• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan Juni 2007 di rumah kaca dengan rata-rata suhu 28oC dan kelembaban 70%. Kondisi ini merupakan kondisi yang kurang baik untuk pertumbuhan tanaman Alfalfa karena menurut Peters (2007) Alfalfa dapat tumbuh optimum pada temperatur udara berkisar antara 15-250C. Selama penelitian ditemukan adanya serangan serangga seperti ulat daun dan kutu daun. Serangan kutu daun terbanyak terjadi pada periode II dan III, akan tetapi hal ini dapat diatasi secara manual. Gambar tanaman Alfalfa selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Tanaman Alfalfa pada Umur 60 Hari

Media tumbuh yang digunakan pada penelitian ini adalah tanah latosol yang memiliki pH, unsur hara dan kapasitas tukar kation yang rendah. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, oleh karena itu dibutuhkan suatu perlakuan yang dapat membantu pertumbuhan tanaman diantaranya dengan penambahan Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) dan pupuk fosfat alam. Hasil analisa pH tanah selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.

Menurut Hardjowigeno (1995) pH tanah sangat penting diketahui karena pH menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap tanaman. Umumnya, unsur hara mudah diserap oleh akar tanaman pada pH tanah netral antara 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara mudah larut didalam air. Selain itu, pH juga dapat menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi tanaman. Pada

tanah latosol banyak ditemukan Al dan Fe, apabila tanah menjadi lebih masam, maka aktifitas Al dan Fe meningkat sehingga banyak ditemukan fosfor dalam bentuk Al-P dan Fe-P yang sukar larut (Kamprath dalam Sanchez, 1992). Berdasarkan hasil analisis pH tanah pada Tabel 2, menunjukkan bahwa peningkatan dosis pupuk fosfat alam yang diberikan akan meningkatkan pH tanah.

Tabel 2. Pengaruh Pupuk Fosfat Alam terhadap pH Tanah Latosol selama Penelitian

Perlakuan Pupuk Fosfat Alam pH Tanah

FA0 : 0 kg P/ha ≈ 0 kg fosfat alam/ha 4,17 FA1 : 90 kg P/ha ≈ 584 kg fosfat alam/ha 4,24 FA2 : 180 kg P/ha ≈ 1168 kg fosfat alam/ha 4,30 FA3 : 360 kg P/ha ≈ 2363 kg fosfat alam/ha 4,40 FA4 : 720 kg P/ha ≈ 4672 kg fosfat alam/ha 4,63 FA5 : 1440 kg P/ha ≈ 9344 kg fosfat alam/ha 4,70

Keterangan: Tanah dianalisa di Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, 2007

Rekapitulasi Sidik Ragam Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Alfalfa

Tabel 3. Rekapitulasi Sidik Ragam Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Alfalfa Peubah Periode Perlakuan PTV PJD PBKT PBKA % Infeksi Akar CMA ** tn * - - Pupuk FA ** ** ** - - I Interaksi CMA*FA tn tn tn - - CMA tn tn tn - - Pupuk FA ** ** ** - - II Interaksi CMA*FA tn tn tn - - CMA tn tn tn tn tn Pupuk FA ** ** ** ** tn III Interaksi CMA*FA tn tn tn tn **

Keterangan: *: berbeda nyata pada taraf uji F0,05, **: berbeda nyata pada taraf uji F0,01, tn: tidak berbeda nyata, PTV: pertambahan tinggi fertikal, PJD: pertambahan jumlah daun, PBKT: produksi bahan kering tajuk, PBKA: produksi bahan kering akar, FA: fosfat alam, CMA: cendawan mikoriza arbuskula

Rekapitulasi hasil sidak ragam pertambahan tinggi vertikal (PTV), pertambahan jumlah daun (PJD), produksi berat kering tajuk (PBKT) dan produksi berat kering akar (PBKA) serta persentasi infeksi akar tanaman Alfalfa dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan pupuk fosfat alam sangat nyata (p<0,01) meningkatkan pertambahan tinggi vertikal, pertambahan jumlah daun, produksi bahan kering tajuk dan bahan kering akar pada semua periode. Pemberian CMA sangat nyata (p<0,01) meningkatkan pertambahan tinggi vertikal serta berpengaruh nyata (p<0,05) meningkatkan produksi bahan kering tajuk. Interaksi sangat nyata (p<0,01) antara perlakuan CMA dan pemupukan hanya terlihat pada infeksi akar.

Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal Tanaman Alfalfa

Tabel 4. Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Pertambahan Tinggi Vertikal (cm) Tanaman Alfalfa

Pupuk Fosfat Alam Periode Perlakuan

FA0 FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 Rataan M0 5,5 6,0 8,2 7,2 25,5 39,5 15,3B M1 11,7 13,0 9,3 24,1 27,1 39,6 20,8A I Rataan 8,6C 9,5C 8,7C 15,6C 26,3B 39,6A 18,1 M0 6,2 7,1 14,9 12,5 23,8 37,9 17,1 M1 1,3 17,2 4,7 19,6 24,2 37,7 17,5 II Rataan 3,7E 12,2CD 9,8DE 16,1C 24,0B 37,8A 17,3 M0 3,7 14,0 14,6 14,1 30,8 36,3 18,9 M1 2,0 21,1 -0,5 26,6 28,3 34,7 18,7 III Rataan 2,8C 17,5B 7,1C 20,3B 29,6A 35,5A 18,8

Keterangan: Superskrip huruf besar yang berbeda pada baris dan kolom yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

Penampilan ukuran tinggi vertikal merupakan salah satu aspek yang dapat diamati dari jauh dan mudah dinilai kualitas pertumbuhannya. Pertumbuhan tinggi tanaman ditentukan oleh perkembangan dan pertumbuhan sel, semakin cepat sel

membelah dan memanjang (membesar) semakin cepat tanaman meninggi. Hasil sidik ragam untuk perlakuan pupuk memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0,01) meningkatkan pertambahan tinggi vertikal pada periode I, II dan III, sedangkan perlakuan CMA hanya menunjukkan pengaruhnya pada periode I. Penambahan CMA berpengaruh sangat nyata (p<0,01) dalam meningkatkan pertambahan tinggi vertikal. Interaksi antara perlakuan CMA dengan pemupukan menunjukkan pertambahan tinggi vertikal yang tidak berbeda. Rataan pertambahan tinggi vertikal dapat dilihat pada Tabel 4.

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan FA5 memberikan hasil yang terbaik dalam meningkatkan pertambahan tinggi vertikal pada setiap periode, sedangkan pertambahan tinggi vertikal terendah ditunjukkan oleh perlakuan tanpa pemupukan. Demikian juga dengan penambahan CMA, perlakuan dengan penambahan CMA menghasilkan tanaman dengan pertambahan tinggi vertikal lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman tanpa penambahan CMA.

Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Pertambahan Jumlah Daun Tanaman Alfalfa

Tabel 5. Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Pertambahan

Jumlah Daun (daun) Tanaman Alfalfa Pupuk Fosfat Alam Periode Perlakuan

FA0 FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 Rataan M0 2,4 3,0 4,2 5,1 15,6 28,9 9,9 M1 6,2 7,6 5,2 14,3 15,2 29,6 13,0 I Rataan 4,3D 5,3DC 4,7DC 9,7BC 15,4B 29,3A 11,4 M0 4,5 6,0 7,0 6,8 17,1 44,3 14,3 M1 3,4 6,7 1,6 10,0 16,1 32,0 11,7 II Rataan 4,0C 6,4C 4,3C 8,4BC 16,6B 38,2A 13,0 M0 1,2 6,6 4,2 9,1 20,4 39,5 13,5 M1 -0,4 11,6 -1,4 14,0 22,4 29,9 12,7 III Rataan 0,4C 9,1C 1,4C 11,6BC 21,4B 34,7A 13,1

Keterangan: Superskrip huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

Pengaruh perlakuan terhadap pertambahan jumlah daun dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil sidik ragam menunjukkan adanya pengaruh pemupukan yang sangat nyata (p<0,01) meningkatkan pertambahan jumlah daun pada setiap periode panen. Perlakuan CMA menunjukkan hasil yang tidak nyata dalam meningkatkan pertambahan jumlah daun, begitu juga yang terjadi pada interaksi antara perlakuan CMA dan pemupukan menunjukkan jumlah daun yang tidak berbeda.

Berdasarkan hasil uji lanjut, perlakuan pemupukan mampu meningkatkan pertambahan jumlah daun. Perlakuan pemupukan dengan dosis tertinggi (FA5) memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan pertambahan jumlah daun pada setiap periode.

Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Produksi Bahan Kering Tajuk Tanaman Alfalfa

Tabel 6. Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Produksi Bahan Kering Tajuk (g/5 individu) Tanaman Alfalfa

Pupuk Fosfat Alam Periode Perlakuan

FA0 FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 Rataan M0 0,1 0,04 0,13 0,18 0,96 1,74 0,52b M1 0,3 0,55 0,33 1,04 0,98 2,18 0,89a I Rataan 0,20B 0,30B 0,23B 0,61B 0,97B 1,96A 0,71 M0 0,45 0,56 0,55 0,55 1,65 4,14 1,32 M1 0,06 1 0,17 1,26 1,71 3,66 1,31 II Rataan 0,26C 0,78BC 0,36C 0,91BC 1,68B 3,90A 1,31 M0 0,78 0,89 0,81 0,77 4,24 7,42 2,49 M1 0,88 1,65 0,15 2,64 3,52 6,29 2,52 III Rataan 0,83B 1,27B 0,48B 1,71B 3,88A 6,85A 2,5

Keterangan: Superskrip huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01) dan superskrip huruf kecil yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (p<0,05)

Produksi bahan kering tajuk dapat dilihat pada Tabel 6. Hasil sidik ragam

menunjukkan bahwa penambahan pupuk dapat meningkatkan produksi bahan kering tajuk. Perlakuan pemupukan memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0,01) dalam meningkatkan produksi bahan kering tajuk pada periode I, II, dan III. Interaksi

antara perlakuan CMA dan pemupukan menunjukkan hasil yang tidak nyata dalam meningkatkan produksi bahan kering tajuk. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan FA5 masih mendominasi seperti halnya yang terjadi pada peubah lain.

Berdasarkan hasil sidik ragam, perlakuan mikoriza juga berpengaruh nyata (p<0,05) dalam meningkatkan produksi bahan kering tajuk pada periode I, dimana perlakuan M1 (penambahan CMA) menghasilkan bahan kering tajuk lebih banyak dibandingkan perlakuan M0 (tanpa penambahan CMA). Peningkatan produksi bahan kering yang dihasilkan dengan penambahan CMA adalah sebesar 26,24%. Kecenderungan peningkatan produksi bahan kering tajuk dengan penambahan CMA juga terlihat pada perlakuan pemupukan yang lain. Perlakuan M1FA3 menghasilkan persentase peningkatan produksi bahan kering tajuk terbesar.

Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Produksi Bahan Kering Akar Tanaman Alfalfa

Produksi bahan kering akar dapat dilihat pada Tabel 7. Berdasarkan hasil sidik ragam, perlakuan pemupukan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) dalam meningkatkan produksi bahan kering akar. Perlakuan CMA tidak berpengaruh nyata dalam meningkatkan produksi bahan kering akar, begitu juga yang terjadi pada interaksi antara perlakuan CMA dengan pemupukan menunjukkan produksi bahan kering akar yang tidak berbeda.

Tabel 7. Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Produksi Bahan Kering Akar (g/5 individu) Tanaman Alfalfa

Pupuk Fosfat Alam Perlakuan

FA0 FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 Rataan M0 0,42 0,26 0,31 0,36 1,77 3,10 1,04 M1 0,58 0,77 0,17 0,99 1,29 2,25 1,01 Rataan 0,50B 0,51B 0,24B 0,67B 1,53A 2,68A 1,02

Keterangan: Superskrip huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda sangat nyata (p<0,01)

Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan FA5 dan FA4 berbeda sangat nyata (p<0,01) dengan perlakuan FA1, FA0 dan FA2. Hal ini

menunjukkan bahwa perlakuan FA5 dan FA4 juga mendominasi pada peubah ini. Produksi bahan kering Akar tertinggi dihasilkan pada perlakuan pemupukan FA5.

Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Infeksi Akar Tanaman Alfalfa

CMA merupakan simbion yang dapat berfungsi hanya jika menginfeksi akar tanaman inangnya. Tingkat infeksi akar berhubungan dengan kemampuan tanaman dalam menyerap hara dan mentransformasikan ke tanaman inang. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat interaksi yang sangat nyata (p<0,01) antara perlakuan CMA dan pemupukan. Persentasi infeksi akar terbesar terdapat pada perlakuan FA3. Hal ini diduga bahwa pada perlakuan FA3 terdapat kandungan karbohidrat dan ketersediaan unsur P yang mencukupi untuk mendukung penginfeksian akar yang optimal oleh CMA. Hasil pengamatan pada akar ditemukan struktur vesikel, spora dan hifa yang mencirikan adanya infeksi CMA. Hifa berperan sebagai alat translokasi unsur hara, sedangkan vesikel sebagai cadangan makanan yang berisi lipid (yang mendukung pertumbuhan kembali hifa interseluler). Pengaruh perlakuan terhadap infeksi akar dapat dilihat pada Tabel 8.

