• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian dilakukan di dua kabupaten yang terdapat di Provinsi Jawa Barat dengan mengambil lokasi pada lima daerah yang berbeda ketinggiannya dari permukaan laut. Pada Kabupaten Tasikmalaya terdapat empat peternakan rakyat yaitu peternakan Malaganti, peternakan yang dipimpin oleh bapak Aan, kelompok ternak “Surya Medal” yang dipimpin oleh bapak Zam-Zam, dan Kelompok Tani Karsa Menak. Satu peternakan di kota Banjar yaitu kelompok tani yang menamakannya dengan koperasi “Sri Murni”, koperasi ini dipimpin oleh bapak Yaya.

Kelompok Tani Marga Rahayu “Sri Murni” (KTMRSM)

Penelitian dilakukan pada peternakan rakyat yang tersebar di Dusun Bojongsari yang bergabung menjadi sebuah koperasi Marga Rahayu “Sri Murni”. Koperasi dipimpin oleh bapak Yaya. Koperasi terletak di Blok Pasirranji, Dusun Bojong sari, Desa Bojong Kantong, Kecamatan Langen Sari, Kota Banjar. Letak

peternakan pada koordinat 12,1” BT dan 108o36’21,9” LS dengan ketinggian 29 m

dpl. Kisaran suhu antara 27,90oC-26,13oC dan kelembaban relatif 87,63%.

Kelompok Tani Marga Rahayu “Sri Murni” dibentuk untuk menyatukan persepsi para anggota dalam peran aktif membangun pertanian. Tujuannya dan sasaran (Kelompok Tani Marga Rahayu”Sri Murni”, 2011) adalah:

1. Membangun kerjasama antar anggota kelompok; 2. Mempermudah pembinaan para anggota kelompok; 3. Tempat penerapan teknologi pertanian/peternakan;

4. Wadah musyawarah para anggota kelompok dalam menyelesaikan permasalahan;

5. Sarana usaha tani yang lebih terkoordinir.

Sasaran yang ingin dicapai dari pembentukan kelompok adalah : 1. Peningkatan pendapatan anggota kelompok;

2. Menambahkan/menciptakan lapangan kerja.

Koperasi Sri Murni ini dibentuk pada tanggal 27 Mei 1997, dikukuhkan pada tanggal 27 Maret 2006 yang dipimpin oleh Bapak Karjo dengan anggota sebanyak 31 orang. Koperasi bergerak pada usaha pokok agribisnis kambing PE, sapi potong serta

21 ayam kampung. Koperasi bergerak di usaha lain yaitu jasa traktor, pembesaran ikan gurame dan sarana produksi pertanian.

Koperasi Sri Murni memiliki aset berupa hewan ternak sebanyak 362 ekor, yang terdiri atas kambing PE sebanyak 195 ekor, sapi potong sebanyak 17 ekor dan ayam kampung sebanyak 150 ekor. Setiap anggota kelompok memiliki kambing sebanyak 6 ekor.

Kelompok Tani Karsa Menak (KTKM)

Kelompok Tani Karsa Menak dipimpin oleh Bapak Irwan Yuhana Putra (Kang Yepe) terletak di Kampung Cisumur, Desa Karsa Menak, Kecamatan Kawalu,

Tasikmalaya. Letak peternakan pada koordinat 07o21’54,5” BT dan 108o13’14,0” LS

dengan ketinggian 367 m dpl. Kisaran suhu antara 25,98oC-23,81oC dan kelembaban

relatif 84,13%. Kelompok Tani memiliki 46 ekor ternak kambing PE yang terdiri atas 30 ekor induk betina laktasi, 2 ekor pejantan dan 14 ekor anak kambing.

Kelompok Tani Ternak Kambing PE “Surya Medal” (KTTKSM)

Peternakan Bapak Zam-zam (Surya Medal) terletak di Kampung Cibiru, Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Tasikmalaya. Letak peternakan pada koordinat 07o19’11,6” BT dan 108o04’19,2” LS dengan ketinggian 561 m dpl. Kisaran suhu

antara 23,79oC-22,41oC dan kelembaban relatif 89,00%.

