrosine yang berguna dalam pembentukan warna di hambat atau adanya aksi gen inhibitor (I) yang bekerja menghambat ekspresi warna dari gen lain

Warna ketiga yang muncul adalah adalah belang hitam putih (BB Cc ss ii). Warna ini muncul karena adanya gen S dalam keadaan resesif (ss) yang menyebabkan warna belang (spotted). Menurut Griffiths et al (1993), Tipe warna domba Garut diperkirakan akibat adanya aksi gen S yang mengontrol adanya tipe polos, dimana genotipe S_ tidak akan menyebabkan belang (Polos) dan gen ss akan menghasilkan pola belang. Noor (2004), menambahkan pola bercak atau belang diwariskan secara resesif (ss) sedangkan dalam keadaan homosigot dominan dan heterosigot menghasilkan warna polos

Pada persilangan ini tidak ditemukan anak yang mempunyai pola warna coklat yang mengandung gen (bb) sehingga tetua dan anak yang berwarna polos hitam dan belang hitam putih dapat diduga memiliki gen B dalam keadaan homozigot dominan (BB). warna putih pada kelompok warna kedua menyebabkan dugaan tetua yang berwarna hitam memiliki gen C homozigot (Cc). Adanya pola polos (ss) pada kelompok anak ketiga menyebabkan dugaan pada tetua memiliki gen pengontrol pola belang dalam keadaaan heterozigot (Ss). Sehingga diduga tetuanya yang berwarna polos hitam memiliki genotipe (BB Cc Ss ii) dan tetuanya yang berwarna polos putih memiliki genotipe BB cc Ss ii.

Hasil uji Chi-Kuadrat persilangan antara tetua muka polos hitam dengan polos putih sangat menyimpang dari rasio harapan (P<0.01). Penyimpangan persilangan tersebut diduga karena adanya seleksi sederhana kearah genotipe tertentu. Warna hitam yang sangat banyak muncul adalah warna terbaik dan lebih disukai oleh masarakat sebagai domba tangkas.

Persilangan antara Polos Putih dengan Polos Putih

Persilangan antara tetua polos putih dengan polos putih didapat tiga kasus pewarisan warna pada anak-anaknya. Sebesar 40% anaknya mengikuti warna tetuanya yaitu polos putih, sebesar 40% anaknya berwarna polos hitam. Sisanya sebesar 20% anaknya berwarna belang coklat putih. Pola pewarisan warna muka dan pendugaan genotipe dari persilangan antara domba Garut polos dengan polos putih berdasarkan Uji Chi Kuadrat disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9. Hasil Uji Chi Kuadrat Pesilangan antara Tetua Polos Putih dengan Polos Putih Bergenotipe (Bb CC Ss Ii x bb CC ss Ii)

Jumlah X2 tabel

Kemungkinan Genotipe

Keturunannya Observasi Harapan

X2 hit 5% 1% • Polos hitam B_CC Ss ii 2 0,3 12.66 9,49 13,28 • Polos putih -- CC --I_ 2 3,75 • Polos coklat bb CC Ss ii 0 0,3 • Belang hitam putih

B_ CC ss ii

0 0,3 • Belang coklat putih

bb CC ss ii

1 0,3

Hasil analisis genotipe didapat tetua dari persilangan ini memiliki genotipe Bb CC Ss Ii dan bb CC ss Ii. Pendugaan genotipe dianalisis sebagai berikut: -- C_ -- I_ X -- C_ -- I_

Keturunannya

I. -- C_ -- I_ (Polos putih) II. B_ C_ Ss ii (Polos hitam)

III. bb C_ ss ii (Belang coklat putih)

Pada persilangan ini dihasilkan tiga kelompok warna pada anak-anaknya yaitu polos putih, polos hitam dan belang coklat putih. Kelompok anak pertama yang muncul adalah polos putih (-- CC -- I_). Warna putih ini muncul diduga karena adanya adanya gen inhibitor (I) sebagai penghambat munculnya warna. Hal ini merupakan kejadian epistasis dominan. Stansfield (1991) menjelaskan aksi gen inhibitor adalah dominan epistasis. Gen inhibitor bekerja dengan cara menghambat ekspresi warna dari gen lain yang berada pada lokus lainnya,

sehingga warna yang nampak adalah putih. Noor (2004), menambahkan aksi gen epistasis dominan adalah aksi gen yang melibatkan satu gen pada satu lokus yang menekan atau memodifikasi ekspresi gen pada lokus yang lainnya.

