• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecamatan Dramaga

Kecamatan Darmaga merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor dengan luas wilayah 2,437.636 ha. Sebagian besar tanah yaitu 972 ha digunakan untuk sawah, 1,145 ha untuk lahan kering (pemukiman, pekarangan, kebun), 49.79 ha lahan basah (rawa, danau, tambak, situ), 20.30 ha lapangan olahraga dan pemakaman umum. Kecamatan Darmaga mempunyai batas wilayah sebelah utara dengan Kecamatan Rancabungur, sebelah selatan dengan Kecamatan Tamansari/Ciomas, sebelah barat dengan Kecamatan Ciampea, dan sebelah timur dengan Kecamatan Bogor Barat. Curah hujan di Kecamatan Darmaga 1000 - 1500 mm/tahun, dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut. Jarak Kecamatan Darmaga dari ibukota Kabupaten Bogor adalah 12 km, dari ibukota Propinsi Jawa Barat 180 km. Jumlah keluarga sebanyak 22.143 KK dengan 310 Rukun Tetangga (BPS 2005).

Menurut BPS (2005) Kecamatan Dramaga memiliki 10 desa yaitu Babakan, Ciherang, Cikarawang, Dramaga, Neglasari, Petir, Purwasari, Sinar Sari, Suka Damai, dan Sukawening dengan jumlah keluarga sebesar 22.143 KK atau 310 Rukun Tetangga. Berdasarkan karakteristik wilayah desa, desa dibagi menjadi kota dan desa. Kecamatan Dramaga memiliki perbandingan desa dan kota yang sama yaitu 5 desa termasuk kota, dan 5 desa yang termasuk desa. Penelitian ini dilakukan di Desa Babakan untuk mewakili kota, dan Desa Purwasari untuk desa.

Desa Babakan

Desa Babakan memiliki luas wilayah sebesar 334.384 ha dengan 5 ha wilayah digunakan untuk tanah sawah irigasi, dan 244 ha untuk tanah perkebunan negara. Jarak Desa Babakan ke ibu kota kecamatan terdekat adalah 1 km dengan waktu tempuh setengah jam, sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten adalah 22 km dengan waktu tempuh 1.5 jam. Kendaraan umum yang digunakan untuk pengukuran waktu tempuh tersebut adalah dengan menggunakan angkutan umum (angkot). Jumlah penduduk di Desa Babakan adalah 8.667 jiwa pada tahun 2005 dan meningkat menjadi 10.798 jiwa tahun 2008. Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai pegawai swasta dan di bidang perdagangan atau jasa yang disajikan pada Tabel 5.

Tabel 5 Distribusi penduduk berdasarkan jenis pekerjaan No. Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) %

1. TNI/POLRI 65 1.8 2. PNS 790 22.3 3. Pegawai Swasta 1372 38.7 4. Petani - 0.0 5. Perdagangan/Jasa 1214 34.2 6. Buruh Tani - 0.0 7. Lainnya 106 3.0 Total 3547 100

Tingkat pendidikan di Desa Babakan cukup baik. Hal ini terlihat dari rendahnya persentase masyarakat yang tidak sekolah atau tidak tamat SD dibandingkan dengan masyarakat yang dapat menyelesaikan pendidikannya bahkan hingga tingkat perguruan tinggi, dan ditampilkan pada Tabel 6.

Tabel 6 Distribusi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) %

1. Belum sekolah 507 5.9

2. Usia 7-45 tahun tidak pernah sekolah 1520 17.7

.3. Tidak tamat SD 512 6.0 4. Tamat SD/sederajat 1750 20.4 5. Tamat SLTP/sederajat 1215 14.2 6. Tamat SLTA/sederajat 1320 15.4 7. D-1 733 8.6 8. D-2 205 2.4 9. D-3 175 2.0 10. S-1 380 4.4 11. S-2 184 2.1 12. S-3 70 0.8 Total 8571 100.0

Prasarana air bersih di Desa Babakan terdiri dari 1 unit sumur pompa, 1.047 unit sumur gali, 4 mata air, dan 1 unit hidran umum. Prasarana ibadah terdiri dari 9 masjid dan 34 surau atau mushola. Selain itu, Desa Babakan juga memiliki 28 prasarana olah raga. Prasarana kesehatan terlihat pada Tabel 7.