Kecamatan Sariwangi merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya yang sudah lama melaksanakan kegiatan pemeliharaan ternak kambing, khususnya kambing PE. Perkembangan kambing di kecamatan ini dari waktu ke waktu sangat pesat, sehingga banyak peternak yang beralih dari memelihara domba ke pemeliharaan kambing PE.

Salah satu sentra peternakan kambing PE berada di Blok Cibiru, Kampung Leuwi Peusing, Desa Sariwangi, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut telah berdiri kelompok tani peternak kambing PE, yaitu “Surya Medal”. Kelompok tani peternak kambing PE “Surya Medal”, merupakan kelompok peternak yang melakukan kegiatan usaha pengadaan bibit dan produsen/penghasil susu kambing perah.

Kelompok peternak kambing PE “ Surya Medal” didirikan pada tahun 2004 bermula dari lima orang peternak yang pada perjalanannya sampai akhir tahun 2008 mencapai 222 ekor, jumlah kandang sebanyak 22 unit, populasi jantan dewasa

22 sebanyak 26 ekor, dan betina sebanyak 122 ekor, anak jantan sebanyak 24 ekor dan anak betina sebanyak 60 ekor. Kelompok tersebut memiliki lahan seluas 0,5 hektar dan telah ditanami rumput gajah sebagai penyedia pakan hijauan bagi ternak. Produksi susu rata-rata per hari mencapai 32,4 liter. Pemasaran susu bersifat lokal, yaitu pembeli langsung ke lokasi kelompok.

Peternakan Bapak Aan (PBA)

Peternakan Bapak Aan terletak di Kampung Malaganti, Desa Sukaharja,

Kecamatan Sariwangi, Tasikmalaya. Letak peternakan pada koordinat 07o18’17,0”

BT dan 108o03’13,4” LS dengan ketinggian 673 m dpl. Kisaran suhu antara 22,96o

C-20,88oC dan kelembaban relatif 82,75%. Peternakan Bapak Aan memiliki 57 ekor

ternak kambing PE yang terdiri atas 35 ekor induk betina laktasi, 3 ekor pejantan dan 19 ekor anak kambing.

UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti (UPTDPTM)

UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti terletak di Kampung Malaganti, Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Tasikmalaya. Letak peternakan

pada koordinat 07o17’54,5” BT dan 108o03’08,2” LS dengan ketinggian 727 m dpl.

Kisaran suhu antara 23,2oC-20,58oC dan kelembaban relatif 80,50%.

Pemerintah kabupaten Tasikmalaya mempunyai perhatian untuk

meningkatkan penyediaan ternak bibit yang berkualitas, untuk itu dibuat UPTD perbibitan ternak yang telah memiliki UPT Sapi Potong di Tawang Pancatengah dan UPT kambing PE di Malaganti Sariwangi. Kedua UPT tersebut untuk penyediaan bibit sapi potong dan kambing PE berkualitas bagi masyarakat.

Pembentukan UPT didasarkan pada peraturan daerah Kabupaten Tasikmalaya nomor 15 tahun 2008 tentang organisasi dinas daerah Kabupaten Tasikmalaya. UPTD Perbibitan kambing PE dibangun pada tahun 2005 dan mulai beroperasi pada tahun 2006, berlokasi di Kampung Malaganti, Desa Sukaharja, Kecamatan

Sariwangi. Perbibitan kambing PE mempunyai lahan seluas 3.600 m2 terdapat

fasilitas gedung kantor satu unit, kandang ternak kapasitas 50 ekor sebanyak empat unit dan gedung serbaguna satu unit serta kebun rumput pada tanah milik negara seluas satu hektar, satu unit motor bak pengangkut rumput, satu unit mesin pengolahan kompos. Populasi induk kambing sebanyak 83 ekor. Hasil produksi

23 perbibitan kambing PE adalah 50 ekor anak dan 10 ton pupuk organik, serta 800 liter susu.

Tujuan didirikannya UPTD antara lain: menyediakan fasilitas pembibitan ternak sapi potong dan kambing PE, menyediakan fasilitas tempat pelatihan, magang dan percontohan bagi peternak serta untuk peningkatan sumberdaya manusia peternak khusunya peternak sapi potong dan kambing PE, meningkatkan mutu ternak sapi potong dan kambing PE melalui sistem perkawinan terarah, meningkatkan pendapatan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui penjualan bakalan sapi dan kambing PE, penyebaran ternak kepada peternak melalui pola kemitraan dan bagi hasil serta penjualan susu dan pupuk kompos.

