• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Lokasi Penelitian

Pemeliharaan domba untuk sampel penelitian berlokasi di Tawakal Farm, Desa Cimande hilir RT 05 RW 05 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Kandang pemeliharaan ini merupakan kandang individu yang terdiri empat bangunan kandang. Selain berisi bangunan kandang, di areal peternakan ini terdapat bangunan rumah yang dibangun untuk para karyawan. Cuaca di daerah ini tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Suhunya berkisar antara 26-290C dan memiliki kelembaban 85-90%. Kebersihan bangunan dan lingkungan kandang cukup bersih, hal ini karena setiap hari para pekerja kandang membersihkan kandang dan lingkunganya. Bangunan kandang yang digunakan untuk penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Kandang Domba Penelitian

Kondisi Ternak Penelitian

Domba-domba dipeternakan tersebut memiliki kondisi yang bugar dan sehat. Jarang sekali ditemukan domba yang sakit. Bulu-bulunya pun terlihat bersih, hal ini dikarenakan pegawai kandang yang teratur untuk memandikan domba setiap minggu sekali. Pakan yang berupa rumput lapang dan ampas tahu diberikan secara teratur. Manajemen kandang yang baik membuat sebagian besar domba yang ada di peternakan ini memiliki rata-rata bobot badan yang tinggi yaitu 33,58 kg, tapi terdapat pula domba-domba yang memiliki rata-rata bobot badan yang tidak terlalu tinggi yaitu 24,11 kg pada umur kurang dari satu tahun.

18

Seleksi Domba

Pemuliaan merupakan suatu usaha untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu genetik ternak melalui pengembangbiakan ternak-temak yang memiliki potensi genetik yang baik sehingga diperoleh kinerja atau potensi produksi yang diharapkan. Seleksi merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan mutu genetik ternak. Seleksi yang dilakukan bisa dengan cara memilih ternak yang dipakai sebagai tetua atau memilih ternak yang akan dikawinkan. Untuk ternak pedaging, seleksi biasanya diarahkan pada sifat pertumbuhannya. Hasil seleksi terhadap sifat pertumbuhan domba pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Bobot Badan dan Pertambahan Bobot Badan Harian

Pertumbuhan Domba

Bobot Badan Domba

PBBH (gram/hari) Bobot Awal (kg) Bobot 1 (kg) Bobot 2 (kg) Cepat Tumbuh 1 19,00 19,00 29,00 166,67 Cepat Tumbuh 2 20,00 26,00 30,00 160,42 Cepat Tumbuh 3 17,00 27,00 32,00 166, 67 Rata-rata 18,67 24,00 30,33 164,59 Lambat Tumbuh 1 18,00 22,00 23,00 50,00 Lambat Tumbuh 2 20,00 21,00 22,00 32,30 Lambat Tumbuh 3 20,00 22,00 23,00 47,92 Rata-rata 19,00 21,50 22,50 43,41

Ket : bobot 1 = bobot penimbangan ke-1, bobot 2 = bobot penimbangan ke-2

Tabel diatas menunjukan pertambahan bobot badan harian pada dua kelompok domba yang berbeda kecepatan tumbuhnya memiliki nilai yang berbeda. Kelompok domba cepat tumbuh memiliki rata-rata PBBH sebesar 164,59 gram/hari. Kelompok domba lambat tumbuh memiliki rata-rata PBBH sebesar 43,41 gram/hari. Pertumbuhan domba tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor genetik atau faktor keturunan, faktor lingkungan seperti iklim, hormon, kastrasi dan jenis kelamin. Faktor yang paling berpengaruh terhadap perbedaan kecepatan pertumbuhan pada dua kelompok domba yang berbeda tersebut adalah

19 faktor genetik, hal ini karena pakan dan manajemen lingkungan yang diberikan adalah sama.

