• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji kualitas pakan dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu secara fisik, biologi dan kimiawi. Ukuran, bentuk, struktur, tekstur, warna, bau, sifat-sifat optik dan penampakan merupakan beberapa contoh uji secara fisik. Bahan pakan asal nabati seperti dedak padi merupakan bahan-bahan pakan yang sering digunakan dalam industri pakan di Indonesia, sedangkan limbah restoran merupakan bahan baku alternatif yang baru dicoba, sehingga perlu dilakukan uji kualitas.

Limbah restoran diperoleh dari Hotel Sahid Jaya, Bekasi, sedangkan dedak padi dan proses pembuatan ransum P1, P2 dan P3 didapat dan diproses di PT. Indofeed Bogor. Ketiga ransum yang digunakan dalam penelitian ini dapat dibedakan secara fisik meliputi pengamatan warna, bentuk dan bau.

Tekstur

Limbah restoran mempunyai tekstur lebih kasar karena bahan tersebut terdiri dari campuran tulang dan bahan-bahan sisa lainnya. Tekstur dedak padi yang halus menunjukkan bahwa dedak padi tersebut memiliki kualitas baik karena tidak dicampur dengan sekam. Dari perbedaan tekstur tersebut, terlihat bahwa pakan yang mengandung limbah restoran memiliki tekstur yang lebih kasar dibanding pakan kontrol yang tidak mengandung limbah restoran. Secara umum tekstur limbah restoran, dedak padi dan pakan-pakan perlakuan menunjukkan tekstur yang baik dan tidak mununjukkan adanya jamur yang melekat dan menyebar pada bahan.

Bau

Palatabilitas pakan adalah fungsi antara bau dengan rasa pakan sehingga berhubungan dengan nafsu makan pada ternak. Bau juga merupakan salah satu indikator rusak atau tidaknya bahan-bahan pakan tersebut. American Feed Industry Association menyatakan bahwa bau pakan yang baik adalah segar dan tidak gosong. Selain itu sensori ternak terhadap bau akan meningkatkan tingkat konsumsi pakan (van Heugten, 1999). Pakan dan bahan pakan yang telah rusak biasanya berbau tengik dan tidak layak digunakan sebagai makanan tenak.

Limbah restoran memiliki bau yang khas, seperti bau fermentasi dan sedikit amis, sehingga dapat meningkatkan nafsu makan ternak. Pada level subtitusi 50%

17 pengganti dedak padi ransum P2 memiliki tingkat konsumsi paling tinggi dibanding ransum kontrol dan ransum P3 (Gunadi, 2006).

Warna

Sifat warna merupakan faktor pertama yang dapat terlihat jelas pada pengamatan. Warna pada pakan perlakuan P2 dan P3 lebih gelap dibandingkan warna yang terdapat pada pakan kontrol P1 yang lebih terang. Hal ini terjadi karena limbah restoran memiliki warna coklat tua, sedangkan dedak padi warnanya coklat muda. Proses pembuatan limbah restoran yang menggunakan suhu 70-800C menyebabkan warnanya menjadi coklat gelap. Menurut Mark dan Whitney (2001) warna pakan yang baik adalah yang berwarna lebih cerah, warna tersebut juga dapat mengindikasikan bahwa asam amino mudah dicerna.

18 Data rataan, berat jenis, kerapatan, kerapatan pemadatan, sudut tumpukan, pH dan kelarutan antara limbah restoran dan dedak padi terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan, Berat Jenis, Kerapatan, Kerapatan Pemadatan, Sudut Tumpukan, pH dan Kelarutan Limbah Restoran dan Dedak Padi

Peubah Limbah Restoran Dedak Padi Berat Jenis (kg/m3) 1,31±0,02 ` 1,21±0,03 Kerapatan (kg/m3) 401,88±4,99 263,83±3,98 Kerapatan Pemadatan (kg/m3) 879,06±2,97 623,03±15,18 Sudut Tumpukan ( 0 ) 43,28±0,44 41,78±0,29 pH 4,83±0,14 6,54±0,03 Kelarutan (% BK) 43,68±0,57 50,45±1,72

Untuk data tentang pengaruh pemberian tepung limbah restoran terhadap berat jenis, kerapatan, kerapatan pemadatan, sudut tumpukan, pH dan kelarutan ransum perlakuan disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan, Berat Jenis, Kerapatan, Kerapatan Pemadatan, Sudut Tumpukan, pH dan Kelarutan Ransum P1, P2 dan P3.