Produksi Susu

Tingkat produksi susu dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan dalam produksi susu yang dihasilkan pada setiap peternakan. Phalepi (2004) menyatakan, tingkat produksi susu tidak terlepas dari mutu genetik ternak, daya produksi, umur induk, lama laktasi, tatalaksana yang diberlakukan terhadap ternak, kondisi iklim, daya adaptasi ternak dan aktivitas pemerahan. Dari kelima peternakan yang digunakan sebagai lokasi penelitian ini ternyata tidak semua peternakan memiliki produksi susu yang tinggi. Rataan produksi susu pada setiap peternakan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Penampilan Produksi Susu Kambing PE di Kelima Lokasi Peternakan

Peternakan n

(ekor)

Produksi Susu

Rataan Produksi (l/ekor/hari) Koefisien Keragaman (%)

KTMRSM 20 1045,0 ± 438,5b 41,96

KTKM 20 501,5 ± 233,5d 46,56

KTTKSM 20 777,0 ± 170,1c 21,90

PBA 20 1840,0 ± 795,0a 43,20

UPTDPTM 20 548,0 ± 166,5d 30,38

Keterangan : KTMRSM = Sri Murni, KTKM = Kelompok Tani Karsa Menak, KTTKSM = Kelompok Tani Surya Medal, PBA = Aan Farm, UPTDPTM = UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti; a,b,c,d = beda nyata P < 0,01

Produksi susu yang dihasilkan pada PBA dapat dikatakan merupakan peternakan yang memiliki hasil produksi susu yang terbaik dari keempat Farm lainnya. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor yaitu, genetik (Setiadi et al.,

24 1994), lingkungan (Nasution et al., 2010), kualitas pakan yang diberikan (Martawidjaja et al., 2001) serta manajemen pemeliharaan yang dilakukan (Budiarsana et al., 2007). KTKM terletak di ketinggian 673 m dpl dengan suhu

udara rata-rata maksimum 22,96oC dan minimum 20,88oC.

Nilai keragaman yang tinggi terjadi pada produksi susu dengan nilai tertinggi terdapat pada KTKM (46,56%), sedangkan nilai keragaman yang terendah terdapat pada KTTKSM (21,90%), akan tetapi semua Farm memiliki kecenderungan nilai keragaman yang tinggi yaitu KTMRSM (41,96%), PBA (43,20%) dan UPTDPTM (30,38%). Nilai keragaman yang tinggi memungkinkan untuk dilakukannya seleksi terhadap ternak yang memiliki produksi susu tinggi. Hal ini tergantung dari tujuan usaha tersebut, oleh karena itu harus dilakukan pembatasan mengenai lama laktasinya. Lama laktasi seekor ternak kambing Peranakan Etawah yang ideal adalah sekitar 24 minggu (Atabany, 2001).

Dari hasil uji t pada produksi susu di kelima peternakan tidak dapat langsung dikatakan berbeda. Hasil uji T menunjukkan bahwa PBA memiliki hasil uji produksi susu yang yang berbeda dengan KTMRSM, KTKM, UPTDPTM dan KTTKSM. Hasil uji banding juga menunjukkan bahwa KTMRSM memiliki produksi susu yang berbeda dengan KTKM, UPTDPTM dan KTTKSM; KTTKSM berbeda dengan KTKM dan UPTDPTM, akan tetapi hasil uji menunjukkan bahwa KTKM dan UPTDPTM memiliki produksi susu yang sama. Hal ini menunjukkan ada perbedaan jumlah produksi susu yang berbeda pada masing-masing peternakan, akan tetapi KTKM dan UPTDPTM memiliki kecenderungan rataan produksi susu yang sama. PBA memiliki rataan produksi susu sebesar 1840 ml/ekor/hari sedangkan rataan produksi susu di KTMRSM adalah sebesar 1045 ml/ekor/hari; KTKM sebesar 501,5 ml/ekor/hari; UPTDPTM sebesar 548 ml/ekor/hari dan KTTKSM sebesar 777 ml/ekor/hari. Jika diurutkan dari rataan produksi susu yang dihasilkan maka produksi susu pada PBA merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan keempat peternakan lainnya yaitu KTMRSM, KTTKSM, UPTDPTM dan KTKM yang memiliki rataan produksi yang paling rendah.