Bobot dan Persentase Komposisi Fisik Karkas

Karkas merupakan bagian terpenting dari ternak potong dan mendapat perhatian khusus, hal ini karena produksi daging dan nilai ekonomis ternak ditentukan oleh komposisi dan produksi karkasnya. Komposisi fisik karkas domba dipengaruhi oleh perbedaan pertumbuhan domba. Perbedaan pertumbuhan domba menghasilkan bobot potong yang berbeda sehingga menghasilkan komposisi fisik karkas yang berbeda hal ini sesuai dengan pernyataan Oberbauer et al. (1994), yang menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi produksi karkas seekor ternak salah satunya adalah kecepatan pertumbuhan. Rataan bobot dan persentase karkas serta bobot komposisi fisiknya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan Bobot dan Persentase Komposisi Fisik Karkas

Peubah Perlakuan Rataan

Cepat Tumbuh Lambat Tumbuh Karkas (g)* 13327,00 ±1194,00 9630,00 ± 716,00 Karkas (%) 44,91 ± 2,72 40,69 ± 0,50 42,80 ± 1,61 Karkas Kanan (g)* 6590,00 ± 575,00 4809,00 ± 323,00 Karkas Kanan (%) 49,45 ± 0,16 49,96 ± 0,38 49,72 ± 0,27 Daging 1/2 Karkas (g)* 4028,00 ± 345,00 2997,00 ± 218,00 Daging 1/2 Karkas (%) 61,14 ± 0,78 62,30 ± 0,37 61,72 ± 0,56 Lemak 1/2 Karkas (g) 1102,00 ± 295,00 496,10 ± 40,60 799,05 ± 167,80 Lemak 1/2 Karkas (%) 16,55 ± 3,28 10,31 ± 0,39 13,34 ± 1,84 Tulang 1/2 Karkas (g) 1342,10 ± 34,10 1280,40 ± 85,80 1311,25 ± 59,95 Tulang 1/2 Karkas(%)* 20,46 ± 1,76 26,6 ± 0,53

Ket: Tanda (*) berarti P<0,05 atau ada pengaruh signifikan dari kecepatan pertumbuhan.

Hasil uji t menunjukkan bobot karkas kelompok domba cepat tumbuh, berbeda nyata (P<0,05) dengan bobot karkas kelompok domba lambat tumbuh Bobot karkas kelompok domba cepat tumbuh adalah sebesar 13327,00 ± 1194,00 (g) lebih besar daripada kelompok domba lambat tumbuh yaitu sebesar 9630,00 ± 716,00 (g). Hasil ini sesuai dengan pernyataan Oberbauer (1994), yang menyatakan bahwa

20 kecepatan pertumbuhan akan mempengaruhi bobot potong yang dihasilkan, bobot potong yang semakin meningkat menghasilkan bobot karkas yang semakin meningkat pula. Persentase karkas yang dihasilkan tidak dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan (P>0,05) yaitu 44.91 ± 2.72% untuk domba kelompok cepat tumbuh yang lebih besar daripada kelompok domba lambat tumbuh yaitu sebesar 40.690 ± 0.504%. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Hendri (1984), yang menghasilkan sekitar 43,1% karkas domba dan juga sesuai dengan penelitian Murray dan Slezagacek (1976), yang menghasilkan bahwa perbedaan laju pertumbuhan pada domba tidak berpengaruh terhadap persentase karkas yang dihasilkan. Bobot karkas kanan yang dihasilkan pun akhirnya berbeda, hal ini karena bobot karkas yang dihasilkan berbeda yaitu sebesar untuk kelompok domba cepat tumbuh 6590,00 ± 575,00 (g) dan sebesar untuk kelompok domba lambat tumbuh 4809,00 ± 323,00 (g).