Peubah Perlakuan P1 P2 P3 Berat Jenis (kg/m3) 1,33C±0,01 1,37B±0,01 1,41A±0,03 Kerapatan (kg/m3) 504,58C±4,34 514,83B±1,83 519,58A±0,90 Kerapatan Pemadatan (kg/m3) 877,97B±7,26 886,13B±4,01 918,30A±4,78 Sudut Tumpukan ( 0 ) 32,83C±0,82 34,00B±0,39 35,01A±0,14 pH 6,22A±0,01 5,98B±0,01 5,70C±0,05 Kelarutan (% BK) 68,68A±0,67 66,69B±1,57 62,30C±0,93 Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang

sangat nyata (P<0,01).

Dari Tabel 3 terlihat bahwa nilai berat jenis, kerapatan, kerapatan pemadatan dan sudut tumpukan yang dimiliki oleh limbah restoran lebih besar dibanding dedak padi, sedangkan untuk nilai kelarutan dan pH bersifat sebaliknya. Perbedaan nilai ini memberikan pengaruh yang sangat nyata (p<0,01)terhadap ransum perlakuan, dimana ransum yang diberi limbah restoran memiliki nilai berat jenis, kerapatan, kerapatan pemadatan dan sudut tumpukan yang lebih besar dibanding ransum kontrol, sedangkan

19 untuk nilai pH dan kelarutan, ransum perlakuan cenderung lebih kecil jika dibanding dengan nilai pH dan kelarutan ransum kontrol.

Sifat Fisik Berat Jenis

Berat jenis merupakan perbandingan antara berat bahan terhadap volumenya dengan satuan kg/m3.

Berat jenis merupakan faktor penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan (Nurcahaya, 1999). Berat jenis bersama ukuran partikel mempengaruhi homogenitas dari penyebaran pakan dan stabilitasnya dalam suatu campuran pakan. 1.33 1.37 1.41 1.28 1.3 1.32 1.34 1.36 1.38 1.4 1.42 P1 P2 P3 Ransum Perlakuan B e ra t Jeni s ( k g/ m 3 )

Gambar 4. Rataan Nilai Berat Jenis

Berat jenis antara ransum P1, P2 dan P3 sangat berbeda nyata (p<0,01). Ransum P3 memiliki rataan berat jenis terbesar, yaitu 1,41±0.03 kg/m3, diikuti berat jenis ransum P2 sebesar 1,37±0.01 kg/m3. Ransum P3 memiliki berat jenis paling kecil yaitu 1,33±0.01 kg/m3. Perbedaan berat jenis tersebut karena penggunaan limbah restoran di dalam campuran ransum. Diketahui bahwa limbah restoran memiliki berat jenis sebesar 1,31±0,02 kg/m3, lebih tinggi dibanding dedak padi (1,21±0,03 kg/m3). Berat jenis sangat erat hubungannya dengan kadar air, jika kadar air tinggi maka nilai berat jenis juga akan semakin tinggi. Kadar air dan berat jenis sangat berpengaruh terhadap sifat fisik bahan yang berbentuk tepung (Wiranatakusumah et al., 1994). Diketahui bahwa kadar air limbah restoran sebesar 17%, angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan dedak padi yang memiliki kadar air sebesar 14 %, sehingga berat jenis yang dimiliki limbah restoran lebih besar dibanding berat jenis dedak padi.

20 Nilai berat jenis yang tinggi dapat menunjukan nilai kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan yang tinggi pula. Hal ini memperlihatkan bahwa pakan yang mengandung limbah restoran membutuhkan volume ruang yang kecil untuk penyimpanan dibanding pakan yang mengandung dedak padi. Berat jenis akan menentukan tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis pada pabrik pakan, seperti dalam proses pengemasan dan pengeluaran dari dalam silo untuk dicampur atau digiling (Khalil, 1999a). Selain itu pencampuran limbah restoran dalam ransum akan lebih mudah dan stabil.