Tabel 7 Prasarana kesehatan di Desa Babakan No. Prasarana Kesehatan Jumlah

1. Puskesmas 1

2. Poliklinik/balai pengobatan 5

3. Apotik 1

4. Posyandu 8

5. Toko obat 3

6. Tempat dokter praktek 5

Total 23

Sarana dan prasarana transportasi dan perhubungan dalam keadaan baik termasuk jalan, jembatan dan angkutan umum, telekomunikasi, serta kantor pos. Prasarana pendidikan disajikan pada Tabel 8.

Tabel 8 Prasarana pendidikan di Desa Babakan No. Prasarana Pendidikan Jumlah

1. TK 2

2. SD/sederajat 4

3. SMP/sederajat 3

4. SMA/sederajat 3

5. Perguruan Tinggi 1

6. Lembaga Pendidikan Agama 5

7. Perpustakaan 11

Total 29

Total skor Desa Babakan untuk variabel kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian dan akses fasilitas umum adalah 17. Berdasarkan BPS (2005b) desa dengan skor gabungan ketiga variabel mencapai

10 atau lebih digolongkan sebagai desa kota.

Desa Purwasari

Luas wilayah Desa Purwasari adalah 211.011 ha dengan penggunaan terbesar untuk pertanian sawah yaitu seluas 158.804 ha, serta pemukiman seluas 34.916 ha. Desa Purwasari mempunyai batas wilayah sebelah utara yaitu Desa Petir, sebelah selatan dengan Desa Sukajadi, sebelah barat dengan Situ Daun, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Petir dan Sukajadi. Jarak Desa Purwasari ke ibu kota kecamatan sejauh 7 km dengan waktu tempuh 0.5 jam, sedangkan jarak ke ibu kota Kabupaten sejauh 30 km dengan waktu tempuh 2.5 jam. Pengukuran waktu tempuh tersebut dengan menggunakan fasilitas angkutan umum (angkot) sama seperti di Desa Babakan.

Jumlah penduduk di Desa Purwasari adalah sebanyak 5.943 jiwa dengan 2.405 KK. Sebagian besar masyarakat di Desa Purwasari bekerja sebagai petani. Pekerjaan di Desa Purwasari ditampilkan pada Tabel 9.

Tabel 9 Distribusi penduduk berdasarkan jenis pekerjaan No. Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) %

1. Petani 1212 77.4

2. Pekerja di sektor jasa 179 11.4 3. Pekerja di sektor industri 174 11.1

Total 1565 100

Tingkat pendidikan di Desa Purwasari juga cukup baik sama dengan Desa Babakan. Desa Purwasari juga didukung sarana dan prasarana seperti pendidikan, kesehatan, dan perhubungan. Menurut data potensi wilayah tahun 2001, Desa Purwasari hanya memiliki 3 SD dan 1 SMP. Desa ini juga memiliki Puskesmas dan 8 Posyandu. Selain itu, jalan di desa ini sebagian besar diaspal dan dalam kondisi baik. Desa Purwasari juga memiliki sarana irigasi dalam kondisi baik. Sarana ibadah yang terdapat di desa ini adalah 8 buah masjid dan

10 mushola. Selain itu, terdapat lembaga keagamaan berupa 6 Majelis Taklim. Total skor Desa Purwasari untuk variabel kepadatan penduduk, persentase rumah tangga pertanian dan akses fasilitas umum adalah 7. Berdasarkan BPS (2005b) desa dengan skor gabungan ketiga variabel kurang dari 10 digolongkan sebagai desa. Tingkat pendidikan masyarakat dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10 Distribusi penduduk berdasarkan tingkat pendidikan No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) %

1. Tidak tamat SD 326 8.1

2. SD/sederajat 1452 36.1

.3. SMP/sederajat 1289 32.1

4. SMA/sederajat 560 13.9

5. Akademik 4 0.1

6. Tamat Perguruan Tinggi - 0.0

7. Kejar Paket A yang mengikuti

Ujian Persamaan 45 1.1

8. Pendidikan Khusus 345 8.6

Total 4021 100.0

Karakteristik Individu Pendidikan Terakhir

Pendidikan orang tua merupakan salah satu faktor yang akan mempengaruhi jenis pekerjaan, pendapatan, serta pengeluaran keluarga. Tingkat pendidikan yang rendah, akan mengurangi peluang seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang relatif tinggi. Sebaran contoh berdasarkan pendidikan terakhir contoh dan suami ditampilkan pada Tabel 11.

Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan pendidikan terakhir

Jenis Pekerjaan

Desa Kota

Suami Isteri Suami Isteri n % n % n % n % Tidak sekolah/tidak tamat SD 9 17.0 10 18.9 5 9.4 4 7.5 SD/setara 26 49.1 31 58.5 16 30.2 24 45.3 SMP/setara 12 22.6 10 18.9 11 20.8 14 26.4 SMA/setara 6 11.3 2 3.8 20 37.7 6 11.3 Diploma I/II 0 0.0 0 0.0 0 0.0 3 5.7 Akademi/Diploma III 0 0.0 0 0.0 0 0.0 2 3.8 Perguruan Tinggi 0 0.0 0 0.0 1 1.9 0 0.0 Total 53 100 53 100 53 100 53 100

Sebagian besar contoh baik di kota (45.3%) maupun di desa (58.5%) mengenyam pendidikan hanya sampai tingkat SD/setara. Selanjutnya, untuk contoh di kota, proporsi tingkat pendidikan terakhir contoh adalah SMP/setara (26.4%), SMA/setara (11.3%), dan tidak sekolah/belum tamat SD (7.5%). Selain itu, contoh di kota juga telah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi yaitu Diploma (9.5%). Contoh di wilayah desa memiliki proporsi yang sama untuk pendidikan terakhir SMP/setara serta tidak sekolah/belum tamat SD yaitu

sebesar 18.9%. kemudian, hanya 3.2% atau sebanyak 2 orang yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA/setara.

Suami contoh di wilayah kota sebagian besar menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat SMA/setara (37.7%), diikuti dengan tingkat SD/setara (30.2%), SMP/setara (20.8%), serta tidak sekolah/tidak tamat SD (9.4%). Sama halnya dengan contoh, terdapat suami contoh di kota yang telah mengenyam pendidikan hingga tingkat perguruan tinggi atau S1 (1.9%). Lain halnya dengan suami contoh di desa. Sebagian besar menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SD/setara (49.1%), kemudian proporsi terbanyak adalah SMP/setara (22.6%), tidak sekolah/tidak tamat SD (17%), serta SMA/setara (11.3%), tidak ada yang menyelesaikan pendidikan hingga tingkat lebih tinggi.

Pendapatan Per Kapita

Pendapatan keluarga merupakan jumlah pendapatan yang diperoleh dari seluruh anggota keluarga yang bekerja (/kapita/bulan). Pendapatan yang tinggi umumnya didukung juga dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar contoh baik di desa (54.7%) dan di kota (45.3%) tergolong dalam kategori pendapatan sedang. Sebanyak 35.8% contoh di desa memiliki pendapatan yang rendah, dan hanya 9.4% dengan pendapatan tinggi. Berbeda dengan contoh di desa, proporsi contoh dengan pendapatan tinggi (41.5%) lebih besar dibandingkan dengan contoh yang memiliki pendapatan rendah (13.2%). Sebaran contoh berdasarkan pendapatan per kapita dapat dilihat pada Tabel 12. Rata-rata pendapatan per kapita contoh di desa adalah Rp186 665 (kategori sedang) dengan standar deviasi (Rp99 892), sedangkan di kota Rp 341 490 (kategori tinggi) dengan standar deviasi (Rp236 566).

Tabel 12 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan per kapita Golongan Pendapatan Per Kapita Desa Kota

n % n % Rendah (<Rp128 000) 19 35.8 7 13.2 Sedang (Rp128 000-Rp330 000) 29 54.7 24 45.3 Tinggi (Rp330 000) 5 9.4 22 41.5 Total 53 100 53 100 Rata-rata (Rp186 665) (Rp341 490) Standar deviasi (Rp99 892) (Rp236 566)

Pengeluaran Per Kapita

Pengeluaran per kapita ini merupakan jumlah pengeluaran pangan dan non pangan dalam waktu satu bulan terakhir dibagi dengan jumlah anggota keluarga (/kapita/bulan). Pengeluaran pangan yang digunakan adalah pengeluaran untuk pangan pokok, lauk pauk, serta sayur dan buah, serta lainnya

(makanan jajanan/cemilan). Pengeluaran non-pangan meliputi pengeluaran untuk biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, komunikasi, gas, listrik, serta air. Pemilihan kategori pengeluaran tersebut karena merupakan alokasi terbanyak pengeluaran di tingkat rumah tangga. Golongan pengeluaran per kapita ini disusun berdasarkan garis kemiskinan Provinsi Jawa Barat tahun 2008 yaitu sebesar Rp 176.216. Menurut Khomsan (2009) konsep dasar garis kemiskinan (poverty line) ditetapkan berdasarkan besarnya pengeluaran per kapita untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar seseorang agar dapat hidup dengan layak. Oleh karena itu, digunakan garis kemiskinan digunakan sebagai penentu golongan pengeluaran per kapita. Tabel 13 menunjukkan sebaran pengeluaran per kapita contoh di wilayah desa dan kota.

Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan pengeluaran per kapita Golongan Pengeluaran Per Kapita Desa Kota

n % N % Rendah (<Rp176 216) 36 67.9 15 28.3 Sedang (Rp176 216-Rp352 432) 17 32.1 30 56.6 Tinggi (>Rp 352 432) 0 0 8 15.1 Total 53 100 53 100 Rata-rata (Rp167475) (Rp262 363) Standar deviasi (Rp66 837) (Rp172 023)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar contoh di desa (67.9%) termasuk keluarga dengan pengeluaran rendah, sisanya sebanyak 32.1% termasuk pengeluaran sedang. Pengeluaran keluarga di wilayah kota lebih beragam dibandingkan di desa. Sebagian besar contoh tergolong pengeluaran sedang (56.6%), selanjutnya pengeluaran rendah (28.3%), dan pengeluaran tinggi (15.1%). Rata-rata pengeluaran per kapita contoh di desa adalah Rp167 475 (rendah) dengan standar deviasi (Rp66 837), sedangkan di kota sebesar Rp262 363 (sedang) dengan standar deviasi (Rp172 023).

Karakteristik Lingkungan Besar Keluarga

Sebaran contoh di desa memiliki keluarga kecil (58.5%), dan keluarga sedang (41.5%). Keluarga kecil merupakan keluarga dengan jumlah anggota keluarga kurang dari 4 orang, keluarga sedang 4-7 orang, sedangkan keluarga besar lebih dari 7 orang. Seiring dengan pengeluaran per kapita, besar keluarga di kota menyebar mulai dari keluarga kecil hingga keluarga besar. Sebagian besar contoh di kota juga memiliki keluarga kecil (64.2%), dan contoh lainnya memiliki keluarga sedang (34.0%) dan keluarga besar (1.9%). Rata-rata contoh di desa memiliki keluarga sejumlah 4 orang (sedang) dengan standar deviasi 1

orang, begitu pula di kota sebesar 4 orang dengan standar deviasi 1 orang. Pola sebaran besar keluarga sama dengan pendapatan dan pengeluaran per kapita contoh dan ditampilkan pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga

Golongan Keluarga Desa Kota

n % n % Kecil (<4 orang) 31 58.5 34 64.2 Sedang (4-7 orang) 22 41.5 18 34.0 Besar (>7 orang) 0 0.0 1 1.9 Total 53 100 53 100 Rata-rata 4.2 4.1 Standar deviasi 1.3 1.4 Pekerjaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar contoh di desa (69.8%) maupun di kota (64.2%) adalah ibu rumah tangga. Pekerjaan contoh lainnya untuk di desa hanya di bidang perdagangan/jasa (28.3%) serta buruh tani (1.9%). Pekerjaan contoh di kota lebih beragam sebagian bekerja di bidang perdagangan/jasa (30.2%), lainnya sebagai pegawai swasta (3.8%) serta PNS (1.9%). Tabel 15 menyajikan sebaran contoh berdasarkan jenis pekerjaan.

Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan

Desa Kota

Suami Contoh Suami Contoh

n % n % n % n % Sudah meninggal/bercerai 1 1.9 0 0.0 3 5.7 0 0.0 TNI/POLRI 0 0.0 0 0.0 0 0 0 0.0 PNS 1 1.9 0 0.0 5 9.4 1 1.9 Pegawai swasta 1 1.9 0 0.0 7 13.2 2 3.8 Perdagangan/jasa 45 84.9 15 28.3 36 67.9 16 30.2 Petani/buruh tani 5 9.4 1 1.9 1 1.9 0 0.0 IRT 0 0 37 69.8 0 0 34 64.2 Pensiunan 0 0 0 0.0 1 1.9 0 0.0 Total 53 100 53 100 53 100 53 100

Suami contoh sebagian besar bekerja di bidang perdagangan/jasa untuk di desa sebesar 84.9%, sedangkan di desa sebesar 67.9%. Pada pekerjaan suami terdapat golongan pekerjaan suami yang sudah meninggal/bercerai. Golongan ini menandakan bahwa contoh menjadi kepala keluarga, dan tidak ada pemberian nafkah untuk keluarga dari suami. Sebesar 1.9% contoh atau 1 orang contoh di desa merupakan tulang punggung keluarga, sedangkan di kota sebanyak 3.7% atau sebanyak 3 orang. Suami contoh di desa memiliki 3 golongan pekerjaan dengan proporsi yang sama (1.9%) untuk pekerjaan sebagai PNS, pegawai swasta, serta petani, lainnya (7.5%) sebagai buruh tani. Sebaran

pekerjaan suami contoh di kota lainnya adalah PNS (9.4%), pegawai swasta (13.2%), serta petani/buruh tani sebesar 1.9%.