Perbedaan produksi susu yang dihasilkan pada setiap peternakan dapat disebabkan oleh adanya perbedaan umur laktasi kambing yang dijadikan sampel dalam penelitian ini walaupun berada dalam fase laktasi yang sama. Hasil penelitian

25 Widyandari (2002) menyatakan, bahwa puncak produksi susu kambing PE terjadi pada rentang waktu antara minggu ke-2-5 umur laktasi dan akan menurun perlahan sampai masa laktasi berakhir. Perbedaan umur laktasi ini menyebabkan adanya keragaman jumlah produksi susu yang dihasilkan. Hal ini menyebabkan rataan produksi susu pada setiap lokasi penelitian berbeda.

Kelima Farm yang digunakan memiliki manajemen pemeliharaan yang hampir serupa baik dalam jenis maupun frekuensi pemberian pakan, yaitu pemberian pakan berupa hijauan berupa rumput lapang yang dicampur dedaunan dengan perbandingan rumput lapang dan dedaunan adalah 40% : 60%. Upaya dalam meningkatkan konsumsi dan mengatasi kemungkinan defisiensi (terutama protein dan energi) dilakukan dengan cara memberi pakan tambahan konsentrat atau dedaunan leguminosa (Maylinda dan Basori, 2004). Pemberian pakan pada dasarnya

ad libitum, akan tetapi dari perhitungan yang dilakukan rata-rata konsumsi pakan

ternak adalah 6-7 kg per ekor per hari, dengan pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali dalam sehari, yaitu pada pagi dan sore hari. Martawidjaja et al. (2001) menyatakan, bahwa jumlah pemberian pakan untuk kambing perah dengan kondisi laktasi adalah 5-7 kg hijauan dengan penambahan pakan konsentrat sebanyak 500-700 gr per ekor per hari, dengan frekuensi pemberian pakan dapat dilakukan sebanyak dua kali atau tiga kali sehari. Komposisi kandungan bahan pakan pada setiap Farm dapat dilihat pada Tabel 3

Tabel 3. Komposisi Kandungan Bahan Pakan

Komposisi KTMRSM KTKM KTTKSM PBA UPTDPTM

Air (%) 15,11 15,26 13,44 7,80 12,12

Energi (Kkal) 62,54 80,08 54,95 53,11 49,21

Protein (%) 22,69 15,22 14,27 15,22 14,71

Lemak (%) 2,34 3,04 2,23 2,02 2,46

Keterangan : KTMRSM = Sri Murni, KTKM = Kelompok Tani Karsa Menak, KTTKSM = Kelompok Tani Surya Medal, PBA = Aan Farm, UPTDPTM = UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti

Walaupun jumlah konsumsi pakan di setiap Farm hampir sama jumlahnya, namun kemampuan setiap individu ternak kambing dalam menyerap nutrisi yang terkandung di dalam pakan berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain palatabilitas ternak terhadap bahan pakan yang diberikan, kemampuan genetik dari masing-masing individu dan cara pemberian pakan.

26 Kemampuan penyerapan nutrisi ini akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan, dalam hal ini jumlah produksi susu kambing PE. Haryanto et al. (1992) berpendapat, nilai kecernaan dalam mengkonsumsi pakan yang rendah menyebabkan kualitas produksi susu yang tidak baik hal ini disebabkan nutrisi yang terkandung di dalam pakan tidak dapat tersalurkan ke dalam susu yang dihasilkan oleh ternak. Komposisi kandungan nutrisi di dalam susu di kelima peternakan dapat dilihat pada Tabel 4, sedangkan Efisiensi konsumsi pakan terhadap produksi susu di kelima peternakan dapat dilihat padaTabel 5.