Berat jenis yang tinggi juga mencerminkan bahwa bahan pakan tersebut akan lebih cepat mengalami proses kecernaan dalam saluran pencernaan. Hal ini disebabkan karena bahan dengan berat jenis tinggi memiliki berat molekul yang tinggi pula, dimana semakin tinggi berat molekul maka laju alir dalam saluran pencernaan semakin cepat. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hooper dan Welch (1985) bahwa berat jenis pakan yang tinggi mempercepat retensi pakan dalam rumen sapi dan meningkatkan asupan bahan kering.

Pada unggas, diduga berat jenis yang tinggi dapat mempercepat kecepatan pencernaan. Hal ini disebabkan ransum dengan berat jenis lebih besar akan lebih cepat turun dari mulut-tembolok-gizzard sampai ke usus. Sebaliknya ransum dengan berat jenis lebih rendah akan lambat dicerna karena sifatnya voluminous sehingga akan lebih memakan waktu dalam proses pencernaan dari mulut sampai ke usus. Hal ini disebabkan karena sifat voluminous berhubungan dengan kandungan serat yang tinggi. Serat inilah yang menyebabkan laju alir pakan menjadi lambat (George, 2004).

Kerapatan Tumpukan

Kerapatan tumpukan merupakan perbandingan antara berat bahan dengan volume ruang yang ditempati, dengan satuan kg/m3. Sifat ini berperan penting dalam memperhitungkan volume ruang yang dibutuhkan suatu bahan dengan berat tertentu

21 504.58 514.83 519.58 495 500 505 510 515 520 525 P1 P2 P3 Ransum Perlakuan K e ra p a ta n (k g /m 3 )

Gambar 5. Rataan Nilai Kerapatan Tumpukan

Nilai kerapatan tumpukan dapat dilihat pada Gambar 5. Ransum yang mengandung limbah restoran memiliki kerapatan tumpukan nyata lebih besar (p<0,01) dibanding ransum yang mengandung dedak padi Tingginya nilai kerapatan tumpukan yang dimiliki oleh ransum P3 (519,58±0,90 kg/m3) disebabkan karena limbah restoran memiliki nilai kerapatan tumpukan yang tinggi pula (401,88±4,99 kg/m3). Ada beberapa faktor yang menyebabkan nilai kerapatan tumpukan ransum perlakuan lebih tinggi dibanding nilai kerapatan tumpukan ransum kontrol (504,58±4,34 kg/m3). Salah satunya adalah pengaruh kadar air, kadar air pada limbah restoran dan ransum yang mengandung limbah restoran lebih tinggi dibanding kadar air dari dedak padi dan ransum kontrol. Penyerapan kadar air yang tinggi akan menyebabkan peningkatan sifat kohesif, atau gaya tarik menarik antar partikel semakin besar, sehingga semakin tinggi kadar air maka akan semakin tinggi pula kerapatan tumpukannya (Wirakartakusumah et al, 1994).

Selain itudedak padi bersifat amba, sedang limbah restoran tidak bersifat amba. Keambaan dedak padi tersebut mengakibatkan dedak padi memiliki nilai kerapatan tumpukan yang lebih rendah dibandingkan dengan limbah restoran. Akibat dari nilai kerapatan tumpukan yang rendah maka dedak padi membutuhkan tempat penyimpanan lebih luas dibandingkan dengan limbah restoran. Dari perhitungan kerapatan tumpukan didapatkan bahwa untuk menyimpan 1 ton dedak padi maka membutuhkan luasan tempat sebesar 3,79 m3, sedangkan limbah restoran hanya membutuhkan luasan tempat sebesar 2,49 m3/ton bahan. Untuk luasan tempat menyimpan pakan perlakuan P1, P2 dan P3 per ton berturut-turut didapatkan angka 1,98, 1,94 dan 1,92 m3 / ton pakan.

22 Terlihat bahwa limbah restoran dan ransum yang mengandung limbah restoran membutuhkan ruangan yang lebih sedikit dalam menyimpan per ton bahan maupun pakan dalam bentuk curah dibandingkan dengan dedak padi dan ransum kontrol sehingga lebih efisien dalam pemanfaatan ruang. Hal ini sesuai dengan Syarief dan Irawaty (1988) yang menyatakan bahwa nilai rataan kerapatan tumpukan yang semakin tinggi, maka dapat mengurangi volume ruang penyimpanan.