Informasi dari Media Massa

Sumber informasi dari media informasi diperoleh dengan kuesioner yang berisi pertanyaan mengenai frekuensi, jenis informasi pangan dan gizi yang diperoleh serta penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Kuesioner berisi pertanyaan tertutup dengan skor yang berlainan. Penggolongan sumber informasi yang diperoleh contoh ini adalah kurang (<50%), dan cukup (≥50%). Sebaran contoh berdasarkan informasi media massa ditampilkan pada Tabel 16.

Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan informasi dari media massa Wilayah Sumber Informasi

Perolehan Informasi Total Kurang Cukup n % n % n % Desa Televisi 29 54.7 24 45.3 53 100 Radio 48 90.6 5 9.4 53 100 Koran 48 90.6 5 9.4 53 100 Majalah 52 98.1 1 1.9 53 100 Tabloid 53 100 0 0.0 53 100 Internet 53 100 0 0.0 53 100 Kota Televisi 16 30.2 37 69.8 53 100 Radio 46 86.7 7 13.2 53 100 Koran 47 88.7 6 11.3 53 100 Majalah 44 83.0 9 17.0 53 100 Tabloid 46 86.8 7 13.2 53 100 Internet 53 100 0 0.0 53 100

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui situasi perolehan informasi contoh dari media massa lebih baik melalui televisi. Sebagian besar contoh cukup memperoleh informasi dari televisi baik di desa (45.3%), dan di kota (69.8%). Sebaran contoh yang tergolong cukup menerima informasi dari televisi di desa (45.3%) sedangkan di kota (69.8%). Contoh di desa lebih banyak memperoleh informasi dari radio dan koran yaitu sebesar 9.4%. Sebaran contoh di kota lebih beragam untuk jenis media massa yang digunakan. Contoh yang mendapat informasi dari majalah (17.0%) lebih besar dibandingkan dengan radio dan tabloid (13.2%), serta koran (11.3%). Internet belum menjadi media massa yang menarik untuk ibu rumah tangga. Hal ini disebabkan oleh kemampuan mengakses yang sulit, serta tingkat kesibukan yang tinggi dengan urusan rumah tangga. Selain itu, kebanyakan ibu rumah tangga memang belum bisa menggunakan fasilitas internet. Penelitian Firna (2008) juga menunjukkan bahwa contoh paling banyak memperoleh informasi mengenai pangan sumber kafein yang mereka konsumsi dari TV, kemudian diikuti koran/majalah.

Preferensi Pangan Masyarakat Preferensi Pangan Masyarakat Berdasarkan Wilayah

Kelompok padi-padian meliputi beras, jagung, mie, roti, biskuit, dan bihun. Contoh di desa menyatakan suka terhadap beras (96.2%), jagung (90.6%), mie (94.3%), roti (92.5%), biskuit (96.2%), serta bihun (90.6%). Sama halnya dengan di wilayah desa, di kota sebagian besar menyukai semua jenis pangan yang terdapat dalam kelompok padi-padian ini. Contoh di kota yang menyukai beras (92.5%), jagung (77.4%), mie (73.6%), roti (86.8%), biskuit (83.0%), serta bihun (77.4%).

Preferensi pangan masyarakat Kabupaten Bogor dari kelompok padi-padian menyatakan bahwa pangan yang paling disukai adalah beras. Pangan yang disukai setelah beras adalah roti, biskuit, jagung, mie, dan terakhir bihun. Alasan contoh menyatakan sikap kesukaan terhadap beras sebagian besar karena kebiasaan, sedangkan untuk jenis pangan lainnya disebabkan karena faktor pangan itu sendiri. Hasil uji korelasi dengan menggunakan Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p=0.007) antara mie dengan kedua tipe wilayah. Contoh di desa lebih menyukai mie dibandingkan dengan contoh di kota. Contoh di desa lebih menyukai mie disebabkan oleh faktor pangan yang terdiri dari rasa serta kemudahan pengolahan, sedangkan contoh di kota yang tidak menyukai disebabkan oleh faktor pangan yaitu kandungan gizi pangan dan kesehatan.