Tabel 4. Komposisi Kandungan Nutrisi Susu

Komposisi KTMRSM KTTKSM UPTDPTM KTKM PBA

Air (%) 85,25 86,50 87,00 85,00 84,00

Energi (Kkal) 67,00 61,00 65,00 70,00 68,00

Protein (%) 4,10 3,30 3,50 4,29 4,15

Lemak (%) 5,65 3,30 3,50 7,75 7,17

Keterangan : KTMRSM = Sri Murni, KTKM = Aan Farm, KTTKSM = Kelompok Tani Karsa Menak, PBA = UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti, UPTDPTM = Kelompok Tani Surya Medal

Tabel 5. Konversi dan Efisiensi Konsumsi Pakan

Komposisi KTMRSM KTKM KTTKSM PBA UPTDPTM

Energi (Kkal) x (%) 18,62 12,14 17,77 21,44 25,16 y 5,37 8,24 5,63 4,66 3,97 Protein x (%) 3,14 3,45 3,68 4,59 5,14 y 31,85 28,95 27,15 21,81 19,47 Lemak x (%) 41,95 17,29 23,57 62,42 53,07 y 2,38 5,78 4,24 1,60 1,88

Keterangan : KTMRSM = Sri Murni, KTKM = Kelompok Tani Karsa Menak, KTTKSM = Kelompok Tani Surya Medal, PBA = Aan Farm, UPTDPTM = UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti

x = efisiensi pakan y = konversi pakan

Tabel 5 menunjukkan bahwa untuk efisiensi konsumsi terhadap kandungan energi yang tertinggi berada pada UPTDPTM (25,16%), sedangkan efisiensi konsumsi energi yang terendah terdapat pada KTKM (12,14%). Toharmat et al. (2006) mengatakan, perbedaan efisiensi konsumsi pakan dipengaruhi oleh jenis pakan, manjemen pemberian pakan, kondisi lingkungan serta palatabilitas ternak terhadap pakan. Efisiensi konsumsi terhadap kandungan protein yang tertinggi berada pada UPTDPTM (5,14%) dan efisiensi konsumsi yang terendah terdapat pada KTMRSM (3,14%). Efisiensi konsumsi terhadap kandungan lemak yang terdapat

27 pada bahan pakan menjadi susu yang dihasilkan, nilai efisiensi tertinggi terdapat pada PBA (62,42%) dan terendah berada pada KTKM (17,29%).

Hasil analisis dari Tabel 5 menunjukkan bahwa dari segi efisiensi konsumsi pakan menjadi susu bahwa UPTDPTM memiliki tingkat efisiensi yang terbaik dibandingkan keempat peternakan lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah produksi yang dihasilkan karena produksi susu pada UPTDPTM merupakan yang paling rendah jika dibandingkan dengan keempat peternakan lainnya. Ayuningsih (1994) menjelaskan bahwa, meningkatnya produksi susu akan mengakibatkan menurunnya kualitas susu yang dihasilkan, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan distribusi zat makanan antara ternak yang memiliki produksi susu rendah dengan yang memiliki produksi susu tinggi. Menurut Toharmat et al. (2006) tingginya konsumsi bahan kering dan nutrien pada kambing dengan ransum terkait dengan tingginya kecernaan nutrient komponen bahan tersebut seperti kecernaan bahan kering, bahan organik, serat kasar dan lemak ransum. Perbedaan efisiensi konsumsi pakan dapat terjadi karena perbedaan kandungan nutrisi dan jenis pakan yang diberikan kepada ternak.

Ukuran-Ukuran Tubuh Kambing Peranakan Etawah

Bobot hidup dan ukuran-ukuran tubuh ternak dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin. Peningkatan ukuran tubuh akan terjadi seiring dengan bertambahnya umur pada ternak. Setiadi et al. (1994), menyebutkan bahwa ketinggian tempat juga mempengaruhi ukuran tubuh ternak, kambing PE yang dipelihara di dataran tinggi memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan kambing PE yang dipelihara di dataran rendah. Berdasarkan pengukuran ukuran-ukuran tubuh yang pernah dilakukan terhadap kambing Peranakan Etawah betina oleh Phalepi (2004), didapatkan persamaan dan perbedaan mengenai ukuran-ukuran tersebut dengan hasil pengamatan langsung di lapangan. Hasil pengukuran tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.