Dengan nilai kerapatan tumpukan yang tinggi maka limbah restoran juga lebih efisien dalam proses pengangkutan jarak jauh. A/S Niro (2005) juga menyatakan bahwa bahan atau komoditi yang memiliki nillai kerapatan tumpukan tinggi dapat mengemat biaya pengeluaran untuk pengemasan dan penyimpanan bahan, sehingga produsen lebih memilih bahan atau komoditi dengan nilai kerapatan tumpukan tinggi apabila melakukan pengangkutan dengan jarak jauh.

Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Kerapatan pemadatan tumpukan (Compacted bulk density) adalah perbandingan antara masa dengan volume yang ditempati bahan setelah melalui proses pemadatan seperti penggoyangan dengan satuan kg/m3 (Khalil, 1999a). Nilai kerapatan pemadatan tumpukan pada ransum perlakuan dapat dilihat pada gambar 6. dibawah ini.

877.97 886.13 918.3 850 860 870 880 890 900 910 920 930 P1 P2 P3 Ransum Perlakuan K e ra pa ta n P e m a da ta n (k g /m 3 )

Gambar 6. Rataan Nilai Kerapatan Pemadatan Tumpukan

Nilai kerapatan pemadatan tumpukan ransum yang mengandung limbah restoran lebih tinggi dari pada ransum yang mengandung dedak padi. Nilai kerapatan pemadatan tumpukan tertinggi dicapai oleh ransum P3 (918,30±4,78) kemudian P2 (886,13±4,01). Kerapatan pemadatan tumpukan terkecil dimiliki P1 sebesar 873,47±3,30 . Dengan

23 adanya proses pemadatan maka partikel-partikel dipaksa untuk mengisi celah-celah yang kosong antar partikel yang ukurannya lebih besar (Peleg and Bagley, 1983). Maka dalam hal ini ukuran partikel sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya kerapatan pemadatan tumpukan bahan. Semakin besar ukuran partikel, maka semakin besar kerapatan pemadatannya. Ukuran partikel limbah restoran yang lebih besar (3 mm) dibandingkan dengan dedak padi yang partikelnya berbentuk tepung, sehingga menyebabkan kerapatan pemadatan tumpukan dari ransum P3 dan P2 lebih besar dibanding ransum kontrol (P1).

Kapasitas silo, kontainer dan kemasan seperti karung terletak antara kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan (Khalil, 1999b). Sehingga dengan mengetahui berapa nilai kerapatan pemadatan tumpukan maka akan dapat mempermudah memodelkan luasan suatu silo, kontainer maupun kemasan agar lebih ekonomis dan efisien. Dari perhitungan kerapatan pemadatan terlihat bahwa ransum yang mengandung limbah restoran lebih efisien dalam ruang penyimpanan dibanding ransum kontrol karena membutuhkan ruang yang lebih kecil dalam menyimpan 1 ton bahan. Kebutuhan ruangan penyimpanan per ton dari ransum P1, P2 dan P3 adalah 1,15, 1,13 dan 1,09 m3. Perry and Chilton (1973) menyatakan bahwa kapasitas per unit waktu dari peralatan yang dapat menyebabkan benda bergerak dalam pemrosesan harus diketahui secara pasti kapasitas seperti kilogram per jamnya, sehingga kita bisa mengetahui kapasitas produksinya.

Nilai kerapatan pemadatan tumpukan yang besar menunjukkan bahwa wadah dengan satuan tertentu dapat ditempati oleh partikel bahan lebih banyak sehingga proses pengemasan pakan akan lebih efisien. Dari pengamatan yang dilakukan terlihat bahwa ransum yang mengandung limbah restoran memiliki tingkat efisiensi pengemasan pakan yang lebih baik dibanding dengan ransum kontrol.