Keragaman infeksi akar pada perlakuan mencerminkan perbedaan intensitas infeksi akar dari setiap interaksi simbiosis yang terjadi. Adanya struktur CMA yang ditemukan pada akar tanaman yang tidak diinokulasi CMA diduga berasal dari endofit dalam tanah.

Tabel 8. Pengaruh CMA dan Pupuk Fosfat Alam terhadap Infeksi Akar (%) Tanaman Alfalfa

Pupuk Fosfat Alam Perlakuan

FA0 FA1 FA2 FA3 FA4 FA5 Rataan M0 2,5CD 5,75CD 1,5D 4,5CD 12,5CD 16,3BC 7,2

M1 2,5CD 15BCD 1,5D 38A 26,8AB 27,3AB 18,5 Rataan 2,5 10,4 1,5 21,3 19,6 21,8 12,8

Keterangan: Superskrip yang berbeda pada tabel di atas menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (p<0,01)

Pembahasan Umum

Berdasarkan hasil penelitian pengaruh perlakuan pemupukan terlihat baik pada setiap peubah yang diamati, diantaranya pertambahan tinggi vertikal,

pertambahan jumlah daun, produksi bahan kering tajuk dan produksi bahan kering akar. Bahkan pada infeksi akar terdapat interaksi antara pengaruh perlakuan CMA dan pemupukan. Setiap peubah menunjukkan bahwa perlakuan pemupukan fosfat alam dengan level tertinggi (FA5) yaitu dengan dosis 1440 kg P/ha menghasilkan pertumbuhan dan produksi terbaik, seperti pada penelitian Berg (2005) bahwa pemupukan P dapat meningkatkan produksi Alfalfa.

Unsur P sangat vital bagi pertumbuhan tanaman baik untuk pertumbuhan vegetatif maupun generatif dan hasil tanaman (Buckman, 1982). P merupakan komponen esensial ADP (Adenosine Di Phospate) dan ATP (Adenosine Th

Phospate), yang bersama-sama memerankan bagian penting dalam fotosintesis dan

peyerapan ion serta sebagai transportasi dalam tanaman (Tan, 1996).

Fotosintesis terjadi di dalam daun dimana ADP dengan P anorganik diubah menjadi ATP untuk pembentukan karbohidrat. Hal inilah yang merangsang pertumbuhan tanaman dimana hasil fotosintesis juga ditransportasikan keseluruh bagian tanaman untuk pertumbuhannya. Semakin meningkat kandungan unsur P pada tanaman maka laju fotosintesis semakin meningkat, hal ini dikarenakan P berperan dalam proses fotosintesis yang mengakibatkan bahan kering tajuk dan bahan kering akar yang dihasilkan pun akan meningkat

Graham dan Swenson (2003) menunjukkan bahwa tinggi vertikal tanaman tertinggi dicapai pada taraf pemupukan P paling tinggi. Sesuai dengan hasil penelitian ini bahwa pertambahan tinggi vertikal tertinggi dicapai oleh tanaman dengan dosis pupuk fosfat alam yang tinggi pula. P mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman terutama akar dan akan berkolerasi positif terhadap pertumbuhan tanaman.

Peranan akar dalam pertumbuhan sangat berhubungan dengan tajuk karena tajuk berperan dalam menyediakan karbohidrat melalui fotosintesis, sedangkan akar berfungsi menyediakan unsur hara dan air yang digunakan dalam metabolisme tanaman. Akar akan tumbuh baik pada tanah dengan ketersediaan unsur hara yang memadai daripada tanah yang defisien unsur hara, salah satunya ketersediaan unsur P. Keadaan tanah yang subur dengan banyak kandungan hara mineral maka akar akan membentuk percabangan yang banyak sehingga pada tanaman yang diberi pupuk P, akarnya akan lebih banyak dibandingkan dengan tanaman yang tanpa diberi

pupuk (Islami dan Utamo, 1995). Seperti pada penelitian ini, produksi bahan kering akar terbesar terdapat pada tanaman yang diberi pupuk fosfat alam dengan dosis teringgi yaitu 1440 kg P/ha.