Tabel 17 Sebaran preferensi pangan kelompok padi-padian berdasarkan wilayah Wilayah Jenis Pangan Preferensi Pangan (%) Alasan

1 2 3 4 5 Tipe* % Desa Beras 0.0 0.0 0.0 96.2 3.8 3 83.0 Jagung 0.0 7.5 1.9 90.6 0.0 2 96.2 Mie 0.0 0.0 3.8 94.3 1.9 2 92.4 Roti 0.0 0.0 5.7 92.5 1.9 2 50.6 Biskuit 0.0 0.0 3.8 96.2 0.0 2 94.3 Bihun 0.0 7.5 0.0 90.6 1.9 2 98.1 Kota Beras 0.0 0.0 1.9 92.5 5.7 3 86.8 Jagung 0.0 11.3 5.7 77.4 5.7 2 88.7 Mie 0.0 7.5 1.9 73.6 17.0 2 88.7 Roti 0.0 1.9 1.9 86.8 9.4 2 90.6 Biskuit 0.0 9.4 3.8 83.0 3.8 2 84.9 Bihun 0.0 15.1 5.7 77.4 1.9 2 86.8 Keterangan: Preferensi: 1. Sangat tidak suka 2. Tidak suka 3. Biasa

4. Suka 5. Sangat suka

Alasan: 0 : Belum pernah 1 : Ekonomi 2 : Pangan 3 : Kebiasaan 4 : Kesehatan 5 : Psikologis Proporsi contoh didasarkan pada N=106 (53 untuk desa dan 53 untuk kota)

Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa preferensi pangan masyarakat Kabupaten Bogor sebagian besar menyatakan suka terhadap semua jenis

pangan di kelompok padi-padian, maka jenis pangan lainnya bisa digunakan sebagai pangan alternatif non-beras. Pangan lokal yang dapat digunakan tersebut antara lain jagung. Menurut Muchtadi (2008) diversifikasi pangan pokok sebagai pangan alternatif selain beras difokuskan kepada jagung dan singkong. Berdasarkan tabel 17 juga dapat diketahui bahwa preferensi pangan masyarakat Kabupaten Bogor menyatakan suka terhadap jagung, sehingga jagung bisa digunakan sebagai pangan alternatif untuk diversifikasi pangan pokok selain beras. Pemilihan jagung sebagai pangan alternatif non-beras karena pangan lainnya merupakan pangan olahan dari terigu (mie, roti, biskuit) serta olahan beras (bihun).

Berdasarkan tabel 18 dapat dilihat bahwa pada kelompok umbi-umbian sebagian besar contoh menyatakan suka terhadap semua jenis pangan kecuali gaplek di wilayah kota dan gaplek serta talas untuk wilayah desa. Semua contoh di desa (100%) menyukai ubi jalar, dan sebagian besar menyatakan suka terhadap singkong (96.2%), kentang (90.6%), talas dan sagu (83%). Contoh di daerah desa hanya 52.8% yang menyatakan suka terhadap gaplek, lainnya menyatakan tidak suka. Sebagian besar contoh di kota menyatakan suka terhadap singkong (96.2%), ubi jalar (100%), kentang (86.8%), dan sagu (75.5%), sedangkan untuk talas (56.6%), dan gaplek (58.5%). Contoh yang menyatakan tidak suka terhadap talas (39.6%), dan untuk gaplek (41.5%). Tabel 18 Sebaran preferensi pangan kelompok umbi-umbian berdasarkan

wilayah Wilayah Jenis Pangan

Preferensi Pangan (%) Alasan

1 2 3 4 5 Tipe* % Desa Singkong 0.0 1.9 1.9 96.2 0.0 2 79.2 Ubi jalar 0.0 0.0 0.0 100 0.0 2 90.6 Kentang 0.0 3.8 3.8 90.6 1.9 2 96.2 Talas 0.0 13.2 3.8 83.0 0.0 2 90.6 Sagu 0.0 15.1 1.9 83.0 0.0 2 84.9 Gaplek 0.0 47.2 0.0 52.8 0.0 2 45.3 Kota Singkong 0.0 3.8 3.8 79.2 13.2 2 69.8 Ubi jalar 0.0 3.8 9.4 83.0 3.8 2 83.0 Kentang 0.0 7.5 1.9 86.8 3.8 2 79.2 Talas 0.0 39.6 3.8 56.6 0.0 2 54.7 Sagu 0.0 20.8 3.8 75.5 0.0 2 75.7 Gaplek 0.0 41.5 0.0 58.5 0.0 2 43.4 Keterangan: Preferensi: 1. Sangat tidak suka 2. Tidak suka 3. Biasa