Bobot daging yang dihasilkan dari penelitian ini memang dipengaruhi oleh laju pertumbuhan (p<0,05) seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Barton dan kirton (1962), yang menghasilkan adanya pengaruh dari pertambahan bobot badan harian terhadap jumlah daging yang dihasilkan. Bobot daging yang dihasilkan yaitu sebesar 4028 ± 345 (g) pada kelompok domba cepat tumbuh lebih besar daripada kelompok domba lambat tumbuh yaitu sebesar 2997 ± 218 (g). Bobot daging memiliki korelasi positif dengan bobot karkas. Semakin besar bobot karkas, maka bobot daging yang dihasilkan pun semakin besar. Persentase daging pada karkas yang dihasilkan yaitu sebesar 61.140 ± 0.797% pada kelompok domba cepat tumbuh dan sebesar 62.298 ± 0.371% pada kelompok domba lambat tumbuh. Hasil ini sama dengan penelitian Herman (1983), yang menghasilkan 56,03 sampai 65,23% daging pada karkas.

Bobot lemak kelompok domba cepat tumbuh sebesar 1102 ± 295 (g) lebih besar daripada bobot lemak kelompok domba lambat tumbuh sebesar 496.1 ± 40.6(g). Hasil ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Barton dan Kirton (1962), yang menghasilkan hubungan positif antara bobot karkas dan bobot lemak. Berbeda dengan bobot lemak, persentase lemak kelompok domba cepat tumbuh tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kelompok domba lambat tumbuh. Hal ini dikarenakan umur domba yang masih muda menyebabkan pertumbuhan lemak yang lambat sehingga hasilnya pun sama. Persentase lemak dari hasil penelitian ini

21 yaitu sebesar 16.55 ± 3.28 % pada kelompok domba cepat tumbuh lebih besar daripada kelompok domba lambat tumbuh 10.312 ± 0.386 %. Walaupun persentase lemak domba cepat tumbuh lebih besar daripada domba lambat tumbuh, tapi dengan uji statistik yang dilakukan menunujukkan bahwa kecepatan pertumbuhan pada domba tidak mempengaruhi persentase lemak yang dihasilkan berbeda dengan hasil penelitian Lambuth (1970), yang menyatakan adanya pengaruh dari kecepatan pertumbuhan terhadap persentase lemak karkas. Menurut Herman (1983), persentase lemak pada karkas domba yaitu 3,93 sampai 21,13%. Menurut Soeparno (1992), lemak menumpuk diberbagai depot dengan kecepatan yang berbeda dan mempunyai urutan : (1) lemak mesenterium, (2) lemak ginjal, (3) lemak intermuskuler, dan (4) lemak subkutan dan yang terakhir tumbuh adalah lemak diantara ikatan serabut otot yaitu lemak intramuskuler atau marbling.

Kecepatan pertumbuhan ternyata tidak berpengaruh terhadap bobot tulang yang dihasilkan (P>0,05), hal ini dikarenakan pertumbuhan tulang yang konstan walaupun domba memiliki PBBH yang berbeda. Sesuai dengan teori pertumbuhan komponen karkas, tulang merupakan komponen yang tumbuh paling dini dan memiliki kadar laju pertumbuhan yang relatif lambat, kemudian disusul oleh daging dan terakhir adalah lemak. Karena kadar laju pertumbuhan yang relatif lambat akhirnya menghasilkan jumlah tulang yang sama atau tidak ada pengaruh dari kecepatan pertumbuhan domba. Kecepatan pertumbuhan ternyata berpengaruh terhadap persentase tulang yang dihasilkan. Persentase tulang yaitu sebesar 20.46 ± 1.76 % pada kelompok domba cepat tumbuh lebih kecil daripada kelompok domba lambat tumbuh sebesar 26.629 ± 0.532%. Hasil ini sama dengan hasil penelitian Lambuth (1970), yang menyatakan kecepatan pertumbuhan mempengaruhi persentase tulang. Persentase tulang yang lebih besar pada kelompok domba lambat tumbuh dikarenakan bobot tulang yang sama, sehingga jika dibandingkan dengan bobot karkas yang berbeda dimana bobot karkas kelompok domba lambat tumbuh lebih kecil daripada kelompok domba cepat tumbuh maka akan mengahasilkan persetase tulang yang lebih besar pada kelompok domba lambat tumbuh.