Gambar 3. Perbandingan Tanaman Alfalfa yang diberi Pupuk Fosfat Alam (FA5) dan Tanpa Pemberian Fosfat Alam (FA0)

Pemupukan dengan dosis P yang rendah menghasilkan tanaman dengan pertumbuhan yang rendah pula. Hal ini disebabkan karena rendahnya ketersediaan P dalam tanah sehingga P yang diperlukan untuk proses fotosintesis belum dapat mencukupi kebutuhan tanaman dan mengganggu metabolisme. Perbandingan tanaman Alfalfa yang diberi pupuk fosfat alam dan tanpa pemberian fosfat alam dapat dilihat pada Gambar 3.

y = 0.29x2 - 0.27x + 3.43 0 1 2 3 4 5 6 0 1 2 3 4 Periode P ro duk si B aha n K er in g T aj uk ( g)

Gamabar 4. Pengaruh Periode terhadap Produksi Bahan Kering Tajuk Tanaman Alfalfa

Perilaku pemupukan pada setiap periode berpengaruh sangat nyata dalam meningkatkan produksi bahan kering tajuk. Hasil uji polinomial menunjukkan bahwa

terjadi peningkatan produksi bahan kering tajuk pada setiap periode (Gambar 4). Peningkatan produksi bahan kering tajuk pada periode III hampir dua kali lipat dibanding periode I. Hal ini juga ditegaskan oleh grafik hubungan antara pemupukan dan produksi bahan kering tajuk (Gambar 5) yang menggambarkan bahwa pada setiap periode terjadi peningkatan produksi bahan kering tajuk untuk setiap perlakuan pemupukan. Fenomena ini diduga terjadi karena pupuk fosfat alam merupakan pupuk yang slow release sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh tanaman. Sifat slow release dari pupuk fosfat alam dapat meningkatkan efektifitas pemupukan P akibatnya fiksasi P relatif kecil sehingga pengaruh residunya lebih lama (Hanum, 2007).

0 1 2 3 4 5 6 7 8 P0 P1 P2 P3 P4 P5 Perlakuan Pemupukan P ro duks i B aha n K er ing t aj uk ( g)

Periode I Periode II Periode III

Gambar 5. Pengaruh Perlakuan Pemupukan terhadap Produksi Bahan Kering Tajuk Tanaman Alfalfa

Pengaruh perlakuan CMA hanya terlihat pada pertambahan tinggi vertikal dan produksi bahan kering tajuk pada periode I. Hal ini diduga terjadi karena pada tanah latosol atau tanah masam memiliki kelarutan Fe, Al dan Mn yang tinggi sehingga fosfat yang berasal dari tanah dan dari pemupukan akan segera terikat dan membentuk senyawa P yang kurang atau tidak tersedia bagi tanaman. Sebagian besar P yang diberikan akan bersenyawa dalam bentuk Fe-P, Al-P, Mn-P dan Occluded-P yang sukar diserap oleh akar. Kadar Al yang tinggi juga dapat meracuni tanaman. Keracunan Al yang tinggi mengakibatkan berkurangnya potensi tumbuh atau