4. Suka 5. Sangat suka

Alasan: 0 : Belum pernah 1 : Ekonomi 2 : Pangan 3 : Kebiasaan 4 : Kesehatan 5 : Psikologis Proporsi contoh didasarkan pada N=106 (53 untuk desa dan 53 untuk kota)

Alasan contoh menyatakan preferensinya terhadap pangan kelompok umbi-umbian sebagian besar disebabkan karena pangan itu sendiri. Preferensi

Pangan Masyarakat Kabupaten Bogor menyatakan bahwa jenis pangan yang paling disukai adalah ubi jalar, diikuti oleh kentang, singkong, sagu, serta talas dan gaplek. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara preferensi singkong (p=0.036), ubi jalar (p=0.020), dan talas (p=0.08) dengan tipe wilayah. Contoh di desa lebih menyukai singkong, ubi jalar serta talas dibandingkan dengan contoh di kota. Hal ini diduga disebabkan karena pangan umbi-umbian dianggap pangan tidak elit, sehingga contoh di kota lebih sedikit yang menyatakan suka terhadap pangan tersebut.

Kelompok umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat selain kelompok padi-padian, sehingga berdasarkan preferensi masyarakat Kabupaten Bogor tersebut, kelompok umbi-umbian bisa digunakan sebagai salah satu kelompok pangan alternatif dalam diversifikasi pangan. Pangan yang berpotensi dijadikan sebagai pangan alternatif non-beras adalah ubi jalar, singkong, dan talas.

Sebagian besar contoh di desa maupun kota berdasarkan tabel 19 menyatakan suka terhadap kelompok pangan daging, kecuali untuk daging kambing bagi contoh di desa. Sebagian besar contoh di wilayah desa menyatakan suka terhadap daging sapi dan kerbau (92.5%), daging ayam (96.2%), sedangkan contoh yang menyatakan tidak suka terhadap kambing (45.3%). Contoh di wilayah kota sebagian besar suka terhadap daging sapi (92.5%), daging kerbau (90.6%), daging kambing (71.7%), dan daging ayam (98.1%). Telur ayam dan telur bebek juga disukai oleh sebagian besar contoh di desa maupun di kota. Telur ayam disukai contoh di desa (98.1%), sedangkan di kota (90.6%). Lebih dari setengah contoh di kota menyukai telur bebek (69.8%), sedangkan di daerah desa (79.2%).

Berdasarkan tabel 19 preferensi sebagian besar contoh terhadap ikan, udang, dan kerang menyatakan suka. Sebagian besar contoh di wilayah desa menyukai ikan segar (84.9%), udang (71.7%), ikan asin (77.4%), serta ikan pindang (88.7%). Lebih dari setengah contoh menyukai kerang (58.5%). Preferensi contoh di kota, sebagian besar contoh menyatakan suka terhadap ikan segar (83%), udang (64.2%), kerang (62.3%), serta ikan pindang (73.6%). Ikan asin hanya disukai lebih dari setengah contoh di kota (58.5%). Preferensi masyarakat Kabupaten Bogor sendiri sebagian besar menyatakan suka terhadap ikan baik ikan segar, ikan asin, serta ikan pindang. Hal ini dapat diupayakan sebagai salah satu pangan alternatif demi tercapainya pangan yang bergizi, beragam, dan berimbang.

Sebagian besar contoh di desa (83%) dan kota (81.1%) menyatakan menyukai susu manis. Kurang dari setengah contoh di desa menyatakan suka terhadap susu segar dan susu bubuk (49.1%), dan tidak suka terhadap susu segar (47.2%), serta susu bubuk (49%). Preferensi pangan masyarakat terhadap kelompok pangan hewani ini sebagian besar disebabkan oleh faktor pangan yaitu rasa, sedangkan untuk susu disebabkan oleh aroma. Alasan preferensi susu segar selain dipengaruhi oleh faktor pangan juga dipengaruhi belum pernah mencoba (28.3%) susu tersebut, khususnya di desa. Selain itu, preferensi terhadap kerang juga disebabkan oleh belum pernahnya contoh mencoba kerang (20.8%).