Bobot dan Persentase Potongan Komersial Karkas

Cara pemotongan karkas ditentukan oleh spesies ternak dan selera konsumen. Oleh karena itu ditemukan cara pemotongan yang berbeda-beda dari suatu tempat ke

22 tempat yang lainnya (Owen dan Norman, 1977). Sementara itu ditemukan sedikit modifikasi atas cara yang dilakukan Romans dan Ziegler (1977), yang membagi karkas menjadi potongan : leg, loin, rack, shoulder dan shank. Potongan yang lebih umum dijumpai saat ini adalah dimasukkannya neck dan middle neck sebagai bagian dari potongan komersial karkas. Rataan bobot potongan komersial karkas domba cepat tumbuh dan lambat tumbuh dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan Bobot dan Persentase Potongan Komersial Karkas

Peubah Perlakuan Rataan

Cepat Tumbuh (g) Lambat Tumbuh (g)

Neck (g) 608,47 ± 9,72 503,00 ± 138,00 555,74 ± 73,86 Neck (%) 9,27 ± 0,68 10,61 ± 3,66 9,94 ± 2,17 Shoulder (g) 1465,00 ± 219,00 995,00 ± 165,00 1230,0 ± 192,00 Shoulder (%) 22,14 ± 1,43 20,61 ± 2,11 21,38 ± 1,77 Loin (g)* 665,00 ± 57,20 440,00 ± 43.10 Loin (%) 10,11 ± 0,26 9,16 ± 0,52 9,64 ± 0,39 Leg (g)* 2086,00 ± 193,00 1587,00 ± 150,00 Leg(%) 31,65 ± 0,78 32,96 ± 1,.32 32,31 ± 1,05 Flank (g)* 78,87 ± 9,49 38,60 ± 4,00 Flank (%)* 1,20 ± 0,18 0,81 ± 0,10 Breast (g) 480,00 ± 20,90 365,00 ± 51,40 422,50 ± 36,15 Breast (%) 7,34 ± 0,80 7,58 ± 0,64 7,46 ± 0,72 Shank (g) 407,00 ± 31,30 343,00 ± 32,30 375,00 ± 31,80 Shank (%) 6,21 ± 0,54 7,16 ± 0,73 6,67 ± 0,64 Rack (g) 610,30 ± 74,90 452,00 ± 51,10 531,15 ± 63,00 Rack (%) 9,24 ± 0,34 9,39 ± 0,45 0,32 ± 0,40 Ket: Tanda (*) berarti P<0,05 atau ada pengaruh signifikan dari kecepatan pertumbuhan.

Hasil uji t menunjukkan kecepatan pertumbuhan pada domba berpengaruh terhadap bobot potongan loin, leg dan flank (P<0,05). Bobot potongan loin, leg dan flank kelompok domba cepat tumbuh masing-masing adalah 665 ± 57,2; 2086 ± 193; 78,87 ± 9,49 (g) lebih besar daripada bobot potongan loin, leg dan flank kelompok domba lambat tumbuh yang masing-masing adalah 440 ± 43,1; 1587 ± 150; 38.6 ± 4

23 (g). Hasil ini sesuai dengan pernyataan Beerman et al. (1986) yang menyatakan bahwa meningkatnya bobot karkas akan meningkatkan bobot potongan komersial karkas.

Walaupun memiliki bobot potong yang berbeda, tapi kecepatan pertumbuhan ternyata tidak berpengaruh terhadap persentase loin yang dihasilkan (P>0,05). Baik kelompok domba cepat tumbuh maupun kelompok domba lambat tumbuh keduanya mempunyai persentase loin yang hampir sama yaitu 10.109 ± 0.257% dan 9.163 ± 0.521%.. Menurut data AUS-MEAT persentase loin pada karkas domba yaitu sebesar 12,1%. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian dari Lambuth (1970) yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh kecepatan pertumbuhan domba terhadap persentase loin yang dihasilkan. Loin merupakan salah satu bagian potongan komersial yang memiliki kecepatan tumbuh yang lambat, sehingga persentase loin yang dihasilkan pun tidak berbeda antara domba cepat tumbuh dan domba lambat tumbuh atau tidak ada pngaruh dari keceapatan pertumbuhan domba.