Kelompok anak kedua yang muncul adalah polos hitam (B_CC Ss ii) warna hitam diduga berasal dari salah satu tetua yang memiliki gen B dalm keadaan heterozigot (Bb), walaupun ekspresi warna hitam pada tetua yang berasal dari gen Bb tidak muncul karena adanya aksi gen inhibitor sehingga warna muncul pada tetuanya adalah putih. Kelompok anak ketiga yang muncul adalah belang coklat putih (bb C_ ss ii) Warna ini muncul diduga berasal dari tetua putih yang mempunyai gen B dalam keadaan heterozigot (Bb) dan resesif (bb) tetapi warna coklat ini tidak terekspresi karena adanya gen inhibitor. Warna coklat akan muncul pada kelompok genotipe dalam keadaan homozigot resesif (bb). Menurut Noor (2004), gen-gen pada lokus B akan menentukan apakah eumelanin akan menjadi hitam (B_) atau coklat (bb). Gen B akan berekspresi warna hitam sedangkan alel b akan berekspresi warna coklat (Searle, 1968).

Adanya gen polos (S_) pada kelompok anak kedua dan gen belang (ss) pada kelompok anak ketiga menyebabkan dugaan tetuanya memiliki gen belang dalam keadaan heterozigot (Ss). Warna coklat (bb) pada kelompok ketiga juga menyebabkan dugaan tetuanya memiliki gen pengontrol warna hitam dalam keadan heterozigot (Bb). Sehingga dapat diduga tetuanya memiliki genotipe Bb Cc Ss Ii, walaupun dalam kenyataan ekspresi gen Bb, Cc dan Ss tidak muncul sebagai ekspresi fenotifik karena adanya gen inhibitor (I) sebagai penghambat munculnya warna.

Hasil uji Chi-Kuadrat persilangan antara tetua muka polos putih dengan polos putih menyimpang dari rasio harapan (0.05<P<0.01). Penyimpangan persilangan tersebut diduga karena jumlah observasi (pengamatan) yang terlalu sedikit. Ketidakmurnian genotipe juga mempengaruhi observasi menyimpang dari rasio harapan.

Persilangan antara Polos Hitam dengan Belang Hitam Putih

Persilangan antara tetua domba muka polos hitam dengan domba muka belang hitam putih, ditemukan lima kasus pewarisan warna pada anak-anaknya. Warna yang paling dominan muncul adalah polos hitam (57,14%) diikuti warna

polos putih (21,43%), polos coklat (9,25%) belang hitam putih (7,14%) dan belang coklat putih (4,76%). Pola pewarisan warna muka dan pendugaan genotipe persilangan antara domba Garut polos hitam dengan belang hitam putih berdasarkan Uji Chi Kuadrat disajikan dalam Tabel 10.

Tabel 10. Hasi Uji Chi Kuadrat Pesilangan antara Tetua Polos Hitam dengan Belang Hitam Putih yang Bergenotipe (Bb Cc Ss ii x Bb Cc ss ii)

Jumlah X2 tabel

Kemungkinan Genotipe

Keturunannya Observasi Harapan

X2 hit 5% 1% • Polos hitam B_C_S_ii 24 11,81 20.02 9,49 13,28 • Polos putih -- cc -- ii 9 10,5 • Polos coklat bb Cc Ss ii 4 3,94 • Belang hitam putih

B_ C_ ss ii

3 10,5 • Belang coklat putih

• bb C_ ss ii

2 3,94

Hasil analisis genotipe menunjukkan bahwa tetua yang berwarna polos hitam memiliki genotipe Bb Cc Ss ii sedangkan tetua yang berwarna belang hitam putih memiliki genotipe Bb Cc ss ii. Hal ini di dapat dari analisis sebagai berikut: B_ C_ S_ ii X B_ C_ ss ii

Keturunannya

I. B_ C_ S_ ii (Polos hitam) II. -- cc S_ -- (Polos putih) III. bb C_ Ss ii (Polos coklat)

IV. B_ C_ ss ii (Belang hitam putih) V. bb C_ ss ii (Belang coklat putih)

Hasil persilangan tetua genotipe Bb Cc Ss ii x Bb Cc ss ii didapatkan lima kelompok warna anak yaitu warna polos hitam, polos putih, belang hitam putih

Dokumen terkait