Hasil pengukuran yang dilakukan menunjukkan besarnya nilai ukuran-ukuran tubuh kambing Peranakan Etawah betina yang didapatkan melalui pengukuran langsung di lapangan memiliki nilai rataan yang lebih besar dibandingkan hasil penelitian Phalepi (2004). Ukuran-ukuran tubuh yang didapatkan melalui pengukuran langsung di lapangan meliputi dalam dada, lebar dada, dalam ambing,

28 lingkar ambing, panjang puting, lingkar puting dan lingkar metatarsus memiliki nilai rataan yang lebih kecil. Hal ini meliputi produksi susu yang dihasilkan pada setiap Farm memiliki nilai rataan yang lebih besar, berarti kelima peternakan memiliki kualitas ternak yang cukup baik. Hal ini terlepas dari jumlah ternak yang diamati. Budiarsana (2005) mengatakan, bahwa performa ternak di lapangan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kompleks sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan hasil pengukuran performa ternak di setiap lokasi dan waktu yang berbeda.

Tabel 6. Rerata Ukuran-ukuran Tubuh Kambing PE Betina

Sifat dan

Ukuran Tubuh KTMRSM KTKM KTTKSM PBA UPTDPTM

Phalepi (2004) Panjang Telinga (cm) 29,6 ± 3,7 (12,54%) 25,3 ± 1,9 (7,70%) 28,8 ± 2,4 (8,28%) 29,8 ± 3,7 (12,43%) 28,9 ± 2,9 (9,91%) 24,9 ± 2,7 (10,84%) Tinggi Badan (cm) 74,4 ± 4,6 (6,13%) 69,0 ± 3,1 (4,51%) 71,4 ± 4,3 (6,09%) 73,8 ± 5,5 (7,41%) 71,9 ± 2,9 (3,97%) 68,6 ± 2,6 (3,79%) Panjang Badan (cm) 71,1 ± 6,1 (8,59%) 65,8 ± 3,8 (5,79%) 76,5 ± 5,1 (6,66%) 74,8 ± 5,9 (7,91%) 68,4 ± 3,4 (4,94%) 56,7 ± 4,1 (7,23%) Lingkar Dada (cm) 78,2 ± 5,3 (6,84%) 70,7 ± 3,9 (5,46%) 80,3 ± 4,8 (5,99%) 82,2 ± 7,5 (9,18%) 70,7 ± 3,8 (5,31%) 70,6 ± 4,4 (6,23%) Volume Ambing (l) 1241 ± 500 (40,29%) 722,0 ± 246,9 (34,20%) 929,5 ± 200,2 (21,54%) 2236 ± 890 (39,80%) 625,5 ± 170,1 (27,19%) 462,2 ± 144,8 (31,32%) Volume Puting (l) 437,5 ± 285,9 (65,36%) 194,0 ± 130,9 (67,47%) 308,0 ± 159,2 (51,69%) 781 ± 449 (57,57%) 222,5 ± 74,3 (33,38%) 38,6 ± 14,4 (37,30%) Bobot Badan (kg) 37,7 ± 5,3 (14,04%) 32,1 ± 4,0 (12,42%) 45,7 ± 9,0 (19,64%) 60,6 ± 7,7 (12,76%) 36,6 ± 3,8 (10,50%) 30,2 ± 6,4 (21,19%) Dalam Dada (cm) 25,1 ± 1,5 (6,15%) 23,5 ± 0,9 (3,87%) 25,5 ± 1,3 (5,10%) 26,45 ± 2,4 (8,91%) 23,9 ± 1,0 (4,25%) 25,9 ± 1,9 (7,33%) Lebar Dada (cm) 15,1 ± 0,7 (4,56%) 14,6 ± 0,5 (3,44%) 15,5 ± 0,6 (3,92%) 15,8 ± 8,1 (5,40%) 14,7 ± 0,5 (3,34%) 16,3 ± 1,3 (7,98%) Dalam Ambing (cm) 15,8 ± 2,0 (12,92%) 13,3 ± 1,6 (11,98%) 15,7 ± 1,3 (8,36%) 19,3 ± 2,9 (14,78%) 13,0 ± 1,0 (7,89%) 18,6 ± 4,5 (24,19%) Lingkar Ambing (cm) 19,9 ± 4,6 (23,05%) 18,2 ± 0,9 (4,82%) 18,6 ± 1,0 (5,35%) 24,1 ± 3,3 (13,59%) 18,1 ± 0,9 (4,71%) 24,3 ± 3,0 (12,35%) Panjang Puting (cm) 10,2 ± 2,6 (25,76%) 6,9 ± 0,9 (12,35%) 7,9 ± 1,6 (19,65%) 13,7 ± 2,4 (17,26%) 6,9 ± 1,0 (14,79%) (26,25%) 8,0 ± 2,1 Lingkar Puting (cm) 7,3 ± 1,5 (20,42%) 6,2 ± 0,5 (8,44%) 6,9 ± 0,9 (12,76%) 9,7 ± 1,5 (15,14%) 6,4 ± 0,5 (7,85%) 8,6 ± 0,5 (5,81%) Lingkar Metatarsus (cm) 11,3 ± 0,5 (4,20%) 10,7 ± 0,3 (2,80%) 10,9 ± 0,4 (3,52%) 11,2 ± 0,5 (4,65%) 11,0 ± 0,4 (3,30%) 12,1 ± 0,5 (4,13%)