Tabel 19 Sebaran preferensi pangan kelompok pangan hewani berdasarkan wilayah

Wilayah Jenis Pangan Preferensi Pangan Alasan

1 2 3 4 5 Tipe* %

Desa Daging sapi 1.9 1.9 1.9 92.5 1.9 2 98.1 Daging kerbau 1.9 1.9 1.9 92.5 1.9 2 98.1 Daging kambing 5.7 45.3 1.9 45.3 1.9 2 88.7 Daging ayam 0.0 1.9 0.0 96.2 1.9 2 94.3 Telur ayam 0.0 1.9 0.0 98.1 0.0 2 96.2 Telur bebek 0.0 20.8 0.0 79.2 0.0 2 94.3 Ikan segar 0.0 15.1 0.0 84.9 0.0 2 90.6 Udang 0.0 26.4 0.0 71.7 1.9 2 71.7 Kerang 0.0 39.7 0.0 58.5 1.9 2 64.2 Ikan asin 0.0 3.8 0.0 77.4 18.9 2 69.8 Ikan pindang 0.0 9.4 0.0 88.7 1.9 2 90.6 Susu segar 1.9 47.2 1.9 49.1 0.0 2 56.6 Susu manis 1.9 15.1 0.0 83.0 0.0 2 83.0 Susu bubuk 1.9 49.0 0.0 49.1 0.0 2 60.4 Kota Daging sapi 0.0 1.9 0.0 92.5 5.7 2 88.7 Daging kerbau 0.0 5.7 0.0 90.6 3.8 2 90.6 Daging kambing 1.9 22.6 1.9 71.7 1.9 2 86.8 Daging ayam 0.0 0.0 0.0 98.1 1.9 2 90.6 Telur ayam 0.0 1.9 1.9 90.6 5.7 2 84.9 Telur bebek 0.0 22.6 1.9 69.8 5.7 2 84.9 Ikan segar 0.0 13.2 1.9 83.0 1.9 2 86.8 Udang 1.9 32.1 0.0 64.2 1.9 2 60.4 Kerang 1.9 32.1 1.9 62.3 1.9 2 66.0 Ikan asin 1.9 5.7 1.9 58.5 32.1 2 50.9 Ikan pindang 1.9 18.9 5.7 73.6 0.0 2 73.6 Susu segar 1.9 26.4 1.9 69.8 0.0 2 81.1 Susu manis 1.9 11.3 3.8 81.1 1.9 2 77.4 Susu bubuk 1.9 34.0 3.8 58.5 1.9 2 67.9 Keterangan: Preferensi: 1. Sangat tidak suka 2. Tidak suka 3. Biasa

4. Suka 5. Sangat suka

Alasan: 0 : Belum pernah 1 : Ekonomi 2 : Pangan 3 : Kebiasaan 4 : Kesehatan 5 : Psikologis Proporsi contoh didasarkan pada N=106 (53 untuk desa dan 53 untuk kota)

Preferensi pangan masyarakat Kabupaten Bogor selain jenis pangan daging adalah ikan termasuk ikan segar, ikan pindang, dan ikan asin. Hasil uji Chi Square menunjukkan tidak terdapat hubungan antara preferensi contoh

terhadap pangan hewani contoh dengan tipe wilayah. Contoh di kota dan di desa sama-sama menyukai pangan hewani.

Tabel 20 Sebaran preferensi pangan kelompok minyak dan lemak berdasarkan wilayah

Wilayah Jenis Pangan Preferensi Pangan Alasan

1 2 3 4 5 Tipe* %

Desa Minyak goreng 0.0 56.6 5.7 37.7 0.0 2 50.9 Margarin 0 7.5 1.9 90.6 0.0 2 94.3 Kota Minyak goreng 0.0 98.1 1.9 0.0 0.0 5 96.2

Margarin 0.0 5.7 1.9 92.5 0.0 2 92.5

Keterangan: Preferensi: 1. Sangat tidak suka 2. Tidak suka 3. Biasa 4. Suka 5. Sangat suka

Alasan: 0 : Belum pernah 1 : Ekonomi 2 : Pangan 3 : Kebiasaan 4 : Kesehatan 5 : Psikologis Proporsi contoh didasarkan pada N=106 (53 untuk desa dan 53 untuk kota)

Berdasarkan Tabel 20 dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh baik di desa (56.6%) maupun di kota (98.1%) tidak menyukai minyak goreng. Lain halnya dengan margarin, sebagian besar contoh di desa menyatakan suka terhadap margarin (90.6). Contoh di kota juga menyukai margarin (92.5%).

Alasan contoh tidak menyukai minyak goreng di desa adalah karena pangan itu sendiri, dalam hal ini adalah rasanya, sedangkan untuk contoh di kota, cenderung takut untuk mencoba, karena sudah mengira rasa minyak goreng ini tidak enak. Margarin disukai karena alasan pangan yaitu rasa. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa kesukaan contoh terhadap minyak goreng

Dokumen terkait