Leg merupakan potongan komersial karkas yang memiliki presentase paling besar dalam karkas, sehingga perbedaan bobot karkas yang dihasilkan mengakibatkan bobot leg yang berbeda(P<0,05). Bobot leg kelompok domba cepat tumbuh sebesar 2086,00 ± 193,00 (g) lebih besar daripada bobot leg kelompok domba lambat tumbuh yaitu 1587,00 ± 150,00 (g). Persentase leg yang dihasilkan pada penelitan ini tidak dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan. Persentase leg yaitu sebesar 31.648 ± 0.782% pada kelompok domba cepat tumbuh dan sebesar 32.96 ± 1.32% pada kelompok domba lambat tumbuh. Hasil ini sama dengan data AUS-MEAT, persentase loin sekitar32%.

Kecepatan pertumbuhan berpengaruh terhadap bobot dan persentase flank yang dihasilkan (P<0,05). Perbedaan flank yang dihasilkan baik itu bobot maupun persentasenya dikarenakan komponen flank yang hanya terdiri dari daging dan lemak. Daging dan lemak merupakan komposisi yang memiliki pertumbuhan yang cepat sehingga kecepatan pertumbuhan akhirnya mempegaruhi bobot dan persentase flank. Bobot flank kelompok domba cepat tumbuh adalah 78,87 ± 9,49 gr jauh lebih besar daripada kelompok domba lambat tumbuh yang sebesar 38,60 ± 4,00gr, sedangkan persentase flank kelompok domba cepat tumbuh adalah 1,20 ± 0,18 gr lebih besar daripada kelompok domba lambat tumbuh sebesar 0,81 ± 0,10 gr. Besarnya

24 perbedaan bobot flank ini dikarenakan bobot daging dan lemak kelompok domba cepat tumbuh jauh lebih besar daripada bobot daging dan lemak kelompok domba lambat tubuh.

Hasil uji t terhadap potongan komersial neck, shoulder, breast, shank dan rack adalah tidak adanya pengaruh kecepatan pertumbuhan terhadap potongan-potongan komersial tersebut (P>0,05) atau tidak ada perbedaan bobot dan persentase pada potongan komersial tersebut antara domba cepat tumbuh dan domba lambat tumbuh. Hal ini mungkin dikarenakan pada potongan-potongan tersebut memiliki jumlah tulang dan jaringan ikat yang sama-sama banyak sehingga dapat berpengaruh terhadap bobot potongan-otongan tersebut, selain itu potongan-potongan tersebut berada pada bagian yang memiliki pergerakan yang relatif hampir sama pada saat bergerak sehingga mempengaruhi bobot potongan-potongan komersial tersebut.

Bobot dan Persentase Daging Potongan Komersial

Daging merupakan semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang layak untuk dimakan serta tidak menimbulkan ganguan kesehatan bagi yang memakannya (Soeparno, 1994). Daging merupakan komponen utama karkas. Komponen utama daging terdiri dari otot, lemak dan jaringan ikat (kolagen, elastin dan retikulin), disamping itu juga terdapat pembuluh darah, epitel dan syaraf (Arnim, 1996). Kandungan daging diperkirakan terdiri atas 75% air, 19% protein, 3,5 % substansi non protein, dan 2,5 % lemak (Lawrie, 1995). Data mengenai rataan bobot dan persentase daging potongan komersial dapat dilihat pada Tabel 4.