Keterangan : KTMRSM = Sri Murni, KTKM = Kelompok Tani Karsa Menak, KTTKSM = Kelompok Tani Surya Medal, PBA = Aan Farm, UPTDPTM = UPTD Perbibitan Ternak Kambing PE Malaganti

Tabel 6 menunjukkan, bahwa penampilan produksi susu yang tinggi berada pada kelompok ternak yang dipelihara di PBA, hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan terhadap dimensi ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan

29 dengan ukuran tubuh pada kelompok ternak yang dipelihara di peternakan lainnya, kecuali pada lingkar metatarsus yang memiliki dimensi ukuran yang relatif sama pada semua ternak yang dipelihara walaupun berada di lokasi pemeliharaan yang berbeda. Maylinda dan Basori (2004) menyebutkan, bahwa bobot badan dan ukuran tubuh lainnya, meskipun bukan merupakan sifat-sifat ekonomis pada ternak perah tetapi merupakan pencerminan potensi pertumbuhan ternak yang mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan dan perkembangan kelenjar mammae yang akan menentukan tinggi rendahnya produksi susu yang dihasilkan.

Kecenderungan yang dapat dilihat dari Tabel 6 adalah semakin besar dimensi ukuran tubuh yang dimiliki oleh ternak kambing maka semakin tinggi produksi susu yang dihasilkan oleh ternak kambing tersebut. Perbedaan dimensi ukuran tubuh ini sesuai dengan pernyataan dari Devendra dan Burns (1994), bahwa hampir semua dimensi pada tubuh kambing yang berproduksi susu tinggi sedikit lebih besar dibandingkan kambing yang berproduksi susu rendah.

Koefisisen keragaman sebagai suatu ukuran keragaman relatif, pada masing-masing peternakan tidak memperlihatkan dominasi untuk ukuran tubuh tertentu dari semua dimensi ukuran tubuh yang diukur kecuali volume ambing dan volume puting. Perbedaan tersebut disebabkan oleh jumlah ternak yang diamati pada setiap Farm tidak sama, ukuran-ukuran tubuh yang diamati bervariasi dan adanya keragaman bentuk serta ukuran-ukuran tubuh pada setiap individu ternak meskipun dalam satu bangsa. Menurut Buckley et al. (2000), hal tersebut disebabkan perbedaan proporsi relatif dari bagian tubuh satu dengan yang lain. Keragaman ukuran juga dapat diakibatkan penerapan manajemen pemeliharaan yang berbeda antar pengelola ternak dan keadaan lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi ternak.