Sudut Tumpukan

Sudut tumpukan merupakan sudut yang dibentuk jika bahan dicurahkan dari suatu tempat pada bidang datar yang akan bertumpukan dan terbentuk suatu gundukan menyerupai kerucut antara bidang datar dan kemiringan tumpukan yang terbentuk jika bahan dicurahkan serta menunjukkan kebebasan bergerak dari suatu partikel dari suatu tumpukan bahan. Semakin bebas suatu partikel bergerak, maka sudut tumpukan yang

24 terbentuk semakin kecil. Pergerakan partikel yang ideal ditunjukkan oleh ransum dengan sudut tumpukan 200-500 (Ruttloff, 1981 dalam Khalil 1999b). Selain itu sudut tumpukan merupakan metode cepat pengukuran laju aliran/daya luncur suatu bahan (Carr, 1976). Sudut tumpukan penting pada saat pemindahan bahan dari satu tempat ke tempat lain. Karena sudut tumpukan ini berpengaruh terhadap kapasitas belt conveyor

dan alat-alat pemindah lainnya.

Menurut Fasina dan Sokhansanj (1993), bahan yang mudah mengalir bebas memiliki kisaran sudut tumpukan 200-300, bahan mudah mengalr bebas memiliki sudut tumpukan 300-380, bahan dengan kisaran nilai sudut tumpukan 380-450 mempunyai laju alir medium dan bahan dengan kisaran nilai sudut tumpukan 450-550 merupkan bahan yang sulit mengalir. Semakin tinggi sudut tumpukan menunjukkan bahwa bahan tersebut memiliki tingkat kebebasan bergerak yang rendah. Artinya bahan tersebut akan mempunyai laju alir yang lebih lambat sehingga akan menyumbat dalam pengisian silo. Selain itu sudut tumpukan juga mempengaruhi besarnya kemiringan lantai untuk pengosongan silo. Nilai sudut tumpukan yang tinggi menyebabkan bahan menjadi sulit mengalir, karena itu proses penggoyangan didalam silo diperlukan membuat mekanisme proses produksi di dalam industri tidak efisien. Hal ini menjadi kendala didalam penanganan bahan baku karena proses pengolahan akan lebih sulit dan lama. Data nilai rataan sudut tumpukan dari ransum perlakuan P1, P2 dan P3 ditampilkan pada Gambar 7. 32.83 34 35.01 31.5 32 32.5 33 33.5 34 34.5 35 35.5 P1 P2 P3 Ransum Perlakuan S u dut Tum puk a n ( 0 )

25 Gambar 7. menunjukkan bahwa sudut tumpukan terkecil adalah pada ransum yang mengandung dedak padi 13%, yaitu sebesar 32,83±0,82, sedangkan ransum yang mengandung limbah restoran 12% mempunyai sudut tumpukan yang paling besar (35,01±0,14). Dari data tersebut terlihat bahwa ransum perlakuan dan ransum kontrol berada pada kategori bahan mudah mengalir bebas dengan nilai sudut tumpukan 300 -380.

Erin et.al.,(2006) menyatakan bahwa semakin tinggi sudut tumpukan maka laju aliran bahan menjadi lebih lambat karena tingkat kebebasan bergeraknya menjadi rendah. Dari pengamatan terlihat bahwa sudut tumpukan yang dimiliki ransum P3 paling tinggi dibanding sudut tumpukan ransum P2 dan P1. Hal ini menunjukkan bahwa ransum P3 membutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses pengisian maupun pengosongan silo karena laju alirnya lebih lambat, sedangkan pakan P1 bersifat sebaliknya, dimana sudut tumpukan yang dimilikinya paling rendah sehingga laju alirnya paling besar dibanding pakan P3 dan P2 sehingga dalam proses penanganan silo ransum P1 akan membutuhkan waktu yang lebih cepat.

Sifat Kimia Derajat Keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan nilai yang menunjukkan suatu bahan bersifat asam (<7), basa (>7), atau netral (=7). Derajat keasaman pakan akan mempengaruhi pH saluran pencernaan yang akan meningkat seiiring dengan meningkatnya pH pakan (Ange et al., 2000).

Dari hasil pengujian pH yang dilakukan terhadap ransum P1, P2 dan P3, menunjukkan bahwa ransum yang mengandung limbah restoran memiliki pH sangat nyata (p<0,01) lebih asam dibanding kontrol. pH dari limbah restoran lebih asam, jika dibanding dengan pH dari dedak padi. Rataan pH limbah restoran sebesar 4, 83 sedang rataan pH dedak mendekati pH normal, yaitu sebesar 6,54.