Hasil uji t menunjukkan bahwa komponen daging pada kelompok domba cepat tumbuh memiliki bobot potong yang lebih besar dibandingkan kelompok domba lambat tumbuh. Komponen daging paling besar yang dihasilkan dari penelitian ini adalah bagian leg yaitu sebesar 1446,00 ± 173,00 (g) pada kelompok domba cepat tumbuh dan sebesar 1104,00 ± 102,00 (g) pada kelomppok domba lambat tumbuh. Tapi berdasarkan analisis statistik, bagian potongan leg memiliki bobot daging yang tidak dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan domba atau tidak berbeda bobotnya antara kelompok domba cepat tumbuh dan kelompok domba lambat tumbuh (P>0,05).

25 Tabel 4. Rataan Bobot dan Persentase Daging Potongan Komersial

Ket: Tanda (*) berarti P<0,05 atau ada pengaruh signifikan dari kecepatan pertumbuhan.

Bobot daging potongan komersial yang dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan domba adalah bagian potongan loin (P<0,05). Bobot daging potongan loin kelompok domba cepat tumbuh sebesar 408.0 ± 31.5 (g) lebih besar daripada domba lambat tumbuh sebesar 263.0 ± 50.7 (g). Perbedaan bobot potongan loin ini dikarenakan loin merupakan potongan komersial yang tumbuh paling akhir. Hasil ini diperkuat dengan hasil penelitian Harapin (2006) pada sapi menyatakan bahwa bagian loin merupakan bagian potongan komersial yang tumbuh paling akhir. Lambatnya pertumbuhan pada potongan loin ini bisa dikarenakan bagian tersebut merupakan bagian yang memiliki pergerakan yang kurang, sehingga zat makanan bisa tumbuh menjadi daging karkas dengan stabil. Walaupun bobot daging loin

Peubah Perlakuan Rataan

Cepat Tumbuh (g) Lambat Tumbuh(g)

Neck (g) 366,90 ± 43,40 295,90 ± 93,70 331,40 ± 68,55 Neck (%) 5.60 ± 0,85 6,25 ± 2,42 5,93 ± 1,64 Shoulder (g) 947,00 ± 132,00 641,00 ± 119,00 794,00 ± 125,50 Shoulder (%) 14,32 ± 0,88 13,27 ± 1,63 13,78 ± 1,23 Loin (g)* 408,00 ± 31,50 263,00 ± 50,70 Loin (%) 6,20 ± 0,23 5,44 ± 0,71 5,82 ± 0,47 Leg (g) 1446,00 ± 173,00 1104,00 ± 102,00 1275,00 ± 137,50 Leg(%) 21,92 ± 1,09 22,94 ± 0,81 22,42 ± 0,95 Flank (g) 42,60 ± 9,41 28,63 ± 3,74 35,62 ± 6,58 Flank (%) 0,65 ± 0,16 0,60 ± 0,10 0,63 ± 0,13 Breast (g) 227,00 ± 18,10 195,00 ± 18,60 211,00 ± 18,35 Breast (%) 3,47 ± 0,46 4,07 ± 0,45 3,77 ± 0,46 Shank (g) 259,60 ± 18,20 214,40 ± 23,50 237,00 ± 20,85 Shank (%) 3,95 ± 0,29 4,48 ± 0,65 4,22 ± 0,47 Rack (g) 331,40 ± 20,90 254,30 ± 48,20 292,85 ± 30,85 Rack (%) 5,04 ± 0,19 5,26 ± 0,67 5,15 ± 0,43

26 berbeda tapi ternyata kecepatan pertumbuhan pada domba tidak berpengaruh pada semua persentase daging potongan komersial (P>0,05).

Bobot dan Persentase Lemak Potongan Komersial

Lemak merupakan salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling tinggi. Lemak mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda, pertumbuhan lemak sangat lambat, tetapi pada saat fase penggemukan, pertumbuhannya meningkat dan cepat (Berg dan Butterfield, 1976).