Banyaknya nilai keragaman yang tinggi pada ukuran tubuh yang memiliki korelasi terhadap produksi susu, maka semua peternakan masih memungkinkan untuk dilakukan seleksi. Seleksi pada KTMRSM didasarkan pada keragaman panjang telinga (12,54%), volume ambing (40,29%), volume puting (65,36%), bobot badan (14,04%), dalam ambing (12,92%), lingkar ambing (23,05%), panjang puting (25,76%) dan lingkar puting (20,42%). Seleksi pada KTKM didasarkan pada keragaman volume ambing (34,20%), volume puting (67,47%), bobot badan 12,42%), dalam ambing (11,98%) dan panjang puting (12,35%). Seleksi pada

30 KTTKSM dilakukan dengan dasar keragaman volume ambing (21,54%), volume puting (51,69%), bobot badan (19,64%), panjang puting (19,65%) dan lingkar puting (12,76%). Seleksi pada PBA didasarkan pada keragaman panjang telinga (12,43%), volume ambing (39,80%), volume puting (57,57%), bobot badan (12,76%), dalam ambing (14,78%), lingkar ambing (13,59%), panjang puting (17,26%) dan lingkar puting (15,14%). Seleksi pada UPTDPTM didasarkan pada keragaman volume ambing (27,19%), volume puting (33,38%) dan panjang puting (14,79%).

Semua ukuran tubuh yang memiliki nilai keragaman tinggi pada masing-masing peternakan dapat dijadikan dasar dalam melakukan seleksi terhadap ternak, akan tetapi hanya volume ambing, volume puting dan lingkar puting yang memiliki korelasi nyata terhadap produksi susu. Seleksi ternak berdasarkan ketiga ukuran tubuh tersebut dapat diurutkan mulai dari sifat yang memiliki nilai keragaman yang tertinggi terlebih dahulu, yaitu pertama berdasarkan volume puting kemudian berdasarkan volume ambing lalu terakhir berdasarkan lingkar puting. Hal ini memiliki kecenderungan yang sama di semua peternakan.

Hubungan antara Ukuran-ukuran Tubuh pada Peternakan yang Berbeda

Analisis korelasi secara umum mengetahui keterkaitan antara dua atau lebih peubah pada suatu sampel yang sama. Beberapa teknik analisis dapat digunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antar peubah tersebut, tergantung dari tujuan analisis dan jenis data yang akan dianalisis. Hasil analisis korelasi bahwa semakin besar nilai korelasi yang ada atau bernilai koefisien semakin mendekati satu, berarti hubungan antara kedua peubah semakin erat. Korelasi antara ukuran tubuh dengan produksi susu disajikan pada Tabel 7.

Korelasi yang bernilai positif atau negatif dapat terjadi karena beragamnya ukuran tubuh ternak yang diamati. Korelasi positif ditunjukkan dengan meningkatnya suatu sifat, maka akan meningkatkan suatu sifat yang lain dan sebaliknya, sedangkan korelasi negatif ditunjukkan dengan meningkatnya suatu sifat, maka akan menurunkan sifat yang lain dan sebaliknya. Menurut Aunuddin (1989), nilai korelasi bisa bernilai negatif atau positif yang berkisar antara -1 dan +1, tergantung pada arah pola hubungan antara kedua peubah tersebut. Berdasarkan analisis korelasi terhadap induk kambing PE pada kelima peternakan yang berbeda, didapat hasil korelasi tertinggi dan terendah seperti terlihat pada Tabel 7. Dari hasil

31 penelitian ini dapat dilihat, bahwa korelasi tertinggi antara ukuran tubuh ternak terhadap produksi susu adalah volume ambing dengan nilai korelasi 0,992 sedangkan pada penelitian Maylinda dan Basori (2004) nilai korelasi volume ambing dengan produksi susu adalah sebesar 0,978.

Tabel 7. Korelasi antara Ukuran-ukuran Tubuh dengan Produksi Susu dari Kambing PE Betina pada Farm yang Berbeda.

Korelasi KTMRSM KTKM KTTKSM PBA UPTDPTM

Tertinggi PS vs VAm PS vs VAm PS vs VAm PS vs VAm PS vs VAm

(0,992) (0,965) (0,905) (0,984) (0,889)

Terendah PT vs PPtg VPtg vs PPtg PS vs TB PT vs VPtg VAm vs BB

(0,112) (0,027) (0,002) (0,016) (0,001)

Negatif DD vs DAm PS vs PT PS vs PT PS vs PT PS vs PT

LeD vs DAm PT vs TB PT vs LiD PT vs VAm PS vs DD

Dokumen terkait