26 6.22 5.98 5.7 5.4 5.6 5.8 6 6.2 6.4 P1 P2 P3 Ransum Perlakuan pH

Gambar 8. Rataan Nilai pH

Menurut Sudarmadji et al (1989) protein mudah sekali mengalami perubahan, baik fisik maupun biologis. Perubahan ini salah satunya disebabkan meningkatnya tingkat keasaman suatu bahan pakan. Keasaman yang tinggi dari suatu bahan pakan dapat menyebabkan kondisi penyerapan protein menjadi terganggu. Ditambahkan oleh Makkink (2001) akibat dari pH yang tinggi dari bahan pakan menyebabkan penyerapan protein menjadi tidak normal.

Konsumsi pakan yang bersifat asam akan berpengaruh terhadap pencernaan dan tingkat konsumsi (Farnworth, 2000). Diketahui pH dalam saluran pencernaan ayam adalah asam. Derajad keasaman (pH) dari tembolok, proventriculus dan gizzard ayam berturut-turut sebesar 4,5, 4,4 dan 2,6 (Miller, 2003). Pakan bersifat asam akan menyebabkan produksi sekresi asam yang berlebihan di dalam saluran pencernaan sehingga mengganggu pencernaan dan menurunkan tingkat konsumsi. Heres et.al.

(2004) menyatakan bahwa pengasaman pakan menggunakan asam organik, asam laktat dan asam asetat akan menurunkan tingkat konsumsi ayam broiler. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Andrys et al, (2003), penambahan asam phosforic dan asam citric sebanyak 1,5% pada formulasi ransum menyebabkan pH pada tembolok dan gizzard ayam broiler turun menjadi dibawah 3. Hal tersebut berefek pada konsumsi pakan yang lebih rendah dibanding kontrol.

Dalam penelitian ransum perlakuan ke ternak, terlihat bahwa tingkat konsumsi ransum yang mengandung limbah restoran 12% (ransum P3) paling rendah (1267,98 gram) dibanding tingkat konsumsi ransum kontrol dan ransum P2, yakni sebesar

27 1906,03 dan 1503,95gram. Hal ini disebabkan karena pH ransum P3 bersifat paling asam (pH=5,7) dibanding pH ransum P1 (6,22) dan pH ransum P2 (5,98).

Kelarutan Total

Kelarutan total ransum kontrol sangat nyata (p<0,01) lebih tinggi dibanding ransum P2 dan P3. Rataan kelarutan total ransum kontrol sebesar 68,68%, sedang kelarutan total untuk P2 dan P3 masing-masing sebesar 66,69% dan 62,35%. dari data ini terlihat bahwa penambahan limbah restoran dalam campuran ransum menurunkan kelarutan total ransum. Hal ini disebabkan kelarutan total dedak lebih tinggi (50,45%) dibandingkan dengan kelarutan total limbah restoran yang hanya 43,68%.

68.68 66.69 62.3 58 60 62 64 66 68 70 P1 P2 P3 Ransum Perlakuan Ke la ru ta n ( % )

Gambar 9. Rataan Nilai Kelarutan Total

Kelarutan total merupakan uji in vitro yang menggambarkan kecernaan bahan tersebut dalam ternak. Semakin tinggi kelarutan suatu bahan menunjukkan bahan tersebut mudah dicerna (Williams, 2004). Dari hasil yang diperoleh terlihat bahwa ransum yang mengandung limbah restoran memiliki nilai kelarutan yang lebih rendah dibanding ransum kontrol, sehingga lebih mudah dicerna.

Kecernaan pada ayam dapat dibuktikan pada pengukuran efisiensi penggunaan energi ransum ayam. Efisiensi penggunaan energi adalah perbandingan antara input dan output energi pada ayam (Ballo, 1997). Rataan nilai efisiensi penggunaan energi P1, P2 dan P3 adalah 79%, 71,25% dan 75% (Ratih, 2006). Semakin besar nilai efisiensi penggunaan energi ransum atau bahan makanan maka menunjukkan bahwa ransum tersebut kecernaannya tinggi sehingga mudah dicerna ayam. Dari hasil pengukuran efisiensi energi terlihat bahwa ransum perlakuan yang mengandung limbah restoran

28 memiliki nilai efisiensi yang lebih rendah (71,25% dan 75%) dibanding nilai efisiensi penggunaan energi ransum kontrol (79%). Hal ini membuktikan bahwa ransum P2 dan P3 lebih sulit dicerna dibanding ransum kontrol.