Energi dari sebagian besar lemak didalam tubuh ternak tersimpan didalam depot lemak, termasuk lemak otot yang disebut intramuskular. Deposisi lemak intramuskular berbeda diantara spesies, umur ternak dan diantara otot. Pada umumnya, penurunan aktivitas otot akan meningkatkan deposisi lemak didalam jaringan otot (Briskey dan Kauffman, 1971). Oleh karena itu, jumlah lemak pada setiap potongan komersial berbeda-beda. Rataan bobot dan persentase lemak potongan komersial diperlihatkan pada Tabel. 5.

Hasil uji t menunjukkan bahwa bobot lemak pada potongan loin, leg, flank dan breast kelompok domba cepat tumbuh berbeda dengan kelompok domba lambat tumbuh (P<0,05) artinya kecepatan pertumbuhan domba mempengaruhi bobot lemak pada potongan loin, leg, flank dan breast. Bobot lemak pada kelompok domba cepat tumbuh lebih besar daripada domba lambat tumbuh sama seperti yang dihasilkan pada penelitian Lambuth (1970) yang menghasilkan bobot lemak pada potongan komersial meningkat dengan meningkatnya bobot karkas. Bobot lemak yang paling besar terdapat pada potongan leg yakni sebesar 252,50 ± 33,60gr pada kelompok domba cepat tumbuh dan sebesar 112,80 ± 28,10 pada kelompok domba lambat tumbuh. Persentase lemak pada potongan, loin, leg dan flank berbeda antara cepat tumbuh dan lambat tumbuh, artinya kecepatan pertumbuhan pada domba mempengaruhi (P< 0,05) persentase lemak pada potongan, loin, leg dan flank, hal ini dapat dikarenakan adanya perbedaan bobot lemak pada potongan tersebut yang berbeda.Selain itu pertumbuhan lemak yang lambat pada masing-masing bagian potongan komersial mungkin dapat menyebabkan perbedaan persentase lemak pada potongan-potongan tersebut.

27 Tabel 5. Rataan Bobot dan Persentase Lemak Potongan Komersial

Peubah Perlakuan Rataan

Cepat Tumbuh (g) Lambat Tumbuh (g)

Neck (g) 64,10 ± 35,00 34,20 ± 17,90 49,15 ± 26,45 Neck (%) 0,97 ± 0,51 0,73 ± 0,43 0,85 ± 0,47 Shoulder (g) 216,90 ± 61,30 90,90 ± 15,70 153,90 ± 38,5 Shoulder (%) 3,25 ± 0,66 1,88 ± 0,21 2,57 ± 0,44 Loin (g)* 137,50 ± 30,20 50,83 ± 4,32 Loin (%)* 2,08 ± 0,35 1,06 ± 0,17 Leg (g)* 252,50 ± 33,60 112,80 ± 28,10 Leg(%)* 3,83 ± 0,42 2,33 ± 0,49 Flank (g)* 34,60 ± 0,56 8,60 ± 0,67 Flank (%)* 0,53 ± 0,05 0,18 ± 0,01 Breast (g)* 126,80 ± 17,40 63,00 ± 24,70 Breast (%) 1,92 ± 0,11 1,29 ± 0,43 1,61 ± 0,27 Shank (g) 35,40 ± 14,80 18,00 ± 4,85 26,70 ± 9,83 Shank (%) 0,53 ± 0,20 0,37 ± 0,08 0,45 ± 0,14 Rack (g) 108,00 ± 46,60 43,80 ± 21,10 75,90 ± 33,85 Rack (%) 1,61 ± 0,58 0,93 ± 0,52 1,27 ± 0,55 Ket: Tanda (*) berarti P<0,05 atau ada pengaruh signifikan dari kecepatan pertumbuhan.

Sementara bagian potongan komersial yang memiliki persentase lemak terbesar adalah leg yaitu 3.834 ± 0.417% pada domba cepat tumbuh dan 2.332 ± 0.492 % pada domba lambat tumbuh. Diaz (2002) dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa proporsi lemak yang paling besar terdapat pada lemak leg.