komponen produksi bagi tanaman, karena mampu menghambat perpanjangan dan pertumbuhan akar primer serta menghalangi akar lateral dan bulu akar yang berfungsi untuk penyerapan unsur hara dan air sehingga penyerapan terhambat, terhenti proses pembelahan dan pembesaran sel yang akhirnya menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. Oleh karena itu perlu adanya peranan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) pada periode I. Berbeda dengan periode II dan III dimana pengaruh perlakuan CMA sudah tidak terlihat. Hal ini diduga terjadi karena ketersediaan unsur hara P pada periode II dan III telah mencukupi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CMA tidak hanya berperan pada periode I. Pengamatan terhadap produksi bahan kering tajuk menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan peningkatan produksi bahan kering tajuk dengan penambahan CMA pada periode II dan III. Persentase peningkatan produksi bahan kering tajuk terbesar pada perlakuan pemupukan dengan dosis 360 kg P/ha yang ditambahkan CMA (M1FA3). Perlakuan M1FA3 menghasilkan peningkatan produksi bahan kering tajuk lebih baik bila dibandingkan dengan tanpa CMA (M0), akan tetapi tidak demikian pada perlakuan pemupukan P yang lain baik pada dosis rendah maupun dosis tinggi. Namun secara keseluruhan pengaruh CMA belum mampu meningkatkan produksi bahan kering. Persentase peningkatan produksi bahan kering tajuk terbesar pada M1FA3 juga didukung oleh infeksi akar yang ditemukan dimana perlakuan M1FA3 terdapat infeksi terbesar yaitu 38%. Hal ini menunjukkan bahwa CMA membutuhkan kondisi yang tepat untuk dapat berkontribusi dalam membantu penyerapan unsur hara. Kontribusi CMA terjadi melalui simbiosis mutualisme. Simbiosis mutualisme ini dilakukan dengan cara CMA membantu dalam penyerapan unsur hara dan sebaliknya CMA dapat memperoleh karbohidrat dan faktor pertumbuhan lainnya dari tanaman. Sehubungan dengan ini pada kondisi tanah dengan unsur hara yang rendah, tanaman tidak mampu bersimbiosis dengan CMA karena tanaman tidak dapat menyediakan karbohidrat yang dibutuhkan oleh CMA. Sebaliknya pada kondisi tanah dengan unsur hara yang berlebih CMA tidak dapat berperan secara maksimal karena tanaman sudah mampu menyediakan kebutuhan unsur hara tanpa bantuan CMA, seperti pada penelitian Moerdiati (1985) menunjukkan semakin tinggi dosis pemupukan P pada tanaman jagung, semakin sedikit infeksi CMA yang diamati.

Penambahan CMA diharapkan mampu meningkatkan penyerapan unsur hara oleh tanaman melalui simbiosis mutualisme antara CMA dan akar tanaman. Simbiosis CMA dengan akar tanaman mempunyai beberapa fungsi antara lain meningkatkan penyerapan unsur hara bagi tanaman (terutama unsur P, unsur-unsur mikro dan daur hara) karena CMA dapat mengurangi jarak bagi hara untuk memasuki akar tanaman, meningkatkan rata-rata penyerapan hara dan konsentrasi hara pada permukaan penyerapan, mengubah secara kimia sifat-sifat hara sehingga memudahkan penyerapannya ke dalam akar tanaman (Abbot dan Robson, 1982). Notohadiprawiro (2006) menambahkan, tanaman yang kahat unsur P akan terganggu pertumbuhan dan perkembangannya serta terhambatnya pembelahan sel sehingga tanaman menjadi kerdil dan produksi rendah dengan mutu yang jelek. CMA membantu dalam mentransfer nutrisi (terutama P) dari tanah ke sistem perakaran. Pergerakan P dari tanah ke permukaan akar terjadi melalui proses difusi karena adanya gradien konsentrasi, difusi ion-ion fosfat tersebut dapat diperpendek dengan adanya hifa eksternal. Sistem serapan P oleh CMA dianggap sebagai hasil dari tiga tahapan, yaitu penyerapan oleh hifa, translokasi di dalam hifa dan transfer melalui bidang kontak simbiotik. Selain itu, CMA berguna melawan peracunan tanaman oleh unsur-unsur Al, Mn dan Cd.

Simbiosis antara tanaman dengan CMA dapat ditunjukkan dengan adanya infeksi akar. Infeksi akar oleh CMA salah satunya ditandai dengan ditemukannya hifa-hifa, dimana hifa ini merupakan perpanjangan akar dengan ukuran jauh lebih kecil daripada diameter akar, yaitu sekitar 10 μm serta tersebar luas mengisi rongga dalam media. Struktur hifa yang seperti ini memungkinkan akar untuk keluar dari zona pengurasan sehingga zona penyerapan oleh akar pun menjadi lebih luas. Hifa eksternal CMA yang halus dapat meningkatkan luas permukaan akar dan dapat masuk ke dalam pori-pori tanah dan bahan organik yang berasal dari sisa-sisa tanaman untuk mengambil P yang ada, dimana P berperan dalam pembelahan sel tanaman. Disamping menyerap unsur hara, serapan P yang tinggi juga disebabkan karena hifa cendawan juga mengeluarkan enzim phosphatase yang mampu melepaskan P dari ikatan-ikatan spesifik sehingga tersedia bagi tanaman (Subiksa, 2002).

Dokumen terkait