Menurut Suardi (2002), kelarutan dalam air dipengaruhi oleh jenis karbohidrat penyusunnya. Semakin tinggi kandungan polisakarida, khususnya polisakarida bukan pati dari bahan pakan, maka semakin rendah kelarutannya dalam air dan sebaliknya, karena polisakarida bukan pati sulit mengalami hidrolisis dalam air.

Jika melihat kandungan BETN limbah restoran sebesar 59,12% yang lebih tinggi dibanding BETN dedak padi yang hanya 50,22%, maka seharusnya kelarutan limbah restoran lebih tinggi dari pada kelarutan dedak padi. Namun pada penelitian ini hal yang terjadi justru sebaliknya, dimana kelarutan limbah restoran lebih rendah dibandingkan dedak padi. Rendahnya kelarutan limbah restoran disebabkan karena bahan penyusun limbah banyak yang merupakan sampah yang sulit larut (sisa-sisa daging, tulang, nasi dan sayuran), sehingga secara tidak langsung menurunkan kelarutan dari limbah restoran. Kelarutan ini berkaitan erat dengan kecernaan. Dengan rendahnya kelarutan, maka bahan tersebut sulit dicerna dalam pencernaan hewan.

Hubungan Sifat Kimia Pakan dengan Konversi Ransum

Hubungan antara sifat kimia dalam kaitanya dengan konversi ransum pada ayam dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hubungan Sifat Kimia dengan Konversi Ransum.

Tipe hubungan Persamaan r pH dengan konversi Y = 3,875 – 0,99 X 0,93 kelarutan dengan konversi Y = 3,27 – 0,044 X 0,95

Konversi ransum menunjukkan ukuran efisiensi dalam penggunaan ransum oleh tuibuh ternak. Semakin rendah nilai konversi ransum maka semakin efisien, karena semakin sedikit ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan per unit pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu (Lacy dan Vest, 2004). Konversi ransum yang baik menurut NRC (1994) adalah bernilai dibawah angka 2. dari hasil penelitian didapat angka konversi melebihi angka 2. Hal ini diduga disebabkan oleh temperatur kandang yang rendah (22-250C).

29 Hubungan antara pH dengan konversi ransum sangat nyata mengikuti persamaan Y = 3,875 – 0,99 X (r = 0,93) dan berkorelasi negatif, artinya nilai konversi akan naik dengan menurunnya pH pakan. Nilai konversi ransum perlakuan P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 2,14, 2,32 dan 2,44 (Gunadi, 2006). Untuk pH dari ransum P1, P2 dan P3 berturut-turut adalah 6,22, 5,98 dan 5,7. Terlihat bahwa semakin pH turun maka konversi akan meningkat. Dari data tersebut terlihat bahwa penggunaan limbah restoran pada campuran ransum menghasilkan konversi yang tidak efisien. Salah satu faktor penyebab ketidakefisienan konversi ransum ini adalah karena dengan semakin asam suatu ransum maka penyerapan protein dari ransum itu akan menjadi terganggu.

Sedangkan hubungan antara kelarutan dengan konversi ransum juga sangat nyata mengikuti persamaan Y = 3,27 – 0,044 X (r = 0,95) dan berkorelasi negatif artinya dengan penurunan kelarutan maka konversi akan meningkat. Hal ini disebabkan karena dengan turunnya kelarutan maka proses pencernaan pada ayam akan berjalan lambat, karena kelarutan berkorelasi erat dengan kecernaan. Suardi (2002) menyatakan bahwa bahan pakan dengan kelarutan total yang tinggi maka akan semakin tinggi pula nilai kecernaannya. Diketahui bahwa limbah restoran memiliki nilai kelarutan yang lebih rendah dibanding dedak padi (43,68 vs 50,45 % BK). Dari pengamatan yang dilakukan terlihat bahwa penggunaan limbah restoran pada campuran ransum akan mengakibatkan nilai konversi ransum meningkat dan penggunaan ransum menjadi tidak

Dokumen terkait