Bobot dan Persentase Tulang Potongan Komersial

Tulang adalah jaringan pembentukan kerangka tubuh, yang mempunyai peranan penting bagi pertumbuhan ternak. Menurut Pulungan dan Rangkuti (1981), bahwa pertumbuhan tulang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bobot karkas dengan perkembangan yang lebih kecil atau dengan kata lain persentase tulang berkurang dengan meningkatnya karkas. Tulang merupakan komponen karkas yang tumbuh paling dini, tapi tulang merupakan komponen karkas yang memiliki

28 pertumbuhan yang lambat seperti teori pertumbuhan karkas yang dikemukakan oleh Berg dan Butterfield (1976) bahwa tulang merupakan komponen yang tumbuh paling dini kemudian disusul oleh daging dan terakhir adalah lemak. Rataan bobot dan persentase tulang potongan komersial dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Rataan Bobot dan Persentase Tulang Potongan Komersial

Peubah Perlakuan Rataan

Cepat Tumbuh (g) Lambat Tumbuh (g)

Neck (g) 166,93 ± 7,10 170,70 ± 27,30 168,82 ± 17,2 Neck (%) 2,55 ± 0,30 3,59 ± 0,84 3,07 ± 0,57 Shoulder (g) 289,40 ± 33,40 262,60 ± 32,90 276,00 ± 33,15 Shoulder (%)* 4,39 ± 0,29 5,45 ± 0,334 Loin (g)* 100,11 ± 0,26 123,30 ± 31,00 Loin (%) 1,76 ± 0,18 2,59 ± 0,74 2,18 ± 0,92 Leg (g)* 310,65 ± 0,78 366.30 ± 27.00 Leg(%)* 5,77 ± 0,51 7,61 ± 0,06 Flank (g) - - Flank (%) - - Breast (g) 118,60 ± 22,20 101,70 ± 23,30 110,15 ± 22,75 Breast (%) 1,83 ± 0,51 2,10 ± 0,37 1,97 ± 0,44 Shank (g) 110,20 ± 9,89 109,40 ± 12,70 109,80 ± 11,30 Shank (%) 1,69 ± 0,29 2,27 ± 0,17 1,98 ± 0,23 Rack (g) 163,00 ± 13,70 146,40 ± 31,30 154,70 ± 22,50 Rack (%) 2,48 ± 0,23 3,02 ± 0,46 2,75 ± 0,35 Ket: Tanda (*) berarti P<0,05 atau ada pengaruh signifikan dari kecepatan pertumbuhan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bobot tulang pada potongan loin dan leg domba cepat tumbuh berbeda dengan domba lambat tumbuh (P<0,05) artinya kecepatan pertumbuhan pada domba mempengaruhi bobot tulang pada potongan loin dan leg. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Diaz (2002) yang menyatakan bahwa kecepatan pertumbuhan tidak berpengaru pada bobot tulang pada potongan leg. Selain itu, semakin meningkatnya bobot karkas ternyata belum tentu meningkatkan bobot tulang pada potongan komersial, misalnya bobot tulang pada

29 potongan neck, loin dan leg. Bobot tulang pada potongan loin dan leg kelompok domba cepat tumbuh lebih kecil jika di bandingkan dengan kelompok domba lambat tumbuh. Hal ini memperlihatkan bahwa kelompok domba cepat tumbuh memiliki komponen daging cukup yang banyak.

Domba lambat tumbuh memiliki persentase tulang yang lebih besar jika dibandingkan dengan domba cepat tumbuh. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Lambuth (1970) yang menyatakan bahwa persentase tulang pada potongan komersial berbanding terbalik dengan kecepatan pertumbuhan. Kecepatan pertumbuhan domba mempengaruhi persentase tulang pada potongan shoulder dan leg. Shoulder dan leg merupakan bagian potongan komersial yang memiliki persentase tulang terbesar. Shoulder dan leg juga merupakan potongan komersial yang memiliki bobot tulang yang besar. Sementara flank merupakan bagian potongan komersial yang tidak memiliki tulang, jadi tidak ada analisis terhadap potongan tersebut.

30

Dokumen terkait